"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."
"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."
This book is 4.5/5‼️ Udah lama banget bang tere ga ngeluarin buku historical fiction so really happy when this book comes out🥹
Untk alurr very very happy krn pov nya gak biasa bgt yaituu dr sisi bajak laut yang tersakiti (sipaling tersakiti gatu). Tapii itu dia alasan kenapa sinopsis belakang buku ini tentang sakit hati gitu. Tokoh dan karakter di buku ini tuh juga yang lovable jadi tidak akan membuat anda kesal kecuali penjahatnya, ya pasti ngeselin lah ya. Hikmah dari buku ini yang jelas apa yang baik belum tentu baik dan apa yang jahat belum tentu sepenuhnya jahat.
Overall sgt sgt sukak dgn buku ini, definitely worth to read✨
It was good, yet not the best of Bang Tere. Sejarahnya dapat, laganya dapat, lucunya juga ada, tapi menurutku kurang di narasi dan ending-nya mungkin, ya.
Untuk ukuran buku fantasi, buku ini lumayan seru. Strategi2 perang para bajak laut dalam rangka menjatuhkan kerajaan Sriwijaya terbilang cerdas. Untuk itu sendiri gue bisa kasih 4 bintang.
Yg buat gue pada akhirnya mutusin engga bisa kasih 4 bintang untuk keseluruhan ceritanya a/ kurangnya unsur emosional dari buku ini. Sedih, marah, puas dari segala alur ceritanya entah kenapa gue engga merasakan itu. Contohnya ketika ada salah 1 karakter yg meninggal. Gue engga bisa ikut merasa sedih/simpati.
Plotnya cepat, ngalir, tapi bagi gue belum page-turner sampe bikin pengen balik2 halaman terus.
Ceritanya sungguh menghiburkan. Perjalanan Masud si pembuat peta bersama sama kumpulan perompak diceritakan dengan sangat baik oleh Tere Liye. Setiap bab yang ada tidak langsung membosankan. Dengan babak peperangan, perkelahian dan pengorbanan, cerita setebal 444 halaman ini sangat memberi pengajaran yang berguna.
Seperti naskhah Tere Liye yang lain, anda akan tutup naskhah ini dengan 1001 nilai dan anda pasti akan memikir kembali apakah makna hidup yang sebenar. Dan sebagai seorang manusia, apakah tujuan anda berada di bumi ini.
Ini adalah buku pertama saya di tahun 2024. Gaya menulisnya Tere Liye banget. Saat membaca buku ini, kita bisa menebak bahwa bang Tere yang menulis ini. Buku ini perihal dendam dari beberapa tokohnya dengan bumbu politik yang kental. Ada salah satu tokoh pembantu yang namanya membuat salah fokus. Hehehe. All in all, it is a good book to read. Funny, witty, with a pinch of irony.
siapa juga di sini yang langsung bayangin pirates of the caribbean atau One Peace? wkwk, kita samak!
gentong air itu persis banget Luffy. sisanya, seakan-akan natural dan nyata sekali. seru banget dunia yang diciptain di buku ini. salah satu yang bisa saya tarik adalah, kejahatan itu ada karena kebodohan. mau dibilang pintar, licik, cerdas, atau apalah, pelakunya, tetap saja saat berbuat jahat mereka itu bodoh.
awalnya kaget banget, eh, ada buku baru? asik! wkwk. ga sabar dengan petualangan lainnya, Bang Tere. btw di buku ini, beberapa bab awal saya baru aja memikirkan, apa bisa saya kontak beliau dan menyampaikan beberapa hal, ya? ada yang mau direquest juga.. eh, di tengah buku ini saya seakan menemukan jawaban, wkwk. keren!!
Awalnya sih gw skeptis sama buku ini, takut ngebosenin kayak buku Rindu, tapi ternyata pas baca seru dan ngalir terus ceritanya! Rasanya kayak dibawa jalan2 sm perompak dan ikut terbawa sama background kisah para tokoh wkwkwk, trus ada bagian2 yg menurut gw kek nyindir kondisi negara ini, bikin gw ngomong, "AKH INI DIA RELATE!🤣"
Oh paling buat kekurangannya...gw agak ketawa aja di penjelasan pas battle antara perompak dan lawan, krn ada "sound effect"nya😁 mungkin bagus sih buat bikin pembaca makin terbawa suasana, tp bagi gw pribadi kesannya jd aneh, cuma itu doang sih, selebihnya mah tetep buku ini emang menarik buat dibaca👍😙
Cerita sejarah yang dikemas dengan menarik dari sisi lain ini bagus! Al badugi jadi nama favoritku walau karakter favoritku adalah si burung merpati yang membawa pesan didetik-detik krusial. Harus singgah dan terusir lalu dikejar elang. Malang betul nasibmu merpati.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini menceritakan Mas'udi al-Baghdadi seorang kartografer yg ingin menuntaskan misinya dulu bersama ayahnya untuk membuat peta SwarnaDwipa (Sumatra), dalam perjalanannya kapal yg ditumpanginya dijarah oleh perompak jadi semua peta & alatnya diambil perompak juga. Namun, dia berencana mengambil kembali peralatannya dengan cara mengendap-endap di kapal perompak itu tapi sayang dia tertangkap dan diadili oleh perompak untunglah dia diselamatkan oleh seorang biksu bernama Tsing. Dari pertemuan itu Tsing ingin Mas'ud menemui seorang raja perompak bernama Remasut kalau masih ingin melanjutkan tujuannya karena hanya dengan bersama raja perompak itulah dia bisa membuat peta SwarnaDwipa.
Di saat yg bersamaan Raja Perompak Remasut juga sudah punya rencana yg matang untuk datang ke kerajaan Sriwijaya di SwarnaDwipa lalu menghancurkan kerajaan itu, karena sebuah dendam di masa lalu. Lalu dimulailah petualangan Mas'ud Al-Baghdadi bersama perompak untuk menaklukkan kerajaan Sriwijaya.
Novel ini kental sekali akan dendam, sakit hati & juga kebencian akan masa lalu mereka. Beberapa tokoh atau petinggi kelompok bajak laut selat Malaka yg dipimpin oleh Remasut memiliki satu tujuan tersendiri yaitu membalaskan sakit hati dan dendam mereka yg berhubungan dengan kerajaan Sriwijaya. Seperti Emishi sang samurai buta, Pembayun sang penasihat, Hulubalang kedua, Masiku sang buronan 1000 wajah & biksu Tsing. Namun kebanyakan dari tokoh² itu menganggap bahwa dendam & sakit hati itu adalah Hal Yang Telah Lama Pergi sisanya adalah menuntaskan misi mereka.
Buku ini menceritakan latar cerita kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Namun, setelah kita baca baik² sepertinya itu cuma kamuflase yg berisi kritik & sarkasme keadaan yg tidak jauh berbeda di masa sekarang yg pejabat²nya sibuk memperkaya diri sementara rakyat menderita kesulitan ekonomi. Buku ini juga mengajarkan bahwa kita seharusnya memeluk erat kenangan buruk seperti dendam, sakti hati & tangis di masa lalu karena dengan memeluknya erat maka hal Yang Telah Lama Pergi akan datang kembali yaitu keberkahan hidup & kebahagiaan hati.
⛵ Mengisahkan tentang Mas'ud, sosok pembuat peta (𝐊𝐚𝐫𝐭𝐨𝐠𝐫𝐚𝐟𝐢) yg berasal dari Bahgdad. Siapa sangka niatnya mengembara utk menyelesaikan misi sang Ayah, membuatnya terjebak berada di kapal yg berisi para perompak yg menyimpan sakit hati dan mempunyai misi melakukan pembalasan dendam kepada 'Kerajaan Sriwijaya'. Siapa saja mereka? Bagaimana kisahnya? Berhasilkah Mas'ud menyelesaikan misinya? Baca sendiri deh ya 😁
⛵ Buat teman² yg sudah membaca Rindu, kisah kali ini vibesnya mirip secuil 🤏 yaitu latarnya di atas kapal, itu aja. Sisanya jauuuhh 😂 di samping memang misi perjalanannya berbeda, aksinya lebih banyak. ⚠️Karena tokohnya perompak sudah pasti sepanjang kisah banyak adegan kekerasan ya. Dan seperti karya lainnya, saat membaca kita akan menemui kisah di dalam kisah.
Cukup mudah diikuti, meski sempat merasa bosan kala si Mas'ud sedang berlatih dgn Emishi. Kenapa ya g'semenarik Ali ketika sdg berlatih ?😅. Terus aku agak kesusahan membayangkan kondisi peperangannya, dgn ratusan kapal di tengah lautan. Tapi karena mau ikut bedah buku dgn penulis di kala itu, jadi dgn semangat tetap aku lanjutkan, meskipun ujungnya pas hari H belum selesai jg bacanya 🤭. Tentu saja pada akhirnya selesai juga kok sampai ending. 🤩
Banyak hal menarik yg ku temui seperti beberapa kosakata baru, membaca kisah ini juga membuatku mau g'mau googling terkait Kerajaan Sriwijaya kala dulu. Aku cukup terhibur dgn sosok para tokohnya dan cukup puas dgn endingnya. G'nyangka sama plot twis tentang sosok Rajanya, juga beberapa nama tokoh yg aduhai. 😬 Btw permasalahan di sistem kerajaannya itu mirip sama dgn apa yg terjadi di negeri kita :'(
Sebagaimana disampaikan penulis dalam bedah buku kemarin, bahwa 𝐊𝐞𝐫𝐚𝐣𝐚𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢. Semoga 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 g' tinggal namanya juga ya karena penguasa dan rakyatnya. 🤧
Bermula dari seorang pembuat peta yg bernama al-Baghdadi dalam misi menjelajahi pulau Swarna Dwipa,untuk menyelesaikan peta pulau tersebut yg telah belasan tahun terhenti. Namun, siapa sangka? Perjalanan tersebut malah membuatnya bertemu dengan takdirnya. Yaitu bersatu dalam membantu sebuah misi Raja Perompak, lewat seorang biksu.
MENEGANGKAN!!!!!!; Itu yg pertama kali aku rasakan saat membaca bab demi bab cerita ini.😱 Penulis berhasil membuat setiap alurny seakan nyata di dalam mata kepala kita sendiri. Seolah-olah kita seperti masuk untuk menyaksikan setiap alur cerita tersebut, apalagi dalam menyaksikan semua sakit hati, kebencian, dendam kesumat beberapa tokoh tersebut. Terutama membuat kita menyaksikan betapa liciknya para penjilat itu!!.
PENUH PLOTWIST!!! Gak ketinggalan pula, penulis berhasil membuat plotwist yg g disangka-sangka. Semua rencana yg disusun apik dalam alur cerita tersebut. Nyatanya, malah membuatku semakin menduga-duga "Apa yg akan terjadi setelah kejadian itu?" Membuat semua dugaan ku melesat jauh👀.
Yang aku suka dari cerita ini adalah banyak sekali pesan-pesan moral yg bisa kita petik . Salah satu pesan moral yg aku petik lewat fersiku sendiri adalah: ✨Boleh jadi orang yg kita lihat baik adalah orang munafik yg paling menjijikkan. Sedangkan kebaikan kebaikan yg tidak disangka-sangka justru datang dari orang-orang yg dikira jahat. Ibaratnya, 𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒃𝒖𝒌𝒖 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒄𝒐𝒗𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂. 𝑻𝒂𝒑𝒊, 𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒔𝒊𝒏𝒚𝒂.
Jika kalian mengira tokoh utama dlm cerita ini adalah si pembuat peta. Kalian keliru!! Justru Raja perompak lah sang tokoh utama dalam cerita ini.
✨Aku rekomendasiin buku ini ,buat kalian yg lagi nyari bacaan yg menyayat hati namun penuh makna . Kalian akan dibuat menangis ,tegang , penuh emosi dan pastinya susah Muvon untuk beberapa Minggu kedepan akibat buku ini.Dan pastinya ,kalian juga akan tau trik bodoh nan licik para penjilat kerajaan dalam merampas hak rakyat sendiri 😤 🤍
This entire review has been hidden because of spoilers.
Berharap buku ini bersinggungan tipis sama cast nya serial aksi Tere Liye (Negeri Para Bedebah - Tanah Para Bandit), terus baru ngeh kalo ini beda masa gaksi? Hehe yaaasudah. Ngga ketemu Mang Thomas sama Mang Bujang dulu padahal ini juga banyak tarungnya 🥱🤪
Menilik pembawaan cerita Tere Liye memang cenderung khas ringan dibaca, page turner, tapi kadang ada beberapa part yang bosen juga karena udah pernah ada yang mirip-mirip tuh di halaman depan (kaya pertarungan di Kerajaan Sriwijaya tuh banyak aku skip, karena bosen aja sih).
Yang Telah Lama Pergi cerita tentang perjalanan Mas'ud Al Baghdadi seorang Kartografer yang tengah dalam misi menyempurnakan peta Pulau Swarnadipa. Perjalanannya membawa ia bertemu dengan Biksu Tsing, Pembayun, Raja Perompak, Emishi Samurai Buta, Remisit, Ajwad dan lainnya. Bukan perjalanan yang mudah namun penuh arti dan pembelajaran. Seperti biasa Tere Liye membawa cerita dengan menyelipkan hikmah dan pelajaran kehidupan. Tidak melulu balas dendam itu buruk, balas dendam yang kemudian diresapi dengan niat yang baik, dibawa dengan tindakan positif, menghindari perpecahan, justru membawa pada kemakmuran. Setidaknya itu yang terwujudkan di cerita ini.
Kalau lagi pengen baca buku bagus tapi nggak berat dan mudah dipahami, memang bukunya Tere Liye pilihannya. Bener-bener rasanya mataku akrab banget sama pembawaan narasi Tere Liye, nggak kerasa beban dan tautau udah selesai aja.
Minusnya buku ini buat aku ada di bosan bagian bertarungnya aja sih hehe lainnya okeee. Sebagaimana sebelumnya, setting dan jalan cerita buku-bulu Tere Liye selalu sangat easy to remember, jadi rasanya nggak perlu baca lebih dari 1x. Wont reread this book, I think ✨🤏🏻
mungkin karena buku ini termasuk karya lama dari tere liye, menurut saya banyak sekali plot hole dalam buku ini. saya akan memaparkan pandangan saya mengenai buku ini.
dalam buku yang memuat banyak aksi dan tarung, menurut saya penulis terlalu banyak menggunakan onomatope. hal tersebut menyebabkan saya cepat bosan dan selalu ingin melewati deskripsi tentang adegan pertarungan.
saya rasa beberapa adegannya juga terinspirasi dari kisah penaklukkan konstantinopel oleh mehmed ii. bagi saya yang telah membaca kisah mehmed ii, cerita dalam buku ini tidak lagi terasa spesial dan ‘wah’.
beberapa contoh lain lagi misalnya remisit, sepupu raja perompak yang dikenalkan dalam buku tidak sejak awal dan meninggal di tengah cerita. hal tersebut membuat saya sebagai pembaca tidak terlalu sedih atas kematiannya.
lalu, saya merasakan kejanggalan ketiika al-baghdadi mengetahui adanya badai yang akan datang. memang, al-baghdadi seorang pengembara dan kartografer yang mengetahui kondisi alam. tetapi notabenenya kurang logis jika para bajak laut yang 24/7 berlayar di lautan tidak mengetahui akan adanya badai. apalagi al-baghdadi sendiri adalah orang arab yang biasanya memiliki sedikit pengetahuan tentang kelautan, jika dibandingkan dengan orang laut itu sendiri.
yang terakhir, mengenai peta. saya tahu, tere liye memang tipe penulis yang sedikit sekali menampilkan ilustrasi dalam karyanya. tetapi dengan tokoh utama seorang kartografer, saya rasa sangat amat kurang jika tak terlampir ilustrasi peta. dengan ketiadaan peta tersebut, saya juga merasa cukup sulit untuk memproyeksikan cerita di dalam kepala saya.
namun saya tetap memberikan dua bintang karena masih banyak bagian yang menarik, misalnya mengenai background story mengenai masing-masing tokoh. cerita juga ditutup dengan cukup baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kesan keseluruhan yang saya dapat setelah membaca buku ini adalah; pertempuran satu sisi.
Ada beberapa hal yang saya jujur ya agak kurang sreg dari awal sampai akhir buku ini. Tapi sebelumnya, buku dari bang Tere ini ngambil kisah di zaman kerajaan Sriwijaya di mana para perompak yang dipimpin oleh Raja Perompak, Remasut, mau menggulingkan kerajaan itu karena sistem pemerintahan yang bobrok dan banyak merugikan rakyat. Di dalam rombongan Raja Perompak itu bergabung tokoh-tokoh yang membawa tujuan masing-masing, seperti Pembayun, Emishi, dan juga Mas'ud yang menjadi tokoh utama di buku ini.
Mengapa saya sebut pertempuran satu sisi doang? Karena dari sejak awal dimulainya cerita sampai ending, cerita cuma fokus ke bagaimana para perompak ini ngalahin kerajaan Sriwijaya. Gada emosi dari lawan. Lawan cuma terasa kayak sebagai tujuan tanpa pemikiran sendiri. Makin ga suka apalagi pas ending ternyata Raja Sriwijaya itu cuma boneka. Ngerti ga? Maksudnya ini pertempuran yang gada pembalasan emosi dari pihak lawan. Cuma balas menyerang doang tapi gada penjelasan konflik yang mendalam dan emosi di antara mereka.
Hal lain yang saya mulai kurang agak suka dari gaya penulis satu ini adalah ceritanya yang mulai terlalu fiktif. Saya suka cerita fiktif, tapi juga yang masuk diakal dan ga banyak kebetulan yang terlalu disengaja kayak dalam cerita ini. Contoh kecilnya Remisit, sepupu Raja Perompak, yang terombang-ambing selama berbulan-bulan di tengah laut dan bisa bertahan hanya dengan memancing. Secara cerita masuk akal, tapi secara logika?
Satu lagi, penjelasan soal kerajaan Sriwijaya dalam buku ini agak kurang megah. Masa iya Kerajaan Sriwijaya pake raja boneka? Masa iya Kerajaan Sriwijaya yang dulu cakupan wilayahnya luas seluas itu prajurit-prajuritnya cepat dikalahkan musuh apalagi ini perompak?
Buku Tere Liye kali ini mengangkat topik sejarah di masa lampau, ttg kartografer (pembuat peta yg tergambar pd cover buku🗺) & perompak. Membalaskan dendam & sakit hati. Pertarungan epik, 10 tahun rencana matang. Dgn sudut pandang orang ketiga serba tahu, cerita berisi 36 bab + Epilog ini mengantarkan kita kpd Al Mas'ud dr Baghdad yg hampir dipenggal oleh perompak sblm diselamatkan oleh Biksu Tsing. Stlh beberapa rangkaian kejadian, mau tidak mau situasi memaksa Mas'ud untuk mengikuti kapal perompak—bersama sang Raja Perompak, Remasut. Dari sinilah dimulai perjalanan Mas'ud demi bertahan hidup & membuat Peta Swarnadwipa (Sumatera) legasi dari sang Ayah agar bisa segera kembali ke Baghdad, sekaligus perjalannya menyaksikan pertarungan perompak ter-brilian selama hidupnya🗡.
Selama baca ini, aku tercengang. Cerita ini menurut aku roller-coaster bgt, serasa aku ikut naik kapal perompak dan terombang-ambing di tengah lautan🌊 kaget, tegang, deg"an, campur adukk (merpati terbang aja dag dig dug hati ini). Sisi konyol dan kocak selalu ada aja dari Tere Liye, belum lagi part seneng-sedihnya lengkap deh. "Mas'ud mengusap kepala. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Ini benar-benar brilian." (hal 393). Mas'ud adalah kita semua☝🏻, aku kyk gini sepanjang cerita terpesona dgn segala strategi cerdas mereka. Sgt worth to read! Ini research nya panjang & lama bgt pastii, krn latar sejarahnya kuat bgt.
Aku penasaran dan pengen bgt bs liat Pulau Terapung secara langsung. Suka banget kisah ayah-ibu Remasut, Remasutnya juga sih hehee (ngefans kagum bgt he is sooo🆒). Tapi kalo ditanya siapa tokoh favorit? REMISITT si ceriaa😭🤎 hierarki perompak juga simpel, Raja Perompak→ Hululubalang (Kepala Pasukan, ada 5)→ Deputi Hululubalang (msg" 2)→ Kapten Kapal.
Adegan favoritku jatuh di saat pertarungan di tengah badai lautan & nyanyian mereka menyambut badai, merinding krn keren. Aku jd penasaran sm nada lagu Perompak yg mereka nyanyiin. And seperti biasaaa ada banyak bgt kutipan menarik di buku Tere Liye ini. 🥂 Cheers to all the characters! In love🤍 happy reading with the pirates📚🔜
Mungkin karena terlalu sering baca karya beliau, jadi makin ke tebak dan makin bosan dengan teknik storytelling beliau.
Ada 3 hal yang kutandai dari cara Tere Liye bercerita : - Alurnya mirip-mirip. Yang aksi mirip dengan novel aksi lainnya. Tapi, dengan latar belakang yang beda. - Ada tokoh yang sengaja banget di agungkan. Yang diceritakan oleh tokoh lain. Terlalu overrated. Hingga pada akhirnya saya bosan. kayak tokoh Thomas, Remasut, Sri Ningsih dll. - Hanya melihat dari sudut pandang tokoh utama padahal menggunakan POV penulis serba tahu. Nah, kalo di novel ini kita kayak digiring ke opini bahwa Sriwijaya adalah kerajaan yang … (isi sendiri)
Amanat yang diambil pun sebenarnya gak banyak-banyak amat dan di novel beliau yang lain pun udah pernah disampaikan. Contohnya, keserakahan membawa malapetaka. Gitu-gitu aja. Even, di novel penulis lain juga ada. Tapi, amanat yang berulang oleh penulis yang sama membuat kita studi di pemikiran penulis yang gitu-gitu aja. Gak ada yang spesial.
Maaf ya, kayaknya saya juga terlalu overrated pas awal baca buku beliau, sampai sering banget nge pos buku-buku dan quote beliau di medsos. Namun, bosan juga ternyata.
Untuk ceritanya sendiri, ini kisah petualangan Mas’ud, seorang pembuat peta yang terpaksa menjadi Ally dari kelompok perompak dalam menaklukkan kerajaan Sriwijaya.
Novelnya agak slasher atau banyak adegan gore-nya, dan terlalu banyak mengunakan onomatope. Heran aja, novel kok banyak onomatope nya, emang motif penulisnya apa? Mau bikin komik tapi gabisa gambar gitu?
Cuman kelebihannya 1, Rasa. Tere Liye masih bisa membangun rasa tapi terlalu fiktif untuk memvalidasinya. Hehehe.
Terimakasih sudah menciptakan cerita yang langsung tamat di satu buku. Gemas dan gregetan sekali jika harus baca buku yang bersambung lalu dilanjut di tahun depan. Bisa bisa sebelum baca buku selanjutnya saya harus remedial, sebab lupa jalan cerita dibuku sebelumnya.
Yang telah lama pergi.
Apa yang ada dibenak kita saat mendengar bajak laut? Perampok? Orang orang culas? Pembunuh? Pembuat Onar? Tere Liye selalu mampu menyajikan perspektif lain dalam memandang suatu hal. Mengkisahkan seorang Mas’ud seorang kartografer yang memiliki tekad untuk membuat peta Pulau Swarnadwipa. Sayangnya saat akan melakukan petualangan Mas’ud bertemu dengan perompak. Beruntung saat nyawanya terancam ia diselamatkan oleh Biksu Tsing.
Biksu Tsing mengetahui tujuan Mas’ud untuk membuat peta, maka ia menulis pesan kepada Raja Perampok untuk dapat menerimanya dalam menuntaskan misi balas dendam.
Akankah sakit hati itu berhasil terbalaskan? Sejatinya misi yang dilakukan Raja Perampok bukan hanya tentang menceritakan balas dendam kesumat, kebencian, sakit hati. Inilah perjalanan panjang dan perencanaan yang matang tentang menegakan kebenaran. Kadang kala, sesuatu yang terlihat kejam, jahat terjadi boleh jadi ada kebaikan didalamnya.
Seru! Rasanya kayak baca script film action. Pengalaman pertama baca buku bergenre fiksi sejarah dan wow ternyata nagih banget. Novel yang saya baca hampir dua pekan ini menceritakan tentang runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Selama proses membaca, tidak jarang saya mencari tambahan informasi dari internet mengenai kerajaan yang dijuluki Penguasa Maritim Asia Tenggara Abad ke-7 ini.
Meski diawali dari sudut pandang Mas'ud atau Al-Baghdadi sang kartografer handal, tapi, menurut saya pembagian cerita setiap tokohnya cukup adil. Mulai dari Biksu Tsing, Remasut, Pembayun, Emishi, dan para Hulubalang. Masa lalu dari tokoh kunci berhasil diceritakan dengan tuntas sehingga konfliknya berdasar dan masuk akal.
Kata orang, "Sejarah itu bergantung pada siapa yang menceritakan." Jika saat sekolah dulu sering mendengar diksi 'diserang' dan 'di-' 'di-' yang lain, setelah membaca buku ini saya punya sudut pandang yang baru serta belajar untuk lebih mengimbangi bacaan. Terlepas dari berapa banyak cerita yang merupakan fakta dari novel ini, tapi situasi dan kondisinya mirip dengan yang sedang terjadi sekarang. Maka, izinkan buku Yang Telah Lama Pergi untuk menjadi salah satu kritik pada yang berkuasa.
Tema cerita buku ini tentang runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Kisahnya bermula dari petualangan seorang Kartografer bernama Mas'ud yang ingin menggenapkan gambaran peta Pulau Swarnadwipa yang dulu pernah Ia singgahi bersama ayahnya. Petualangannya dimulai saat kapal yang ditumpanginya disergap oleh kawanan Perompak dan hampir dibunuh. Tapi takdir berkata lain. Seorang Biksu menyelamatkannya dan membukakan jalan menuju Pulau Swarnadwipa dengan syarat dia harus ikut berlayar bersama dengan kapal perompak-perompak itu. Perompak yang punya tujuan menyerang Kerajaan Sriwijaya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Hal pertama yang terbesit setelah membaca novel ini adalah takjub dengan riset yang luar biasa. Mulai dari Kerjaan Sriwijaya, geografi sekitar pulau, Kartografi, Perompak, Biksu, Samurai, dll. Menceritakan mereka yang saling bersisian membuat alur cerita menjadi dinamis.
Bab-bab akhir terjadi 'Hah?' moment karena ceritanya jadi dark. Suka banget dengan gaya satire Bang Tere. Hwakakakak
Untuk yang suka cerita dengan latar klasik dan historikal. Rekomend baca Yang Telah Lama Pergi.
menceritakan sejarah zaman kerajaan Sriwijaya di mana para perompak yang dipimpin oleh Raja Perompak, Remasut, mau menggulingkan kerajaan itu karena sistem pemerintahan yang bobrok dan banyak merugikan rakyat. Di dalam rombongan Raja Perompak itu bergabung tokoh-tokoh yang membawa tujuan masing-masing, seperti Pembayun, Emishi, dan juga Mas'ud yang menjadi tokoh utama. Awal cerita dimana kpd Al Mas'ud dr Baghdad yg hampir dipenggal oleh perompak sblm diselamatkan oleh Biksu Tsing.
beberapa rangkaian kejadian, mau tidak mau situasi memaksa Mas'ud untuk mengikuti kapal perompak-bersama sang Raja Perompak, Remasut. Dari sinilah dimulai perjalanan Mas'ud demi bertahan hidup & membuat Peta Swarnadwipa (Sumatera) legasi dari sang Ayah, sekaligus perjalannya menyaksikan pertarungan perompak ter-brilian selama hidupnya Al Mas’ud
selama baca ini aku amaze banget dengan perjuangannya Mas’ud untuk bertahan hidup di kapal si perampok. Pokoknya buku ini seru banget! Aku harap buku Yang telah lama pergi bisa lebih di baca oleh banyak orang soalnya ceritanya keren banget
pada awalnya, aku kira judul ‘yang telah lama pergi’ itu tentang seseorang yang memang telah lama pergi. tapi ternyata bukan tentang orang saja, melainkan tentang sakit hati yang telah lama pergi dan berubah menjadi lebih iklas. atau tentang dendam yang telah lama pergi.
buku ini bercerita tentang pembuat peta dari kota baghdad yang berakhir menumpang dikapal perompak untuk menyelesaikan petanya. awalnya dia merasa tidak nyaman karena perompak itu terkenal sebagai orang yang keji, penjahat, suka merampok bahkan tidak segan untuk membunuh. namun karna terpaksa, mau tidak mau dia harus ada berada di kapal itu.
seiring berjalannya waktu, mas’ud si pembuat peta itu menemukan cerita menarik tentang para perompak. tentang raja perompak yang bertahan hidup sendiri di tengah laut, tentang samurai yang kehilangan tuan, tentang biksu yang menempuh perjalanan panjang untuk mencari kitab suci dan menerjemahkan sutra di berbagai tempat di dunia, atau tentang pembayun yang patah hati dan kemudian hidup bahagia dengan cintanya.
dan dari cerita-cerita itu, mas’ud mulai menyadari ada hikmah dibalik peperangan ini semua.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Mas'ud seorang kartografer (pembuat peta) terbaik di dunia saat itu terpaksa meninggalkan istrinya yg sedang hamil tua utk melakukan perjalanan peta Pulau Swarnadwipa (Sumatra) yg merp wasiat terakhir sang ayah. Istrinya berusaha membujuk Mas'ud utk menunda perjalannya, tetapi Mas'ud sudah bertekad utk meneruskan jejak sang ayah & kakeknya. Perbekalann& peralatannya sudah ia naikkan ke kapal, seharusnya ini merp perjalanan yg mulus tanpa kendala, namun halangan yg ia hadapi bukan hanya badai tetapi jg sergapan dr perompak, semua peta & peralatannya dirampas oleh mereka dan iapun mjd tawanan mereka.
Kabar baiknya ada biksu yg mengenali reputasi ayah & kakeknya, jd iapun ditugaskan menjadi kartografer tp siapa sangka membuat peta Swarnadwiga bisa serumit & semenegangkan itu. Kisahnya mirip2 Jack Sparrow di Pirates Of Carribean atau komik One Piece, petualangan bersama perompak & bajak laut. Seru, banyak plot twist & strategi perang di tengah lautan - yang emang berasa lagi baca One Piece atau nonton Pirates Of Carribean sih.
Buku ini genre-nya history fiction dan action, menceritakan petualangan Mas’ud sang ahli geografi dan kartografi tersohor yg sedang berkelana membuat peta pulau swarnadipa namun tiba-tiba harus terjebak dan harus berkompromi dengan para perompak yg sedang menjalankan misi besar untuk menuntaskan dendam kesumat mereka. Awalnya cukup bertanya-tanya, “Gimana jadinya jika tokoh baik harus berada di tengah-tengah penjahat dan membantu mereka? Apakah akan bertentangan dengan misi awal dan niat mulia sang tokoh baik?”
Cukup membutuhkan konsentrasi penuh buat bisa meng-imajinasikan semua adegan-adegan perkelahian dan strategi perang brilliant yg tertulis di buku ini. Overall aku enjoy bacanya, cukup seru dan beberapa kali tertohok oleh nasihat-nasihat bijak biksu Tsing.. memang benar apa kata pembayun, “Jangan biarkan biksu tsing buka suara!.”
"Kami adalah bangsa perompak... Kami dibesarkan oleh badai topan... Kesedihan adalah teman kami... Rasa sakit adalah makanan kami... Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kami..."
the true definition of heartache, a roller coaster. you can't be happy for a while, then trouble will come (I think so? in this book). joy comes, then woe to those who wait. that hurt my feelings? very correct. I'm still recovering from the pain; remisit died.
"Apakah kalian siap mati bersamaku?" - Hulubalang 3
I cried a lot because of this book, at the same time it taught me a lot and I really like this book. effort, courage, perseverance, persistence, loyalty, the strength of the characters in this book made me feel...overwhelmed. and there is some hurt in certain parts of the story, especially regarding the betrayal.
Fyuh, akhirnya kelar baca novel ini. Satu kata, WOW! Jujur aku bukan penggemar novel dengan bumbu sejarah, tapi pengecualian buat novel ini.
Waktu awal baca sempet ngerasa kok kaya ngebosenin ya, tapi pas udah lanjut malah ketagihan gak bisa berhenti. Bukunya page turning dengan beberapa plot yang gak ketebak. Bahasa yang dipake juga enak, mudah dimengerti. Bikin pembaca mudah mengimajinasikan setiap adegan.
Aku juga suka sama kritik yang disampaikan lewat novel ini. Rasanya menohok banget. Novel ini juga menarik karena bisa bikin pembaca bersimpati dan ada di pihak perompak. Padahal, perompak konotasinya negatif.
Terlepas dari semuanya, aku kurang suka sama endingnya. Rasanya kurang nendang aja gitu. Kirain bakal ada kejutan lain 🙈
Sebenarnya cerita ini tentang siapa sih? Tokoh utamanya Mas’ud, Remasut, Emishi atau Biksu Tsing?
Semua tokoh ternyata memiliki porsi masa lalu masing2 yang melatarbelakangi mereka bergabung melakukan perjalanan menuju Sumatera.
Ini pertama kalinya aku membaca genre historical fiction, dg latar belakan thn 1200 Masehi. Ceritanya menarik meskipun banyak sejarah yg aku ga tau, sehingga aku baca sambil sesekali googling tapi sungguh ceritanya tidak membosankan.
Kutipan favorit : Semua masa lalu itu. Semua kehilangan. Rasa sakit. Peluk erat-erat, Remasut. Karena kalaupun kita kehilangan, gagal, tidak mendapatkan apapun, kita tetap memperoleh sesuatu yang spesial. Menemukan sesuatu yang berharga. Pelajaran.
At first, I was amazed by the author's research about the history of the 13th century. So, this book is historical fiction about the pirate’s club and Sriwijaya Palace in the 13th century. It was interesting that every character in this book has a different background, but in the end, they have the same mission, which is to cut down on the number of corruption cases and the government's power in Sriwijaya. TBH, Biksu Tsing is my favorite character since he always brings his beliefs to support other people. Also, the reason for this title comes from Biksu Tsing’s point of view. Such an amazing historical action book, so I’ll recommend this one! And hopefully, there will be a sequel to this book.