Des penyihir. Tori gagap dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer. Keempat remaja yang tampaknya bertolak belakang ini ternyata memiliki kesamaan, merasa terkucil dan mencintai buku. Tanpa sengaja mereka berkawan.
Tanpa sengaja? Itu pikir mereka. Ada yang sengaja mempertemukan mereka, demi tugas yang harus mereka hadapi. Tugas mengerikan yang akan menghadapkan mereka pada situasi hidup dan mati, mimpi buruk yang jadi kenyataan. Keempat anak yang menyebut diri sebagai The Bookaholic Club ini bakal melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mendiskusikan buku.
Poppy first became a translator and an editor before releasing her own books. Between her job and the responsibilities of being a housewife and a mother, she continues to write fantasy. She lives in Bogor with her husband and son.
Very fast paced, but still enakeun buat dibaca. Menceritakan 4 anak gadis yang suka baca buku, dan very gifted on their own, together they fight the unpredictable long-shadow enemy. Nah, interaksi 4 tokohnya sangat menarik dengan perpindahan point of view yang juga seru dan page turner.
Memang kesannya agak buru buru di paruh tengah kebelakang tapi untungnya, karena ceritanya seru masih ketolong banget ceritanya. Gasalah pernah suka baca ini jaman baca teenlit dulu! Worth to be reread! Hehe
Sayang buku keduanya gabisa didownload di ipusnas, mungkin harus baca di gramdig ^,^
Pertama: aku suka sama tokoh-tokohnya, yang menyukai buku. Tori suka buku2 arkeolog dan bisa baca rune. Des suka buku2 kuno dan dia penyihir Chira suka buku2 kuno dan bisa melihat hantu Erin suka buku2 karena emang itu hobinya.
Dari keempat tokoh itu aku suka Erin dan Tori. mereka suka buku karena memang mereka suka buku. Bukan karena mereka malas ke mana2, dan terpaksa ngedekam di kamar dengan buku.
Ceritanya juga unik, setting zaman sekarang. Sempat mikir ini kota apa yaaaahh. eh eh ada batutulis. berarti bogor yah? :D kalo sekolah canggih di bogor apaan dong? Dwiwarna yah mbak Pop? hihihi *ngasal*
Yang kurang dari buku ini adalah alurnya kecepatan. Jadi kesannya terburu-buru. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa di Des gak pernah mempraktikkan sihirnya, I mean, yup dia memang penyihir karena keturunan, tapi setidaknya ada dong dia belajar mengendalikan sihirnya... *Kepengen adegan sihir diperbanyak* :D
Dan tentang Bayangan dan Portal, oh i like it.... inget ama Barty jadinya. Dan Charmed :D
Pesan buat mbak Poppy: buku ketiganya bikin yang tebel yah mbak. Hehehehehe
Awalnya nggak sengaja beli buku ini. Secara ini sebenarnya buku remaja ya. Tapi karena judulnya Bookaholic club, jadi tertarik.
Seru juga lho bacanya! Ceritanya jenis misteri dengan karakter utama penyihir, tapi nggak lebay. Asli Indonesia, alias nggak pake bumbu sok bule ataupun sok niru Harry Potter. Selama gue baca, tokoh2nya terasa nyata. Jalan ceritanya juga menegangkan. Menurut gue, ini recommended banget buat remaja2 yang pengen mengembangkan imajinasi. Maksud gue, daripada baca harry potter, nonton filmnya, terus tergila2 sama pemainnya, ini ada yang lebih bagus dan dekat dengan hidup sehari-hari lho.. dan nilai moralnya juga lebih kena.
Di mana ya bisa dapetin koleksi buku Mbak Poppy ini lagi.. hmm....
Aku tidak menyangka bakal sesuka ini dengan buku ini. The Bookaholic Club menceritakan kisah empat orang gadis: Des, Tori, Chira, dan Erin. Walau memiliki berbagai perbedaan, mereka ternyata dapat berteman dekat karena memiliki kesukaan yang sama: buku. Namun, kisah mereka tidak hanya diisi dengan kegiatan membaca saja, karena ternyata pertemuan mereka sudah direncanakan seseorang. Dan kini, mereka ditugaskan untuk membasmi kekuatan jahat yang tengah menciptakan kericuhan di kota mereka yang damai, atau nyawa semua orang akan terancam.
Buku ini diceritakan dalam empat sudut pandang, dan aku menikmati keempatnya. Setiap tokoh memiliki sifat dan karakter masing-masing, sehingga kita mampu untuk membedakan mereka. Aku juga merasa bahwa porsi setiap sudut pandang sudah sama rata. Buku ini terasa lebih fokus kepada Des dan Erin, sehingga aku berharap buku kedua lebih mengeksplorasi Chira dan Tori.
Seperti yang aku bilang, setiap tokoh memiliki karakteristik masing-masing. Mereka memiliki sifat yang sangat berbeda, sehingga dari dialog saja sudah dapat diketahui siapa yang berbicara. Namun, ini juga menjadi kelemahan buku ini. Walau sifat setiap tokoh berbeda, ada saat di mana sudut pandang yang aku baca terasa mirip satu sama lain. Terkadang, aku harus mengingat-ingat terlebih dahulu mengenai sudut pandang siapa yang sedang kubaca. Karakteristik mereka memang berbeda, tetapi aku merasa bahwa sudut pandang mereka dapat melebur menjadi satu karena tidak ada banyak perbedaan dalam narasi mereka.
Selain itu, aku juga merasa bahwa keempat tokoh bisa lebih dikupas lagi. Kita tahu tentang latar belakang mereka, tetapi rasanya sangat basic dan general. Tidak banyak perkembangan karakter yang terjadi dalam buku ini dan mereka juga tidak memiliki banyak masalah internal, sehingga aku tidak dapat terlalu bersimpati pada mereka. Tentunya aku peduli pada keempatnya, tapi aku ingin mereka memiliki konflik personal yang sedang terjadi. Mungkin penulis bisa membuat Erin bingung dengan nilai sekolahnya yang menurun karena terlalu sering berlatih cheerleader, atau Tori yang ingin memberontak terhadap ibunya yang selalu menuntutnya untuk melakukan hal yang tidak ia mau, atau sejenisnya. Apabila ada subplot mengenai kehidupan pribadi masing-masing tokoh, aku yakin mereka akan terasa lebih nyata.
Dari segi cerita, aku akan bilang bahwa aku sama sekali tidak menduga arah alurnya. Konflik utama baru dimulai setelah lebih dari 50%. Beberapa orang mungkin menganggapnya membosankan, tetapi aku sangat menikmati setiap babnya sehingga tidak memedulikan kapan aksi dan misterinya terjadi. Buku ini memiliki beberapa plot twists yang cukup mengagetkan. Walau aku bisa menebak salah satunya, aku cukup kaget waktu membaca plot twist berikutnya. Endingnya juga di cukup di luar dugaan. Pokoknya buku ini sangat bagus dari segi cerita.
Secara keseluruhan, aku sangat suka dengan buku ini. Memang bukan buku yang bisa mengubah hidup atau sejenisnya. Namun, sebagai seorang penggemar buku fantasi dan misteri, aku sangat menikmati buku ini. Buku ini tersedia di aplikasi Ipusnas, dan aku sangat merekomendasikannya kepada semua orang.
Teenlit + penyihir + nuansa novel terjemahan + pengarang yang suka membaca dan cinta buku= jadilah novel ini. Ditulis dengan rapi, padat, dengan alur yang runtut dan teknik penulisan yang luwes menjadikan novel lama ini enak sekali dibaca dan dinikmati. Tidak terlalu berat sehingga pembaca bisa terus menikmati membacanya, tapi juga tidak picisan sehingga membacanya tetap terasa menyenangkan. Paling oke menurut saya kemampuan teknis pengarangnya dalam menyajikan sebuah teenlit yang tidak klise, tetapi tetap terasa fresh. Tidak ada kalimat bertele-tele, cerita yang melebar ke sana kemari, atau dialog dan narasi yang tidak penting. Rapi sekali sesuai alur.
Sebenarnya sebelumnya kepikiran mau ngasih bintang tiga aja, karena agak terasa sedikit terburu-buru alurnya, tapi ceritanya terlalu mendebarkan untuk sekedar dikasih cap bintang tiga. Jadilah sekarang bintang empat setelah dibulatkan.
Jujur, awal menemukan buku ini habis menggali ipusnas seperti biasanya—gak ada ekspetasi apapun karena murni cuma mau cari bacaan ringan, sepintas sepintas aja. Tapi ternyata bagus BANGET. Such a fun read to encounter this year, honestly. :]
I love the girls soooooo much. They scream pure joy and adventurous of a teenager life. ♥️
Penulis : Poppy D. Chusfani Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tebal : 192 halaman Ukuran : 20 cm Cetakan : Oktober 2007 Kategori : Novel remaja karya asli/teenlit/fantasi
Des, seorang gadis remaja yang mewarisi kemampuan menyihir dari para leluhurnya, tak pernah mempunyai sahabat karena tak bisa bergaul dan dianggap aneh oleh orang-orang disekelilingnya. Suatu hari orang tua Des menyelenggarakan pesta Malam minggu untuk para anggota country club dengan anak-anaknya. Tak suka dengan keramaian, Des yang kutu buku malah menghabiskan waktunya di perpustakaan pribadi keluarganya.
Rupanya tak hanya Des yang tak suka dengan keriuhan pesta tersebut. Erin, gadis cantik anak baru di sekolah Des, yang merasa lelah dengan segala kepura-puraan yang ditunjukkan teman-teman barunya yang lebih mementingkan kekayaan dan penampilan, secara tak sengaja menemukan Des di perpustakaan pribadinya yang penuh dengan buku-buku. Begitupun dengan Tori, teman sekolah Des tapi berbeda kelas, yang datang ke pesta dirumah Des karena bujukan ibunya, lebih memilih menghabiskan waktu pesta di perpustakaan Des.
Tiga gadis yang berbeda karakter ini pun terlibat pembicaraan seru mengenai jenis buku yang telah mereka baca. Mereka yang di sekolah, tak pernah berbicara satu sama lain pun, ternyata memiliki minat yang sama, membaca buku ! Dari obrolan mengenai buku, mereka pun menggosipkan teman-teman di sekolah mereka, terutama Luana, seorang gadis cantik yang tak pernah bosan memamerkan kecantikan dan kekayaannya, dan menganggap Des dan Tori, sebagai gadis-gadis yang aneh. Des, Tori dan Erin pun sepakat menjalin pertemanan.
Sementara itu Chira, gadis pintar yang ditakuti orang karena memiliki indra keenam, sangat mencintai buku dan menganggap buku adalah satu-satu teman setianya. Gadis berwajah muram ini tak pernah menyangka bahwa Des, Tori dan Erin, teman-teman satu sekolahnya, juga sangat menyukai buku dan sedang merencanakan bepergian ke toko buku antik milik Kakek Lim, tempat yang juga sering dikunjungi Chira. Merasa satu nasib, tak punya teman dan tak populer, Chira pun bergabung dengan ketiga teman barunya itu dan menamakan kelompok mereka sebagai The Bookaholic Club.
Kunjungan keempat gadis yang baru menjalin persahabatan ke toko Lim Bibliophilia Antiqua, tidak hanya sekedar melihat dan membeli buku antik, tetapi ternyata kakek Lim punya buku yang ditulis oleh salah seorang nenek moyang Des, si penyihir cantik bernama Katrina. Kakek Lim memberikan buku itu kepada Des, dengan harapan agar Des memperbaiki kesalahan Katrina yang menyebabkan makhluk jahat dari dunia lain merasuki manusia.
Kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh Katrina ? Pengorbanan apa yang harus dilakukan Des untuk memperbaiki kesalahan itu dan bagaimana sikap teman-teman baru Des, ketika mengetahui Des adalah seorang penyihir ?
The Bookaholic Club merupakan novel pertama karya Poppy D. Chusfani yang berprofesi sebagai penerjemah dan editor free lance (beberapa buku yang sudah diterjemahkan Poppy adalah Heretic, Situs Masalah, The Bartimaeus Trilogy - The Amulet of Samarkand, Clockwork or All Wound Up dan banyak lagi).
Novel remaja (teenlit) ini sedikit berbeda dibanding dengan teenlit yang banyak beredar saat ini. Buku bergenre fantasy ini cukup menarik meski saat membacanya sempat kebingungan juga karena tidak menyebutkan lokasinya dimana. Selain itu, novel yang dituliskan dengan gaya bertutur para tokohnya, seakan mengajak pembaca untuk memahami karakter dan apa yang dirasakan Des, Tori, Chira dan Erin. Apakah novel ini akan berkelanjutan, mengingat dalam epilog, Poppy seakan mengajak pembaca untuk menantikan aksi berikutnya dari The Bookaholic Club, kita tunggu saja karya terbaru dari perempuan yang mengaku sebagai Tolkien freak dan penggemar genre fantasy ini.
Lumayan ni untuk selingan Bartimaeus 2 ke 3 ( Ups...sama-sama berbau Mbak Poppy he..he.. )
Aku suka bagaimana 4 sekawan ( Des, Tori, Chira dan Erin ) ini bertemu...menurutku buku ini bisa lebih tebal lagi...banyak kejadian yang belum dijelaskan dengan mendetil... Dan pengenalan karakternya hampir mirip Bartimaeus yah yang setiap Bab-nya di title nama setiap Karakternya..aku lebih suka seperti itu jadi tahu aja, siapa yang lagi bicara dan bagaimana perasaannya terhadap yang lain. Jalan ceritanya menurutku masih kurang mendalam ( Apa untuk buku selanjutnya nih? ehm...) Apalagi mengenai Kakek Lim...perlu ada sejarahnya tuh. Secara keseluruhan ceritanya aku suka...Coba tokoh Erin dan Tori lebih ditonjolkan kelebihannya...terlihat sekali Des dan Chira yang punya kelebihan... Sayang yah Bellin meninggal...kalo tidak...pasti ada cinta segitiga antara Tori-Bellin-Erin yah?
Pertama-tama, bahasanya enak banget. Bacanya jadi asik!
Kedua, tema ceritanya menyenangkan, penyihir dan kekuatan gelap. Tapi kenapa harus teenlit? Bbrp teman mempertanyakan kok gw beli teenlit, kan isinya cinta-cintaan anak ABG. Dan gw terus-terusan menjawab, "Bukan, ini isinya tentang penyihir." :)
Kurang tebal Pop.... kalau ceritanya diperpanjang dan 'diperrumit' pasti tambah seru!
Seperti cemilan ringan dengan rasa kesukaan anda yang enak dan gurih, mata anda akan melahap baris demi baris yang mengalir lancar dengan humor dan gaya bicara yang 'gaul' dan 'asik', tanpa menghilangkan sisi kesederhanaan yang memikat dalam setiap paragrafnya.
Anda tidak akan sanggup berhenti mengudap-nya, sampai habis tak tersisa :)
Lagi-lagi aku membaca buku secara terbalik. Kali ini aku lebih dulu baca The Bookaholic Club 2 sebelum baca yang 1, dan jadilah ... aku agak bingung kenapa karakternya belum saling mengenal (ya karena pertemuan mereka memang diceritakan di buku yang ini!)
Aku sedih di sini Kakek Lim nggak banyak diceritakan, cuma muncul sesekali untuk senyum-senyum bilang kalau pertemuan Des, Tori, Chira, dan Erin itu direncanakan, dan pada akhirnya memberikan tugas yang sama sekali nggak mudah kepada mereka berempat. Padahal aku ini fans berat Kakek Lim sejak buku kedua! (efek baca buku urutannya kebalik)
Hubungan keempat karakter utama ini menurutku dibangun dengan cara yang cukup baik. Yang aku suka adalah Poppy nggak memaksakan keempat karakter ini untuk selalu bersama. Mulai dari pesta di rumah Des yang nggak mengikutsertakan Chira karena perbedaan jenjang kekayaan sampai duduk santai di perpustakaan setelah sekolah bubar yang nggak mengikutsertakan Erin karena cewek itu selalu ditarik-tarik Luana. Pembangunan hubungan mereka nggak dipaksakan, dan aku suka itu.
Saat dalang dari semua kejadian di kota mereka itu dikuak, jujur aku agak kaget. Aku memang nggak pernah berprasangka kepada si dalang itu sebelumnya, tapi itu semata-mata karena ceritanya nggak banyak membahas si dalang. The Bookaholic Club hanya menceritakan kejadian-kejadian buruk yang terjadi di kota mereka serta cara keempat cewek tadi untuk melawan kekuatan jahat yang bahkan mereka nggak tahu siapa. Bahkan nggak ada kecurigaan yang mengarah, paling cuma ke Bellin (nggak salah kan namanya?), itu pun bukan dugaan kuat. Aku menyayangkan bagian ini, sih. Kalau aja penyelidikan soal dalangnya lebih banyak dan ternyata orang itulah dalangnya, twist plot, efek kejutannya bakal jauh lebih oke menurutku.
Balik lagi soal dalang, ini entah ingatanku aja atau gimana, tapi aku merasa kemampuan Chira nggak dimanfaatkan dengan baik untuk mencari tahu soal dalang ini. Mestinya kan dia, seenggaknya, menaruh curiga pada si dalang yang asli. Ini bahkan dari keempat cewek itu, gak ada satu pun yang sadar bahwa dalang yang asli adalah si itu yang ada di dekat salah seorang di antara mereka. Padahal kemampuan mereka kan super-super (seenggaknya Des dan Chira, sih).
Secara umum aku cukup puas bacanya. Bagiku, poin tambah dalam cerita ini adalah pembangunan persahabatan Des, Tori, Chira, dan Erin yang unik tapi nggak terkesan memaksakan, dan aku suka itu. Kesenjangan sosial nggak boleh menghalangi kita dalam berteman, 'kan?
Perkenalannya terlalu lama sampe ke kasus yg harus ditangani eh cepet banget beresnya kasusnya juga. Suka sama sudut pandang orang pertama yg dipakai penulis kalo fokus di satu tokoh saja. Akuan dari 4 tokoh rasanya kayak baca satu tokoh dipaksa jadi 4 tokoh. Mereka terlalu mirip pikirannya sampe yg baca gak bisa bedain kalo gak pake penanda bab nama mereka. Kalo ada pembelaan ya kesamaan pikiran mereka kan yg menyatukan mereka jadi sahabat? Ya satu suara satu pikiran boleh tapi harusnya ada celah untuk membedakan tokoh satu dengan 3 lainnya dalam cerita biar pembaca gak bingung. Lebih aman kalo pakai sudut pandang orang ketiga kalo mau ada mereka berempat atau pake satu tokoh sebagai pencerita gitu (?) Suka karakternya Des di sini ya mungkin sejak awal efek bias nama jadi keterusan suka tapi walau bagaimana Des emang sudut pandang yg diceritakan pertama di bab 1 jadi punya ruang sendiri untuk disukai.. Coba satu buku fokusnya akuan Des aja lebih asyik deh. Ganti sudut pandangnya meski lancar tapi banyak kagoknya. Sekian. Galau lanjut baca buku keduanya apa engga siapa tau di buku kedua ada perbaikan yg bagus soalnya sayang udah ada 4 tokoh ini..
perkenalan masing-masing karakternya unik. baru kali ini nemu buku dengan pergantian sudut pandang tiap babnya. hal ini kadang bikin seru, tapi gak jarang juga malah bikin gak puas.
jujur, selama baca gue gak penasaran sama konfliknya. mungkin karena des yang denial juga dengan omongan kakek lim, alhasil gue ikut-ikutan males dan akhirnya gak penasaran.
dari segi penulisan enak dibaca, sederhana. tapi gue lebih suka bagian awal-awal cerita. pokoknya pas udah ada konflik malah males wkwkwk. ada beberapa hal yang terasa kurang pas juga, tapi gue gak tau apa.
untuk buku yang kurang dari 200 halaman, gue lumayan lama, sih, bacanya.
Simpel tapi seru. Buku Indonesia pertama yg kubaca dan sukses ngangkat dunia fantasi segar dan terasa membumi, tidak membual ngayalnya. Plot twistnya pun tidak terduga. Sayangnya konflik di bagian akhir terasa ditamatkan terburu-buru dan pengembangan semua karakter2nya masih perlu diperdalam, khususnya karakter antagonis.
Salah satu buku impian di zaman SMP yang sayangnya tidak kebeli! Sekarang baru impian itu terwujud dan aku sama sekali tidak kecewa! Walaupun ada sedikit keluhan dalam catatanku dari segala hal. Ekhem ... bisakah kita hidup tanpa keluhan di dunia fana ini, h3h3 ....
2025 mau selesai, baru baca hehe. Pace nya cepat cocok buat yg anti sama buku tebal. Plot nya oke. Tokoh2nya juga seru2. Minusnya karna terlalu cepat pace, konflik dan pendalaman karakter tiap tokoh kurang terutama penyihir dan indigo. Secara garis besar, buku ini tipe fun to read
Phew akhirnya ada sedikit waktu juga untuk menulis review ini (well, ga juga - tp disempet2in aja sih -__-) Hal pertama yang membuat saya tertarik membeli buku ini adalah judulnya, The Bookaholic Club. Kedua, karena bukunya tipis jadi akan cepat selesai membacanya, ketiga teenlit ceritanya biasanya begitu2 saja jadi ga usah mikir - bukan berarti saya tidak suka teenlit lho, cerita simple itu boleh2 saja asal penyajiannya menarik.
Buku ini menceritakan tentang 4 orang cewek remaja, Des si penyihir, Tori yang kuper, Chira yang bisa melihat hantu, dan Erin yang narsis - eh maksud saya, Erin yang populer. Des yang penyihir tidak pernah benar2 mempunyai teman karena orang tuanya melarang dia untuk terlalu dekat dengan orang lain. Mereka khawatir Des akan membocorkan rahasianya dan seperti halnya penyihir2 jaman dahulu, berakhir mengenaskan. Oleh karenanya, Des melarikan diri dengan cara berteman dengan buku. Tori yang kuper mempunyai ibu yang sangat ingin dia untuk bergaul dengan kalangan atas. Tori yang rendah diri tentu saja kesal dengan sikap ibunya itu dan lebih suka menenggelamkan dirinya dalam buku. Chira adalah gadis yang memiliki bakat 'nyeremi' karena dia bisa melihat makhluk halus dan hal2 kasat mata lainnya, misalnya aura. Teman2nya menjauhinya dan hanya buku yang setia menemaninya. Erin adalah gadis cantik nan populer yang sangat sadar diri dengan kecantikannya dan kepopulerannya, kalau tidak percaya coba baca saja bab perkenalan tentang dirinya yang diungkapkan dari point of view orang pertama: 'apa yang salah denganku? tak ada. rambutku panjang, lembut, dan berombak, hidungku mancung, kulitku mulus, tubuhku tinggi dan langsing, mataku besar bersinar, bibirku indah, gigiku sempurna. itulah masalahnya. aku, sang putri Erin.' dsb dst yang menunjukkan bahwa gadis ini narsis luar biasa (nothing's wrong with that tentunya.. masalahnya adalah ketidakkonsistenan kenarsisan itu sepanjang buku... apa coba?)
Anyway, setelah melalui perkenalan tokoh2 yang sangat panjang dan penuh dengan deskripsi yang membuat saya kesal, akhirnya keempat tokoh utama ini bertemu dan membuat janji untuk pergi ke sebuah toko buku antik. Di sana mereka bertemu dengan Kakek Lim si pemilik toko buku. Si kakek ini memberikan sebuah buku untuk Des. Buku tersebut ditulis dengan rune dan konon merupakan peninggalan dari nenek moyang Des yang melakukan perjanjian dengan setan, bla bla bla... Intinya, Des dan teman2nya harus menghentikan 'Bayangan' (yang ternyata adalah tokoh antagonis di buku ini - ternyata ada plotnya juga ni novel ya...) untuk membawa Des ke kegelapan sebagai tumbal (?) Untung saja Tori bisa mengartikan rune itu (?!) dan mengetahui bahwa mereka berempat masing2 dibutuhkan untuk menghentikan Bayangan menguasai dunia (?!)
Perkenalan tokoh2 yang sangat panjang tidak diimbangi dengan begitu cepatnya plot bergerak setelah mereka bertemu. Gampang banget mereka kemudian diberi sebuah masalah dan kemudian sekonyong-konyong harus menyelesaikannya. Intinya, buku ini terlalu singkat sehingga plot terlihat dipaksakan (walaupun kalau lebih tebal mungkin saya tidak kuat lagi bacanya, ampun!) - adegan2 aneh dan point of view yang lebay juga membuat terlalu seringnya saya geleng2 kepala karena pusing dan sebal. Tiga dari empat tokoh utama di sini menyukai buku sebagai escape - gak ada yang salah dengan itu tentu saja, tapi tentu saja agak sedikit mengganjal di hati saya. Tapi toh pelarian tidak selalu buruk. Respek saya buat Erin yang super narsis itu ternyata justru satu2nya tokoh dalam buku ini yang menyukai buku karena, yah, menyukainya. Ia dengan jelas mengatakan membaca buku adalah hobinya.
Saya cukup suka dengan originalitas penulis tentang konsep penyihir di dunia buku ini. Di mana hanya wanitalah yang memiliki kekuatan sihir, contohnya Merlin yang hanya tukang obat semata sedangkan penyihir sebenarnya adalah Guinevere. Tokoh Tori seolah hanya tempelan saja, di mana gadis2 lain memiliki kelebihan (baik fisik, kekayaan, kecerdasan, maupun bakat melihat hantu, kekuatan super) Tori malah diberikan kelemahan sebagai gadis kuper yang gagap dan pemalu. Ia lalu 'diberi' kemampuan untuk membaca rune (tapi kesannya seolah supaya dia ada gunanya saja).
Sebenarnya begitu banyak adegan2 ganjil dan dialog2 konyol yang ingin saya ungkapkan di sini, tapi malas ngetiknya. Tapi saya akan tinggalkan anda pembaca dengan sebuah scene pada bab 40 dari point of view Erin. 'Bellin membuka satu pintu dan menarikku ke dalam. kukira aku bakal melihat kamar tidurnya, tapi ternyata ruangan besar itu kosong melompong. aku merasa terhina. setidaknya jika ingin berbuat tidak senonoh, sediakan dong tempat tidur!' (if you laugh, I hope you're laughing for a different reason)
The Bookaholic Club, sebuah novel Teenlit yang memiliki unsur misteri kedua yang kubaca. Sejujurnya aku agak kurang suka dengan novel yang berbau misteri, karna terkadang membuat aku mimpi buruk. Yah, bisa di bilang aku memang penakut. Tapi novel ini buat aku bagus banget dan enak untuk di baca. Menceritakan tentang empat sekawan yang saling bertolak belakang, yaitu Des seorang penyihir. Tori, si gadis gagap dan culun. Chira yang mempunyai indra keenam sehingga bisa melihat aura manusia dan yaaah... hantu juga. Dan yang terakhir Erin, sorang cewek cantik nan populer, tetapi tidak menyukai kehidupannya. Walaupun mereka memiliki sikap dan sifat serta kehidupan yang bertolak belakang, mereka bisa menjadi empat sahabat yang saling membantu. Satu hal yang membuat perbedaan itu bisa menyatu yaitu buku!!! Tapi, ternyata mereka bersatu bukan karna kebetulan. Melainkan karna di takdirkan, Des yang seorang penyihir ternyata keturunan dari Katrina, seorang penyihir yang menjual jiwanya kepada setan. Sehingga setiap 100 tahun sekali bayangan akan datang dan meminta darah sebanyak-banyaknya dan untuk itulah mereka di pertemukan. Hemm, awalnya aku sudah punya tebakan bahwa yang menjadi media bayangan itu bukan Luana tapi Bellin. Sejujurnya tebakan aku benar, hanya saja saat membaca bagian klimaksnya saat sang bayangan muncul aku kaget dan nggak menyangka ternyata si bayangan itu adalah.... Yah, ceritanya bagus dan enak di baca tapi sayangnya menurut aku jalan cerita mau ke akhirnya terlalu di paksakan dan terlalu cepat. Apalagi bagian epilognya, buat aku epilognya nggak penting banget. Jahat yah aku? But, aku kagum sama mbak Poppy yang memiliki ide cerita serta imajinasi yang tinggi, tapi untuk penulis Teenlit yang imajinasinya sangat ku kagumi adalah sosok Luna Torashyngu, hehe. Sebenarnya nggak baik membandingkan antara penulis satu dengan penulis lainnya. Karna mereka masing-masing memiliki kekurangan serta kelebihan tersendiri.
Bookaholic Club Penulis : Poppy Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Buku ini bercerita tentang persahabatan 4 orang gadis pencinta buku, Des, Chira, Tori dan Erin. Des, Chira dan Tori pertama kali bertemu di sebuah pesta yang diadakan kedua orang tua Des dirumahnya. Des yang tidak tertarik dengan pesta, memilih menyibukkan diri di perpustakaan pribadinya disusul dengan Chira dan Tori. Kemudian mereka dipertemukan dengan Erin dari keluarga kaya di sekolah. Mereka memiliki kecintaan pada buku namun dengan genre berbeda. Setelah mereka bersatu menjadi sahabat mereka saling membuka diri dan menceritakan latar belakang masing-masing. Siapa yang menyangka bahwa Des adalah keturunan seorang penyihir, atau Chira gadis yang mampu melihat hantu dan di jauhi oleh teman-temannya karena kemampuan tidak biasa itu, atau Tori si gadis pemalu yang selalu dipaksa oleh ibunya untuk menjadi seseorang yang tidak diinginkanya. Dan pembaca akan dikenalkan dengan kehidupan Erin yang selalu dikelilingi kemewahan namun sebenarnya ia hanya bahagia saat bisa membaca buku dengan tenang. Sampai pada suatu ketika Des dkk harus mengalahkan sesosok bayangan jahat. Akankah meceka mampu bekerja sama? Buku ini secu sekali. Saya tidak menyangka bahwa Des dkk akan menemui konflik seperti ini. Buku ini bercerita sesuai pandangan setiap tokohnya. Jadi saya bisa memahami setiap pemikiran para tokoh lebih dalam dan mengenal latar belakang masing-masing. Bagi para pecinta buku, Bookaholic club bisa menjadi teman yang menyenangkan. Nyatanya kisah pecinta buku seperti Des, Chira, Tori dan Erin bisa diangkat menjadi kisah seru dan menyenangkan. Bagi para book nerd di luar sana, boleh mencoba buku ini.
Des, Erin, Chira, dan Tori adalah empat anak perempuan yang amat berbeda tetapi memiliki satu kesukaan yang sama, yaitu buku. Bermula dari sebuah pesta yang diadakan di rumah Des, dan dihadiri oleh Erin dan Tori, mereka berkenalan dan menemukan satu kesamaan, yaitu sama-sama luluh kalau sudah di hadapan perpustakaan yang penuh buku. Sedangkan perkenalan mereka dengan Chira baru terjadi kemudian di sekolah. Des yang ternyata seorang penyihir, mendapatkan sebuah buku dari seorang kakek tua penjaga sebuah toko buku antik. Buku inilah yang kemudian makin menyambungkan hubungan antara empat orang tersebut. Mereka harus berhubungan dengan hal-hal berbau ‘Gelap’, ‘mistis’ dan nggak logis. Membaca buku ini amat sangat menyenangkan, habis sekali baca malahan. Bahasanya ringan, fantasinya juga sederhana (nggak ribet ribet amat), tapi sayangnya kurang dalam nih konfliknya. Mungkin bener ya kalau novel fantasi itu kebanyakan tebel tebel dan berseri, soalnya kalau tipis malah terkesan ‘mendadak’ rampung dan malah kurang gregetnya, kayak buku ini nih. XD Tokoh favorit saya, Erin! Gadis yang penuh semangat, berani dan karakternya juga berkembang dari awal sampai akhir cerita. Oh dan meski dia cantik, punya tampang dan bakat jadi model, tapi dia juga kutu buku! (sama seperti saya donk ya?) ((terus dijeburin ke empang)) Ah, saya jadi penasaran sama buku lanjutannya. Ada berapa seri ya? Beli aahh XD
Novel pertama yang kubaca: The Bookaholic Club karya Poppy. Aku berterimakasih padanya berkali-kali. Diriku di masa sekarang yang telah membaca ratusan buku mungkin merasa lima bintang itu terlalu banyak untuk diberikan, tetapi diriku yang baru duduk di bangku dua SD (atau tiga? Aku lupa,) menganggap novel ini layaknya cerita paling hebat sepanjang masa. Aku masih ingat diajak pergi ke Intermedia oleh Ibu. Sementara beliau berkutat di bagian peralatan gambar, aku berkeliaran di sekitar rak novel. Novel tak pernah menarik perhatianku, tetapi sesudah aku membaca sinopsis buku ini, aku pergi menghampiri Ibu dan menyatakan bahwa aku ingin membelinya. Beliau tentu saja meragukanku. Aku yang dikenal sebagai anak yang ogah membaca satu halaman penuh tulisan tanpa gambar dianggapnya tak mungkin sanggup menghabiskan satu buku penuh. Tetapi ia tak menolak. Maka pulanglah kami berdua ke rumah dengan satu kantong plastik kecil dalam genggamanku. Selesai membacanya, aku resmi menyatakan bahwa aku sukses dibawa Poppy menjadi bagian dari The Bookaholic Club ini. Beribu terimakasih aku ucapkan pada beliau, karena tanpa membaca karyanya, besar kemungkinan aku tak pernah menjadi gadis dengan rak buku penuh di dalam kamarnya. Petualangan Des, Tori, Chika (itu kan namanya?), dan Erin membuatku yakin bahwa buku jauh lebih menarik dari cerita yang dimainkan di layar kaca televisi.
(Buku ini masih kusimpan di jajaran rakku, dengan halaman yang telah lepas dan kover kotor termakan waktu.)
Keempat tokoh utamanya cukup menarik. Aku suka cara Poppy menggambarkan sifat setiap tokoh, juga suka membaca bagaimana akhirnya mereka bertemu. Perkenalan dengan para tokoh ini berlangsung cukup lama. Konflik sesungguhnya baru muncul pada pertengahan buku. Tetapi, aku sendiri lebih menyukai bagian awal cerita daripada bagian akhir. Bagian awal cerita, meskipun tidak memiliki plot yang jelas, bagiku lebih menarik karena tokoh-tokohnya unik. Sebaliknya, bagian akhir cerita, ketika mereka mulai menyelidiki misteri yang disajikan dan menghadapi tokoh antagonis, perkembangannya mudah ditebak, apalagi akhir ceritanya. Lawannya kurang tangguh pula.
Secara keseluruhan, bacaan ringan yang menyenangkan.
sbenernya niatnya buat temen di angkot, krna tipis, dicomot deh dr tumpukan buku pinjeman.. soalnya bahu dah mulai pegel beberapa hari bawa2 buku bantal kemana2, mana ga sempet kebaca lagi :p tp niat cuma niat, ampe rumah bukannya nerusin buku bantal malah nerusin yg ini, abis pnasaran, n alurnya cepet bgt jd ga nahan pngen tau akhirnya... saking pnasarannya ampe ada sms2 ga sempet dibales *lebay* :p hehehehe jgn salahin gw yeeee, salahin mba poppy niiiiih *ngelirik m2 ma m3*
ngintip buku dua, hmmm fontnya lbih kcl, bukunya lbh tbel dikiiiit.... lanjuuuuut.... eh bales sms dulu deh :p
Just read it yesterday.. Boljug ceritanya (walo pace-nya kecepetan tapi ga terkesan terburu-buru kok..). At least, gue blom pernah nemu konsep cerita teen lit yang kayak gitu (ato emang gue baru pertama kalinya baca teen lit Indonesia ya? *grix..grix..*). Dan berhubung bacanya pas tengah malem di teras samping, berasa spooky juga lho... Bikin gue degdeg-an, apalagi ditambah suara gemerisik pu'un mangga dan rambutan yang diterpa angin tengah malam.. hihihi... Oke, Pop.. Gue tunggu karya dirimyu selanjutanya.. ;)
Like a summer movie. Fun and light. I'd prefer this kind of story any day than heavy books who keep droning on and on about the character psyche and the meaning of things. Poppy understands that stories should keep us interested. Not bore us to death. Not recommended for anal-retentive readers who'll probably voice a protest at every scene when watching a summer flick in a theater, though. Make sure you know what to expect (or where the destination is) when you join this ride.
satu - satunya teenlit/novel indonesia bergendre ini yang pernah kubaca. awal - awal sempat ragu untuk penulis indonesia mengembangkan gendre magic, takut gag akan semenarik novel luar dengan gendre yang sama, ditambah lagi halamannya yang sedikit. tapi, surprise... meskipun gag w.a.w banget, tetep oke dan gag aneh. recommended banget buat remaja - remaja yang suka cerita - cerita magic/misteri tapi gag suka bacaan yang berat dan banyak.
Wahh bukunya ternyata seru ! Jujur waktu beli buku ini, tertarik karena judulnya aja. Sama sekali gak baca sinopsis yg ada di belakang buku. Jadi bener-bener kaget ternyata bukunya tentang misteri. Suka banget alur ceritanya, enak dibaca, baru mulai baca, gak kerasa udah mau selesai!