Psikologi Islami (‘Ilm an-Nafs) adalah buku pengantar penting yang menggunakan bukti terbaru di cabang-cabang psikologi untuk menyajikan pandangan berimbang dan komprehensif atas hakikat, perilaku, dan pengalaman manusia. Dasar pengembangan teorinya mengenai hakikat manusia adalah Qur’an, Sunnah, para ulama, dan temuan riset terbaru.
Menyintesiskan psikologi empiris kontemporer dan psikologi Islami, buku ini bersifat dan berproses holistik, mencakup dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual perilaku dan pengalaman manusia. Melalui cakupan yang luas dan komprehensif, buku ini membahas tiga bidang utama: konteks, perspektif, dan praktik klinis psikologi terapan dari pendekatan Islami.
Inilah buku teks inti psikologi Islami untuk mahasiswa S1 dan S2 serta mereka yang menjalani pendidikan profesional lanjutan dalam psikologi Islam, psikoterapi, dan konseling. Selain itu, buku ini juga sumber daya pendukung yang bagus untuk guru dan dosen di bidang ini.
***
Dr. G. Hussein Rassool ialah Profesor Psikologi Islami, Konsultan, dan Direktur Institut Psikologi Klinis dan Profesional/Pusat Psikologi Islami Rifah, Pakistan. Dia bertanggung jawab atas pengawasan dan pengelolaan empat departemen psikologi, juga standar dan efisiensi saintifik, pendidikan, dan profesional. Dia mengelola dan mengoordinasi program penelitian dan pengembangan pendidikan psikologi Islami, intervensi klinik dan pengembangan layanan, dan bersama para Kepala Departemen Psikologi membantu integrasi psikologi Islami dan etika Islami dalam program pendidikan serta pengembangan inisiatif riset dan publikasi riset.
Dr.G.Hussein Rassool adalah seorang Profesor Psikologi Islami, Konsultan dan Direktur Institut Psikologi Klinis di Pakistan. Berawal dari kegelisahannya melihat banyaknya psikolog Muslim yang berubah menjadi Freud Muslim setelah belajar di universtias Barat, mereka membahas soal kompleks Oidipus, Elektra dan psikoseksual mengikuti apa kata guru mereka, padahal nilai-nilai yang mereka bicarakan sangat asing bagi budaya dan tradisi Islam.
Dalam pandangan Barat, terutama setelah pengusiran agama oleh sains, bahwa alam semesta itu berdiri sendiri tanpa penyebab atau kendali supra natural, tafsir sains atas dunia adalah satu-satunya penjelasan realitas yang memuaskan, hal ini didasari empirisme dan percobaan untuk menemukan fakta yg dilakukan oleh sanis sehingga bisa dicek benar dan salahnya. Berbeda dengan agama yang didasari oleh iman, tdk bisa dinilai dengan metode objektif, iman menerima tanpa bertanya dan meminta bukti.
Namun kemudian pandangan psikologi sekuler ini sering kali menimbulkan perdebatan. Menurut Arthur S. Reber, psikologi sekuler sering kali mengesampingkan etika, nilai-nilai kemanusiaan dan hakikat kehidupan. Manusia yang ditaruh di dunia ini dan dibiarkan tanpa campur tangan ilahi, sehingga tidak memiliki garis jelas antara baik dan buruk, apa yang benar dan apa yang salah, jelas akan menyebabkan kekacauan.
Sementara dari sudut pandang Islam, manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga, raga adalah wahana bagi jiwa. Hal ini berkesesuaian dengan tahap awal psikologi yang didefiniskan sbg study of the soul or spirit. Dalam pandangan Islam, hakikat manusia adalah menyeluruh, kompherensif, dan lengkap. Quran dan hadits sudah memberi pedoman dasar untuk hukum-hukum hakikat manusia itu.
Dalam kitab Kimiya as-Sa'adah, Al Ghazali menjabarkan konsep dimensi spiritual manusia yang terdiri dari Jiwa (nafs), ruh, kalbu dan akal. Dalam kitabnya yang lain yaitu Ihya Ulumuddin, Al Ghazali menjelaskan bahwa nafs berada dalam ranah indra dan dikuasai oleh syahwat sehingga seringkali melangkah keluar batas yang menjadi fitrah manusia yaitu tunduk kpd Allah Swt. Ternyata Nafs atau jiwa manusia cenderung menyukai kenikmatan dunia, kemaksiatan, kezaliman dsb.
Buku Islamic Psychology ini ditulis sebagai upaya membangun kembali psikologi berdasarkan epistemologi Islam agar manusia yang tadinya menyimpang bisa kembali ke fitrah. Fitrah adalah salah satu konsep yg berhubungan dengan hakikat murni manusia atau sering diartikan keadaan alami, atau sifat bawaan.