Keluarga memang bisa jadi cobaan terbesar bagi manusia. Novel ini adalah gugatan bagi sistem patriarki dan kasta di Bali. Ada tiga sudut pandang yang disajikan. Sudut pandang Kawa, sang Suami; sudut pandang Samudra, sang Anak Perempuan; sudut pandang Aruna, sang Ibu sekaligus sang Istri.
Cerita Kawa berisi soal penyesalan karena sangat jarang membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah, tidak membantunya menghadapi ibu dan tiga kakaknya, serta menunda mengabulkan keinginan istrinya untuk merayakan Galungan di rumah keluarganya sendiri di Karangasem. Kini Aruna sudah meninggal, pergi membawa luka dan meninggalkan luka yang membuat Kawa berharap bisa menyusul istrinya.
*
Cerita Samudra berkisah tentang kesedihan, kemarahan, dan kegetirannya karena sang Ibu selalu menuntutnya untuk jadi anak yang sempurna. Di sepanjang cerita Kawa, Aruna ditempatkan sebagai korban tak kepedulian suaminya. Namun, cerita Samudra membuka sisi lain bahwa ternyata sang Ibu ini punya banyak sisi toksik juga.
Segala luka itu membuat dirinya depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, sang Ibu yang tak terima membawanya untuk disucikan kaum agamawan dan orang "pintar" yang mengatakan dirinya adalah melik. Mungkin semacam indigo. Dalam tradisi Bali, diceritakan bahwa para melik ini ditakdirkan untuk menjalani hidup di jalur agama. Dan Samudra menolak karena dia ingin jadi Dokter Jiwa.
Sang Ibu menyebarkan pada para sanak keluarga bahwa dirinya adalah melik untuk menutupi rasa malunya karena Samudra dirswat di RSJ. Hanya sudut pandang Samudra yang diakhiri dengan agak cerah karena diceritakan ia akan menikahi dokter jiwa muda yang merawatnya. Namun, alasan sang dokter jiwa bisa begitu empati terhadapnya ternyata sangat mengejutkan dan sungguh personal.
*
Sudut pandang Aruna atau sang Ibu adalah sudut pandang yang paling pendek porsinya. Mungkin karena Aruna sendiri sudah meninggal dan berbagai kisah tentangnya sudah banyak diceritakan oleh Samudra dan Kawa. Bagian Aruna lebih banyak menceritakan masa kecilnya yang tidak bahagia. Ayahnya adalah kaum kesatria yang menikahi perempuan sudra. Anak perempuan yang lahir dari pernikahan semacam itu seharusnya mengikuti kasta ibunya.
Padahal, pilihan untuk menikahi wanita beda kasta itu dia ambil sendiri secara sadar, tapi ayah Aruna menganggap pernikahannya dengan Ibu Aruna adalah kutukan karena mereka dilanda kemiskinan. Ayahnya suka mabuk, judi, dan memukuli ibu Aruna.
Yang bikin aku kaget adalah anggapan bahwa perempuan sudra seperti ibunya seharusnya melahirkan dicaesar saja agar sang anak tak keluar dari "lubang sudranya". Serius?! Tapi Aruna nyatanya lahir normal dan itu bikin ibunya merasa bersalah.
Sejak kecil Aruna sering membantu mencuci di rumah para tetangganya. Ayahnya malah marah-marah karena mereka mau jadi jongos di rumah orang yang kastanya lebih rendah. Tapi tetap saja si ayah minta uang upahnya untuk berjudi. Obatnya habis, Pak?
Segala pengalaman menyakitkan itu membuatnya ingin jadi wanita sukses dan mengusahakan agar anaknya tak mengalami nasib yang sama. Tapi meski secara reputasi dia cukup terpandang, sejatinya ia merasa terasing ketika memasuki keluarga suaminya. Anaknya sendiri pun menjauh (dan dia gak nyadar bahwa penyebabnya adalah ulahnya sendiri yang terlalu otoriter). Bab Aruna ditutup dengan dialog yang membuat bertanya-tanya karena memperlihatkan adegan dirinya mengunjungi Samudra di rumah sakit jiwa, tapi Samudra justru mengira ibunyalah yang dirawat di sana. Ha???
*
Pernah dengar lirik lagu The Changcuters yang mengatakan bahwa "Wanita, racun dunia?" Itu lirik ngeselin banget, loh. Seharusnya yang tepat adalah "Wanita, diracuni dunia". Entah kenapa di banyak kebudayaan berbagai tempat wanita diperlakukan sebagai makhluk kelas dua yang tujuan hidupnya hanya untuk tunduk, patuh pada keluarga dan lelaki. Sangat menjengkelkan.
Membaca novel ini cukup triggering juga. Untung nggak terlalu panjang. Cuma 150 halaman. Meski begitu sesungguhnya aku berharap novel ini bisa lebih memvisualisasikan berbagai adegan penting. Misalnya, perlakuan apa yang diterima Aruna dari ibu mertua dan tiga kakak iparnya sampai-sampai dia merasa terasing? Bagaimana Aruna bisa meninggal? Bagaimana dia bisa mengira mertuanya mempraktikkan mantra-mantra sihir klenik dan bukannya ritual agama yang benar?