What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
First published August 10, 2023
Bu Irma Susanti: "Hidup bukan soal durasi, tetapi kontribusi."
Mita Vacariani: "Kalau enggak bisa jadi orang baik, ya minimal jangan jadi orang jahat."
Yoga Palwaguna: "Apa pun tema yang diambil, menulis dengan jujur itu penting."
"... yang waras ngalah deh, ribet urusannya nanti."
- hlm. 12
Satu hari nanti, setiap orang pasti akan tiba pada halaman terakhirnya. Pertanyaannya, sudah seperti apa kita mengisi lembar buku kehidupan itu, sehingga ketika mencapai kata tamat di halaman terakhir tidak ada penyesalan yang tersisa.
- hlm. 76
"Kalau gue tahu waktu yang gue punya sama orang yang gue sayang sesingkat ini, gue enggak akan menghabiskannya dengan dan saling memaki. Enggak ada gunanya. Lebih baik waktu yang kami miliki kami habiskan dengan saling menyayangi dan lebih peduli."
- hlm. 122
"Jadi kuat itu enggak perlu buru-buru. Enggak apa-apa kalau mau menangisi yang pergi. Diri sendiri juga butuh waktu untuk merasa sedih."
- hlm. 143
Seiring bertambahnya usia, bertambah pula hal-hal yang harus ikorbankan. Di saat yang sama, ketika usiaku bertambah, usia orangtua pun ikut bertambah, dan tidak jarang hal-hal yang harus dikorbankan itu justru datangnya dari orangtua. - 177
Aku harus angkat topi kepada mereka para caregivers, sebutan bagi mereka yang mendampingi anggota keluarga yang sakit. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan juga tanguh, apalagi jika yang didampingi adalah orang-orang sakit yang perlu terapi atau perawatan bertahun-tahun. Kebanyakan orang hanya memberi semangat kepada para pasien padahal menjadi pendamping juga tidak kalah kalah beratnya.
- hlm. 218
"Adulting is real."
- hlm. 238
Keluargaku memang tidak pernah menyatakan cinta dengan kata, tidak pernah terang-terangan memuji, tetapi mereka tidak pernah lupa menunjukkan cinta dengan caranya sendiri.
- hlm. 241.
❝Enggak perlu takut selama merias, ketakutan kamu itu cuma ada dalam pikiran. Bayangkan yang kamu rias it adalah orang terdekat dan kamu satu-satunya orang yang bisa bantu mereka di saat terakhirnya. Setiap kali merias jenazah, yang selalu Ibu bayangkan adalah seperti apa mendiang ingin dikenang di saat terakhir mereka. Meskipun kecil, mungkin setidaknya yang kita lakukan bisa sedikit mengurangi kesedihan para pelayat ketika mereka berdiri di samping peri jenazah dan melihat orang kesayangn mereka terbaring dalam keadaan yang baik.❞
—Page 27-28
❝Satu hari nanti, setiap orang pasti akan tiba pada halaman terakhirnya. Pertanyaannya, sudah seperti apa kita mengisi lembar demi lembar buku kehidupan itu, sehingga ketika mencapai kata tamat di halaman terakhir tidak ada penyesalan yang tersisa.❞
—Page 76
❝Terkadang menerima ucapan duka dari para pelayat yang datang juga melelahkan. Alih-alih mendapatkan penghiburan, ucapan duka justru menambah luka karena seakan menjadi pengingat bahwa dia yang tersayang telah tiada.❞
—Page 116
❝Kalau gue tahu waktu yang gue punya sama orang yang gue sayang sesingkat ini, gue enggak akan menghabiskannya dengan bertengkar dan saling memaki. Enggak ada gunanya. Lebih baik waktu yang kami miliki kami habiskan dengan saling menyayangi dan lebih peduli.❞
—Page 122
❝Jadi kuat itu enggak perlu buru-buru. Enggak apa-apa kalau mau menangisi yang pergi. Diri sendiri juga butuh waktu untuk merasa sedih.❞
—Page 143
❝Saya pikir setelah sering mengalami kehilangan, saya bakal jadi lebih siap. Nyatanya enggak juga. Sesering apa pun saya mengalami kehilangan, enghak lantas bikin saya jadi kebal.❞
—Page 162
❝Kadang-kadang hidup yang kita jalani itu rasanya pahit. Tapi, it tidak menjadi alasan kita jadi pahit juga sama orang lain. Kamu harus tetap jadi orang baik meskipun kadang hidup enggak berjalan sebaik yang kamu bayangkan.❞
—Page 163
❝Selama kita hidup, kita sibuk bekerja, mengejar uang, kekayaa dan kenyamanan. Kita sibuk mengejar pencapaian dan pengakua sampai kita sering kali lupa, saat waktu kita habis nanti itu semi ternyata bukan hal yang utama.❞
—Page 192