Sesuai dengan judulnya, Rumah Dukkha ini berisikan 20 penghuni yang masing-masing memiliki kisah duka yang tak berujung.
Ke-20 penghuni ini tidak saling bersinggungan, tetapi masing-masing menyimpan sejarah kelamnya sendiri, baik untuk diri mereka sendiri maupun keturunan mereka.
Ketika membaca beberapa kisah di awal buku Rumah Dukkha, saya sempat bertanya, mengapa semua kisahnya tidak memiliki kata 'akhir'. Semua kisah dibiarkan menggantung, membuat saya harus menerka atau mengambil kesimpulan sendiri atas setiap kisah duka yang diceritakan. Baru setelah saya tiba di kisah ke-10, saya menemukan jawabannya, trauma tidak pernah memiliki titik.
Dari ke-20 kisah di dalam Rumah Dukkha ini, Memuaskan Lapar dan Mendoakan Dosa membuat saya terhenyak. Betapa kepatuhan buta terhadap penguasa mampu menghilangkan akal sehat dan perintah Tuhan yang utama, Kasih. Kedua kisah ini mengamini kisah-kisah yang pernah saya dengar dan baca belasan tahun lalu.
Dan 5 dari ke-18 kisah lainnya, Membongkar Loteng, Mengutuk Ibu, Memanggil Silam, Mengarang Indah, dan Melantunkan Resah, entah kenapa meninggalkan rasa sedih berkepanjangan.
Sesuai dengan judulnya, buku ini merupakan rumah singgah bagi mereka yang menjadi korban perintah buta dan pengetahuan kerdil para pembantainya.