Sesungguhnya, apa lagi yang tidak diambil perusahaan sawit dari hidup Tanjung?
Tak cukup nyawa Umaknya dan kelangsungan keluarga mereka, masa depan Tanjung pun tampaknya akan berakhir sebagai buruh sawit, seperti halnya hampir seluruh orang di desa mereka. Tua, muda, bahkan kanak-kanak pun sudah melihat prospek hidup di kebun sawit.
Maka, saat ajakan Jarot, kawannya sesama buruh, untuk mengacau di perkebunan muncul, Tanjung tak bisa tinggal diam. Sudah cukup ia dan kawan-kawannya dieksploitasi perusahaan sawit. Tak peduli hidup di tanah paling subur sekalipun, hidup akan selamanya sengsara jika terus-terusan ditindas, begitu pikir Tanjung.
Namun tak ada yang menyangka, ulah isengnya untuk memberi pelajaran pada perusahaan itu berubah arah; diembus angin hutan yang mistis dan dibumbui semerbak misteri yang meliputi perkebunan. Membuat cahaya mentari semakin sulit menembus dedaunan sawit yang rapat, hingga membuat semua orang bergidik, takut, bahkan terkencing-kencing di celana. Jika sudah begini, tak peduli mandor, kuli, buruh, karyawan perusahaan, hingga petinggi sekalipun, akan takluk dibuatnya.
Lahir di Cirebon pada 22 Maret, suka sekali membaca buku. Tetapi dari sekian banyak buku yang dibacanya, buku-buku resep masakan dan kuelah yang paling membuatnya seolah kesetrum. Retni memang hobi masak, apalagi memasak untuk keluarga kecilnya yang telah membuatnya merasa menjadi perempuan istimewa.
Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.
Alurnya rapi dan runut, minim saltik (yang sebenarnya saat ini tidak terlalu saya pedulikan kecuali parah banget), dan konfliknya itu pas banget. Saya berasa ikut dibawa ke lokasi perkebunan kelapa sawit dan segala permasalahannya yang membuat saya makin kesal dengan perusahaan raksasa + pemerintah yang licik dan jelas tidak peduli dengan rakyatnya + pengguna minyak ini (entah untuk rumah tangga maupun industri). Selain membahas eksploitasi manusia yang rinci dan membuat saya kagum sama riset si penulisnya, buku ini menyuguhkan hal-hal lokal yang Indonesia banget. Tokoh-tokohnya manusiawi, berkembang hingga akhir kisah, dan akhirnya... saya puas.
Sepuluh bintang untuk buku ini karena lima aja masih kurang buat saya.
Kisah horor hantu dibenturkan dengan horor kehidupan, dibingkai melalui konflik perusahaan sawit dan buruhnya. Menggelitik perut sambil melesapkan rasa iba. Suka banget tema lokal Kalimantan dieksekusi dengan baik baik narasi, tokoh, plot dan ending yang khas orang Indonesia.
aku cukup terombang-ambing dengan gaya tutur novel ini. bagian awal seakan menjanjikan kisah puitis pilu warga yang terpinggirkan, bagian tengah novel penuh caci-maki antar tokoh dengan konflik yang semakin tajam. endingnya ternyata dibawa berhantu-hantuan. tapi seru kok. ini novel yang sangat berbeda dari karya mbak retni sebelum2nya. jempol.