The current Emeritus Professor of Psychology in the University of Indonesia and the Chairman of the Cultural Committee at the Indonesian Science Academy, first received his doctorandus degree in psychology from the University of Indonesia. In 1962, he received his postgraduate degree in Social Psychology and Philosophy from the University of Toronto, Canada. Five years later, he obtained his doctoral degree in Psychology from the University of Indonesia. Fuad Hassan had written numerous books, ranging from books on philosophy to translations of short stories. Professor Hassan also served as the Ambassador of Indonesia to Egypt (concurrently accredited to Sudan, Somalia and Djibouti). From 1985 to 1993, he was the Indonesian Minister of Education and Culture.
Buku ini buku yang enak dibaca untuk topik ribet semacan filsafat eksistensialisme. Jujur saja sehabis membacanya tak lebih dari 50 persen penggambaran pandangan filsafat dari nama-nama besar eksistensialisme di buku ini yang nyangkut di kepala saya. Membaca buku appetiser-nya saja sudah puyeng apalagi buku asli karya filsuf-filsuf itu. Gubraaak. Kiekegaard, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers dan Sartre.
Tapi yang pasti, sangat menarik menyaksikan bagaimana manusia dengan pikirannya menyelami keberadaan atau kemanusiaannya. Bagi filsuf eksistensialis tentu saja jargon utamanya adalah 'eksistensi mendahului esensi'. Hal lain yang juga jadi sorotan filsuf kelompok ini adalah pentingnya kebebasan sebagai sarana dan syarat mutlak agar manusia bisa meng-ADA. Bahkan Nietzsche secara lebih tegas mengatakan bahwa gagasan atau sosok tuhan perlu mati supaya eksistensi manusia mencapai puncaknya. 'God is dead', katanya.
Sebenarnya kita dalam hidup sehari-hari sering berfilsafat. Dalam obrolan di bus kota, di pasar, di kantor atau dalam acara-acara sosial. "Hidup ini hanya sementara". "Gak ada kesenangan dalam hidup ini. Kesenangan hanya ada setelah maut menjemput, di surga nanti" dan seterusnya dan seterusnya. Filsafat 'rumahan' begini tentunya tidak akan berkembang menjadi rumusan yang mengikuti kaidah logika filsafat. Tapi hal-hal itu jelas menunjukkan kecenderungan manusia sebagai mahkluk filsafat. Berpikir dan merumuskan apa yang dilihat dan dialami atau dipikirkan manusia penting untuk menempatkan dirinya dalam konteks ruang dan waktu yang dilaluinya. Agar manusia memahami hidupnya, agar manusia merasa nyaman dan mengalami apa yang selama ini sering kita sebut-sebut sebagai....kebahagiaan.
Bagi yg tertarik mendalami aliran eksistensialisme, buku ini sangat cocok. Ditulis dgn gaya bahasa yg tidak terlalu sulit, sehingga tidak butuh waktu lama untuk memahami nya, dan buku ini pula cocok dijadikan sebagai pengantar untuk masuk ke belantara pemikiran yang bercorak eksitensialis.
Buku ini ditulis oleh salah satu menteri pendidikan dan kebudayaan ke 19 serta beliau juga merupakan seorang cendekiawan, yaitu Fuad Hassan.
Buku ini terdiri dari lima bab: Bab 1 membahas eksistensialisme Kierkegaard Bab 2 membahas eksistensialisme Nietzcshe Bab 3 membahas eksistensialisme Berdyaev Bab 4 membahas eksistensialisme Jaspers Bab 5 membahas eksistensialisme Sartre
Secara keseluruhan dari bab per bab dibahas secara ringkas dan jelas, diawali dengan masa singkat pengenalan sang filsuf, serta latarbelakang timbulnya pemikiran eksistensialisme dari para filsuf yg di bahas di buku ini, serta perbedaan perspektif mengenai eksistensialisme diantara para filsuf² yg dibahas di buku ini.
Namun pada intinya adalah, aliran eksistensialisme sekalipun para filsuf nya memiliki silang pendapat yang berbeda akan tetapi konklusi akhir dari eksistensialisme tetap pada satu tujuan yakni, mengajarkan kepada kita bahwa selayaknya kita sebagai manusia harus menjadi otentik dengan mengada nya sendiri, dan dengan mengada berarti kita harus berani bersikap bebas dan bertanggung jawab dengan seluruh keputusan yang kita perbuat di hidup ini demi keberlangsungan eksistensi kita sebagai manusia pada umumnya.
Sekian review buku yg singkat dari gw ini, kritik dan saran dipersilahkan. Monggo.
Sebetulnya ketika pertama kali dapat buku ini dan kemudian baca kata penghantarnya, saya jadi ragu-ragu. Ragu apakah akan mampu membaca sampai habis atau tidak karena topik bahasannya memang cukup berat ttg exisistensialisme. Selain itu yg menjadi pertimbangan keragu-raguan saya adalah bahasa penghantarnya yg Masih ejaan lama (saya dpt versi pustaka jaya, 1974 CMIIW). Tetapi setelah berhasil membaca habis bab pertama ttg Soren Kiekergaard, agaknya persepsi awal saya salah. Awalnya memang saya rasakan sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan ejaan lama, tapi karena bahasa dan pengandaian yg digunakan oleh Fuad Hassan mudah dimengerti akhirnya lama kelamaan jadi ketagihan dng pembahasannya yg cukup menarik. Menurut saya Fuad Hassan berhasil menyampaikan dgn cukup gamblang risalah singkat dari pemikir2 besar seperti nietszche atau satre yang sebetulnya sulit sekali dipahami. Walaupun buku ini sifatnya pengantar dan tapi sudah jadi pengantar yg baik sebelum benar-benar menyelami eksistensialisme
ketika aktif di Bandung, tepatnya di Salman, saya menemukan buku kecil ini di perpustakaan Salman ITB. begitu membaca, saya langsung suka. Cara yang disampaikan Fuad Hassan sangat sederhana, nggak ruwet. Orang awam yang baca buku filsafat seperti ini bisa mengerti dengan mudah. Isinya memang penggalan biografi filosof eksistensialisme, tapi cukup membantu pembaca baru. Pak Fuad kan pintar dan tidak sombong, sekaligus rendah hati dan murah hati. Jadi, buku ini sangat bergizi. Pembacanya tidak merasa digurui. Dan, kita tidak seperti melihat orang yang pamer kepintarannya. Terima kasih Pak Fuad.
Seneng banget bisa baca buku ini, terlebih waktu dipaparin tentang pemikiran sartre... bahwa manusia akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan dan kita berhak bertanggungjawab atas pilihan kita, sehingga kita gabisa menyalahkan org lain atas pilihan kita serta menggantungkan pilihan kita pada Tuhan.
Selain itu, pemikirannya sartre tentang objektifisme, yg dimana kita akan mengurangi kebebasan eksistensi kita grgr ada orang lain yg hadir.
Pemikiran sartre yg paling relate menurut aku, eh ngga deng... kayaknya semuanya.
Hampir semua filsuf disini pasti ada hal yg sama yaitu tentang kebebasan yg ada di diri individu...
Bagi saya, Fuad Hassan sudah berhasil membumikan konsep-konsep yang telah ditelurkan oleh filsuf eksistensialis baik teis maupun ateis macam Kierkegaard, Nietzsche, Sartre dll. Dengan membaca buku ini, sedikit-banyak saya jadi lebih tahu bagaimana relasi manusia dengan eksistensianya...
Ini adalah buku filsafat pertama yang saya baca. Amazingnya saya baca buku ini saat masih SD. Buku inilah yang kemudian membangkitkan minat saya pada filsafat.
Sebuah pengantar ringan untuk topik yang berat. Buku ini memberikan gambaran umum pemikiran tokoh2 eksistensialisme seperti Nietzsche, Kierkegaard, hingga Sartre.
Mulai pemikiran Sartre yang menolak pemikiran bahwa eksistensialisme merupakan jembatan menuju atheisme, dengan pernyataannya: "Existensialism is not so atheistic that it wears itself out showing that God does not exist. Rather, it declares that even if God did exist, that would change nothing." (Existensialism and Human Emotion, Sartre).
Hingga pemikiran radikal Nietzsche yang menyatakan "God is dead". Kemudian bahwa manusia merupakan mahluk yang "tak pasti" dan "tak mantap", dan karena ketidakpastian dan ketidakmantapan (chaos) inilah manusia bisa memahami eksistensi dirinya sedalam mungkin. "I love those whose soul is deep, even in being wounded..." "I love those who has a free spirit and free heart..." "I love those who are as heavy drops, falling one by one out of the dark cloud that hangs over men, they herald the advent of lightning, and, as heralds, they perish" (Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche)
Baca buku ini dan saya hanya bisa mengumpat. Kenapa saya nggak lahir lebih cepat beberapa tahun hingga mungkin masih bisa berkenalan dengan sang pengarang saat beliau masih bisa mondar-mandir di kampus?
Saya baca buku ini sebenarnya karena saya ambil kelas filsafat, dan karena yang nulis guru besar fakultas saya. haha.
But seriously, this was one hell of philosophy book. Saya selesai baca hanya dalam waktu beberapa jam saking nggak bisa lepasnya dari buku ini--bahkan sebelum kuliah filsafat resmi dimulai!
Dari buku ini kita bisa belajar tentang eksistensialisme dari para filsuf besar, seperti Nietzsche, Kiekeergard, Jasper, dll. Pak Fuad menulis buku ini dengan bahasa yang mudah dan terbuka sehingga saat kita membaca paham Nietzsche tentang "God is dead", misalnya, kita takkan langsung marah dan tidak setuju. This book talk more than just quotes collection.
Sebagai buku pengantar terhadap pemikiran tokoh eksistensialis, ini merupakan buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Ada 5 tokoh yang dibahas di sini, dan penulis (yang merupakan tokoh besar dalam ilmu Psikologi di Indonesia) mencoba menjelaskan pemikiran-pemikiran mereka dengan menggunakan kutipan asli dari karya mereka dan menyampaikan penjelasan di bawahnya. Buku ini tidak terasa seperti buku kuliah yang menyampaikan pesan dalam bentuk poin-poin, melainkan disampaikan dalam bentuk cerita. Saya paling suka bagian penjelasan Kierkegaard, karena betul-betul disampaikan dalam bentuk cerita kisah hidup yang menyatu dengan pemikiran filosofisnya.
Saya merasa beruntung karena masih dapat menemukan buku ini di tahun 2013, kebetulan saja saya menemukannya di sebuah situs yang menjual buku-buku online. Kalau misalnya buku ini dicetak lagi, tidak ada salahnya membeli buku ini.
baru inget belom naro buku ini di rak. untung ada yg ngaku mencuri, huh..
pertama kali baca, saat itu gw bisa berdiskusi langsung dengan penyusunnya, dengan antusiasme, humor, kerendahhatiannya, dan rokoknya... selama kelas filsafat berjalan, antusiasme itu menular dgn luar biasa, sepertinya pengen ikut loncat2 saat membahas nietzsche, berdyaev, jaspers atau sartre. transfer ide2 eksistensialisme kadang beliau gambarkan langsung secara grafis ataupun mapping, papan tulis jadi penuh..... ( begitu juga buku ini, hahaha, kan menular ;) )
buku ini mengajak pembaca untuk menyelami ide sokrates s/d kiekergaard dengan cara yang cukup simple.
Ringan dan enak dibaca. Pak Fuad Hassan nampaknya tahu bagaimana menarik peminat untuk membaca topik yang sulit. Saya sangat mengagumi beliau. Andaikan saja ia masih hidup dan mengajar, saya ingin sekali diajar oleh beliau. Ya, ia adalah salah satu guru besar di kampus saya sebelum ia wafat sebagai salah satu pahlawan Indonesia.
Meski begitu, tetap saja bagi orang-orang awam yang belum mengerti makna dan hakikat filsafat, saya tidak menyarankan buku ini. Walaupun ringan, filsafat membutuhkan penghayatan logika yang mendalam. Orang awam mungkin akan terkejut melihat filosofi dari Nietzsche atau Sartre dan menolak secara mentah-mentah.
Cukup membantu saya mengenal apa yang dimaksud dengan eksistensialisme, juga mengenal sosok para filsuf penganut aliran ini, mulai dari Nietzche hingga Sartre, juga mengenal gambaran tentang pemikiran mereka. Biar enggak kaget ketika ingin mengenal Sartre dkk lebih dekat sih, mending baca buku ini dulu (seperti judulnya "berkenalan dengan..."), karena kalau langsung baca buku karangannya Sartre macem L'Étre et Le Néant, atau nonton adaptasi karyanya yang berkaitan dengan eksistensialisme dan konsep etre pour soi segala macem seperti film Huis-Clos, entah kenapa hati rasanya langsung nggak enak dan hidup terasa seperti sebuah absurditas belaka.
udah lama bacanya..waktu kkn tahun 2000. Hasil "jarahan" di perpus sebuah desa terpencil di Blora, samalah dengan buku "Pangeran Kecil." Sudah lupa isinya, yang jelas aku ingat sempat mencatat kutipan yang menarik..yang juga sudah hilang wehehehe..tapi biasanya kalo aku sampai mencatat kutipan, bukunya cukup berkesan..jadi..3,5 bintang
Agak kesulitan di bab tentang Berdyaev dan Jaspers. Bahasa yang dipakai di bab-bab ini seringkali terlalu beristilah, misalnya "deifikasi" atau "transendensi" yang kurang dijelaskan dengan runtut. Tapi, selebihnya, banyak hal baru yang bisa kuambil dari buku pengantar ini. Existentialism is such a menacing concept.
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Bukunya tipis tapi perlua waktu agak lama untuk membacanya karena perlu dicerna pelan-pelan. Untuk pembahasan filsafat ini termasuk pengantarnya yg ringan. Untuk pemula bisa mengenal biografi dan pemikiran beberapa filsuf eksistensialisme.
saat saya menulis ini, say baru saja membaca beberapa lembar halaman dalam buku ini, tapi saya berani mengatakan kalau buku ini merupakan buku filsafat yang mudah dibaca. seperti buku-buku filsafat karangan Fuad Hassan lainnya.
Saya pertama kali baca buku ini waktu kelas 1 SMP, tahun 92. Banyak sekali kutipan yang saya ambil walau sekarang dah banyak yang hilang. Buku asyik, penuh pelajaran.