Menjadi putih di tengah hitam tentu bukan hal yang mudah bagi Dirgasatya Kalingga, Presiden Republik Indonesia termuda yang baru memasuki enam bulan masa jabatan. Sejak awal ia tahu, memiliki status sebagai orang nomor satu itu bukan hanya tentang kebanggaan, tetapi juga beban serta tanggung jawab. Dalam masa kepemimpinannya, Dirga memiliki tujuan untuk menata kembali negara yang telah lama digerayangi oleh kebobrokan. Selain harus berhadapan dengan teror dari orang yang telah lama memanfaatkan negara demi keuntungan, Dirga juga harus berhadapan dengan perasaan dan kekecewaan terhadap timnya. Ternyata, pernikahan dirinya dengan Asisten Ajudan Presiden- Lettu Anavia Edelweisa semata-mata terjadi atas konspirasi yang direncanakan oleh tim investigasi bentuknya. Atas nama tugas negara yang diamanahkan pada Navia untuk melindungi RI 1 dari berbagai ancaman berbahaya, Navia tidak memiliki kuasa untuk menolak sehingga kini mereka berdua terjebak dalam kisah rumit yang sulit sekali terurai. “Saat kasus yang Bapak hadapi selesai, maka segalanya di antara kita juga ikut selesai.” – Anavia Edelweisa “Jangan pernah turuti lagi perintah orang-orang itu, sekali ini saja, jadilah pengkhianat untuk negara demi saya. Jika kamu masih tidak bersedia melakukan permintaan saya, maka yang tadi saya katakan saya ubah menjadi perintah yang saya turunkan sebagai seorang presiden untuk kamu, Lettu Anavia Edel
Judul: RI 1 Penulis: Slsdlnrfzrh Penerbit: Langgam Pustaka Dimensi: vi+426 hal, cetakan pertama Februari 2022 (edisi Ruang Buku Kominfo) ISBN: -
Menjadi orang nomor 1 di Indonesia tidaklah seenak yang terlihat. Dirga bahkan memiliki banyak PR dari pemerintahan sebelumnya. Dia berhati-hati memilih tim dan menteri yang bisa dipercaya. Sayangnya, dia tetap kecolongan. Salah satu menterinya adalah mata-mata yang dipasang oleh Alex Darmawan (AD), seorang pengusaha yang banyak melakukan kejahatan dan selalu menyuap kasusnya hingga tidak diperkarakan. Namun, kali ini dengan kekuasaan di tangannya, AD tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski nyawa Dirga menjadi taruhannya.
Belum lagi, kekosongan posisi ibu negara sebab Dirga sudah menduda selama 10 tahun, ternyata cukup berpengaruh. Bagaimana jika Dirga mendapuk Lettu Anavia, asisten ajudannya, menjadi istri? Toh, selama berbulan-bulan apa yang dikerjakan Navia persis seperti seorang istri melayani suami.
Awal membaca, saya berekspektasi akan menjadi novel action yang seru. Namun setelah setengah buku saya lewati, nampaknya fokus penulis memang di romance. Sebab sorotan utama dan PoV yang digunakan hanya Dirga dan Navia. Seru, tapi kayak kurang pas aja. Di awal sudah terdeskripsikan tentang kegiatan hingga pengamanan presiden, namun beralih jadi konflik batin antara presiden dan ajudannya. Porsi alex darmawan dan ancamannya malah berkurang. Karakter navia sendiri awalnya tegas namun belakangan rasanya jadi plin plan. Cukup lucu tapi kurang mendalam.
Cocok dibaca bagi yang suka romance dan menambah wawasan tentang kegiatan presiden.
Ada beberapa hal yang rada miss di sini (I totally don't think Paspampres dan TNI pada umumnya enggak bakal se-kasual itu meski udah deket dan ikrib bingit sama RI 1 dan enggak bakal slengekan juga at least di jam kerja), tapi karena menghibur jadi oke-oke aja, deh.