Humor diperlukan untuk memecah kebekuan hidup. Di masa modern kebekuan hidup merupakan masalah struktural yang tidak tampak namun terasa dan sangat menentukan. Manusia modern hidup tetapi mati, mati tetapi hidup. Segala sesuatu dipolakan, dibakukan yang lalu menjadi beku. Dunia keagamaan dan pendidikan menjadi bukti dari normalisasi kebekuan itu. Hampir tidak ada kreativitas di dalamnya, yang ada pengulangan demi pengulangan. Ritual menjadi ritualisme. Kurikulum menjadi kurikulumisme. Agen pelaksananya banyak tetapi yang banyak tidak ada artinya karena semuanya "menyanyikan lagu" yang sama. Tetapi ini dunia elit, dunia para pimpinan. Bagaimana dengan orang kebanyakan? Di sana rupanya ada yang sa,a dengan "yang di atas" namun ada juga yang berbeda. Di sana sindiran, nyinyiran, ledekan mengalir setiap saat. Objeknya bisa siapa saja, diri sendiri atau "mereka yang di atas". Humor merupakan strategi hidup. Strategi untuk meronta kalau tidak memberontak. Tujuannya adalah keluar dari mitor-mitor yang mengajar tidak ada kehidupan di luar pakem-pakem. Tetapi humor sifatnya halus, tidak langsung meski menohok. Maka humor sebenarnya bisa diterima oleh siapa saja. Tidak perlu tersinggung, baper, apalagi marah. Tentu tidak semua bisa begitu. Namanya orang, ada yang baperan tetapi ada juga yang mentalnya kuat. Maka terserah saja. Humor tetap humor, mau diterima secara baperan atau tidak. Humor tetap merangkul siapa saja. Kalau sensi ya salah sendiri.