What do you think?
Rate this book


448 pages, Paperback
First published September 20, 2023
1. leila ini sering sekali menaburkan berbagai undertone feminisme dalam ceritanya. sayangnya, komentar sosial leila yang berniat untuk disampaikan melalui pendekatan feminis ini selalu bersifat elementer dan dangkal. lebih dari itu, tiga bukunya yang sejauh ini sudah saya baca, semuanya berporos pada tokoh utama yang berjenis kelamin laki-laki. alhasil, leila selalu kelihatan berupaya untuk memberi komentar terhadap tokoh perempuannya dari sudut pandang laki-laki. sehingga, salah satu "feminisme dangkal" yang saya temukan selalu berulang-ulang muncul contohnya adalah kegemaran leila untuk menggunakan tokoh perempuan galak yang tukang suruh untuk "menggemparkan" tokoh utama laki-lakinya. bersamaan dengan ini, selalu disisipkan komentar penuh kekaguman, bahwa seorang permpuan yang dideskripsikan si buku sebagai "cantik" atau sebagai "perempuan kayak winda lipstik", ternyata "tidak superfisial" dan "gak modal tampang doang". terkadang, kritik leila terhadap patriarki sering disisipkan dalam konfrontasi tokoh perempuannya ke tokoh utama. contohnya adalah ketika dara ariana mempertanyakan hal berikut kepada segara alam: ["mengapa tidak mau tanding tadi? karena saya perempuan?"]. this book's brand of feminism entirely depended on this frame of thinking. padahal, this misses the entire point of 'feminism'. sesungguhnya pertanyaan yang lebih tepat dilontarkan buku ini adalah "kenapa ada asumsi alamiah, bahwa perempuan yang cantik harus dipertanyakan kepandaiannya?" apakah perempuan, sebagai manusia dengan "jenis lain" ini, baru bisa dianggap serius jika ternyata pintar? kalau ternyata tidak pintar, memang kenapa? apakah value mereka, untuk dipertimbangkan omongannya secara serius, menjadi hilang? padahal, setiap kali tokoh laki-laki leila bertemu dengan tokoh laki-laki yang lain, pembahasannya tidak pernah langsung menuju ke, "apakah dia paham sastra charles dickens atau tidak?'", sebagaimana terjadi ketika karakternya merupakan perempuan. tidak pernah ada kegusaran instan untuk "menguji" value laki-laki tersebut.
memang, rasanya kurang penting saya permasalahkan poin ini kalau munculnya cuman satu dua kali ya. tapi yang bikin risih adalah saya sekarang bisa mengidentifikasikan hal ini sebagai sebuah pola/pattern di tulisan-tulisan keila. kenapa? ya karena tendensi ini memang berulang kali muncul melulu juga. mau itu di buku Pulang maupun buku Laut Bercerita. nilai umum dalam sebuah masyarakat patriarkis kita sehari-hari—bahwa perempuan yang cantik atau feminin itu pasti bloon, kecuali bisa dibuktikan kebalikannya—kerap secara implist digaungkan terus oleh leila (walaupun sepertinya secara tidak sadar). ini adalah contoh terang benderang dari internalized misogyny yang diamini patriarki. unsur-unsur yang telah (melalui konstruksi sosial) melekat dengan "femininitas" (seperti cantik, gemar bersolek, memiliki gerak-gerik kemayu), diasosiasikan secara otomatis dengan = kedangkalan, inferioritas, atau nihilnya intelek. sebetulnya ini gak menjadi masalah jika penulisnya memang tidak punya maksud untuk memberi komentar sosial feminis dalam karyanya. masalahnya, leila jelas mencoba untuk mengkritik patriarki dalam buku apapun yang ia tulis. padahal, sebenarnya ia justru malah telah memberi amunisi terhadap senjata patriarki, yang mana merupakan internalized misogyny itu sendiri. saya sebagai pembaca, dan sebagai feminis, ya jelas jadi risih.
2. one of the golden rules of literary narrative is called as: "show, don't tell". karya sastra yang baik itu akan menunjukkan hal yang ingin dia sampaikan, dan bukan sekedar memberitahu, apa lagi mendiktekan. sayangnya, buku ini isinya: tell, tell, tell and tell semua. alias dikte, dikte, dikte dan dikte. pembaca disuapin dan dimanjain dengan narasi sudut pandang pertama yang pesannya disampaikan secara gamblang dan gak subtle sama sekali. so dont worry, you are not meant to think and process what the book is trying to say on your own, because leila is spoon-feeding it to you like an infant! this is straight up indicative of lazy writing, if you ask me. dan jangan salah paham lho. saya bukannya gak setuju dengan pesan dari bukunya. justru saya tadinya semangat untuk memulai buku ini ya karena tema yang diangkat adalah mengenai pelanggaran HAM masa lalu, narasi sejarah resmi orde baru yang revisionis, dan masa kecil/remaja seorang anak dari keluarga penyintas 1965. tapi kan tetap saja, 'cerita' itu kan hanyalah satu aspek dari sebuah 'buku yang baik'. 'prosa', 'penggunaan bahasa', 'gaya' serta 'penulisan secara umum' itu juga merupakan aspek-aspek yang tidak kalah penting (dan bahkan menurut pendapat saya pribadi justru LEBIH penting dari plot/cerita). dan semua aspek tersebut justru telah ditelantarkan dalam buku ini. salah satu kritik saya terhadap pulang itu dulu juga sebetulnya sama. ketika mendengar bahwa leila ada buku baru, saya tadinya berharap bahwa cara leila menulis akan mengalami perkembangan. tapi ternyata, sudah selang bertahun-tahun, buku baru leila justru ditulis dengan cara yang jauh lebih tidak elegan dari pulang.
3. kelemahan lain dari buku ini yang sangat menunjukkan kemalasan menulis leila dan belum berubah dari cara dia sebelumya menulis Pulang adalah bahwa ia masih hobi menaburkan sana sini nama-nama sastrawan atau pemikir (yang ia anggap kompleks) sebagai pemancing intelektualitas karakternya. kalau dalam pulang, bahkan kecenderungan leila ini menjadi panjang tangannya untuk membentuk dan membangun karakter. walaupun dalam buku ini, tendensi tersebut sudah tidak seburuk di pulang, namun kecenderungan tersebut masih ada dan belum hilang. satu contoh dari ini adalah ketika leila menjajarkan berbagai nama sastrawan luar yang tentu asing bagi mayoritas pembaca dari indonesia. anggapan otomatis dari pembaca indonesia terhadap sesuatu yang asing ini tentunya adalah, bahwa yang ditulis leila pasti kompleks, sehingga layak di-reference. tetapi, yang paling bikin saya suka ketawa sendiri sebagai sesama pembaca "sastrawan asing" tersebut adalah, isi diskursus yang disajikan lagi dan lagi hanyalah pemujaan tanpa tanya terhadap buku-buku yang secara tradisional telah dijematkan sebagai "canon sastra" tersebut. sama sekali tidak ada analisis kritis (yang padahal bisa saja dilakukan dengan cara yang kasual) yang lahir dari name-dropping sosok-sosok tersebut. ini bikin heran. kenapa semua karakter di buku leila ini, seperti sudah punya konsensus terhadap segala hal yang leila lontarkan sebaca pemancing diskusi kritis? kalaupun satu atau dua kali buku ini mencoba membuat kesukaan leila untuk name-dropping tersebut menjadi kritis dan diskursif, toh akhir-akhirnya jatohnya malah cuman jadi pura-pura kritis doang. contohh: when one of the male characters (rightfully) questioned orwells's 1984's acclaim in the public consensus when compared to prior dystopian classics like huxley's Brave New World and zamyatin's We, the discussion led to NOWHERE. alam's know-it-all ass went into this tangent of ["ya tentu saja alsannya karena karya george orwell jelas lebih kompleks dan superior"] and that was enough to make the entire class speechless in admiration of his thought — i couldnt help but roll my eyes SO HARD. WHY is it superior though?! and HOW is it complex? what's the argument of his thesis!! wtf! aren't these the very things we are supposed to be critical about? contoh lain: ketika intelektualitas dara "diuji" oleh alam. berbaris-baris dara menyandingkan pendapatnya mengenai Romeo and Juliet terhadap Little Women LMAO. setelah itu, alam berhasil-lah dibikin "terpukau" karena menurutnya ["pendapat dara menarik dan kompleks"]. padahal, isi diskursusnya lagi dan lagi hanyalah unquestionable adoration of books which are traditionally-heralded in the western and english lit canon, without appropriately asking the more fitting question from a non-western perspective, of who decided whats in the canon to begin with! like WHY do we look up so much to romeo and juliet and little women as worthy literary works in the first place though! to the point that alam marked them as a parameter of supposedly "complex thought" from a woman! makanya saya mau gak mau mencapai kesimpulan bahwa buku-buku leila ini cuman pura-pura kritis doang.
terhadap kecenderungan malas (dan jujur, norak) dari leila yang ini, tidak bisa dihindari bahwa saya, mau gak mau, jadi menyimpulkan dua hal: satu, ini adalah buku yang pretensius; dan dua, bahwa ini semua sebetulnya hanyalah corong dari pendapat pribadi leila sebagai penulis saja. kesimpulan yang kedua itu yang sebenarnya membuat saya tidak pernah betul-betul menikmati leila sebagai penulis. karena, turn-off terbesar saya dalam buku itu adalah ketika tidak ada "an air of ambiguity", dan ketika seorang penulis begitu tidak bisanya memisahkan diri personalnya dari karyanya, sehingga rasanya saya seperti sedang baca pendapat personal si penulis itu saja. seperti masturbasi intelektual sang penulis aja nyebut-nyebut sastrawan asing sana sini.
"Ibu ingin menekankan prinsip penting: Keluarga kami tidak percaya kekerasan sebagai jalan keluar dari konflik. Apa pun konfliknya, siapa pun yang memulai, Ibu ingin aku paham bahwa kami sebagai korban kekerasan yang tidak boleh mendaur ulang kekerasan itu kepada orang lain."