Berbekal kertas teka-teki yang ditinggalkan pelaku dan sejarah masing-masing patung, Aksa, seorang penyidik polisi, bersama dengan Dama, programmer maniak misteri, menelusuri Kota Jakarta untuk mencari keberadaan pelaku.
Hore selesai jugaa!! Seneng deh akhirnya bisa menyelesaikan satu buku padahal hampir aja reading slump wkwkw🤭
Heeemm bagaimana ya mengomentari buku ini. Aku punya hal yang kusuka dan hal yang kurang (seperti biasa) tentunya. Untuk plotnya oke sih. Hanya saja most of the time aku merasa buku ini cenderung datar. Ga berasa banget sensasi baca buku murder mystery yang bikin pengen cepet-cepet tau siapa pelakunya. Sama sebenernya aku merasa tokoh-tokohnya masih agak misterius (gatau ya apa aku tipe pembaca yang kepoan aja wkwkw). Aksa ini marah mulu. Aku jadi bingung ni orang kenapa. Mungkin ada hubungannya sama masa lalu dia yang sempet disinggung sama Moyan, bawahannya. Tapi entahlah aku masih ga menemukan benang merahnya. Lalu mengenai Aksa dan Dama. Kenapa mereka kyk slek-slekan gitu di awal? Mereka ini rival kah apa gimana... agak bingung padahal beda banget profesinya. Aksa kan polisi sedangkan Dama diceritakan seorang programmer yang bantu memecahkan kasus ini. Tapi aku masih kurang ngeh juga posisi si Dama hmmm
Hal yang sangat kuapresiasi dari buku ini adalah ide ceritanya. Bikin cerita murder mystery yang lokasinya di Jakarta dan menjadikan patung-patung di sini sebagai clue selanjutnya. Menarik banget buatku. Agak mengingatkanku sama bukunya Dan Brown yang tiap pembunuhan ada clue sesuatu gitu yang membuat mereka ke suatu tempat yang dimaksud clue-nya (LUPA BGT JUDULNYA seingetku ceritanya begini sih).
Adegan pas nge-reveal pelakunya juujur tidak terduga sih buatku. Bukan plot twist juga sih hanya saja aku ga nyangka akan berakhir demikian.
Apa lagi ya yang mau kusampaikan... tunggu reviewnya di ig aja dech <3
Oiya ratenya buatku sihh 3.8/5 ya gatau kalo ntar berubah pikiran ehe
gimana ya .... ? oke, aku akui, pertama, pemecahan kasus dan pengungkapan petunjuk-petunjuknya cukup detail. untuk penyuka misteri kayak aku, seneng banget nih bacain novel misteri yang detail begini. walau ya, awal mulanya, kukira bakalan minim petunjuk, tapi ternyata pengungkapan petunjuk-petunjuknya realistis. banget malahan.
kedua, aku akui juga lokasi-lokasi yang ada di sini tuh lengkap, dalam artian masing-masing lokasi dijelaskan secara lengkap. buat yang enggak biasa keliling jakarta—contohnya kayak aku—lumayan banget sih penjelasan lokasinya. bisa tuh kapan-kapan jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi di novel ini.
ketiga, istilah-istilah ilmiah/kedokteran yang ada di sini juga keren dan detail, juga dijelasin dengan sederhana (terutama buat yang awam kayak aku). lumayan buat nambah ilmu.
keempat, alur cerita juga jelas; enggak bertele-tele, enggak slow burn, enggak juga kecepetan. aku benci banget tuh sama novel misteri yang udah mana slow burn, petunjuk-petunjukknya diumpetin mulu, kebanyakan ngeksplor perasaan tokoh, terus alurnya enggak jelas pula. untungnya novel ini enggak slow burn sih. aman.
tapi .... banyak banget juga hal-hal yang bikin aku greget. ini versi lengkap dari yang aku tulis di instagram ya.
sebelumnya aku mau nyampein secuil pendapat yang enggak terlalu berguna juga sih di sini, wkwk. aku ngeliat aksa ini kayak campuran detektif gotou (psychic detective yakumo) + pria ber-mbti entp + detektif kawasemi (ron kamonohashi: deranged detective). terus, aksa ini kayak campuran saitou yakumo (psychic detective yakumo) + n (second sister). dan, dinamik aksa - dama kayak gotou - yakumo.
pertama—ini lebih ke catatan sih—novel ini enggak disarankan untuk pembaca yang enggak terbiasa sama misteri. karena, bahasanya ketinggian. ya, mikir dong. udah susah-susah mikirin petunjuk, eh ditambah harus mikir makna kalimat/katanya juga. bagiku juga terlalu "puitis" gaya bahasanya untuk ukuran novel misteri. alasannya sama: aku mau mecahin kasus, bukan mecahin makna kalimat. kalau cuma beberapa kali sih enggak masalah, tapi ini sepanjang novel. aduh.
kedua, sadar enggak sih kalau tokoh dama ini masih abu-abu? dia ini siapa? apa profesinya? oke, dia ini maniak misteri yang jago programming, juga keponakannya atasan di kepolisian. tapi setelah aku teliti lagi, sebenernya enggak ada penjelasan detailnya sejak dama pertama ketemu aksa sampai akhir. apa yang mengidentikkan dama sebagai maniak misteri? ketertarikannya mecahin kasus? well, oke. masih abu-abu karena enggak gamblang dijelasin, tapi oke. terus, harus gitu dibikin jago programming? sedangkan, enggak ada satupun adegan dama nunjukin kebolehan programming-nya secara detail. menurutku, bakal lebih otentik kalau dama jangan dibikin jago programming sekalian kalau kemampuannya enggak bisa ditunjukkin secara detail. sayang banget ini. kebanyakan juga kemampuan analisisnya kok yang justru dipakai. riskan dan susah emang mau bikin tokoh yang jago programming, tapi ya itu resiko yang harus diambil. detailkan atau enggak usah jago programming sama sekali. kalau enggak, aneh. enggak otentik.
ketiga, banyak banget kalimat ambigu. contoh sederhananya deh, di kalimat, "berdiri tegap dengan punggung melengkung sempurna, .... " lah? jadi berdirinya tegap atau enggak sih? ini bikin kenikmatan baca berkurang loh. kalaupun ada makna lain, kurang detail nih nulisnya.
keempat, enggak dijelasin apa sebenernya hubungan dama dan kesya. sejak nama kesya disebut dama pertama kalinya sampai novel selesai, enggak ada tuh yang mengidentifikasikan hubungan mereka. ujug-ujug si aksa udah nyerocos kalau kesya itu mantannya dama. lah? terus, dama juga enggak nyangkal, yang artinya perkataannya aksa bener dong. lah? kapan ada indikasi kalo mereka pernah pacaran? malah aku mikirnya mereka cuma teman deket yang tahu hampir segala hal tentang satu sama lain.
kelima, aksa di awal-awal tuh aneh. masa manggil atasannya—pak danus—pakai "aku-kamu"? enggak sopan. barulah mulai dari pertengahan sampai akhir, aksa ini manggil atasannya pakai "pak". hm ... ada 2 editor loh yang megang buku ini ....
keenam, enggak dipakainya tanda baca "?!" tuh jadi ngebingungin aku. jadi seakan-akan bukan bertanya menggunakan intonasi tinggi, melainkan ngasih perintah. ngerti enggak sih? atau emang begitu aturan puebi sekarang? akunya aja yang kudet puebi terbaru? yang manapun yang bener, tetep aja aku ngerasa kalo "?!" diganti "!" aja tuh aneh. aku jadi ketawa-ketawa miris sendiri setiap ketemu kalimat tanya bernada tinggi yang enggak ada tanda tanyanya di akhir.
ketujuh, masih banyak banget salah ketik (typo) dan tanda baca. banget, loh, catet itu. ini proses editing-nya yang udah kehabisan waktu, enggak ada proofreader yang mumpuni, sengaja, atau gimana sih? aku kan jadi greget sendiri bacainnya. ini mengurangi kenikmatan membaca juga loh.
kedelapan, ending-nya ... enggak terduga, dalam artian biasa banget. jujur, aku udah berharap banyak loh. seenggaknya walau sepanjang cerita banyak misuh-misuhnya, ending-nya semoga menarik, gitu. ternyata enggak. baikla ....
saran kecil dariku, kak meda coba nulis novel fiksi sains deh. kayaknya bakal lebih deg-degan daripada nulis novel misteri, karena kakak udah punya bekalnya, gitu.
rating dariku? 2.6/5 ✨
oh ya, tokoh kesukaanku aksa. walau amarahnya suka enggak ketolongan, tapi dia yang paling lumayan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
The whole story ... nggak bisa dibilang bagus banget, tapi real bikin merinding!
Bayangkan, ada kasus pembunuhan berantai yang diduga muncul lagi setelah lebih dari 20 tahun. Habis itu mayatnya ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Kadang malah nggak lengkap. Polisi cuma punya satu petunjuk, sedangkan kemungkinan besar korban lain akan muncul.
Bagian yang bikin greget itu di action-nya. Penulis pandai menulis deskripsi yang nggak membosankan, justru malah bikin tegang. Proses penyelidikannya juga berhasil bikin nahan napas beberapa detik karena beberapa kali pelaku hampir selalu bersinggungan dengan pihak berwajib. Petunjuk di buku ini nggak asal sebut, ada asal-muasalnya.
Karena baca ini barengan sama teman, ada beberapa insight tambahan yang mungkin bisa jadi pertimbangan bagi yang akan/lagi baca bukunya terus nemu reviu ini. Skeleton 13 banyak bahas soal sejarah beberapa patung di Jakarta. Aku pribadi merasa puas dan nggak ada kesan lewah di bagian penjelasan mengenai sejarah tersebut. Greget malah karena sambil nebak juga apa benar lokasi patung selanjutnya adalah TKP, atau malah sebaliknya.
Seperti yang aku sebutkan di atas, buku ini nggak bisa dibilang bagus banget karena memang ada kekurangan, terutama di bagian ending. Aku bakal tandai sebagai spoiler karena khawatir nggak sengaja sebut satu-dua petunjuk. So, be wise sebelum klik link-nya.
Bagian yang bikin aku suka lagi pemilihan latar tempatnya yang spesifik Jakarta, bukan Jabodetabek. Bukan hal besar memang, tapi nggak tahu, rasanya kayak bikin senang aja. Sama ilustrasi sampulnya cakep!!!
Jujur, ceritanya page turner dan bikin penasaran. Ide ceritanya juga menarik menaruh teka-teki lewat patung-patung di Jakarta. Ini insight menarik yang aku dapetin dari membaca buku ini. Istilah-istilah kedokteran yang dipakai juga dijelaskan dengan bahasa umum sehingga mudah dimengerti mungkin karena penulis juga seorang dokter jadi bisa menjelaskan dengan baik.
Tapiii, banyak hal yang kurang sreg buatku. Beberapa udah dimention oleh review user ini https://www.goodreads.com/review/show... dan memang itu aku temui juga saat membaca buku ini.
1. Hubungan buruk Aksa dan Dama tidak dijelaskan kenapa bisa terjadi? Apa iya cuma karena iri hati dan nggak suka karena sifat arogannya?
2. Ada cukup banyak part yang nggak ada jawabannya. Kayak narasinya dilempar gitu aja dan nggak ada kejelasannya.
3. Adegan di atap Monas agak kurang logis. Mungkin deskripsinya kurang jelas sehingga aku merasa nggak logis. Contoh waktu Ryo pegang tangan Aksa pas Aksa gelayutan terus Aksa meraih pistol dan menembak pelaku yang ada di belakang Ryo. Ini posisinya Aksa udah naik kah? Atau Aksa nembak pakai tangan kiri? Narasinya kurang detil jadi menimbulkan pertanyaan.
4. Pemberian gelar "penyidik terbaik kepolisian" untuk Aksa berbanding terbalik saat di lapangan. Aksa butuh bantuan Dama yang notabenenya cuma seorang progammer maniak misteri, bahkan deduksi Dama lebih jago daripada Aksa yang "penyidik terbaik"? Siasat penangkapan pelaku di Museum Fatahillah juga biasa banget padahal ciri-ciri pelaku bukannya udah sedikit-banyak tertangkap CCTV? Jadi untuk gelar "penyidik terbaik" nggak terbukti di mataku.
Novel yang potensial banget, tapi aku menyayangkan banyaknya hal yang kurang jelas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Salah satu cerita mystery thriller yang baguuus. Plotnya rapi, clue buat pemecahan materinya juga disampaikan dengan baik di sepanjang buku, action pack-nya juga lumayan. Pembunuhannya pun sengeri ituuu. Apalagi bagian prolog beneran kek ngeri banget. Penggambarannya bagus.
Beberapa hal yang nggak aku suka palibg endingnya ya terasa gitu aja. Setelah perjuangan begitu panjang, tapi pay off-nya kurang. Walaupun ada scene penangkapan juga sebelum itu, tapi kurang terbayar. Walaupun karakternya cukup oke, tapi ada beberapa yang nggak jelas juga. Aksanya nggak terlalu kliatan pintar padahal dia salah satu penyidik terbaik? Aku nggak melihat itu dari dia karena dia grasa grusu dan gk teliti padahal di awal dia digambarkan seakan-akan observant. Terus Dama juga digambarin hacker tapi nggak ada satupun scene yang membuktikan itu dan cuman omongan aja.
"Kasih sayang yang menguatkan kepercayaan antara dua orang. Namun, juga melemahkan di kala lawan menggunakannya sebagai pion untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Pertama-tama, aku suka bagaimana si pelaku kejahatan 'mengajak' berkeliling setiap sudut Jakarta lewat petunjuk-petunjuknya. Banyak informasi mengenai Jakarta yang baru aku ketahui, begitu juga dengan kosakata medis yang ada di dalam novel ini. Selain itu, petunjuk-petunjuk yang diberikan pun masuk akal. Namun, beberapa hal di dalam buku ini membuatku merasa sedikit kecewa setelah selesai membacanya.
Ada lumayan banyak kesalahan ketik dan kalimat yang agak sulit dipahami. Para karakter, juga termasuk karakter utama tidak bisa menarik simpatiku sama sekali, rasanya kepribadian mereka ini memang sulit disukai dan tidak terlalu membekas. Bagian klimaks pun rasanya berlalu begitu saja dan kurang membuat puas. Keseluruhan buku ini cukup oke untuk sebuah kisah misteri, tapi tentu masih perlu perbaikan sana-sini.
Dengan kebetulan semua latar belakangnya adalah tempat tempat yang jadi keseharian gue selama 3 bulan ini. Jadi, kebayang sepenuhnya gimana mobilitas dan investigasi yang dilakukan
Sangat direkomendasi untuk yang suka thriller, crime, investigation, juga agak gore sih. Jadi, be careful ya!
Gak ada masalah soal typo dsb, semuanya gampang dimengerti. Hal tersebut mungkin didukung dengan gue yang suka baca dan sedikit banget nonton investigasi dan criminal things ya.
Police procedural biasanya jadi comfort read-ku, tapi Falasteen benar-benar membentuk ulang apa yang kusuka dan yang nggak pantas disukai. Bukan karena bukunya buruk. Cuma lagi menghindari hal-hal keji.
This book is very exciting, usually, I read mystery books in 5 days - 1 week, but I finished reading this book in just two days.
The storyline and relationships between chapters are intertwined very well so that when you finish one chapter, you immediately want to read the next chapter. The story is fast-paced and from the start, you can immediately feel the action.
The theme and mystery are also interesting, a murder incident, but it was carried out by placing the victim on statues in the city of Jakarta. For me, who has not lived in Jakarta for a long time, several facts about this statue are very new to me. So it feels like a trip to Jakarta.
As stand-alone characters, Aksa and Dama are interesting characters. But as a partner, I have complicated feelings towards them. I would describe the relationship between Aksa and Dama as similar to Tom and Jerry, a bromance style. However, sometimes this relationship becomes the center of the story. To me, this kind of feels quite excessive. At one point, I feel like they need to lower their egos and get to the bottom of this case, stat.
Beyond that, this is a fun book to read. One of the books that I hope can be adapted into a film. So I can see the interesting statues in Jakarta accompanied by Dama and Aksa.
Adegan misteri dan kejar2annya kerasa, kuakui cukup bikin aku lost focus beberapa kali krn ada kalimat yg susah dimengerti. Karakternya hmm chemistry lebih kuat ada di Dama sama Aksa ya tp sayang gk dijelasin ttg pertemuan pertama mereka atau gmn kok Dama bisa bantuin Aksa beberapa kali buat nuntasin kasus. Jadi kesannya msih blm jelas gitu. Chapternya banyak jadi jelas buku ini menyajikan 'petualangan' yg panjang. Untuk ending, jujur agak kureng buatku pribadi, tp seluruhnya cerita ini masih worth buat diikuti
Karakternya kebalik yang dideskripsikan sebagai programmer malah cocok jadi penyidik, sedangkan penyidik malah jadi kek tukang suruh dan komentator aja.
Pace cerita cepat tapi bakal lebih cepat dan tambah menarik lagi kalo percakapan nggak penting yang isinya kayak percakapan anak-anak umur 10 tahun bertengkar merebutkan mainan dihapus.
Karakter utama hateable serasa paling top wkwkwkwk kesall
Lumayan speechless baca bab mendekati endingnya, another level of psychopath. Ada beberapa kalimat typo yang bikin kurang sreg, tapi overall dari alur cerita sampai ke penokohan top bgtt. Baru kali ini baca plot twist yang bikin geregetan tapi jg agak kasihan. Bu Meda kerenn.
Sekitar awal tahun ini, saya pernah unduh buku ini di Gramdig dan baca halaman-halaman awalnya, tapi nggak lanjut karena ngerasa nggak nyaman dengan deskripsi mutilasinya yang terlalu gore (soalnya adegan itu bener-bener di bab pertama banget). Barulah kemarin akhirnya punya niat ngelanjutin, dan syukurlah dapet di iPusnas.
Ternyata ceritanya seruuu!!! Rada ngingetin sama buddy cop movies dengan dinamika Aksa dan Dama yang kayak gitu. :))) Saya suka cara penulis merangkai alur penyelidikannya yang rapi dan runut dari awal hingga akhir--bagaimana mereka merangkai petunjuk demi petunjuk dan berusaha memecahkannya, bagaimana frustrasinya ketika menemukan kebuntuan. Misterinya juga menarik dan menambah pengetahuan tentang patung-patung di Jakarta (jadi pengin mengunjungi patung-patung itu deh). Penyelesaiannya juga oke menurut saya, memuaskan, masuk akal dan revelation itu nggak bikin tone ceritanya jadi beda dengan rangkaian kisah yang sudah dituliskan sebelumnya. Sepertinya banyak pembaca lain yang nggak puas sama ending-nya, tapi buat saya ending itu cukup makes sense dan masih nyambung dengan petunjuk-petunjuk yang telah diperoleh sebelumnya, bukan sesuatu yang serta merta. Jadi, saya nggak protes tentang pelaku itu.
Yang saya sayangkan justru gaya penulisannya masih agak kurang luwes menurut saya, terutama dari segi dialog. Gimana ya... campuran antara dialog baku dan nggak bakunya itu agak kurang smooth. Saya merasa cerita ini mungkin kalo dituliskan dalam English bakal lebih dapet, soalnya banyak dialog banter sarkas Aksa dan Dama yang sangat mudah dibayangkan ekspresi English-nya, tapi kalo dituliskan ke bahasa Indonesia jadi agak aneh gitu... terasa fiksi banget, bukan dialog sehari-hari. Hal ini membuat kita terus teringat bahwa cerita dan karakter ini fiktif, nggak kerasa realistis. Sebagaimana yang tadi saya bilang--mungkin feel-nya bakal beda kalo dalam bahasa Inggris, karena sarkasme yang dipake di sini tuh berasa terjemahan sarkasme English banget... yang mana cukup disayangkan karena nilai jual novel ini kan justru di kelokalannya. Andai dialognya sedikit lebih sehari-hari kayak ragam percakapan bahasa Indonesia pada umumnya, mungkin novel ini akan terasa lebih "membumi"... padahal lokasinya udah Jakarta banget. (Oh iya, entah kenapa saya juga rada terganggu dengan banyaknya penggunaan kata "tungkai" dan frasa "memacu tungkai" di sini....)
Terlepas dari itu, pokoknya ini cerita yang bikin saya senang bacanya (selain adegan-adegan gore dan deskripsi organ-organ mutilasinya ya) karena jarang-jarang lho ada yang nulis novel detektif polisi lokal kayak gini, yang bener-bener nonjolin kasusnya sebagaimana cerita police procedural luar negeri. Nagih banget baca kisah mereka tuh--saya berharap cerita Aksa dan Dama ini menjadi serial karena banyak banget hal yang masih bisa dieksplorasi dari mereka berdua, termasuk masa lalunya. Dan kalo ada novel lain yang masih nyeritain mereka, saya harap peran Moyan akan lebih banyak, karena saya suka karakter dia haha gemes.
Cerita misteri yang berlatar belakang di Indonesia. Sinopsisnya pun lumayan bikin penasaran. Dari segi cerita, penulisnya lihai membuat suasana mencekam dan kengerian, terbukti dari bagaimana penulisnya menggambarkan betapa sadisnya pembunuhan yang dilakukan pelaku.
Tapi meskipun di sinopsisnya digambarkan tokoh Aksa adalah penyidik terbaik di kepolisian, sepanjang membaca aku tidak terlalu terkesan dan mendapati karakter terbaik tersebut. Karakter Aksa di awal sekilas terlihat seperti orang yang agak angkuh dan sepanjang cerita tidak bertindak secakap itu sampai bisa dikatakan terbaik. Namun aku suka pengembangan karakter Aksa di cerita ini. Meskipun aku tetap penasaran juga terkait masa lalu Aksa.
Sementara untuk karakter Dama sendiri terasa masih ada plothole tentangnya. Latar belakang Dama tidak dijelaskan detail selain ada masalah keluarga sehingga ia sampai bisa hidup seperti sekarang. Namun sepanjang baca pun, karakternya tidak terlalu menampilkan seseorang yang bekerja sebagai programmer, saking minimnya latar belakang tokoh Dama, aku terkadang jadi melihatnya sebagai orang yang punya banyak waktu luang😭😭.
Khusus untuk tokoh Kesya, sangat disayangkan karakter ini hanya terasa seperti datang dan pergi untuk memberi penjelasan. Hanya itu saja, tidak ada keistimewaan lain. Terlebih informasi yang diberikan pun mungkin bisa ditelusuri menggunakan internet. Kalaupun informasi yang diberikan dianggap cukup jarang diketahui, penuturan dari Kesya tetaplah terasa subjektif. Belum lagi untuk tokoh-tokoh lainnya seperti Moyan, Fiko, termasuk para pelaku yang menurutku kurang dipertegas lagi latar belakang mengapa si karakter bisa seperti itu, tidak hanya penekanan dalam deskripsi namun juga pada keselarasan sikap maupun tindakan mereka. Mungkin kedepannya watak setiap karakter maupun interaksi antar tokohnya bisa ditekankan lagi agar bisa lebih berkesan di mata pembaca.
Selama membaca, penulisnya hebat dalam penggambaran latar tempat dan suasana karena di deskripsikan secara detail. Ide ceritanya sungguh menarik dan menyenangkan. Aku jadi mudah membayangkan situasi mencekam yang sedang dihadapi, sekaligus dapat banyak pengetahuan perihal patung-patung yang ada di Jakarta. Pembaca serasa diajak berkeliling mengenal latar belakang dibangunnya patung-patung di setiap tempat di Jakarta. Walaupun dari segi pemecahan kasusnya sangat mendebarkan dan unik, sayangnya aku tidak begitu merasa bersimpati. Entah kenapa rasanya seperti anti klimaks terutama ketika pelakunya terungkap. Kendati demikian, secara keseluruhan buku ini tetap memuaskan untuk dibaca.
🦋 Skeleton 13 | Meda @medamamaio | 352 halaman | Bhuana Ilmu Populer x gwp @gwp_id @bhuanasastra @bipgramedia | Ipusnas
🦋 Pembunuh berantai cerdik yang bikin pusing. Aksa dadi kepolisian menyelidiki kasus permutilasian ini dan korban dimasukkan ke dalam kardus yang diletakkan di bawah patung-patung yang ada di Jakarta.
🦋 Penjelasan permutilasian korbannya jelas banget, aku kebayang banget waktu baca. Bahkan korban pertama tuh kepalanya cewek tapi tulang lainnya jenis kelaminnya cowok aku sampe "Hah?" Sekali mutilasi korbannya auto 2 tapi enggak lengkap dan ada petunjuk yang aku ga tau, ga paham cuma paham teka-teki terakhirnya itupun karena dijelasin sama Dama di bukunya kalau enggak aku sih ngang ngong sampe bukunya selesai 🤣.
🦋 Tegangnya kerasa banget sampe ikut ngos-ngosan padahal aku baca sambil rebahan. Terus, ya aku merasa enggak asing sama kasus di cerita ini permutilasiannya mirip kasus nyata apa gitu tapi jujur lupa. Kalau kata orang sih diangkat dari kisah nyata kasus setiabudi 13 dan ya memang mirip tapi menurutku cerita Skeleton 13 ini lebih ekstrim (Pliss jangan sampe di dunia nyata kasusnya se-ekstrim ini)
🦋 Seperti biasa kalau orang pinter pasti tengil enggak semua sih tapi kalau di cerita detektif yang aku temuin, orangnya pasti tengil kayak di Dama ini. Enggak mau dipanggil bapak, seenaknya sendiri, disuruh diem di kantor malah nyusul, bikin masalah, ngerendahin orang dan bilang si Aksa bego terus-terusan.
🦋 Si Aksa sama Dama ini kelakuannya bertolak belakang banget si Aksa pecinta kerapihan si Dama kalau kerja kudu banget acak-acakan. Si Dama tengil banget nyebelin dipaduin sama Aksa yang emosian. Seru banget interaksi mereka tuh. Dama juga pecinta kasus pembunuhan, dia suka banget teka-teki yang bikin mikir.
🦋 Endingnya lumayan tapi aku kurang puas masih banyak pertanyaan yang ganjel dan ga dijelasin. Bikin bertanya-tanya tapi, ya mau gimana lagi tiba-tiba udah epilog aja terus halamannya habis.
Sebuah novel thriller-detektif-misteri lokal yang mumpuni. Berasa diajak "jalan-jalan" keliling dan mengenal ikon bersejarah—terutama patung—di Jakarta dalam memecahkan kasus pembunuhan berantai dan mutilasi. Duo combo "sumbu pendek" Aksa dan Dama sebagai the protagonists.
Kemudian ku berkhayal kalau dibuat film, ini pasti keren banget—tentu dibarengi dengan eksekusi yang baik. Kapan lagi ada novel lokal misteri yang sangat "Jakarta" banget ini?
-----
Kenapa ku bilang Jakarta banget karena ada satu adegan di mana para polisinya "gagal" menyergap terduga pelaku. Bener-bener gagal, haha. Ini sungguh realistis, ya, secara latar belakangnya di negara ini dan kemampuan isilop-nya, okay ... next. Disclaimer: ini fiksi :"D
Aku suka banget interaksi Aksa, Dama, featuring Moyan dan Dokter Fiko. Becandaannya, sarkasme, dan satire-nya dapet banget. Aksa sama Dama itu bisa bro banget, tapi di satu sisi bisa berantem kayak kucing dan anjing—but turn out saling membutuhkan satu sama lain, hihi. Apalagi jokes ruang forensik yang suka dilontarkan Dokter Fiko, beberapa kali buat ku ketawa.
Untuk misteri kasusnya, riddle, dan teka-tekinya pun ku suka dan ikut tebak-tebakan dalam memecahkan pesan dari si pelaku, arah kompas, dan cerita di balik sejarah-sejarah patung di Jakarta. Keren.
Yang rada hm ... sedikit, itu di bagian akhir cerita. Ya, emang murni psikopat sih. Nggak ada twist soal pelakunya dan dalang utamanya siapa. Hanya misteri kompas dan patung serta ilmu forensiknya yang bikin aku tercenung.
Jika membutuhkan bacaan thriller lokal, ini sangat direkomendasikan.
Buku dari penulis lokal yang punya genre thriller detective. Di awal baca udah cukup bikin merinding sama penggambaran suasana yang intens. Cukup membuat diri ini tertarik untuk baca kelanjutan cerita. Sampai pertengahan buku pun rasa rasanya semakin kepo buat nebak siapa pelaku dan apa motifnya krn dari clue clue yang dah ditemuin aku pun masih terasa clueless buat nebak. Di ending cukup sedikit plot twist soalnya beneran bikin aku menganga pas baca alias kaget. Cuma tetep gereget karena jujur aja endingnya ga memuaskan. I mean, dari grasak grusuk yang udah dilaluin tp ending begitu saja??? kecewa dikit.
Buat penulisan aku suka bagaimana penulis pintar menjelaskan suasana yang sedang terjadi. Action packnya bagus menurutku jadi memudahkan aku buat membayangkannya situasi cerita. Cuma sayangnya penulis kurang menjabarkan karakteristik (?) tiap tokoh. Misal si aksa yang katanya penyidik terbaik tp aku ga bisa nemuin dimana sisi terbaiknya dia saat menyelidik. Malah justru kesan yang aku dapat adalah dia penyelidik yang pemarah. Begitu pun Dama yang disebut sebagai hacker tp kesan yang aku dapet dia hanya orang pintar yang ceplas ceplos. Aku juga masih bingung kenapa Aksa sama Dama nih ga bisa rukun? Berharap di halaman selanjutnya bakalan dijelasin tp ternyata ga ada diceritakan.
Yah walau begitu, ada ilmu baru yang bisa aku pelajari yaitu PATUNG wkwk seru banget tau sejarah beberapa patung yang ada disekitar Jakarta. Overall rate yang bisa aku kasih hanya 3.5/5 tapi masih tetep rekomendasi untuk dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku thriller yang dibuka dengan prolog super merinding. Pembaca diajak untuk membayangkan adegan penjagalan dan situasi yang mungkin cukup disgusting untuk beberapa orang. Alur cerita ciamik dengan menonjolkan dua karakter utama pria yang berperan sebagai penyidik dan programmer yang memiliki kemampuan dalam membantu penyidikan. Hal yang unik dari buku ini adalah adanya teka-teki yang harus dipecahkan sebagai petunjuk siapa pelaku utama dari kasusnya.
Lokasinya di Jakarta dengan beberapa petunjuk yang berkaitan dengan patung dan sejarah sehingga membuat kita merinding seolah ceritanya beneran terjadi. Gaya bahasa yang digunakan cukup lugas meskipun alur di pertengahan seperti melambat namun jujur saya puas dan sedikit "BUSET" untuk bagian penutupnya. Terlebih ketika sang tersangka utama ditemukan begitu juga dengan hubungan yang terjadi antara tersangka pertama dan kedua. Masa lalu dari tersangka utama juga tak kalah kelam dengan beberapa keterkaitan yang menarik dengan kasus di masa lampau.
Penulis berhasil menggiring opini dan pemikiran kritis para pembaca untuk memecahkan kasusnya. Tidak hanya berkutat pada keunikan teka-teki nyatanya penulis juga mampu menyelesaikan setiap konflik dan benang merah yang sudah dirajut sejak awal. Semua hal yang ada dibukunya dibahas dengan mendalam mulai dari keterangan forensik sampai dengan beberapa istilah tentang tulang maupun sejarah patung yang diibuat dengan riset cukup serius.
Buku ini bener2 consumate dan bikin aku drown along the story. Termasuk buku page turner buat saya. Penokohan yang kuat dimana masing2 karakter trrgambarkan dgn jelas ciri khas dan pengembangannya. Bahasa yang mengalir, deskripsi yang bagus dan enak dibaca dengan pemilihan kata yang fresh. Joke nya pun fresh walau terasa cringe di berbagai tempat, tp bagi saya tidak mengganggu.
Keunikan lainnya adalah detil anatomi dan dunia kedokteran sangat jelas di sini. Pendeskripsian adegan aksinya pun lumayan menegangkan. Ditutup dengan plot twist yang wow bolehlah.
Secara eksekusi terutama dari penokohan dan deskripsi alur cerita, menjadi poin-poin kuat novel ini. Namun saya harus saya berikan bintang 4 untuk novel dengan pasangan detektif yg menjadi favorit saya ini. Bintang 4 saya berikan karena sayangnya tekatekinya belum terlalu mendalam. Penyelesaiannya lagi-lagi terasa agak diburu-buru. Padahal latar belakangnya sangat sangat sangat menarik.
Apa hubungan pembunuh dengan sejarah patung-patung di Jakarta. Memang diceritakan pembunuhnya adalah seorang pemahat tapi apa hubungan profesi dengan sejarah patung di seantero Jakarta sayangnya terasa terlewatkan. Ada juga satu karakter penting yang saya rasa agak tersiakan. Andaikan lebih diperdalam, maka penokohan sang pembunuh dengan modus operandinya akan semakin kuat dan membuat novel ini makin berwarna.
Tapi saya sangat suka dengan novel ini semoga penulis melahirkan karya lain dengan tokoh pahlawan yang sama.
This entire review has been hidden because of spoilers.
this book was my booklist that i wanna read, ngantri di ipusnas ga pernah dapet. and i found out on rbk. buku ini jadi salah satu booklistku cause of the blurb was insteresting. so i curious bout the story
selama baca buku ini tuh jujur seru pas awal-awal, kinda pageturner lah yaaa..cuman lama-lama tuh kek plotnya lambat bangett, agak kesel soalnya kenapa polisinya gagal pas penangkapan pertama, mana si aksa keras kepala bgt lagi. agak sebel sama tokoh-tokoh di sini, except dama. he remains me to detektif galileo di bukunya keigo sensei. gatau kenapa aku ngerasa tokohnya tuh ga bisa satset gitulooo. dikit-dikit marah, emosi. apalagi detektifnya. ceritanya ngingetin aku sama drama partner for justice, apalagi kasusnya hampir sama
the most annoying figure in this book was roy(?) gatau kenapa nyebelin bgt, terlalu gegabah. mana gamau dengerin bawahannya. si aksa juga gitu iya iya aja ga bisa ngebantah
imo, di sini ceritanya terlalu drama plsss 😅 terus lumayan banyak typo. tbh i love a thriller genre, tapi di sini kek kuranggg. apalagi endingnya..meh.
menurutku endingnya kurang greget bgt, kek pas udah tau who is the murderer aku kek ha??? kek ya udah aja gitu. dann pas tau motifnya tambah wondering lagi 😭
but if you guys wanna try to read a thriller-mystery from indonesian author, you can read this book 👏
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menceritakan tentang perjalanan Aksa dan Dama dalam memecahkan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Ibukota Jakarta. Berasa diajak keliling Jakarta karna untuk misteri kasusnya serta teka-teki di dalamnya berhubungan dengan ikon bersejarah yaitu patung-patung yang ada di Jakarta.
Plot nya sangat rapih, runut, dan action part nya juga keren. Suka banget sama interaksi antara Aksa dan Dama, walaupun mereka sering berselisih paham tetapi mereka tetap profesional dalam menangani kasus ini. Rasanya dibuku ini kurang penjelasan mengenai awal mula mereka bisa bertemu dan berselisih. I need more stories about Aksa and Dama.
Selama baca buku ini aku berkhayal kalau cerita ini dijadikan film pasti sangat bagus. Ceritanya tidak bertele-tele dan alur nya mengalir. Tetapi untuk bagian endingnya aku merasa sedikit aneh? Karna motif pelaku yang kali ini berbeda dari buku-buku thriller biasanya. Walaupun di endingnya kurang memuaskan tetapi keseluruhan cerita di buku ini sangat bagus. Cerita yang realistis serta terdapat ilmu forensik dan cerita dibalik sejarah-sejarah patung yang ada di Jakarta.
Gilaa, buku ini sangat gilaaaa dari sekian banyak buku misteri thriller yg ku baca, adegan mutilasi di buku ini yg paling ngeri dan ga masuk akallll, ga sanggup aku bayanginnyaaa... bukunya sangat page turner dan aku sangat enjoy membacanya karena saat2 tegang membaca ada saja omongan asbun dama yg bikin ngakak, dama dan aksa benar2 tom and jerry, walaupun aku agak ga sreg sama aksa awalnya karena terkesan angkuh dan tidak terima masukan, tapi semakin lama semakin bagus perkembangan karakter aksa dan sebenarnya aksa ini kasihan bangett huhuu. Buku ini benar2 menarik karena aku sama sekali ga bisa menebak kelanjutannya, hanya bisa hah hoh hah hoh walaupun aku sama terkejutnya dengan aksa yg dimana ga mempercayai bahwa anak sekecil itu bisa melakukan hal yersebut kepada ibunya dan didukung oleh ayahnya membuatku merasa kagettt dan tercengang, alur buku ini juga cepat jadi sebagai pembaca kita tidak boring adegannya disitu2 saja dan untuk dama, kamu jeniusssss sekaliiii damaaaa pls bagi kejeniusanmu sedikittt sajaaa hehehe
Untuk penulis detektif-misteri Indonesia sudah cukup baik (aku ga akan bandingin dgn penulis luar krn sampai saat ini cm detektif kosasih Indonesia yg bisa setara).
Aku suka 2 karakter bertolak belakang, tokoh Aksa dan Dama, tp lagi2 aku selalu bertanya2 mengapa banyak penulis detektif melibatkan terlalu dalam warga sipil di kasus2 kriminal berat (kalau keterlibatan ringan sih ga masalah, tp ini sampai udah kayak polisinya sendiri)
Untuk plot sudah cukup baik. Ini tipe cerita yg pelakunya muncul di akhir (ga muncul dari awal/pertengahan) cerita, sehingga untuk pembaca yg suka cerita detektif yg melibatkan pembaca untuk ikut menebak, mungkin akan merasa kurang mendebarkan.
Latar cerita sudah bagus, berlatarbelakang jakarta dengan patung2nya yg beberapa bahkan aku ga tau apakah patung itu benaran ada di jakarta? Latar patungnya sampai mitos monas jg perlu di apresiasi.
Ditunggu karya penulis selanjutnya. Semoga makin banyak penulis misteri dengan riset seperti ini di antara gempuran penulis2 romance
Novel ini membawa kita menyusuri dua kasus pembunuhan di Jakarta; satu terjadi tahun 1983, dan satu lagi empat puluh tahun kemudian dengan modus yang sama. Dari awal sudah terasa tegang dan penuh misteri, tapi yang paling aku suka justru bukan hanya bagian horor, thriller, atau gore-nya (yang sukses bikin merinding in a good way), melainkan bagaimana penulis memanfaatkan latar kota Jakarta dan patung-patungnya. Elemen sejarah dan kisah di balik patung-patung itu bukan sekadar tempelan, tapi benar-benar menjadi bagian penting yang menggerakkan cerita.
Akhir cerita bisa dibilang happy ending, tapi tetap meninggalkan rasa ganjel bagiku, terutama soal penjahatnya. Motifnya terasa kurang kuat padahal arahnya sudah menarik banget. Rasanya novel ini justru butuh sequel, apalagi karena masih banyak misteri dan dinamika karakter yang belum tuntas, termasuk sedikit bumbu romansa yang bikin penasaran.
SPOILER ALERT!
Masih kepikiran kenapa istrinya Aksa dibunuh, pasti ada alasan besar di baliknya.
Rivalitas Aksa dan Dama juga bikin penasaran; apa sebenarnya pemicunya?
Dama bisa pacaran sama Kesya tuh... gimana ceritanya?
Akankah tumbuh benih asmara antara Moyan dan Kesya?
Dan Gon… setelah keluar dari penjara, apakah dendamnya bakal berlanjut?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kendati endingnya tidak bikin heboh, alur ceritanya lumayan seru dan sangat detail dalam menarasikan setiap langkah terutama ketika terjadi pengepungan yang berulang kali gagal dilakukan.
Dengan latar kejadian di beberapa patung yang bertebaran di wilayah Jakarta, cerita pengejaran pelaku ini mengingatkan pada salah satu novelnya Dan Brown. Cuma pencantuman teka-teki sebagai petunjuk terasa dipaksakan.
Karakternya sebenarnya asyik-asyik saja namun tokoh bernama Aksa dan Dama terkesan drama banget. Apakah memang dipasang demikian entahlah. Keseruan dari sebuah novel genre misteri begini memang ada pada pengejaran dan penangkapan. Gemas rasanya melihat tim penyergap yang berkali-kali mendapat perlawanan sengit dari tersangka kedua. Paling deg-degan ketika Aksa nyaris mati di Monas.
Novel ini memang sibuk di bagian pengejaran tanpa repot-repot harus mengetahui kondisi korban apalagi interogasi yang mendalam. Lebih banyak aksi di lapangan dengan emosi tinggi yang kerap ditampilkan Aksa. Untuk sebuah novel lokal bergenre misteri kriminal dengan mutilasinya menurut saya ini keren.
Cerita yang sangat epik terinspirasi dari kasus yang pernah ada. Dari bahasa yang disajikan oleh penulis memang cukup berat, tapi bagus dan menurut saya belum banyak yang memakai bahasa seperti ini. Bahasa penulisan hampir seperti novel terjemahan. Saya sangat suka.
Awal cerita benar-benar menegangkan. Ditambah dengan teka-teki yang muncul di sepanjang cerita.
Namun, sangat disayangkan endingnya agak kurang greget. Padahal cara para tokoh untuk menemukan pelaku sangat epik dan keren.
Sangat direkomendasikan untuk para pecinta novel detektif dengan bahasa yang cukup berat sekelas Agatha Christie.
Penemuan pertama mayat mutilasi di Patung Pancoran membuat geger! Bola mata yang balik melototimu dari sela kardus dijamin membuatmu ngeri. Teki-teki diselipkan pelaku. Mari berkejaran dengan waktu...
Ada dugaan ini pembunuh yg sama seperti kasus 40 tahun lalu, yglang sampai saat ini pun masih belum terpecahkan.
Dama walaupun songong tapi beneran cemerlang otaknya, pantes Aksa misuh-misuh mulu tapi mau gamau pasrah juga kerja sama beliau.
Penulisannya rapi. Belajar sejarah tipis-tipis juga tentang patung-patung di Jakarta. Thriller dan adegan actionnya bikin bergidik ngeri sih, apalagi pas tau motif pelaku kenapa ngelakuin pembunuhan ini.
Skeleton 13 bagiku adalah novel misteri-crime yang cukup kompleks. Segala teori terutama pengetahuan mengenai anatomi tubuh manusia dan sejarah patung-patung di Kota Jakarta dituliskan secara detail, yang saking detailnya membuat beberapa bagian cerita terasa agak menjemukan. Bisa dikatakan novel ini juga cukup page-turner, meskipun terkadang terasa agak flat karena terlalu fokus dengan teori-teori pemecahan teka-tekinya serta interaksi antar tokohnya yang sering adu mulut. Meskipun begitu, dari semua hal tersebut novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menarik karena kasusnya yang cukup unik dan berbeda dari biasanya.