Kalau saja Rinta sudah menikah seperti teman-temannya, reuni SMA ini tentu akan menjadi momen yang menyenangkan. Bertemu teman lama, bernostalgia tentang masa sweet seventeen! Pasti hore! Tapi, karena Rinta masih melajang, mampukah dia menghadapi pertanyaan standar
"Si Abang mana? Kok, nggak diajak?" "Belum menikah, ya? Nunggu apa, sih?" "Memangnya, yang dicari yang seperti apa?"
Tujuh belas tahun sejak kelulusan itu, berarti kini ia genap 36 tahun dan belum menikah! Tak heran jika undangan reuni itu menjadi begitu menakutkan. Tapi, ia harus tetap datang di reuni itu, apa pun yang terjadi. Syukur-syukur, ia sudah bisa menikah sebelumnya. Jadi, dia bisa datang dengan tenang sambil memamerkan sang Pangeran!
Tentu saja ceritanya tak sesederhana itu. Apalagi, ada jejak cintanya di masa lalu yang harus ia kenang kembali. Di dalamnya ada romantika, suka-duka, dan ... luka. Semuanya datang bersamaan membuat sindrom itu semakin akut.
Reunifobia ... gambaran riil ketika seseorang terpaksa menjalani nasib "melajang!"
kadang-kadang ... kita terlalu berharap pada sesuatu yang sebenarnya bukan yang paling baik untuk kita miliki, so ... buka hati untuk menerima hal lain adalah salah satu hal yang bisa dilakukan ... ^___^