Bagian timur dan selatan Kalimantan berubah secara dramatis selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ekspansi ekonomi mengubah daerah ini. Dari tanah yang tenang, pedalaman Kalimantan orang Dayak menjadi pusat dinamika produksi untuk pasar ekspor luar negeri. Awalnya, imigran perintis dari Eropa membuka jalan, namun pada gilirannya, secara intensif mendorong datangnya populasi lokal, khususnya pengusaha Banjar dari Selatan. Ekspansi yang berorientasi ekspor berdasarkan pada dua tambang milik Barat (khususnya minyak), dan karet milik pribumi, membuat daerah tersebut mampu melakukan perdagangan luar negeri, namun juga lebih rentan dengan depresi di luar negeri. Otoritas kolonial Belanda bukan hanya memperluas pengawasan yang efektif di seluruh daerah, namun juga memperkenalkan kebijakan publik yang komprehensif. Sebuah masyarakat kolonial yang kompleks dan multi lapisan berkembang dalam perspektif historis yang menjembatani kesenjangan antara budaya Dayak kuno dengan pandangan hidup masa kini yang terletak di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.Buku ini mendeskripsikan dan menganalisis dengan baik usaha perintisan dan ekspansi di bawah kondisi ekonomi yang berubah dalam tahun transisi perang. Dengan penelitian yang cermat terhadap data statistik orisinal dan mengaplikasikan model ekonomi makro, buku ini mengidentifikasi akibat struktural ekspansi ekonomi, selain juga mengelaborasi prioritas-prioritas kebijakan publik.