Jump to ratings and reviews
Rate this book

Student Indonesia di Eropa

Rate this book
Indonesian students and student movements in Europe, 1926-1928.

383 pages, Paperback

First published January 1, 2000

24 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (13%)
4 stars
2 (13%)
3 stars
10 (66%)
2 stars
1 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
September 19, 2021
buku ini langsung saya kasih bintang papat.
padahal belom baca sampek habis, kenapah?
kerna nilai dokumenternya.
pertama, ada banyak sekali informasi yang tidak diketahui oleh publik tanah air hanya karena hambatan bahasa [belanda]. buku terjemahan ini menjadi salah satu yang menyingkirkan hambatan itu. kedua, kumpulan tulisan ini bernilai dokumentasi tinggi karena mampu memberi gambaran dari 'arah sana' terhadap situasi tanah air di masa kolonial. 'arah sana' yang saya maksud adalah perspektif yang dibalik: pandangan orang indonesia tentang indonesia, tapi yang melhatnya dari tempat tinggalnya di belanda.
apa menariknyah?
pandangan seseorang biasanya tidak murni muncrat dari sumber di kepala dan perasaan seorang individu dalam isolasi. ia menggunakan bahasa dan dirumuskan dalam kalimat berkelindan bersama konteks di mana ia dinyatakan ke publik.
bagaimana orang seperti rivai berpikir tentang indonesia, sementara ia merumuskannya dalam konteks penerbitan belanda?
tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam korannya sendiri itu berpartisipasi dengan teks-teks lain sejamannya dalam suatu perang wacana, perang gagasan, pertempuran ide.
kalok mikir gini,
generasi para pendiri bangsa memang dikaruniai otak yang tidak disia-siakan.
keknya beda dengan generasi kiwari.

panginten.... hehehe
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
May 28, 2008
Baru baca ulang sampai tengah buku kira-kira. Bukunya menarik. Menarik jika kita mau tau tulisan seorang pemimpin Redaksi Bintang Timoer.

Awalnya mengenai kisah perjalanan dia ke Belanda untuk mengambil gelar dokter Belanda (bukan dokter Hindia Belanda yang dia pegang sbagai lulusan Stovia). Penulis yang orang bengkulu ini menceritakan mengenai Singapura dan pelabuhan yang dikunjunginya. Menceritakan mengenai suku bangsa dan penghidupan pelabuhan negeri orang itu sekaligus membandingkan dengan kehidupan anak negri yang ditinggalkannya untuk pergi belajar.

Sesampainya di Belanda dia tetap mengirimkan tulisan yang dimuat di korannya. Ceritannya mengenai Perhimpunan Indonesia yang merupakan perserikatan pertama yang menggunakan kata "Indonesia" sehingga berupaya menyisihkan kata inlander. Yang saya catat adalah seringnya dia menceritakan solidaritas mahasiswa di sana (Eropa). Solidaritas dalam menghadapi kesulitan ekonomi dan tekanan politik. Bentuk solidaritas yang pertama sering diulang oleh Rivai dalam bentuk Dana Belajar (semacam Beasiswa sekarang). Waktu itu lebih kepada bentuk sumbangan bagi kas Perhimpunan Indonesia yang digunakan untuk mengatasi persoalan ekonomi mahasiswa. Mereka menyumbang mahasiswa yang uangnya ditahan oleh induk semangnya (radsman) karena aktifisme mereka di Belanda. Solidaritas politik tentunya diwujudkan dalam kepaduan mereka dalam menghadapi ancaman intel kolonial yang termakan isu bahwa mereka ikut dalam arus besar bolshevisme. Mereka yang melawan dan sering diidentikan dengan bolshevik.Rivai berulang kali mengulang hal itu, demi menyampaikan kepada pembacanya di Indonesia yang juga orang tua dari mahasiswa itu. Pergerakan mereka semata bentuk keprihatinan mereka yang selain mendalami bidang studinya masing-masing sesungguhnya juga ikut mendalami politik kolonial di jantung kolonial Hindia Belanda. Menurut Rivai, mereka itu tak lain dari nasionalis, yang kerap difitnah sebagai komunis demi memojokan perjuangannya. Lain juga dengan mahasiswa baik-baik yang kerap plesir dan dansa-dansi sambil menikmati ke-Belanda-an mereka. Yang belakangan malah bersikap oportunis sebagian mahasiswa dan ikut memojokan perjuangan anggota Perhimpunan Indonesia. (sstt ada nama yang suka disebut sebagai seorang "sastrawan" di Indonesia yang berkarya dalam Bahasa Belanda loh!)

Belum habis saya membacanya. Tetapi catatan saya penuh dengan kosa kata awal abad 20 yang lahir dari tulisan seorang doktor pertama Indonesia (ini juga catatan baru, bukan yang itu ternyata). Ceritanya menarik dengan gaya bahasa jamannya. Selain merupakan laporan orang pertama yang mengalami dinamika perjuangan mahasiswa Indonesia masa itu, buku ini juga penuh istilah dalam bahasa Belanda dan Indonesia masa itu. Kiranya jika saya pagi ini membaca tulisan di rubrik opini Kompas, saya ingin mengutipkan penutupnya untuk merangkum segi kebahasaan yang ada dalam buku ini, "Bahasa memang potensial sebagai perekat kebangsaan di antara orang-orang yang tak saling kenal. Hanya masalahnya, bahasa seperti itu dapat muncul secara historis jika, salah satunya, tidak dianggap sebagai kebenaran yang dikeramatkan. Begitu pula dengan bahasa Indonesia yang telah mampu menumbuhkan nasionalisme. Bahasa itu sesungguhnya tidak dilahirkan di ruang- ruang resmi perserikatan/perkumpulan, tetapi ”dipungut” dari jalanan kolonial yang keras atau beraspal" ( A Windarto, Bahasa Indonesia sebagai Aspal Kolonial)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews