Jump to ratings and reviews
Rate this book

Namaku Alam: Jilid 1

Rate this book
Inilah yang kubayangkan detik-detik terakhir Bapak:

18 Mei 1970.

Hari gelap. Langit berwarna hitam dengan garis ungu. Bulan bersembunyi di balik ranting pohon randu. Sekumpulan burung nasar bertengger di pagar kawat. Mereka mencium aroma manusia yang nyaris jadi mayat bercampur bau mesiu. Terdengar lolongan anjing berkepanjangan. Empat orang berbaris rapi, masing-masing berdiri dengan senapan yang diarahkan kepada Bapak. Hanya satu senapan berisi peluru mematikan. Selebihnya, peluru karet. Tak satu pun di antara keempat lelaki itu tahu siapa yang kelak menghentikan hidup Bapak.

__

Pada usianya yang ke-33 tahun, Segara Alam menjenguk kembali masa kecilnya hingga dewasa. Semua peristiwa tertanam dengan kuat. Karena memiliki photographic memory, Alam ingat pertama kali dia ditodong senapan oleh seorang lelaki dewasa ketika masih berusia tiga tahun; pertama kali sepupunya mencercanya sebagai anak ‘pengkhianat negara’; pertama kali Alam berkelahi dengan seorang anak pengusaha besar yang menguasai sekolah; dan pertama kali dia jatuh cinta.

448 pages, Paperback

First published September 20, 2023

562 people are currently reading
3728 people want to read

About the author

Leila S. Chudori

24 books1,165 followers
Leila Salikha Chudori adalah penulis Indonesia yang menghasilkan berbagai karya cerita pendek, novel, dan skenario drama televisi.Leila S. Chudori bercerita tentang kejujuran, keyakinan, dan tekad, prinsip dan pengorbanan. Mendapat pengaruh dari bacaan-bacaan dari buku-buku yang disebutnya dalam cerpen-cerpennya yang kita ketahui dari riwayat hidupnya ialah Franz Kafka, pengarang Jerman yang mempertanyakan eksistensi manusia, Dostoyewsky pengarang klasik Rusia yang menggerek jauk ke dalam jiwa manusia. D.H Lawrence pengarang Inggris yang memperjuangkan kebebasan mutlak nurani manusia, pengarang Irlandia James Joyce, yang terkenal dengan romannya Ullysses. Suatu pelaksanaan proses kreatif Stream of Consciousnes, Herman Jesse, Freud, Erich Fromm, A.S. Neill. Maka tidak mengherankan apabila Leila S. Chudori memperlihatkan tokoh-tokoh cerita yang mempunyai kesadaran yang dalam dan hasrat jiwa yang bebas merdeka. Leila S. Chudori pun tak asing dengan Baratayudha, Ramayana dari dunia pewayangan. Leila S. Chudori juga menggunakan imajinasinya untuk meruyak ruang dan waktu, penuh ilusi dan halusinasi, angan-angan dan khayalan. Leila melukiskan kejadian-kejadian secara pararel dan simultan, berbaur susup menyusup untuk saling memperkuat kesan pengalaman dan penghayatan. Leila juga mensejajarkan pengalaman pribadi, membaurkannya dengan cerita mitologi. Dengan teknik pembauran seperti ini, terjadi dimensi baru dalam pengaluran cerita. Satu hal lain yang istimewa dalam cerpen-cerpen Leila bahwa dia tidak ragu-ragu menceritakan hal-hal yang tabu bagi masyarakat tradisional. Gaya cerita Leila S. Chudori intelektual sekaligus puitis. Banyak idiom dan metafor baru di samping pandangan falsafi baru karena pengungkapan yang baru.

Leila terpilih mewakili Indonesia mendapat beasiswa menempuh pendidikan di "Lester B. Pearson College of the Pacific (United World Colleges)" di Victoria, Kanada. Lulus sarjana Political Science dan Comparative Development Studies dari Universitas Trent, Kanada.
Sejak tahun 1989 hingga kini bekerja sebagai wartawan majalah berita Tempo. Di tahun-tahun awal, Leila dipercayakan meliput masalah internasional—terutama Filipina dan berhasil mewawancarai Presiden Cory Aquino pada tahun 1989, 1991 di Istana Malacanang; Fang Lizhi seorang ahli Fisika dan salah satu pemimpin gerakan Tiannamen, Cina, WWC di Cambrige Universitypada tahun 1992, Presiden Fidel Ramos di Manila pada tahun 1992, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Jakarta, pada tahun 1992, Pemimpin PLO Yasser Arafat pada tahun 1992 dan 2002 di Jakarta, Nelson Mandela pada tahun 1992 di Jakarta, dan Pemimpin Mozambique Robert Mugabe pada tahun 2003, di Jakarta. Kini Leila adalah Redaktur Senior Majalah Tempo, bertanggung-jawab pada rubrik Bahasa dan masih rutin menulis resensi film di majalah tersebut.

Karya-karya awal Leila dimuat saat ia berusia 12 tahun di majalah Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Pada usia dini ia menghasilkan buku kumpulan cerpen berjudul "Sebuah Kejutan", "Empat Pemuda Kecil", dan "Seputih Hati Andra". Pada usia dewasa cerita pendeknya dimuat di majalah Zaman, majalah sastra Horison, Matra, jurnal sastra Solidarity (Filipina), Menagerie (Indonesia), dan Tenggara (Malaysia). Buku kumpulan cerita pendeknya Malam Terakhir telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman Die Letzte Nacht (Horlemman Verlag). Cerpen Leila dibahas oleh kritikus sastra Tinneke Hellwig “Leila S.Chudori and women in Contemporary Fiction Writing dalam Tenggara”, Tineke Helwig kembali membahas buku terbaru Leila, “9 dari Nadira” dan mengatakan bahwa buku ini memiliki “authencity in reality” dan mengandung “complex narrative”. Nama Leila S. Chudori juga tercantum sebagai salah satu sastrawan Indonesia dalam kamus sastra "Dictionnaire des Creatrices" yang diterbitkan EDITIONS DES FEMMES, Prancis, yang disusun oleh Jacqueline Camus. Kamus sastra ini berisi data dan profil perempuan yang berkecimpung di dunia seni.

Pada tahun 2013 Leila S. Chudori memenangkan Kh

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,200 (41%)
4 stars
1,107 (38%)
3 stars
449 (15%)
2 stars
79 (2%)
1 star
23 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 611 reviews
Profile Image for blue monday.
99 reviews
January 12, 2025
cant believe leila really wrote 438 pages about the typical kating ngabers u involuntarily find in abundance in ur local kampus and warkop! is she serious! was she really unaware of this very archetype of cringy ass masculine men we all make fun of today! ya begitulah. buku tentang "anak 15 tahun baca karl marx" mana sih yang gak akan jatohnya jadi menggelikan dan pretensius lolz? bukannya saya itu enggak percaya lho bahwa di luar sana memang ada bocah yg udah baca karl marx sejak umur 14 atau 15 tahun. tapi memang leila chudori-nya yang gagal menulis karakter tersebut dengan meyakinkan! i just couldnt believe any of them! i couldnt bring myself to take any of this seriously! not to mention that istg if i hear about photographic memory ONE MORE TIME imma kms omg!

im going to be VERY brutally honest. for such a well known and respectable indonesian author, she writes like a 13 year old YA fiction author! this book really ticked off ALL of the stereotypes about ngabers yang senang bersolek manis dengan estetika revolusioner tanpa secara bermakna mencoba untuk memahami ideologi kiri: the che guevara t shirt! the "nenteng2" bumi manusia wherever u go! romanticizing paris as a city! female characters adopting internalized misogyny by regarding "femininity" as a less worthy attribute (e.g the book's ridicule of "winda lipstik" etc)! men whose ENTIRE personality is george orwell's 1984! male characters FINALLY being able to respect women ONLY after finding out she "read books" or "can discuss politics" and shit! it was practically impossible for me to roll my eyes further back my head!

sebagai upaya untuk membuat resensi ini lebih terstruktur, sebetulnya komplain saya mencakup poin-poin berikut:

1. leila ini sering sekali menaburkan berbagai undertone feminisme dalam ceritanya. sayangnya, komentar sosial leila yang berniat untuk disampaikan melalui pendekatan feminis ini selalu bersifat elementer dan dangkal. lebih dari itu, tiga bukunya yang sejauh ini sudah saya baca, semuanya berporos pada tokoh utama yang berjenis kelamin laki-laki. alhasil, leila selalu kelihatan berupaya untuk memberi komentar terhadap tokoh perempuannya dari sudut pandang laki-laki. sehingga, salah satu "feminisme dangkal" yang saya temukan selalu berulang-ulang muncul contohnya adalah kegemaran leila untuk menggunakan tokoh perempuan galak yang tukang suruh untuk "menggemparkan" tokoh utama laki-lakinya. bersamaan dengan ini, selalu disisipkan komentar penuh kekaguman, bahwa seorang permpuan yang dideskripsikan si buku sebagai "cantik" atau sebagai "perempuan kayak winda lipstik", ternyata "tidak superfisial" dan "gak modal tampang doang". terkadang, kritik leila terhadap patriarki sering disisipkan dalam konfrontasi tokoh perempuannya ke tokoh utama. contohnya adalah ketika dara ariana mempertanyakan hal berikut kepada segara alam: ["mengapa tidak mau tanding tadi? karena saya perempuan?"]. this book's brand of feminism entirely depended on this frame of thinking. padahal, this misses the entire point of 'feminism'. sesungguhnya pertanyaan yang lebih tepat dilontarkan buku ini adalah "kenapa ada asumsi alamiah, bahwa perempuan yang cantik harus dipertanyakan kepandaiannya?" apakah perempuan, sebagai manusia dengan "jenis lain" ini, baru bisa dianggap serius jika ternyata pintar? kalau ternyata tidak pintar, memang kenapa? apakah value mereka, untuk dipertimbangkan omongannya secara serius, menjadi hilang? padahal, setiap kali tokoh laki-laki leila bertemu dengan tokoh laki-laki yang lain, pembahasannya tidak pernah langsung menuju ke, "apakah dia paham sastra charles dickens atau tidak?'", sebagaimana terjadi ketika karakternya merupakan perempuan. tidak pernah ada kegusaran instan untuk "menguji" value laki-laki tersebut.

memang, rasanya kurang penting saya permasalahkan poin ini kalau munculnya cuman satu dua kali ya. tapi yang bikin risih adalah saya sekarang bisa mengidentifikasikan hal ini sebagai sebuah pola/pattern di tulisan-tulisan keila. kenapa? ya karena tendensi ini memang berulang kali muncul melulu juga. mau itu di buku Pulang maupun buku Laut Bercerita. nilai umum dalam sebuah masyarakat patriarkis kita sehari-hari—bahwa perempuan yang cantik atau feminin itu pasti bloon, kecuali bisa dibuktikan kebalikannya—kerap secara implist digaungkan terus oleh leila (walaupun sepertinya secara tidak sadar). ini adalah contoh terang benderang dari internalized misogyny yang diamini patriarki. unsur-unsur yang telah (melalui konstruksi sosial) melekat dengan "femininitas" (seperti cantik, gemar bersolek, memiliki gerak-gerik kemayu), diasosiasikan secara otomatis dengan = kedangkalan, inferioritas, atau nihilnya intelek. sebetulnya ini gak menjadi masalah jika penulisnya memang tidak punya maksud untuk memberi komentar sosial feminis dalam karyanya. masalahnya, leila jelas mencoba untuk mengkritik patriarki dalam buku apapun yang ia tulis. padahal, sebenarnya ia justru malah telah memberi amunisi terhadap senjata patriarki, yang mana merupakan internalized misogyny itu sendiri. saya sebagai pembaca, dan sebagai feminis, ya jelas jadi risih.



2. one of the golden rules of literary narrative is called as: "show, don't tell". karya sastra yang baik itu akan menunjukkan hal yang ingin dia sampaikan, dan bukan sekedar memberitahu, apa lagi mendiktekan. sayangnya, buku ini isinya: tell, tell, tell and tell semua. alias dikte, dikte, dikte dan dikte. pembaca disuapin dan dimanjain dengan narasi sudut pandang pertama yang pesannya disampaikan secara gamblang dan gak subtle sama sekali. so dont worry, you are not meant to think and process what the book is trying to say on your own, because leila is spoon-feeding it to you like an infant! this is straight up indicative of lazy writing, if you ask me. dan jangan salah paham lho. saya bukannya gak setuju dengan pesan dari bukunya. justru saya tadinya semangat untuk memulai buku ini ya karena tema yang diangkat adalah mengenai pelanggaran HAM masa lalu, narasi sejarah resmi orde baru yang revisionis, dan masa kecil/remaja seorang anak dari keluarga penyintas 1965. tapi kan tetap saja, 'cerita' itu kan hanyalah satu aspek dari sebuah 'buku yang baik'. 'prosa', 'penggunaan bahasa', 'gaya' serta 'penulisan secara umum' itu juga merupakan aspek-aspek yang tidak kalah penting (dan bahkan menurut pendapat saya pribadi justru LEBIH penting dari plot/cerita). dan semua aspek tersebut justru telah ditelantarkan dalam buku ini. salah satu kritik saya terhadap pulang itu dulu juga sebetulnya sama. ketika mendengar bahwa leila ada buku baru, saya tadinya berharap bahwa cara leila menulis akan mengalami perkembangan. tapi ternyata, sudah selang bertahun-tahun, buku baru leila justru ditulis dengan cara yang jauh lebih tidak elegan dari pulang.



3. kelemahan lain dari buku ini yang sangat menunjukkan kemalasan menulis leila dan belum berubah dari cara dia sebelumya menulis Pulang adalah bahwa ia masih hobi menaburkan sana sini nama-nama sastrawan atau pemikir (yang ia anggap kompleks) sebagai pemancing intelektualitas karakternya. kalau dalam pulang, bahkan kecenderungan leila ini menjadi panjang tangannya untuk membentuk dan membangun karakter. walaupun dalam buku ini, tendensi tersebut sudah tidak seburuk di pulang, namun kecenderungan tersebut masih ada dan belum hilang. satu contoh dari ini adalah ketika leila menjajarkan berbagai nama sastrawan luar yang tentu asing bagi mayoritas pembaca dari indonesia. anggapan otomatis dari pembaca indonesia terhadap sesuatu yang asing ini tentunya adalah, bahwa yang ditulis leila pasti kompleks, sehingga layak di-reference. tetapi, yang paling bikin saya suka ketawa sendiri sebagai sesama pembaca "sastrawan asing" tersebut adalah, isi diskursus yang disajikan lagi dan lagi hanyalah pemujaan tanpa tanya terhadap buku-buku yang secara tradisional telah dijematkan sebagai "canon sastra" tersebut. sama sekali tidak ada analisis kritis (yang padahal bisa saja dilakukan dengan cara yang kasual) yang lahir dari name-dropping sosok-sosok tersebut. ini bikin heran. kenapa semua karakter di buku leila ini, seperti sudah punya konsensus terhadap segala hal yang leila lontarkan sebaca pemancing diskusi kritis? kalaupun satu atau dua kali buku ini mencoba membuat kesukaan leila untuk name-dropping tersebut menjadi kritis dan diskursif, toh akhir-akhirnya jatohnya malah cuman jadi pura-pura kritis doang. contohh: when one of the male characters (rightfully) questioned orwells's 1984's acclaim in the public consensus when compared to prior dystopian classics like huxley's Brave New World and zamyatin's We, the discussion led to NOWHERE. alam's know-it-all ass went into this tangent of ["ya tentu saja alsannya karena karya george orwell jelas lebih kompleks dan superior"] and that was enough to make the entire class speechless in admiration of his thought — i couldnt help but roll my eyes SO HARD. WHY is it superior though?! and HOW is it complex? what's the argument of his thesis!! wtf! aren't these the very things we are supposed to be critical about? contoh lain: ketika intelektualitas dara "diuji" oleh alam. berbaris-baris dara menyandingkan pendapatnya mengenai Romeo and Juliet terhadap Little Women LMAO. setelah itu, alam berhasil-lah dibikin "terpukau" karena menurutnya ["pendapat dara menarik dan kompleks"]. padahal, isi diskursusnya lagi dan lagi hanyalah unquestionable adoration of books which are traditionally-heralded in the western and english lit canon, without appropriately asking the more fitting question from a non-western perspective, of who decided whats in the canon to begin with! like WHY do we look up so much to romeo and juliet and little women as worthy literary works in the first place though! to the point that alam marked them as a parameter of supposedly "complex thought" from a woman! makanya saya mau gak mau mencapai kesimpulan bahwa buku-buku leila ini cuman pura-pura kritis doang.

terhadap kecenderungan malas (dan jujur, norak) dari leila yang ini, tidak bisa dihindari bahwa saya, mau gak mau, jadi menyimpulkan dua hal: satu, ini adalah buku yang pretensius; dan dua, bahwa ini semua sebetulnya hanyalah corong dari pendapat pribadi leila sebagai penulis saja. kesimpulan yang kedua itu yang sebenarnya membuat saya tidak pernah betul-betul menikmati leila sebagai penulis. karena, turn-off terbesar saya dalam buku itu adalah ketika tidak ada "an air of ambiguity", dan ketika seorang penulis begitu tidak bisanya memisahkan diri personalnya dari karyanya, sehingga rasanya saya seperti sedang baca pendapat personal si penulis itu saja. seperti masturbasi intelektual sang penulis aja nyebut-nyebut sastrawan asing sana sini.



sebagai kesimpulan:
saya paham bahwa panggilan masa yang sangat mencekam bulan-bulan terakhir ini membuat kita semua terdorong untuk membaca novel-novel progresif mengenai topik kejahatan negara dan pelanggaran HAM berat masa lalu. tapi kalau menurut saya, leila's books are more attractive in theory than in practice. sehingga mendingan baca "Amba"-nya laksmi pamuntjak atau "Saman"-nya ayu utami kemana-mana dan skip aja buku ini. sebab, jika dinilai dari sisi kepiawaian olah-bentuknya, karya leila ini terlalu picisan.
Profile Image for Advan.
12 reviews
April 20, 2024
I wished leila wrote this entirely dari sudut pandang either yu kenanga or yu bulan. If i read another line of photographic memory again i will riot.
Profile Image for daph.
26 reviews5 followers
June 13, 2024
Actual Rating: 2,5 stars

Salah satu buku yang berada di TBRku selama berabad-abad yang baru kesampaian baca sekarang. I really enjoyed Pulang but man, this book is a pain in my ass. My disappointment for this book is insanely huge omg. Okay, time to ramble on this wattpad ahh book.

Namaku Alam adalah sebuah prequel (lebih ke spin-off crita karakter jir) dari buku Pulang. Ceritanya ga harus kalian baca urut jujur, jd ya serah kalian mau baca yang mana dulu. Nyeritain masa lalu Alam dari TK-SMA di Putra Nusa dimana keluarga dia banyak kena imbas dari kejadian berdarah di negeri acumalaka ini, GS30PKI. Bokapnya dianggap mendukung PKI, bokapnya sembunyi-sembunyi terosss sampai akhirnya ketahuan trs dibunuh. Jadi, ini sebuah cerita tentang keluarga eks-tapol dan hal-hal yang mereka alami, mulai dari dicaci keluarga sendiri hingga dianggap sampah yang harus dibuang dan dimusnahkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Menceritakan seluruh suka-duka yang dihadapi Alam, sekolah, percintaan, pertemanan, keluarga dan karate.

OK, let’s start ramblin’

Ya you know lah typical apa karakter di buku Leila. U cowok baik, u bakal jadi Tuhan. Udah ganteng, baik, pinter (maaf lebih ke maha tahu sih, oops), semua buku sastra berat u paham. Hobimu itu berkelas dan kamu berbeda dengan anak-anak lain. Tapi kalo ente cewek, aduh jangan harepin apa-apa ya kalo kamu feminim, bukan penikmat buku apalagi buku-buku berat dan classic, apalagi kalo kamu makeup-an, udah tamat riwayatmu, ananda bukan cewe keren. Klo ente mau jadi pacar MC cowo di buku Leila, kamu harus jadi cewe tangguh, kuat, pemarah, tukang nyuruh-nyuruh, bacaan u harus berkelas dan berat supaya tampak kalo kamu itu bener-bener suka baca. LAma-lama w gregeten sm karakter Bu Leila yg stereotypical. Gapernah aku tuh nemu cewe feminim, suka pinky-pinky yang sifatnya lemah lembut dan ga keras. Oke lah, ada Winda tapi dia dicap dengan sebuah sebutan nama yang mengarah ke ejekan. Emang salah ya kalo jadi girly? Aku tahu ada Yu Bulan dan Surti, tapi Bu Leila terkesan menganggap perempuan girly itu perempuan yang bodoh dan hanya memikirkan percintaan. Girl, they’re js being teenagers there. Contohnya, aku lupa siapa tapi ada yang beranggapan pas Klub Pencatat makin banyak member, ada yang berkata bahwa ada beberapa dari mereka merupakan perempuan dungu yang hanya tertarik sama Alam, makanya join tuh klub. Ya ga salah, tapi bisa ga sih Bu Leila ini kalau ga menyombongkan diri seolah dia dan karakter-karakter utama di bukunya adalah karakter terpintar sejagat raya, si paling maha tahu tentang ‘penulis-penulis hebat’ dimana pembaca awam mungkin tidak tahu mengenai penulis-penulis ini. Satu hal yang aku gatel di bukunya Bu Leila ini mesti dibanjirin penulis-penulis dari luar entah darimana biar terkesan pinter kali ya? Sounds like lazy writing to me 🤣🤣🤣😂😂😂

Di buku ini, aku bingung. Ini Bu Leila ga salah? Karakter Alam udah persis kek MC di wattpad. Coba kalian perhatikan, ganteng, populer, pinter, punya photographic memory (yang diagung-agungkan Bu Leila melalui karakter-karakter di sini), jago karate, suka membaca buku, jago debat, wah sempurna sekali…Oh ya tidak lupa dengan musuh-musuh Alam yang tidak dijelaskan mengapa mereka bersifat seperti itu (selain krn kaya dan pny jabatan atau krn didikan ortu). Nih kenapa sih penokohan Bu Leila semakin sampah aja? Mau buat antagonis tuh jelasin lah kenapa sifatnya kek gt, terus kasih alesan juga. Alesannya masa gitu” doang? Emang ada ya manusia yang sepenuhnya jahat? Situ setan atau manusia?

Sepanjang cerita, aku merasa ceritanya flat. Berempati sama karakter di buku ini susahnya luar biasa. Kenapa? Ya soalnya aku berasa di-shoved down with stories and stories, paragraphs and paragraphs tanpa ada emosi yang benar-benar menggelegar. Ceritanya memang mengalir dengan mudah, tapi flat, ga kek Chit4t0. Ch1t4t0 aja punya slogan, “Life’s never flat” masa iya ceritanya mau flat? Alasan keduaku susah berempati dengan karakter-karakter di buku ini adalah karena mereka kurang ada personality dan ‘lawan’ mereka tuh juga seolah-olah mrk tuh setan yg pure jahat. Apalagi Irwan, ga masuk akal banget menurutku dia ini. Emang bisa ya iri sampe segitunya? Aneh juga dia gaada perkembangan karakter.

Terakhir, aku gasuka romance Dara sm Alam. I even forgot that they’re dating sometimes. Idk their relationship is so flat, nothing games-gemes like Lintang n Nara. Like there’s literally nothing abt them. Thought tht it’ll be good padahal. Lord, I was begging for Alam to breakup with Dara.

I was trying so hard to like this book js for this to turn out like some lame ahh wattpad ceo geng motor kaya 17 taon book. The only good thing abt this book is the illustration, Bimo n Alam’s sisters. Aku juga agak kaget karena ilustrasi hanya muncul di bab-bab awal. Sisanya gaada. Mungkin ilustrator gaada waktu karena harus menggambar denah SMA Putra Nusa. Dissapointed but it;s reasonable. I hate chapter 9 as well, nearly got into a reading slump.

“Aku ingin mempelajari segala yang compang-camping di negeri ini, aku ingin belajar tentang identitas kita. Karena itu aku perlu menyusuri sejarah Indonesia.”-Segara Alam, Namaku Alam

my twt:
https://x.com/Matchagorillaa/status/1...
Profile Image for yun with books.
723 reviews244 followers
February 8, 2024
Actual rating: 3.5 stars

"Ibu ingin menekankan prinsip penting: Keluarga kami tidak percaya kekerasan sebagai jalan keluar dari konflik. Apa pun konfliknya, siapa pun yang memulai, Ibu ingin aku paham bahwa kami sebagai korban kekerasan yang tidak boleh mendaur ulang kekerasan itu kepada orang lain."


Membaca keseluruhan Namaku Alam: Jilid 1 setelah bertemu tokoh Segara Alam sebentar di buku Pulang menjadi pengalaman menyenangkan. Buku dengan tema coming of age genre fiksi sejarah ini erat bikin kita pembaca sangat erat dengan tokoh utamanya.

Buku yang hampir seluruhnya menceritakan kehidupan "tidak normal" Segara Alam ketika masa remaja (SMP-SMA). Harusnya, kehidupan remaja tahun 1980-an berfokus hanya sekolah, bergaul dan menikmati cinta monyet. Untuk Segara Alam yang seorang anak tapol, hal idealis-idealis tersebut sulit didapatkan.
Makanya, sepanjang buku ini pembaca disuguhkan dengan sifat Alam yang berhati-hati, moody dan broody. Walaupun ada kekhasan sifat remaja yang manja dan berapi-api ketika bersentuhan dengan hati.

Beberapa hal yang mengganggu aku saat baca buku ini adalah beberapa pengulangan kata photographic memory yang tentu saja menjadi "hal ajaib" yang dimiliki Alam. Selain itu, penulisan bab yang sesuai dengan karakter-karakter terdekat Alam seperti sahabat SMA, kakak-kakak perempuan Alam yang ternyata tidak sepenuhnya membahas karakter tersebut. Misal, bab "Kemal Raditya", aku sih expect kalo bahas tokoh Kemal ini, tapi ya memang bab ini membahas pertemanan Alam dan Kemal yang (juga) sedikit menurutku.

Overall, buku ini merupakan buku coming of age yang lumayan dapat dinikmati oleh pembaca. Walaupun menurutku, buku ini tidak lain dan tidak bukan adalah semacam buku diary kehidupan remaja Segara Alam (seorang anak yatim dari bapak yang dieksekusi karena pernah menjadi tahanan politik tahun 1965). Di dalam dunianya, Pulang masih menjadi favorit nomor 1, mungkin karena perbedaan point of view dari karakter yang berbeda usia dan pengalaman.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
September 26, 2023
Aku menyukai bagaimana Leila Chudori menulis, dan tidak hanya di novel ini sebenarnya. Kalau membaca novel maupun cerpen Leila, kita akan dipertontonkan bagaimana craftsmanship seorang penulis yang sabar, yang tenang, yang narasi detailnya nggak mengecewakan. Apalagi ini adalah "makanan keseharian" Leila S Chudori. Perihal sejarah, perihal 80-an, dan tentu soal hal-hal yang belum selesai oleh sejarah Indonesia.

Namun ada beberapa hal yang "agak menganggu" pembacaan saya. Sekolah Putra Nusa ini sangat utopia. Kemudian muncul Orhan Pamuk di November 1981. Padahal menurut wikipedia: "His first novel, Karanlık ve Işık (Darkness and Light) was a co-winner of the 1979 Milliyet Press Novel Contest (Mehmet Eroğlu was the other winner). This novel was published with the title Cevdet Bey ve Oğulları (Mr. Cevdet and His Sons) in 1982, and won the Orhan Kemal Novel Prize in 1983. It tells the story of three generations of a wealthy Istanbul family living in Nişantaşı, the district of Istanbul where Pamuk grew up."

Mungkin aku yang salah, atau mungkin Segara Alam usia 33 tahun sedikit silap soal ini.

Tapi aku suka sekali utopia pendidikan yang digambarkan dalam novel ini. Sebuah cita-cita besar yang menarik untuk ditandai sebagai sebuah harapan.


Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
September 9, 2023
Jilid pertama ini bikin remuk hati. Sampai nanti di bagian selanjutnya, apakah burung-burung nasar itu bakal tetap berkelindan di benak Alam? :,)
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
March 25, 2024
Untuk sekelas Leila Chudori, menuliskan tentang Segara Alam sebagai sosok yang menanggung "beban dan akibat" dari kejadian G30S, rasanya kurang bumbu. Pelaku utama tindakan pengucilan seakan cuma Irwan, lain hanya sekadar ikut-ikutan. Di sisi lain, istilah Bersih Diri dan Bersih Lingkungan rasanya hanya sekadar tempelan belaka dan tidak digambarkan atau bahkan diceritakan detail, sebagai gambaran pemerintahan Orde Baru. Padahal dua hal itu termasuk rentetan buruk dari peristiwa akibat G30S juga. Peristiwa pelarangan judul buku tertentu juga hanya digambarkan di lapak buku kesayangan Alam dan kakaknya, juga peristiwa kelompok PPS yang mencari buku Pram. Lain tidak.

Di sisi lain, memang ciri khas dari Leila Chudori. Pilu nyeseknya dapet, tapi cinta-cintaannya juga dapet. Ini seri ke-2 dari Pulang, tapi aku masih belum bisa move on dari Pulang dan memutuskan untuk tetap menunggu Namaku Alam 2.

Seandainya buku ini dibaca para gen Z bersamaan atau sebelum pelaksanaan Pemilu 2024, mungkin sekelumit gambaran sejarah di buku ini setidaknya bisa cukup menampar mereka yang kemarin bisa-bisanya malah bilang merindukan masa Orde Baru.
Profile Image for Gagas.
50 reviews
October 8, 2023
Seru bangett, seperti karya-karya sebelumnya, mba Leila mahir sekali dalam menceritakan pertemanan, percintaan, dan kekeluargaan, diselimuti kejar-kejaran dengan masa lalu kelam, dibaluti trauma dan tragedi, juga diberi bumbu-bumbu drama kehidupan seperti layaknya masakan-masakan yang ditulis sebegitu rinci di novel ini yang membuat perut keroncongan.

Suka sekali sama diksi dan prosa yang digunakan, sudah menjadi ciri khas novel-novel mba Leila. Novel ini membuatku sadar bahwa benar memang pencatatan sejarah di Indonesia belum begitu baik, dan untuk diri kita bisa memahami asal diri sendiri, harus dimulai dari sejarah bangsa ini. Benar-benar terasa suasana genting betapa panasnya medan politik di masa itu.

Senang juga bisa menyelami betapa uniknya sekolah seperti SMA Putra Nusa. Di novel kali ini benar-benar terasa betapa tangguh dan garang nya karakter seorang Alam menghadapi hidupnya yang dipersulit sebagai anak eks tapol, apalagi kalau udah bagian cekcokan dengan Irwan dan kompolotan-nya yang bikin jengkel, khususnya pas berantem dan adu cerdas cermat, bener-bener asik. Gak sabar buat baca kelanjutannya!
Profile Image for Soraya.
128 reviews7 followers
October 21, 2023
Semoga mas Alam bisa nyanyi bersama nassar instead of dikelilingi oleh para nasar.
Profile Image for hans.
1,165 reviews152 followers
March 5, 2024
Sarat emosi, kenangan dan cinta. Membaca kehidupan Segara Alam walau kadang ada humornya, terasa hati disiat dengan amarah dan simpati tiap kali Alam bercerita tentang sosok ayahnya dan kepayahan ibu dan kakak-kakaknya saat ayahnya dibawa pergi dan dihukum mati tanpa penjelasan sewaktu tragedi 1965. Naskhah yang amat bagus dan kemas bahasa dan strukturnya— dari karakter ke setiap eksposisi dan perkembangan plot semacam candu yang bawa aku menerawang jauh ke lubuk hati Alam yang membesar dengan persepsi dan ejekan orang sekeliling sebagai anak tapol (tahanan politik).

“Di negara yang masih saja menyiksa anak-cucu tragedi 1965, mereka selalu lebih menyorot dan menanti-nanti agar kita berbuat kesalahan. Sedikit saja kamu lalai, kamu akan selesai.”

Gemar cara penulis gabungkan naratif kekeluargaannya dengan subplot persahabatan dan isu pendidikan Alam di SMA Nusa Putra. Latarnya banyak sekitar dunia remaja Alam, tentang Bimo; sahabat karib Alam yang senasib (malah lagi parah selepas ibunya bernikah lain) juga kebijaksanaan Alam yang terkenal sebagai pelajar pintar. Ada geng sabuk biru yang menghiburkan juga sahabat-sahabat Nusa Putra yang lebih peka dengan empati dan tak menyisih Alam kerana latar belakangnya.

Elemen literatur dan intelektual dalam naratifnya amat menarik— ada Orwell dan Pram, tentang dua kakak Alam; Bunga Kenanga dan Bening Bulan yang banyak berdebat hal sejarah/hukum juga eksplorasi pada karakter Ibu Umayani yang membahas tentang ‘mengapa kita jarang percaya pada sejarah?’. Ada konflik, trauma dan tragedi, hal moraliti tentang isu buli dan jenayah domestik juga saspens sewaktu acara lomba Cerdas Tangkas yang menutup naratif Jilid 1 ini dengan kisah cinta, pertelingkahan emosi dan permulaan alam dewasa Alam.

Naskhah realis dalam rangka sejarah yang sangat sedap dibaca. Banyak hal dan babak yang tertangguh dan harap Jilid 2 lekas terbit nanti!
Profile Image for fyaa.
37 reviews
March 1, 2024
Indonesia adalah sebuah bangsa yang memiliki sejarah panjang. Tak bisa dipungkiri bahwa ada masa dimana rakyat hidup seperti dalam kegelapan hingga banyak korban yang menghilang atau tewas karena dianggap pendukung paham kiri.

Kalian yang sudah membaca Pulang pasti sudah tidak asing lagi dengan Segara Alam. Buku ini menceritakan masa lalu Alam yang terlahir dengan embel-embel "anak eks-tapol", julukan yang entah sampai kapan akan terus menghantuinya.

Meskipun keseluruhan buku isinya tentang kehidupan sehari-hari Alam tapi aku enggak merasa bosan sama sekali saat membacanya karena Bu Leila mahir sekali meramu kata demi kata sehingga melahirkan cerita luar biasa tentang kekeluargaan, pertemanan, percintaan, yang dibalut tragedi dan trauma.

Dalam buku ini diceritakan masa kecil Alam yang pilu, bagaimana pertemuan pertamanya dengan sahabat karibnya Bimo, dan kehidupan semasa SD, SMP, hingga SMA. Alam yang sedari kecil sudah berhadapan dengan todongan pistol dan segala macam diskriminasi pun tumbuh menjadi remaja yang rebel dan penuh gejolak amarah.

Persahabatan antara Alam dan Bimo yang diibaratkan sebagai kelinci polos dan anjing pelacak dibuku ini menjawab salah satu pertanyaanku dibuku Pulang, alasan kenapa Bimo selalu cerewet mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Alam dan kenapa Alam selalu seolah menjadi pelindung Bimo yaitu karena Bimo pernah mengalami penindasan. Yup dalam buku ini memang menyinggung tentang penindasan dan pembullyan.

Kemampuan photographic memory yang dimiliki Alam pun seolah tak membantu keluarganya yang harus selalu low profile karena dicap sebagai pengkhianat negara. Untuk sebagian orang mungkin beranggapan memiliki kemampuan untuk bisa mengingat dan mengenang setiap momen dalam hidup adalah sebuah berkah. Bagi Alam bayang-bayang hitam masa lalu yang selalu melekat dalam ingatannya membuat dirinya beranggapan bahwa kemampuan uniknya lebih cocok disebut sebagai kutukan daripada blessing.

Bagian yang paling aku suka yaitu bagian sekolah Putra Nusa. Sekolah utopia yang rasanya akan sangat menyenangkan jika benar-benar ada di dunia nyata. Dibagian ini akhirnya Alam dan Bimo mendapatkan teman-teman yang baik, cerdas, dan visioner seperti Amelia, Arini, Tri, Kemal, dan Geng Sabuk Biru ^^

Seperti yang dibilang Alam, setelah membaca novel ini aku sadar bahwa memang pencatatan sejarah di Indonesia masih kurang. Terlalu minim dan meninggalkan banyak pertanyaan. Terlebih lagi dibagian kalimat "para sejarahwan menceritakan sejarah dengan cara yang membosankan" wahh ini bener-bener ngena banget. Aku rasa inilah yang membuat diriku yang dulu dan generasi sekarang tidak peduli dengan sejarah bangsa sendiri. Terlalu banyak yang ditutupi dan lubang kosong yang menimbulkan banyak pertanyaan. Itulah kenapa aku kagum dengan karakter Bu Uma yang mendukung dan memancing murid-muridnya untuk menggali sejarah lebih dalam.

Last, bukan Bu Leila namanya kalau menulis buku enggak bikin pembacanya laper. Tolong banget nih aku ngiler pas ngebayangin Alam sama Bimo makan bakmi ayam jamur pangsit sambil minum es kelapa muda 🤤
Profile Image for Nurul.
312 reviews38 followers
December 25, 2023
Bu Leila memang nggak pernah mengecewakan. Penceritaannya sangat detail dengan penjelasan tentang beberapa peristiwa sejarah. Karakterisasinya oke banget, ditambah saya memang penasaran sama Segara Alam waktu saya baca buku Pulang karna tokoh ini menarik dan cerdas banget! Makanya saya senang akhirnya Alam ada bukunya sendiri.

Jujur menurut saya nggak ada part yang bikin bosan karna buku ini seru, walaupun tentang kehidupan sehari-hari Alam aja. Saya pasti akan baca buku keduanya!

Rate: 4.5/5
Profile Image for Khalisha.
48 reviews1 follower
June 10, 2025
Ga pernah terbayangkan sebelumnya, di umur 21 tahun ini malah jatuh cinta sama tokoh fiksi dan jadi segegil itu karena Segara Alam!

Buku yang dibeli karena FOMO aja dan gak pernah kebayang bakal tentang apa.
Surprisingly malah masuk jadi buku fav di tahun ini!!

Bahasanya super ringan, tapi bisa nambah banyak bgt pengetahuan sejarah!
Bukunya pakai POV Segara Alam, jadi wajar dah kalo sampe ga jatuh cinta sama tokoh utama ini.

Sungkem sama Bu Leila karena sudah menciptakan buku sekeren ini!!

Sungkem juga sama yang sudah membuatkan playlist dari buku ini di Spotify!

Kaget ternyata ini spin off dari "Pulang", novel yang sudah beberapa tahun lalu selesai dibaca.
Jadi udah agak sedikit lupa gimana ceritanya, tapi kemarin sempat recall dengan baca di Goodreads.
Atau mungkin akan baca ulang juga?!
Profile Image for Fraaa.
255 reviews12 followers
January 4, 2024


Ini pertama kali baca buku yang ngangkat apa yang terjadi setelah Tragedi G30S PKI, tapi ini bukan pertama kali aku tau cerita tentang Litsus, Tapol, dan karena keluarga sendiri juga punya sejarah yang berhubungan dengan Litsus. Jadi, cukup connect ke ceritanya. Plus, karena ini cerita coming of age, jadi lumayan enjoy meski bahasannya cukup berat, tentang kisah hidup Alam, si anak dari Tapol yang dicap sebagai "Pengkhianat Negara".

Minus point-nya tiap bab lumayan panjang dan si "Insta Love" di sini sering banget muncul.

Nungguin buku volume kedua karena historis si Bapak ini belum jelas. Dan menunggu Photographic Memory-nya Alam untuk digunakan di plot-nya. Sayang, sering disebut tapi nggak dimanfaatkan ke plot cerita, padahal menarik. Mungkin di buku kedua bakal berguna.
Profile Image for Maitsa' Fatharani.
24 reviews3 followers
September 21, 2023
Selesai. Menikmati alur ceritanya. Tapi jujur tidak se-excited saat membaca Pulang ataupun Laut Bercerita. Mungkin karena disini penulis lebih membahas tentang bagaimana kehidupan keluarga eks tapol ya, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Namun tidak se-menegangkan itu dibandingkan 2 novel pendahulunya.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews237 followers
September 10, 2023
Fix bakalan beli jilid keduaa!

Full review nanti aku post di ig yaa seperti biasa
Profile Image for dinda ☁️.
149 reviews15 followers
February 11, 2024
“Jadi, Bu, catatan sejarah yang sudah disediakan di kurikulum itu, menurut Ibu, belum selesai?”

“Semua tonggak sejarah di negara mana pun selalu akan berkembang. Mungkim temuan baru bisa terungkap puluhan atau ratusan tahun kemudian, tetapi sejarah tak pernah statis.”
Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
October 10, 2023
Namaku Alam Jilid 1 berbeda dari buku Bu Leila sebelum-sebelumnya, seperti Laut Bercerita dan Pulang.

Kali ini, yang dibahas bukanlah tokoh yang merasakan langsung peristiwa-peristiwa mengerikan di sejarah Indonesia, tetapi tokoh yang merasakan akibat dari peristiwa tersebut terhadap keluarga.

Alam adalah seorang anak tapol 1965 yang pada saat ayahnya ditangkap ia masih bayi. Namun, ia memiliki satu kakak yang memiliki kenangan melekat di tahun-tahun tersebut, tepatnya di tahun 1968. Tahun-tahun ketika mereka terpaksa bermain di markas interogasi seputar orang-orang yang dianggap kiri, pengkhianat, dan lainnya.

Melalui buku ini, kita merasakan bagaimana derita sebagai seorang anggota keluarga yang salah satu keluarganya dianggap "pengkhianat" negara. Kemanapun orang tersebut pergi, seolah pundaknya ditempeli tulisan besar "ANAK PKI" atau "ANAK PENGANUT KIRI" dan semacamnya. Menurutku, inilah sisi lain dari pilunya peristiwa 1965.

Meskipun Alam tidak merasakan langsung bagaimana peristiwa tersebut—karena pada saat itu ia memang masih kecil, tetapi ia ikut merasakan derita yang sama ketika pemerintah Orde Baru menebang habis-habisan ideologi tersebut di Indonesia. Ia harus mendengar cacian dari saudara sendiri, dari teman-teman yang tak tahu apapun, bahwa ia anak pengkhianat. Belum lagi, status ibunya yang belum jelas—entah ayah mereka mati atau tidak, menjadikan ibunya dianggap janda. Dan kata "janda" selalu merujuk pada hal-hal negatif dan buruk.

Buku ini mengambil latar peristiwa 1980an, alurnya maju-mundur. Sebenarnya alur mundur yang diceritakan disini lebih kepada tulisan Alam setelah mendengar cerita dari kakaknya, Yu Kenanga. Alam yang dibekali kejeniusan, berhasil membuat tulisan yang begitu indah tentang peristiwa yang menimpa keluarga mereka dan berkaitan dengan 1965. Selain itu, dibandingkan full menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi, buku ini lebih banyak membahas tentang hubungan Alam dengan sekitarnya. Hubungan Alam dengan perempuan yang tertarik dengannya maupun yang menarik perhatiannya, hubungan Alam dengan sahabat-sahabatnya, dan juga sekolahnya—Putra Nusa. Namun, aku sangat senang ketika buku ini nggak terlalu terjun ke romansa, walaupun nuansanya dapet banget. Memang romansa anak remaja yang nggak begitu larut dan dalam seperti orang dewasa, buku ini bener-bener berhasil untuk menahan nuansa romansa itu agak tidak terlalu terjun.

Aku akan nunggu Jilid 2-nya segera, Segara Alam.
Profile Image for Cheche.
5 reviews2 followers
December 21, 2023
Leila Chudori has consistently been my favorite writer. But I think this one is my least favorite.
It's always intriguing to explore historical events through literature, but Leila’s attempt to depict characters, especially women, as feminists, modern and progressive in 1965 Indonesia feels off and forced. As someone who was born and bred in Indonesia my whole life, I find this portrayal is hard to believe. Even now, only small groups of people care about gender equality, only small group of women are progressive in this country, let alone back in 1965. If she wrote this book in 1965 with those characters, it could have been a masterpiece. But being written now, it feels like she’s trying to make the characters fit today’s “woke” ideas, which doesn’t work for me.
Profile Image for Maudi.
39 reviews4 followers
September 24, 2023
jujur sakit hati banget, Alam kuat ya?
Semua pasti ada alasannya. Apakah di jilid 2 para burung nasar akan selalu mengikuti alam?
Jujur seperti biasa penulisan Ibu Leila sangat bagus. Emosi yang dimainkan sangat bagus, jujur remuk banget sama part-part terakhir🥲 walau sempat dibuat flirting2 gemoy huhu.
memang ga segreget laut bercerita karena ini pov dari keluarga / kerabat ex tapol🥲👍🏻
Profile Image for Tin.
43 reviews2 followers
January 4, 2025
Tidak akan ku review seperti biasa, sudah banyak reviewnya. Saya hanya mau curhat dampak emosional bukunya terhadap diriku sendri 🤣

Bukunya tiba-tiba mengingatkan ku tentang kehidupanku di SMA, karate, kegiatan OSIS yang sibuk, sekolahku yang unik dibandingkan sekolah lain, kelompok debatku, tim majalah sekolah ku, diskusi buku ku dengan ketua komite ku, terimaksih pak Panca sudah memperkenalkan buku-buku kerennya dan perpus pribadinya di rumahnya.

Perih rasanya membaca ini, di bagian ibunya ditahan di Kebayoran baru bersama ketiga anaknya, Kenanga, Bulan dan Alam. Ibunya setiap hari mendapatkan hukuman bukan luka fisik tapi luka batin, kenanga menyaksikan itu tanpa tau apa yang terjadi. Walaupun ini fiksi tapi emosinya dapet perihnya sampai ke ulu hati 🥹

Jujurly, saya suka laut bercerita, tapi saya skip pulang (entahlah kek sedang tidak cocok aja, jadi saya berhenti di halaman 40 an) lalu namaku alam kembali kusuka.

Yang menarik perhatian ku di buku ini tentang isu pendidikan di Indonesia, sekolah Putra Nusa sekilas mengingatkan ku dengan sekolah ku, bukan karena ada tambahan sastra nya tapi kebijakannya yang berbeda dengan sekolah lain. Jujurly nilai sejarah ku di sekolah selalu di nilai KKM (kalau KKM nya 78 nilaiku 78). Padahal saya suka baca sejarah dari dulu, tapi nilai sejarah ku selalu rendah mungkin karena saya bosan belajar Hindu budha mulu 🫢🤣. Sejarah tidak diperkenalkan seperti di sekolah Putra Nusa kami belajarnya persis di buku teks. Tidak ada pemantik untuk mempertanyakan apa yang sedang dipelajari.

Yang kusuka adalah penyajian karakter tokohnya yang kuat, merepresentasikan perempuan-perempuan tangguh. Plotnya, risetnya, jokesnya, persahabatannya. Walaupun agak tidak suka dengan pertemuan Alam dengan teman kakanya Bulan (lupa namanya) kayak nggak nyambung aja 🤣. Masih terlalu dini mba.

Well terlalu panjang curhatnya.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
February 21, 2024
Namaku Alam (Bagian 1) karya Leila S. Chudori

🌹Buku ini adalah spin off dari Novel Pulang salah satu buku yang sangat penting saat transisiku di awal kuliah. Menurutku yang menarik dari cerita ini ialah gaya bercerita Leila S. Chudori yang fokus pada setiap karakter, jadi satu bab dapat satu karakter cukup membantu untuk merunutkan sejarah. Hal berikutnya ialah bagaimana pandangan ideologi kiri digambarkan dalam buku ini, tidak sesinis ketika Leila menceritakannya di Pulang. Walaupun masih ada celetukan bahwa ideologi hanya menciptakan peperangan dan darah tapi itu bukan narasi utama. Buku ini lebih semacam teenlit sejarah karena aktornya anak-anak abg yang sedang puber, jadi kalau butuh cerita remaja yang “politically correct” mungkin ini bisa jadi rujukan.

🥀 Kekurangan dalam novel ini, 400 halaman ini masih Bagian 1. Jadi novel ini usai saat konflik utama baru dimulai. Sungguh menyebalkan tapi aku akan baca juga kalau ada di Bagian 2 rilis.

🌻 Novel ini dirilis saat UWRF tahun 2023, seharusnya novel ini bisa jadi penghantar remaja Indonesia menempuh tahun politik tapi ternyata paska pemilu pembahasan novel ini masih minim. Mungkin benar di zaman post truth sejarah menjadi komoditi murah tapi tidak ada lagi yang mau mengkonsumsinya karena informasi sudah terlalu banyak berserakan.

#NamakuAlam #LeilaSChudori #WhatSekarReads #WhatSekarReads2024
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
May 17, 2024
Kesekian kalinya istilah “photographic memory” kutemukan di sini. Ini seperti ikon yang melekat di tubuh Alam. Kupikir, ini menjadi salah satu alasan yang membuat tokoh utama layak menjadi saksi masa kelam keluarganya. Istilah ini jugalah yang membuat Alam dipandang sebagai anak ajaib di sekolah barunya. Didukung dengan Ibu Uma dan ekstrakulikuler PPS (Para Pencatat Sejarah), memberi cukup ruang buat Alam menunjukkan ‘kebolehannya’.

“Namaku Alam” melanjutkan novel “Pulang” yang menurutku lebih “mantep” dari buku ini. G30S di sini rasanya tak banyak mengambil peran. Benar-benar menceritakan kisah hidup Alam sebagai seorang anak tapol. Mulai dari pendidikan, masalah pertemanan, hingga percintaan. Dan kuakui, bagian ini khas Leila banget. Hanya saja permasalahan Alam sebagai ‘korban’ yang menanggung akibat kekejian G30S, masih tergolong lemah.

Kaum Gen-Z barangkali masuk dalam sasaran pembacanya. Gaya dialog Alam dan kawan-kawannya membuktikan itu. Bagiku, ini bagus. Bagaimana pun, merekalah generasi penerus bangsa ini. Sehingga membuat sejarah dalam kemasan fiksi, jadi cara mengedukasi yang unik. Satu kalimat yang membekas, “apa pun konfliknya, siapa pun yang memulai, Ibu ingin aku paham bahwa kami sebagai korban kekerasan yang tidak boleh mendaur ulang kekerasan itu kepada orang lain.”

(..menunggu jilid 2).
Profile Image for Mawa.
172 reviews4 followers
September 27, 2023
Alam menceritakan dg lugas dan jelas tentang dirinya sendiri, keluarganya dan teman-temannya.
Alam dg keistimewaan photographic memory yaitu dapat mengingat dg jelas semua peristiwa termasuk tanggal dan nama suatu kejadian.
Sebagai keturunan dari Tapol, keluarganya cukup menderita yg selalu mendapat stigma mereka adl "warga negara tiri".
Dari Alam, kita bukan hanya melihat dia sbg sosok muda yg ganteng, bebas, pintar (tapi Alam nih emang sempurma banget jadi cowok!) tapi kita juga akan belajar banyak sekali tentang sejarah Indonesia terlebih di tahun 1965.
Alam ini termasuk generasi tua hehe, jadi bahasa gaul yg ngetrend di zaman itu akan terasa absurd bagi kita generasi Z yg sulit memahaminya.
Tapi aku sangat sukaaa sekali. Akan aku tunggu jilid 2 dg tidak sabar !
Profile Image for Readbyay.
33 reviews3 followers
June 10, 2024
Untuk storyline buku-buku bu leila mengalir indahhhh.
Hanya saja
Menurutku karakter Alam diciptakan terlalu sempurna, mamahami segala situasi dan bisa memecahkan semua masalah.
Semua buku yang alam suka dan pahami entah mengapa semua karakter disekitarnya juga mau tak mau harus paham.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Buaya Dayat.
80 reviews1 follower
October 18, 2023
DNF. Tidak seperti novel Laut Bercerita yg menggugah. Kali ini terlalu bertele2 dan melelahkan.
Profile Image for Molly Aevrille.
1 review
December 22, 2024
narasinya begitu lemah. belum lagi penokohannya yang statis, yang baik akan selalu baik sedangkan yang jahat tidak akan pernah punya hati nurani. terlalu jakarta:(
Profile Image for Caca.
200 reviews8 followers
February 26, 2024
Awalnya saya mau sisakan Namaku Alam, maksudnya tadinya mau baca setengah dulu, karena jilid 2 katanya ada akhir tahun nanti.

Alam ini bisa dibilang berbanding terbalik dengan Laut, kalo di Laut Bercerita kita melihat sosok Laut yang tenang. Disini Alam bisa dibilang pemarah ya haha. Tapi seperti yang Bu Leila bilang, bahwa Alam itu sebenarnya anak yang rapuh juga.

Saya selalu suka dengan gaya penulisan dari Ibu Leila, Namaku Alam ini tentang sejarah hidup keluarga yang di cap sebagai "Pengkhianat Negara."

Sedih rasanya, sedih melihat Indonesia yang kejam di zaman Rezim Orde Baru. Apalagi Alam mempunyai photographic memory, di awal membaca Namaku Alam ini remuk hati saya ketika membacanya. Apalagi bagian Budi Kemuliaan, rasanya saya ingin memeluk keluarga Alam.

Dulu Ibu saya bercerita, kalo anak-anak sampai cucu PKI akan susah bersekolah dan mencari pekerjaan. Ternyata benar, setelah membaca ini sangat sulit bagi Alam dan Bimo untuk menunjukkan diri di depan khalayak. Sebetulnya setiap 30 September film G30S PKI tayang, saya selalu mencari artikel tentang yang berkaitan tentang PKI ini. Bahkan Gerwani atau Gerakan Wanita terkena stigma jelek setelah propaganda Orde Baru.

Saya pernah juga membaca artikel, ada seseorang yang di tuduh sebagai PKI. Pokoknya ketika ga mengakui tuduhan tersebut, mereka akan di siksa sampai mengaku bahkan tidak luput dari pelecehan seksual. Benar kata Dara bahwa, negeri kita ini terlalu banyak utang kepada rakyatnya.

Ah selain kisah keluarga Alam, teman-teman alam juga sangat seru sekali haha. Saya merasa sangat senang ketika Alam dan Bimo mempunyai teman-teman yang sangat baik dan berpikiran kedepan.

Alam saya akan menunggu kisah hidup kamu di Jilid 2 nanti🥺🥺🫶🏻
Displaying 1 - 30 of 611 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.