Perang, kekerasan, ketakutan. Di balik itu tersimpan persaudaraan, cinta dan persahabatn. Sekelompok remaja Palestina, memutuskan untuk hidup dan bertahan di masa sulit. Masa berkobarnya rasa balas dendam, bom bunuh diri dan pengusiran. Meskipun demikian, mereka berusaha menjalani kehidupan yang normal, penuh solidaritas, dan keceriaan. Padahal setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir bagi siapa saja. Satu-satunya senjata untuk bertahan adalah jiwa yang tegar dan keinginan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Ditulis oleh gadis belia berusia 13 tahun, novel kontroversial yang bermula dari cerita pendek peraih anugerah sastra di Italia ini telah menggemparkan dunia dan telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Sogando Palestina menuai kritik pedas dari kaum Yahudi yang tidak rela dunia mendengar, menyaksikan atau membaca selain dari materi yang sejalan dengan sudut pandang mereka.
Randa Ghazy è nata a Saronno nel 1986. Ha pubblicato il suo primo racconto, Sognando Palestina (Fabbri Editori, 2002), a soli quindici anni. Ha scritto anche Prova a sanguinare. Quattro ragazzi, un treno, la vita (Fabbri Editori, 2005). Vive a Londra dove ha studiato International Journalism e lavora per un’emittente televisiva araba.
I find it extremely incredible that the author wrote this book and published it at the age of fifteen. Her stunning writing, believable characters, everything was simply impeccable.
Being of Palestinian decent myself, I have always been curious to learn more about this era. This book accurately depicts life in Palestine during the Palestinian-Israeli conflict and the horrors associated with this war.
I found myself falling in love with these characters. They were all so real and although were going through unimaginable suffering, still had hope.
I am so glad that an author has provided an accurate look into a subject that is very sensitive. Some people may say that it is "anti-Semitic", a blatantly false statement. It merely provides people who are unaware of the conflict perspective and understanding. The Palestinian side of the conflict is a bit lacking in Western media, so this book is essential in order to give people a look into the mind of a Palestinian.
This book affected me in ways I did not anticipate. Rarely has a book affected me to this extent. That ending crushed me. It showed how cruel life is, and what people are forced to go through not only in Palestine, but in areas all over the globe.
Randa Ghazy menjelaskan kepada Al-Ahram Weekly dalam bahasa Arab dari rumahnya di daerah Milan, bahwa buku ini menceritakan tentang kehidupan kaum muda di Palestina yang tidak tahu harus hidup di mana akibat pengasingan yang dilakukan tentara Zionisme. Sehingga tidak benar bila buku ini dianggap mempromosikan bahkan mengajarkan kekerasan. Randa Ghazy menambahkan bahwa ia adalah seorang anak yang sama sekali belum pernah ke Palestina, dia cuma melihat semuanya dari media massa, dan buku. Itu pun adalah benar-benar hasil imajinasinya. Ayah dan ibunya yang sering menceritakan dengan akurat mengenai konflik Arab-Israel sehingga membuat ia memberanikan diri untuk mempelajari lebih jauh mengenai Palestina dan apa sebenarnya yang terjadi di sana. Dia pun mendapatkan informasi dari beberapa orang Palestina yang pernah mendatanginya dan menceritakan kebenaran yang jarang sekali disiarkan di media massa. Perlawanan rakyat Palestina dengan intifada-nya, serta kemarahan akibat pembunuhan sadis seorang ayah dan bocah Palestina bernama Mohamed Al-Dorra oleh tentara Israel, sangat menginspirasikannya serta membuat ia semakin bersemangat untuk lebih tahu tentang kehidupan rakyat Palestina.
Sognando Palestina, seperti yang dituturkan oleh Randa Ghazy, bercerita tentang kaum muda yang tinggal Palestina beserta apa yang terjadi di sana. Sebagai contoh bagaimana mereka tidak dapat hidup dan bekerja di tanah kelahiran mereka sendiri akibat pengasingan. Setiap tokoh yang terlibat dalam kisah ini kehilangan seluruh anggota keluarga mereka. Seperti Ibrahim yang kehilangan ibu dan ayahnya, lalu Nidhal yang harus kehilangan ibu dan adik perempuannya. Setiap tokoh memiliki kisah masing-masing di saat keluarganya mati dalam peperangan. Tokoh-tokoh di dalam kisah ini bergabung. Lalu berakhir dengan kematian semua tokoh, kecuali Muhammad, yang akhirnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dan Ibrahim yang tetap hidup, namun merasa telah mati.
Ketika membaca terjemahan buku yang diterbitkan Qisthi Press ini, awal mulanya sedikit membingungkan karena dibuka oleh dialog panjang dari beberapa orang yang belum diketahui jati dirinya. Kemudian, diperkenalkanlah sosok Ibrahim, yang telah kehilangan ibunya sejak masih kecil, dan tumbuh besar tanpa mengenal sosok ibu. Ia hanya mengenal sosok ayah yang memendam beribu kepedihan di hatinya. Sehingga membuatnya hanya berbincang sedikit dengan Ibrahim. Walaupun demikian, betapa Ibrahim sangat mengagumi ayahnya, yang menurutnya adalah seorang pria sejati, yang tidak menggandrungi apapun selain keimanan dan perang. Dan selalu mengobarkan semangat jihad, bahwa mereka tidak boleh tinggal diam atas segala ketidakadilan yang mereka terima setiap harinya, bahwa mereka tidak boleh tinggal diam saat tanah mereka direnggut, saat mereka diusir dari rumah mereka sendiri. Ibrahim dapat merasakan kepedihan teramat sangat yang dialami oleh ayahnya saat mendengar suara ayahnya yang bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Ibrahim selalu berkata, "Tak ada Perdamaian Tanpa Keadilan"
Hidup Ibrahim berubah seketika saat kematian ayah tercinta, yang ditemukannya tewas bersimbah darah, dengan mushaf di sebelahnya. Ibrahim kemudian meninggalkan bangku kuliah, dan mulai berkeliling kampung-kampung Gaza selama bertahun-tahun. Dia ingin menjadi lelaki seperti ayahnya. Sehingga singkat cerita, Ibrahim bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, pemuda-pemuda lain, yang karena kepedihan, dan kehilangan anggota keluarga, membuat mereka bersatu serta saling menyayangi. Mereka menjadi keluarga baginya. Nidal, Ramy, Mohammad, Ahmed, Jihad, Riham, dan Wilad, yang masing-masing mempunyai karakter berbeda, mengungkapkan cinta mereka dalam kemarahan, karena ketakutan akan kehilangan, yang terus dan akan selalu mengintai kehidupan mereka.
Buku ini sangat mengagumkan karena semua tidak menyangka seorang anak berumur 15 tahun mampu mengguratkan dengan jelas pedihnya kehidupan di Palestina, bahkan Randa Ghazy mampu melukiskan kepedihan seseorang dalam kehidupannya yang mungkin belum pernah dirasakannya sendiri. Keputusasaan, ketiadaan pilihan selain perang, sedikit cita-cita bahagia untuk bisa merasakan hidup normal seperti yang banyak dirasakan beribu orang di belahan dunia lain. Satu-satunya "penghibur" yang dapat membuat mereka tetap berjuang, yaitu janji Allah SWT. yang akan memberikan surga bagi mereka, kaum yang tertindas dan berjuang di jalan Allah SWT.
Tentu saja cerita ini menuai begitu banyak protes dari kaum Yahudi, karena mereka digambarkan sebagai tentara-tentara yang haus darah, pembunuh anak-anak dan orangtua, membuat masjid-masjid bersimbah darah dan mayat, pemerkosa wanita-wanita Palestina. Tapi Ghazy cukup objektif, dia menuliskan di bukunya, tidak semua orang Yahudi jahat, banyak orang-orang Yahudi yang menentang kekejaman tentara dan kebijakan pemerintahnya sendiri. Ghazy juga bercerita tentang cinta antara pemuda Palestina beragama Kristen, Ramy, dan seorang gadis Yahudi, Sarah.
Buku ini menarik tidak hanya dari segi semangat orang palestine, tetapi juga dari segi pengetahuan umum kita. Bahwa Palestina tidak melulu identik dengan Islam. Apalagi Israel di identikan dengan Kristen. Lebih sulit mencari kaum nasrani di bangsa yahudi (hitungan jari?). daripada orang nasrani di bangsa Arab. Bisa kita baca, 1 rumah di buku ini diisi oleh orang Islam, Kristen dari 1 bangsa (Palestina) dengan 1 kesamaan; merasa hidup tidak lagi berarti karena faham zionisme.
Tidak ada hubungan dengan agama pada perang di Timur Tengah ini. Agama hanya dipolitisir untuk membangun semangat, sejarah dan dukungan!
libro incredibile, due giorni di lettura straziante e che mi ha fatta stare malissimo in tutto e per tutto. mi sento stra fortunata ad aver conosciuto l’autrice di persona, che tra l’altro ha scritto questo libro pazzesco a 15 anni, e mi sento di consigliarlo a chi non vuole la solita lettura sul conflitto israelo-palestinese. pagine che parlano di dolore, amore e amicizia, di ragazzi che provano a sconfiggere l’orrore della guerra. un libro che tocca nel profondo e lascia le orme del suo passaggio.
بدأت قراءة هذا الكتاب قبل امتحان ال TOEFLكمحاولة لتحسين لغتي قراءة وكتابة، ولكن ربما لم يكن اختياري في محله، إذ أن لغة الترجمة عادية جدًا وبها الكثير مما لا يناسب الكتابة الأكاديمية،إذ أنها تعتمد في الأساس على لغة الحياة اليومية التي يتغاضى فيها عن الكثير من القواعد.
لكن على كل حال الرواية لطيفة، وهذا ما أدركته بعدها، ربما لأنها تحمل الكثير من الانفعالات.. تقول المؤلفة في نهاية الكتاب: "I dedicate this story, in which the characters and events (except some news items) are exclusively the product of my imagination, to Mohamed Aldorra, twelve years old, dead like Ahmed, like Walid, without reason, with courage, I dedicate this story to him and I pray for him because wherever he is now, wherever he might be, he has something better than the hatred and death of this war"
الرواية تحكي قصةالعدوان الاسرائيلي الذي يهجر الفلسطينيين ،يقتلهم وييتمهم، لتحكي لنا راندا قصة ثمانية من الفلسطينيين..
منهم أحمد الذي ظهر في نصف الرواية ووليد الذي ظهر قبيل النهاية.. وعن أحمد: "God, Ahmed, you always have a book in your hands!I don't understand how you can keep from being bored,," "Being bored? Are you joking? Reading is like getting aboard a train that's taking you, you don't know where. And when you have to get off, you feel so sad.."
وهذه القصة ذكرتني بقصيدة درويش أحمد الزعيتر يقول: ليدين من حجر و زعتر
Sognando Palestina: Jendela untuk Melihat Penderitaan Remaja Palestina
Perang, kekerasan, ketakutan. Di balik itu tersimpan persaudaraan, cinta dan persahabatn. Sekelompok remaja Palestina, memutuskan untuk hidup dan bertahan di masa sulit. Masa berkobarnya rasa balas dendam, bom bunuh diri dan pengusiran. Meskipun demikian, mereka berusaha menjalani kehidupan yang normal, penuh solidaritas, dan keceriaan. Padahal setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir bagi siapa saja. Satu-satunya senjata untuk bertahan adalah jiwa yang tegar dan keinginan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Ditulis oleh gadis belia berusia 13 tahun, novel kontroversial yang bermula dari cerita pendek peraih anugerah sastra di Italia ini telah menggemparkan dunia dan telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Sogando Palestina menuai kritik pedas dari kaum Yahudi yang tidak rela dunia mendengar, menyaksikan atau membaca selain dari materi yang sejalan dengan sudut pandang mereka. *** Cukup dengan membaca ringkasan di balik buku membuat saya meyakini bahwa buku memiliki kekuatan. Gadis 13 tahun bernama Randa Ghazy yang bukanlah penduduk Palestina, sanggup menulis tentang tema yang tak mungkin hanya dikhayalkan sebelum dituliskan. Apalagi diperkuat oleh testimoni dari New York Times pada sampul depan buku ini sebagai “Karya Sastra yang luar biasa, langsung meledak dan memberi persfektif yang berbeda.” Sampul buku tak kalah dalam memberikan sentuhan yang seolah membawa jiwa penuh luka rakyat Palestina yang tertulis di dlam buku ini. Itulah sedikit gambaran fisik dari buku yang apabila boleh saya beri nilai, maka buku ini bernilai 90, nyaris sempurna. Halaman pertama membuat saya terhenyak, karena dibuka oleh barisan puisi yang berisi kekuatan untuk melawan, seperti ini: Tanpa gentar aku 'kan melawan Ya, tanpa gentar akan kulawan Di tanah tumpah darahku, aku akan melawan Siapapun yang mencuri milikku akan kulawan Siapa yang membunuh anak-anakku akan kulawan Siapa yang robokan rumahku, akan kulawan Oh, rumahku tercinta! Di bawah puing-puing tembokmu, aku akan melawan Tanpa gentar akan kulawan Dengan segenap jiwaku, aku akan melawan Dengan tongkatku, dengan pisauku, akan kulawan Dengan bendera di tanganku, akan kulawan Meski mereka potong tanganku Dan nodai benderaku, Dengan tanganku yang lain, akan kulawan Tanpa gentar akan kulawan Jengkal demi jengkal, di ladangku, di tamanku, akan kulawan Dengan tekad dan keimanan, akan kulawan Dengan kuku dan gigiku akan kulawan Dan meski tubuhku Tak lebih dari kumpulan bekas luka-luka menganga Dengan darah dari luka-lukaku, aku 'ka melawan Tanpa gentar akan kulawan
Kenapa harus melawan dan tak menyerah saja? Bawa saja ke Mahkamah Internasional! Tentu tidak bisa! Kenapa? Karena pada kenyataannya mereka hanya orang-orang Palestina yang mngetahui kenyataan bahwa mereka sendirian. Karena dunia tak peduli, sama sekali acuh tak acuh-apakah ada satu lagi yang mati atau berkurang. Hanya sekedar angka-angka. Kau mengerti? Sekedar angka-angka dan dunia cukup berkata ��kasihan”. Bahkan kadang-kadang mereka tak berkata sepatah katapun, karena mereka terlalu sibuk berganti saluran televisi. Tetapi pada akhirnya hal itu tak penting. Apa gunanya, kan? Itu hanya perang orang Palestina tidak ada sangkut pautnya dengan dunia. Orang-orang Palestina harus bertahan!kenapa? karena mereka menjaga masjid suci Al Aqsha, menjaga tanah wakaf para muslim. Mereka menjaganya untuk dunia! Dan bukankah Allah Yang Maha Pengasih bersabda: Pertahankanlah tanah dan keluarga kalian. Apabila ada seseorang yang merampas tanah kalian, menguasai rumah kalian, merampas hak atas harta benda kalian, maka berjuanglah. Berperanglah. Perang, yang membuat para remaja yang menjadi tokoh-tokoh dalam kisah ini, mau tak mau harus segera tumbuh dewasa dan melawan ketakutannya untuk bisa bertahan. Perang sebagai hal yang menuntut mereka untuk melawan dan mempertahankan iman. Israel mampu menghancurkan segalanya tapi tidak Islam dan keimanan warga Palestina. Bagaimana perang menjadi saksi tentang cinta dan pershabatan dan kerinduan mereka untuk hidup dalam kedamaian. Adalah Ibrahim yang hidupnya berubahsejak kematian tragis ayahnya. Ibrahim kemudian meninggalkan bangku kuliah, dan mulai berkeliling kampung-kampung Gaza selama bertahun-tahun. Dia mencoba menjadi lelaki seperti ayahnya. Sehingga singkat cerita, Ibrahim bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, pemuda-pemuda lain, yang karena kepedihan, dan kehilangan anggota keluarga, membuat mereka bersatu serta saling menyayangi. Mereka menjadi keluarga baginya. Nidal, Ramy, Mohammad, Ahmed, Jihad, Riham, dan Wilad, yang masing-masing mempunyai karakter berbeda, tapi memiliki impian sama akan kehidupan damai di tanah Palestina. Buku ini sangat penuh dengan hal yang membuat pembaca berdecak penuh kekaguman Penulisnya terlalu belia untuk bisa menuliskan kepedihan dan keputusasaan yang begitu mendalam. Mencoba menukar posisinys sebagai penulis dan tokoh yang bercita-cita memiliki kehidupan normal yang dimiliki penulis walau saya yakin sang penulis tak berkeinginan menghadapi kehidupan dalam pengungsian akibat peperangan. Mungkin jawabannya mengapa Randa mampu menuliskannya, karena rasa simpati dan empati atas seseorang bernama Jamal ad-Durrah yang tertulis di halaman persembahan. Nyaris seisi buku bercerita tentang kepedihan dan tak seperti dongeng yang menjanjikan bahagia buku ini jelas berkisah tentang perjuangan tanpa ujung karena mereka percaya yaitu janji Allah SWT. yang akan memberikan surga bagi mereka, kaum yang tertindas dan berjuang di jalan Allah SWT. Tentu saja cerita ini membuat Yahudi berang, karena mereka digambarkan sebagai tentara-tentara yang berperilaku monster yang membunuh anak-anak dan orangtua, membuat masjid-masjid dibanjiri darah dan mayat, pemerkosa wanita-wanita Palestina. Tapi penulis cukup bijaksana, karena dia menuliskan bahwa tidak semua orang Yahudi jahat, bahwa tak sedikit Yahudi yang menentang kekejaman tentara dan kebijakan pemerintahnya sendiri. Penulis juga bercerita tentang cinta antara pemuda Palestina beragama Kristen, Ramy, dan seorang gadis Yahudi, Sarah. Sehingga menimbulkan asumsi bahwa masalah di sini bukan hanya teletak pada agama dan kepercayaan, namun juga terdapat intrik politik. Walau buku ini memiliki kekuatan memikat dengan tema kemanusiaannya namun sayang penyajiannya sedikit mengecewakan, terutama sering tertinggalnya narasi di percakapan yang penuh emosi sehingga membuat pembaca kebingungan tentang bagian tokoh yang tengah diceritakan. Terutama di bab satu, hal ini nyaris menghentikan saya untuk membaca. Juga tentang paragraf yang berantakan dan terkesan seperti kalimat-kalimat tunggal yang sengaja dibuat kacau karena mengingat penulisnya masih berusia cukup muda, namun bukankah itu tugas dari editor? Entahlah. Atau juga karena disebabkan oleh terjemahan yang kurang kuat mengingat bahwa buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Itali. Akan tetapi pada akhirnya, bahwa buku ini memberi pembaca gambaran tentang luka dan penderitaan rakyat Palestina.
A story that revolves around people living in Palestine, or about Palestine, or about them having to leave Palestine, or surviving in Palestine, or the rage that is born and grows within them...
You see where I am going. "Sognando Palestina" is the story of some Palestinians and how their lives in the region and the relationship they have with Israelis and Israel influences their everyday life. So don't expect, even if there may be, flowers and singing birds. Ghazy goes for dark, gritty, raw, pain, personal, with a down to Earth, realistic tone and writing style, that feels more like inner thoughts than a story, and makes it all feel closer, more intimate, personal (again). It is more like a mirror into the anger that a person harbors within themselves, how they live with it, the shapes it takes and how it is impossible, sometimes, to control it. Ghazy does a good job (not great, but far from bad), but it still feels very much like a 'creative writing end of the semester work' more than anything.
You won't regret reading it (in part because it can be read in a little bit over an afternoon), but it won't change your life either.
The best: its gritty style; it will make you want to read more about the topic
The worst: it is all very 'raw' and there is nothing here you have never seen before (its 'originality' not really being original); deep down it could be read like just a rant
Alternatives: maybe read some non-fiction works about Palestine, like Pappé or Chomsky; right now I can't remember fiction books around real conflicts, but David Foster Wallace or Chuck Palahniuk push (in different ways) some of the limits of narrative, and they could be an option. Margaret Atwood also comes to mind.
'Sognando Palestina', di Randa Ghazy, è un libro per ragazzi, ma è adatto a chiunque desideri leggere un romanzo su quella terra martoriata. Il libro non edulcora la realtà, anzi, descrive con precisione, senza sconti, i rastrellamenti israeliani, le demolizioni, le annessioni illegali. Tuttavia, incentra l'attenzione del lettore su dubbi sociali ed etici che spesso, davanti alle ingiustizie, passano in secondo piano. È giusto rispondere alla violenza con altra violenza? È possibile fermare l'odio col dialogo? Chi nasce, cresce e conosce solo la guerra, la rabbia, gli stenti può concepire un mondo diverso? La scrittrice non si erge a rivelatrice di verità, ma propone uno spaccato fin troppo comune nella terra di Palestina. Così, tra libri divorati, amori perduti e coronati, vite salvate e spezzate, non ci resta che accettare un'amara realtà: non c'è pace senza giustizia, ma con l'odio si alimenta soltanto altro odio. Una lettura che consiglio, soprattutto ai più giovani (dai 12 anni in su).
“Uno crede di costruire la propria serenità intorno a certezze così solide, così stabili e quando crollano, perché primo poi crollano, e quando crollano il brusco ritorno alla realtà sensazioni brucianti, che colpiscono l’animo indifeso già si illudeva diverse volte la pace”. Un libro breve,ma molto significativo,quando ieri sera l’ho iniziato non pensavo mi potesse prendere,non pensavo mi potesse lasciare così tanto. Veramente bello, a volte, a furia di leggere di mondi immaginari; mi dimentico delle diverse realtà che il nostro mondo contiene. Di quanto sangue abbia versato l’uomo e che stia costantemente versando,magari non dove sto io,magari non dove stai tu. Ma da qualche parte,puoi stare certo che sta succedendo. Questo libro parla della guerra Santa,i protagonisti,sono dei palestinesi,uniti dalle sofferenze che cercano di combattere contro il dolore stando uniti. Che cercano di vivere una sorta di normalità pur sapendo di starsi solo illudendo. Veramente un libro meraviglioso
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ho trovato la scrittura è un po' acerba, comprensibile vista la giovane età dell'autrice quando scrisse il romanzo. I fatti narrati, anche se per lo più frutto della sua fantasia, verosimili, tanto da sentire sulla mia pelle le conseguenze di una vita e una quotidianità violenta. È del tutto assente il perbenismo occidentale che permea, spesso, storie di questo tipo, caratteristica che ho apprezzato molto.
Si entra nella vita di un gruppo di ragazzi palestinesi che vivono un conflitto da quando sono nati.
Una lettura necessaria: capire cosa significhi vivere in guerra, avere costantemente paura, scontrarsi con l'odio, il pilastro che è l'amicizia...estremamente potente
Ambientato nel contesto palestinese degli anni '90 ma purtroppo ancora estremamente attuale
Ho cominciato questo libro controvoglia, ma mi sono dovuta ricredere subito. I personaggi hanno personalità ben definite e assolutamente non banali. Inoltre non ci vengono presentati singolarmente, uno ad uno, per poi incontrarsi tutti in un sol colpo, ma l'autrice ci presenta per primo Ibrahim, che incontrerà poi il resto dei personaggi. Ibrahim è un personaggio straordinario, molto ben sviluppato. Le sue riflessioni intervallano l'incontro con nuovi personaggi o gli episodi di vita di quest'ultimi e riescono a rendere molto bene l'idea dello stato d'animo del protagonista. I personaggi vivono situazioni di stabilità e serenità alternate a panico, terrore e nervosismo, che li porta a scontrarsi fra loro stessi. Per concludere questa mia prima recensione: consiglio vivamente di leggere Sognando Palestina: verrete travolti da forti personalità, sentimenti, pensieri e parole.
Palestina è la prova morale di ogni essere umano. E' così inumano quello che succede, che è successo e che succederà, ma chi uccide e chi guarda in silenzio sono essere umani. Come si definisce l'essere umano? Qual è la differenza tra chi sceglie di uccidere e chi sceglie la pace? Tra chi osserva e sta zitto e chi non può far altro che versare lacrime e denunciare con furia e collera ciò che vede? Infondo, però, alle vittime di questo apartheid cosa servono le nostre lacrime? Quando arriverà il momento in cui sarà possibile una soluzione che pone fine a queste atrocità? Forse, una possibilità potrebbe presentarsi nel caso in cui tutti, anche gli spettatori passivi, decidiamo di non sopportare più tutto questo. Quel giorno saremo degni di essere chiamati esseri Umani.
Sebagai salah satu buku hasil buruan saat bukfer,buku ini sempet dicuekin beberapa bulan smpe pilihan bacaan mulai menipis..ternyata eh ternyata adalah pengalaman luarbiasa yg ditemui saat membaca buku ini berhasil membuatku larut berkelana di tengah kelamnya suasana perang dan alam pikir remaja yang terpaksa harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan. Akhirnya aend up with 4bintang atas usaha Randa menunjukan pada dunia atas pergolakan yg tidak saja terjadi antar subjek hukum internasional,tapi juga antar manusia umur belasan didalamnya..
sudah sangat lama aku mencari buku ini bahkan hampir melupakan bahwa aku pernah merasa harus untuk membaca buku ini. melihat dari judulnya, aku langsung mengenali bahwa ini buku yang pernah aku dambakan sejak 6 atau 7 tahun yang lalu. Tidak banyak deskripsi menurutku, tapi entah kenapa kadang terasa mencekam, tiba2 berubah sedih, marah, dan betapa aku selalu mengutuk bangsa yang katanya adalah pilihan Tuhan itu. Aku mengutuk kebijakan dan sikap masa bodoh dunia terhadap Palestine. Tidak banyak yang bisa ku lakukan untuk Palestine, hanya Allah tidak pernah ingkar.
Kommplain terbesarku pada buku ini bukan pada ceritanya yang cukup bias dan agak klise, tapi pada penerjemahannya yang amat-sangat payah. Sejak baris pertama, banyak dialog yang disajikan begitu saja tanpa narasi hingga aku tidak tahu tokoh mana yang sedang bicara atu peristiwa apa yang sedang terjadi. Kesalahan editing juga sangat mengganggu dan mempengaruhi pemahaman dalam membaca buku ini.
BTW, edisi yang kubaca adalah terjemahan terbitan Qisthi Press. Mungkin di edisi lainnya terjemahannya bisa jadi berbeda
The book is about young Palestinians live under the occupation of Israel. It is not really about the fight for freedom from the oppression, rather it is about their dreams, how love blooms between them, even though they were strangers at first. However, clashes between Palestinians and Israelis surface at several points of this book.
Ditulis oleh gadis belia berusia 13 tahun, novel kontroversial yang bermula dari cerita pendek peraih anugerah sastra di Italia ini telah menggemparkan dunia dan telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Sogando Palestina menuai kritik pedas dari kaum Yahudi yang tidak rela dunia mendengar, menyaksikan atau membaca selain dari materi yang sejalan dengan sudut pandang mereka.
wew, penulisnya ternyata seorang gadis berusia 13 tahun berdarah mesir yang dari lahir sudah menetap di Italia. how come such a litle girl without any war experienced and never steeped her foot in palestine could wrote such a dark n touching story about war in palestine! she's would be another maestro one day!
Jika anda ingin mengetahui tentang kehidupan rakyat Palestin, inilah buku yang anda patut baca. Meskipun buku ini sebuah fiksyen, saya percaya, berdasarkan sebab buku ini pada mulanya ditulis, dan kajian yang telah penulis buat, ia mirip keadaan sebenar rakyat Palestin. Kisah yang menyentuh hati dan mengingatkan kita bahawa perjuangan mesti diteruskan.
inspiring... see dream, hope, friendship within the war. and she wrote it while she's 13 years old! it's rare to see the conflict between Israel and Palestine through the Palestinian perspective. very touching...
buku ini berhasil menjadi jendela bagi dunia yang ingin melihat palestina. lagi-lagi nilai humanity saya terhempas cukup keras karena ketidak berdayaan...