Ketika Indonesia mengalami kekacauan politik pada tahun 1965-1966 sejumlah pengarang Indonesia terdampar di luar negeri dan tidak bisa atau diperbolehkan pulang ke tanah air. Dari tangan mereka muncul fenomena yang dikenal sebagai sastra eksil Indonesia. Buku Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil merupakan hasil kerjasama Yayasan Lontar dan Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI), sebuah organisasi nir-laba di negeri Belanda yang memelopori penerbitan karangan dan kreasi lain para sastrawan Indonesia Eksil. Di Negeri Orang memuat 159 puisi hasil karya lima-belas penyaiar Indonesia yang hidup dalam komunitas para eksil Eropa: A. Kembara, A. Kohar Ibrahim, Agam Wispi, Alan Hogeland, Asahan Alham, Chalid Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing O. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana, Satyadarma,Sobron Aidit, Soepriadi Tomodihardjo, dan Z. Afif.
apabila seorang presiden dari negeri berkembang memiliki uang 25,5 milyar Frank di bank sedangkan rakyat disuruh mengencangkan ikat pinggang rumah digusur dan tanahnya diratakan lalu dibangun lapangan golf untuk bermewah-mewah bagi bapak-bapak dan para jenderal, sedangkan yang berani bicara lalu dipetrus atau dipenjarakan, apakah presiden yang demikian patut disanjung dan kekuasaannya harus dijunjung?
Mengapa Lupa Pada Janji, Chalik Hamid, Hal. 76
---
Di panggung badut bersorak, Memindahkan duit penonton ke kantongnya, Di pentas negara koruptor menggalak, Memindahkan duit rakyat ke perutnya.
Keduanya gembira, Lalu tertawa, Tak ada yang lucu, Mereka menari menurut lagu.
Di seberang sana, Hidup tanpa lagu, Terjepit di celah batu, Semua membisu.
Dua jenis kehidupan, Yang satu mewah berlebihan, Yang lain dahaga kelaparan.
Bertanya sekuntum mawar, Apakah kau biarkan mereka lapar?
Yang lapar, Alan Hogeland, Hal. 57
---
mengapa kau coreng mukamu, kawan untuk membadut di tengah hari demi sesuap nasi atau sepotong roti?
kemarin mukamu bersih dan kita saling berkasih tapi hari ini kita berselisih
aku putra dari rahim ibu setia walau mati memburu kau badut yang mengingkari ibu bagaimana fikiran bisa bertemu?
mengapa kau coreng mukamu, kawan untuk membadut di tengah hari demi ketenangan diri sesuap nasi atau sepotong roti?
Katanya hanya waktu yang bisa menjawab dan menyembuhkan luka. Tapi, saya percaya justru menulislah remedy terbaik untuk berdamai dengan luka. Kalau berminat untuk membaca buku ini, luangkan lah untuk juga membaca bagian pendahuluan karena penting juga untuk dibaca, untuk sekedar memahami tujuan pembuatan kumpulan puisi ini.
Ijinkan saya spoiler satu puisi favorit saya dalam buku ini, Senyum, karya Satyadharma.
Senyum
Di bawah senyumannya Terdidik sejumlah anjing yang menggigit Dan menggonggong lebih keras dari tuannya
Di bawah senyumannya Terbujur mayat teman-temanku, entah apa salahnya
Di bawah senyumannya Tergadai tanah-airku, entah siapa menebusnya
Dan semua menggigil Di tangan panas udara khatulistiwa Bukan karena demam Bukan karena dendam Hanya tergelitik ketakutan
Semua mulut yang mau bicara jadi bisu Bukankah lebih baik begitu Daripada kulit jadi bolong ditembus peluru Daripada tulang retak dipijak serdadu
Di bawah senyumannya Bangsaku menekur kehilangan rindu Pada kebebasan yang pernah jadi mimpinya
Di bawah senyumannya Rakyat merintih digilas waktu Oleh derita yang selalu menemaninya Dan semua memaling muka Dari wajah-wajah serigala
(Oleh Satyadharma)
This entire review has been hidden because of spoilers.