Impian Tika sederhana: membeli barang apa pun dengan uang sendiri!
Setelah mulai bekerja, Tika ternyata malah membeli barang secara impulsif dengan paylater . Nahasnya, sebelum berhasil melunasi, kontrak kerjanya selesai gara-gara disabotase teman. Setelah mendapat pekerjaan baru sebagai desk collection alias penagih utang, alih-alih menabung dan melunasi cicilan, dia pun merayakannya dengan menambah utang.
Jadi, selain kelimpungan mengurus utangnya sendiri, Tika pun harus mengurus utang orang lain.
Bisakah Tika beradaptasi dengan pekerjaan barunya? Apakah kariernya akan kembali pupus, terutama saat orang-orang tahu Tika "titipan" orang dalam?
Tapi yang paling penting, Bisakah utang-utang Tika segera dibayar lunas?
Gak ekspetasi apa-apa pas baca buku ini cuma tertarik karena judulnya unik and turn out being one of the best chicklit book i've ever read.
Cerita dan semua karakternya sangat relate dengan kehidupan, bukunya tipis gak sampe 200 halaman tapi ceritanya padat dan aku suka gimana penulis berusaha memberikan nasihat buat pembaca tanpa terkesan menggurui mungkin karena ceritanya beneran se-relate itu. Aku juga suka gimana penulis ngegambarin hubungan orangtua dan anak contohnya gimana karakter didi yang harus jd sandwich generation and how her family treat her dan tika yang orangtuanya sangat supportif dengan dia juga romance tipis antara tika sama rizal penasaran mereka gimana akhirnya tapi bisa dimengerti kalo endingnya begitu karena fokus buku ini bukan romance.
Kalo mau bacaan ringan dan buku dengan halaman tipis buku ini sangat recommended🌟
Berbeda dengan Ours yang terasa begitu menyesakkan, novel Pay Sooner or Later atmosfernya jauh lebih ringan dan lucu. Padahal, isunya sebenarnya cukup serius, soal orang yang dikejar-kejar tagihan pinjaman online gara-gara keseringan pakai fitur Pay Later untuk belanja. Astaga. Sepanjang membaca cerita ini, aku ikut deg-degan padahal nggak ikutan punya utang, haha.
sukakkkk. ceritanya ringan dan singkat tapi tetap bermakna. ini tuh tipe buku yang bikin ngerasa "feel good" dan "hangat" setelah tamat baca. bukunya serasa dekat dengan realita. ada selipan humor juga. walaupun singkat, aku suka krn ini tuh plotnya gak terasa diburu2 dan perkembangan karakternya juga gk tiba tiba berubah jadi orang baik. aku suka gimana akhirnya Tika yang demen check out memilih buat ke psikolog untuk mengobati kebiasaan buruknya. 5/5 buat bacaan ringan!
This is so nice! Novel tentang online shopping addict yang terlilit hutang, bener-bener relate dengan situasi saat ini. Terutama dengan latar ibu kota yang penuh tuntutan gaya hidup yang harus wah. Belum lagi Kak Adrin ngegambarinnya dengan komedi pahit yang bikin ngelus dada sekaligus terbahak-bahak><
Namun, karena bukunya tipis, jadi penggambaran tentang piutang dan pekerjaan depcollect-nya Tika tuh tanggung. Masih bisa dieksplore lebih. Jadi naskah lebih banyak porsi tentang kemelut Tika terhadap keluarganya. Bu that's okay.
Miris yaa, di novel ini semua orang terlilit hutang:"
Ide ceritanya bagus--tentang Tika yang ketagihan belanja, masalahnya Tika terpaksa harus sampai ngutang karena belanjanya pakai Paylater ><. Suka dengan beberapa masalah finansial terkait utang-piutang orang-orang di sekitar Tika yang cukup relatable dengan masyarakat kaum menengah.
p.s semoga Didi menang war tiket konser di akhir itu yah🙂↕️🤲 ((panjang umur kita rakyat jelata yg membiayai suami suami kipop kaya☝️))
--
"Mau senang atau tidak, hari esok akan sama buruknya. Jadi, kalau bisa dilewati dengan senang, kenapa harus muram? Terutama, perempuan selalu diharapkan untuk multitasking; berduka dan bersuka sekaligus."
Novel ini sangat relate dengan keadaan masa kini. Mungkin novel ini ga terlalu bikin emosi dari novel Kak Adrin sebelumnya yang penuh nyinyiran mak-mak julid wkwk. Tadi sewaktu aku belanja dan kasirnya nanya, “Mau pake sh*** biasa atau paylater?” Aku agak loading karena aku tipe yang bayar selalu tunai. Dan aku langsung inget Tika dong.
Nasib Tika ini miris banget ya. Dikhianati sama teman kerja sendiri. Aku pun pernah mempunyai prinsip yang sama kayak Tika dengan tidak gampang percaya dengan rekan kerja. Tapi sewaktu Tika pindah kerja dari kantor konsultan pajak ke pinjol dan jadi desk collection, dia punya teman kerja yang solid.
Soal komunikasi dalam novel ini antara orangtua dan anak bisa diambil pelajarannya. Komunikasi antara Tika dan orangtuanya, Didi dengan ibunya yang hobi ngutang, terakhir Pak Tanto dengan Alya. Btw, aku setuju dengan Alya. Ga selalu sekolah mahal itu berkualitas. Mungkin dari segi fasilitas dan pendidikan oke, tapi pergaulannya belum tentu oke. Karena lumayan banyak anak-anak yang besar di lingkungan berduit sehingga lupa diajarkan empati di lingkungan keluarganya. Ya, seperti perkataan Rizal, bisa jadi diskriminasi yang mereka lakukan itu dilakukan oleh orangtuanya juga (eh, bener ga sih aku ngutipnya? Intinya begitu wkwk).
Kalau dipikir-pikir Islam itu baik ya, dengan mengharamkan riba. Supaya kita tuh lebih mengutamakan membeli dengan tunai dan menunda pembelian jika dana belum ada, seperti yang akhirnya disarankan orangtua Tika. Riba itu benar-benar memakan kehidupan manusia. Sampai kayak Didi yang masuk rumah sakit gara-gara nanggung utang ibunya dan Rizal ditipu mantan pacarnya buat bayarin utang.
Aku senang banget dengan orangtua Tika yang sangat supportif, ga anggap remeh kesehatan mental. Soalnya kasus Tika itu kalau ga diobati bisa berdampak fatal dan merugikan orang-orang sekitar. Novel ini sedikit halamannya, tapi maknanya banyak banget.
"Hal-hal konsumtif hanya boleh dibeli secara tunai; Utang lebih baik digunakan untuk perputaran dana seperti modal bisnis atau yang produktif."
Buku ini menyiratkan mengenai bagaimana mengelola keuangan, bagaimana untuk tidak menjadi konsumtif, dan membeli karena butuh bukan karena ingin.
Berkisah tentang Tika, seorang karyawan di bidang konsultan pajak, yang harus berhenti kerja karena temannya mengambil alih kliennya. Tika yang konsumtif dan kalau lagi kesal, seneng check out sana sini dengan pay later meskipun nggak butuh-butuh amat, kalang kabut dengan pemberhentian kontrak itu. Dia pun akhirnya diterima kerja di tempat lain—dengan bantuan orang dalam, mantan kliennya sendiri—di sebuah perusahaan pinjam online. Haha, ironis memang. Orang yang sedang bergelut dengan utang online, malah kerja di perusahaan pinjol sebagai desk collection—yang suka nelponin kalau mendekati tenggat bayar cicilan.
Buku ini banyak memperlihatkan perspektif dan dilematis pinjol. Ada yang pakai data pacarnya (udah jadi mantan) buat jadi debitur. Ujungnya, sang mantan jadi harus bayar pinjol yang bukan untuk dia. Ada yang orang tuanya pinjol dan anaknya yang jadi sandwich generation buat ngelunasin utang. Hubungan ayah-anak. Serta hubungan Tika dan orang tuanya. Semua sangat relevan dan juga "hangat". Apalagi di menuju akhir ketika satu per satu "rahasia" Tika terkuak. Alih-alih dihakimi, orang tua Tika malah membantu anaknya untuk terlepas jeratan pay later.
Bukunya terdiri 188 halaman. Bisa dibaca sekali duduk. Ringan, tapi tetap membekas. Inginnya bagian Tika dan Rizal diperpanjang biar romance-nya nggak tipis-tipis banget :D
Buku ini bercerita tentang Tika, seorang pegawai kontrak di Konsultan Pajak yang suka membeli barang dengan fitur paylater. Didukung dengan keyakinan akan diangkat sebagai pegawai tetap, Tika semakin semangat menambah hutangnya. Namun harapan memang tak seindah kenyataan, alih-alih jadi pegawai tetap, Tika justru putus kontrak menjelang tanggal tagihan paylater-nya. Untungnya berbekal koneksi, Tika segera mendapat pekerjaan baru yang turut membawa masalah baru untuknya.
Berlatar di kota besar, ceritanya relate banget dengan yang terjadi saat ini. Apalagi tuntutan gaya hidup yang gak sejalan dengan isi dompet memperparah keadaan. Yang awalnya mau hemat—kayak Tika (dalam khayalan dia), malah jadi kejebak dalam lingkaran yang sulit dilepas.
Baca buku ini, jujur aku gregetan banget sama Tika. Udah gak tau berapa banyak tagihan paylater-nya, eh, malah nambah belanja lagi, yang barangnya sendiri sebenarnya gak dibutuhin sama dia. Tapi seiring berkembangnya cerita, tindakan Tika yang gak terkontrol tersebut ternyata punya alasan yang menyedihkan🥲
Meskipun tipis, buku ini gak sekedar menceritakan permasalahan yang dihadapi Tika. Namun turut menceritakan tentang permasalahan orang-orang disekitar dia, yang gak jauh dari uang dan hutang juga.
Ada beberapa isu yang dibahas, antara lain mengenai persaingan dunia kerja, hubungan orang tua dan anak, sandwich generation, yang semuanya dikemas dengan cara asyik dan penyelesaiannya juga realistis. Oh iya, romance-nya juga tipis banget.
Kalau lagi stress Tika melampiaskan kekesalannya dengan checkout barang-barang di lokapasar dan ga lupa dibayar pakai paylater. Kebiasaan checkout tanpa terkontrol ini menghadirkan tagihan paylater yang membengkak. Sementara itu, Tika sudah merencanakan akan menjadi pegawai tetap sehingga ia merasa tidak perlu khawatir. Namun, sial harapan menjadi pegawai tetap justru membawanya ke pemecatan karena kontraknya yang ga diperpanjang.
Tika pindah ke pekerjaan dengan gaji lebih sedikit dan tempat kerja lebih sederhana dari kantor Tika sebelumnya. Ia hanya menganggap tempat ini sebagai kantor singgah selagi ia mencari pekerjaan baru, tapi ternyata kantor ini justru membawa banyak pengalaman dan pengajaran buat Tika.
Buat aku buku ini BAGUS BANGET. Ceritanya ringan, tapi penuh pembelajaran mulai dari masalah finansial, keluarga, dan pertemanan. Tokoh-tokohnya juga hidup banget. Kesel banget ada tokoh kaya Yuli si penusukkk, terus ikut sedih sama Didi si generasi sandwich. I do several times crying. Aku rekomendasikan kaum dewasa muda buat baca cerita ini.
Ceritanya ringan dengan beberapa konflik sampingan, tapi tetap strike of point. Konfliknya sangat fresh dengan mengambil problematika saat ini. Tanpa bumbu romance, sehingga alur utama tidak terdistrak plot klise.
Karakter Tika cukup realistis, suka menyembunyikan sesuatu hanya agar tidak diomeli orang tuanya, tapi malah menyebabkan problem besar di kemudian hari. Hubungan dan interaksi Tika dengan tokoh lain juga cukup realistis.
Sayangnya untuk konflik sampingannya masih terasa membosankan dan tidak terasa memberi pengaruh pada konflik utama. Walau begitu konflik sampingannya memang membantu kedekatan para tokoh.
Ini bacaan ringan yang cukup menarik. Narasinya juga ringkas dan ringan. Cocok banget buat yang nyari sesuatu yang fresh, tapi jenisnya ringan.
Aku rasa buku ini cocok untuk milenial dan gen z yang saat ini kerap dihadapkan oleh pilihan paylater di berbagai platform. Aku sendiri bisa relate dengan adanya fitur paylater, kadang rasa impulsif belanja semakin tinggi.
Itulah yang dirasakan Tika di novel ini. Benang merah Pay Sooner or Later sebenarnya sederhana, tapi seperti yang kukatakan tadi, sebagian orang bisa memahami ketika belanja online dengan paylater malah berujung buntung.
Bukan cuma masalah ngutang, novel ini juga memberikan konflik lain seperti tikung-menikung dalam dunia kerja dan keserahan ortu yang lihat anaknya belanja terus😂
Buat kamu yang cari bacaan sekali duduk, Pay Sooner or Later bisa dipilih.
Singkat, padat, jelas. Isu yang diangkat dalam novel ini adalah utang, baik itu dari kebiasaan belanja pake paylater, utang buat menyekolahkan anak, utang atas nama diri sendiri buat pacar berujung harus bayarin, sampai utang keluarga yang harus ditanggung anak. Setiap persoalan diselesaikan dengan cepat dan ringkas, tak lebih dari satu bab, kecuali milik tokoh utama. Dari persoalan tiap tokoh yang ada di lingkungan tokoh utama (Tika), dia pelan-pelan belajar self control. Nah, kehadiran ortunya membawa pengaruh lebih besar karena mendukung Tika berubah dengan konseling ke psikolog.
Novel yang apik. Pay Sooner or Later mampu mengemas isu berat yang relate dengan banyak orang menggunakan cerita yang terbilang ringan. Sangat kurekomemdasikan untuk orang-orang yang punya persoalan finansial.
Novel ini kemungkinan besar bisa dibaca sekali duduk. Walau halamannya berjumlah 200+, spasi antarkalimat dan antarparagraf terbilang besar. Jadi, rasa-rasanya, novel ini bisa saja berhalaman lebih sedikit. Karena hal ini pula, aku merasa membaca dengan sangat cepat. Tiap babnya tak terasa membaca banyak kalimat. Minusnya, aku menemukan beberapa saltik. Namun, tak terlalu mengganggu.
Aku suka novel citylite ini karena ceritanya relate dengan kehidupan sehari-hari. Ceritanya ringan, sederhana, dan penulisannya sangat mengalir. Walau ringan, tapi maknanya cukup dalam, tentang uang, hub orang tua dengan anak, dan sekilas tentang kesehatan mental. Boleh juga nih, kalau ada lanjutannya 🙂🙂
Alasan aku rekomendasiin buku ini karena kamu harus tau ceritanya. Bagusss 👍 Biar tipis tapi berisi dan ngena bangettt. Terus cerita ini juga bakal diadaptasi ke web series oleh @visionplusoriginals. Stay tune ya, Guys 💖
Tentang Tika yang kecanduan belanja online pakai metode pembayaran paylater. Awalnya semua lancar, tapi jadi masalah besar ketika kontrak kerja Tika enggak diperpanjang dan gajian dari kantor baru terlambat masuk. Temanya kekinian banget, mungkin banyak yang relate dengan latar belakang Tika yang masih single dan tinggal bareng orang tua. Sepanjang cerita enggak cuma diliatin tentang masalah Tika, tapi tokoh-tokoh di sekitar Tika juga ternyata punya masalah keuangan yang beda-beda.
Agak di luar ekspektasi sih kirain ceritanya bakal lucu karena tokoh utamanya ditagih hutang dari belanja pakai paylater kayak novelnya Sophie kinsella ternyata cerita tentang itu cuma sedikit banget diceritakan.
Terlepas dari agak kesalnya saya pada tokoh utama, jujur saya menikmati membaca buku ini setelah sekian lama saya kurang dapat menikmati segala yang saya baca. Kisahnya sederhana, tetapi mengena karena aktual dan relevan dengan kondisi zaman sekarang yang apa-apa serba ngutang. Konfliknya ringan nggak ringan. Yang paling saya suka, keluarga Tika yang menurut saya hangat dan sempurna banget. Iri sayaaa punya ortu kayak gini...
Sejujurnya plot di buku ini sangat amat ringan dan seperti buku-buku tentang struggle "hedonisme" di era saat ini. Cuman yang kusuka dari buku ini, kepenulisan nya yang sangat amat rapih dan tidak seperti cerita cerita receh asal tulis.
Plot di buku ini disusun dengan rapih dan runtut, meski jumlah halaman buku ini yang bisa dibilang tidak terlalu banyak tapi pergeseran setiap konfliknya tidak terkesan buru-buru dan selesai dengan baik. Banyak pesan-pesan di dalamnya dan juga tokoh tokohnya yang dibangun dengan cukup baik.
Kirain bakal lebih banyak mengupas tentang pekerjaannya Tika sebagai penagih pinjaman, tapi lebih banyak soal keluarga, paylater dan juga kesehatan mental.
Tentang Tika, cewek yang hobi berbelanja menggunakan pay later dan harus beralih pekerjaan menjadi penagih utang. Plot yang menarik, namun eksekusinya kurang memuaskan dengan jumlah halaman kurang dari 200. Permasalahan yang dialami karakter lain sangat relate dengan kehidupan sekarang. Penyampaian cerita baik, penulisan rapi, meskipun ada kekeliruan nama karakter dan penyebutan diri yang tidak konsisten di awal bab.
Cerita yang baik adalah cerita yang selesai. Itu yang selalu ada di dalam benak saya saat menggarap sebuah cerita. Jujur saja, saya hanya berharap bisa menyelesaikan cerita karena saya tidak akan pernah tahu seperti apa dan bagaimana jalan karya yang diciptakan. Siapa yang menduga satu cerita saya Ours membawa saya ke perjalanan yang sangat panjang sehingga datangnya kesempatan sebagai pilot project di @gwp_id GWPub cerbung. Terima kasih banyak untuk GWP yang sudah memberikan wadah agar saya selalu bertumbuh bersama-sama. Terutama, di GWP itu benar-benar diurus (thank you Ci @hetih 🥰)
Kembali ke Pay Sooner or Later, saya sendiri hanya berharap memenuhi deadline untuk setor cerita tepat waktu ke @jaedemoiselle (makasih banyak karena menampung ide-ide. Naskahku untukmu selalu) dan saya menyerahkan setiap prosesnya Gramedia Writing Project, saya percayakan ke GWP sampai akhirnya Pay Sooner or Later terbit cetak oleh penerbit @elexmedia @elex.novels (hatur nuhun pisan untuk Mas @inidionrahman dan Mbak @fidyast_sp ) dan diangkat menjadi series garapan @scovi_films yang akan tayang tahun 2024 di @visionplusid @visionplusoriginals
Senang banget bisa ada meet and greet bareng pemain Pay Later (@amandamanopo @indrabirowox @fajjarsadboy )dan juga book launch Pay Sooner or Later.
Buat teman-teman penulis, jangan berhenti berkarya dan menulis karena kita tidak akan pernah tahu mana karya kita yang akan membuka pintu rezeki. Teruslah berlatih. Apalagi menulis naskah memang bukan proses yang instan, melainkan konstan. Semangat terus.
Premis yang diangkat cerita ini cukup menarik. Tika punya permasalahan keuangan parah dalam hidupnya; doyan belanja tapi pakai paylater. Dia yakin banget tagihannya bakal selesai, toh bulan depan dia bakal diangkat jadi karyawan tetap.
Kenyataannya, kontrak kerjanya malah gak diperpanjang dan kini dia harus terima untuk bekerja di perusahaan paylater sebagai desk collection, alias nagih-nagih peminjam ketika dirinya sendiri terlilit hutang.
Untuk sebuah tulisan chicklit, aku ngerasa buku ini ditulis dengan padat. Halamannya cuma 200-an. Sayangnya, konflik utama tentang pengelolaan keuangan nggak dibahas dengan total. Aku ngerasa konflik yang lebih umum dibahas di cerita justru konflik batin perkara jujur atau enggak bekerja di mana. Di bagian akhir waktu Tika bilang mau ke psikolog, aku malah berpikir ya bisa aja sih kamu ke psikolog kalau problemnya impulsive buying saat stress atau banyak pikiran tapi kenapa enggak kepikiran buat datengin konsultan keuangan personal biar lebih bisa ngatur keuangan. Yang ditulis di buku justru Tika pakai excel buat ngatur keuangan (ini cakep sih stepnya buat tahap awal pengelolaan keuangan pribadi) terus kenapa dari awal nggak nyoba belajar? Kayak nggak ada trigger khusus buat Tika mikir "oke, aku harus ngatur karena udah kebablasan belanja". Pemicunya justru karna keluarga harmonis Tika yang bilang "Bapak Ibu bisa bantu tapi kalau kamu nggak berhenti ya buat apa?"
Intinya, untuk premis yang diangkat cukup realistis. Eksekusinya aku rasa bisa lebih dibikin lebih dalam.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebelumnya udah pernah liat seriesnya, baru tau ternyata ada bukunya. Dari awal udah tau jalan ceritanya, tapi ternyata banyak perbedaan antara buku dan seriesnya. Di buku ini, Tika gak punya adek, urusan sama Yuli cuma di awal karena kerjaan, gak ada drama parah antara Rizal sama mantannya, gak ada tokoh tambahan cowo yg deketin Tika, dan ada tambahan Tika ke psikolog dengan kemungkinan dia punya diagnosis Compulsive Buying Disorder.
Buat isi bukunya lumayan banget enak dibaca. Pemilihan kata baku dan non bakunya pas, karena kadang ada yg penempatan keduanya tuh ga sesuai, jadi rangkaian kalimatnya gak enak dibaca. Terus walaupun halamannya 200-an, per halamannya juga gak padat-penuh gitu, jarak antar barisnya gak deketan, jadi gak kerasa jenuh waktu baca.
Buat plotnya menarik bgt, kyk bisa-bisanya kepikiran nulis soal paylater. Isi bukunya kyknya berarti jelasin apa dampak memakai paylater ke kehidupan sehari-hari, hubungan keluarga dan orang terdekat lain, bahkan ke diri sendiri yg kemungkinan ternyata punya disorder akibat berlebihan memakai paylater. In the end, ini fiksi ya. Gatau bakal bikin pengguna paylater lebih sadar buat mengatur penggunaan paylater atau cuma buat cerita lalu aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tika kecanduan belanja menggunakan pay latter sebagai bentuk dari self reward atau untuk menghilangkan stres. Malangnya Tika diputus kontraknya dari kantor konsultan pajak dan masih memiliki cicilan pay latter yang jumlahnya berkali-kali lipat gaji yang diterimanya. Tidak sengaja Tika mendapatkan rekomendasi untuk bekerja di kantor pinjaman online sebagai desk collection, walaupun gajinya lebih kecil dibandingkan dari kantor sebelumnya Tika terpaksa mengambil pekerjaan tersebut agar tetap bisa membayar cicilan dari pay latter yang jumlahnya tidak sedikit. Cerita Tika ini mungkin cukup relate dengan kondisi sekarang, pentingnya literasi keungan serta memisahkan keinginan dan kebutuhan ketika membeli sesuatu sangat penting. Salah satu nasehat dari buku ini adalah
Hal-hal konsumtif hanya boleh dibeli secara tunai. Utang lebih baik digunakan untuk perputaran dana seperti modal bisnis atau yang produktif.
Uang dan utang adalah duo 'U' yang menjadi tema utama di novel ini. Melalui cerita tokoh-tokohnya, novel ini merangkum masalah orang-orang yang berkaitan dengan duet maut 'U' dengan berbagai variasi: ada hobi belanja tapi duit gak ada, ada yang terlalu baik sampai dimanfaatkan mantannya, ada juga sandwich generation yang menanggung utang orang tua. Semua permasalahan ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga dan alur maju yang sat set dan page turning banget.
Khas kehidupan anak muda perkotaan, novel ini menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang ringan dan cenderung santai. Selain karena novelnya memang tipis, narasi asyik dan lucu yang dipakai penulis dalam menggambarkan keadaan Tika yang penuh ironi kehidupan juga salah satu hal yang membut novel ini nyaman sekali untuk dinikmati.