Jump to ratings and reviews
Rate this book

Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil

Rate this book
Ketika Indonesia mengalami kekacauan politik pada tahun 1965-1966 sejumlah pengarang Indonesia terdampar di luar negeri dan tidak bisa atau diperbolehkan pulang ke tanah air. Dari tangan mereka muncul fenomena yang dikenal sebagai sastra eksil Indonesia. Buku Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil merupakan hasil kerjasama Yayasan Lontar dan Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI), sebuah organisasi nir-laba di negeri Belanda yang memelopori penerbitan karangan dan kreasi lain para sastrawan Indonesia Eksil. Di Negeri Orang memuat 159 puisi hasil karya lima-belas penyaiar Indonesia yang hidup dalam komunitas para eksil Eropa: A. Kembara, A. Kohar Ibrahim, Agam Wispi, Alan Hogeland, Asahan Alham, Chalid Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing O. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana, Satyadarma,Sobron Aidit, Soepriadi Tomodihardjo, dan Z. Afif.

253 pages, Paperback

First published January 1, 2002

2 people are currently reading
35 people want to read

About the author

A. Kembara

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (15%)
4 stars
2 (15%)
3 stars
9 (69%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for lita.
440 reviews67 followers
August 30, 2010
apabila seorang presiden dari negeri berkembang
memiliki uang 25,5 milyar Frank di bank
sedangkan rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang
rumah digusur dan tanahnya diratakan
lalu dibangun lapangan golf untuk bermewah-mewah
bagi bapak-bapak dan para jenderal,
sedangkan yang berani bicara lalu dipetrus atau dipenjarakan,
apakah presiden yang demikian patut disanjung
dan kekuasaannya harus dijunjung?

Mengapa Lupa Pada Janji, Chalik Hamid, Hal. 76

---

Di panggung badut bersorak,
Memindahkan duit penonton ke kantongnya,
Di pentas negara koruptor menggalak,
Memindahkan duit rakyat ke perutnya.

Keduanya gembira,
Lalu tertawa,
Tak ada yang lucu,
Mereka menari menurut lagu.

Di seberang sana,
Hidup tanpa lagu,
Terjepit di celah batu,
Semua membisu.

Dua jenis kehidupan,
Yang satu mewah berlebihan,
Yang lain dahaga kelaparan.

Bertanya sekuntum mawar,
Apakah kau biarkan mereka lapar?

Yang lapar, Alan Hogeland, Hal. 57

---

mengapa kau coreng mukamu, kawan
untuk membadut di tengah hari
demi sesuap nasi
atau sepotong roti?

kemarin mukamu bersih
dan kita saling berkasih
tapi hari ini
kita berselisih

aku putra dari rahim ibu
setia walau mati memburu
kau badut yang mengingkari ibu
bagaimana fikiran bisa bertemu?

mengapa kau coreng mukamu, kawan
untuk membadut di tengah hari
demi ketenangan diri
sesuap nasi atau sepotong roti?

Badut, A.Kembara, Hal. 11
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
June 17, 2016
Katanya hanya waktu yang bisa menjawab dan menyembuhkan luka. Tapi, saya percaya justru menulislah remedy terbaik untuk berdamai dengan luka. Kalau berminat untuk membaca buku ini, luangkan lah untuk juga membaca bagian pendahuluan karena penting juga untuk dibaca, untuk sekedar memahami tujuan pembuatan kumpulan puisi ini.

Ijinkan saya spoiler satu puisi favorit saya dalam buku ini, Senyum, karya Satyadharma.

Senyum

Di bawah senyumannya
Terdidik sejumlah anjing yang menggigit
Dan menggonggong lebih keras dari tuannya

Di bawah senyumannya
Terbujur mayat teman-temanku, entah apa salahnya

Di bawah senyumannya
Tergadai tanah-airku, entah siapa menebusnya

Dan semua menggigil
Di tangan panas udara khatulistiwa
Bukan karena demam
Bukan karena dendam
Hanya tergelitik ketakutan

Semua mulut yang mau bicara jadi bisu
Bukankah lebih baik begitu
Daripada kulit jadi bolong ditembus peluru
Daripada tulang retak dipijak serdadu

Di bawah senyumannya
Bangsaku menekur kehilangan rindu
Pada kebebasan yang pernah jadi mimpinya

Di bawah senyumannya
Rakyat merintih digilas waktu
Oleh derita yang selalu menemaninya
Dan semua memaling muka
Dari wajah-wajah serigala

(Oleh Satyadharma)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Zulazula.
19 reviews2 followers
December 29, 2013
Puisi selalu tercipta dari hati-hati yang sensitif dan pemikiran yang luas. Buku ini salah satu perekam para penyair.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.