Hidup kita selalu saja dipenuhi tentang orang lain. Dari bangun tidur, kemudian tangan menggapai ponsel. Tanpa terasa jari mulai scrolling beranda media sosial dan melihat kehidupan orang lain. Dari membuka status WhatsApp, beranda Facebook atau Instagram, dan video YouTube Short. Padahal, hari baru saja dimulai, tapi kita sudah mempersilahkan kecemasan dan rasa minder memenuhi pikiran sepanjang hari. Lalu, timbul perasaan tidak berguna, merasa diri belum punya pencapaian yang dapat membanggakan, dan semakin merasa diri paling sengsara.
Nyatanya, kita melihat kehidupan mereka hanya dari layar ponsel. Betapa pekerjaan mereka yang terlihat menyenangkan dan menjanjikan membuat kita membayangkan dapat berada di posisi yang sama. Mereka bekerja dan kapan saja pergi berekreasi, mereka bisa berfoto di restoran estetis dengan latar belakang laut yang indah, mereview kamar hotel yang instagramable, dan sebagainya. Alih-alih ingin mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur, tanpa terasa kita sudah menghabiskan waktu pagi yang begitu berharga untuk orang lain. Untuk orang yang bahkan tidak mengenal kita dan-sebenarnya-hanya kita yang semakin mengenalnya. Sayangnya, hal tersebut membuat kita justru tidak mengenal diri sendiri.
Perasaan sakit hati yang kita rasakan seolah-olah semua datang dari orang lain. Mereka mungkin hanya menyayat satu kali namun kita yang membuatnya terasa lebih sakit seperti seratus kali sayatan. begitulah kehidupan kita, selalu dihabiskan untuk memperhatikan, menyalahkan, dan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Kita terjerumus dalam sikap tidak bersyukur yang menyebabkan kecewa dan sakit hati.
Namun, itu semua bisa diubah. Dimulai dengan melakukan perjalanan untuk mencapai tujuan. Aku menyebutnya sebagai Peta Perjalanan Menata Ulang Diri. Empat langkah penting yang membawa kita pada tujuan baik itu. Empat langkah yang sederhana namun belum tentu kita bisa melewatinya dengan mudah. Empat langkah yang membawa pada makna berarti di balik susah dan senangnya kehidupan.
Buku ini aku beli di Mei 2024. Buku yang aku harapkan bisa membantuku menata ulang diri. Saat membelinya aku sedang dalam proses mencari penyelesaian sebuah masalah yang saat itu datang. Waktu itu aku berharap buku ini bisa jadi pelarianku dari kondisi gak enak saat itu. Tapi aku salah, aku baru bisa menyelesaikannya di Februari 2026, hampir 2 tahun kemudian.
Aku mengetahui buku ini bukan tanpa sebab, sebelumnya aku aku mengikuti kelas Menjadi Pembaca yang dipandu oleh penulisnya Bagas Rais. Kelas ini aku ikuti dengan harapan aku ingin punya ketertarikan lagi di dunia literasi. Bukan sebagai alasan, tapi benar-benar ketika sebuah masalah datang, dan aku buru-buru untuk menyelesaikannya, malahan aku sering kali tidak fokus pada banyak hal, dan terdistraksi pada banyak hal, termasuk menyelesaikan buku ini.
Alhamdulillah, saat dalam kesadaran penuh ingin berbenah diri. Aku membaca buku ini di awal 2026. MasyaAllah aku memahami buku ini, dan aku merasa cocok dengan buku ini. Tiap babnya dirasa relate dengan apa-apa yang aku rasakan dan apa yang ingin aku jalankan.
Dalam 200 halaman, buku ini terasa padat, dilengkapi dengan cara-cara mudah yang bisa kita terapkan untuk mulai berbenah diri. Sebenarnya ga mudah juga sih, karena bagiku itu balik ke pribadi masing-masing, seperti niat, motivasi atau dorongan. Karena aku termasuk tipe yang harus punya dorongan pribadi untuk memulai sesuatu.
Buku ini berisi 4 bab, 2 bab pertamanya terasa sangat panjang, sebab disinilah letak atau pondasi mengapa kita harus menata ulang diri. Menata ulang itu seperti kita tersadar ada yang harus kita benahi dalam hidup ini. Bab pertamanya bercerita bagaimana kita menyadari dan mengenali diri kita, karakteristik kita, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah yang datang membuat kita mengenali peran diri dan apa yang bisa kita maksimalkan.
Di bab ke-2 kita akan diajak melihat bagaimana langkah perubahan bergerak dari hati. Hati adalah porosnya, Hati ini adalah sumber kekuatan kita dimana dengannya kita punya keinginan, punya harapan. Hati yang punya keinginan berubah dan bergerak melakukan sesuatu. Seperti keinginanku untuk segera bangkit dari kondisi, aktifitas yang itu-itu saja. Lalu pada bab ke-3 dan ke-4, cukup singkat, karena setelah mengetahui pondasi kita ingin mengubah diri, pada kedua bab ini kita diajak untuk ulai bergerak dan fokus melangkah dengan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Bagaimana agar kita bisa tetap berada di jalan itu. Dan bagaimana kita bisa mencapai impian kita. Rintangan, kebosanan atau masalah apapun akan selalu ada, memberi diri jeda sangat dianjurkan, tapi tetap terus melangkah demi tujuan itu harus.
Sebuah pandangan yang membuatku tertarik pada buku ini adalah penulis mengajakku untuk melihat bagaimana nilai-nilai islam telah banyak mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita melangkah mengenali diri, menjalani hari-hari dengan belajar dan bekerja. Dalam dunia pengembangan diri banyak dari kita mengenalnya dari buku-buku dari barat. Padahal jika kita mau meneladani kisah para Nabi dan sahabatnya, kita akan banyak temui bagaimana mereka membangun potensi dan mengembangkan diri mereka.
Penulis bahkan menyebutkan beberapa sumber buku seputar pengembangan diri dan ia juga menggabungkan dengan nilai-nilai islam, ada beberapa sumber kitab dari para ulama yang aku sendiri baru pertama kali mendengarnya. Aku merasa buku ini seperti sebuah rangkuman dari banyak sumber bacaan. Tidak buruk, malah membuatku ingin mencari judul-judul buku itu dan ingin segera mendalami dengan membacanya.
Buku ini setebal 200 hlm & terdiri dari 4 bab yang isinya menuntun kita & mengingatkan kita inilah saatnya menata ulang diri!
Tiap bagian bab ada 3-5 sub bab yang rasanya ada aja judul yang paling jleb ngena banget pembahasannya, seperti tentang; Sadari Waktu Kita dan Hati Adalah Porosnya. Menjadi awal bab kesadaran & langkah perubahan yang bikin aku pengen terus lanjutin baca buku ini.
Kemana alokasi waktu kita selama ini? "Menjadi tidak masuk akal ketika kita ingin memperbaiki waktu yang dimiliki, tapi selama ini belum menyadari bagaimana penggunaan waktu yang sebenarnya." P. 49
Hati adalah porosnya. Semakin bersih & sehat hati seseorang, semakin baik keseluruhan hidupnya. "Memiliki hati yang baik, yang bersih, dan sehat merupakan cara terbaik untuk menata ulang diri. Hati yang bersih & sehat adalah dasar kebahagiaan kita di dunia & akhirat." P. 73
Dalam buku ini juga Mas Bagas Rais menuliskan tanda-tanda sehatnya sebuah hati. Lalu ada cara menangkal kotoran masuk ke hati, seperti belajar mengatakan tidak & berperasangka baik.
Yang bikin aku kagum Mas Bagas Rais menulis buku ini pun ternyata dapat referensi mengambil dari banyak buku-buku kece, diantaranya yang pernah aku baca ada dari buku Atomic Habit, How to Respect Myself & Goodbye Things.
Aku SUKA BANGET buku ini karena buku ini gak cuma kasih kita pemahaman "suatu cara" tapi juga kasih kita "pengingat" yang berarti banget dalam proses menata ulang diri, seperti: Mendahulukan yang Wajib & Sabar Tidak Ada Batasnya.
Aku rekomendasikan buku ini untuk kamu yang sedang butuh buku self improvement bernuansa islami untuk mulai menata ulang diri.