Abdul Hamid-Jones flees Mars with a price on his head and is soon caught up in the Sultan of Alpha Centauri's secret plan to develop an advanced interstellar drive
Donald Moffitt was born in Boston and now lives in rural Maine with his wife, Ann, a native of Connecticut. A former public relations executive, industrial filmmaker, and ghostwriter, he has been writing fiction on and off for more than twenty years under an assortment of pen names, including his own, chiefly espionage novels and adventure stories in international settings. His first full-length science-fiction novel and the first book of any genre to be published under his own name was The Jupiter Theft (Del Rey, 1977).
"One of the rewards of being a public relations man specializing in the technical end of large corporate accounts," he says, "was being allowed to hang around on the fringes of research being done in such widely disparate fields as computer technology, high-energy physics, the manned space program, polymer chemistry, parasitology, and virology—even, on a number of happy occasions, being pressed into service as an unpaid lab assistant."
He became an enthusiastic addict of science fiction during the Golden Era, when Martians were red, Venusians green, Mercurians yellow, and "Jovian Dawn Men" always blue. He survived to see the medium become respectable and is cheered by recent signs that the fun is coming back to sf.
Impresi saya terhadap buku kedua dari seri The Mechanical Sky ini, bisa dibilang, anjlok: mulai dari kover sampai halaman terakhir.
Kovernya mengajukan pertanyaan yang cukup mikir sih: Faith could move mountains ... but something more was needed to move the stars!.
Wah, apa-apaan nih, iman saja enggak cukup? Meskipun, nantinya, setelah saya sampai ke tengah buku, dan menemukan bagian ketika si tokoh utama--Hamid-Jones--terjepit dalam situasi pelik yang enggak dimengertinya, saya mulai mafhum. Hamid-Jones hanya mengerti ilmu bioengineering sementara orang-orang di sekitarnya--yang terlibat dalam suatu rencana berbahaya yang hendak ia gagalkan dan sedikit-banyak ada hubungannya dengan keagamaan--pada membicarakan tentang astrofisika. Di situ tebersit bahwa untuk menyelamatkan dunia, iman saja tidak cukup, tetapi juga dibutuhkan ilmu! Kaitan antara iman dan ilmu memang banyak yang membahas sih.
Tetapi, antipati ini tidak jadi batal bangkit, apalagi ketika saya menemukan bahwa si tokoh utama--yang dikatakan sebagai muslim yang baik--melakukan hal-hal berikut:
- zina - minum minuman beralkohol - menikahi wanita nonmuslim dan membiarkan anak-anaknya dibesarkan secara non-Islam.
Padahal, di buku pertama, saya sudah bersimpati dengan si tokoh utama. Lain dengan cerita-cerita berlabel "Spiritual" yang ada di platform-platform penulis amatir di mana tokoh-tokohnya sering kali begitu "sempurna" dan kalaupun disebutkan kekurangannya rasanya hampa, karakter Hamid Jones dalam buku ini saya rasakan cukup manusiawi. Paling tidak, secara fisik, ia yang lahir di Bumi termasuk manlet, atau enggak setinggi rekan-rekannya yang lahir di Mars. Ia juga mengalami kemalangan-kemalangan, yang antara lain, sepertinya, disebabkan oleh karakternya sendiri yang naif (seolah-olah usia yang belum tiga puluh tahun dapat menjadi pembenaran).
Tetapi, di buku kedua ini, saya mendapati ke"manusiawi"an Hamid-Jones kebablasan, paling enggak, menurut standar keislaman yang saya punya. Dalam standar masyarakat Barat yang liberal boleh jadi perbuatan-perbuatan Hamid Jones tersebut merupakan penyesuaian yang diterima: zina enggak apa-apa, asal enggak ketahuan; minum miras enggak apa-apa, asal enggak mabuk; menikahi nonmuslim dan membiarkan anak-anak dibesarkan secara non-Islam, enggak apa-apa, itu Hak Asasi Manusia, dan lagi pula, bukankah semua agama itu baik? Di Indonesia pun, ada saja yang berpandangan demikian. Tetapi, saya sendiri orang Indonesia dalam lingkungan pergaulan yang enggak bebas-bebas amat. Saya enggak memungkiri bahwa dalam dunia imaji saya sendiri, ada saja karakter rekaan saya yang demikian. Tetapi, jika boleh menjarakkan diri antara khayalan dan kenyataan, sesungguhnya saya tidak begitu menerima hal-hal itu dan mencari cara untuk menanggulanginya.
Bukannya saya hendak mengharamkan buku ini. Sejujurnya saya termasuk orang yang berpandangan: "baca boleh, lakukan, yaa, kalau bisa sih jangan". Saya cuman hendak melabeli buku ini dengan rambu-rambu kuning macam lampu lalu lintas yang berisyarat: "Hati-hati" atau kebijaksanaan pembaca diperlukan. Bagi pembaca yang belum cukup dewasa pemikirannya (seolah-olah saya sendiri sudah :p), adanya bagian-bagian itu seolah-olah memberikan pesan subtil bahwa it's okay bagi muslim yang baik untuk melakukan hal-hal yang dilakukan Hamid-Jones tersebut.
Selebihnya, buku ini tetap menjadi bacaan tricky dalam hal penjelasan astrofisika yang tersebar di mana-mana, apalagi bagi pembaca dengan pemahaman bahasa Inggris yang kurang seperti saya. Sudah mah bahasa Inggris, kontennya menjelimet pula. Hanya dedikasi untuk menamatkan buku yang sudah telanjur dibaca dari awal yang dapat membuat seseorang bertahan, hahaha.
Belum lagi, pikir-pikir soal perjalanan antariksa itu ternyata dapat memendekkan umur, dan ini berhubungan dengan drama romansa di antara para tokoh. Ini sepertinya merupakan unsur penting yang bikin cerita ini jadi terasa mungkin sekaligus menghibur. Tetapi, tetap saja, bagi saya itu menjadi unsur lain yang jika dipikirkan betul bakal tambah memusingkan.
Terlepas dari masalah-masalah tersebut, bagaimanapun aspek fantasi futuristik yang disajikan dalam buku ini tetaplah menakjubkan. Khususnya, membayangkan kemungkinan dalam sekian ratus tahun ke depan manusia telah dapat menjelajahi alam semesta, menemukan cara-cara hidup dan beradaptasi dengan aneka lingkungan di luar angkasa. Akibatnya, saya jadi teringat pada tayangan semacam Where Wild Men Are, di mana orang-orang, yang umumnya, kaukasoid melakukan hal demikian namun masih di Bumi.
Dalam beberapa hal memang terasa spirit kaukasoid dalam buku ini yang seolah-olah tidak mau takluk begitu saja dalam hegemoni Islam yang cenderung kearab-araban. Apalagi si tokoh utama sendiri--Hamid-Jones--merupakan campuran Arab-kaukasoid seperti terlihat dari namanya. Hal ini bisa dimaklumi mengingat latar belakang penulis yang orang Amerika Serikat.
Selain itu, saya masih mendapatkan pesan yang sama: walaupun sebagian besar dunia manusia telah dikuasai Islam, apa pun agamanya, manusia tetaplah manusia, yang akan terus mengadakan perselisihan terhadap sesamanya, melanggar aturan-aturan, dan menuntut satu sama lain untuk bertoleransi yang secara sadar-atau-tidak-sadar bisa saja sampai menarik ke luar batas.
Interesting yet not an easy novel to follow in some places......
This novel started off in an interested fashion but the astrophysics' content was a bit difficult to follow. Donald Moffitt was telling a story that assumed that the readers comprised initially of being laymen with a grounding in astrophysics. I wish these elements could've been explained more simply. Other than that, the story was original with an interesting ending. Crescent in the Sky was the far better novel of the two books. A Gathering of Stars could have been written differently.This could have really embellished the 2 book series, giving a great overall story.
I called Crescent in the Sky a "poor man's Dune," but here the Mechanical Sky series shows a greater depth. Moffitt describes a plausible NAFAL stardrive and solution to the Fermi Paradox while keeping the spicy MidEastern flavor.
Surely the author must have known that the method for creating black holes described in this book is Munchausen-level fantasy, but of course that is part of the fun. He likes to play with offbeat ideas on a ridiculously grand scale. Readers should not be blinded by the scientific jargon.
I had this impression going into this book that this would be the counterpoint to the oppressive Islamic culture of the first book in this series, that here we'd see a radically different vision of Islam on Alpha Centauri or wherver it was, but maybe that's my baggage in not Moffitt's. It's true that the regime there isn't quite as oppressive, but it's also no utopia, and protagonist Hamid-Jones and his his erstwhile manservant are again dragged into espionage hijinks concerning internecine politcal squabbles. In essence, then, this is more Orientalism like the first book.
There's nothing especially wrong with that, of course. I did think the pacing here was a little less brisk than in the first book, and the major set piece of the billiards play was overexplained and in the end, kind of a dud that I wanted to get beyond. I was, in the beginning at least, a little sad to see H-J's favorite crush resurface, but in the end, I think I understand why she was there, and there are other women characters to offset her exceedingly negative character.
So in the end, this is a really fun read. It's not as good as the first volume, by virtue of too much science and not enough adventure. But still, it's good fun.