"AKU tidak pernah bisa mengerti sistem apa yang menautkan antara tubuh dan demam, keresahan, dan mimpi. Setiap kali aku dalam resah yang sangat, atau tubuh yang demam, ia selalu menjambangiku dalam mimpi. Ia selalu datang bersama seekor kupu-kupu bersayap gelap" "Aku terkesiap. Teringat akan sebuah masa ketika sejarah gelap terbuka. Bayang seorang perempuan yang pernah kukhianati ketika terakhir kali kami bertemu, hanya isak yang tertinggal di lantai penuh debu. Seorang perempuan yang suka kupu-kupu bersayap gelap. Seorang perempuan yang menembak mati dirinya sendiri, di sebuah taman yang tidak terpelihara. Sesalku membentur pekat, tidak ada yang bisa memaafkan, tidak ada yang bisa menyelamatkan". Petikan diatas diambil dari buku ini. Kupu-kupu Bersayap Gelap merupakan kumpulan prosa karya Puthut EA. Terdiri dari 13 cerpen menarik yang mengisahkan tentang kesedihan, keputusasaan dan kenangan.Membaca beberapa tulisan dalam buku ini, membuat kita mengikuti alur cerita yang kadang mengejutkan, menyentuh hati dan sentimentil khas penulis.[Pusat Data Redaksi Pikiran Rakyat]
**** •Judul: Kupu-kupu Bersayap Gelap: album prosa •Penulis: Puthut EA •ISBN: 979-3457-73-2 •Edisi: I, Maret 2006 •Detail: 13x19cm, vii+196 hlm. + vdc video prosa.
Sebenarnya sedang baca buku lain, tapi entah kenapa mendadak mengambil buku ini dan menyelesaikannya juga dalam satu waktu.
Suka. Selalu suka dan terperangan sama cerpen Puthut Ea. Puthut Ea ini semacam menyajikan kehidupan yang asing bagi saya, kehidupan yang sejujurnya ada di sekitar saya, kehidupan yang mungkin dimiliki orang=orang di sekitar saya, kehidupan yang bisa jadi masih berlangsung hingga detik ini. Selalu suka sama cerpennya yang pendek, tapi getir dan menyayat.
Favorit saya adalah Laki-Laki yang Tersedu, Gayung Plastik, Ibu Pergi ke Laut, dan Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut.
Dalam Laki-Laki yang Tersedu, ada kisah cinta. Kisah cinta yang mungkin dialami banyak manusia di sekitar saya. Kisah yang tumbuh di kemiskinan, membesar, pecah, menyiksa, dan bisa jadi membicarakan realita entah milik siapa.
Gayung Plastik berkisah tentang bagaimana sebuah benda bisa begitu berarti bagi seseorang. tentang kehidupan penduduk desa. Juga bagaimana kekuasaan ada bukan untuk menyakiti orang lain.
Ibu Pergi ke Laut berkisah tentang anak kecil yang mengulang-ulang informasi itu: Ibu Pergi ke Laut. Kisah ini terasa sekali sentuhan polos anak kecil. Lebih lagi, kisah ini menyelipkan duka dan kesedihan dalam hati pembaca lewat sudut seorang bocah.
Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut ini menceritakan tentang nasib anak-anak kecil. Meski dibuka dengan sedikit membingungkan, kelanjutan kisahnya bikin saya miris. :"
Benang merah dari kisah-kisah ini adalah airmata. Sejujurnya buku Puthut EA yang pertama kali saya baca. Beberapa kisah benar-benar bagus sekali dan masih membekas dalam benak meskipun buku sudah selesai saya baca.
Puthut EA selalu bisa menohok dengan cerita yang seolah sederhana tapi luar biasa kaya. Suka dengan pilihan kata dan sudut pandang yang digunakannya dalam cerpen-cerpennya dalam buku ini.
Jika hidup itu sendiri adalah sebuah keputusan: diterima atau tidak, dilanjutkan atau diakhiri. Cinta tidak lebih dari itu semua. Mencintai pada akhirnya adalah sebuah keputusan. Dan karena sebuah keputusan, maka berbagai pertimbangan sah menjadi landasannya. Pada akhirnya, toh cinta, sebagaimana banyak hal lain: tidak turun dari langit yang gaib. Ia, cinta, hanya bisa diputuskan dan dikerjakan. ~sesuatu telah pecah di senja itu, P.66
Kelak, kamu akan sering bertemu dengan jenis manusia seperti Sangkuni. Dia ada di mana-mana. Pintar dalam bicara, pembisik yang ulung, tukang mengadu domba, culas, pandai mengail di air keruh. Pendek kata, hidupnya untuk menjilat yang atas dan menginjak yang bawah. Orang sejenis itu tidak bisa mengerjakan apa-apa. Satu-satunya yang bisa dikerjakannya adalah memakan riba kerja orang-orang di sekitarnya. Anehnya, biasanya orang-orang yang seperti itu akan mendapatkan posisi-posisi yang bagus di tempat kerja mereka. Tapi percayalah, Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur, anakku... ~rasa simalakama, P.126
Ini kumcer pertama yang membuat saya merenung. Karya puthut Ea yang disodorkan teman saya waktu saya belum ngerti sastra. Benar kata para endorser kalo membaca buku ini seperti menyusuri lorong sepi. kata katanya dirangkai sedemikian rupa, kiasan kiasannya pekat mirip baca buku harian. Gak terlalu berat, tapi berbobot. Pusara kampung kenanga satu kumcer kesayangan saya, bercerita mengenai perubahan besar sebuah kampung setelah ditinggalkan tokoh utama. Ea, pandai dalam mengakhiri cerita. Chaos chaos ditampilkan begitu nyata dan kelam. Saya benar benar kecanduan untuk mengumpulkan antologi antologi selanjutnya. Ea punya ramuan tersenidir untuk membuat cerita cerita kelam tidak bergairah sedih dan depresif. ini review pertama saya, maaf kalau agak kacau.
Saya menikmati 2 cerita pertama: Laki-Laki yang Tersedu dan Kenanga. Puthut EA menceritakannya dengan narasi dan gaya bahasa yang menyedot emosi. Saya langsung suka dengannnya. Namun, di beberapa cerita setelahnya. Saya merasakan ada yang hilang darinya, tidak ada lagi cerita yang memainkan emosi, malah beberapa cerita saya tidak paham alur cerita dan intinya walau saya coba baca beberapa kali. Baru kemudian cerita penutup buku ini, Kupu-Kupu Bersayap Gelap, dapat menarik minat saya lagi untuk menyelasaikannya.
Entah kenapa membaca cerpen-cerpen dalam buku ini memunculkan rasa yang agak ganjil. Agaknya penulis terlalu memperlakukan cerpen-cerpen layaknya bertutur dalam sebuah novel. Kehilangan kelengangan juga keluasan semesta di luar teksnya yang terbatas. Hanya beberapa judul di bagian-bagian akhir yang sedap dinikmati sebagai sebuah prosa berbentuk cerpen, seperti Gayung Plastik, Ibu Pergi ke Laut, Bocah-bocah Berseragam Biru Laut, dan Kupu-kupu Bersayap Gelap.
Geeezz... sempat berhenti di cerpen ketiga atau keempat gitu yaa. Bukan karena ga bagus bukaaannn... Tapi karena ga tahan ama ending2nya yg gantung, menjurus ngenes n tragis, tp ya ga juga sih.. Karena sebenarnya gantung 😅.
Alhasil biar ga sebel2 amat, selesai baca 1 cerita, sy berkhayal sendiri n lanjutin jalan cerita tu cerpen2 biar endingnya jadi bahagia. I twisted the plot for my own sake satisfaction! huahaha #angellaugh 😅😂 yess, I'm a happy ending (not so) freak.
Syukurlah menuju akhir dah ga gitu tragis2 amat rasanya. Karena udah terbiasa kali yaaa.. Lelah hayati dgn semua ending tragis nan menggantung itu berubah jadi kebal hayati wkwkwk.
Buuuut... Puthut emang pencerita piawai! 😍 Saya suka pemilihan kata2 dan kalimat2nya. Sastranya berasa. Pemilihan kata2 yang indah, gak boros, tetapi tepat sasaran sehingga maksud tercapai. Alur cerita, plot twist, kejutan2 tak tertebak membuat sy susah nelepas buku ini. Padahal ini cerpen loh ya.. gimana lagi novelnya, pasti seru banget (semoga).
Saya akan mencoba membaca kira2 2 sampai 3 karya Puthut lagi sebelum menasbihkannya menjadi salah satu penulis favorit saya. And I think the chance is quite big :)
Tulisan yang tidak meliuk-meliuk dan menceritakan kepolosan(?) kelembutan perasaan. Kumpulan cerita yang mengambil sudut pandang orang pertama ini membawaku pada kesedihan. Saya menggali kedalam perasaan dan kenangan yang sama seperti tokoh.
“Kenanga” membuatku bertanya apakah nafsu/gairah selalu menang melawan cinta dan ketulusan?
“Benalu di Tubuh Mirah” secara tidak langsung mengingatkan saya pada teori kita mencari pasangan yang mirip dengan orang terdekat yang ingin kita rubah, saya lupa nama teorinya apa. Mirah mendapat pasangan yang mirip sekali dengan kakaknya. Untungnya dia segera menyadari hal itu dan memilih berpisah.
“Bertahun-tahun lidah kami terkunci, tak berani mencicipi pahit rasa simalakama. Padahal menunda mencicipinya, berarti mengeram rasa simalakama menuju puncak pahitnya, menuju puncak sakitnya.” Hlm 118-119
Cerpen “Ibu Pergi ke Laut” membuatku sedih (sekali). Menggunakan pov orang pertama, seorang anak kecil yang begitu polos. Jiwa polos anak kecil itu seoerti hinggap dan membuat saya polos juga, percaya pada kata-kata dan dongeng yang diceritakan orang sekitarnya. Tapi bila saya jadikan diri ini sebagai pengamat, rasa ingin huaaaaaahhhhhhhh hiks hiks
Kesukaanku pada kumcer ini adalah topiknya yang menyentuh perasaan dipahami oleh emosi.
Kita akan menemukan suasana redup, kehilangan, kehampaan, dan perubahan yang sebenarnya tak di inginkan di dalam setiap cerpen ini.
Setiap judul terkadang hanyalah kemasan yang membungkus isi cerita bermuatan emosional. Mungkinkah ini bisa dikatakan sebuah teknik dalam menciptakan cerita. Keberhasilan setiap cerita ini adalah cerita yang mendarat dengan baik ke emosi kita.
Sampel ada anak yang dilindungi dari sebuah kabar duka kematian ibunya, ada seseorang yang sedih melihat kampung halamannya berubah, ada syarat yang tak bisa dipenuhi untuk mengakhiri sebuah hubungan yang baik, ada rasa kepercayaan tak ada privasi yang berakhir pada kebohongan, ada anak2 mati dengan cara berbeda.
Entah saya suka dengan cerpen ini Cobalah sampai pada judul Dalam pusaran kampung kenangan, rasa simalakama, ibu pergi kelaut, dan bocah-bocah berseragam biru laut.
Buku ini memiliki 13 cerpen di dalamnya yang setiap cerita memiliki pondasi dasar masing-masing, tidak memiliki setting yang sama namun dari genre beberapa cerita saya temui maksud cerita adalah kekejian manusia yang telah di rupa sedemikian halus. Sehingga kita menyadari permasalahan yang diangkat memang riil dan ada terjadi, dan yang tidak kita sadari di awal membaca adalah setiap cerita adalah sangat keji dan kejam adanya. baca lanjutannya di https://www.rasssian.com/buku-kupu-ku...
Tiga belas cerita pendek karangan Puthut EA ini adalah penyebab saya jatuh cinta kepada cerpen. Cerita-cerita yang disajikan secara apik, lugas, dan bersahaja ini berhasil membius saya. Kendati ada satu judul yang sampai detik --saya menulis ulasan-- ini belum saya tangkap apa maksud di baliknya, tetapi hal tersebut tak mengurangi keindahan bahasa yang dicipta oleh pengarangnya. Sebab, saya rasa tidak semua cerita harus dijabarkan secara gamblang. Terkadang sedikit misteri akan membuat pembaca berpikir dan terus penasaran sambil sesekali menerka.
Membaca 13 cerita yang ada membuat saya merenungkan banyak nilai-nilai kehidupan. Karena temanya yang mengangkat sisi kemanusiaan, siapa pun yang membaca buku kumcer ini pasti akan setuju jika buku ini bagus. Banyak pesan juga yang disampaikan penulis dalam ceritanya. sehingga kita bisa belajar lebih banyak kebaikan dari buku ini.
Tema besar dari kumpulan cerita Puthut EA di sini nampaknya tentang kepahitan hidup. Tapi, setiap cerita dibawakan secara berbeda, ada yang tersirat dan juga tersurat. Lima cerita favorit saya di sini adalah 'Bunga dari Ibu', 'Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu', 'Dalam Pusaran Kampung Kenangan', 'Ibu Pergi ke Laut', dan 'Bocah-Bocah Berseragam Biru Laut'.
buku pertama dr pakde Puthut yg ku baca. kumpulan cerita pendek dg benang merah kenangan yg membawa airmata. sangat menarik. bahasa yg digunakan sederhana, tidak terasa kalimat demi kalimat terbaca. paling suka cerita tentang sepasang teman masa kecil yg dimasa dewasa menjadi luka.
Kumpulan cerpen yang kelam dan menenggelamkan. Tapi justru saya tdk menikmati judul cerpen yg dipilih sbg judul buku ini. Sisanya sungguh tragis dan suka sekali
Berisi 13 cerita pendek dan sesuai dengan realita, tidak dibuat-buat, sedihnya nyata. Kata dan kalimatnya sederhana, tapi ketika membaca benar-benar nusuk banget 🥹🥹
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerpen-cerpen favorit: - Laki-laki yang Tersedu - Bunga dari Ibu - Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu - Ibu Pergi Ke Laut - Kenanga Akan mencari dan membaca kumcer Puthut yang lainnya!