Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut adalah sebuah novel yang terilhami oleh peperangan nyata yang dialami masyarakat Sangihe, khususnya para perempuannya, melawan industri penambangan emas, baik yang “katanya” legal dan yang ilegal. Ketika sektor ekstraktif mulai beroperasi di wilayah mereka, biasanya yang paling menderita olehnya adalah kaum perempuan. Bukan hanya mencemari air, tanah, dan udara, dalam masyarakat patriarkal, perempuan juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup di rumah, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.
Dian Purnomo lahir di Salatiga tanggal 19 Juli 1976. Dia menyukai membaca dan menulis sejak bisa membaca, mengasah kemampuan menulis dengan berbalas surat dengan kawan-kawan SD dan SMP-nya. Mantan pekerja radio yang dibesarkan oleh grup Prambors dan FeMale radio ini, telah menulis 12 novel dan antologi cerita pendek. Belajar tentang kriminologi khususnya perlindungan anak dan perempuan, juga keadilan lingkungan, membuatnya banyak merenung kembali tentang karya.
Kerja-kerja penelitian di isu-isu sosial, dari mulai perempuan dan anak yang dipenjarakan di Puska PA dan Kriminologi UI, kekerasan berbasis gender di Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, perlindungan anak dan krisis iklim di Save the Children, migrasi aman, kesehatan seksual reproduksi di OnTrack Media Indonesia membuatnya banyak belajar dan mengubah tema-tema karyanya.
Setelah vakum menulis selama enam tahun, dia akhirnya menemukan warna baru tema-tema karyanya. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menandai metamorfosanya. Novel yang ditulis setelah mendapatkan grant Residensi Penulis Indonesia 2019 selama enam minggu tinggal di Sumba tentang kawin tangkap ini, menandai perjuangannya dalam bentuk novel.
Novel ini akan diterbitkan dalam bahasa Polandia pada musim gugur 2025.
Perjuangan rakyat di daerah-daerah yang jauh seringkali jarang disoroti. Tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa mereka yang tinggal di daerah paling utara Indonesia sedang berjuang menyelamatkan alam mereka dari tangan-tangan kapitalis yang rakus.
Karya indah lainnya dari Dian Purnomo kali ini menceritakan tentang perjuangan rakyat di daerah Sangihe, pulau paling utara Indonesia, bagian dari Sulawesi Utara. Sangihe sendiri dikenal dengan kekayaan alam dan keindahan alamnya yang luar biasa. Kebanyakan masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, karena wilayah mereka dikelilingi oleh pantai dan laut.
Tokoh utama dalam buku ini adalah Shalom dan Mirah. Shalom adalah perempuan lokal dari Sangihe yang berjuang paling depan untuk menyelamatkan Sangihe. Sementara Mirah adalah perempuan yang bekerja di sebuah lembaga dan kebetulan ditugaskan ke Sangihe selama tiga tahun. Saking dekatnya dengan masyarakat Sangihe, Mirah sudah merasa menjadi bagian dari mereka. Ia pun turut mendukung perjuangan rakyat Sangihe melawan perusahaan yang ingin mengeksploitasi Sangihe.
Yang paling mengharukan ialah ketika perjuangan mereka benar-benar sampai titik darah penghabisan. Shalom—sempat tenggelam ketika sedang berjuang dan hampir menyerah. Namun, Shalom merasakan kehadiran almarhum ayahnya yang menarik dia untuk keluar dari laut dan mendarat di sebuah pulau kecil di sekeliling Sangihe. Meskipun tidak bisa dipastikan secara science apakah hal tersebut benar terjadi, namun yang paling penting Shalom kembali.
Seluruh isi buku ini menurutku bener-bener mengharukan dan menggambarkan jelas gimana perjuangan orang Sangihe. Bahkan mungkin, beberapa dari kita baru mendengar kata Sangihe setelah membaca buku ini. Nyatanya, kita perlu peduli dan melek terhadap isu-isu yang ada di daerah-daerah terluar Indonesia, jangan sampai melepasnya untuk kepentingan pribadi orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap alam.
Novel ini menceritakan perjuangan masyarakat Sangihe melawan perusahaan tambang melalui karakter Shalom, seorang perempuan yang teguh dan “ada gila2nya dikit”. Banyak kritik sosial yang disampaikan oleh penulisnya, betapa di negara ini mereka yang punya uang bebas melenggang walau sudah melanggar hukum dan merusak alam. Tapi, perjuangan harus tetap dilakukan, karena alam merupakan pinjaman dari generasi mendatang. Bagus, tapi sebagai penutur bahasa Manado, tbh di beberapa part dialognya agak kurang alami (ya mungkin penyesuaian untuk bisa dimengerti pembaca umum kali yah). Poin plus karena banyak memasukkan unsur budaya seperti makanan (Sulawesi Utara food supremacy, it’s deserved more hype) dan kepercayaan masyakarat terhadap hal2 berbau mistis.
Hei, Shalom, terimakasih sudah membawaku ke dalam perjuangan kalian yang penuh kehangatan dan memgharu biru ini. Tanah Sangihe, tanah air tercinta masyarakat sangir. Perjuanganmu sangat gigih, doaku akan selalu menyertai agar Sangihe bebas dari tangan-tangan jahil yang ingin mengeruk kekayaan Sangihe yang indah.
Itulah sepenggal semangat dari masyarakat Sangir yang memperjuangkan tanahnya masing-masing, saat perusahaan pertambangan ingin merampas tanah kelahiran mereka.
Menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Shalom, yang memperjuangkan hak-hak tanah kelahirannya. Shalom seperti titisan Marsinah, perempuan itu berjuang sampai dia di jebloskan kedalam penjara oleh aparat dan penegak hukum yang tidak melek mata dengan adanya fakta.
Tidak sampai situ Shalom dan juga masyarakat Sangir harus merencanakan taktik supaya alat berat perusahaan mundur dari kepulauan Sangihe. Di dalam buku ini juga menceritakan fakta tentang bobroknya hukum yang ada di Indonesia, karena yang berkuasa memegang kendali.
Diantara cerita ketegangan Shalom dan masyarakat Sangir, mengajarkan untuk saling menjaga dan betapa indahnya kepulauan Indonesia ini jika tidak di ganggu oleh beberapa pihak yg tidak bertanggung jawab merusak kealamian pulau tsb.
Diselipkan beberapa kisah romantis yang tidak akan bosan untuk melanjutkan baca buku ini.
Perjuangan Shalom dan Mirah yang juga turut andil dalam gerakan aksi, menunjukkan bahwa perempuan akan selalu mempertahankan kedudukan yg dia miliki sampai titik darah penghabisan.
Ending yang sangat memuaskan bagiku, dan Shalom berdamai dengan kenyataan bahwa ayahnya memang sudah tiada.
Hal baik yang di petik dari kisah Shalom ini adalah tidak ada hasil yang sia-sia jika kamu mau terus berjuang, tetap yakin, fokus dan pantang menyerah pada satu tujuan hingga kamu mencapai hasil yang di inginkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Akhirnya aku menyempatkan membaca novel ini setelah membelinya beberapa bulan yang lalu di UWRF 2023. Yang aku suka dari novel Kak Dian, selalu ada isu sosial yang diangkat, seperti halnya novel sebelumnya, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, yang mengangkat isu kawin tangkap di Sumba. Kali ini dalam novel terbaru Kak Dian, kita dibawa ke Sangihe.
Usai membaca beberapa kalimat di paragraf awal, kutanyakan pada Google Maps di mana Sangihe itu. Sebab namanya terdengar familiar, namun aku tak tahu pasti secara geografis di mana letak pulau itu. Pulau ini terletak di sebelah utara Sulawesi, sebuah pulau kecil yang tak jauh letaknya dengan Filipina. Seperti halnya wilayah-wilayah lain di perbatasan, Sangihe pun kurang mendapat perhatian pemerintah pusat. Sumber daya alamnya dikeruk oleh perusahaan asing yang memanfaatkan celah hukum untuk mengeksploitasi Sangihe yang di bawah tanahnya yang subur mengandung banyak emas.
Kak Dian menggunakan sudut pandang orang pertama. Sang penceritera dalam novel ini adalah Mirah, seorang perempuan dari Bogor yang ditugasi oleh yayasannya untuk melakukan pendampingan program di beberapa desa di Sangihe. Dalam melakukan pendampingan, ia dibantu oleh Shalom Mawira, perempuan asli Sangihe yang tegar dan menjadi tonggak keluarganya usai menghilangnya ayahnya pada suatu malam ketika ia pergi melaut. Walaupun Mirah adalah penceritera, novel ini adalah tentang Sangihe dan mencoba mengangkat perspektif Shalom yang mencoba memperjuangkan hak penduduk Sangihe yang tanahnya dieksploitasi.
Kedatangan Mirah ke Sangihe kebetulan terjadi di waktu yang sama dengan perusahaan tambang biongo (bodoh) yang berniat membeli tanah warga dengan harga sepuluh ribu rupiah per meter demi menambang emas. Reaksi masyarakat terpecah, dari ada yang pro dan berniat menjual tanahnya, hingga yang kontra dan menggelar demonstrasi. Novel ini menjadi studi kasus menarik jika coba dikaji dari sudut pandang ekofeminisme, melihat keterkaitan antara eksploitasi serta degradasi lingkungan hidup dengan subordinasi perempuan. Kak Dian merekam dengan jelas dampak yang terjadi dari eksploitasi sumber daya alam terhadap kaum perempuan di Sangihe, mereka yang terpaksa mengambil alih tanggung jawab tulang punggung keluarga dalam konflik antara penduduk Sangihe dengan perusahaan biongo.
Untukku yang tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum, novel ini juga cukup mencerdaskan, dalam hal memberikan pengetahuan mengenai UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau kecil (WP3K) yang menegaskan pulau-pulau dengan luas daratan kurang dari 2.000 kilometer persegi masuk dalam kategori pulau kecil yang dilarang ditambang (Sangihe sendiri luasnya kurang dari 736 kilometer persegi). Sedikit banyak, kebobrokan dalam proses hukum di Indonesia dijabarkan lewat studi kasus perkara penambangan di Sangihe.
Kak Dian juga memperkuat nuansa lokalitas dalam novel ini dengan menggunakan bahasa vernakular yang digunakan sehari-harinya oleh masyarakat Sangihe (torang pe buku pe bonus glosarium, bisa dipakai vor pembatas buku!).
Pertama kali saya terpapar pada tulisan Mbak Dian Purnomo adalah pada novel "Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam" yang menurut saya cukup fenomenal di kalangan penggemar novel lokal. Intensitas konflik sedari awal, ending yang berpengharapan, & pesan aktivisme yang kuat menjadi kekuatan dalam novel itu.
Novel "Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut" tampaknya adalah konsekuensi janji sekaligus komitmen Mbak Dian untuk kembali membawa pesan advokasi isu sosial, terlebih lingkungan & ruang hidup, secara intensional melalui seri "Perempuan..." Itu artinya, sebenarnya banyak hal sudah bisa diduga muncul dari novel ini. Konteks lokal (khususnya Indonesia Timur), tokoh perempuan berdaya, upaya advokasi yang terpinggirkan, pesan moral kuat, & kepedulian sosial menjadi benang merah yang hadir.
Kali ini kita diundang masuk ke dalam pergumulan Shalom & Mirah, dua perempuan tangguh dengan konteksnya masing2, yang satu orang Sangir asli, yang satu pegiat LSM dari latar belakang berprivilese cukup oke, untuk mengupayakan lestarinya alam Sangihe bersama sesama warga pulau Sangihe dari pertambangan korporat yang diberi karpet merah oleh regulator hasil kongkalikong kotor dengan label "pemberdayaan ekonomi". Ada kisah kehangatan & tawa orang Sangir, ada perjuangan saling menolong, ada keserakahan yang terus menggerogoti lewat kekuatan modal, & ada ketidakpastian apakah upaya melawan itu ada artinya.
Sebenarnya tidak ada yang spesial secara alur di novel ini. Novel "Perempuan..." yang pertama lebih kuat secara plot, motivasi, & kemampuan mengisap pembaca ke dalam cerita. Namun novel ini adalah pintu masuk yang ringan dibaca & menggerakkan untuk belajar memahami konteks2 perampasan ruang hidup demi kepentingan pemodal besar di banyak area di negara ini. Peraturan diterobos, izin diberikan semena2, kebohongan & adu domba dilancarkan.
Maka kekuatan novel ini adalah pada upaya lokalitasnya, mengajak pembaca masuk ke dalam kehidupan kawan2 Sangihe: penting untuk paham siapa yang harus kita dukung & doakan, lalu berempati bersama sebagai sesama manusia yang rindu memanusia pula.
Di tengah konflik lingkungan yang makin menjadi, buku ini bisa jadi salah satu pemantik semangat perjuangan bagi teman-teman sekalian yang masih berjuang demi keadilan. Suka banget gimana seorang Shalom berjuang demi tanah kelahirannya, keluarganya, dan dirinya sendiri yang masih belum bisa menerima kehilangan papanya.
Setelah membaca buku ini, jadi penasaran dengan bagaimana kecantikan alam Sangihe itu sendiri. Banyak belajar bahasa Sangir juga yang menurutku merupakan bahasa baru buat aku. Sayangnya endingnya cukup menggantung dan fast forward ke masa yang lebih jauh. Tapi tetap bagus!
Is it fun? No, it was boring and it took me a long time to finish. But did i cried, moved by the story, and got attached with the characters? YES. Long live resistance.
Suasana tegangnya perjuangan yang bisa dirasakan hanya dengan membaca. Ada satu plot yang bikin penasaran banget tapi gak terjawab di buku ini, alasan hilangnya Karlos Mawira. Terus buat alur deket ending itu kayak terlalu fast paced, gak dijelasin detik-detik perusahaan biongo itu pi dari Sangihe.
*JUJUR ak gkkk expecttt itu endinggnya begituu??!?!?! shalom sama santiago!?!?!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku pertama yg gw baca dari karya mba Dian. Membuka pikiran mengenai budaya Sangihe, betapa keras dan sulitnya perjuangan masyarakat setempat melindungi tanah mereka, bahkan perjuangan sbg masyarakat setempat melawan pengusaha bahkan aparat negara.
Plotnya menarik namun narasinya kurang menggugah. So after I finished this book, I feel average. Not quite excited, not quite emotional. Just average. 🫢
Beberapa gambar dimasukkan didalam buku-which is new for me-biasanya berupa ilustrasi, tapi gambar yg dimasukkan berupa foto 😐-agak sulit menerima gambar berupa foto di sebuah buku, karena terkesan membatasi imajinasi pembaca-but well people have different taste n perception right? Dan baru ngeh kalau narasi lingkungan sekitar ternyata memang kurang digambarkan secara detail, cerita langsung ke pokok intinya, tanpa ada narasi yg mampu menggunggah gw sbg pembaca. Imbas lainnya adalah, gw ga merasa ada keterikatan dgn karakter manapun-walaupun ada beberapa bagian/part dimana penulis menceritakan latar belakang karakter ini-itu, tapi sayangnya gw ga merasakan ketertarikan dgn si karakter2 yg diceritakan.
Hal lainnya adalah... dialog dari bahasa daerah yg cukup memakan waktu, menerka2 ini maksud percakapan mereka apa-walaupun di buku di selipkan glossary, but really, I don't wanna waste my time looking the right word-every word 🫠 I want to get entertain by reading a book without getting additional effort to be able to understand every dialogue in their native language-sorry I'm a lazy person 😮💨
Feeling perjuangannya kerasa bgt, even ada beberapa scene yg bikin kenapa ada filler bab disini padahal kisah perjuangan lagi seru serunya. dan beberapa plot mungkin juga gak dijelasin gatau kenapa contoh perginya perusahaan tambang itu gimana. but overall worth kok untuk dibaca soalnya ak sampe buka maps dan liat jalan di sangihe dan alamnya gmna hahaha
"Somahe Kai Kehage.Semakin keras badai menerjang, semakin gigih kita harus menghadapinya. Jadi, jangan menyerah hanya karena ada badai di depan mata."
"Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut" adalah karya kedua dari Dian Purnomo yang saya baca. Karyanya yang pertama, "Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam", benar-benar menggerakkan hati saya begitu hebat sampai saya memilihnya sebagai buku terbaik yang saya baca di tahun 2022. Walau tidak menggetarkan hati saya sebesar itu, dan tidak membuat saya merasa "hampa" setelah membacanya, novel Dian Purnomo kali ini tetap meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.
Bercerita tentang perjuangan orang-orang Sangir, memperjuangkan tanah kelahiran mereka (Sangihe) saat perusahaan asing yang biongo (bodoh) bersatu dengan pemerintah si "penguasa" negara dalam mengorek dan mengeruk kekayaan alam semesta dengan serakah.
"Torang mau suka jadi pupuk* buat kelapa, pala deng cingki. Torang nimau kalau mati nanti, torang pe badan dikubur di tanah rusak. Biar jo sekarang torang baki lawan. Biar tua begini jo, torang pe badang mase kuat melawan." (*mau suka jadi pupuk menunjukkan kecintaan orang Sangir pada tanah mereka, sehingga sampai mati pun mereka ingin dikuburkan di sana agar jasadnya menjadi penyubur tanaman mereka.) hlm. 68
Dian Purnomo, yang juga merupakan seorang peneliti, memang tulisannya tidak jauh-jauh dari isu sosial seperti anak, perempuan, dan lingkungan. Jika di novel sebelumnya Dian Purnomo menyorot tradisi "kawin tangkap" yang mengancam perempuan, kali ini Dian Purnomo hendak membuka mata kita tentang wilayah yang mungkin kecil dibandingkan pulau mayoritas di Indonesia, wilayah yang terletak di Nusa Utara yang mungkin bahkan sesama orang Indonesia sendiri akan mengernyitkan dahi ketika mendengar namanya dan bertanya "Di mana itu?". Bahwa sesungguhnya, kalau kita mau lebih peduli, banyak sekali bagian dari ibu Pertiwi ini yang terancam keselamatannya. Semua tidak hanya karena orang asing yang menapaki dan menjajakinya, lalu mengeruk kekayaannya, tetapi karena sesama saudara sendiri yang membuka pintu lebar-lebar dengan iming-iming uang, hingga bisa merelakan tanah kelahirannya sendiri dikeruk habis tiada sisa. Itulah yang terjadi pada Sangihe, dan mungkin, wilayah Indonesia lainnya.
Salah satu karakter utama yang dominan selain Mirah di sini adalah Shalom. Saya membayangkan karakter Shalom sebagai perempuan khas Indonesia bagian Timur, yang jenaka dan banyak idenya, kuat berani tak kenal takut, apalagi ketika ingin memperjuangkan sebuah bentuk ketidakadilan. Seperti, memperjuangkan Sangihe.
"Sejak torang lahir, torang pe oma selalu bilang, ta pe darah Sangir, minum air Sangir, makan ikan Sangir, ambe tanaman dari kintal di tanah Sangir. Mar ta pe bangsa tetap Indonesia......Torang nyanda merasa Indonesia memiliki Sangir. Saya tidak merasa Indonesia memiliki Sangihe. Karena kalau benar torang dianggap bagian dari Indonesia, mengapa negara justru berpihak pada perusahaan dari negara asing sana?"
Saya sangat menyukai karakter Shalom. Ia perempuan yang "ada gila-gilanya", berikut tutur penulisnya dalam menggambarkan karakter fierce Shalom. Ia gemar membaca dan melahap tulisan, walau penjara membatasinya. Dari sanalah ia bisa menganjurkan ide-ide cemerlang dan strategis untuk melawan perusahaan biongo, tanpa kekerasan, tapi melalui kecerdikan. Dian Purnomo menggambarkan Shalom seperti Pramoedya Ananta Toer, bahwa penjara tidak akan pernah sanggup mengurung impian, imajinasi, dan kebebasan berpikir penghuninya (hlm. 251). Buktinya, dari penjara yang mengukung itu, Pak Pram bisa menghadirkan cerita-cerita indah yang kekal abadi sampai akhir zaman. Tidak akan ada yang pernah bisa mengurung kebebasan kita, dalam arti sesungguhnya.
Di sini saya belajar bahwa keserakahan hanyalah akan membawa malapetaka. Jika tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka rasanya seperti mengejar sesuatu yang fana, seperti berusaha menggenggam air atau awan, tidak akan pernah bisa tercapai. Saya mengetahui bahwa kekayaan Indonesia sangatlah berlimpah. Terutama, di buku ini, kekayaan Sangihe yang memang menjadi tambang emas. Tapi, emas tidak membawa kemakmuran bagi mereka. Kaya, mungkin. Tetapi makmur, tidak - (hlm.40). Saya menyimpulkan bahwa, setiap milik alam yang kita ambil, akan berdampak pada diri kita dan alam itu sendiri. Kita harus mengembalikan apa yang kita ambil, atau memberikan sesuatu juga kepada alam sebagai bentuk timbal balik. Orang-orang serakah yang menyebabkan kerusakan di Sangihe hanya tahu tentang mengeruk emas sebanyak-banyaknya, hingga alam marah karena telah dirusak. Kerusakan di Sangihe terjadi: tanah kering, berlubang, tidak ada air bersih, tanah tidak subur, banjir badang, gempa bumi, dan masih banyak lainnya. Itu adalah cara alam memprotes dan berkomunikasi kepada kita, manusia yang hanya "meminjam" bumi, untuk menyampaikan bahwa kita hanyalah "penumpang", bukan "pemilik" alam semesta ini. Oleh karenanya, aliansi YSA (Yayasan Sayang Alam) yang merupakan kumpulan orang asli Sangir, berjuang demi Sangihe, dan mereka adalah orang-orang yang tahu bumi yang dipijaknya: merasa sudah cukup, dan selalu mengembalikan apa yang telah diambilnya dari alam melalui penyuburan, penanaman kembali, dan sebagainya:
"Selama orang Sangir masih menjaga kejujuran dan kebaikan hati, maka selama itu juga alam akan menjaga torang. Alam akan berbicara deng torang melalui hujan, badai, panas, tanah goyang, gunung meletus. Itu semua cara alam berbicara deng kita." (Dawis, hlm. 124)
Pemerintah yang mengaku sebagai "penguasa" negeri ini juga sama saja. Bergabung dengan perusahaan asing, sama-sama biongo, hanya demi uang.
"Para pemimpin, pengambil keputusan, dan juru adil duniawi tidak membuka mata untuk melihat dan menghentikan kejahatan itu. Mungkin memang alam sedang marah karena kejahatan tambang yang terjadi di sini." (hlm. 121)
Tak ada yang sulit di negeri ini selama uang ada di tangan. Semua bisa dibeli. (hlm. 165)
Di sini juga banyak bentuk kekejiman negara terhadap rakyatnya. Yang disinggung oleh penulis adalah aksi Kamisan, yang diusung oleh para ibu yang memprotes negara untuk bertanggung jawab terhadap anak-anaknya yang "hilang", tentunya saat kejadian 1998. Atau gerakan Las Madres de La Plaza de Mayo, yang seperti di Indonesia, diusung oleh para ibu di Argentina yang memperjuangkan anak-anaknya yang "hilang" di saat Dirty War (1976-1983) di bawah kediktatoran militer.
Kesimpulannya, saya berterimakasih kepada Dian Purnomo sebagai penulis yang berani menyentil isu sensitif yang memang juga memprihatinkan di negara kita sendiri. Kisah ini, walau semi-fiktif, saya yakin memang (sedang) benar-benar terjadi. Semoga, pada penegak keadilan seperti Shalom tidak berhenti menjadi vokal utama dalam memperjuangkan alam Indonesia. Saya seperti mendapatkan siraman air segar melalui buku ini, seperti ikut terjun bersama Mirah, Shalom, Santiago...para oma dan opa, dalam memperjuangkan Sangihe, menyelamatkan Sangihe. Dari segi mistisnya, seperti alam juga diam-diam ikut membantu perjuangan mereka, dari segi kegigihan orang-orang Sangir yang tidak kenal lelah. Saya seperti ikut berjuang, dan senang saya berakhir tersenyum ketika menutup buku ini saat sudah sampai di halaman terakhir.
Mari kita berdoa, kisah di Sangihe ini tidak terjadi lagi pada wilayah manapun di Indonesia. Biarkanlah alam dengan kekayaannya, dan kita "meminjam" seperlunya dan selalu merasa cukup dengan kesederhanaan. Walaupun sulit dan terdengar sangat tidak mungkin dengan jaman sekarang ini di mana modernisasi terjadi di mana-mana dengan mengorbankan alam dan kultur negara yang juga menjadi pribadi bangsa ini. Setidaknya, dengan membaca buku ini-menurut saya-sudah menjadi bentuk perlawanan kita terhadap itu semua dan cara kita untuk sadar bahwa kita hidup dari alam, kita butuh alam, bukan sebaliknya.
"Karena sungguh, cara termudah untuk menghancurkan sebuah bangsa tanpa perang adalah dengan menghancurkan kultur dan peradabannya." (hlm. 250)
Beberapa kutipan yang saya garisbawahi di buku ini:
-> "Kita kan bisa belajar dari sejarah. Pejuang perempuan dan pejuang laki-laki, ketika sama-sama tertangkap, siksaannya akan berbeda.....Semua akan sama-sama disiksa, tetapi di dunia yang kejam terhadap perempuan ini, kita tahu kalau dalam kondisi seperti itu, perempuan pejuang akan diincar keperempuanannya. Dilecekan, dicabuli, diperkosa....Marsinah, salah satunya." (hlm. 96)
-> "Di dunia patriarki, kelemahan dan harga diri perempuan terletak di kelaminnya." (hlm. 96)
-> (Mirah) Aku tidak pernah bercita-cita menjadi kaya raya. Tidak sampai saat ini, ketika....keadilan bisa "dibicarakan" selama ada uang di tangan. Saat itulah rasanya aku ingin menjadi orang kaya raya, supaya bisa membeli putusan hakim." (hlm. 99)
-> Uang dan kekuasaan yang ada di sekitar mereka seperti selaput pelindung tak kasatmata yang selalu mengamankan posisi orang-orang itu. Sementara masyarakat kecil tidak memiliki apap pun untuk melindungi diri. (hlm. 131)
-> (Mirah) Buatku lebih baik kalah hari ini tetapi kami selamat, karena tubuh ini masih bisa melawan esok hari. Tapi kalau kami mati, maka tidak ada lagi perjuangan, yang tersisa hanya nama." (hlm. 194)
-> Luka paling dalam bukan luka di kulit atau tubuh kita, tapi luka yang menggores harga diri. (hlm. 202)
-> Dalam setiap perjuangan, tidak selamanya kita harus memanggul senjata, berlari, menyerang, dan melawan. Ada masa di mana kita butuh duduk meregangkan kaki dan tangan, supaya badan siap diajak berlari berjuang kembali." (hlm. 204)
Buku kedua dari ka Dian yang aku baca setelah "Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam". Sama seperti buku pertama yang kubaca dari karya beliau, Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut juga punya efek yang kurang lebih sama menurutku. Sama-sama menitipkan perjuangan dan harapan. Kalau Perempuan yang Menangis adalah tentang tradisi kawin tangkap yang tidak memperdulikan perempuan, kali ini Perempuan yang Menunggu adalah tentang pulau yang berjuang melawan perkawinan perusahaan yang tamak dan negara yang buta.
Masih sama seperti buku pertama Ka Dian yang kubaca juga, buku ini mengingatkanku kalau selama ini aku masih berada dalam bubble-ku sendiri. Sebagai orang yang tinggal di salah satu kota besar di Pulau Jawa, rasa-rasanya aku kurang peduli dengan wilayah lain, aku gak tahu menahu tentang perjuangan di Pulau Sangihe. Boro-boro perjuangan melawan tambang emas, aku juga baru pertama kali dengar Pulau Sangihe dari buku ini. Tapi seenggaknya-dan akhirnya, aku bisa mengenal Sangihe dan orang-orangnya dari buku ini. Thanks to Ka Dian.
Menurutku kekurangan dari buku ini tuh, hilangnya papa Shalom kurang dijabarin. Jadi rasanya kayak agak kabur dari judulnya. Tapi selain itu udah bagus, aku juga suka pembatas bukunya yang berupa glosarium karena aku sendiri kurang familiar dengan bahasa yang dipakai teman-teman Sangir. Jadi ga perlu bolak balik ke halaman lain cuman buat tau arti kata yang dipakai. Torang deng hapi lain senang ka dian dan penerbit so mempertimbangkan glosarium jadi lebe efisien. (wah... merasa keren.. HAHA MAAF KAKU).
kata dari bahasa sangir yang paling aku suka : hapi! ngana adalah hapiku, my sista, my bestie.
“Aku ingin segera menjadi salah satu saksi menangnya rakyat, menangnya alam, tegaknya kebenaran, dan menangnya kemanusiaan, di atas penindasan dan pembodohan.
Perempuan yang Menunggu di Lorong Menunggu laut adalah cerita dari sebuah bentuk perlawanan terhadap situasi keadaan yang tidak di dasarkan semata untuk diri sendiri. Ya, bentuk perjuangan besar dari orang-orang Sangir dan semua yang membantu perkembangan Kabupaten kepulauan Sangihe yang ada di Indonesia.
Banyak sekali issues dan kritik yang di bawa, dan mengingat bentuk perlawanan sejarah lain nya.
alur cerita yang detail lumayan slow pace dari 278 pages, mengajarkan tentang penantian dan cara melepaskan sesuatu dengan ikhlas dari karakter Shalom yang di bawa dari Judul buku ini sendiri
Cara paling indah untuk mengenal lebih dekat orang Sangir dan karakter yang di ada di dalam cerita.
“Mereka yang memiliki uang & niat jahat selalu punya energi u/mendatangkan bala bantuan lebih banyak & amunisi yang lebih berbahaya. sementara masy. yang mempertahankan tanah, air, serta pohon-pohon yang menghidupi mereka hanya punya satu badan u/melawan“.
buku ini lebih tepat di khusus kan untuk semua yang telah berjuang dan akan berjuang dari segala kelicikan penguasa dan ancaman penindasan untuk tetap berani dan berdiri melawan tepatnya sekali untuk mereka yg belum tahu bentuk perlawanan dgn cara yang baik
Mba Dian Purnomo lagi lagi berhasil membuat aku menangis melalui tulisannya. Selain ceritanya yang menarik dan membuat mata melek dengan isu lingkungan, tulisan Mba Dian juga sangat engaging!
Ketemu Shalom Mawira benar-benar pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Sosoknya yang pantang menyerah dan tidak pernah kehabisan akal terus-terusan membuatku berlinang air mata. Perjuangannya dengan masyarakat yang ada di Sangihe sangat membekas buatku. Aku jadi paham kalau alam memang harus kita pelihara. Walaupun dari kecil aku tinggal di kota, aku jadi nggak lupa kalau hidup kita semua juga masih bergantung sama alam. Kalau Bumi yang kita tinggalinin ini rusak, gimana kita hidup? Di buku ini perjuangan rakyat Sangihe sudah selesai, mereka menang. Aku berharap perjuangan rakyat Sangihe di luar buku ini juga akan menang. Lawan terus perusahaan biongo!
Terlepas itu, yang membuat aku sedikit emotionally attached dengan Shalom Mawira mungkin adalah kesamaan kami. Ayah udah nggak ada. Pas baca alasan Shalom memperjuangkan sangihe, aku nangis nggak karuan. Walaupun sekarang dia sudah berdamai dengan kenyataan, dia tetap terus memperjuangkan tanahnya. She really is the best. I admire her so much for everything she’s done after what she’s been through.
Mirah juga sosok yang penting di buku ini. Walaupun bukan orang asli Sangihe, dia juga banyak berkontribusi dalam perjuangan bersama rakyat Sangihe. Rintangan yang dihadapi Mirah juga tidak sedikit. Di sisi lain perjuangannya, dia juga masih harus memikirkan pekerjaannya yang menempatkan dia di Sangihe. Perusahaan tempat dia bekerja tidak pernah memberikan pernyataan persetujuan dengan aliansi Selamatkan Pulau Kami karena masih ada program yang harus dilaksanakan di Sangihe. I can imagine how contradictory it feels, but that didn't stop her! Aku sangat salut karena Mirah juga tidak pernah berhenti ikut berjuang memperjuangkan tanah yang sebenarnya bukan rumahnya, tapi dia sudah merasa Sangihe adalah rumah keduanya. I aspire to be just like her!
Masih banyak yang harus kupelajari tentang isu-isu yang ada seperti yang dibawakan di buku ini karena aku tau pasti kejadian ini tidak hanya terjadi di Sangihe. Buku ini bikin aku jadi lebih pengen melek lagi dengan isu-isu yang menyangkut alam, terutama wilayah yang dimana penduduknya memang hidup dari dan untuk alam. Terima kasih banyak Mba Dian sudah menulis buku ini!
Panjang umur hal baik! Panjang umur perjuangan!
This entire review has been hidden because of spoilers.
aku udah selesai baca Perempuan yang menunggu di lorong menuju laut di Ipusnas. terus mutusin buat baca seri keduanya lewat fisik and then i bought this books on Gramedia. gak kalah keren dari yang pertama, 2 2nya bener bener page Turner yang bisa selesai dibaca dalam 1 kali duduk.
Aku baca ini pas lagi kena musibah banjir sumatera Utara, Sumatra Barat dan Aceh 2025. di pengungsian aku bacaaa ini karena gak ada sinyal dan listrik padam. aku bacanya pake senter yang di kepala itu.
Novel ini relate sama keadaanku pas aku baca ini. Banjir dikarenakan pohon pohon digundulin pemerintah, banyak batang pohon yang hanyut dan ngumpul jadi 1. Kelaparan di mana mana, bantuan lambat, rumah banyak yang tenggelam seatap dan ada beberapa ke bawa arus sungai yang deras. Banyak supermarket kaya indo/alfa di jarah warga yang kelaparan, ada juga yang pingsan karena kelaparan. Alhamdulillah di kampungku kami masih baik baik aja, dari tempat tinggal sampai konsumsi semua masih aman.
Bangga sama perjuangan Shalom dan yang lain, terharu karena akhirnya bisa nemuin bapaknya Shalom yang gak pernah pulang lagi. Ikutan seneng pas akhir cerita seperti yang diharapkan semua orang.
Novel kedua Mbak Dian yang ku baca setelah Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam. Aku menemukan tulisan Mbak Dian terasa seperti 'teman dan tempat yang aman'. Kasus yang diangkat sangat kompleks dan rawan, tetapi dikemas begitu lembut dan ramah sehingga dibalik 'nelangsa' tetap ada semangat yang terjaga. Ditulis tanpa kata-kata liar penuh estetika, tetapi menggunakan kalimat sederhana sehingga saat mudah dipahami. Memahami teriakan rakyat Sangihe, memahami ketakutan mereka, memahami perjuangan, memahami perasaan mereka. Menyelipkan beberapa kosa kata berbahasa Sangihe membuat novel ini begitu hidup dan dekat ke pembaca. Terlalu banyak kalimat yang ingin ku underline sampai ku urungkan untuk melanjutkan, membiarkan segenggam buku ini menjadi album perjuangan yang ketika dibuka akan selalu memberi semangat untuk memperjuangkan 'sesuatu yang benar'.
Kalau di novel sebelumnya aku dibuat menangis juga bergidik, di buku ini aku diberi rasa 'terkoyak'. Kegilaan negara mengoyak hati-hati polos yang berbelas kasih sayang Tuhan, alam, dan sesama pejuang. Rasanya aku menjadi salah satu orang yang menidurkan diri di tanah Sangihe, sedikit membayangkan bagaimana bila mobil polisi menggilas tubuh. Rasanya ingin terjun masuk ke Rumah Perjuangan. Ah, novel kedua ini benar-benar sangat spesial, rasanya seperti membaca diary!
Negara yang merusak tanahnya, tanpa sadar sedang menghancurkan dirinya sendiri, melukai rakyatnya, mengakhiri kehidupan negerinya
Tangis saya pecah ketika sampai di Bab 24. Betapa terasa dekat perjuangan itu, perjuangan mempertahankan tanah Sangihe di Sulawesi Utara. Bagi saya yang pertama kali membaca buku Dian Purnomo, sungguh sebuah kebanggaan bisa melihat perempuan Indonesia berkontribusi menjaga tanah dan laut, melalui tulisan yang semoga bisa dibaca lebih banyak manusia.
Sebuah fiksi yang terinspirasi dari pengalaman nyata tentu tabuhnya terdengar lebih jernih. Setiap halaman menyajikan pengalaman membaca yang menempatkan kita pada kacamata tokoh utama, belum lagi bahasa yang dipakai yang membawa tubuh kita ke tanah Utara. Plot yang apik, alur yang tidak cepat, tidak juga lambat.
Kita ikut merasa geli, merasa takut sekaligus berani, merasa harap yang sama dengan setiap karakter di novel ini. Buku ini menawarkan definisi sesungguhnya bahwa membaca bisa membawa diri menjelajah ruang, ide dan perasaan.
Entahlah, mungkin pandangan saya terhadap buku ini terlalu bias, karena hati yang terpaut pada laut. Tapi percayalah, Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut, memberi saya pengalaman “lengkap” melalui sebuah tulisan.
Novel ini terasa seperti suara ombak yang terus memanggil, pelan tapi tak pernah berhenti. Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut karya Dian Purnomo membawa saya menyusuri Pulau Sangihe, suatu pulau indah di daerah Sulawesi Utara, dimana pulau ini menjadikan laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ingatan, kehilangan, dan harapan yang tak selesai.
Tokoh utamanya dua perempuan, cerita bermula dari Mirah yang dipindah tugaskan ke Sangihe, disana Mirah bertemu Shalom Mawira, sosok perempuan muda yang hidup dalam penantian panjang. Shalom menunggu ayahnya yang tak pernah kembali dari laut, dan dari penantian itu tumbuh keteguhan yang sunyi. Menunggu di sini bukan sikap pasrah, melainkan cara bertahan. Cara mencintai. Cara melawan dengan tubuh dan keyakinannya sendiri.
Buku ini merupakan karya pertama dari Dian Purnomo yang saya baca, saya suka dengan cara Ia menulis saat dimana perusahaan tambang datang dan mulai menggerogoti pulau, cerita ini tidak hanya berbicara tentang konflik lingkungan, tetapi juga tentang identitas, hak hidup, dan suara-suara kecil yang sering dianggap tidak penting.
Sangat relatable dengan kondisi negeri saat ini. Tambang, sawit, dan berbagai perusakan alam terjadi, mirisnya yang menikmati hasil kekayaan ini hanya segelintir manusia serakah, sementara banyak diantaranya menjadi korban sistematis yang mengiris.
Saya suka bagaimana mbak Dian Purnomo meramu isu ekologi, kapitalisme, dan ketidakadilan melalui pengalaman personal seorang perempuan. Ada banyak momen yang terasa kuat dan membekas, terutama saat Shalom memilih berdiri di barisan paling depan, meski risikonya kehilangan kebebasan dan rasa aman.
This book’s a straight-up punch in the gut showing how the people of Sangihe get proper shafted by big mining companies. Led by a trio who refuse to back down the community fights tooth and nail to save their land. They take it to court all the way up to the highest levels but end up with nowt because the law’s weak and easily bought by those with power and cash. It’s a grim reminder that justice ain’t for the little guy when the system’s rigged against ’em.
Dian Purnomo doesn’t sugarcoat it she lays bare the ugly truth about how money and influence wreck lives and the environment. The women and fighters standing firm by the sea are symbols of stubborn spirit that no amount of greed can crush. This ain’t just a story it’s a call-out to wake up and see how deep the rot goes when law bends for the rich. Proper hard-hitting stuff that sticks with you long after the last page.
Buku ini berada di rak ku tak lama setelah kembali dari Sulawesi, kampungku! Pikirannya sih kalau rindu bisa langsung buka buku ini aja, karena mostly dialog dalam buku ini bahkan beberapa istilah lokal Sangihe, Sulawesi Utara tercantum dan tenang aja! Kalau enggak paham, ada glosariumnya, kok.
Aku baru aja selesai baca. Baruuu banget ngembaliin bukunya ke rak. And here are my thoughts about it.
Sebetulnya ini buku baguss sekali. Ada bumbu misteri—karena beberapa orang tidak percaya akan kehilangan ayah Shalom Mawira yang diasumsikan telah mati tenggelam. Kemudian sisanya menceritakan tentang Mirah pekerja dari Bogor ke Sangihe, yang perlahan mengikuti perjuangan masyarakat Sangihe terhadap tanah mereka yang dikoyak perusahaan tambang biongo.
Aku lahap tuntas, tapi ini bukan buku yang 'oke' untukku. Here's why, buku ini kurang cocok sebagai pelarian melepas penat (menurutku), karena aku merasa terus diajak berpikir dan tema yang diangkat adalah tentang perjuangan—menurutku cukup berat, sih. Kemudian, sebagai besar halaman, selain menceritakan tentang perjuangan, juga menceritakan tentang keluarga, dan itu cukup membuatku merasa bosan. Terus dialog dan narasi yang menggunakan bahasa serta istilah lokal.. mungkin untuk beberapa orang terasa kurang familiar, ya. Tapi disatu sisi dengan adanya dialog dan narasi tersebut, bisa membuat beberapa orang Sulawesi atau half-blood Sulawesi yang jauh dari kampung merasa dipeluk dan diberi wejangan teh serta pisang goreng sambal yang enaak banget gak sih (aduh jadi pengen).
Kemudian.. apa lagi yah. 😃 Oh! Buku ini dilengkapi dengan beberapa dokumentasi asli yang diambil oleh sang penulis, kemudian juga ada glosariumnyaa—memudahkan untuk memahami dialog dan narasinya, and.. yeah! That's all I can say for this book! If you're interested in this one, go grab yours, siapa tahu menjadi buku terbaik yang pernah kalian baca!
Thank you for reading my first-ever review books on an online platform, yayayy. Selama ini review buku cuma lewat tugas Bahasa Indonesia—meresensikan buku, hehe. 🤣
This entire review has been hidden because of spoilers.
Rate: 3.5/5 Pola penjelasan isu yang sudah familiar versi Bu Dian yang membuat frustasi pada beberapa bab awal. Memahami betapa besarnya isu lingkungan yang terjadi pada banyak sekali daerah di Indonesia dan bagaimana mereka bermain dan berlindung dibalik hukum, sungguh membuat murka dan menambah kesadaran akan pentingnya perjuangan ini terus dilakukan. it honestly give me a slight of book slump, buku ini tidak memiliki alur cerita sematang dan sekompleks buku "Perempuan yang menangis kepada bulan hitam" tapi tentu mengangkat isu yang sama pentingnya. Proses penerimaan Shalom sebagai main point yang diangkat dalam judul "Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut" memberikan benang merah self development main character yang sangat jelas dan melegakan walaupun belum sampai menyentuh klimaks yang menggetarkan hati. Bagian yang paling bikin saya senang adalah puncak perlawanan masyarakat yang cerdas dan berusaha sekuat mungkin tanpa melibatkan kekerasan. itu benar-benar scene action yang epik.
((Rate-ku 4.5/5)) . Actually, sudah menyelesaikan buku ini beberapa hari lalu. Finally, I did lol. Baca di bulan Juli, selesai di bulan agustus 🥹😭 . Sebenarnya buku ini page turning, aku aja lagi di masa yg gak berselera membaca 🥹😭 Sebuah kejujuran mengenai apa yg terjadi di daerah kepulauan, yg mana memang banyak sekali kekayaan alamnya. Namun, sayang banyak orang hanya mengambil kekayaan tersebut, tanpa peduli keberlangsungannya. Serakah?? Hmm, mungkin itu kata yg tepat menggambarkannya . Tapi Shalom dan rekan2-nya di pulau Sangihe sangat mencintai tanah kelahiran mereka dan rela berjuang demi tanah kelahiran nya.. sungguh perjuangan yg gak mudah!!
Seperti napak tilas KKN. Meskipun Miangas di Kepulauan Talaud, aku sempat singgah di Tahuna untuk satu hari. Semoga Sangihe selalu dilindungi dari perusahaan tambang brengsek #SaveSangiheIsland
NB: Sayang Mbak Dian Purnomo sebagai penulis yang menulis tentang social justice pada awalnya tidak bisa menyatakan keberpihakan pada masalah Palestina. Setidak-tidaknya dia sudah minta maaf dan sadar kalau yang harus dibela adalah Palestina.
“Aturan memang dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan penguasa dan pemilik harta, untuk mengekalkan kekuasaan dan kekayaan mereka.” Kata kata yang apik dan akan selalu relevan dimanapun manusia itu berada di era apapun😢
Terima kasih ya Shalom Mawira sudah membawaku jalan2 dan juga melihat perjuangan, konsistensi serta totalitas kalian di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. 🏝️
Menarik dan menggugah pembaca utk turut memberi perhatian pd isu tambang yg diceritakan. Gaya berceritanya jg mudah diikuti, tapi bagi pembaca yg kurang akrab dg kata2 atau sapaan2 lokal daerah sulut mungkin akan sedikit terhambat. overall buku ini wajib dibaca sih, utk usia remaja jg cocok buat menanamkan pendidikan & kesadaran lingkungan
Bapak yang selalu mengingatkanku. Abaikan hasil, karena dia tidak akan membohongi usaha kita. Hasil adalah bonus. Kalau kita sudah berupaya sekuat tenaga, maka di satu titik, kita tidak akan peduli dengan hasil (Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut, p.269)
secara plot cerita, buku ini memang tidak se emosional Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. namun, buku ini sangat informatif terkait kondisi dan situasi masyarakat di Sangihe yang harus bergumul dengan pengusaha tambang emas dan aparat pemerintah yang mendukung perusahaan. buku ini begitu gamblang menceritakan perjuangan masyarakat di tengah konflik agraria dan eksploitasi alam yang menyebabkan tercemarnya lingkungan dan hancurnya tanah tempat mereka bernaung.