Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tragedimu Komediku

Rate this book
Tak selamanya kita membandingkan satu hal dengan hal lain untuk berkompetisi. Tak selamanya melihat merekamereka yang menjadi juara untuk mematok standar baru tentang apa yang berhasil. Sesekali kita perlu benar menoleh ke sisi lain, ke mereka yang tertatih-tatih, yang terjatuh, bahkan yang tak bisa berlari. Dunia semestinya tak melulu soal menjadi lebih baik setiap hari, tapi juga memastikan tak ada yang ditinggalkan.
– Ada Rumput Tetangga Yang Lebih Kering Meranggas

Sebagai seorang pembaca, dengan mudah saya juga akan membela banyak jenis novel sebagai karya sastra. Tak hanya novel romansa, tapi juga cerita silat, novel horor, atau cerita detektif. Seperti film-film Marvel, novel-novel itu juga tak hanya bisa dinikmati sebagai sensasi hiburan semata, tapi juga bisa menjadi pintu diskusi intelektual
– Bukan Sinema, Bukan Sastra, Juga Bukan Kopi

***
Satu hal yang bisa menerangkan apa isi buku ini, ia merupakan kumpulan sebagian besar esai-esai yang pernah ditulis Eka Kurniawan untuk Jawa Pos. Diawali beberapa tahun lalu ketika ia sesekali mengirimkan esai untuk ikut berkomentar mengenai perkara hangat. Tak banyak, mungkin satu atau dua esai dalam setahun.

Bicara tentang sastra dan kebudayaan barangkali hal paling awal dan sering dilakukan. Tapi, diam-diam ia sering juga berpikir untuk menulis hal-ihwal lainnya. Politik, dinamika sosial, dan sedikit perbincangan mengenai etika atau sesat pikir dalam ranah filosofis, misalnya.

276 pages, Paperback

Published January 1, 2023

13 people are currently reading
55 people want to read

About the author

Eka Kurniawan

56 books1,657 followers
Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya in 1975 and completed his studies in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University. He has been described as the “brightest meteorite” in Indonesia’s new literary firmament, the author of two remarkable novels which have brought comparisons to Salman Rushdie, Gabriel García Márquez and Mark Twain; the English translations of these novels were both published in 2015—Man Tiger by Verso Books, and Beauty is a Wound by New Directions in North America and Text Publishing in Australia. Kurniawan has also written movie scripts, a graphic novel, essays on literature and two collections of short stories. He currently resides in Jakarta.

Eka Kurniawan, seorang penulis sekaligus desainer grafis. Menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karyanya yang sudah terbit adalah empat novel: Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), dan O (2016); empat kumpulan cerita pendek: Corat-coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015); serta satu karya non fiksi: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (30%)
4 stars
25 (51%)
3 stars
8 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Siraa.
259 reviews3 followers
November 7, 2023
Seperti kata Karl Max, Sejarah mengulang dirinya sendiri, yang pertama adalah Tragedi dan selanjutnya hanya komedi. Disanalah posisi dari kumpulan Esai ini. Tidak hanya kita diberikan sebuah peristiwa yang sangat memilukan namun juga memberikn kita sudut pandang baru tentang evolusi sebuah bencana menjadi humor yang tidak lucu sama sekali.
Esai disini satir. Mengambil contoh tentang esai seorang wanita yang menolak dipanggil mbak karena tidak ingin dianggap pembantu padahal "mbak" itu adalah panggilan yang sopan. Esai yang lain tentang hitung-hitungan perbuatan baik dan buruk. Tidak apalah pejabat itu korupsi sekali-kali, toh dia juga sudah membantu masyarakat berkali-kali. Jleb
Profile Image for asih simanis.
209 reviews134 followers
April 11, 2025
Tragedimu Komediku adalah buku kumpulan esai yang ditulis oleh Eka Kurniawan untuk Jawa Pos antara tahun 2018 hingga 2022. Karena ditulis untuk koran, setiap esainya sangat pendek—hanya sekitar empat halaman—dan berisi refleksi Eka terhadap berbagai hal: buku yang baru ia baca, politik, pendidikan, kondisi negeri, dan (paling sering) soal kesenjangan.

Bagi yang belum familiar, Eka Kurniawan adalah salah satu penulis Indonesia paling brilian (mungkin) di generasinya. Bukunya Manusia Harimau pernah masuk daftar pendek Man Booker Prize, sebuah penghargaan sastra bergengsi dunia—meski akhirnya tidak menang. Buku-bukunya yang lain, seperti Cantik Itu Luka, O, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, juga mendapat banyak perhatian, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai penyuka buku, wajar kalau saya penasaran ingin membaca sisi lain Eka—bukan fiksinya, melainkan pemikiran dan pendapatnya.

Secara umum, buku ini tidak mengecewakan. Bahkan hanya dengan membaca 1–2 halaman awal, pembaca seperti saya langsung bisa melihat kepiawaian Eka dalam merangkai kata. Kalimatnya tajam, tanpa repetisi yang tidak perlu, dan—seperti biasa—susunan bahasanya nyaris tanpa cela. Beberapa paragraf membuat saya berhenti, mengulang, dan mengagumi betapa cemerlangnya pilihan kata yang ia gunakan.

Namun, menulis esai—terutama yang berisi opini—bukan hanya soal merangkai kata dengan indah. Bagi saya, ia juga soal alur logika, kemampuan menyampaikan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan, atau sudut pandang yang berbeda. Dalam hal ini, meski ada beberapa esai yang kuat, sebagian besar terasa kurang menggigit. Maka, kalau bicara sebagai esai, saya pribadi merasa ini bukan karya terbaik Eka.

Meski begitu, saya menangkap satu pola menarik dari fenomena penerbitan kumpulan esai penulis-penulis besar seperti Eka atau bahkan pemikir seperti Rocky Gerung. Jika saya adalah editor mereka, saya tidak akan sekadar mengumpulkan tulisan berdasarkan urutan waktu terbit. Saya akan mengelompokkan esai-esai mereka berdasarkan tema, lalu meminta mereka menyusun ulang narasinya agar membentuk satu rangkaian logika yang utuh.

Memang, hasil akhirnya bukan lagi kumpulan esai harian. Tapi pertanyaannya: untuk apa menerbitkan buku kumpulan esai tanpa menyusun ulang narasi dan logikanya? Bukankah esai-esai itu sudah cukup menjadi respons peristiwa saat dipublikasikan di media? Dan jika kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, tidakkah seharusnya ada tambahan catatan atau penyesuaian agar cocok dengan medium baru?

Saya tidak tahu pasti jawabannya. Tapi bagi saya, buku seperti ini—yang hanya mengandalkan nama besar penulis—justru terasa merendahkan dunia penulisan kita. Bukankah sebuah buku seharusnya melewati proses yang lebih panjang daripada sekadar kompilasi? Dan bukankah medium yang berubah seharusnya juga menuntut bentuk penulisan yang berbeda?

Saya tidak tahu. Tapi saya pikir itu penting untuk dipertanyakan.
Profile Image for risal.
29 reviews7 followers
December 23, 2024
Membaca esai Eka Kurniawan selalu menyenangkan, mulai dari Senyap yang Lebih Nyaring, Usaha Menulis Silsilah Bacaan: Blog 2008-2011, 2015-2019, hingga Tragedimu Komediku. Kenapa menyenangkan? Karena ada bertumpuk-tumpuk rekomendasi bacaan!

Saya menganotasi setiap kali Eka menyebut nama penulis atau judul buku, dan hasilnya voila!, hampir setiap halaman bertanda kuning. Mulai dari yang hanya ditulis nama penulisnya saja, judul bukunya saja, kedua-duanya, atau bahkan diulas secara lebih mendalam baik bpenulisnya atau bukunya. Ada dua obituari dalam buku ini, satu ditujukan untuk Budi Darma dan yang lain untuk Hilman Hariwijaya. Sementara buku sebagai core tulisan, lebih banyak lagi.

Saya paling terkesan dengan esai "Menerima Kekalahan," di mana Eka menceritakan kisah Dr. B dalam novel "Kisah Catur" karya Stefan Zweig.

Sebab ia tak bersiap untuk kalah. Ia hanya melatih dirinya terus-menerus untuk menang. Ia lupa bahwa kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah. (hal. 20)

Ribuan pertandingan catur yang dimainkannya hanya ada di kepalanya dan melulu merupakan latihan atau pertandingan untuk menang. (hal. 21)

Berapa banyak manusia di muka bumi ini yang relate dengan hal itu? Terlampau perfeksionis, selalu dituntut (atau menuntut dirinya sendiri) untuk melulu menang? Sehingga ketika dihantam kegagalan atau kekalahan, dunia bagai berhenti berputar. Inilah kekuatan tulisan: meskipun saya belum pernah membaca karya Stefan Zweig tersebut, hanya dengan membaca esai Eka Kurniawan dan merasa relate, saya jadi tertarik untuk membaca novel aslinya.

Saya akan menutup review ini dengan ungkapan Leo Tolstoy yang sampai disebut dua kali sepanjang buku Tragedimu Komediku: "Keluarga bahagia serupa satu sama lain. Keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing." Yang rupanya, setelah saya telusuri ada di novel Anna Karenina. Selamat membaca dan ber-tidak bahagia!
Profile Image for Ursula.
305 reviews19 followers
January 13, 2024
I'd love to believe that writers, especially fiction writers, possess more imagination than the general population. They tend to be more sensitive to changes and emerging social issues and have the ability to articulate their thoughts convincingly. But aside from how someone cooks up a delectable word salad that others can enjoy, what's more important for me is the perspectives and lenses they use to form those thoughts. Writers are rich with unique lenses that allow them to see things from many different perspectives, offering a fresh, creative opinion that others might not have considered before.

Eka Kurniawan is an Indonesian writer whose name gained prominence for his novel "Cantik Itu Luka." However, compared to his novels, I actually enjoy his blog posts more, especially the book reviews. Just like his novels infused with magical realism, Eka's way of seeing social issues and phenomena is full of wonders. That's what makes the essays in this collection interesting to me.

A compilation of his newspaper columns, these essays explore various political and social issues. Many of them are well-known, such as the weird trend where a few non-Chinese Indonesian women want to be called ‘cici’ (older sister or just how Indonesians usually call Chinese Indonesian ladies), the rising backlash against code-switching, and the widespread utilisation of artificial intelligence. Despite the essays being written in 2022, the content and reflections offered in them are still relevant to me even after finishing reading the book.

One essay that interests me the most, and also exemplifies the point I made in the first paragraph, is when he explains Gramsci’s hegemony using a cat as an example. Who would have thought?

So far, I'm enjoying the essays in this book and would recommend it to anyone interested in social issues. Next, I'll get his book review collections, the ones that brought me to him in the first place.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
April 2, 2024
Kumpulan esai dari Eka Kurniawan yang pernah diterbitkan di Jawa Pos dari 2018 sampai 2022. Di sini ia membahas banyak hal, seperti sastra, politik, sosial, dan hal filosofis lainnya. Membaca buku ini jadi membuat saya berpikir tentang hal-hal sederhana tetapi jika dimaknai, ternyata bisa menjadi kisah yang menarik untuk dibaca. Contohnya seperti pada judul "Jangan Lupa Bintangnya, Kak!" yang membahas tentang rating yang diberikan orang lain terhadap performa pengemudi ojol atau toko daring. Bagaimana kita bisa yakin bahwa orang lain tersebut bisa objektif dengan penilaian yang ia berikan? Sebab, kita sering menemui ada pengemudi ojol atau toko daring yang sudah memberikan pelayanan terbaik, tetapi si pelanggan malah memberikannya nilai rendah (bintang tiga atau empat), bukan lima. Kemudian, dari masalah tersebut, Eka pun berpikir seandainya penilaian tersebut diterapkan di segala bidang:

"Bagaimana kalau saya memberimu satu bintang hanya karena kamu tak pernah sembahyang, karena kamu pakai kaus bola klub saingan, atau karena kamu berambut gondrong? Yang artinya, sesuatu yang pada dasarnya urusan personalmu tiba-tiba memperoleh penilaian seola-olah itu bersifat publik?" (halaman 210)


Itu hanya satu dari puluhan esai yang dihadirkan di sini.
Profile Image for jauh hari fuad.
6 reviews
June 7, 2025
buku ini memperlihatkan refleksi eka terhadap berbagai aspek di kehidupan manusia, dan hampir semua tulisannya berkelindan dengan politik-kekuasaan. saya bukanlah seorang pembaca apalagi terfokus ke esai, tapi buku ini memperlihatkan kejelian eka melihat cela dari segala hal dan kemahirannya merangkai hal tersebut menjadi esai yang membuat pembacanya, setidaknya saya, ikut merefleksikan hal yang direfleksikan eka.

secara pribadi, saya suka salah satu esai dalam buku ini yang berjudul 'mainnya kurang jauh'. bagi saya, nafas dari buku ini ada di esai tersebut, sebab dalam tulisannya itu eka mempertanyakan perihal mengalami dan memaknai hidup yang menjawab bagaimana eka, seharusnya manusia, mengalami dan memaknai hidupnya sendiri. selain itu, saya jadi ingat kondisi negara saya saat eka berbicara tentang prajurit tanpa perang dalam esainya 'payung tanpa hujan.

buku ini adalah kumpulan esai eka yang terbit di jawa pos di rentang tahun 2018 sampai 2022. artinya, isi buku ini sebenarnya, besar kemungkinan, telah dibaca oleh para pengikut eka di rentang tahun tersebut, termasuk saya. tidak ada kebaruan dari buku ini selain pemaknaan yang terus berubah. tapi di luar dari itu, buku ini saya sangat sarankan bagi siapapun, termasuk bagi yang sedang tidak ingin membaca.
Profile Image for Deny.
58 reviews4 followers
September 18, 2025
Menarik semua kumpulan Esai dari Eka Kurniawan. Ada 70 Esai, menyorot tidak hanya tentang politik, pun kehidupan sehari2. Membaca dengan bonus banyak pengetahuan baru tentang penulis dan novel2 dari luar yang dihadirkan sebagai data dan fakta.
Profile Image for Andy Wijaya.
74 reviews7 followers
May 2, 2024
Membaca buku ini, seperti, napak tilas kondisi indonesia (politik, dan pra-pasca pandemi) dalam perspective Pak Eka Kurniawan. Simple, lugas dan mengena.
3 reviews
December 21, 2024
Esainya ringkas, padat dan menggunakan bahasa yang ringan. Biarpun setiap esainya singkat tapi memberi efek riak yang jauh.
164 reviews
November 16, 2023
Eka Kurniawan makes me want to write something, but at the same time makes.me feel insecure about my writing ability
Profile Image for Ibnusiddikkk.
8 reviews
February 13, 2024
Menarik nya buku ini adalah dalam setiap cerita selalu ada pesan sarkas, entah itu untuk kita sebagai manusia makhluk sosial atau teruntuk pemerintah.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.