Si Sulung kerap menjadi andalan keluarga dan contoh bagi adik-adiknya. Tak ada pilihan, Ocay, sang anak pertama, mesti berjuang untuk hidupnya sendiri dan kedua adiknya, saat orang tua mereka tiada. Mimpi-mimpi Ocay telah dia kubur lebih dulu, demi masa depan Ike dan Irma. Rasanya hidup ini tak adil karena memberikan dia banyak derita tanpa henti. Meski begitu, pengorbanan dan amalan-amalan baik tak putus dia lakukan.
Si Tengah adalah sosok yang selalu diandalkan sang kakak. Ketika Ocay memilih menjadi pekerja migran di negeri nun jauh, Ike diharapkan mampu mandiri dan menjaga sang adik. Tak tinggal diam, demi menambah penghasilan, Ike pun giat bekerja dan tetap mengutamakan sekolah. “Kalian harus tetap sekolah,” pesan Ocay kepada adik-adiknya.
Si Bungsu sering dianggap manja. Namun, berbeda dengan Irma yang hidupnya penuh derita sejak lahir, ia tak bisa asyik sendiri. Dia tahu, bahwa kakak-kakaknya telah berjuang keras demi hidup. Irma membantu yang ia bisa dan terus rajin belajar. Ia percaya, pendidikan mampu membawa seseorang meilihat dunia lebih luas.
***
Kesabaran tak ada batasnya. Perjalanan hidup tak ada yang tahu bagaimana ke depan dan berakhir kapan. Di tengah drama kehidupan, bersama kesabaran, kita akan diingatkan selalu tentang makna ketulusan di dunia fana ini. Dan sesungguhnya Tuhan bersama mereka yang sabar.
Adhitya Mulya (Adit) aspires to be a story-teller.
At early age, Adit learned and enjoyed story telling thru visual mediums like movies and drawings. This, inspired little Adit to take up drawing as a child, and later photography in his teen years.
As a young adult, Adit tries to expand his storytelling medium thru novels. Jomblo (2003) is his first novel (romantic comedies) and was national best-seller - and later made into a movie by the same title (2006). He went on to write another rom-com novel Gege Mengejar Cinta (2004).
Adit uses novels as a medium to try new genres. Travelers Tale (2007) was the amongst the first Indonesian fiction novels with traveling theme before becoming mainstream in Indonesia. Mencoba Sukses (2012) was his effort to try on horror-comedy which later found, not working very well.
He released Sabtu Bersama Bapak (2014), a family themed novel which again became national best seller, well received, and also made its' way into motion picture (2016).
His latest novel, Bajak Laut & Purnama Terakhir (2016) - is his effort in learning how to make a thriller-history novel.
Adit's passion towards storytelling branches out from drawing, photography to novel and move scripts, which amongst other are, Jomblo (2006) Testpack (2012) Sabtu Bersama Bapak (2016) Shy-Shy cat (2016).
Setelah beres membaca novel ini, saya jadi mengecek ulang judul-judul buku karangan Kang Adhit yang sudah saya baca. Ternyata sudah hampir semuanya, kecuali dua seri novel Bajak Laut yang entah kapan akan saya lanjut.
Bagi pembaca setianya, Sabar Tanpa Batas mungkin akan dianggap sengaja ditulis untuk mengekor kesuksesan Sabtu Bersama Bapak, meskipun pada dasarnya konsep yang ditawarkan di sini berbeda jauh.
Betul, ini adalah novel drama keluarga. Meskipun Kang Adhit lebih dikenal sebagai penulis komedi, tapi ia mencoba menawarkan hal baru lewat novel ini. Seperti seorang bapak bijak yang ingin mewariskan petuah hidup secara gamblang kepada anak-anaknya.
Kalau kamu merindukan tokoh komikal atau suguhan komedi lewat catatan kaki seperti ciri khas Jomblo, silakan buang jauh-jauh keinginan itu. Hampir tak ada sentuhan komedi ala Adhitya Mulya dalam novel ini. Sebab, yang ditawarkan di sini hanyalah drama dan tragedi para karakternya.
Gambaran karakter Pak Eep dalam novel ini, misalnya, adalah antitesis dari Gunawan Garnida, sosok bapak teladan dalam Sabtu Bersama Bapak. Perjuangan Gege dalam Gege Mengejar Cinta mungkin juga tak ada apa-apanya dibandingkan usaha Ocay dan adik-adiknya dalam mengejar nasib yang lebih baik. Petualangan Ocay bekerja ke luar negeri pun tak kalah heboh jika dikomparasi dengan perjalanan Jusuf dalam Travelers' Tale.
Di sisi lain, sepertinya novel ini sengaja ditulis mengalir apa adanya dengan pengembangan plot yang cenderung cepat dan lompat-lompat, persis seperti Mencoba Sukses, yang dulu saya anggap sebagai novel eksperimental beliau. Bisa jadi, novel ini pun bentuk eksperimen Kang Adhit untuk menjaring pembaca baru yang lebih menyukai konflik sinetron-ish dan juga siap disuguhi narasi pilu yang bikin haru.
Meskipun bukan saya, mungkin kamulah salah satu pembaca itu.
Tipikal novel yang menjual drama kesedihan keluarga dengan cara yang sangat klise. Cara Adhitya Mulya meramu konflik dan menarik empati penonton terkesan begitu maksa ala sinetron FTV. Orang tua meninggal, meninggalkan utang, lalu salah satu tokohnya terpaksa harus menjual ginjal demi melunasi hutang orang tua dan menghidupi adik-adiknya. Untuk orang-orang yang baru baca novel, mungkin ceritanya akan menyentuh. Tapi untuk orang dewasa yang sudah sering dicekoki drama, ini begitu membosankan.
Komedi yang menjadi ciri khas Adhitya Mulya bahkan hampir tidak terlihat sama sekali dalam buku ini. Kalau dibandingkan dengan karya-karya Adhitya Mulya sebelumnya, mungkin ini yang paling buruk.
Cerita keluarga, yang kayaknya lebih cocok buat pembaca remaja yg masih polos dan belum memikirkan banyak hal di luar rutinitas. Misal bagaimana orang tua berusaha dan bekerja untuk membayar semua keperluan sekolah, urusan rumah, dll. Pembaca remaja mungkin takjub pada keteguhan Ocay berjuang untuk adik2nya sepeninggal orang tua mereka. Semua dilakukan Ocay agar kehidupan kedua adik perempuannya akan bersinar di masa depan.
Karena menjelang akhir buku ini udah bisa bikin air mata saya menitik, saya kasih bintang 3, deh.
Sebagai orang yang selalu punya banyak pertimbangan untuk membeli buku (terutama jika tanpa diskon), saya puas banget dengan keputusan membeli buku ini segera setelah mendengar @adhityamulya di Gramedia Merdeka 23 Desember 2023.
Benar saja, buku 264 halaman ini bisa khatam dalam 2 JAM saking serunya. Senang akhirnya bisa ketemu dengan buku yang bisa saya rekomendasikan untuk @rakarknnta & @sa.silly.sa yang nggak gitu hobi membaca.
Sabar Tanpa Batas berkisah mengenai 3 kakak beradik yang terpaksa harus hidup sendiri setelah kedua orang tua mereka meninggal.
Adalah Ocay si sulung yang di awal cerita adalah mahasiswa tahun pertama ITB, si tengah Ike yang kelas 8 SMP, dan si bungsu Irma yang masih kelas 6 SD.
Ditinggal orang tua meninggal dan harus hidup mandiri saja sudah merupakan kesulitan tersendiri. Ketiga anak ini masih ditambah menanggung hutang mendiang ayah mereka yang hobi berjudi. Bagaimana caranya coba 3 anak usia sekolah harus menghadapi tantangan hidup seberat itu.
Kalau kamu kira-kira akan bagaimana?
Adhitya Mulya yang sebelumnya sukses dengan Jomlo (Januari 2003), Gege Mengejar Cinta (Januari 2005), dan Sabtu Bersama Bapak (Juni 2014), masih mempertahankan gaya menulisnya yang sederhana dan populer.
Tidak ada pilihan kata yang bikin kita perlu buka kamus untuk sekedar mengetahui artinya. Penggunaan gaya bahasa sehari-hari dengan setting Bandung yang terasa begitu dekat keseharian kita. Itu makanya saya bilang, ini buku pas banget lah untuk para REMAJA yang gampang ngantukan kalau disodorin buku yang berat-berat.
Ritme novel ini cepat dan tidak bertele-tele. Kita bahkan dibuat kaget dengan plot twist yang datang begitu tiba-tiba dalam 1 kalimat.
Kita akan belajar bagaimana mencari SOLUSI dari TANTANGAN kehidupan yang bisa hadir tiba-tiba. Apakah harus meneruskan sekolah atau bekerja demi adik-adik bisa sekolah? Bagaimana ketika kegagalan bolak-balik datang dalam hidup? Bagaimana cara kreatif untuk bisa menghasilkan uang?
Sabar Tanpa Batas || Adhitya Mulya || Gagas Media Juli 2023 || Editor: Resita Febiratri || 264 hal 13x19cm || Nilai 5/5
Satu lagi novel keluarga dari Mas Aditya Mulya. Baca ini karena ada sisipan nama yang terafiliasi dari novel Medium Ugly.
Menceritakan perjuangan tiga beradik (Ocay, Ike, dan Irma) yang terbentuk dari seorang ayah yang ‘kurang’ bertanggungjawab.
Si sulung, menjadi yang berusaha bertanggung jawab untuk adik-adiknya, dengan segala rintangan yang dihadapi.
Si anak tengah juga mencontoh kerja keras abangnya untuk bertanggung jawab pada dirinya juga adiknya.
Si bungsu, berusaha membalas hal-hal yang diberikan kakak-kakaknya.
Sebuah pesan penting bagaimana kita perlu kerja cerdas, kerja keras, serta kerja ikhlas. Satu pesan lagi yang bisa ikut diyakini adalah “musibah tidak mendahului sedekah”, maka berbuat baik dan bersedekahlah.
Agak tinggi sih sebenernya ketika beli buku ini. Harapannya bawa ide baru seperti Sabtu Bersama Bapak.
Tapi ternyata isinya biasa aja. Plotnya terburu-buru, mudah ditebak, dan seringkali bikin kesal karena tidak masuk akal.
- bapaknya pinjam uang berbunga jadi ratusan juta - pinjam ke rentenir jadi semakin lama semakin banyak - bapaknya isdet, utangnya diwariskan - mau tetap bayar utang karena kalau gak dibayar dosa - bayar utang pake jual ginjal YANG menurut hampir semua ulama bilang adalah haram dilakukan
??????????????
This entire review has been hidden because of spoilers.
Terima kasih Kang Adhit untuk cerita di dalam novel ini. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa pahala setiap cobaan adalah dalam sabarnya. Dan, novel terbaru dari Kang Adhitya Mulya ini jauh lebih dewasa dan wise. Ayo, Kang Adhit, hubungi Rako Prijanto atau Monty Tiwa agar novel ini bisa difilmkan atau dibuat serialnya 😁
Tiga saudara; Cahyadi, Ike dan Irma, berjuang hidup untuk menyelesaikan hutang Bapaknya kepada rentenir akibat kebiasaannya berjudi. Banyak kelelahan dilalui, banyak pengorbanan diserahkan.
It was okay-ish at best. I did like Sabtu Bersama Bapak, but this one feels contrived. Anyhow, if you spend enough time on Indonesian Twitter you sure are familiar with the story revolving around poor families that have to survive with astronomical debts.