Setelah mengusahakan banyak hal pun, terkadang kekhawatiran yang entah dari mana muncul dan tumbuh dalam diri. Beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai bukti kerja keras, tetapi kadang kala ia melumpuhkan.
Kim Sanghyun menuliskan kekhawatiran yang membuatnya tertekan, sembari belajar dari pengalaman, baik itu pengalamannya sendiri maupun orang lain. Lewat buku ini, ia berusaha memaparkan jawaban-jawaban yang ia temukan tentang cara hidup sepenuh-penuhnya dan menjadi seseorang yang bisa melakukan apa saja dalam hidup.
aku jadi punya tujuan hidup yang lebih clear setelah baca buku ini, buku yang membahas tentang apa sih yang harus kita lakukan selama hidup, menyadarkan kita mana yang penting dan mana yang seharusnya nggak kita kasih power untuk mengontrol hidup kita.
i think people should read this book once in a life time, sedih krn baru baca buku ini sekarang.
Buku Kim Sang-hyun yang pertama kali diterjemahkan ke Bahasa Indonesia 'Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?' adalah buku yang mengubah pandangan saya tentang buku bergenre 'hugging essays' ala Korea. Saya pun membeli buku ini walau tanpa ekspektasi tertentu.
Seperti buku pertama dan genre 'hugging essays' lainnya, buku ini berisi kumpulan tulisan pendek yang menekankan tentang live the life with our own pace tanpa membandingkan diri dengan orang lain dan fokus kepada diri sendiri juga masa kini. Rasanya tidak ada gagasan baru yang ditawarkan buku ini, tentang berani gagal dan tidak terkungkung oleh masa lalu. Namun, sebagaimana buku 'hugging essays' pada hakikatnya, buku ini banyak memvalidasi keresahan kita, manusia modern yang dituntut untuk terus cepat dan berlarian.
sesuai sama judulnya, buku ini bikin pembaca (aku) buat lebih berani sama apa yang mau dilakuin. sebetulnya suka semua bab, tapi kayaknya favoritku yang akhir karena lebih banyak relate di situ. di sini tuh kita ga dibikin ngerasa lagi dinasehatin, dikasih petuah, atau diajarin. tapi lebih ke kim sang hyun ini ceritain pengalaman dia dan kasih tau pelajaran apa yang dia ambil dari sana supaya kita ga ngelakuin kesalahan yang sama. bukan soal aksinya aja, tapi juga soal mindset. kayak kalo di kondisi apa, mindset kita harus gimana. mungkin karena konsepnya lebih banyak cerita, jadi bacanya ga bosenin dan bikin ngantuk. meyakinkan diri kita sendiri juga supaya yakin sama jalan yang kita pilih, karena kim sang hyun sendiri udah ngelewatin banyak "tantangan" di hidupnya, tapi ujung-ujungnya ya dia berhasil. gimana ya, keliatan aja dari tulisannya kalo dia tuh ga lahir dengan "banyak privilege" yang memudahkan dia buat coba semua yang mau dia lakuin. dia bangun semuanya dari 0. abis gagal, coba lagi. gagal lagi, coba lagi. begitu terus. suka deh <3
Awal membaca buku ini, kok berasa gak ada yang baru dari buku sebelumnya Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?, walopun memang agak beda dari topiknya ya. Jadi pas setengah baca, taruh dulu deh bukunya, trus baru lanjut lagi. Kayaknya itu berhasil. Gak perlu baca buku self-improvement secara berurut.
Bagian yang aku suka dari buku kedua ini ada di halaman 92 yang menceritakan tentang bunga sakura yang bingung. Sebutan itu diberikan karena bunga sakura tahun itu tumbuh di musim gugur. Biasanya setelah melalui angin musim dingin, sakura memutuskan untuk mekar saat hangatnya matahari muncul di musim semi. Namun ada kalanya angin topan berhembus di musim panas, sehingga dikiranya ia telah melalui musim dingin. Karena itu sakura mekar secara penuh di musim gugur. Penulis memaknai peristiwa ini sama halnya dengan mencapai sesuatu, seperti keberhasilan dalam hidup. Bunga sakura tidak ikut-ikutan mekar karena bunga di sekitarnya mekar. Hanya setelah ia bertahan dari angin, ia akhirnya mekar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini adalah buku kedua Kim Sang Hyun yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sekaligus buku kedua Kim Sang Hyun yang ku baca. Jika di buku pertama rasanya seperti bertemu dengan kawan lama yang menceritakan pengalaman hidupnya, di buku kedua ini aku seperti bertemu dengan mentor yang membagikan apa-apa saja yang ia hadapi sampai ia berada di titik seperti saat ini. FYI, selain seorang penulis, Kim Sang Hyun juga memiliki penerbitan buku bernama Feelm, yang sudah menelurkan buku-buku best seller; dan juga memiliki kedai kopi, Cafe Gong Myung, yang cukup populer di Korea Selatan.
Di acara Festival Buku Asia x Patjarmerah yang diselenggarakan bulan lalu, aku berkesempatan untuk mengikuti sesi obrolan bersama dengan Kim Sang Hyun. Di sesi obrolan itu, Kim Sang Hyun bercerita bahwa ia lahir di keluarga yang memiliki background di militer dan sebagai anak laki-laki tentu ia pun diharapkan untuk mengikuti jejak keluarganya. Dari sepenggal cerita yang ia ungkapkan itu, aku langsung bisa membayangkan tekanan hidup seperti apa yang ia rasakan saat ia akhirnya memutuskan mengikuti keinginannya menjadi seorang penulis. Karena yah.. dari militer ke dunia kepenulisan kolerasinya jauh sekali, ya 😅😅 Nah, salah satu hal yang diceritakan dalam buku keduanya ini adalah kecemasannya dalam meniti karir yang sesuai dengan keinginannya itu yang tentu mendapat pertentangan dan kalimat-kalimat meremehkan dari banyak orang.
Sebelum menjadi penulis buku best seller, Kim Sang Hyun juga terlebih dulu tertarik pada bidang copy writing. Sayangnya, ia gagal di sekian banyak tes yang ia jalani (sampai 70x gagal kalau gak salah 😳😳). Ia pun mengalami kegagalan berkali-kali saat membuka kedai kopi. Sampai di satu titik aku berpikir, "kenapa sih dia masih mau coba melakukan hal yang sama padahal sudah gagal berkali-kali?" Sebagai orang yang (sangat) takut gagal (akhirnya mengakui), aku sempat merasa bahwa Kim Sang Hyun ini orang yang bebal 😂😂 Tapi dari kebebalan itu justru aku jadi belajar untuk mencoba merubah mindsetku.
Selama ini, aku hidup dengan (sangat) penuh perencanaan. Untuk hal sepele seperti makan siang saja seringkali sudah ku pikirkan sejak seminggu di muka. Aku sangat terobsesi dengan kepastian, sampai gak jarang aku berpikir lama sekali untuk mengambil keputusan. Karena aku takut mengambil resiko, karena aku takut hasil yang ku dapat gak sempurna, karena aku takut gagal. Maka dari itu aku jarang sekali mengizinkan diriku untuk mencoba sesuatu sampai maksimal. Tapi bukankah kegagalan adalah salah satu esensi dari kehidupan yang harus kita hadapi? Dan bukankah biasanya ketakutan terbesar bersemayam dalam diri kita sebelum kita mencoba memulai?
"Saat kita bergerak maju untuk mencapai impian, kita akan menghadapi banyak orang serta berbagai situasi. Namun, hal yang sangat lucu adalah bahwa hal-hal yang sangat kita takuti, yang menjadi momok bagi diri kita, yang kita coba hindari agar tidak merasa sakit, dan hal-hal yang tidak ingin kita temui, menjadi tidak berarti ketika kita menghadapinya. Juga secara ajaib, setelah kita bertabrakan terus-menerus dengan hal-hal itu, hidup kita mulai berubah sedikit demi sedikit. Kita jadi tahu apa itu kebahagiaan sejati, dan kita jadi tahu bahwa kebahagiaan yang bisa kita rasakan tersembunyi di balik hal-hal yang menakutkan, jadi hanya setelah menghadapi rasa takut itulah kita dapat mengetahui wujud asli kita."
Ku rasa buku ini memang cocok diberi judul "Apa Saja Yang Bisa Kulakukan Selama Hidup" karena aku pun jadi memikirkan apa saja yang masih bisa kulakukan selama aku hidup dan merasa bahwa aku punya potensi untuk melakukan lebih tanpa terlalu banyak cemas pada hal-hal yang (sebenarnya) tidak perlu dicemaskan.
“Gimana ya jika aku tidak tahu apa yang kulakukan dalam hidup?”
Apakah kalian pernah berpikir seperti itu? Kurasa kita akan merasakan momen bingung sama hidup sendiri setidaknya sekali. Pada saat seperti itu, masa depan keliatan buram, tidak tahu arah, bahkan tidak tahu juga bagaimana memulai sesuatu.
Melalui renungan Kim Sang-hyun di buku ini, aku melihat sisi lain di balik sebuah pencapaian. Dua hal yang beliau tunjukkan : ada jalan yang sangat panjang di balik sebuah pencapaian dan pengalaman manusia selalu berubah.
Hidup bukan hanya tentang memilih jalan dan bertahan dengan jalan tersebut. Hidup adalah tentang pengalaman, menghadapi tantangan, penemuan, dan pembelajaran.
Pada dasarnya, tak satu pun dari kita benar-benar tau apa yang kita inginkan, sebab bisa jadi hari ini kita begitu menginginkan sesuatu, besoknya sudah tidak lagi.
Dengan gaya bahasanya yang hangat, penulis membagikan cerita saat dia bekerja keras untuk hal yang dia sendiri tidak tahu bagaimana melakukannya. Aku merasa relate banget saat dia mencoba berbagai formula untuk menemukan apa spesifikasi yang tepat untuk dirinya kuasai.
Misal, sebelum seterkenal sekarang, penulis memulainya dari belajar membuat kalimat yang baik dan ikut kontes copywriter. Merasa patah semangat, pindah ke laman Facebook. Setelah itu berganti lagi, dia mengirimkan karyanya ke lebih dari 70 penerbit, itu pun ditolak. Simpulannya, untuk sampai di titiknya sekarang, dia terombang-ambing di banyak titik.
Semangat yang ikut tersuntik pada diriku setelah baca buku ini adalah kesungguhannya. ✨
Pada dasarnya, kita semua kan sama-sama ingin menjalani hidup dengan baik ya, tetapi gak tahu caranya. Tau-tau merasa ketinggalan aja. Aku suka caranya menghadapi frustasi saat gagal. “Bagaimana aku bisa mengatasi hal ini” alih-alih langsung down “Aku gak bisa melakukan ini”.
Terakhir, quote penutup yang ngena di aku :
"Jika ingin berhasil, kita hanya perlu melakukannya. Dan jika kita tidak ingin melakukannya, kita tidak perlu menginginkannya "
Follow my another book review on IG @insightcure ✨
Buku ini menurutku menggambarkan proses kehidupan penulis yang mengalami berbagai tahapan dalam kehidupannya. Seperti cover bukunya yaitu metamorfosis kupu-kupu yang berawal dari ulat kecil hingga menjadi kupu-kupu yang indah.
Memangnya apa saja yang bisa kita lakukan ketika hidup? Kita kadang meragukan diri sendiri, memberi sugesti bahwa kita tidak bisa melakukan ini dan itu, tidak percaya diri itulah yang menahan kita untuk melakukan banyak hal. Kim SangHyun menjawab keraguan kamu di dalam buku ini.
Buku ini berisi 3 bagian yang berisi bab-bab kecil penuh dengan saran dan nasihat Kim SangHyun yang ia sendiri mengalaminya, kata-kata positif bisa kamu dapatkan dari buku ini. Kim SangHyun orang yang positif banget menurutku dan itu beneran menginspirasi aku banget.
Buku ini cukup nyadarin aku kalo hal yang aku cemasin tuh sebenarnya ga perlu aku cemasin, ibaratnya kesulitan yang kita rasakan hari ini yang kita cemaskan hari ini adalah bentuk usaha kita untuk pencapaian yang kita inginkan, sebagai pondasi diri untuk lebih siap menghadapi kesulitan lain. Dan pada akhirnya kesulitan itu menjadi tidak berarti karena kita semakin kuat, masalah yang kita hadapi udah ga worth it untuk kita cemaskan. Wah beneran sekeren itu buku ini, aku merasa semua rasa letihku tervalidasi karena membaca buku ini.
Ga cuma ngasih motivasi, buku ini juga ngasih tips tips yang menurutku bisa kita terapin juga di kehidupan sehari-hari kayak kita bisa memulai hari dengan lebih produktif agar kita memiliki hari yang baik, jangan sampai hal kecil merusak hari kamu, dan itu bisa dimulai dari diri.
Walaupun buku ini cuma 132 halaman, isinya kaya akan pengetahuan banget, serius. Kita bisa ngambil banyak hal ketika membacanya. Aku sendiri bisa merasakan tekad besar Kim SangHyun dalam menjalani hidupnya yang jatuh bangun, impiannya besar sekali. Dan aku juga ingin seperti itu.
"Kita harus berhenti membandingkan karena perbandingan selalu menilai mana yang lebih unggul. Itulah yang menyebabkan mana yang terlihat baik akan lebih menonjol."
Buku yang cukup ringan dan tipis untuk dibaca sekali duduk sebagai bentuk apresiasi diri agar bisa lebih menerima kondisi kita saat ini. Terdiri dari 132 halaman yang dibagi menjadi 3 bab utama dan 1 epilog atau penutup.
Terjemahannya mudah dipahami dan bahasanya mengalir cantik mengikuti narasi dari penulisnya. Ada banyak poin penting yang ditekankan oleh penulis dalam cerita setiap babnya meskipun ada beberapa bahasan yang diulang dan terkesan tidak runtut.
Penulis banyak bercerita mengenai mimpi-mimpi dan kegagalan yang dilaluinya kemudian memberikan contoh konkrit bagaimana kita seharusnya menyelesaikan permasalahan yang kelihatannya rumit.
Ada bagian cukup mengena bagi saya yakni ketika penulis membahas "Salah satu penyebab aku terhambat adalah karena aku tidak mewujudkan satupun impian, semua yang kulakukan hanya karena orang lain juga melakukannya."
Terkadang kita memang terbawa tren dan ikut apa yang orang lain lakukan kemudian lupa dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Ini terjadi pada saya beberapa kali sehingga banyak waktu yang terbuang. Buku ini mengingatkan kita semua bahwa pentingnya memiliki self boundaries agar kita tidak kelelahan dan memiliki batasan serta pendirian sebagai bentuk tanggungjawab mengenai apa-apa yang kita lakukan.
Reminder ~Setiap yang ada di dunia ini mempunyai pembayarannya sendiri. Apa yang menjadi dirimu saat ini adalah pembayaran dirimu di masa lalu. Saat kamu menikmati keuntungan terlebih dahulu itu berarti pembayaran yang ditangguhkan. ~Bunga sakura memilih sendiri waktu untuk mekar, terkadang mekarnya di musim gugur, setelah melalui badai dan guncangan yang sangat kuat. Begitupun rumput liat yang terus hidup walau telah diinjak. Kita juga harusnya begitu, jangan fokus akan pencapaian orang lain. Fokuslah menjadi diri sendiri. ~Kita hidup di era keterampilan dan kemampuan sulit dikenali kecuali kedua hal tersebut menjadi uang. Pengakuan seseorang akan dihargai dengan uang. Jika bakat kita tidak dikenali maka kita tidak bisa menghasilkan uang. Dan tidak bisa menghasilkan uang termasuk dalam lingkup ketidakmampuan.
Buku ini adalah self improvement yang bertajuk autobiografi, karena kita belajar lewat pandangan dan pengalaman si penulisnya sendiri.
Kelebihan buku ini adalah tipisnya buku namun mengandung daging semua. Apa yang datang dari hati akan menghangatkan hati yang lain. Begitulah yang aku rasakan lewat buku esai ini. Covernya yang eye catching dan terjemahannya bikin aku suka banget sama buku ini.
Di buku ini diuraikan tips mengenai kecemasan dan kegelisahan dalam hidupmu. Tips menggabungkan unsur wirausaha, teknik menyembuhkan luka dan masih banyak hal yang lainnya.
Aku rekomendasikan buku ini untukmu. Rating dari aku 4.2/5
What Can I Do With My Life by Kim Sang-hyun is the first book of his that I’ve read. I stumbled upon it on a shelf at Cikini Library, with zero expectations. But as I kept reading, it turned out to be one of those books that makes you pause and reflect on how you’re living your own life. For me, the strongest message was about focusing on yourself, moving at your own pace, without comparing your journey with others. The book also talks about having the courage to accept failure, learning from it, and moving forward without letting the past weigh you down. I also appreciated how it keeps reminding us to think positively, act with kindness, and slowly learn to enjoy the process of life itself. It’s not a heavy read, but it leaves you with a warm push to be a little more at peace with yourself.
What I want to write? I will write something that I want everybody to know. This book teaches me how to be better, how to be good person, and how to live this life without any intervention. Of course we should think of and look at more objective things in this world, even the universe. You can do anything in your life because you are the main role in your life, but don't forget to keep thinking positively. That's what I got from this book. May you guys, read this and be better. Be happy.
Tiada hidup yg sempurna, mau se-bahagia apapun sekaya apapun. Pasti ada aja ketidaknyamanan di dunia ini. Semuanya tiba-tiba & jadi rintangan.
Lalu bagaimana jika hidup kita tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan? Apalagi yang bisa kita lakukan selain hidup sebaik-baiknya? Just live the life. Walo kadang khawatir apakah setelah kebahagiaan ini akan tiba kesedihan atau kah lebih buruk dari itu. We're all just going to be in the middle of uncertainty.
buku kedua Kim Sang-hyun yang AKU SUKA BANGET. isinya helpfull. terjemahannya ga Kaku. thanks to Penerbit Haru yang udah terjemahkan buku bagus ini dengan bahasa yg mudah dicerna.
buat kalian yang sering ga yakin atas pilihan kalian sendiri. ITS A SIGN FOR YOU TO READ THIS BOOK. I swear!
Buku ini mengangkat kisah yang sangat personal tentang si penulis. Berkaitan dengan perjalanan hidup tiap-tiap orang yang tidak bisa disamaratakan. Perlunya menjalani hidup dengan kecepatan sendiri, tanpa perlu membanding-bandingkan.
Dibaca dalam perjalanan kereta selesai. Ceritanya tentang pengalaman authornya sih, semacam esai. Tapi aku sudah nerapin hampir semua wejangannya, jadi setuju2 aja sama semua pendapatnya.
Masih memberikan ketenangan dan kehangatan seperti buku sebelumnya, tapi ga ada esai yang se-memorable kisah ibu dan pendingin ruangan (yang ada di buku sebelumnya).