"The Cacingers" adalah nama julukan santri-santri kamar Abdurrahman bin Auf di Pondok Pesantren Modern Sabilut Tauhid. Mereka adalah Badar, Oji, Guntur (yang biasa disingkat Bajigur), Ijul, Mahmud, Basri, Anwar, Asep, Yusuf, dan Faisal. Mereka dijuluki demikian karena memang kesepuluh santri ini memiliki tubuh yang cungkring-cungkring bin kurus-kurus. Uniknya, mereka ditakdirkan untuk berkumpul di satu kamar. Kamar Abdurrahman bin Auf. Kehidupan pesantren ternyata tidak selamanya pahit, getir, dan terpenjara. Buktinya, mereka bisa ceria dan bahagia di tengah semua kenangan kehidupan pesantren yang penuh cina dan canda tawa.
aku gak begitu terkesimah sama novel komedi seperti yang satu ini. selera humorku lebih mengrah ke percakapan atau menonton adegan yang ditunjukan dapat membuat orang seperti aku tertawa semacam meme. salah satu novel komedi yang setidaknya sedikit membuatku tertawa adalah yang satu ini dari pesantren dengan lucu (seperti memparodikan judul film james bond nih)
ceritanya seperti ya... sinetron komedi yang ditayangkan setiap minggu pagi pada tahun 2000-2010an dimana kita mendapatkan martabat religius dari quote sana-sini walau itu hanya pelengkap dari apa yang mau dibawakan dari novel ini. kita diperkenalkan dengan kaum kamar kelas 12 pesantren sabilut-tauhit yakni Abdurahman bin auf dengan aggota terkenalnya yakni trio cacingers yaitu Oji, Badar dan Guntur ikuti petualangan mereka di pesantren dari isu Sandal dicuri, kisah cinta Oji hingga pertandingan bola di acara musabaqah.
seperti yang kubilang aku gak merasa penasaran dengan cerita yang disampaikan dari novel ini ya... jangan dibawa serius, aku suka melihat ilustrasinya sih dari tokoh2 yang kelihatan begitu kocak, tetapi yang aku tak mengerti bagaimana cerita ini dapat resolusi yang pas, cuma dijelaskan di epilog begitu saja setelah semua gagal di acara pertandingan sepak bola. walau begitu aku cukup menikmati membaca buku ini serta terkesima dengan ilustrasi yang ditunjukan sebagai seorang seniman figur
Awal baca masih belum dapat sama komedinya, tapi dilanjut ke bab selanjutnya baru ketawa nggak berhenti. Selain itu, kehidupan anak anak pesantren buat pembaca rileks karena masalah yang mereka hadapi dibuat enteng. Bagus lagi buku ini mengajarkan amalan amalan baik dan keberanian untuk berbuat baik. Walaupun kadang tiga tokoh utamanya nyeleneh, akidah mereka patut jadi contoh terutama untuk anak anak remaja saat ini.