Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumah Dukkha

Rate this book
Meskipun peristiwa pelanggaran HAM massal 1965-1966 telah berlalu lima dekade lampau, bukan berarti Indonesia sudah sembuh dari luka yang ditimbulkannya. Rumah Dukkha menghimpun 20 cerita yang bersoal dan bersumber dari kondisi pasca-trauma yang dialami dan dituturkan oleh para korban sejarah kelam tersebut. Para korban yang meskipun di permukaan tampak seperti "manusia biasa" dengan serba-serbi kehidupannya, menyimpan trauma yang tak kunjung sembuh, yang menggerogoti tubuh dan pikirannya, yang menjalar pada orang-orang di sekitarnya, yang bahkan terwariskan sampai generasi berikutnya. Melalui cerita-cerita di Rumah Dukkha , para pembaca tidak lagi diajak menyaksikan bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu, akan tetapi berenang di dalam lautan batin para korban yang tenang tapi berombak, landai tapi berkarang.

174 pages, Paperback

Published October 1, 2023

1 person is currently reading
23 people want to read

About the author

Dhianita Kusuma Pertiwi

20 books12 followers
Dhianita Kusuma Pertiwi adalah penulis, penerjemah, dan editor. Karya fiksi dan nonfiksinya berfokus pada pelanggaran HAM 1965–66. Ia ikut mendirikan Footnote Press, penerbit yang berfokus pada penerbit karya ilmiah, saat ini menjadi redaktur dan penerjemah. Setiap akhir pekan ia menerbitkan esai tentang isu-isu budaya, sejarah, dan sosial politik di laman Medium.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (17%)
4 stars
9 (52%)
3 stars
5 (29%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Boyke Rahardian.
347 reviews22 followers
December 2, 2023
Kumpulan 20 cerpen bertemakan luka akibat peristiwa G30S yang tak kunjung menutup. Ditulis dari sudut pandang korban, keluarga dan pelaku berdasarkan pengalaman pribadi penulis bersinggungan dengan mereka yang terbuang dan terlupakan.
Profile Image for R. Angelina.
7 reviews
April 27, 2024
"Jika tidak ada kertas, aku akan menulis di atas daun. Jika tidak ada daun, aku akan menulis di langit dan awan"

Untukku arti dari sepenggal tulisan Jan ini ialah untuk tidak berhenti menulis. Tuliskanlah selagi masih mampu, selagi masih diberi kesempatan. Tuliskanlah hingga tulisanmu menjadi bukti atau bahkan menjadi catatan sejarah.

Aku selalu suka buku berbau sejarah, terlebih buku yang bercerita tentang masa yang ditutup-tutupi penguasa. Inilah yang disajikan oleh Rumah Dukkha, sebuah buku dengan 20 kisah, tokoh dengan berbagai profesi, lengkap dengan masing-masing traumanya.

Berbeda dengan cerita kasus 1965 lainnya, Rumah Dukkha menawarkan kondisi korban maupun keluarga korban pasca kasus. Rasa trauma yang tak kunjung usai yang pastinya disertai dengan pertanyaan mengapa harus aku atau mengapa harus kami?

Lantas, kondisi ini yang kemudian mengusik pikiranku dan bertanya, siapa yang harus bertanggung jawab menghilangkan trauma tersebut?

Walau Rumah Dukkha dikatakan sebagai buku fiksi, tapi Rumah Dukkha mampu merangsang pikiranku untuk berpikir lebih kritis. Utamanya mempertanyakan hal-hal lebih mendalam tentang bagaimana kenyataan yang terjadi di masa-masa itu? Sebenarnya berapa banyak korban pada kejadian itu? Bagaimana perasaan mereka yang hidup di masa itu? dan banyak lagi.

Kisah paling menyentuh untukku ialah kisah berjudul Mendoakan Dosa. Sebuah kisah yang menawarkan pemikiran panjang, di mana seorang pemuka agama turut serta dalam kasus kelam ini. Sebuah hal yang tidak pernah kubayangkan.

Bagiku membaca buku ini cukup menantang, khususnya untuk lebih berani menggali bacaan-bacaan serupa. Serta, menerima bahwa kecintaan terhadap negara ini harus dibarengi dengan kenyataan masih banyak rahasia kelam yang "dikelola" oleh penguasa.

Terima kasih Rumah Dukkha, telah membawaku berkelana dan merasakan menjadi "mereka".
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
November 26, 2023
Sesuai dengan judulnya, Rumah Dukkha ini berisikan 20 penghuni yang masing-masing memiliki kisah duka yang tak berujung.

Ke-20 penghuni ini tidak saling bersinggungan, tetapi masing-masing menyimpan sejarah kelamnya sendiri, baik untuk diri mereka sendiri maupun keturunan mereka.

Ketika membaca beberapa kisah di awal buku Rumah Dukkha, saya sempat bertanya, mengapa semua kisahnya tidak memiliki kata 'akhir'. Semua kisah dibiarkan menggantung, membuat saya harus menerka atau mengambil kesimpulan sendiri atas setiap kisah duka yang diceritakan. Baru setelah saya tiba di kisah ke-10, saya menemukan jawabannya, trauma tidak pernah memiliki titik.

Dari ke-20 kisah di dalam Rumah Dukkha ini, Memuaskan Lapar dan Mendoakan Dosa membuat saya terhenyak. Betapa kepatuhan buta terhadap penguasa mampu menghilangkan akal sehat dan perintah Tuhan yang utama, Kasih. Kedua kisah ini mengamini kisah-kisah yang pernah saya dengar dan baca belasan tahun lalu.

Dan 5 dari ke-18 kisah lainnya, Membongkar Loteng, Mengutuk Ibu, Memanggil Silam, Mengarang Indah, dan Melantunkan Resah, entah kenapa meninggalkan rasa sedih berkepanjangan.

Sesuai dengan judulnya, buku ini merupakan rumah singgah bagi mereka yang menjadi korban perintah buta dan pengetahuan kerdil para pembantainya.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
November 29, 2023
Kisah-kisahnya pendek, dan entah mengapa saya lebih memilih kalau Dhianita menulis features saja. Saya rasa kisah-kisah korban 65 masih seperti kebanyakan kisah korban di cerpen lainnya. Dan saya rasa daripada lepasan begini, mungkin bisa dikembangkan sebagai suatu apa gitu. Entah cerita dalam cerita, atau misalkan kisah berbingkai, atau novel yang berisikan kisah-kisah mereka.
Agar lebih asyeeek gitu.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
December 6, 2025
90 - 2025

Kumcer rekomendasi Kak Nita waktu di Carpe Diem - Solo. Aku baca lah buku ini dalam 2 hari, karena ada 20 cerita pendek tentang peristiwa 1965. Membaca buku ini, semua cerita di dalamnya membawa kita pembaca jadi glommy, sedih, bengong, miris dan yaa begitulah. tapi hampir semua cerita ditulis dengan baik dan enak dibaca.
Profile Image for tiara.
46 reviews
December 17, 2024
suka sekali dengan cara penulis menggambarkan trauma dan luka dari masa lalu. memang kejahatan yang benar-benar jahat adalah yang dilakukan secara sistemik dan struktural oleh negara 💔💔💔

if you’re looking for happy endings, i’m afraid this book is not for you.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
April 5, 2025
Rumah Dukkha merupakan buku kumpulan cerpen karya Dhianita Kusuma Pertiwi yang menceritakan tentang kondisi pasca-trauma yang dialami oleh para korban peristiwa pelanggaran HAM massal 1965-1966 di Indonesia. Melalui cerita-cerita ini, pembaca diajak untuk turut merasakan kegelisahan, kekahawatiran dan ketakutan yang turun temurun diwariskan oleh pendahulunya. Melalui eksplorasi trauma dan perjuangan batin para korban, Dhianita Kusuma Pertiwi mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya pemahaman sejarah dan empati terhadap sesama.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.