Berhubung saya sedang berduka setelah membaca novel IEP, maka saya putuskan untuk membuka kembali buku pertama yang membuat saya menanti Supernova series selama 15 tahun.
Saya ingat, pertama kali saya membaca buku ini, saya seperti tersihir dengan keindahan sajak-sajak Dee dan bagaimana Dee merangkum kata seperti melihat lukisan indah dalam bentuk kata. Dari segi plot, Supernova KPBJ brilian. Pada saat itu saya sudah membaca Dunia Sophie, tapi saya baru menyadari belakangan bahwa KPBJ sering dibanding-bandingkan dengan dunia sophie, walau pada akhirnya kesimpulan itu salah: Diva, Ferre, dan Rana benar-benar ada, dan di dunia novel itu, mereka bukan karakter novel yang kabur ke realita. Pada akhir buku, Dee menyentil kita dengan memberikan ending yang multi interpretasi.
Apakah Dhimas dan Reuben menyadari bahwa mereka sebetulnya adalah karakter fiksi? Ambiguitas di akhir novel ini membuat KPBJ menjadi novel yang paling berpengaruh pada selera sastra saya ke depannya.
Rasanya susah menurunkan standar setelah mendapat sastra dengan kualitas sebagus ini. Tulisan Dee KPBJ puitis dan dalam, terkadang abstrak, namun tidak terlalu dalam sehingga kita pun bisa menikmatinya dan mampu melakukan refleksi pada hidup kita. Tiap karakter-karakter di buku ini sangat memorable dan unik. Tentu saja Diva adalah karakter perempuan paling menarik sepanjang sejarah literatur Indonesia. Perempuan yang memiliki otak brilian dan tampaknya cukup pintar untuk menjadi doktor filsafat, namun dia memilih profesi sebagai pelacur kelas atas karena untuknya, profesi itu memberikan kebebasan. Di KPBJ, kebebasan seksualitas Diva dan penggambarannya sebagai perempuan pintar maha tahu dan dalang di balik semua plot, mungkin mendobrak semua stereotype dan karakter perempuan yang muncul di literatur Indonesia.
Kita mungkin bisa menerima Diva sebagai sosok yang taken for granted. Tapi dari sudut pandang historisitas kesetaraan gender di Indonesia, tahun 2000-an merupakan momen dimana meledaknya jumlah penulis perempuan yang merasakan euforia kebebasan berekspresi, sampai-sampai ada yang mengatakan masa depan sastra Indonesia ada di tangan perempuan (yang jelas jelas salah. masa depan sastra Indonesia ada di tangan pasar sastra populer!). Saat literatur-literatur yang dituliskan perempuan lebih menekankan mengenai seksualitas, sensualitas, dan erotika mengenai tubuh perempuan, Dee mendobrak stereotype itu dengan membuat seorang karakter perempuan yang tidak tipikal. Ya, mungkin Diva adalah seorang pelacur, namun latar belakang pelacurnya bukan fokus utama supernova, yang menjadi fokus adalah kekuatan Diva untuk mengendalikan benang-benang takdir antar karakter dalam ceritanya.
Diva tentunya menjadi gebrakan yang menarik bagi penggambaran karakter perempuan di literatur Indonesia. Selama ini karakter perempuan selalu kebagian peran diculik atau tidak lengkap tanpa pangeran-nya. Tapi Diva adalah seseorang yang independen, otonom, dan tidak membutuhkan pria untuk menjadi dirinya sendiri.
Supernova menjadi unik juga pada tahun 2000-an, karena memasukkan karakter gay, walau sama sekali tidak ada adegan seks maupun percakapan yang mengandung homoerotisme. Sampai sekarang pun, Dhimas dan Reuben mungkin adalah satu-satunya karakter gay yang akhirnya masuk ke mainstream market (kok ga ada anti LGBT yang protes ya?)
Saking terkesannya dengan suasana novel KPBJ, saya seperti menemukan seorang penulis Indonesia yang akhirnya menjadi aspirasi saya. Dalam pikiran saya hanya ada satu tujuan saya: saya ingin menulis sebaik Dewi Lestari!
4 tahun berlalu, saat itu, saya sedang dilanda depresi mendalam karena oma saya baru saja meninggal pada 25 Februari 2005. Menulis novel merupakan satu-satunya sarana untuk melarikan diri dari realita saat saya berkuliah di HI Unpar saat itu. Akhir tahun, saya mendengar lomba novel Dewan Kesenian Jakarta akan dibuka lagi. Saya pikir, jika ingin mencoba peruntungan menjadi penulis novel, inilah saatnya!
Saat itu saya memutuskan untuk merubah draft novel saya, saya pikir, saya harus mengambil ide seradikal Dewi Lestari. Terpengaruh juga dengan Dadaisme-nya Dewi Sartika, dan nuansa milik Saman-nya Ayu Utami, saya akhirnya menulis Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati, dan saat itu saya memutuskan untuk menulis novel ini dalam genre surealisme karena saya penggemar lukisan Salvador Dali. Saya menulis karakter, Ashra Trivurti yang proses pembuatannya juga terpengaruh oleh sosok Diva.
Tidak disangka, Jukstaposisi menjadi juara tiga sayembara novel kesenian jakarta 2006. Saya tentu saja sangat senang. Ini adalah sebuah kehormatan besar, karena saya bersaing dengan penulis penulis senior, dan pada tahun 2008 Jukstaposisi menjadi finalis KLA.
Saya sangat berterima kasih pada KPBJ yang membuat saya terinspirasi untuk menulis novel. Tanpa adanya KPBJ, saya tidak akan pernah menulis Jukstaposisi.
Tapi seiring waktu berlalu, saat saya merasa Dee mengakomodasikan tulisannya untuk menangkap pasar lebih besar, saya sebetulnya agak kecewa karena dia kehilangan 'kedalaman'nya, karena jelas pasar buku Indonesia bukan pasar yang ramah pada buku buku semi-intelektual.
Saya sedikit kecewa tentu saja dengan Supernova Partikel, namun Gelombang memperburuk semua itu dengan memberikan plot plot baru yang tidak pernah diplanting selama 4 buku sebelumnya. Dan klimaks kekecewaannya adalah saat IEP diterbitkan. "Supernova" sepertinya tinggal nama saja. 15 tahun saya menanti kembalinya protagonis Supernova yang sesungguhnya, Diva Anastasia. Tapi apa yang terjadi? Diva turun derajat menjadi karakter figuran yang memiliki peran sangat sedikit di IEP. Semua petunjuk yang tersebar pada 5 buku memperlihatkan bahwa Diva Anastasia memiliki peran sentral pada supernova karena namanya sendiri berarti "The Goddess of Resurrection".
Tapi ternyata yang kita dapati, tiba-tiba di beberapa chapter terakhir protagonisnya adalah protagonis yang muncul di buku kelima. Mungkinkah karena ini untuk memberikan Ishtar porsi lebih dalam cerita? Jika kita melihat Ishtar dan Diva, kedua-duanya merupakan archetype dari konsep serupa: perempuan independen, seksual, dan memiliki kekuatan. Mirip seperti sosok Ishtar di mitologi babilonia yang memang agak haus seks, dewi perang, dan merupakan sosok sentral di agama mesopotamia (walau akhirnya mengalami demosi juga, coba baca cerita Ishtar dan Pohon Huluppu). Entahlah atas pertimbangan apa tiba-tiba kekosongan Diva digantikan Ishtar. Apakah hanya agar supernova ini membutuhkan peran villlain? mereduksi semuanya menjadi pertempuran baik vs jahat? Atau ini kegagalan sang penulis untuk meretcon ceritanya dengan baik?
KPBJ merupakan karya Dee yang untuk saya masih yang terbaik, dan saya rasa saya bisa hidup tanpa menganggap keberadaan Supernova 2-6.
Mungkinkah perspektif saya akan berubah andaikan saya baru pertama kali membaca supernova setelah partikel terbit, dan saya tidak menyadari penyimpangan plot supernova? Mungkin, tapi tanpa itu, saya mungkin tidak akan pernah menulis novel.
Bagi anda yang sedang membaca buku ini, mungkin anda tidak perlu meneruskan 5 buku seterusnya, karena buku yang anda baca ini adalah salah satu puncak sastra Indonesia. Novel KPBJ pada dasarnya terisolasi. Cerita awalnya memiliki ending ambigu yang memang memungkinkan adanya sekuel. Tapi tanpa adanya sekuel, KPBJ indah apa adanya.
Calvin Michel Sidjaja
Penulis Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati
Pemenang sayembara novel dewan kesenian Jakarta 2006
Finalis Khatulistiwa Literary Awards 2008