Ada deras keringat ayah dan banjir tangis ibu dalam langkah kakimu hari ini.
Duna jahat dan kau kalah? Lihat telapak tanganmu. Ayah selalu menempa tangan itu agar tak menyerah. Ibu tak henti memapah tangan itu untu kberdoa. Bangkitlah untuk melangkah.
Ini kisah tentang ayah dan ibu, yang cintanya lahir bahkan sebelum kau lahir, yang cintanya tumbuh bahkan sebelum kau bertumbuh.
Ini kisah tentang ayah dan ibu, yang tangisnya mampu menyalakan api, yang tangisnya mampu memadamkan api.
Api paling panas menyala saat ayah dan ibu menangis kecewa. Api paling panas padam oleh tangis perjuangan ayah dan ibu. Maka, ingatlah selalu rumah.
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Udah lama nggak merasakan kenyamanan dalam membaca, yang mana lembar demi lembar halaman bisa dibalikkan dengan semangat karena dipicu oleh rasa penasaran yang teramat tinggi. Buku ini tidak tebal, juga tidak terlalu tipis. Hanya 200-an halaman, jadi cocok buat dibaca dalam sekali duduk. Meskipun tergolong ringan, kesan yang dihasilkan cukup mendalam, apalagi yang memiliki pengalaman serupa.
Cerita berpusat pada dua tokoh, yaitu Zenna dan Asrul, yang mana kedua tokoh ini merupakan pengalaman bercerita tentang 'diri' dari penulis.
Saat pertama kali baca kisah Zenna, aku merasa sedih sekaligus kesal terhadap kondisi yang menimpanya. Terutama di bagian ketika ia mesti memakai sepatu yang sudah rombeng, lungsuran dari kelima kakaknya. Belum lagi, ia bersebelas bersaudara. Aku tahu, orang zaman dahulu memang suka beranak-pinak, tapi... tetap saja itu membuat gejolak emosiku naik turun tak tertahankan. Bagaimana bisa orang-orang tidak merencanakan dari jauh hari sebelum mengambil keputusan untuk memiliki anak, seperti mendaftar apa yang mesti disiapkan dan berapa biaya yang dibutuhkan, tanpa mementingkan kepuasan bercinta sesaat? Pantaskah anak-anak yang dilahirkan ini tidak dinafkahi dengan layak? Benarkah orang-orang tidak kepikiran sampai sejauh itu, atau tidak mau tahu? Banyak kontemplasi yang berkecamuk di otakku, tapi sayang, jawaban tak akan pernah aku dapatkan.
Di sisi lain, Asrul, juga mengalami kehidupan yang pahit. Ketika Asrul tinggal kelas 1 SD (pelajaran bahasa Indonesia dapat nilai 3), ia dimarahin habis-habisan. Bapaknya bertanya, bagaimana adik-adiknya kelak akan bersandar jika belajar saja tidak becus. Lagi-lagi aku tersulut emosi ketika membaca bagian ini. Kenapa sih, anak sulung, yang masih belia pula, mesti dikasih beban seberat itu untuk memberi contoh kepada adik-adik yang tidak pernah diminta olehnya? Berat sekali ya menjadi seorang kakak. Padahal, hal-hal baik mestinya ditunjukkan oleh orangtuanya terlebih dahulu, bukannya melimpahkan beban kepada anak. Tidak cukup sampai di situ, Bapaknya, yang terkesan sangat mendidik dan menyayangi anaknya ini kemudian menikah lagi ketika istrinya tengah mengandung anak ketiganya. Akibatnya, Asrul, ibunya, dan adik-adiknya ditinggal, dan mereka mesti hidup bahu-membahu satu sama lain.
Sepatu buluk yang Zenna kenakan selamanya akan menyimpan kenangan. Ia dijanjikan sepatu baru oleh bapaknya. Ketika ia sudah berangan-angan, kemalangan datang menerpanya. Ia tidak akan pernah mendapatkan apa yang sudah dijanjikan.
Ditinggal bapak, tidak membuat Asrul membencinya. Di saat-saat tertentu, ketika ia bersikap baik, kadang-kadang bapak akan memberikannya uang, dari dompet usangnya. Akan ada kebahagiaan meskipun hanya selembar uang yang keluar darinya.
Bertahun-tahun, meskipun melarat, Zenna tetap mempunyai keinginan teguh untuk belajar. Ia adalah anak yang pintar dan memiliki prestasi yang cemerlang. Namun, perjalanan melanjutkan pendidikannya mesti terhambat karena terkendala biaya. Ia masih mempunyai lima adik yang mesti melanjutkan sekolahnya, jadi tidak mungkin ia bisa dibiayai oleh ibunya. Selain itu, ia juga diminta untuk menikah saja supaya 'tidak menjadi beban' keluarganya lagi. Miris sekali ya, aku merasa pilu untuk Zenna, tapi juga merasa tidak ada pilihan, karena adik-adiknya nggak bisa diabaikan juga. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Di sisi lain, Zenna tidak putus asa. Ia memutuskan untuk bekerja dulu sambil mengumpulkan duit sebelum melanjutkan sekolahnya.
Asrul dan adiknya mesti membantu ibunya untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Suatu hari, ketika menemani ibunya bertransaksi dengan pedagang, Asrul tiba-tiba fokus pada koran HARIAN SEMANGAT. Tanpa pikir panjang, ia mencurinya. Sayangnya, ia ketahuan dan hampir dihajar oleh orang-orang. Untungnya, ibunya kemudian datang dan membayar koran itu. Sejak saat itu, Asrul jadi rajin membaca dan rutin berlangganan koran, sebagai suatu balas dendam yang indah atas ketidakmampuannya dahulu, yang membuatnya tidak naik kelas. Singkat cerita, ia pun kemudian diterima di Sekolah Pendidikan Guru, kemudian bekerja untuk bisa melanjutkan pendidikannya.
Tekad Asrul & Zenna ini lah yang membuat mereka bertemu. Mereka ditakdirkan untuk menjalankan asam garam kehidupan masing-masing sebelum bersua satu sama lain. Lewat kerja keras, akhirnya mereka dipersatukan, untuk melewati hidup yang lebih baik.
Tidak bisa dipungkiri, perasaan saya di-pingpong ke sana kemari mengikuti kisah mereka. Ada sedih, kesal, senang, bahagia, dan lucu secara bergantian. Semuanya komplet, tidak hanya menampakkan yang aurora kekelaman saja. Membaca kisah mereka mengajariku untuk menghargai segala proses, sekecil apa pun itu. Tidak ada yang sia-sia, selama bertekad kuat dan berusaha. Kebaikan pasti akan menunggu di depan. Sangat direkomendasikan!
Novel yang nyeritain perjalanan sepasang anak muda yang nyoba keluar dari garis kemiskinan. Ngegambarin juga perjuangan orang tua buat ngehidupin anak-anak mereka
❤️Cerita yang cukup heart-warming ❤️Banyak pesan yang bisa dipetik + quotes bagus ❤️Bahasanya mudah dipahami dan engaging, bikin pengen nerusin baca ❤️Suka banget pakai banyak istilah bahasa daerah
🙏🏻Gak sesendu yang diekspektasikan. Ceritanya gampang ketebak 🙏🏻Dari awal, terlalu banyak masalah yang penyelesaiannya terlalu disederhanakan. Jadinya makin ke belakang makin ketebak "yah paling nanti juga solved masalahnya", jadi gak penasaran 🙏🏻masih nyambung sama poin sebelumnya, alur di buku ini pindahnya terlalu cepet. Pembaca gak diajak mendalami masalah yg ada di cerita. Rasanya jadi kayak baca rangkuman
Menurut saya, sejujurnya saya ingin membaca pembahasan akar lainnya dari kemiskinan struktural dalam buku ini yang tidak lagi-lagi berangkat dari punya anak banyak, dan menikah berkali-kali. Saya cukup mengharapkan adanya keragaman lain yang mendalam, misalnya sumberdaya alam yang minim, latar pendidikan rendah, dan lain sebagainya.
Penggambaran karakter Zenna dan Asrul sangatlah murni tanpa cacat. Seperti malaikat. Mungkin cukup baik sebagai inspirasi pembaca walaupun terkesan out of touch with reality. Saya menginginkan emosi-emosi lain dari mereka yang biasa kita (sebagai manusia) rasakan ketika ada di situasi tertekan, karena manusia tidak memiliki kesanggupan untuk selalu tersenyum dan berenergi positif setiap saat di masa sulit.
Saya kecewa akan Asrul dan Irsal yang tidak pernah sekalipun memberikan konfrontasi yang berarti demi mereka sendiri dan Umi, kepada Bapaknya yang meninggalkan mereka untuk istri baru. Padahal, diskusi ini bisa jadi adalah hal yang penting untuk dibahas sebagai kunci dalam membantu memutus kemiskinan ketika salah satu akar permasalahannya adalah ketidakhadiran tanggung jawab orang tua kepada anak.
Malahan, bapaknya direstui untuk meminang ibunya lagi setelah mereka semua ditinggalkan dan hidup sangat susah tanpa bantuan dan kehadiran Bapaknya yang sibuk cari nafkah untuk istri-istri baru dan anak-anak barunya. Seolah-olah, Bapak hanya datang karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan ada di masa sulit. Sangat licik.
Permasalahan tersebut seakan-akan memberikan kesan; masalah & derita yang dibikin orang tua tidak boleh disampaikan karena "orang tua selalu benar", "orang tua selalu kerja keras untuk anak", & "orang tua selalu baik". Mungkin ujaran-ujaran itu tepat untuk Asrul dan Zenna yang banting tulang untuk anak-anak dan keluarganya, tapi hendaknya buku ini tidak membeberkan contoh bahwa ketidakadilan bukan masalah yang perlu diselesaikan selama ORANG TUA yang melakukannya kepada ANAK. Sekian.
Kembali lagi, ini hanya perasaan, ungkapan dan pemikiran saya pribadi setelah baca buku ini ya :)
‘Ya Allah, aku tak tahu harus membantu apa lagi. Kuat dan hebatkanlah anak itu, bisik Bu I’i. Kuat dan hebatkanlah, Ya Allah’. Hutan bambu mengiringi doa Bu I’i dengan berisik. (Bu I’i). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Baru dibagian doa diatas rasanya sudah nyesek 😣. Ini novel kedua Kak J.S. Khairen yang aku baca. Masih suka cara berceritanya, nyesek, lucu, manis juga hangat. Ada beberapa bagian yang sedikit membingungkan tapi nggak mengurangi nilai cerita. Suka bagian kemanusiaannya. Suka kutipannya. Suka sama kebaikan Zenna 😍. Suka semangat Asrul dan Irsal. Suka sama kebaikan Abak dan Umak. Aku nggak mau banyak cingcong biar kalian rasakan sendiri baca ini gimana. . Novel ini bercerita tentang Asrul dan Irsal. Yang satu ingin membangun rumah untuk Umi dan yang satu lagi ingin memberangkatkan haji untuk Umi. Tentang Zenna si anak tengah, yang tak pernah dapat perhatian, tak terlihat, tak dianggap, justru jadi bintang paling terang di rumah kayu itu. Tentang kebaikan Zenna yang nggak pernah sia-sia. Tentang kesabaran dan tekad yang keras. Senang juga menutup bacaan tahun ini dengan novel ini. Jangan lupa baca Dompet Ayah Sepatu Ibu ya paling nggak sekalilah 😊. . Butuh beberapa tahun bagi akar bambu untuk menguat ke bawah, tanpa ada mata yang melihatnya. Setelah kuat, butuh beberapa minggu atau bulan untuk ia menjulang tinggi ke langit. Tidak sekali dua kali kita mendengar nasihat ini. Kehidupan yang menghunjam di hari ini adalah bekal masa depan. (Hal 151). . Menanya kabar kekasih, kau bisa setiap jam. Menanya kabar orangtua, sekali sehari saja masa tak bisa? (Hal 145). . Hubungan berjalan saat keduanya juga saling berjuang. Titik. Tak ada tapi-tapi, tak ada syarat lain. (Hal 132). . “Penjahat bagi sebagian orang, belum tentu bagi sebagian yang lain. Sejarah dicatat oleh yang menang.” (Hal 94).
"benar jika kau tak pernah memilih lahir dari orangtua yang seperti apa begitu juga orang tuamu, mereka tak pernah memilih melahirkan anak yang seperti apa maka keduanya dapat tanggung jawab dan anugerah yang sama."
Yaampun bingung mau mulai dari mana. Ini novel bagus bund. Wajib banget dibaca setidaknya sekali seumur hidup. Kamu akan merasa hangat sekali di dada.
Novel ini berlatar di nagari Minangkabau. Membawa kamu pada kisah perjuangan hidup Asrul dan Zenna. Dua orang yang hidup nun jauh di kampung tapi punya semangat untuk menaikkan derajat keluarganya. Asrul yang bercita-cita untuk membuatkan rumah untuk Umi, begitu pula Zenna yang bercita-cita memperbaiki ekonomi keluarga dan menyekolahkan adiknya. Ternyata takdir mempersatukan mereka berdua.
Aku nyesel baca buku ini di tempat umum karena malu ngakak dan nangis sendirian wkwk. Ngakak karena lihat tingkah tengilnya Asrul dan nangis dengan perjuangan Asrul Zenna serta Umi dan Umak. Agak mesem-mesem juga pas bagian romancenya😁
Cerita Asrul dan Zenna ini mengingatkan aku pula dengan kisah perjuangan orangtuaku. Dari anak kampung, berjuang, bekerja demi keluarga. Apalagi sosok Zenna mirip sekali dengan almarhumah ibuku. Makin menjadilah aku menangis.
Banyak pelajaran tentang perjuangan hidup. Kalo dipikir, orang-orang zaman dulu tuh ulet dan gigih banget. Jadi minder sama diri sendiri yang sedikit-sedikit ngeluh. Selain itu, kamu benar-benar bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Mudah-mudahan bisa membangun keluarga hangat seperti itu suatu hari nanti. Aamiin.
Mungkin kamu bisa baca buku ini sekali duduk karena jumlah halamannya hanya 200 halaman. Dahlah pokoknya rekomen. Wajib banget dibaca!!!
Btw bang @js_khairen terima kasih banyak sudah membuat cerita ini🤧🙏
catatan: karena cetakan pertama, jadi lumayan ada typo disana sini. mudah-mudahan bisa segera diperbaiki.
Tapi beside of it, melalui novel ini bang Khairen berhasil mengangkat isu kemiskinan struktural dan pendidikan. Lagi-lagi isu ini tidak ada habisnya jadi pembahasan di Indonesia.
Protagonis yang manusiawi dan digambarkan dengan sederhana. Bahkan dialog pun, sangat khas obrolan sehari-hari. Ya walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya tidak begitu ada urgensi untuk dihadirkan.
......
Sempat berekspektasi bahwa ini tentang perjuangan orang tua yang mengupayakan pendidikan untuk anak-anaknya, namun ternyata ini tentang dua anak yang berjuang keluar dari lingkaran setan, kemiskinan struktural, hingga kisah keturunan-keturunan mereka selanjutnya.
......
Berjuang untuk sekolah agar bisa meningkatkan taraf kehidupan keluarganya, belum lagi bertabrakan dengan tradisi dan pola pikir society, duhhh pelik sekali tampaknya hidup Zenna dan Asrul ini 😩.
Di awal halaman, plot dibagi dua seolah mereka hidup di dimensi yang berbeda.
Jujur, nangis parah pas pertama kali baca kisah Zenna yang kehilangan ayahnya. Hidup dengan serba kekurangan, alhasil harus mengubur mimpi untuk lanjut kuliah.
Begitu pula dengan Asrul yang hidup dalam serba kekurangan, apalagi setelah bapaknya menikah lagi dan bercerai dari ibunya.
.......
Walaupun ini fiksi, tapi kejadian serupa sering ditemui. Ini bukan cuma cerita sedih, tapi indikasi sebuah permasalahan struktural yang akhirnya menghambat berbagai hal, bahkan pendidikan.
Memang tidak begitu secara eksplisit dijelaskan tentang permasalahan ini. Namun perjuangan kedua tokoh cukup menjadi tamparan bahwa ada yang salah dengan jalannya society selama ini.
Tuntutan untuk menanggung kehidupan bahkan pendidikan saudara lain, tampaknya tidak seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Apalagi mereka bahkan tidak sedang hidup bergelimpangan harta. Duh, memang jadinya serba salah posisi mereka berdua ini.
Sebenarnya novel ini sangat ringan untuk dibaca, tapi terlalu berat untuk dipikirkan.
Tak tahu nak gambarkan perasaan membaca novel ini. Cerita dua buah keluarga, satu di Gunung Marapi, satu lagi di Gunung Singgalang.
Zeena dan Asrul, punya cerita yang sama, kepayahan serupa dan tekad yang kuat.
Kisah ini menyedarkan banyak perkara. Untuk keluar dari kehidupan yang susah, adalah tidak mudah. Zeena berkali-kali memilih untuk berkorban waktu dan tenaga demi mencari nafkah buat adik-adiknya sebelum dia boleh lega dan menyambung kuliah.
Asrul terinspirasi dari kisah Uwais Al Qarni ingin menjadi anak-anak yang berbakti. Dia kembara jauh untuk mencari ilmu dan wang buat biaya hidup umi dan adiknya di kampung.
Zeena dan Asrul bekerja keras, berusaha dalam setiap ruang dan peluang untuk memberi kehidupan yang lebih baik kepada keluarga mereka.
Emosi cerita ini seperti roller coaster dengan jalanan yang penuh liku.
Kisah yang sangat mengesankan. Cuplikan-cuplikan yang menyentuh hati.
Kisah perjuangan Asrul dan Zenna yang mewakili ayah dan ibu di luar sana yang mengorbankan diri untuk menghidupi orang-orang di sekeliling mereka.
Ada saat mungkin kita bertingkah dengan ibu ayah, tapi sesekali ambillah masa lihat wajah mereka, di sebalik keriput yang muncul di wajah mereka, sudah berapa banyak air mata dan keringat yang telah tumpah untuk memperjuangkan kehidupan yang baik buat kita, anak-anak.
Selera orang beda-beda yah... Ini salah satu novel yang cukup laris. Namun, ternyata bukan seleraku sama sekali.
Banyak yang terlalu overrated terhadap gaya kepenulisan beliau. Tapi, menurutku sama kayak novelis biasanya. Malah, aku merasa tidak sespesial itu.
Terus untuk plot dan character building. Menurutku ada celah dimana-mana, mulai pengambilan nama yang terlalu modern untuk jaman dulu sampai kecepatan penulis menyelesaikan konflik. Seperti terlalu receh. Isu kemiskinan pun masih minim riset menurutku. Kurang realistis. Meskipun, ini fiksi.
coba abang baca "sisi tergelap surga" yang mana penulis benar-benar melakukan riset dalam tulisannya mengenai kemiskinan.
Plusnya, mungkin beliau setidaknya bisa menulis. Jadi, tidak cukup buruk.
Kisah orang susah naik setingkat² untuk melepasi batas kemiskinan. Dompet ayah kerana si hero yang membeli dompet untuk menyimpan duit simbolik pada kemampuannya memperoleh gaji. Sepatu ibu pula simbolik si heroin yang susah dan membeli sepatu untuk dirinya. Cerita yang membina semangat. Memberikan harapan manis kerana untuk keluar daripada lompong kemiskinan itu tidak mudah
Sebenernya udah gak asing sama penulis yang satu ini. Tapi aku memang belum pernah menyentuh satu pun karyanya.
Dan ini pertama kalinya aku baca buku J.S. Khairen. Iya, pertama kali dan langsung mencicipi karya terbarunya. Kok bisa tiba tiba mau baca? Ini berawal dari salah satu menfess yang lewat di tl aku, yang kalau gak salah... isi menfessnya itu menyertakan penggalan salah satu episode yang ada di buku ini. Penggalan itu benar-benar nempel banget di kepala aku waktu itu, sampai akhirnya aku cari tahu blurb buku ini.
Setelah baca blurb yang ada di belakang bukunya, aku ngerasa kaya; terenyuh, tersadar, tertampar, dan ter- ter- lainnya. Sampai akhirnya aku teramat penasaran sama kisah dari buku ini, yang katanya bisa menghabiskan banyak tisu. Percaya kok, karena kisah ayah dan ibu selalu berhasil membuat menangis. Akhirnya aku order bukunya.
Setelah bukunya sampai, jujur aku langsung buka dan baca buku ini karena beneran penasaran. Menurut aku, buku ini bisa dibaca sampai habis dalam sekali duduk. Karena kalian gak bakal sadar tiba-tiba udah di episode berapa. Gak butuh waktu lama untuk kalian larut dalam kisahnya. Tapi aku gak langsung abisin dalam sekali baca waktu itu, karena gak mau cepet abis... alhasil aku baca pelan-pelan kisahnya.
Bang J.S. Khairen nyuruh kasih tau habis berapa tisu kan?? Gak usah ditanya lagi dah bang, aku pake bantal beserta sarungnya buat menampung air mata. Soalnya, bacanya di kamar sambil megang bantal, alhasil buat ngelap air mata sekalian. Asli, episode 1 aja udah dibikin nangis cuii... 😭🫵
Tapi gak nangis melulu kok, tenang... tenang.... "walau cuma bentaran(?)". Soalnya masih ada tingkah Asrul yang sangat menghibur sebagai konsultan surat cinta hahahahaha, beneran jadi part terngakak! Ini kalo kalian baca buku ini di luar (tempat umum) kayanya bisa di kira gila wkwkwk, soalnya emosi kita dibuat campur aduk. Tidak bisa dipungkiri juga kalau Zenna adalah perempuan yang sangat hebat. Oh iya, ada episode bonus yang perlu kalian scan untuk tahu kisahnya juga. Jadi jangan sampai kelewatan!
Setelah baca buku ini, bikin aku mikir "Pasti banyak kisah bapak dan ibu yang sampai saat ini tidak aku ketahui dan mereka pilih untuk tidak perlu aku ketahui, karena mereka tidak ingin memperlihatkan sisi dirinya yang lain. Melihat kembali diri aku yang sekarang, yang bisa menikmati kehidupan layak ini... tentu dibaliknya ada mereka yang sudah melewati banyak hal, memperjuangkan dan mengorbankan banyak hal, berusaha dan bekerja keras untuk memberikan serta mewujudkannya (kehidupan) agar luka dan kisah lama mereka tidak diteruskan".
Buku ini emang punya cerita yang sedih, tapi buku ini juga punya banyak sekali pelajaran dan pesan moral. Bahasanya mudah dipahami dan kisahnya disajikan dengan POV ayah dan ibu secara bergantian. Meskipun aku baru pertama kali baca karya J.S. Khairen, tapi buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian baca setidaknya sekali dalam seumur hidup 🤍
Pesan dari penulis suruh siapin tisu, tapi kesanku di awal, "apaan sih gak ada yang bikin nangis ini mah". Eh, eh, jangan salah semakin dibaca, semakin menjelajahi dunia Zenna dan Asrul, ya kok mewek terus. Sayangnya tisu lagi abis, ywdh lap aja pake baju deh 😆✌️
Selalu deh kalo baca kisah perjuangan hidup dari yang susah sampai akhirnya lega bisa melewati semua kesulitan dan bisa menikmati hasil dari perjuangan itu, selalu menguras air mata 😭
Part yang paling bikin mewek itu justru di tengah² sampe akhir cerita. Kalo awal² menurutku lebih dominan kocaknya si Asrul yang jadi penulis surat cinta. Itu bener² deh si Asrul ngarang banget pas dia bilang kata² puitis itu dari Gengis Khan, Isaac Newton 🤣
Setiap episode selalu ada kutipan yang istimewa dan mengharukan sebagai pembukanya. Aku juga suka deh nama tokoh Zenna dan Zella. Keren aja gitu, kyknya bisa jadi inspirasi buat kasih nama anak 🥰
Tingkah Asrul & Isral yang tengilnya masyaAllah, tapi walaupun tengil mereka sayang banget sama Umi & Bapak. Sampe² mereka terinspirasi oleh kisah Uwais Al Qarni dan ingin mewujudkan impian Umi pergi haji meskipun gak sampe digendong juga sih Umi ke tanah suci, melainkan dengan usaha, tenaga, air mata dan doa
Kisah kehidupan Zenna & Asrul yang sama² orang miskin. Zenna yang bersebelas saudara, harus naik turun gunung untuk pergi sekolah. Asrul yang harus pisah dari Umi sejak SMP karena sekolahnya yang begitu jauh tidak memungkinkan untuk pulang pergi ke rumah
Dua orang yang sama² miskin ini dipertemukan oleh Harian Semangat yang menjadi salah satu jalan sukse mereka 💪
Oiya, ada beberapa typo yang temukan. Di sebuah kalimat yang harusnya dikatakan oleh Tata, tapi tertulis Zenna. Overall, buat kalian yang suka dengan cerita perjuangan hidup, makna hidup yang sesungguhnya, bacalah novel ini. Novelnya tidak terlalu tebal, jadi bisa dibaca cepat 👍
Kenapa paling heartwarming? Karena seterharu itu!!! Aku jamin kamu kalo baca episode 1, pasti nangis! Kalo nggak? ya gapapa, coba aja baca episode selanjutnya wkwk😌
📖Dompet Ayah Sepatu Ibu - J.S Khairen
👞Buku ini terdiri dari 25 Episode yang menceritakan Zenna dan Asrul mulai dari hidupnya di kampung, susahnya sekolah, sulitnya bekerja, konflik dengan keluarga, hingga sukses bersama membangun rumah tangga.
✍️Karena buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata orang tua penulis, aku makin terharu dan sedih memikirkan sesusah itu yaa hidup mereka. Tapi mereka bisa lho bangkit, bisa mengumpulkan uang meski bekerja banting tulang.
Di akhir halaman ada Bonus Episode yang dapat diakses melalui link khusus. Aku baca itu, berasa melihat masa kecil penulis yang ternyata nggak semulus itu. ada fakta-fakta penulis yang bikin "wah kaget aku".
🤔Aku suka sama novel ini yang punya ciri khas pada tokohnya. Seperti Zenna dengan Sepatunya dan Asrul dengan Dompetnya. Aku jadi inget terus sama latar belakang mereka di episode sebelumnya. Hal ini juga bikin aku sadar dengan barang yang mungkin bagi kita tak berarti apa-apa (hanya sepasang sepatu atau hanya sebuah dompet) ternyata penuh makna bagi orang lain. Artinya kita harus mensyukuri apa yang kita punya, sekecil apapun itu.
Itu hanya salah satu pesan moral yang bisa diambil, masih ada banyak yang belum bisa aku sebutkan di postingan ini. Penasaran ga?? Baca bukunya!! 🤣🙏
Buku ini bikin terharu, sedih, senang, kecewa sekaligus. Terharu dengan hasil dari perihnya perjuangan Zenna dan Asrul yang menggetarkan hati. Sedih dengan kenyataan hidup Zenna dan Asrul yang tidak berjalan mulus, bencana yang datang silih berganti namun tetap berjuang sekuat hati. Senang dengan pencapaian yang Zenna dan Asrul dapat setelah susah payah berjuang setengah mati. Kecewa dengan penulis yang bukunya tipis banget. Kuraaaanggg nihh 🤣✌️
🤍Aku merekomendasikan buku ini untuk kalian yang mencari bacaan heartwarming dari awal sampai akhir, dan yang kangen sama orangtua. ❗Kalo mau baca, siap-siap nangis trus tiba-tiba ketawa🤫
Ibumu punya retak Ayahmu punya retak Memaafkan mereka adalah obat segala obat
Baca buku ini membuka pandangan ku dan bikin aku lebih aware tentang seberapa privilagenya kehidupan ku sekarang. Karakter-karakternya mengajarku banyak hal, tentang semangat, harapan, nggak menyerah dan berusaha untuk terus membanggakan orang tua.
We follow Zenna dan Asrul, dua orang yang tinggal di kaki gunung, terpencil, miskin, tidak punya banyak pilihan dalam hidup. Tapi mereka punya semangat untuk mengubah garis hidup keluarga yang selalu hidup dalam kekurangan, caranya dengan belajar, cari pendidikan setinggi mungkin, walau harus berjualan jagung, jadi buruh kasar, apapun yang halal dilakukan untuk bisa sekolah dan membantu orang tua serta adik-adik mereka untuk terus bersekolah.
Perjuangan mereka bikin aku amaze, bangga. Disamping itu di highlight juga kerja keras orang tua dan doa ibu yang tak pernah berhenti berkumandang. Di tempa berbagai masalah yang seakan nggak ada jalan keluarnya, Zenna dan Asrul selalu dapat jalan. Asalkan mereka nggak menyerah.
Satu hal yang aku suka adalah bagaimana mereka tetap membantu orang lain bahkan dalam kekurangan. Kebaikan yang nggak ada habisnya, ketulusan yang murni.
Tulisannya sukses menjabarkan vibes di awal tahun 2000an, ada bagian yang bikin senyum-senyum, ketawa, berkaca-kaca dan epilognya bikin nangis bangga.
At the end of the day, usaha dan doa nggak akan mengkhianati hasil. Ditambah berbakti ke orang tua, semua masalah akan berlalu dan kita akan jadi pribadi yang lebih kuat along the way.
🧕🏻 Zenna si anak tengah yg paling tak dipedulikan, paling apa² harus sendiri, namun ia begitu peduli kepada adik²nya terlebih sejak Abaknya meninggal.
👨🏻💼Asrul tinggal bersama Umi yg tengah hamil dan adiknya Irsal. Bapaknya telah menikah lagi dan tinggal dgn isteri ke duanya. Asrul pernah tidak naik kelas, karena itu ia pun kena rotan berkali-kali oleh Bapaknya. Suatu kali ia mencuri Koran 'Harian Semangat', lewat koran itu akhirnya keterampilan membacanya berkembang pesat, bahkan ia jadi pandai menulis.
Inilah kisah tentang perjalanan hidup Zenna dan Asrul yg memiliki satu kesamaan, dipertemukan oleh takdir dan melahirkan seorang anak yg saat ini telah menjadi penulis novel ini.
Kisahnya sedih, tapi menghibur, penuh pelajaran dan pesan moral. Tulisannya sangat mudah diikuti, meski disajikan dgn bergantian sudut pandang perepisodenya. Beneran deh ini tipe novel yg bisa ditamatkan hanya dgn sekali duduk. 🌻
Kisah semangat perjuangan Zenna dan Asrul menginspirasi, terlebih bagian sepatu Ibunya. Paling suka sama bagian Asrul yg tetap menerima Bapaknya, lebih² kepada Uminya Asrul padahal dah dibuat 💔. Iya, setiap orang lahir dan tumbuh membawa luka masing-masing, tak ada yg ingin seperti itu, namun kita punya pilihan berdamai dan memaafkan, lantas memastikan lukanya tidak diteruskan. 🌻❤
#dompetayahsepatuibu #jskhairen #jejak_sibuku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kalau gak ada ujian, terus belajar sabarnya dari mana? Belajar tangguhnya dari mana? Belajar mecahin masalahnya kapan? Suka atau gak, manusia butuh ujian untuk mengembangkan segala potensi dirinya. Perlu api yang membara dan tempaan yang bertubi-tubi untuk menghasilkan pedang kuat nan tajam.
Asrul dan Zenna menjadi gambaran ketangguhan manusia yang ditempa sejak usia kecil di desa-desa kecil di lereng Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Mereka lahir dari keluarga yang harus berjuang untuk sekadar makan sehari-hari. Dengan segala keterbatasan, pendidikan tetap menjadi kesempatan bagi mereka mengejar mimpi. Sekolah tetap berjalan dengan perjuangan masing-masing membantu keluarga mencari rezeki.
Kisah mereka berjalan dari perjumpaan, proses kedekatan, menikah dan menjadi keluarga. Sarat ujian dengan rasa optimis pesimis yang berkelindan. Sandwich Generation, mungkin 'gelar' ini juga tersemat kepada mereka karena sejak mereka berjibaku dengan kuliah, kerja, dan keluarga, ada adik-adik dan orangtua yang membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup dan sekolah.
Novel semi-autobiografi dari orangtua penulis ini, memang kental dengan unsur kekeluargaan. Hampir seluruh pengambilan keputusan Asrul dan Zenna tidak berdasarkan kepentingan keluarga sendiri tetapi mempertimbangkan kepentingan keluarga masing-masing. Sepanjang membaca rasanya nano-nano, ada kelucuan, keprihatinan, kepolosan, pantang menyerah, kepedulian, keengganan, kebimbangan, dan segala rupa yang menggambarkan realitas kehidupan sebenarnya. Gak selalu bahagia tertawa, tetapi juga pedih menangis.
Menurutku alurnya terlalu cepet, tokoh-tokoh yang digambarin di buku ini nyaris sempurna banget karakternya. Ada sisi manusianya ngerasa takut, ga mampu, dan mau stop bantuin orang lain aja, tp cuma sebentar, ga dibikin bergelut lebih lama dengan perasaannya. Tapi menurutku wajar sih, karena latar waktunya itu zaman dulu. Mnrutku orang tua zaman dulu emang seperti itu, menerima, sabar, dan yaudah ga dendaman juga. Kalau banyak orang mengambil kutipan2 yang ada di atas sebelum bab baru, aku paling suka sama ini "Rupanya tangga kemiskinan itu harus dilangkahi satu-satu. Tak bisa terbang begitu saja ke tempat tinggi. Harus dari generasi ke generasi" terima kasih atas tulisannya bang Khairen
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini adalah kisah tentang perjuangan memutus rantai kemiskinan. Perjalanan yang sangat berliku, tak mudah sama sekali. Bahkan 5 episode pertamanya berhasil menguras air mata. Episode-episode selanjutnya menghadirkan beragam rasa...
Tentang Zenna, si anak tengah dari 11 bersaudara. Dia yang paling diabaikan, tetapi juga yang paling berjasa. Sedari kecil semangatnya untuk mendapatkan pendidikan begitu membara. Meskipun dia harus berjalan menembus hutan dan gunung untuk sampai di sekolah. Meskipun dia harus sambil berjualan jagung rebus. Meski dia tak pernah dibelikan sepatu baru. Meski hanya sepatu bekas yang menemani langkahnya.
Pun begitu pula yang dirasakan Asrul. Lahir sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga miskin membuatnya harus sekuat baja. Mimpinya membangunkan rumah untuk Umi adalah penyemangatnya selama ini. Sekuat tenaga, bagaimana pun caranya, Asrul berusaha menghasilkan uang. Uang yang cukup banyak untuk biaya pendidikannya. Juga untuk dikirimkan pada Umi yang ditinggal menikah lagi.
Bahkan untuk bermimpi saja, kemiskinan memaksa mereka tahu diri...
💼💼💼 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Kali pertama aku membaca karya J. S. Khairen dan tak menyangka ternyata memang sebagus ini! Novel yang kompleks sekaligus penuh makna. Banyak pelajaran moral di dalamnya. Tentang teladan dari orang tua dan guru. Kasih sayang ibu dan ayah yang tiada tara. Kehangatan keluarga, persahabatan, juga romansa. Semuanya diramu dengan apik di sini!
Sebuah novel yang sangat menggugah. Beberapa insight yang ku dapat: 1) Sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. 2) Selalu ada peluang bagi orang yang mau berusaha. Meskipun hasilnya tidak instan. 3) Menolong orang lain tak kan membuatmu miskin. 4) Hati yang baik akan selalu dipertemukan dengan hati baik pula 🤍 5) Doa ibu dan ayah adalah kunci kesuksesan. 6) Hubungan berjalan saat keduanya saling berjuang (h. 132).
Setiap episode (part ceritanya) dibuat pendek-pendek sehingga pembaca tak akan bosan. Dialog di dalamnya banyak menggunakan aksen dan bahasa Minang tetapi dilengkapi terjemahannya sehingga pembaca tak kan bingung.
Sedikit kekurangannya, di bagian awal hingga episode 9 aku mengira Zenna dan Asrul itu satu keluarga (saudara kandung). Zenna anak ke-6 dan Asrul anak pertama dari keluarga yang sama. Entahlah, mungkin karena aku tak terlalu paham dengan geografis pulau Sumatra dan penulis menyampaikannya secara tersirat saja. Baru pada episode 10 saat Zenna dan Asrul bertemu (lagi) di bus, aku jadi paham kalo mereka bukan saudara kandung 😅
Penasaran dengan buku ini karena banyak review di sosmed kalau akan dibuat mewek mulai dari bab pertama. Saya sendiri belum cukup terharu waktu membaca di bab awal, mungkin karena belum ada keterikatan emosional dengan karakter dan ceritanya. Tapi semakin dalam membaca saya seperti ikut merasakan apa yang dialami tokoh utama di novel ini terutama Zenna. Memulai bukan hanya dari nol, tapi bahkan minus lalu semangat bangkit demi memperbaiki hidupnya dan keluarganya.
Tokoh Zenna digambarkan sebagai perempuan yang cerdas, rajin dan pantang menyerah yang terbiasa 'terabaikan' karena kondisi ekonomi dan keluarga. Merasa tidak ingin menyerah pada nasib, Zenna bermodal nekat dan restu orang tua mengejar mimpi yang bahkan dulunya dia sendiri takut memimpikannya yaitu menjadi guru.
Buku ini sangat bisa dibaca mulai dari usia remaja hingga orang tua, bahasa dan alur ceritanya ringan, mudah dipahami dan tidak membosankan. Buku ini juga tidak tebal hanya sekitar 200 halaman, jadi masih bisa dibaca sekali duduk. Ditambah ada beberapa kutipan kalimat yang cukup 'menyentil' hati saya sebagai anak untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada orang tua.
"Apa material termahal di dunia? Tangis bangga ayah dan ibumu" (Hal 1)
"Ibumu punya retak. Ayahmu punya retak. Memaafkan mereka adalah obat segala obat" (Hal 184)
Terima kasih bang J.S. Khairen sudah mengingatkan saya tentang banyak hal baik melalui buku ini.
Note : Entah kenapa saya tidak sampai termehek-mehek membaca buku ini, hanya sampai berkaca2 saja karena bernostalgia mengingat tentang Alm. Bapak yang sudah tiada.
Review Singkat Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu karya @js_khairen
Kisah yang terinspirasi orang tua dari penulis, dengan tokoh Asrul dan Zenna yang berlatar di Sumatera Barat di bawah kaki gunung Marapi dan Singgalang.
Cerita yang ringan dengan konflik yang dibangun secara baik dari penulis untuk membangun emosional pembaca naik turun seperti menaiki roller coaster.
Ada sedihnya, bahagia dan ngakaknya bikin ketawa sendiri dan senyam-senyum dengan kisah didalamnya.
Saya suka dengan tokoh Zenna, seorang perempuan yang kuat, mandiri dan memiliki tekad sekuat baja untuk mewujudkan impiannya sebagai anak tengah.
Asrul juga, lelaki yang banyak akal, humoris dan paling pandai dalam banyak hal untuk mencari solusi yang terbaik untuk dirinya dan orang-orang yang dicintainya.
Kedua tokoh ini sama-sama memiliki tanggung jawab yang sangat memegang prinsip dan berpondasi yang kuat. Segitu jatuh cintanya dengan tokoh ini 👍👍
Kalian penasaran, bisa segera miliki buku terbaru dari @js_khairen yang sudah tersedia di toko buku kesayangan kalian.
Alhamdulillah sy senang sekali bisa ikutan PO di hari pertama dan mendapatkan banyak kejutan. Terutama kaset tape yang ikonik pada zamannya, ternyata memiliki jawaban sendiri di dalam novelnya kenapa penulis memberikan ini 🤭🤭🤭
Terima kasih karyanya yang sangat menginspirasi dan menghibur juga 🔥🔥🔥👍👍👍
Novel ini berkisah tentang kehidupan Zenna dan Asrul, jadi ada 2 POV yang bikin makin penasaran setiap babnya selesai. Aku sedih banget baca kehidupan mereka. Ayah Asrul seorang petani yang punya 3 istri dan anak-anak yang masih kecil, sehingga Umi si istri pertama pun tidak dinafkahi penuh. Umi harus bekerja sendiri menghidupi kedua anaknya, Asrul dan Isral. Lalu, Zenna ini 11 bersaudara, ayahnya meninggal saat dia masih SMA, sehingga Zenna si anak tengah juga harus bekerja menafkahi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya.
Mimpi mereka berdua pun sama yaitu menjadi guru. Asrul ingin menjadi guru sejarah, sedangan Zenna ingin menjadi guru ekonomi akuntansi. Tapi untuk kuliah pun mereka terhalang biaya masuk dan biaya semesteran. Bagi keluarga mereka ini, kuliah sudah seperti kebutuhan tersier. Walaupun begitu, mereka tetap berjuang untuk kuliah. Akhirnya nanti Zenna dan Asrul berhasil masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan bertemu di sana.
Yuk kalian harus baca juga. Ikuti perjuangan mereka sampai berhasil memenuhi cita-cita mereka, yaitu membahagiakan keluarga. 🥺🫶
Cerita yang menarik dan benar benar menyentuh hati. Ketika rantau kemiskinan hampir merenggut masa depan zenna dan asrul, ketika itu juga doa yang di panjatkan umak dan umi menjadi batu loncatan dan menjadi semangat membara untuk mereka melanjutkan kehidupan di tengah kemiskinan. Walaupun mereka kesulitan, uluran tangan mereka saat keadaan susah tetap mereka jalankan. Banyak hal yang perlu kita petik dari sini, jurang kemiskinan dapat didaki, walaupun perlu waktu yang lama dan melalui lintas generasi. Ketika anak anak yang seharusnya dapat setidaknya bermimpi tinggi, harus tau diri. Ketika kondisi miskin, makan pun sulit, bagaimana mau bermimpi. Di dalam cerita ini, ada quotes yang secara pribadi mengingatkan saya terhadap orang tua saya.
“Ayahmu ingin istirahat, tapi terpikirkan sekolahmu. Ia ingin minum, terpikirkan kesehatan mu. Ingin reda sejenak, ribuan kekhawatiran menyerbu. Pijit punggungnya, ambilkan sepatunya. Senyumlah tanpa diminta.”
UDA AWAK NI YANG BIKIN BUKUNYA (dan juga ini buku pertama J.S. Khairen yang saya baca)
Always proud with some author who is born as Minang!
Baca buku ini waktu saya lagi jalan-jalan keliling sumbar selama 3 hari 3 malam. Syahdu sekali membaca buku ini dengan langsung melihat landscape keindahan kota dan desa yang ada di provinsi Sumatera Barat, karena memang background dari kisah di novel ini adalah pedesaan yang ada di Sumbar.
Secara value cerita, tak usah ditanyakan lagi, always teach us on how to pursuing our dream no matter what. Love our parents, because its their first time become a parent and they are ready to sacrifice everything for their children.
“Apa material termahal di dunia? Tangis bangga ayah dan ibumu”
- Such a heart-warming story - This is the story of Asrul and Zenna, two hardworking people who achieved their aspirations, set in West Sumatra. - The journey they took and the story they told was exhilarating. A wide range of feelings, including happiness, laughter, anger, and sadness. - This book also provides some moral values, such as building a good relationship with our parents. - Highly recommended!
Sebuah novel yang berhasil membantu keluar dari reading block. Novelnya punya cerita yang cukup sederhana dengan plot yang tidak bertele-tele, tapi masih penuh makna; nggak menyajikan konflik besar, tapi justru membuat pembaca bisa terbawa dalam perjalanan emosional tokohnya. Gaya bahasa di sini cukup puitis, tapi masih ringan dan tidak cringe atau berlebihan. Bacaan yang cukup hangat dan menyentuh tanpa harus rumit.
Gak pernah terpikirkan sedikitpun aku bakalan bisa koleksi novel karya bang Jombang yg stu ini.Dulu pas novel ini baru launching mo terbit, aku sempet terpikirkan gini "Halah paling ini novel khusus buat keluarga Cemara aja." Trnyta dugaanku salah. Novel ini bukan hanya untuk keluarga Cemara aja. Tapi , buat kalian yg broken home, anak rantauan , dll ternyata bisa juga baca ini.
Mula-mula pas aku baru baca halaman pertma ,aku ngerasa biasa2 aja . Kaya gimana ya " serius ? Gini ? Perasaan gak ada tuh yg bikin nangis kaya yg diceritain sama temen²!" . Ternyata pas aku baca sampe halaman yg kesekian, baru deh aku ngerasain dimana dada aku sesek banget nahan tangis gara² baca part demi part novel ini.Uhuk, aku nelen omongan sendiri! 😭
2 tokoh disini tuh Bener2 gambarin apa artinya perjuangan yg sesungguhnya. Penuh tekad!!! Aku suka bngt sma tokoh cewek & cowok yg ada di cerita ini. Kaya apa ya , pokoknya sumber motivasi banget buat aku.🤌
Aku sampe kebawa alur sendiri, serasa masuk dunia di novelnya. Nyaksiin langsung perjuangan mereka , jatuh bangunnya mereka!!! Tapi sumpah sih hal yg paling aku suka itu disini ya itu , 2 tokoh disini walaupun mereka lagi diposisi terpuruk mereka tetep merhatiin org lain yg lebih membutuhkan.Berbaktinya mereka ke orang tua juga g luput dari pandangan aku , aku sampe nangis kejer sekejer-kejernya pas baca nih buku. Gak sempet aku nahan lagi!!🫂
Banyak banget amanat yg terkandung di novel ini. Amant yg selalu bakalan aku jadiin motivasi disetiap jatuh bangunnya diriku di kehidupan ini.Penulis bener² ngegambarin setiap konflik yg ada di cerita ini dg lugas, konflik yg g terlalu berat tapi menohok sampe ke relung hati🥺
Bener² cerita paling² terfavorit buat aku di bulan ini , tahun ini bahkan untuk tahun seterusnya . Aku bakalan kasih Novel ini buat mama baca . Biar aku sama mama , bareng-bareng belajar gimana jadi anak dan ortu yang lebih baik lagi bagi anak²nya dalam sebuah kasih cinta keluarga .Dan semoga hubungan aku dan kalian yg membaca ini lekas pulih bersama keluarganya 🤍
Btw, novel ini tuh berlatar belakang kota Padang, Sumatera Barat. Dan gunung Marapi juga gunung Singgalang. Ada beberapa sisipan kata bahasa Minang di dalamnya,dan itu bener-bener berarti buat aku. (Berarti banget lah buat belajar sikit² bahasa Minang,biar aku gak terlalu plonga-plongo juga KLO ngobrol sama temen kost ku ). Sejauh ini , ini novel yg sukses bikin aku banjir air mata tiap baca bab dmi bab nya🤌
Cukup 6jam aja waktu aku buat baca ini. Ya walaupun kebanyakan nangis, baru baca satu halaman nangis. Gitu aja seterusnya. 😭