Jump to ratings and reviews
Rate this book

Psikologi Jawa

Rate this book
Javanese psychology.

154 pages, Paperback

First published January 1, 1997

14 people are currently reading
147 people want to read

About the author

Darmanto Jatman

12 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (47%)
4 stars
5 (10%)
3 stars
12 (26%)
2 stars
4 (8%)
1 star
3 (6%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
December 4, 2014
Buku ini memaparkan konstruksi manusia jawa berdasarkan sumber tradisionalnya. Bukan sebuah buku antroplogis, buku psikologis begitu judulnya. Saya lebih suka menyebutnya antroposentrisme manusia jawa berdasarkan sumber tradisional. Acuannya menjadi sangat tradisional, kitab tradisional jawa yang kental nuansa keraton sentris. Sebut saja Wedhatama hingga ke ajaran Ki Ageng Selo Metaram. Untuk nama yang terakhir, kisah hidupnya cukup menarik, sebuah tulisan pernah menyandingkannya dengan kisah hidup Budha yang meninggalkan hirup-pikuk istana demi sebuah pencerahan hidup. Yang ini menjadi menarik karena ajaranya seharusnya antithesa dari kejumudan keraton.

Seorang kawan pernah pinjem buku ini. Selesai baca, dipulangin, cuma bilang, “kok gue pusing yah bacanya!" Enggak kok, enggak pusing. Mengurai dunia ideasional manusia jawa. Priyayi, kawulo dsb. Ngelmu kui ngelakoni kanthi laku - Wedhatama. Dhurung jowo ne' dhurung ndhuwe roso - Ki Ageng Selo Metaram.

Adiluhungkah budaya semacam itu? Saya akan menjawabnya dengan pendapat tentang hubungan yang lebih elegan dengan masa lalu. Terimakasih kepada seorang pendongeng sekaligus karib saya meski beda usia jauh. Pendongeng yang suka berbicara mengenai masa lalu dengan sangat santai tanpa mengharu biru. Pujian kepada pendongeng itu merupakan syukur saya ketika saya berbeda pendapat dengan kawan ketika suatu kali ditugaskan diklat di Puncak. Kami bertiga, seorang Sunda asal Sumedang, kuliah di Bogor, seorang jawa kuliah di Yogya besar di Yogya, dan saya seorang yang pernah menolak jawa dan kemudian mencoba berdialog ketika pasca-Reformasi, Jawa tak lebih bahan olok dendam masa lalu. Sekedar bawan aeng dalam diri saya barangkali. Adiluhung itu menjadi sebuah titik tolak kami dalam dialog tentang masa lalu itu.

Malam itu, kami awalnya bicara tentang budaya daerah. Tentang Bogor yang semakin metropol dan kegelisahan kaum lokal akan akar budaya. Wajar. Dalam sebuah wajah multi budaya, akan ada tarik ulur wajah mana yang akan muncul. Pihak lokal akan mengupayakan ciri asli menjadi pijakan sah untuk bergerak maju. Namun, sapa nyana kalau kemudian budaya pendatang menjadi lebih berkembang dalam khasanah pergaulan sehari-hari. Bukan karena tidak menghormati, dalam pergaulan sehari-hari kita mengutamakan kepraktisan. Setiap pihak akan mencari bentuk komunikasi yang paling ringkas. Bukankah sering disitir bahwa bahasa Melayu berkembang dengan beragam dialeknya di nusantara ini karena alasan itu. Di sisi lain saya berempati dengan kawan dari Sumedang yang banyak bercerita tentang bidangnya yang menarik dan budaya sunda yang juga beragam itu. Saya menimbangnya mencoba menempatkan kegelisahannya terutama kepada orang sunda yang terlalu gampang meninggalkan budayanya dan beralih rupa ke bentuk modern yang belum jelas.

Jadi ingat Bandung saya. Bandung kota kreatif yang dengan kreatifitasnya melahirkan sisi positif dan negatif sebagai dua sisi mata uang yang utuh. Di Bandung ada banyak seniman dengan kreatifitas yang luar biasa untuk budaya pop dan tradisional. Banyak grup musik pop dari Bandung. Selai tetap musik tradisionalnya hidup di sisi yang harmonis dengan budaya baru. Hal itu terutama saya sebutkan untuk grup musik Sambasunda yang rancak merangkum musik dari perbagai daerah dengan musik sunda sebagai simpul. Lagu Sabilulungan ditangan para personilnya menjadi berbeda dengan versi tradisionalnya Mang Koko. Bayangkan saja lagu Sabilulungan menjadi rancak karena personil Sambasunda memanikan saron dengan ketukan ala nayaga gamelan Bali. Itu sisi baik. Ada sisi negatifnya. Pembajakan. (hiks, saya suka DVD bajakan) Pernah saya mewawancarai personil Buaya Craft, kelompok muda yang berkarya di bidang desain produk dan interior. Mereka mengatakan produknya dilempar ke luar negeri, minimal Jakarta. “Kalau dijual di Bandung, dikasih harga murah juga masih ditawar. Belum lagi, sekian bulan muncul tiruannya!” Saya menilai mereka pantas khawatir dengan kondisi itu. Di Bandung yang namanya pola imitatif dari beragam budaya cepat terjadi. Saya yang terpaku pada gaya 1970-an cukup menikmati sajian itu tanpa pernah keder untuk beralih jaman. :D Bahkan the Changcuter toh menghidupkan gaya berpakaian itu. Hidup 70’s!

Loh nyasar... Kembali ke laptop...:D

Lepas kawan Sumedang itu, kawan dari Yogya juga menilai kebudayaan tradisional itu jangan dihilangkan. Para leluhur itu meninggalkannya dengan sarat pesan. Adilihung. Itu jargon kawan Yogya itu. Saya kemudian mendiskusikan topik “dhurung Jowo nek dhurung nduwe roso”. Kawan saya itu ambil posisi tradisional dalam menilai bahwa itu artinya kepekaan merupakan bagian penting dalam ideasional budaya Jawa. Saya lebih menilainya bahwa dalam budaya Jawa memang ditekankan sisi non-verbal dalam komunikasinya. Verbalisme kadang memang dekat dengan kerendahan peradaban. Kemampuan mengkomunikasikan melalui medium non-verbal juga dapat menandakan adanya sebuah sistem tanda budaya yang mapan. Konservasi budaya yang berlangsung baik. Namun, sebagai mantan jawa murtad, saya tak puas kalau tidak mencela, mengkritik tepatnya. Tidak semua non-verbalisme itu bagus, non-verbal itu bisa menjadi potensi cheating karena ada komunikasi yang harus dimapankan dalam verbal. Terlalu mengagungkan bentuk non-verbal akan membuka peluang hipokrisisme. Saya merujuk simbolisme sebagai bagian komunikasi non-verbal di jaman puncak Victorianisme di Inggris. Di Jawa pada beberapa periode juga berkembang “hipokritisme” dan bahkan eskapisme dari adanya pemujaan pada sisi komunikasi non-verbal.

Saya berbeda pendapat dengan kawan Jawa dari Yogya itu. Dingin udara puncak menghangat sebentar, kembali ke titik naturalnya setelah saya tambahi, “Jawa pun beragam standarnya dalam non-verbalisme itu!” Saya menceritakan kelugasan yang ada dalam budaya Jawa Banyumasan. Cerita yang saya dapat dari profil Slamet Gundhono di sebuah harian nasional. Pun, non-verbalisme akan menjadi tidak praktis ketika melalui komunikasi lintas budaya yang masih belum intens berdialog. Ingat joke-joke yang kelucuannya muncul dari miskomunikasi lintas budaya? Verbal saja masih salah sangka, apalagi non-verbal. Singkat cerita, kami didamaikan oleh ketidatahuan kamu sisi mana saja yang tepat untuk bentuk komunikasi adiluhung itu. Selain karena kami sama meyakini bahwa ada perlunya konservasi yang sesuai dengan konteks kekinian.

Relevansi dan rasionalisasi yang pantas akan menjadikan akar itu lebih operasional. Rasional artinya jelas hitungan dan mafaatnya. Ketika saya membaca Canting, saya seperti mendengar kembali sebagian dongeng yang coba dirasionalisasikan oleh si petutur. Cerita priyayi alit yang sebenarnya tak beda dengan pegawai jaman sekarang merupakan analogi awal yang saya kenal. Di Canting, disebutkan, “wajar saja yang dekat dengan kuthonegoro bisa menjadi pegawai sementara yang jauh profesinya yang tentu beda”. Sinkronisme konsep masa lalu di zaman sekarang. Pendongeng itu memang suka beranalogi, masih analoginya dengan keris yang diwarangi. “Itu namanya perawatan, diberi racun karena keris itu senjata tusuk sekaligus merawat logamnya. Airnya langsung dikubur ditanah. Karena bahaya!”

Tentang nama, si pendongeng sempat bercerita. Ia membedakan tata nama yang berkesan tak kenal marga itu. Manusia jawa menamai dirinya berdasarkan profesi. Bagian dari sisa budaya Hindu yang pernah hidup di tanah Jawa. Yang juga dikenal di budaya lain sebenarnya. Penamaan di Inggris contohnya. Tatcher adalah nama pembuat atap dari jerami. Demikian saya dapat informasinnya dalam film Knight’s Tale yang pintar memainkan anakronisme demi memparodikan masa lalu. Belakangan, dalam istilah antropologi saya tahu penamaan itu disebut sebagai kinship (CMIIW). Cerita si pendongeng itu yang membuat saya akrab dengan masa lalu tanpa terlalu mengharu biru, dan melow, makanya saya tidak masuk dalam aliran adiluhungisme. :D

Lagipun tidak semua rasionalisasi Si Pendongeng dapat diterima. Ia pernah bercerita menunggui rumah sodaranya yang baru dibangun di Kebayoran Baru di tahun 60-an. Di belakang rumahnya itu ada setan gagu katanya. Kalau ditemui gak bisa omong pokoknya. Dia ditemani sama anak penjaga rumah. Namun apes, tengah malam si mitra nightwatch-nya meninggalkannya seorang diri. Dia takut bin panik. Untuk mengantisipasi si hantu gagu berkunjung ke kamarnya, ia membiarkan semua pintu di rumah yang sedang dibangun itu tetap terbuka. Alasannya, “biar gampang lari kalo tiba-tiba hantu itu muncul!” Saya kontan menimpali, “bukannya hantu beda dimensi sama kita? Bisa tembus tembok. Gak ngaruh kan buka ato tutup pintu. Mending tutup mata!” Skak mat! Pendongeng hilang cerita. Hehe Lagi kumat jail sayah. :D

Intermeso tentang si pendongeng di atas buat saya adalah kritisisme saya terhadap sumber tutur tinular yang harus tetap dijaga demi tidak terjebak dalam adiluhungisme salah tempat. Toh, buat saya, pepatah jawa yang simpel malah saya dapat dari orang desa yang kerap menceramahi tentang, ngewongke wong.

Kembali ke buku ini. Singkat saja, cukup baik untuk mengenalkan beberapa sumber tradisional dalam puak jawa yang masih dekat dengan budaya kuthonegoro dalam mengidealisasikan sosok manusia jawa. Sementara Jaman terus bergerak dengan Tahun Jawa yang ditetapkan mulai jaman Sultan Agung terus bertambah angkanya, kemanakah budaya jawa bergerak di dalam ke-Indonesia-annya, di dalam ke-manusia-an universalnya? Masihkah ia simbol yang berbunyi? Atau semata nostalgi banci yang tak perlu ditengok karena sudah selayaknya mati?

Saya hanya bisa bertanya. Karena saya percaya jawaban adalah hak semua manusia merdeka yang tak perlu saya jejali. Sekedar meniru pitutur dari si pendongeng buat saya. Met tahun baru Suro! Salam Merdeka!

Nant’S-Nggoleki wong
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.