Jump to ratings and reviews
Rate this book

Remedies

Rate this book
Retha kaget saat tahu Gerry masuk SMA yang sama dengannya. Cowok itu berhasil bikin dia terkagum-kagum saat dia menonton salah satu pertandingan polo air beberapa tahun lalu. Namun, Gerry sudah berhenti jadi atlet. Kenapa, ya? Padahal kata teman Retha, Gerry salah satu andalan klub.
Meski sering memasang wajah judes kalau Retha ikut muncul bareng Niko dan Farhan, Gerry tidak pernah mengusirnya terang-terangan. Rasa penasaran Retha semakin menjadi setelah Gerry menolak pengambilan nilai renang untuk pelajaran olahraga mereka. Aneh banget. Atlet yang akrab dengan kolam renang harusnya nggak ada masalah dengan itu, kan?
Lalu tiba-tiba muncul laki-laki yang menitipkan bungkusan nasi kuning untuk Gerry sepulang sekolah. Siapa lagi itu? Kenapa Gerry kelihatannya marah besar saat Retha menyampaikan tentang kedatangan laki-laki itu, ya?

264 pages, Paperback

Published October 25, 2023

6 people are currently reading
127 people want to read

About the author

Trissella

2 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (29%)
4 stars
67 (56%)
3 stars
15 (12%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 48 reviews
Profile Image for Amaya.
760 reviews58 followers
February 23, 2024
BUKUNYA BAGUS BANGET, tapi mau rehat bentar karena mau menata perasaan dulu setelah namatin ini.

Jadi begini, awalnya aku takut baca buku ini karena testimoni dari buddy read-ku sampai bilang nggak kuat. Atau mungkin belum kuat. Aku trauma baca entah fiksi remaja atau YA yang efek setelahnya itu depresif karena bakal butuh waktu lama banget buat "sembuh". Tapi, Remedies nggak begitu, justru bikin perasaan campur aduk.

Aduh, bingung mau jelasin satu-satu, yang pasti aku suka karakterisasinya yang konsisten. Awalnya agak meraba-raba Gerry ini gimana sebetulnya, apa dia orangnya dingin banget atau cuek banget. Lalu sempat off sedikit karena lagi-lagi dikasih adegan Gerry bisa ketawa lebar.

Closure-nya, Gerry tuh bisa banget bahagia. Layaknya orang yang kelihatan bisa ketawa ngakak, tapi habis itu nangis di pojokan. Manusiawi banget. Jadi, alih-alih ketidakkonsistenan karakterisasi, Gerry adalah remaja normal yang masa mudanya direnggut sama hal-hal yang menyakitkan.

Gerry adalah korban dari keegoisan orang dewasa. Dia ditinggalin sendirian di usia yang masih 14 tahun. Latar di buku ini, sih, dia udah 16 tahun, tapi tetap aja itu masih terlalu muda, kan? Beberapa kali harus ambil napas panjang karena hidup Gerry berat banget, pemirsa. Nggak habis pikir ada orang tua yang sebegitu jahatnya melimpahkan beban mental ke anak mereka.

Ada Retha yang jadi FL di sini. Kayaknya semua impresi ke dia nyebelin, ya. Yep, Retha ini ceriwis banget, kepo nggak tahu sikon pula. Di awal juga aku gemas karena dia ini aduh, super annoying. Yang diuber Gerry, tapi aku ikut gerah xD tapi, lama-lama jadi menyenangkan, kok. Dia jadi semacam kebutuhan buat bikin Gerry open-up sama keadaan dia.

Aku suka konflik yang dibawa di sini fokus. Memang karena cuma satu konflik, banyak kalimat berulang dalam satu bab yang dimodifikasi, tapi bagiku malah bagus karena pembaca diarahkan untuk fokus pada sosok Gerry sendiri.

Gerry selalu iri dengan keadaan teman-temannya. Iri karena Niko selalu dapat sesuatu ketika berprestasi, punya dua kakak perempuan yang bisa kasih arahan ke dia. Lalu, Farhan yang meskipun anak tunggal punya ibu penyayang. Terakhir, Retha yang ceriwis begitu punya kakak protektif dan selalu jagain dia. Gerry merasa dia nggak punya siapa-siapa. Ayah dan bundanya cerai, bundanya juga sudah meninggal, ayahnya entah ke mana. Dia ngerasa nggak punya siapa-siapa. Tapi, justru adanya Niko, Farhan, dan Retha ini adalah privilese buat Gerry dengan kondisi dia yang begitu.

Kayaknya baru ini baca fiksi remaja yang campur aduk. Beneran nggak paham lagi kenapa ada manusia macam bunda dan ayahnya Gerry. Yang Gerry alami juga nggak bisa dibilang enteng dan bakal selesai kalau dibawa ke psikolog. Dan walaupun dua tahun sejak bundanya meninggal, Gerry masih belum bisa lepas dari keterpurukan. Artinya apa? Yep, waktu nggak bisa menyembuhkan tanpa campur tangan kemauan.

Di sini nggak menyalahkan Gerry kenapa dia berkubang dalam duka sampai harus melepas titel atlet, melakukan apa yang dia suka. Seperti yang aku sebutin sebelumnya, Gerry cuma remaja. Emosinya masih sangat labil. Dia menyaksikan sesuatu yang amat mengerikan dan traumatis, wajar kalau otaknya nggak bisa diam. Meskipun ada orang dewasa di dekatnya, tetap nggak bisa menyingkirkan kemungkinan dia nggak terluka.

Banyak banget yang mau aku bahas soal Gerry and his grief, tapi takut entar malah bablas ceritain seluruh isi buku. Yang pasti, aku mau rekomendasiin buku ini buat kalian (umur berapa pun) untuk melihat kembali usaha seorang remaja yang ditinggalkan bersama luka padahal dia belum mengerti apa pun selain kesenangan dan keingintahuan.

Ps: Rating-nya nggak sampai 5 karena ini buku bagiku sedih, bukannya gak bagus ya, cuman kayaknya belum bisa kasih lebih. Terus ada typo dan kalimat repetitif di beberapa bagian.
Pss: Penulisnya nggak mau bikin fan service geng Walkie Talkie, kah?
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews243 followers
April 16, 2024
‘Orang bilang, manusia cenderung mengingat hari-hari yang meninggalkan kenangan berarti sampai ke detail terkecil’. (Hal 190).
.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Ini novel pertama Kak Trissella yang aku baca. Aku suka cara berceritanya lucu, manis, hangat juga cukup menyesakkan 🫣 kalau baca novel ini malam hari pastikan baca dulu sampai sudah puas baru pakai skincare dibagian wajah 🫣. Novel ini bercerita tentang Gerry juga Retha yang sama-sama harus menghadapi keegoisan orangtua mereka. Tentang mimpi-mimpi yang mencekik juga menyiksa tapi mimpi-mimpi itu juga yang menjadi media untuk melihat. Aku suka bagaimana Retha membantu Gerry mencerna emosi yang datang bersamaan seperti, mengenali rasa marah, sedih, kecewa, bingung juga kesal. Aku nggak suka sama Ayahnya Gerry 😖. Aku suka persahabatan Retha, Gerry, Farhan dan Niko. Aku suka Reno juga Kendra. Aku nggak akan banyak cingcong lagi karena aku sejujurnya bingung mau ketik apalagi. Pokoknya masukkan novel ini ke dalam list bacaan kalian yaa 😊.
.
“Coba berhenti lari, Ger. Selama ini kamu cuma lari di lingkaran. Setelah lama lari, pasti ada waktunya kamu kembali ke titik awal seperti sekarang. Kamu tahu kita nggak akan selamanya dihadapkan sama pilihan yang menyenangkan, terutama saat tahu kamu nggak punya pilihan buat menghindar lagi.” (Hal 114).
.
“Lo boleh berduka kok. Sedih, marah, kecewa, sama benci itu semua proses lo berduka. Gue juga ngerasain itu. Lo bisa terus bersedih sampai tahun depan, dua tahun, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Lo boleh terpuruk selama apa pun yang lo mau. Sakitnya nggak akan hilang meskipun lo udah temuin cara untuk mengendalikannya. Sampai akhirnya lo tahu, lo sebenarnya tumbuh bareng rasa sakit itu.” (Hal 183).
.
“Diri lo sendiri, Ger. Hiduplah buat diri lo sendiri. Bikin diri lo sendiri bangga. Berbanggalah karena lo bisa melewati hidup lo yang menyebalkan ini.” (Hal 181).
Profile Image for Autmn Reader.
891 reviews93 followers
February 22, 2024
Sebenernya, kalau mau sebutin hal yang kusuka dari buku ini, ya banyak bangeeet, nget, nget. Tapi bakalan kurangkum jadi beberapa.

PROS:

1. Yang paling aku suka adalah pengembangan karakter Gerry. Sooooo top notch. Mulai dari gimana dia sering menghindar kalau udah ditanya tentang masa lalu sampai akhirnya dia bisa terbuka. Gimana perasaan Gerry yang complicated mulai dari marah, kecewa, sedih, rindu bener-bener bisa digambarin dengan baik.
2. One scene explain everything. Ada satu scene (Aku nggak mau spoiler, tapi ini isinya chat Gerry), di sini beneran digambarin gimana five stages of grief. Dari denial, anger, bargaining, depression, acceptance (ini sedikit aja karena yaaaah baru secuil Gerry coba ikhlas). Dan part ini super duper sedih!! Butuh beberapa waktu buat aku lanjut baca. Bahkan waktu nulis ini aku sedih lagi!!!!
3. Pertemananya!!! Ya ampun aku suka banget. Aku pembaca yang suka banget sama teman rasa saudara atau persaudaraan yang menghangatkan. Nah Retha-Reno ini kakak-adik yang manis banget. Saling jaga satu sama lain. Belum lagi hubungan Gery-Farhan-Niko-Retha. Ini aduh beneran deh manis banget. Mereka itu saling ngerti banget. Retha emang awalnya nyebelin banget, tapi bener kata Retha, kalau Gerry itu terlalu banyak dimaklumi makanya nggak bangkit-bangkit.
4. Retha-Gery. Ini aku tahu sih mereka cuman temen, tapi tuh tetep aja ada momen manis. Apalagi pas scene di epilog. Aduuuuh manis banget.
5. Niko!!! Shout out buat Niko, temen Gerry yang paling gesrek tapi paling sholeh. Niko moga (nggak) ketemu sama Mbak-Mbak Royal Centre Mall, yak! Wkwkwkwk.
6. Semua tokoh punya peran masing-masing yang pas dan nggak ada yang over shadow juga nggak ada yang useless. Mulai dari Om Irfan sama Tante Nisa, Retha-Niko-Farhan, Reno, bahkan Pak Anwar! Enggak ada yang sia-sia.
7. Ending yang manis dan menghangatkan hati tapi sedih juga. Enggak ngerti, deh, kenapa epilog aja masih sedih banget?? Tapi menurutku ini ending-nya udah pas banget. Ending semua buku kan nggak harus jelas sampe nasib Gerry dan yang lain gimana, ya. Tapi Endingnya beneran ngegambarin kalau Gerry is ready to face the new world!

CONS:

Sebenernya nggak ada yang nggak kusuka, sih. Tapi kalau aku sebutin satu mungkin ada tipo-tipo dikit, yak.

Enggak mengganggu juga sih tipoya cuman sempet mikir dulu karena nama mamanya Farhan berubah dari Ajeng jadi Rita kalau nggak salah. Terus ada bagian yang harusnya Om Irfan jadi Om Gilang.

Selain dari itu sih nggak ada. Soalnya aku suka banget dan kalau udah suka, jadi lupa waktu. Wkwkkw

LAIN-LAIN (Berisi kekesalan sama satu tokoh):

Nah terakhir khusus kolom tentag kekesalan aku sama satu orang dewasa di cerita ini.

Walaupun orangtua di sini semua egois dan yang bener cuman Tante Nisa, Om Farhan, Tante Ajeng, dan Pak Anwar (banyak juga ternyara), tapi bapak-bapak satu ini yang paling menggelikan.

But, sir, anda adalah definisi orangtua durhaka!!!!! Orangtua paling brengsek tahun ini jatuh pada Bapak Gerry!! Ini cowok patriarkinya tidak ngotak! Anda pikir istri itu cuman buat jadi pelayan aja kalau udah nggak bisa layanin terus dibuang? Aduuh aduuuh GWS, deh, Pak!!!!

Kek, Ih. Aku kalau inget lagi emosi sampe sakit kepala.

Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books463 followers
January 4, 2024
Aku kira ini hanya teenlit biasa. Setelah pertengahan buku dan bikin 😭😭 baru kusadar kalau nggak ada label teenlit di sampulnya.

Satu hal yang begitu mengena dari novel tipis ini adalah aku menyadari bahwa orang yang ditinggal bunuh diri sama menderitanya dengan orang yang bunuh diri. Bedanya, penderitaan yang bunuh diri usai setelah kematian, sedangkan yang ditinggal akan terus-terusan bertanya kenapa dan mengucap seandainya. Tapi menyalahkan yang bunuh diri juga nggak bisa, karena penderitaan mereka pastilah udah di titik maksimal. Ya Tuhan, nyesek banget ngebayangin perasaan Gerry. Manusia dewasa memang rumit, kejam, dan egois 😭😭

Novel ini mengandung bawang, tapi juga banyak adegan-adegan hangat antara Retha dan Gerry, Retha dan abangnya, Gerry dengan kedua monyetnya, Retha dengan Gerry dan dua monyet itu. Interaksi mereka hangat dan lucu. Karakter Retha yang awalnya bikin sebel karena terlalu kepo dan ikut campur, akhirnya bisa kuterima dan aku malah suka dengan kemanjaannya, kengototan, kerandoman, keceriaan, dan kepeduliannya. Menurutku, disamping ketidakberuntungan Retha di keluarga, dia beruntung banget karena dikelilingi cowok-cowok yang meski tengil tapi baik dan perhatian.

Oh, tapi aku butuh konteks hubungan Retha dan Kendra. Wkwkwk. Jujur aja, posisi Kendra nih kentang banget menurutku. Dijelasinnya sahabat doang, tapi rela nyetir Bandunh-Jakarta di tengah pertandingan cuma buat ketemu Retha. Terlalu sweet dan uwuu wkaka

Love line-nya jujur aku nggak terlalu peduli sih. Bahkan kalau Retha mau sama Niko atau Farhan juga aku bakal merestui HAHAHAH
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
March 22, 2024
Gerry masih belum bisa menerima kematian Ibunya. Apalagi kala itu dia dan ibunya juga ditinggal pergi oleh Ayahnya. Gerry berharap Ayahnya akan datang pada saat Ibunya dimakamkan, tapi ternyata yang diharapkannya tak kunjung terjadi. Gerry bahkan meninggalkan polo air, olahraga yang menjadi passionnya dan sempat ditekuninya dengan serius.

Di sekolah, Gerry memiliki sahabat bernama Farhan dan Niko. Keduanya paham, Gerry sensitif pada dua hal. Polo air dan keluarga. Namun berbeda dengan Retha, yang terus saja mengusik Gerry perihal polo air. Gerry bahkan kesal dengan teman sebangkunya yang baru pindah itu.

Novel ini terasa suram sekaligus membuat hati teriris. Membayangkan kondisi Gerry yang harus menghadapi keegoisan kedua orang tuanya sehingga membuat hidupnya nyaris hancur. Beruntung Gerry masih memiliki tante dan omnya yang mendampinginya menjalani hari-hari berat itu. Perasaan bersalah dan marah terhadap ibunya, serta benci pada ayahnya membuat Gerry hidup dalam masa lalu yang menyakitkan.

Saya suka dengan pengembangan karakter Gerry. Interaksi dengan teman-temannya, humor dan bercandaan dengan Farhan, Niko dan Retha juga menjadi penyeimbang bagi jalan cerita yang cukup dark ini. Open ending yang menjadi pilihan penulis pun cukup adil buat Gerry.
Profile Image for RA Cendani.
87 reviews4 followers
December 13, 2023
YAAA, BENAR... BACA BUKU INI SIAPIN TISSU 🥺🥺

Sebenarnya, feeling emosional sebagai pembaca buku ini tuh benar-benar naik-turun. Awalnya dibuat bahagia karna interaksi antara Retha dan Gerry itu emang gemasin. Buat yang suka romance tipis-tipis, latar anak sekolahan, tapi sekali action duarrrr bikin salting, nah itu dapat banget 😂😂

Namun, disisi lainnya, nyesekkkkkkkkkkk 😭😭
Aku awalnya juga baca-baca review booksta yang udah duluan baca buku ini, mereka suka kayak bilang, "mari gandeng tangan Gerry." Nah, aku pun jadi bertanya-tanya kan, ini emang ada apa sama tokoh ini? Kenapa mesti digandeng tangannya? 🥲

And, then...
Ketemulah jawabannya setelah berhasil namatin baca buku ini. Menurutku, ya kalian harus baca ini kalau mau tau alasannya kenapa?? 😂😂

Yang jelas, buku ini tuh mengingatkan aku bahwa orang yang mempelajari kematian berarti mereka juga mempelajari tentang kehidupan. Buku ini bakalan mengangkat proses seseorang yang masih terjebak dalam realitas bahwa mati-hidupnya seseorang beserta cara mereka datang maupun pergi dari dunia ini bukan dalam kehendak kendali diri.

Nah, Gerry disini digambarkan sebagai karakter yang emang masih belum bisa nerima hal itu. Hidup dengan penyesalan membuatnya terus gak bisa nikmati kebahagiaan entah di masa kini maupun di masa depan.

Tapi, kalian percaya gak sih? Obat dalam menghilangkan rasa sakit itu gak cuma berbentuk pil pahit yang harus ditelan bulat-bulat? Bisa jadi obat itu bisa berbentuk orang-orang baik disekeliling kita yang gak kita sadari bahwa sebetulnya mereka juga bisa jadi penawar rasa sakit kita.

Coba lihat, perhatin, dan renungkan. Jujur sama diri sendiri dan terbuka untuk hal-hal baik yang masuk kedalam hidup kita. Boleh jadi pertanyaan semacam, "bisa gak aku bahagia?" Mungkin akan terjawab dengan sendirinya.

Huahhh... POKOKNYA BACA BUKU INI YA 😭😭
Profile Image for raafi.
934 reviews453 followers
February 9, 2025

“... Gue udah bilang, orang dewasa itu rumit, Ger. Keputusan mereka itu egois.” (hlm. 180)


Gerry dulunya atlet polo air. Kini, ia sudah berhenti, bahkan tidak mau lagi mendekati area kolam renang. Di sekolah ia sering berdiam diri, atau tidur yang kemudian membuatnya bangun dengan gelisah akibat mimpi buruk. Selalu ada hal yang ditutup-tutupinya padahal ia punya sahabat, Farhan dan Niko, yang selalu siap mendengarkan ceritanya. Berbeda dengan Retha, teman sebangku Gerry, yang terlihat ceria dan selalu mengulik-ulik permasalahan yang Gerry alami. Padahal, Retha juga menyimpan sesuatu yang menyakitkan. Gerry dan Retha harus melewati banyak hal sampai bisa sedikit demi sedikit saling terbuka atas luka-luka mereka.

Di satu sisi saya suka dengan bagaimana pengarang membuat dua tokoh utama tersebut begitu rapuh. Namun, di sisi lain, sepanjang membaca saya dibuat menggerutu karena merasa kisah “remaja” kok berat sekali. Tetap saja, saya terhanyut pada interaksi Gerry dan Retha serta beban-beban masa lalu yang dipikul keduanya.


... Tak mungkin ia mengaku kepalanya sedang sangat berisik menimbang-nimbang banyak hal. Ketakutan dan keinginannya untuk bahagia sebentar saja, benar-benar sedang bentrok dengan rasa bersalah di dalam kepalanya. Hampir satu hari penuh mengunci di dalam kamar sendirian membuat suasana hatinya tak begitu baik. (hlm. 245)


Yang saya tidak tahu adalah bahwa keinginan untuk bahagia ternyata berbanding terbalik dengan perasaan bersalah. Ternyata sulit untuk meleburkan keduanya; kau hanya bisa memilih salah satu. Akan tetapi, percayalah bahwa kisah berlabel “Young Adult” ini menjabarkan perasaan-perasaan tersebut dengan mudah dipahami. Kehadiran tokoh Farhan dan Niko berperan penting sebagai penawar melalui kedekatan dan kelakar mereka. Sepertinya saya tidak perlu risau jikalau novel ini dibaca oleh pembaca yang benar-benar berusia remaja.

Novel ini mengingatkan saya pada beberapa karya Fakhrisina Amalia yang kental dengan unsur psikologisnya. Walaupun begitu, saya takjub dengan tidak adanya tokoh ahli seperti psikolog atau psikiater di novel ini. Hal tersebut sedikit-banyak memberikan alternatif solusi. Bagi sebagian orang, mereka perlu waktu untuk memproses masalah psikologisnya. Perlu keyakinan besar juga untuk mereka benar-benar merasa butuh bantuan. Dan bantuan itu bisa jadi ada di sekitar mereka. Mereka hanya perlu terbuka untuk menerimanya.
Profile Image for lin.
49 reviews6 followers
February 24, 2024
Buku pertama yg berhasil aku baca setelah hampir satu tahun lamanya book slump 🥲

Not bad, aku suka narasinya, cuma alurnya gampang ketebak tapi masih bisa dinikmati. Also, dinamik hubungan Niko-Retha lebih bikin aku antusias daripada sama Gerry 🤣
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,473 reviews73 followers
September 6, 2024
Satu kutipan yang paling aku ingat dari novel Scheduled Suicide Day karya Akiyoshi Rikako adalah ini:

"Bunuh diri itu bukan masalahmu sendiri. Bunuh diri itu akan membunuh hati orang-orang lain di sekelilingmu juga."

Situs web komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light pernah membuat tulisan yang mengajak pembacanya untuk mengimajinasikan betapa hancurnya orang-orang terkasih kita jika kita melakukan bunuh diri. Tulisan yang visualisasinya sangat kuat itu benar-benar menghunjam kesadaran.

Buku ini mencoba menyuguhkan sudut pandang dari sisi orang yang ditinggal bunuh diri. Gerry, tadinya adalah atlet polo air yang sangat cemerlang. Namun, saat membonceng bundanya di tengah hujan lebat, motornya terjeblos lubang di tengah jalan yang tertutup genangan air. Kecelakaan terjadi. Semenjak itu bundanya jadi lumpuh karena saraf belakangnya rusak. Sang bunda yang terbiasa menyiapkan segala sesuatu untuk keluarganya kini jadi tak berdaya. Suaminya terbiasa diperlakukan sebagai raja sehingga ia sangat kesulitan mengurus dirinya sendiri. Ia jadi jarang pulang ke rumah. Bunda Gerry sering minta maaf pada ayahnya karena merasa tak bisa lagi jadi istri yang baik. Ia pun lalu meminta suaminya menceraikannya. Namun, di belakang baru kemudian dibuka bahwa sang ayah bertemu dengan cinta pertamanya di reuni SMA. Keduanya lalu menjalin hubungan.

Gerry terus dihantui rasa bersalah akan kondisi bundanya. Hatinya makin hancur ketika bundanya kemudian... memutuskan bunuh diri. Pesan terakhir ibunya melalui WhatsApps adalah perkataan jika memang reinkarnasi itu ada, ia ingin jadi ibu Gerry sekali lagi agar bisa menemani anaknya sampai tua.

Astaga. Koyak nggak tuh bacanya? Astaghfirullah.... Gerry jadi sering dihantui mimpi buruk yang berdarah-darah soal bundanya. Ia jadi sulit tidur. Kala terjaga, bahkan ia kadang melihat halusinasi sosok ibunya di berbagai tempat. Gerry menganggap dirinya tak pantas bahagia dan berhenti dari polo air. Ayahnya bahkan tak datang ke acara pemakaman Bunda.

Gerry lalu tinggal dengan tante dan oom yang sangat menyayanginya. Pasangan itu bahkan pindah ke rumah Gerry demi merawat keponakannya. Namun, beberapa tahun kemudian, ayah Gerry jadi sering mencoba menghubungi Gerry. Lewat Oom Irfan, dia menitipkan sejumlah uang untuk anaknya. Gerry tak sudi menerima uang itu. Toh ibunya sudah memberikan simpanan dana pensiun yang cukup untuk hidup Gerry sampai delapan tahun kemudian. Namun, Oom Irfan menolak mengembalikan uang itu karena menurutnya sudah sepantasnya lelaki itu membiayai keponakannya. Ia bermaksud menyimpan uang itu untuk biaya kuliah Gerry. Sedangkan istrinya menentang dan memihak sang keponakan.

Di sekolah, hari-hari Gerry selalu diwarnai oleh dua sahabatnya yang slebor, Farhan dan Niko. Lalu ada satu lagi teman sebangku perempuan bernama Retha yang dianggapnya cerewet. Retha gigih mendekati Gerry karena ia ngefans pada cowok itu sejak dirinya menonton kejuaraan polo air yang menampilkan performa mengagumkan Gerry. Meskipun dicuekin dan diketusin terus, Retha tetap ngotot mendekati Gerry. Beberapa kali ia mendapati Gerry tidur di UKS dan perpustakaan lalu membangunkan cowok itu begitu tahu Gerry mimpi buruk. Farhan dan Niko pun menerima keberadaan Retha dalam lingkar pertemanan mereka. Kocaknya interaksi di antara ketiganya, membuat novel yang kelam ini jadi terasa lebih ringan dan menyenangkan untuk diikuti. Ketiganyalah yang bisa sedikit mengurangi suara bising di kepala Gerry.

Tante Gerry selalu meminta keponakannya memahami keputusan kakaknya, Gita. Katanya bunda Gerry bunuh diri karena tidak ingin merepotkan anaknya. Namun, jelas Gerry tidak terima. Baginya hidupnya justru jauh lebih menderita setelah bundanya tiada. Retha yang anak korban perceraian, mengatakan pada Gerry bahwa keputusan orang dewasa kadang egois. Justru kata-kata itulah yang membuat Gerry merasa dipahami dan akhirnya ia pun memutuskan membuka diri. Bahkan akhirnya ia bisa tidur nyenyak berkat suara nyanyian Retha yang indah di Soundcloud.

Gerry pun harus menghadapi rasa traumanya karena sang guru olahraga mengharuskan semua murid ikut ujian renang. Gerry berdalih dirinya fobia air, tapi gurunya tidak percaya. Jadi, begitulah, di sepanjang cerita ini, orang-orang di sekitar Gerry tak pernah membiarkannya sendiri tapi juga tetap menjaga batas yang aman. Bahkan perilaku Retha pun tidak berlebihan. Interaksi semua tokoh dalam buku ini terasa begitu alami.

Semenyakitkan apa pun hidup kita, pasti ada orang-orang tertentu yang tidak ingin melihat kita menderita. Menghadapi kenyataan dan tidak lari dari masalah memang butuh waktu. Tapi selama orang-orang itu hadir buat kita, beban beratnya akan berkurang.

Dan yang paling penting, jangan bunuh dirimu. Orang-orang yang kau tinggalkan akan lebih menderita jika itu kau lakukan. Sebuah novel dengan pesan kuat yang menarik untuk disimak.

Pas banget aku baca ini sebelum World Suicide Prevention Day, 10 September nanti.
Profile Image for Tika Nia.
231 reviews4 followers
January 25, 2025
Sejak kepergian bunda, Gerry memutuskan buat berhenti jadi atlet polo air! Dia juga nggak mau ke kolam renang sama sekali, nggak mau naik motor, mulai merokok, dan membenci hujan. Hampir tiap hari dia dihantui mimpi buruk dan perasaan bersalah. Sudah seperti itu, guru olahraganya malah mewajibkannya kembali berinteraksi dengan olahraga air. Gerry terus mencoba menghindar, tapi sampai kapan?

Beruntungnya Gerry dipertemukan dengan teman-teman yang baik. Retha, Farhan, dan Niko selalu berusaha membantu Gerry berdamai dengan traumanya. Mereka berusaha untuk selalu ada dan menjadi tempat berbagi segala rasa. Perlahan Gerry berusaha bangkit dari keterpurukannya.. Mampukah dia? Seperti apa grief cycle yang dialami Garry?

🤽🏻‍♀️💠🤽🏻‍♀️ Baca buku lainnya di IG ku @tika_nia

Buku pertama yang berhasil bikin aku banjir air mata di tahun ini 😭 Nggak kuat nahan air mata pas baca chat Gerry buat bunda (di halaman 180 ke atas). Ikutan ngerasa sedih, kecewa, marah, sebal, bersalah, rindu, tapi juga ingin bahagia sekaligus. Beneran kayak diaduk-aduk nih perasaan! Jadi Garry pastinya nggak mudah dan dia hebat bisa bertahan sejauh ini 😭

Penulisnya beneran berhasil menceritakan grief cycle dengan baik. Setiap tokoh punya karakter yang kuat, bikin aku serasa temenan sama Gerry, Retha, Farhan dan Niko! Aku juga suka banget sama karakter Kendra yang dewasa ✨

Dari novel ini aku pun seperti kembali diingatkan buat:
• Menghargai kehadiran orang-orang yang ku cintai. Belajar lebih peka dengan perasaan mereka 🤍
• Nggak ada salahnya mengkomunikasikan beragam perasaan yang kita rasakan. Mungkin dengan bantuan orang lain kita pun bisa lebih mengenal diri sendiri.
• Semua orang berhak bahagia dan mengupayakan kebahagiaannya 💕
Profile Image for svvitiesky (on instagram).
67 reviews20 followers
January 14, 2024
Kalo dilihat dari covernya pasti bakal banyak yg ngira ini buku teenlit yg gemas, padahal isi buku ini lebih dari sekedar cerita anak sekolah loh. 🤧Tentang anak sekolah yg harus berdamai dgn dirinya sendiri dan menghadapi traumanya yg tak kunjung sembuh.

Namanya Gerry, dia mantan atlet polo air. Keren gak sih? Jgn salfok sama kata “mantan” karena dari situlah awal cerita ini dimulai. Sejak kecil Polo Air udah jadi bagian dari hidup Gerry. Ada banyak alasan, mengapa dia mutusin berhenti jadi atlet.

Memasuki SMA, Gerry bertemu dgn Retha. Bagi Gerry, Retha itu badai. Dia merusak semua rencananya utk mengasingkan diri. Dia sengaja memilih SMA itu krn tidak ada yg mengenalinya sbg “Gerry si Atlet”. Eh, malah ketemu Retha emng kagum sama dia sejak dulu.

Retha dgn karakternya yg unik dan cerewet bikin Gerry pusing setengah mati, apalagi kalo udh mulai kepo tentang hidup Gerry. Bagi Retha, Gerry itu misterius, makanya dia slalu berusaha buat ngulik semua hal tentang Gerry. Padahal udh sering di omelin Gerry.

Gak cuma Retha, ada Niko & Farhan (teman Gerry). Kalian harus tau interaksi mereka yg kocaakk dan ga pernah gagal bikin aku ketawa. Candaannya fresh banget! Menghibur banget disela-sela alur berat yg harus di hadapi Gerry.

Lama-lama, mereka ber-4 berteman loh. Haha, meskipun tetep aja kayak tikus sama kucing. 😂 Gerry juga udh mulai terbuka sama mereka, terutama sama Retha.

Narasinya cantik banget! bukan tipe narasi yang puitis gitu, cuma vibesnya lebih ke comforting dan heartwarming. Huh, tiap dialognya ngenaa bgttt 🤧🙌🏻 Aku nangis di bagian klimaks endingnya. Huhuhu.

Kalau kalian tanya apa bakal ada romancenya? 🤭 Ya pasti ada dong. Tapi tipis, dan romance tipis gini malah bikin gemasshh gasihh? 🥹 Bener-bener lucuu, sekalinya ada hal yg manis, bapernya malah ga ketulungan. Huh! I love them so much!

Konflik yg ada di novel ini beraaat bgt! Kamu bakal dikasih pemahaman, knp orang dewasa rumit dan egois? kenapa seorang anak malah jadi korban keegoisan mereka?🥲

Di novel ini, tanpa disadari, kita diajari tentang 5 stages of grief atau 5 tahapan seseorang menerima sebuah duka. 🥹 Mulai dari Gerry yg harus kehilangan org2 terkasih, kehidupannya berantakan dan ga mudah. Lalu, ia belajar untuk sembuh, dan mulai merayakan semua dukanya dan bisa kembali hidup dgn tenang.

Thank you so much, udah nulis novel cantik ini kak. Aku menunggu novel-novel2 kak Sella selanjutnya. 😻
Profile Image for Sheira Sharma.
134 reviews5 followers
December 15, 2025
"dokter bisa jawab nggak, kenapa aku ditinggalin begini? yang satu pergi, yang satu malah minta ijin buat nikah lagi."

retha kaget saat tau kalau gerry masuk ke sma yang sama dengannya, cowok itu berhasil membuatnya terkagum-kagum dalam pertandingan polo air beberapa tahun lalu. tapi sekarang gerry sudah tidak berstatus sebagai atlet lagi, cowok itu memilih berhenti dengan alasan yang masih tak retha mengerti. dan yang lebih aneh lagi, gerry juga menolak mengikuti tes renang di sekolahnya dengan alasan yang sama sekali tak masuk akal. mengapa atlet polo air profesional seperti gerry tiba-tiba bersikap seolah enggan menyentuh air sama sekali? tingkah aneh dan sikap tertutup gerry akhirnya membawa retha kepada jawaban yang tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga mengubah hidup gerry untuk selama-lamanya.

untuk ukuran teenlit, ini lumayan berat sih. topik trauma dan kesehatan mental yang di angkat cukup brutal dan itu bertubi-tubi tanpa jeda sama sekali, gue sebagai pembaca sih ngerasanya gitu ya, meski diselingi sama humor anak remaja tapi menurut gue tetep nggak kerasa saking gelapnya nih cerita. mangkanya di beberapa part di mana gerry sama teman-temennya bercanda, jokesnya nggak nyampe ke gue karena.... gatau ya, menurut gue humornya ngawang aja. tapi ada satu hal yang musti gue apresiasi, perkembangan karakter gerry sebagai tokoh utama bagus, kuat, dan konsisten.

sayangnya gue nggak ngerasa demikian sama perkembangan karakter tokoh retha, nih anak ngeselin dan childish mampus di awal sampe pertengahan, gue kaget aja tiba-tiba dia beda 180° di akhir. kok bisa jadi dewasa dan kasih wejangan bermakna? padahal awalnya nggak ngerti batasan dan privasi sama sekali. well, bisa aja dia di awal sok ikut campur dan ngeselin karena emang bener-bener peduli ke gerry, tapi gue liatnya lebih ke ego dia aja sih, dia kan ngefans banget ke gerry as a atlet. duh tapi gara-gara karakter retta, well, sebenarnya gue emang kurang srek aja sih sama semua karakter pendamping di sini (kecuali om sama tante gerry) karena kurang kuat aja, ceritanya jadi kurang ada warna dan terlalu pekat sama rasa sedih yang tokoh utama bawa.

penggambaran proses berduka anak remaja yang di tinggal orangtuanya nyampe ke gue sebagai pembaca, cuma proses berdamai sama duka itu yang menurut gue kurang di gali lebih dalam lagi.
Profile Image for Dinur A..
260 reviews98 followers
March 24, 2024
Cerita yg berat dgn alur yg ringan, mengingat nggak ada sub-konflik sama sekali selain perjalanan diri Gerry mengurai keriuhan kepalanya. Paruh pertama dibikin sebel sama female lead yg invasif dan nggak tau batas, tapi di sisi lain ini juga yang patut diapresiasi dari penulis, beliau berhasil ngebangun karakterisasi remaja yang realistis dengan segala respons mereka, apalagi Gerry yang traumanya semasif itu. Paruh kedua dibikin benci setengah mati sama salah satu tokoh orangtua paling durhaka yang pernah gue temui di teenlit. Sebenci-bencinya gue sama bagian ini dan penyelesaiannya, lagi-lagi gue akui penulis cukup berhasil memotret kompleksitas manusia (dalam hal ini, orang dewasa) lewat narasi yang simple. Skor akhir: 3,65. Typo-nya parah, masa sampe ke sinopsisnya segala 😩
Profile Image for Hirai.
208 reviews5 followers
February 2, 2026
“Bagaimana trauma luka dan kehilangan mampu menghancurkan semangat hidup seorang remaja?”

Siapa sangka buku dengan label Young Adult ini ternyata mampu membawaku berkenala cukup jauh mengikuti perjalanan Gerry mendapatkan penawar dari semua rasa sakit akibat luka batin yang dideritanya selama ini. Menjalani kehidupan seperti Gerry tentu saja tidak mudah, usianya masih sangat belia untuk memahami rumitnya kisah cinta orang dewasa dan juga kehilangan orang tersayang tanpa aba-aba itu. Setelah kehilangan ibunya, Gerry mengira sang ayah akan merengkuh kegelapan itu, ternyata Gerry salah besar justru dialah yang memadamkan nyala lampu terakhir di dalam ruang kosong hati Gerry. Kisah yang menarik dan mungkin banyak anak remaja mengalaminya perihal perpecahan rumah tangga, kehilangan salah satu orang tua dan menjalani kehidupan sunyi sendiri di dunia ini. Gerry merasa setelah perginya sang ibu hidupnya sudah berhenti, hobi dan pencapaian itu sudah tak ada artinya. Kini tinggallah Gerry yang hidup hambar dengan luka dan beban kesalahan yang selalu dipikulnya sendirian. Remedies berhasil mendefinisikan apa yang terpendam dalam sosok tokoh Gerry. Tak semua anak-anak mampu mengungkapkan luka maupun trauma yang mereka rasakan namun respon tubuh tentu saja tidak bisa berbohong. Gerry seolah tak punya alasan lagi untuk menjadi sosok dirinya yang dulu.
Apakah kamu percaya kalau penawar itu bukan hanya perihal tentang obat namun juga karena kehadiran orang-orang yang memperdulikan kita? Gerry jelas sangat perlu ditolong agar tidak semakin tenggelam dalam luka lamanya. Selain om dan tante yang sayang dengannya, kehadiran Retha, Niko dan Farhan juga sangat penting untuk membantunya mencari dirinya yang sempat hilang. Karakter Retha yang super berisik dan heboh awalnya memang membuat Gerry terusik, namun siapa sangka justru kontras antara mereka berdua membawanya ke dalam hubungan harmonis. Sekilas Retha seperti tak memiliki beban apapun namun fakta selanjutnya bisa mengejutkan Gerry. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki respon beragam tentang luka dan trauma di masa lalu begitupun dengan Retha. Gerry sangat membenci Retha, semua hal tentang Retha adalah malapetaka baginya sampai dia menemukan sesuatu yang menarik dari gadis itu yakni kepedulian dan kemampuannya memberikan tempat aman untuk bercerita.

Aku suka bagaimana penulis mendeskripsikan setiap suasana, kesedihan dan keputusasaan dalam bentuk narasi dan potongan dialog tokoh. Pemilihan diksinya cantik namun tetap polos sesuai dengan usia tokoh yang dibawanya. Alurnya dibuat mengalir dengan kilas balik kejadian-kejadian sepotong untuk memperjelas beberapa teka-teki dari bukunya. Remedies bukan hanya kisah anak remaja yang terluka dan trauma kehilangan perpisahan maupun kepergian orang tua melainkan merujuk pada realisme hidup. Gerry adalah salah satu contoh anak remaja yang harus mengalami perjalanan penyembuhan luka batin akibat kesalahan dan keegoisan orang dewasa. Perjalanan tersebut jelas tak mulus, banyak ketidakadilan yang diterima apalagi beban kebencian dan sisi emosional yang menghantui membuatnya seseorang sulit beranjak. Hingga akhirnya kemenangan itu tiba meski harus menunggu cukup lama sampai menemukan penawar yang manis di samping pahitnya kehidupan ini. Kalau Gerry perlahan bisa kembali ke tepi bukankah kita semua juga memiliki kesempatan sama untuk sembuh dan pulih juga? Bagaimanapun kehidupan tetap berjalan meninggalkan kita yang hanya diam di tempat dan terjebak dalam kilas masa lampu. Cara terbaik untuk balas dendam pada ketidakadilan adalah dengan melepaskan beban, ketakutan dan hidup lebih baik dari sebelumnya.

Fenomena Cinta yang Sudah Habis pada Orang Dewasa dan Keegoisan Setelahnya
Bagaimana cara menjelaskan konsep cinta yang sudah habis dalam hubungan pernikahan pada sang buah hati? Pada dasarnya setiap orang memang ada masanya, ketika masa itu habis maka perasaan cinta dan kasih juga ikut sirna bahkan meski ikatan pernikahan sudah membelenggu tak menjadi alasan untuk tidak berpisah. Orang dewasa yang awalnya menjadi sepasang suami istri ini ketika cintanya sudah habis bisa berubah menjadi sosok orang paling egois. Tak banyak dari mereka yang memperdulikan buah dari cinta yang pernah ada itu. Bagi mereka kehilangan adalah hal paling menyedihkan sehingga memilih pergi dengan pasangan baru atau pergi untuk selamanya. Lalu, bagaimana dengan sang buah cinta yang ditinggal sendirian di runia ini? Tak ada anak yang benar-benar sanggup memilih untuk ikut ayah atau ibu. Bahkan terkadang mereka tak pernah memberikan pilihan dan meninggalkan sang buah hati dalam kegelapan sendirian. Banyak sekali anak kecil yang harus menanggung luka batin dan trauma sejak kecil karena keegoisan kedua orang tuanya.

Tentang Rasa Bersalah, Kehilangan dan Trauma yang Membekas
Ada banyak luka yang menggerogoti semangat Gerry untuk melanjutkan mimpi dan keinginannya mulai dari rasa bersalah akibat kecelakaan itu sampai ketidakmampuannya untuk menjaga sang ibunda. Bagi Gerry bunda adalah sosok penting untuk memotivasi mimpinya menjadi atlet dengan segudang prestasi sehingga ketika motivasi itu pergi maka sosok penyemangat itu juga ikut lenyap begitu saja. Tak mudah bagi Gerry merasakan kehilangan dua kali yakni kehilangan karena pergi bersama orang baru dan kehilangan karena pergi untuk selamanya. Tak ada yang memeluk Gerry saat sedang jatuh-jatuhnya. Orang yang dianggap menjadi tempat aman justru mempersiapkan hal demi kebahagiaannya sendiri. Kalau dikupas lebih dalam, anak sekecil itu bebannya sangat besar selain memproses apa yang terjadi dia juga harus memikirkan arah hidup selanjutnya tanpa bimbingan. Menurut kacamata orang sosok Gerry mungkin terlihat tak punya harapan hidup namun justru itulah cara dia bertahan hidup. Beberapa orang tak mengerti cara seseorang mengobati luka batin, beberapa orang lainnya memilih tersenyum dan hidup berdampingan dengan lukanya sendiri.

Korelasi Antara Kehilangan Semangat Hidup dan Kepergian Seseorang
Bagi Gerry saat ini semua yang terjadi di masa lalu biarlah menjadi kenangan saja dia sama sekali tak mau membahasnya sedikitpun. Semua tentang bunda adalah hal menyakitkan termasuk polo air dan prestasi yang pernah didapatkannya. Kepergian seseorang ternyata mampu menjemput semangat seseorang untuk ikut pergi juga. Gerry juga bertanya-tanya sebenarnya dia maunya apa? Mau bundanya kembali atau hanya sekedar merindungan kenangan yang tak mungkin kembali itu? Apakah jika saat ini sang bunda masih ada bisa menjamin dirinya benar-benar bahagia? Beberapa kita hanya bisa menyimpulkan kemungkinan terbaik tanpa memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi sebagai bentuk antisipasi. Kurangi mengejar sesuatu dengan menjadikan orang lain motivasi namun jadikan dirimu sendiri sebagai tujuannya. Setidaknya ketika semua orang pergi kamu tidak akan kehilangan diri sendiri.

Pentingnya Dukungan dan Ruang Aman untuk Menemukan Diri Sendiri yang Sempat Hilang
Dari kisah Gerry dalam buku Remedies ini kita melihat pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat dalam meluruskan hidup Gerry. Bukan hanya tentang pengorbanan om dan tante nisa melainkan juga teman-teman Gerry termasuk Retha. Pendekatan Retha memang brutal wkwkwkw tapi justru karena dia memaksa menembus dinding tebal itu akhirnya dia berhasil merengkuh anak kecil terluka dalam diri Gerry. Karakter yang kontras antara keduanya berhasil membangun hubungan pertemanan harmonis dan saling melengkapi. Gerry memang membutuhkan ruang aman dan nasihat paling realistis untuk menampar dirinya saat itu. Mereka tak hanya memberikan ruang aman melainkan juga menerima keanehan sosok Gerry selama proses penemuan dirinya sendiri yang sempat hilang. Kehadiran orang-orang yang peduli adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka batin.

Memilih untuk Menghindar atau Melawan
Buku Remedies mempertemukan Gerry dalam pilihan sulit yakni memilih menghindar atau melawan kesulitan itu. Belum sembuh dengan luka kepergian bunda, sang ayah itu kembali mengusik hidupnya. Gerry tak menyangka laki-laki itu hendak menikah dengan kekasihnya bahkan saat masa sulit itu dia juga tetap memilih sang kekasih. Kebencian dan lukanya kembali membeludak membuat Gerry tak kuasa menahan dirinya sendiri. Setelah beberapa kali menghindar dia memutuskan untuk melawan semua hal menyakitkan itu. Pada akhirnya kita memang akan selalu dipertemukan dengan hal-hal rumit namun bukan berarti kita bisa menghindarinya. Mau sampai kapan menghindar? Bukankah itu justru membuat kita kelelahan? Dari semua hal yang terjadi Gerry telah menang dalam kompetisi ini. Setidaknya dia berani jujur dan menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan antara ayah dan anak itu.

Rahasia yang Disembunyikan di Balik Senyuman Seseorang
Kamu percaya tidak dengan anggapan kalau orang yang sudah berdamai dengan lukanya terkesan seperti orang yang tak pernah tersakiti? Dia hanya hening bahkan menyembunyikan semuanya di balik canda tawa menganggap kehidupan ini enteng seperti biasa. Retha juga memiliki luka namun dia menjadikan semua itu sebagai teman perjalanan hidup. Kisahnya mirip dengan Gerry bedanya saat itu Gerry belum menemukan penawar tepat. Memang benar ya, seseorang yang pernah terluka memang paling mengerti bagaimana mendengarkan luka. Mereka seolah menyediakan ruang paling aman untuk setiap rahasia yang sukar diutarakan. Pertemuan Gerry dengan Retha tentu saja bukan kebetulan, Tuhan selalu punya alasan dari setiap perpisahan dan pertemuan.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
• Remedies menceritakan luka dari sosok anak remaja yang masih labil, di masa pencarian jati diri itu mereka masih harus dibebani dengan kehilangan dan trauma karena ditinggalkan. Realisme kehidupan ini membawa kita membuka mata lebih lebar mengenai ketidakadilan yang masih banyak terjadi.
• Siapa yang paling tersakiti dari sebuah perceraian? Yap benar, anak-anak mereka harus menanggung luka itu tanpa ada yang paham sakitnya. Dampak yang diberikan tidak main-main bukan hanya luka melainkan ketakutan untuk membangun cinta saat menuju kehidupan dewasa. Novel Remedies menyentil fenomena yang marak terjadi saat ini dimana orang dewasa mengejar kebahagiaan dengan menelantarkan buah cintanya sendiri.
• Alurnya mudah dipahami, ringan dengan bahasa yang khas anak remaja jadi nyaman dibaca. Ada kilas balik ingatan dan kenangan masa lalu sebagai jawaban mengapa perubahan besar terjadi pada Gerry termasuk rahasia di balik keceriaan sifat Retha.
• Remedies menguraikan pentingnya kehadiran penyemangat di saat susah maupun suka dan mereka yang menyediakan ruang aman untuk mendengarkan. Beberapa orang terluka sebenarnya bukan ingin kembali ke masa lalu namun hanya mengingat kenangan manis yang sempat terjadi. Mereka terjebak dalam keinginan sunyi tanpa berpikir panjang kehidupan manis yang akan datang.

Penokohan, Alur Cerita dan Karakterisasi
Aku suka bagaimana penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang nyentrik dan sangat berkarakter melalui percakapan maupun narasi yang disajikan. Remedies mengenalkan pembaca dengan Gerry, yakni anak remaja yang berjuang melawan semua rasa takut dan trauma pada dirinya. Kemudian ada Retha, gadis yang berisik dan dibenci Gerry namun di balik semua itu dia sangat peduli dan ingin membantu Gerry. Selain Gerry dan Retha ada karakter om, tante nisa, Farhan, Niko, sang ayah, bunda dan tokoh-tokoh pelengkap lain.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Remedies berhasil menjelaskan makna dari penawar dan perjalanan menemukannya setelah luka dan trauma yang membelenggu. Konsepnya menarik dengan eksekusi pas membuat persentase antara pengenalan sampai tahapan mencapai tujuan lebih seimbang. Remedies mengajak lebih banyak pembaca untuk melihat luka dari berbagai sisi termasuk cara penyembuhan dan penerimaannya dalam kehidupan. Remedies merangkul anak-anak korban keegoisan orang dewasa dan apa dampak yang dirasakan selanjutnya.

Konsep dan Eksekusi Cerita
Konflik yang dibawa Remedies tentu bukanlah pilihan ringan namun segala korelasi dan sebab akibat yang dijabarkan tetap seimbang. Penulis mampu membentuk karakter Gerry melekat dengan konsepdan konflik utama begitu juga dengan keberadaan tokoh pendamping untuk membuat eksekusi kisah yang lebih menarik. Buku ini berhasil mempermainan sisi emosional pembaca dalam tahap empati dan merenungi segala konsekuensi sebuah perpisahan serta komunikasi buruk yang terjalin di dalam keluarga.

Apa yang Aku Harapkan untuk Tokoh dalam Buku Ini Selanjutnya?
Aku sangat berharap titik yang sudah dicapai Gerry ini membawanya ke dalam lembaran baru yang lebih baik dibandingkan buku sebelumnya. Gerry berhak bahagia atas semua luka yang menemaninya. Semoga orang-orang di sekeliling Gerry dilimapahi kebahagiaan dan kesabaran untuk menemani Gerry kembali bisa menerima kenyataan. Mereka yang baik sangat berhak mendapatkan kebahagiaan dari buah yang ditanamnya. Sebaliknya mereka yang egois dan memikirkan dirinya sendiri sampai menyusahkan orang lain semoga bisa mendapatkan luka sepadan.

Pelajaran yang Diberikan dan Sasaran Pembaca
Remedies mengantarkan kita pada sebuah titik menerima dan berdamai dengan semua hal yang sudah terjadi atas ketidakadilan dan kehilangan. Kapanpun itu selama masih menjalani kehidupan kita selalu dihadapkan dengan pilihan menyerah atau melawan. Selama kita terus memilih menyerah dan sembunyi selamanya kita akan begitu-begitu saja. Ayo bangkit dan lawan agar segera ada titik penyelesaian. Terkadang kita memang tak harus melawan siapa-siapa kita hanya perlu melawan diri sendiri yang kehilangan arah. Dibandingkan kabur melawan justru tak banyak menghabiskan tenaga.

Remedies bukan hanya buku yang cocok dibaca anak remaja melainkan juga orang dewasa sebagai bahan refleksi dan lebih jernih dalam bertindak mengenai dampak yang diberikan untuk mereka yang tidak bersalah. Remedies juga cocok sebagai bahan diskusi orang dewasa dan anak remaja mengenai penanggulangan trauma dan perjalanan menemukan diri sendiri.

@readingwithhirai
Profile Image for Ovy Rama.
116 reviews3 followers
February 3, 2026
Remedies || Trissella || Penerbit Gramedia Pustaka Utama || 264 Hlm || Edisi Digital, Th. 2023 || Ipusnas

#RemediesTrissella

Bisa bersekolah, kuliah atau kerja di tempat yang sama dengan idola kita tuh rasanya pasti menyenangkan. Udah pasti banyak hal-hal bahagia yang kita bayangkan kalo bisa berinteraksi langsung dengan idola kita. Namun, apakah hanya hal-hal bahagia aja yang datang? Yakin idola kita yang selama ini kita kagumi itu sikapnya akan sama seperti yang kita tau selama ini? Tentu aja nggak, nggak mungkin dalam hidup hanya hal-hal bahagia yang datang dan belum tentu juga sikap yang selama ini kita tau itu adalah sikap idola kita sesungguhnya. Entah itu mungkin karena dia menyembunyikan kepribadian aslinya atau memang ada hal yang mendasari itu.

Ngomongin soal sekolah bareng idola, aku baru selesai baca novel Remedies. Udah tau novel ini dari lama, tapi menunda-nunda untuk berkenalan dengan Gerry dan Retha. Ternyata aku cukup menyesal. Lho nyesel kenapa? Ya kenapa aku nggak baca novel sebagus ini dari dulu. Kenapa aku harus nunda-nunda bacanya? Tapi mungkin sekarang memang waktu yang pas buatku berkenalan dengan Retha dan Gerry.

Novel ini berkisah tentang Retha yang kaget saat tau Gerry masuk SMA yang sama dengannya. Cowok itu berhasil bikin dia terkagum-kagum saat dia menonton salah satu pertandingan polo air beberapa tahun lalu. Namun, Gerry sudah berhenti jadi atlet. Kenapa ya? Padahal kata teman Retha, Gerry salah satu atlet andalan klub.

Meski sering memasang wajah judes kalo Retha ikut bareng Niko dan Farhan, Gerry tidak pernah mengusirnya terang-terangan. Rasa penasaran Retha semakin menjadi setelah Gerry menolak pengambilan nilai renang untuk pelajaran olahraga mereka. Aneh banget. Atlet yang akrab dengan kolam renang harusnya nggak ada masalah dengan itu, kan?

Berhasilkah Retha mengetahui alasan dibalik Gerry bersikap demikian? Kalo penasaran bisa langsung baca novelnya!!

Baru baca di bagian prolog aja, aku udah langsung disuguhkan dengan konflik yang begitu menyayat hati. Kak Trissella langsung menghadirkan cobaan yang sangat berat ke salah satu tokoh dalam novel ini. Bagian prolog terlewati, aku justru dibuat kesal luar biasa dengan Retha. Gimana nggak kesal sama dia, kalo sikapnya tuh bener-bener bikin risih banget.

Aku tau sih bagaimana rasanya kalo ada di posisi Retha. Mungkin kalo aku jadi Retha pun akan melakukan hal yang sama, tapi nggak akan se-ekstrem yang dilakukan Retha. Ya siapa coba yang nggak penasaran kalo idolanya kenapa-kenapa. Dari sudut pandang fans, jelas kalo ada hal aneh ya akan curiga dan mencoba mencari tau faktanya agar rasa penasaran kita nggak semakin menjadi + sedikit lega walaupun ada rasa khawatir. Cuma kembali lagi, kita sebagai fans harus sadar bahwa ada batasan yang harus diterapkan. Kita nggak bisa memaksa idola kita untuk terbuka kalo memang belum siap. Tindakan itu jelas akan memberikan dampak kurang nyaman ke idolanya.

Meski bisa memahami apa yang dirasakan Retha, aku juga paham banget dengan apa yang dirasakan oleh Gerry. Seorang idola (mau itu atlet, aktor/aktris, penyanyi, dsb) mereka juga manusia biasa yang punya perasaan dan privasi. Siapa pun kalo privasi yang begitu dijaga dan nggak semua orang perlu tau akan hal tersebut malah sengaja dikorek oleh orang baru atau orang asing, jelas akan merasa risih dan akan menunjukkan sikap yang kurang baik. Entah itu judes, menjauh atau bisa hal ekstrem lainnya.

Aku bisa ikut merasakan apa yang dirasakan dua tokoh utama dalam novel ini karena memang Kak Trissella menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu yang di mana aku dibuat lebih memahami semua masalah yang ada dan bisa dibuat mengerti tiap masalah dari perspektif masing-masing tokohnya. Alur yang digunakan termasuk alur campuran karena beberapa kali aku dibawa ke masa-masa flashback salah satu tokohnya dengan tentunya pergantian alurnya tadi dibuat sangat smooth. Bikin aku sepanjang baca nggak bingung sama sekali ini ada di masa sekarang atau masa sebelum salah satu tokohnya seperti saat ini.

Tema yang diangkat untuk novel ini mungkin terasa berat untuk anak remaja, tapi di real life pun nggak menutup kemungkinan hal itu bisa terjadi di usia berapa pun. Meski semua orang nggak pernah berharap hal tersebut terjadi dalam hidup mereka. Konflik novel ini meski berat, tapi terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konfliknya nggak jauh dari seputar konflik rumah tangga, keluarga (anak dan orang tua), pertemanan dan konflik batin. Aku suka dengan cara Kak Trissella memunculkan konflik demi konflik dalam novel ini karena begitu terasa mempermainkan emosiku sepanjang mengikuti kisah Retha dan Gerry.

Membaca novel young adult satu ini di usia yang terbilang bukan usia remaja lagi, ternyata aku masih sangat menikmati setiap suguhan yang ada. Kisah Gerry dan Retha dalam novel ini kerasa banget page turner buatku. Selama baca aku nggak berhenti dibuat penasaran dan terlalu sayang untuk ditinggal beraktivitas yang lain. Itu kenapa tiap melihat halaman aku membatin 'Nggak berasa udah sampai halaman segini aja.'

Mungkin untuk sebagian orang novel ini bisa menyebabkan triggered trauma. Aku yang alhamdulillah nggak mengalami hal tersebut dan semoga aja nggak akan pernah mengalaminya sempat dibuat mimpi buruk saat tidur sebentar ketika selesai baca novel ini.

Tokoh dalam novel ini nggak begitu banyak, tapi semuanya memorable dan punya porsi kemunculan yang pas. Nggak ada kesan tokoh tempelan. Nggak ada pula tokoh yang to good to be true, semua tokohnya dibuat manusiawi yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Gerry sebagai male lead novel ini, dari awal kenalan sama dia tuh rasanya aku dibuat ingin puk-puk dan bantu nyelesain masalahnya. Namun, masalah Gerry nggak sesimpel itu. Butuh bantuan ahlinya atau orang yang profesional dalam bidangnya. Ada sedikit rasa kesal saat Gerry terus-menerus terpuruk dan merasa dia nggak berhak untuk bahagia. Hanya aja, aku lebih banyak memaklumi dan mengerti akan sikapnya.

Retha. Sedari awal aja aku udah bilang dia tokoh yang bikin gregetan banget, tapi dibalik itu semua aku paham ada rasa perhatian yang tulus dan khawatir. Cuma Retha ini salah cara dalam bertindak. Rasa keponya ini lho yang bikin nggak nyaman. Sama cara dia membahas hal-hal yang sensitif untuk salah satu tokohnya tuh bikin aku pengen masuk ke dalam cerita dan memperingatkan langsung bahwa tindakannya salah. Mungkin aku nggak akan sesabar Farhan atau Kendra dalam memberikan pengertian pada Retha. Namun, yang dilakukan Farhan dan Kendra tuh kerasa langsung tepat sasaran. Persentase berhasilnya sih sedikit lebih unggul Farhan.

Dibalik tingkah Retha yang kebanyakan rese'nya itu, ternyata ada sesuatu yang pahit juga. Di mana hal tersebut juga dialami oleh tokoh yang lain. Hanya aja cara Retha menyikapi berbeda. Meski serupa, tapi sedikit banyak yang dialami Retha dan tokoh lain ini ada pembeda yang lumayan.

Farhan. Meski usianya sama dengan Gerry dan Retha, entah kenapa Farhan ini lebih kerasa udah dewasa dibanding mereka berdua. Jadi, Farhan lebih bisa menempatkan diri, bisa lebih menahan rasa penasaran dibandingkan Retha. Untuk tingkat ketulusan pada sahabat-sahabatnya pun nggak perlu diragukan lagi.

Niko. Kehadiran Niko dalam novel ini tuh kayak cahaya di tengah-tengah kegelapan menurutku. Meski agak menyebalkan khas remaja cowok pada umumnya, tapi tingkah laku Niko ini sedikit banyak bikin aku terhibur dan nggak gloomy terus.

Kendra. Bersahabat dengan Retha tuh bikin dia lebih paham cara menghadapi Retha. Aku sempat curiga dia akan berulah, ternyata nggak dong. Dia ini termasuk tokoh yang baik dan pengertian. Meski porsi kemunculannya nggak banyak, tapi kerasa pas dan memorable.

Gerry memang mengalami serangkaian hal yang nggak mudah, tapi di sisinya ada Tante Nisa dan Om Irfan yang selalu percaya, mendukung dan membersamai Gerry. Aku jadi Tante Nisa pun akan bertindak yang sama mengenai mantan salah satu keluarganya. Tante Nisa dan Om Irfan ini udah seperti pengganti figur orang tua bagi Gerry di mataku. Perhatian mereka tuh terasa sangat tulus.

Tokoh yang real banget pengen kutendang ke neraka adalah laki-laki yang ditemui Retha di depan sekolah. Buatku kesalahannya sangat fatal. Nggak pernah membenarkan apa pun yang dia lakukan. Dari tokoh ini menunjukkan bahwa orang tua juga bisa salah dan durhaka pada anak.

Pak Anwar. Wuah nggak usah dikata ini tokoh kebanyakan bikin gedegnya saat nggak ada toleransi pada muridnya soal tes renang. Cuma mau bagaimana lagi karena perannya itu juga serba salah. Dia juga butuh alasan logis untuk mengambil keputusan.

Aku suka banget dengan interaksi-interaksi para tokoh dalam novel ini. Interaksi Gerry dengan Retha yang kerasa banget di awal tuh seperti kucing dan anjing. Interaksi Gerry dengan Farhan dan Niko yang selayaknya persahabatan seru antar remaja laki-laki. Interaksi Retha dengan kakak kandungnya yang bikin aku sebagai anak perempuan pertama iri. Interaksi Retha dengan Farhan yang always menunjukkan sisi ngeselinnya Retha dan interaksi Retha dengan Niko yang selalu menghibur.

Novel ini menggambarkan bahwa orang dewasa yang saling mencintai pun bisa begitu egois. Menggambarkan salah satu bibit patriarki yang sampai sekarang masih begitu kental di Indonesia yang mana laki-laki atau suami itu bagaikan raja di rumah. Menggambarkan fase kehilangan seseorang dan menggambarkan bagaimana tindakan orang dewasa yang nggak kuat imannya.

Setting tempat di novel ini lebih banyak di sekolah dan di rumah beberapa tokohnya. Memang ada scene dengan setting tempat lain, tapi porsinya kerasa pas dan cukup. Penggambaran setting tempatnya pun sangat baik karena aku seperti berada langsung di sana. Saat scene di sekolah tuh, aku berasa seperti remaja lagi. Diajak nostalgia dan rindu dengan masa-masa remaja. Saat scene di rumah Gerry berasa kenangannya yang begitu banyak, scene di rumah Farhan berasa hangat dan scene di rumah Retha tuh ada vibes ramai yang menyenangkan dan nyaman.

Meski di awal Retha banyak bikin aku kesal, tapi aku suka banget dengan perkembangan tokoh Retha ini. Bukan perkembangan yang tiba-tiba, tapi bener-bener yang dinamis, begitu juga yang kurasakan pada Gerry. Nggak cuma itu aja, cara Kak Trissella menyelesaikan tiap-tiap konflik yang ada dalam novel ini terasa tepat dan realistis.

Dari novel ini, aku belajar untuk nggak memaksakan kehendak kita pada orang lain, belajar untuk memahami plus menghargai privasi orang lain, belajar untuk nggak terus-menerus menyalahkan diri sendiri, belajar untuk nggak menjadi orang dewasa yang egois, belajar untuk melawan ketakutan yang ada, belajar untuk menerima uluran bantuan dari orang-orang yang peduli sama kita dan masih banyak lagi moral value lainnya dari novel ini yang bisa kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di salah satu scene, beberapa tokohnya menyebutkan satu aplikasi yang begitu familiar untukku karena saat masih remaja sering menggunakannya. Waktu aplikasi tersebut disinggung, aku rasanya ingin kembali menggunakannya. Ada satu kebiasaan Retha yang nggak bisa diganggu yaitu perihal tontonan. Salah satu tontonan Retha itu juga tontonan yang kusuka, tapi sekarang jarang kutonton karena kesibukan di real life.

Bukan hanya penggambaran tokoh dan setting tempat aja yang detail, tapi profesi dan passion tokohnya juga dijelaskan begitu detail dengan cara yang mudah kupahami. Riset Kak Trissella untuk hal tersebut patut kuberi 4 jempol.

Aku suka banget dengan cover novel Remedies ini karena begitu menggambarkan isi novelnya. Covernya seperti bercerita dan pemilihan warnanya kerasa pas dengan vibes ceritanya. Pemilihan font beserta ukurannya juga kerasa pas dan nggak bikin mata sakit sepanjang mengikuti kisah Gerry dan Retha. Layout di awal bab tuh entah kenapa di aku berasa seperti layout klipping zaman dulu dan ini unik plus aku suka banget. Ditambah elemen yang dipakai tuh mewakili kisah dalam novel ini.

Novel satu ini aman sekali dari romansa yang cringe karena nggak berfokus ke romansa, tapi ke passion tokohnya dan konflik yang lain. Jadi novel ini cocok dibaca mulai usia 15 tahun. Sepanjang 264 halaman, aku nggak menemukan kesalahan ketik atau hal-hal lain yang menganggu. Novel ini kurekomendasikan buat kalian yang suka baca novel teenlit atau young adult dan buat yang cari novel remaja tanpa embel-embel romance.
Profile Image for vira.
35 reviews
February 19, 2024
aku tuh gak nyangka kalo ceritanya bakal sesedih ini… apalagi plot twist nya di pertengahan sukses buat aku kaget dan diem sebentar… tapi selain sedih, entah kenapa aku merasa seperti ‘dipeluk’ pas baca cerita ini. selain itu, suasana pertemanannya juga dapet bangeettt. 🥹🥹🥹
Profile Image for An Unforgiven Reader.
47 reviews
April 5, 2024
4,5!

Jujur, buku ini seru banget. Anehnya aku gabisa nangis, tapi tetep bagus kok.

Dibeberapa part agak boring dan itu jadi kontranya. Tapi overall ceritanya naikkin rating dari buku ini. Cerita Gerry dan Retha menyedihkan banget.

Menurut aku chemistry mereka itu kuat banget. Gerry yang ngerasa nyaman sama Retha dan Retha yang merasa kagum ke Gerry. Cocok banget buat yang lagi mau salting, apalagi bagian Retha nyanyiin Gerry.

(Edit: Setelah membaca ulang.. buku ini harus dapet 5 dari 5 bintang.)
Profile Image for Hayyu.
10 reviews
February 3, 2026
Remedies by Trissella // GPU, 2026 (cet.II) // Young Adult // 264 hal.

"Coba berhenti lari, Ger. Selama ini kamu cuma lari di lingkaran. Setelah lama lari, pasti ada waktunya kamu kembali ke titik awal seperti sekarang. Kamu tahu kita nggak akan selamanya dihadapkan sama pilihan yang menyenangkan, terutama saat tahu kamu nggak punya pilihan buat menghindar lagi."—hal.114

Gerry, seorang mantan atlet polo air yang meninggalkan dunia kolam karena suatu kejadian yang menjadi titik balik hidupnya di usia 14 tahun. Kolam renang yang awalnya menjadi dunianya, ia lepaskan. Dua tahun berlalu, Gerry tetap enggan bersentuhan dengan dunia kolam. Ia bahkan memutuskan hubungan dengan semua orang yang mengenalnya sebagai atlet dan memilih menempuh pendidikan di mana orang tidak mengenalinya.

Dunianya baik-baik saja—di mata orang—sampai ketika ia memiliki teman sebangku yang mengetahui masa lalunya dan dengan sangat menyebalkan mengorek alasan berhentinya Gerry. Belum lagi ketika guru olahraga mewajibkan seluruh kelas 11 untuk mengikuti praktik olahraga renang sebagai penilaian UTS. Gerry tidak bisa menghindar. Ia bahkan terpaksa menemui sumber kesakitan dan kekecewaannya demi closure yang jelas.

Jadi, apa sebenarnya alasan Gerry meninggalkan dunia polo air yang begitu dicintainya?


Ulasan :

Kalau kalian pernah dengar tentang "5 Stages of Grief"-nya Kubler Ross, kalian akan menemukan setiap tahapnya di novel ini.

Gerry mengalami duka mendalam yang benar-benar mengubah dunianya. Hidupnya jadi berubah 180° karena hal ini. Apalagi, ketika hal itu terjadi, ia masih 14 tahun yang mana masih usia remaja. Dan ketidakadilan dunia sudah membombardirnya.

Gerry mengalami "kelelahan" akibat banyak kejadian tidak menyenangkan yang terjadi secara beruntun di hidupnya. Oleh karena itu, di usianya yang masih 16 tahun, ia masih berada di tahap denial atas apa yang menimpanya. Ia juga sangat marah dan kecewa terhadap takdir hidupnya. Ia bahkan sering dengan sengaja melanggar aturan Bundanya untuk suatu hal yang ia harapkan berbeda dengan takdirnya kini.

Sampai Retha datang dan menjadi teman sebangkunya. Retha adalah penggemar Gerry sebagai atlet polo air. Ia bahkan sering menonton dokumentasi pertandingan Gerry di Youtube. Lalu, dengan kekeraskepalaan dan keingintahuan yang sangat tinggi—tidak tahu tempat, Retha secara tidak sengaja meruntuhkan usaha Gerry untuk menjadi "siswa biasa" di sekolah itu.

Aku suka dengan cara penulis menceritakan "5 stages of grief" yang dilalui Gerry. Karakter Gerry juga sangat manusiawi. Aku bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan Gerry. Bagaimana Gerry berjuang menghadapi takdirnya. Bagaimana Gerry memulai fase penerimaan yang begitu sulit ia capai. Gerry seperti membangun boundaries untuk orang sekitarnya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sangat baik-baik saja. Aku bahkan bersyukur ketika Gerry memilih untuk melanggar aturan Bundanya sebagai usahanya untuk tetap waras. You did great, Gerry! Kamu anak baik!

Orang-orang di sekitar Gerry juga sangat aku acungi jempol. Mereka bisa membuat Gerry tetap berfungsi meski isi kepala Garry benar-benar ruwet dan berisik. Ada Tante Nisa dan Om Irfan yang benar-benar membersamai Gerry tanpa penghakiman. Beliau berdua memang kadang saling kontra, tapi aku lega dengan karakter mereka berdua. Sayangnya, Gerry tidak mendapat validasi penuh dari Tante Nisa terkait satu hal, dan itu membuat Gerry tidak terbuka kepada beliau.


Lalu ada teman-teman sekolah Gerry yang tergabung dalam group chat "Walkie-Talkie"—yang berubah menjadi "Monyet-Monyet"—yang berisi Farhan, Niko, dan Retha. Karakter mereka benar-benar bisa membuat Gerry normal. Farhan yang pengertian dan toleran, Niko yang asbun, dan Retha si anak baru yang kepo dan keras kepalanya tidak tahu tempat.

Dari novel ini, aku mempelajari bahwa keterbukaan adalah suatu yang sangat penting. Gerry awalnya tidak melakukan itu. Namun, ketika ia mengetahui fakta tentang Retha, ia jadi secara berangsur lebih terbuka pada gadis itu. Gerry merasa memiliki koneksi dengan Retha. Hal itu menjadi titik awal Gerry memulai fase acceptance-nya.

Ada bagian di novel ini yang benar-benar roller coaster. Di bab 17 sampai bab 19, kita akan diajak tertawa dan menangis. Kalian member gc Monyet-Monyet benar-benar, ya!!!

Satu amanat yang paling aku highlight di novel ini yaitu ketika Gerry bilang, "Akhirnya gue selesai sama Redacted. Salah nggak, sih,...?" Lalu Retha menjawab, "Selama itu bisa bikin lo bahagia, nggak perlu pikirin hal lain lagi, Ger." Dan aku setuju banget. Terkadang kita hanya perlu cut off orang-orang yang membuat hidup kita penuh beban dan tidak bahagia, meski pun orang itu adalah salah satu significant other.

Sekian ulasan dariku. Aku sangat terbuka untuk berdiskusi tentang hal-hal yang aku sampaikan di sini. Semoga dari novel ini, kita semakin memahami bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk mengatasi dukanya. Jangan lupa ulurkan tangan untuk orang terdekat yang mungkin mengalami kelelahan mental. Peluk Gerry dan geng Monyet-Monyet dari jauh ❤❤❤
Profile Image for Fadila setsuji hirazawa.
351 reviews4 followers
February 10, 2026
Mimpi-mimpi yang menjebaknya di kolam renang seperti tadi selalu datang cukup singkat, tapi rasa sesak yang ditinggalkan bertahan lama. (Hal.12)
.
Rasa senang dirasakan Retha ketika mengetahui bahwa Gerry, seorang remaja yg dulu menjadi atlet polo air sebelum memutuskan berhenti, bersekolah di SMA yg sama dengannya. Namun, kagum dan senang itu seperti dihantam oleh informasi bahwa Gerry telah berhenti menjadi atlet polo air bahkan menolak pengambilan nilai renang untuk pelajaran olahraga...
Ada apa dengan Gerry?

Gerry tak pernah benar-benar 'mengusir' Retha dalam kesehariannya ketika gadis itu berada dekat dgn sahabatnya, Farhan dan Niko.
Namun, kemunculan seorang yg menitipkan nasi kuning tuk Gerry kepada Retha memunculkan pertanyaan terutama krn kemarahan yg ditampakkan Gerry terkait ini.
Siapakah orang tersebut?
.
.
.

🤽 Membuka 2026 dgn bacaan novel YA yg hampir selalu buat saya nangis sepanjang membaca, sampai tahu tahu kehabisan tisu😭🙏 Remedies yg berhasil membuat emosi saya naik turun dan banyak nangisnya juga sepanjang membaca😭👍

🤽 Hubungan pertemanan, dukungan emosional dan hubungan persaudaraan terasa di Remedies 🤍 dan narasi kak Trissella dalam menggambarkan hubungan ini membuatnya terasa makin emosional apalagi dengan deskripsinya yang menurut saya pribadi bukan hanya indah tetapi juga berhasil menggambarkan dinamika dan gejolak emosi yang bisa membuat pembaca terhanyut juga merasakan gejolak dari problem dalam hubungan pertemanan, keluarga dan persaudaraan juga padahal hanya satu tokoh yang senangkap saya diberikan porsi kemunculan saudaranya☺️🙏

🤽Setuju dengan beberapa ulasan mengenai tokoh, bahwa di nove ini, untuk tokoh lainnya yg dihadirkan pun berhasil memberikan warna serta porsi peranannya terasa pas. Tak ada yang terasa kurang atau seperti sekadar dimunculkan saja

🤽 Gerry dan sikap defensifnya terasa dalam novel ini, sampai di bagian ketika tokoh ini mengungkapkan alasan mengapa ketakutannya pada kolam begitu besar... Seketika saya nangis. Bagian ini yg justru bagi saya membuat saya lebih meresapi bagian dari proses Gerry melalui duka alih alih menganggapnya sebagai trauma dan sejenisny.

🤽 Mendapati adegan yg menurut saya sederhana tetapi rasanya bisa membuat tersenyum pada bagian akhir, sungguh membuat saya ingin mempuk puk Gerry dan Retha yg bertumbuh dari hal yg sebelumnya membuat luka bagi keduanya🤍 Rasanya ingin menjadi seorang yg bisa memberikan dukungan kepada semua Gerry dan Retha di bumi🥹🙏

🤽 Kalau ada hal yg menurut saya pribadi rasanya belum cukup eksplorasinya yaitu bagaimana Gerry dan polo air ini. Meskipun sdh cukup detail di beberapa hal, saya pribadi blm cukup merasakan kelekatan kuat antara Gerry dgn polo air ini sendiri🙏


🤽Remedies jadi salah satu novel YA dgn narasi yg keren dan terasa menaikturunkan emosi👍

🤽Tokoh lain yg dihadirkan memberikan warna serta punya peran yg rasanya cukup penting tuk menambah warna dinamika dalam novel Remedies. Bercandaan Gerry dgn sahabatnya, Farhan dan Niko juga seru dan cukup bikin hahahihi!
Sementara itu, dialog antara Gerry dan tantenya di hal.84 bikin saya nangis sesenggukan😭🙏
Oh iya, celetukan Retha yg agak 'dark jokes' juga buat saya nyesek dan mewek.

🤽 Saya juga ingin memuji kak Trissella yg berhasil menghidupkan tokoh Gerry, seorang remaja laki-laki berikut sisi emosionalny dan juga perkembangan tokoh Gerry ini. Keren kak☺️🤍👍

🤽 Menurut saya pribadi, mungkin, dari sudut pandang beberapa orang, label 'durhaka' lebih sering disematkan kepada seorang anak. Namun, setelah membaca Remedies, rasanya label ini juga bisa diberikan pada orang dewasa yg telah menjadi orang tua.

🤽 Setuju dgn pendapat dari salah satu review di Goodreads tentang bagaimana Remedies tetap terasa vibes sendunya hingga bagian akhir cerita. Namun demikian, bagi saya pribadi, diantara nuansa tersebut, ada hal hal kecil yang menghangatkan hati, seperti perubahan interaksi Gerry dengan salah satu tokoh dan bagaimana pandangan tokoh ini terasa lebih melegakan setelah menemui dan mendengar langsung hal yg disampaikan oleh seseorang yg Gerry hindari setengah mati.

🤽 Ketakutan, penghindaran, amarah, serta penerimaan yg meskipun tak mudah namun tumbuh perlahan lewat penyadaran yg Gerry dapatkan lewat semua yg terjadi, saya merasa ini cukup memberikan gambaran bagaimana teori tentang tahapan berduka yg sebenarnya bukan tahapan paten yg dialami oleh semua orang yg berduka, namun lewat narasi dan kisah yg diramu dgn apik oleh kak Trissella, tahapan versi teori ini begitu tergambar dalam kisah Remedies.

Jadi, apakah novel ini direkomendasikan tuk dibaca?
IYA!☺️👍
Profile Image for Booktrovert_id.
92 reviews
February 5, 2026
Buku ini tuh dari awal sampai akhir vibes-nya sendu banget. Angst non-stop. 😭 Padahal novel remaja, tapi kok sesakit ini ya?🥲🤌🏻 Bikin hati teriris-iris.

Cerita ini tentang Gerry, mantan atlet polo air yang tiba-tiba berhenti dan bahkan nggak mau dekat-dekat sama kolam renang lagi. Retha, yang dulunya ngefans sama Gerry, kaget banget lihat perubahan ini. Jelas pasti ada sesuatu yang Gerry tutupin, apalagi dia sampai nolak pengambilan nilai renang di pelajaran olahraga. Kenapa, Ger? Ada apa?

Gerry dan Retha punya kondisi yang mirip—𝐬𝐚𝐦𝐚-𝐬𝐚𝐦𝐚 harus 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 karena 𝐤𝐞𝐞𝐠𝐨𝐢𝐬𝐚𝐧 orang tua mereka. Tapi yang satu bisa bangkit, yang satu lagi terus-menerus tenggelam dalam rasa bersalah🥹

Kondisi Gerry tuh nyesek banget. Dia terus nyalahin diri sendiri, sering mimpi buruk, dan bahkan merasa bersalah kalau lagi bahagia.

Sementara itu, Retha ini kayak badai buat hidup Gerry. Dia super duper kepo, cerewet, nggak bisa diem, tukang ikut campur. Bikin sakit kepala. Awal-awal aku jujur lumayan jengkel sama dia. Tapi ternyata, justru Retha yang ngajarin Gerry buat memahami emosinya sendiri—marah, kecewa, rindu, semuanya.

Untung ada Farhan dan Niko, sahabat Gerry, yang kasih sedikit ruang buat nafas di cerita ini. Momen-momen mereka tuh bener-bener penyelamat dari kesuraman. Terutama interaksi Retha-Niko yang suka ngelawak sambil berantem. Tanpa mereka, percaya dahh, novel ini bakal makin dark 😭

Yang paling bikin frustasi, sampai akhir pun Gerry belum mau nemuin pihak profesional. Dia bilang "𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡", tapi sebenarnya dia sangat butuh. Soalnya banyak pertanyaan dalam dirinya yang nggak bisa dijawab sama orang awam. Dan meskipun dia akhirnya bisa bangkit, masih ada perasaan yang belum benar-benar damai di dalam dirinya.

Remedies terasa relevan karena mengangkat isu kesehatan mental remaja. Ceritanya menunjukkan bahwa luka psikologis bisa muncul dari rumah sendiri, dari orang-orang yang seharusnya jadi tempat paling aman. Sadar atau tidaknya mereka.

Setelah selesai baca Remedies, aku ngerasa capek secara emosional dan buku ini ninggalin rasa sesak yang lama. Bukan karena ceritanya berlebihan yaa, tapi karena banyak hal di dalamnya terasa terlalu related. Remedies bukan buku yang mudah dilupakan setelah ditutup, karena emosinya masih kebawa bahkan lama setelah selesai baca.

Aku juga jadi sadar kalau luka yang dipendam sendirian nggak pernah benar-benar hilang. Lingkungan dan orang-orang di dalamnya ternyata punya pengaruh besar, bisa jadi ruang aman untuk sembuh, atau sebaliknya.

Dan kalau kalian suka bacaan yang emosional dan meaningful, Remedies ini wajib banget masuk wl kalian 🫶
Profile Image for Laven.
347 reviews14 followers
May 13, 2024
"Lucu ya. Kita sama-sama jadi korban keegoisan orang tua."

Aku masih menata hatiku setelah selesai membaca buku ini, rasanya seperti naik rollercoaster. Kisah ini dimulai dengan cerita duka Gerry, kehilangan sosok Ibu yang mendadak dan nihilnya sosok seorang ayah seakan menaburkan air jeruk nipis diatas luka menganga. Kehilangan sosok Ibu membuat Gerry 'melepaskan' semua kehidupannya, ia yang semula tenggelam perlahan semakin enggan untuk keluar dari palung duka.

Buku ini memang terfokuskan kepada Gerry, namun tiap-tiap tokohnya berhasil menghantarkan perasaan mereka. Karakter setiap tokohnya berkembang selaras dengan berjalannya cerita terlebih pada Gerry dan Retha. Gerry yang sering menghindar, Retha dengan sikapnya annoying, Farhan dengan pembawaan dewasa dan sikap pengertiannya, lalu ada juga tingkah polah Niko yang nggak ada habisnya.

Pertemanan antara Gerry-Farhan-Niko-Retha mewarnai buku dengan tema yang cukup berat ini. Buku ini juga menggambarkan bahwa satu keegoisan orang tua dapat berdampak besar dalam kehidupan sang anak, dan selayaknya anak yang masih belajar banyak hal respon mereka akan berbeda-beda. Retha dan Gerry adalah dua dari banyaknya anak yang terdampak oleh keegoisan itu, namun keduanya menghadapi semuanya dengan sikap yang bertolak belakang. Aku cukup puas dengan closures yang didapatkan Gerry, sebagian besar hal yang memberatkan kesehariannya terjawab. Karakter favorit aku dibuku ini adalah Tante Nisa dan Om Irfan sedangkan karakter yang lebih baik dibuang ke laut saja jatuh pada ayah Gerry.

" ... Gue udah bilang, orang dewasa itu rumit, Ger. Keputusan mereka itu egois."

Aku nggak terlalu fokus sama romance dalam buku ini karena tipisss banget romancenya, aku sendiri juga lebih sibuk untuk menahan diriku masuk ke buku Remedies dan memeluk Gerry dengan erat. Ada beberapa typo, tapi nggak sampai mengganggu banget. Overall aku merekomendasikan buku ini untuk jadi salah satu buku yang jangan sampai terlewatkan, read with caution untuk mereka yang memiliki trauma dengan suicide, family issues and divorced.
Profile Image for Dedik Ariyanto.
50 reviews1 follower
February 3, 2026
~ ℝ𝕖𝕞𝕖𝕕𝕚𝕖𝕤 ~

Resensi Buku
#ResensiRemedies

Assalamualaikum,

🙋🏻‍♂️ Kalau kamu mendapatkan kesempatan untuk remidi. Apa yang akan kamu lakukan?

•••
Aku; jika dengan remidi akan lebih baik, kenapa tidak! Kesempatan ini tak boleh ditolak. Hidup itu tak selalu benar dan salah, tapi memperbaiki dan menerima.

Bagaimana dengan Gerry yang tertekan karena rasa bersalah?

"Remedies" dari @rtrissellam yang diterbitkan oleh @fiksigpu @bukugpu yang akan menjawab kenapa Gerry menjadi remaja yang berbeda, dingin, penuh kecemasan, mimpi buruk, dan hal negatif lainnya.

Ada apa dengan Gerry?

Buku young adult ini punya alur yang rupawan, rapi dengan tempo selaras. Aku suka dengan cara pandang yang diberikan. Mulai dari bangunan karakter dan juga latar belakang penyebab konflik cerita.

Tidak hanya itu saja, deskripsi cerita yang meliuk tak membuat pembaca merasa bosan. Adegan demi adegan dibuat akurat, hingga pembaca tak memiliki cela untuk bernapas. Emosi dan rasa yg disampaikan meminta simpati dan sama sekali tak ada yg salah.

Mengangkat tema kesehatan mental, kecemasan, kehilangan, dan menyakiti diri sendiri. Tema yang menarik dan butuh disikapi dengan baik. Penyelesainnya juga bisa dikatakan "benar", karena penulis sendiri sudah melakukan riset panjang hingga terciptalah kisah Gerry.

Tak hanya menguras air mata pembaca, tapi juga diajak untuk berdialog tentang kehilangan. Keluarga yang tak utuh dan persahabatan. Walau untuk dewasa muda, buku ini tak meromantisasi karakternya. Justru kehangatan itu muncul dari kesetiakawanan dan saling mendukung satu sama lain.

Menyenangkan mengikuti tokoh cerita yang punya ikatan kimia erat ini. Walaupun sedikit gelap, rasa trauma dan kesedihan yang mendalam. Aku sempat merasakan sakit juga, ketika menyadari apa yg dialami Gerry, sungguh dekat seolah muncul dan menyobek lembar halaman.

Menyesakkan, sekaligus menyenangkan. Sebab, penulis tak hanya hadir lewat kata-², tapi juga melalui cerita dengan solusinya.

Bahkan untuk pesan-² yang tak terbaca, nyanyian Retha, juga keputusan untuk remidi. Hidup itu harus tetap berlanjut, dengan kenangan menyenangkan.

Salam literasi.

#DetoReader #RecommenDedik #RemediesTrissella
Profile Image for Tira Lubis.
298 reviews4 followers
July 17, 2024
4🌟

"Lo boleh berduka kok. Sedih, marah, kecewa sama benci itu semua proses lo berduka."

Kehilangan walaupun sudah dipersiapkan tetap akan terasa menyakitkan dan menyedihkan, apalagi jika kehilangan tersebut terjadi secara tiba-tiba.

Itu yang dirasakan Gerry saat tiba-tiba ia harus kehilangan ibunya. Ia yang awalnya seorang atlet Polo Air, mendadak berhenti bahkan menjauhkan dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan Polo Air.

Sayangnya Gerry bertemu Retha, seseorang yang selalu mencoba mengingatkan Gerry pada hal-hal yang ingin dia lupakan.

Baca ini tuh aku ga nyangka kalo bisa sampe nangis. Aku paham banget gimana rasa sedihnya Gerry saat ia kehilangan ibunya, walau memang yg dialami Gerry jauh lebih berat ditambah rasa bersalah yg menganggap ia adalah penyebab dari itu semua.

Konflik di novel ini bisa dibilang cukup complicated dan lumayan berat. Tapi walaupun begitu aku tetep bisa enjoy bacanya, bahkan lumayan cepet buat aku bisa selesaikan buku ini.

Aku suka banget walaupun banyak kesedihan yang dialami Gerry, tapi dia dikelilingi orang-orang yang selalu support dia mulai dari Farhan dan Niko, teman disekolahnya, lalu juga ada Retha yg mengaku sebagai fans Gerry, juga Om dan Tantenya. Walaupun Retha yg kepo berat terhadap Gerry, ternyata Retha juga punya masalah keluarga yg buat kita ga bisa sebel sama dia walaupun dia kepo akut 😄.

Sebel banget sama ayahnya Gerry, ga habis fikir gimana bisa jadi orang tua tapi bersikap seegois itu pada anak sendiri.

Endingnya aku puas, walaupun memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang bagaimana hubungan Gerry dan ayahnya tapi at least Gerry bisa mulai memaafkan dirinya, merelakan ibunya dan mencoba melanjutkan hidup dengan lebih baik tanpa dibayang-bayangi ketakutan dan trauma yg selama ini menghantuinya.

Aku pengen peluk Gerry dan bilang kalau kamu juga berhak bahagia Ger 🥺.
Pokoknya kalo mau baca buku ini siap sedia tisu deh. Buat yg pengen baca buku yang bikin mewek boleh banget baca buku ini. Sangat recommended 👍👍.
2 reviews
February 3, 2026
Hiduplah buat diri lo sendiri. Bikin diri lo sendiri bangga. Berbanggalah karena lo bisa melewati hidup lo yang menyebalkan ini - Retha (halaman 169)

📕 Novel ini bercerita tentang kehidupan Gerry setelah ditinggal kedua orang tuanya. Ayahnya memilih untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Gerry serta bundanya dan bundanya meninggal 2 tahun yang lalu. Hidup Gerry yang dahulu sempurna, sebagai atlet polo air berprestasi dan dikelilingi oleh kedua orang tua yang menyayangi dan bangga terhadapnya, telah hilang. Gerry hidup dalam perasaan bersalah atas kejadian yang menimpa bundanya dan perasaan tidak diinginkan karena ditinggal oleh orang-orang yang dahulu mencintainya. Bagaimanakah kehidupan Gerry selanjutnya ?

💬 Cerita ini merupakan perkenalan pertamaku dengan Kak @rtrissellam dan termasuk kategori young adult. Latar cerita tidak begitu digambarkan dengan jelas. Tokoh-tokoh yang ditampilkan tidak banyak, tetapi mempunyai peran penting dalam alur cerita. Sudut pandang yang dipergunakan merupakan sudut pandang orang pertama.

💬 Alur cerita yang ditampilkan berupa alur campuran, sebagian besar berupa alur maju yang menceritakan kehidupan Gerry sekarang, sedangkan alur mundur hanya terdapat di beberapa bagian akhir yang menceritakan permasalahan kedua orang tua Gerry. Gaya penulisan yang ditampilkan membuat aku jatuh cinta dan tidak bisa berhenti membaca. Penulis sangat hebat memainkan emosi pembaca. Walaupun belum sampai membuat menangis, aku bisa merasakan kesedihan dan penderitaan Gerry. Tidak jarang setiap sad moments, aku selalu bergumam dalam hati kok penulisnya tega banget membuat hidup Gerry sehancur ini. Tapi, aku pun mencintai penulisnya karena menyelipkan momen-momen manis di kehidupan Gerry. Manisnya pas, aku suka...👍🏻👍🏻👍🏻 Konflik yang dihadirkan pada novel ini, yaitu family issues.

👩🧑 Penulis tidak menggambarkan fisik tokoh-tokoh utamanya, tetapi karakter tokoh-tokoh utamanya digambarkan dengan sangat jelas. I love it...!!! Good job, Dear...👍🏻👍🏻👍🏻
Profile Image for Fadhillahnp.
48 reviews1 follower
July 10, 2024
Page turner oi baca buku ini! Bener-bener kesalahan besar banget baca buku ini di gelapnya sepertiga malam hahaha. Allahu... luar biasa nangis bombay baca ini, maap banget ini mah kalo terkesan lebay tapi emang begitu adanyaaaa!

Awalnya mikir ini cerita tentang kisah percintaan ala-ala anak SMA. Ternyata enggaaa! Sepanjang baca pengen banget meluk Gerry, pengen banget teriak "Ger lu berhak bahagia! Lu berhak bahagia! Jangan peduliin orang-orang dewasa yang ga bertanggung jawab itu."

Sedihnya Gerry, kecewanya, hiruk pikuk isi kepalanya bener-bener berasa banget sampe sini. Karakter Gerry juga dikemas natural menurutku, gimana perubahan-perubahan dia setelah kehilangan orang tuanya. Kepedihan yang dirasakan Gerry nyata banget, bahkan pas pov Gerry cerita tentang kehilangannya, tiba-tiba nih mata ga bisa diajak kompromi buat ga menggenang hahaha. Terusnya, meskipun sempet kesel sama kekepoan Retha di awal, tapi menurutku justru itu bentuk kepedulian Retha sama Gerry. Dan akhirnya karakter Retha juga dibuat jadi sosok yang paham sama keadaan Gerry.

Alurnya juga keren banget, konflik besarnya emang cuma di Gerry jadi penyelesaiannya juga ga terkesan buru-buru. Semua sesuai porsi sih menurutku. Hubungan persahabatan Gerry, Niko, Farhan dan Retha juga bikin mood dan mendukung banget. Senang, lucu, koplak, sedih, saling menghargainya mereka realistis banget sebagai seorang anak SMA. Meskipun gadak love line yang menonjol di sini, tapi beneran deh cerita ini seru banget. Interaksi romance tipis-tipis Gerry-Retha juga gemesin, sayangnya karena cerita memang bukan fokus percintaan jadi ya ga banyak ceritain soal itu.

Baca aja deh, pokokya rekomen buat baca ini!
Profile Image for Hapudin.
290 reviews7 followers
November 9, 2024
Ulasan lengkap di sini: https://www.bukuhapudin.com/2024/08/r...

Novel ini membawa tema remaja dengan konflik anak yang jadi korban atas keputusan keliru dari orang dewasa. Perceraian itu umum di masyarakat, tapi sangat lucu sekali ketika Ayah Gerry tidak muncul saat Bunda meninggal karena waktu itu berbarengan dengan calon istrinya yang habis operasi usus buntu. Jelas ini keputusan paling salah bagi seorang ayah untuk anaknya yang sedang butuh-butuhnya didampingi.

Saya juga belum jelas kenapa Bunda memilih mengakhiri hidupnya padahal ia sadar kalau mereka hanya hidup berdua saja; Bunda dan Gerry. Pikiran pendek ini yang saya sebut keputusan paling salah juga. Karena sosok Bunda pernah mengucapkan sesadar-sadarnya kalau mereka akan melanjutkan hidup berdua sampai tua nanti.

Gerry yang masih belum berdamai dengan masa lalunya membutuhkan dukungan dari orang sekitar. Ia beruntung memiliki Tante Nisa dan Om Irfan yang begitu peduli sampai-sampai mereka rela bergantian pulang kerja cepat agar Gerry tidak sendirian di rumah. Beruntung juga Gerry memiliki teman sekelas seperti Niko dan Farhan yang mau mengerti dengan misteri hidupnya dan tidak kepo.
Profile Image for Bukstaka.
1 review
February 12, 2026
Buku berisi air. Air mata. Waktu pertama membaca buku ini aku gak baca sinopsis sama sekali. Ternyata Remedies bagus sekali.

Setiap karakter dalam Remedies membawa persona mereka sendiri. Gerry dengan kesuramannya, Retha dengan rasa penasarannya, Niko dengan tingkah absurd nya, serta Farhan dengan kebijaksanaannya. Lewat grup pertemanan yang mereka namai Monyet-monyet ini, mereka berempat membawa vibe yang berbeda-beda.

Dari kepribadian Gerry, Retha, Niko, dan Farhan kita bisa lihat gimana pengaruh keberadaan para orang tua dalam membentuk diri mereka. Terutama bagi Gerry dan Retha. Dua karakter yang sama-sama jadi anak broken home.

Remedies terasa cukup menguras mental dengan duka yang dibawa oleh karakternya. Walau masih ada candaan Retha dan kawan-kawan yang bikin senyum-senyum sendiri.

Terus, dibanding jadi kekurangan, kayaknya ini juga bukti Kak Trisella berhasil membangun penokohan. Soalnya karakter Retha di buku ini beneran nyebelin sampai nembus halaman. Sifat Retha yang konsisten kepo berhasil membuat aku ikutan kesal.

Remedies gak punya banyak kata-kata puitis untuk mendeskripsikan makna ceritanya. Sebagai pembaca, aku merasa dibiarkan ikut hanyut dalam perjalanan Gerry melepas duka yang dia alami.
Profile Image for Dinda Dola.
16 reviews
February 10, 2024
Remedies menjadi buku Young Adult favorit saya. Buku ini bagus sekali, banyak pelajaran dan trauma dari buku tersebut. Berceritakan tentang Gerry yang merelakan mimpinya dan berjuang untuk melawan trauma yang ia derita. Saya bisa merasakan gimana perasaan Gerry saat ditinggal pergi oleh Ibunya, serta ayahnya yang pergi untuk perempuan lain. Beruntungnya Gerry bertemu dengan teman-teman yang membantu dan berada di samping dia. Dapat sekali sedih, kecewa, sakit, dan lucunya dari buku ini. Setiap karakter juga memiliki trauma serta cara untuk melawan trauma tersebut. Pengembangan dari karakter Gerry juga tidak dipaksa, karena saya suka gimana proses Gerry untuk sembuhnya tersebut.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca, namun tidak direkomendasikan yang memiliki trauma dengan suicide, divorced, dan family issue. Karena membaca buku ini harus dengan keadaan yang sedang baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Arutala.
510 reviews1 follower
September 5, 2024
Menanggung beban kesedihan karena kehilangan bunda yang terlalu cepat pergi semakin membuat tekanan yang dialami Gerry itu semakin berat. Novel ini memang memberi gambaran yang begitu gamblang bahwa depresi yang diderita seseorang terlebih saat remaja-di mana sedang senang-senangnya membutuhkan kasih sayang dari Bunda-memang sangat mengkhawatirkan. Tak peduli polo air, tak peduli perhatian teman, segalanya menyesakkan.

Alih-alih menampilkan keterpurukan, novel ini justru memberikan kehangatan, pertemanan dan kelucuan khas remaja yang mampu bikin cerita ini tak melulu penuh sedu sedan. Ada rasa optimis yang terselip berkat kemunculan Retha yang ceriwis dan geng 'monyet'.

Yang paling menarik dari novel ini menurut saya adalah perkembangan mental Gerry yang awalnya apatis, dingin, cuek, marah-marah menjadi pribadi yang bisa menghadapi musuh utama penyebab segala kebencian sekaligus ketakutannya selama ini. Dan itu tidak mudah.
Displaying 1 - 30 of 48 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.