Penugasan pertama Dima Sawitri sebagai jurnalis di Kaba Jorong, membawa gadis itu pada kasus kematian dua pembalak liar.
Polisi menduga dua pembalak liar itu tewas akibat cakaran harimau yang fatal. Namun, selagi Dima menelusuri kasus tersebut bersama Timur, rekan kerjanya, korban tewas bertambah dan banyak bukti janggal yang muncul.
Tak hanya itu, investigasi mereka pun diadang kepolisian dan pihak perusahaan sawit, PT Zamrud Bumi. Santer terdengar bisik-bisik warga yang meyakini para korban tewas dibunuh inyiak—roh leluhur penjaga hutan yang berbentuk setengah harimau setengah manusia—yang marah karena para korban merusak hutan.
Ayu Welirang is the author of Go Kory, Go!, Not for IT Folks, Opera Terakhir (short story in Antologi Kasus Sherlock Holmes Fans Indonesia), Double Life, Mata Pena series, Lelaki Bernama Sidik (short story in Antologi Detectives ID 2: Histerical Mystery), Rumah Kremasi, Halo Tifa, 7 Divisi, and Februari: Ecstasy. She is also the Indonesian translator of the first inverted detective story by R. Austin Freeman, entitled The Singing Bone. Her latest thriller book, Jejak Balak was chosen as the 2nd Winner of #LombaThrillerGPU held by Gramedia Pustaka Utama (GPU) and Gramedia Writing Project (GWP). In 2023, Ayu won the Author of the Year award from the Scarlet Pen Awards organized by Detectives ID.
In addition to fiction, she also wrote some light essays about politics, media, music, books, and movie reviews. These essays are published in Harian Pikiran Rakyat, Bandung Music web portal, Serunai.co, Omong-omong.com, and Jakartabeat.Net.
Learn more at www.ayuwelirang.com and connect with Ayu on Twitter or Instagram @ayuwelirang.
BAGUS..dan emang pantes jadi juara dua Lomba Novel Thriller GPU walau bikin gue jadi penasaran juga yang juara satu apa bakal lebih bagus dari Jejak Balak ini.
Kalau baca sekilas dari blurb buku, mau ga mau gue keinget Sisi Liar karya Tsugaeda. Sama - sama membahas tentang pembalak liar, perburuan dan juga fokus sama si raja rimba. Bedanya, kalau di Sisi Liar banyakan jalan-jalannya, maka Ayu Welirang memilih untuk memfokuskan cerita di satu daerah aja yaitu Pasaman Barat. Jujur gue belum pernah ke daerah Sumbar karena selama di kantor gue cuma dinas paling jauh ke Prabumulih dan Palembang untuk daerah Sumatra. Tapi karena di proyek sekarang salah satu manajer gue orang Padang dan banyak juga orang Padang (sama Batak) di kantor, jadi gue cukup ngerti apa yang diomongin beberapa tokoh di buku ini dan juga bisa membayangkan logat mereka.
Menurut gue penulisan Ayu Welirang untuk Jejak Balak sangat rapi dan memang dia udah banyak nulis ya. Dialognya pun jauh dari kata kaku serta penempatannya juga pas. Kalau lagi di Jakarta ya wajar Dima ber-loe gue atau saat ketemu orang Jakarta waktu di Padang. Tapi setelah ketemu Timur, Teti dan Agam ya dia pakai aku. Uniknya, untuk memperlihatkan kedekatan Timur sama Dima, Timur yang awalnya pakai "kau" beralih jadi "kamu". Ini mungkin kayak remeh ya, tapi bagi gue penulisan dialog di novel bahasa Indo itu penting mengingat bahasa kita ada formal dan informalnya. Bakal aneh lah kalau sepanjang novel Dima sama Timur ngomongnya kaku banget bak lagi baca pidato. Kerenyahan dialog yang digunakan semua karakternya ini yang menjadi nilai tambah buat Jejak Balak karena gue ga harus mengernyit baca buku ini. Meski saat Mahzar manggil Dima "Mbak" gue agak terkekeh sih, apa mungkin di kantor Mahzar banyak orang Jawa jadi dia ga segan manggil Dima "Mbak" yah?
Dari segi cerita, banyak yang ingin dibahas oleh authornya walau tetap fokusnya adalah pada lingkungan. Mulai dari pembalakan liar, penjualan tanah adat untuk perluasan lahan sawit dan perburuan hewan - hewan yang dilindungi. Gue dapat insight baru juga terkait tradisi suku Mentawai karena Timur asli Mentawai dan tak lupa diselipkan perlakuan Orba sama suku Mentawai. Orde yang ga ada bagus2nya emang orba ini, heh! Gue juga suka sama interaksi Timur dan Dima yang walau awalnya berbeda bak kutub utara dan selatan, akhirnya malah kerja sama dan bahkan saling menyelamatkan saat mereka akhirnya bertemu sama si Inyiak Balak yang sudah membunuh beberapa pekerja perusahaan sawit setempat. Hubungan mereka berdua sih platonik ya, walau emang ada hint romansa sedikit tapi ga lebay. Halah, Timur aja ngasal ngomong pengen nikahin Dima di akhir cerita cuma biar ga ngekos, jadi gue anggap seandainya mereka jadian bakal cocok tapi untuk temenan pun cocok juga.
Karakter-karakter selain Dima dan Timur juga ditulis cukup baik dan karakter penjahatnya pun juga punya alasan kenapa menjadi Inyiak Balak. Dari judul sebenarnya juga jelas dimana Balak berarti belang, yaitu hitam putih. Bagaimana tersirat bahwa apa yang dilakukan si Inyiak memang terkesan hitam putih walau kemarahannya karena perusakan hutan di daerah Pasaman memang valid, tapi tentunya ada cara lain kan? Endingnya sendiri walau ditutup dengan rapi menyisakan beberapa kemungkinan - kemungkinan yang tentunya ga mungkin gue bahas, entar spoiler wkwk. Kalaupun ada yang kurang, gue ga sreg sama pengulangan deskripsi karakternya terutama Dima. Sering banget ditulis "gadis berambut bob" atau "wartawan/gadis ibukota itu". Yaelah, tulis aja "Dima" atau cukup gadis itu. Apalagi Timur juga ditulis "cowok gondrong". Diulang - ulang terus jadi agak kesel bacanya :P.
Jejak Balak jadi salah satu novel yang akan gue rekomen kalau nyari thriller karya author Indo yang seru, rapi penulisannya dan bener -bener ngajak kamu deg2an pas baca nasib Dima dan Timur saat mereka berhadapan dengan si Inyiak Balak. Gue juga ga keberatan kalau nanti ada kisah lanjutan Dima dan Timur saat investigasi kasus - kasus lain soalnya chemistry mereka tuh, top banget!
Waah, ini seru banget siiih. Pada dasarnya aku emang suka cerita investigas dari wartawan gini. Liat mreka struggle cari perizinan, cari informasi dengan akses terbatas karena aparat yang dibungkam, dsb.
Ceritanya diawali dengan anak kecil yang liat Inyiak, konon Inyiak itu makhluk pelindung hutan.
Awalnya, aku nggak begitu tahu cerita ini bakalan dibawa ke mana. Aku bahkan nggak yakin genre cerita ini apa, sampai akhirnya ke korban pertama. Wah aku nggak bisa berenti baca sih dari sana. Bukunya page turning banget.
Dua karakter utama, Timur sama Dima, punya karakter yang oke. Backstory Timur bikin aku simpati banget sama dia. Jadi nggak mau dia kenapa-napa.
Penggambaran Dima sebagai wartawan yang bisa liat segala celah juga tergambarkan dengan jelas di cerita ini. Banyak petunjuk yang disadari sama Dima.
Yang bikin aku suka ceritanya, Dima nggak dibikin OP. Maksudnya, aku sebagai pembaca ikut mikir juga siapa pelakunya. Nggak segalanya dijejalkan sama di buku dengan narasi yang telling. Tapi dengan petunjuk-petunjuk kecil tetep bikin aku ngerti dan paham dan akhirnya tahu sendiri siapa pelakunya bahkan sebelum di cerita itu di reveal. Dan emang pelakunya jelas sih dari awal.
Klimaksnya juga bkin tegang bangeeet. Nggak ada obat aku deg2an banget waktu baca. Takut kenapa-napa sama dua tokoh kesayangan ini.
Paling yang kurang tuh setelah klimaks ya. Mksdku, itu tuh terlalu panjang panjang yang bikin eskalasi ceritanya menurun drastis. Tapi aku tetep suka dengan endingnya.
Ide ceritanya bagus, mengangkat tema dan isu tentang lingkungan. Banyak pesan yang bisa diambil dari kisah Timur dan Dima ini.. Terus, aku juga salut sama budaya yang diangkat di cerita ini, kelihatan bgt kalo penulis ingin 'memperkenalkan' sumbar ke seluruh Nusantara, terutama utk kab. Pasaman barat, melalui penggunaan bahasa daerah, legenda daerah, sampe ke senjata daerah juga.. jujur aku baru tau kalo ada senjata yang model *tiiitt* ituu 🤣🤣 (dipake tiit biar gak spoiler 😂)
Hal yang aku gak nyaman disini adalah, penggunaan kata yang repetitif. Misalnya, 'lelaki gondrong itu' 'cewek berambut bob itu' 'cewek jakarta itu' kata tersebut diulang berkali-kali dari bab awal sampe bab akhir, aku kek yaelaaaah uda tau kalik, gak usa disebut lageee....
Novel ini mengingatkan bahwa aku masih bisa begitu menikmati novel thriller.
Cuma dua pertanyaanku:
1) Para wartawan Kabar Jorong ditarget bikin 10-15 berita dalam sehari buat web kan? Tapi Timur dan Dima kok masih sempat investigasi lapangan yang menyita waktu itu? Memangnya bisa setor 10-15 berita dalam sehari sambil pergi ke luar muter-muter gitu?
2) Kenapa seseorang bisa dengan cerobohnya pakai baju dinas waktu melakukan tindak kriminal? Kan bisa jadi penanda untuk saksi mata. Kayak yakin banget kalau bakal selalu berhasil melakukan aksinya?
Hmm...
Di luar pertanyaan itu, everything is almost perfect.
WOW WOW WOW. keren bgttt. ceritanya mengangkat hukum adat dan kepercayaan masyarakat. suka bgt sama plotnya yang rapi dan gaya tulisan yang mudah dipahami. romance tipisnya bikin gemasss. ternyata emang bener kl yg paling bikin takut di dunia itu bukan setan, tapi manusia. kalau mencintai sesuatu jg jangan terlalu berlebihan. dan jangan juga membenarkan kesalahan hanya untuk melindungi hal yang dicintai. sukaa bgt sama novelnyaa
Aku jarang baca novel bergenre thriller. Tapi, setelah aku baca novel jejak balak ini, aku jadi berani membaca genre lain selain romance. Aku takjub bgt sama novel ini, karena bener2 rapi.. Alur nya rapi , plot twist nya juga byk .. Bikin aku bingung , deg2an , penasaran sampe gregetan.
Aku suka tokoh Timur. Laki2 santai yg idealisnya tinggi. Dia bukan tipe laki2 ribet. Yg mesti dijalani yaa dijalani. Mesti Timur punya trauma masa kecil waktu ia masih bersama suku2 Mentawai. Hingga ia mengalami gangguan tidur juga. Tapi, Timur itu cocok bgt klo udah sama Dima. Seperti layaknya botol ketemu Tutup, mudah2an beneran nanti Timur menikahi Dima yaa, Aamiin 😁 heehe
Aku beberapa kali salah menebak siapa pelaku nya. Aku pikir betulan perbuatan Inyiak. Ternyata bukan. Dan ttg tersangka nya beneran gak masuk dalam tebakanku, krn gak nyangka aja, klo dia pelaku nya. Kalian mesti baca sampe tuntas dulu, daaan kalian akan takjub jika kalian tau siapa pelakunya.
Penulis memang cerdas mengolah cerita, hingga UU ttg hak tanah Ulayat , lahan lepasan , hingga suap-menyuap PT ZAMRUD BUMI pun ada di dalam kisah ini. Kemungkinan, itu beneran ada di dunia nyata. Perusahaan yg menyuap aparat keamanan hingga kantor berita agar segala usaha bisnisnya lancar walau telah merusak lingkungan.
Kita akan diajak berpetualang bareng Dima , kita juga diajak investigasi bareng Timur. Dan aku, mendapatkan byk sekali info dari buku ini. Kisah nya bagus ditambah lagi bisa nambah pengetahuan kita ttg hak2 tanah ulayat. Aku juga jadi kenal apa itu Inyiak.
Bacaan thriller dengan tema lingkungan hidup yang kuat dan mengambil setting di Sumbar. Kita akan mengikuti perjalanan seorang wartawati ibukota yang dimutasi ke daerah terpencil.
Dari awal kita sudah disuguhi hal2 yang sangat related dengan kondisi kita saat ini. Misalnya kurangnya fasilitas memadai di daerah, kelakuan para penebang hutan liar, hutan adat, mitos tentang inyiak si harimau pelindung keseimbangan alam dan tanaman gemas (pengen bakar) yang sangat populer di Indonesia, si Sawit!
Sebenarnya banyak detail novel ini yang kalau muncul di buku biasanya tidak aku sukai seperti percakapan ala lu gue, potongan web berita, sms, wa dll. Tapi entah kenapa petualangan dua detektif Dima dan Timur di sini sangat menarik. Aku juga suka chemisty rekan kerja mereka yang menguat seiring kasus pembunuhan yang mereka hadapi bersama tapi juga gak harus selalu berakhir romantis. Love it.
Bacaan yang sangat cocok untuk pembaca yanh sedang cari pelampiasan mood buruk hasil berita perusakan lingkungan hidup belakangan ini. Biar puaslah diri ini kalau mau nangisin binatang liar atau bersyukur penjahatnya dikejar-kejar atau digigiti harimau 😌😌
Semua orang harus tau aku akhirnya memutuskan untuk bikin goodreads cuma untuk ngasih buku ini 5 bintang!!🌟
Jujur aku nemuin buku ini beneran ngga sengaja pas iseng scrolling. Awalnya tertarik sama covernya keren banget, ternyata novel indo. Setelah baca sinopsisnya kayaknya menarik karena genrenya misteri thriller. Eh bukunya ada di Gramedia Digital, jadilah aku baca disitu;)
Buku ini menceritakan tentang seorang wartawan bernama Dima Sawitri yang dimutasi ke daerah terpencil karena dianggap terlalu barbar saat meliput. Dia dikirim ke Pasaman Barat dan masuk ke Kaba Jorong. Disana Dima masuk ke tim investigasi dan kriminal bersama Timur. Awalnya Dima pikir di tempat seterpencil itu sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya tindak kriminal. Dugaannya salah, karena baru sebentar Dima menginjakkan kaki disana, ia sudah dikagetkan dengan kejadian matinya dua pembalak liar yang diduga dibunuh inyiak. Serentetan pembunuhan terus terulang dengan cara yang sama, adanya bekas cakaran di bagian belakang leher korban. Sekilas memang seperti harimau lah pelakunya, tetapi adanya beberapa kejanggalan pada tkp membuat Dima dan Timur yakin, pelakunya manusia.
Jejak Balak ini menurutku seperti paket lengkap sih, kayak semua ada deh di buku ini. Soalnya isinya ada thriller (pembunuhannya digambarin lumayan brutal), misteri (mencari pelaku pembunuhan berantai), budaya indonesia (penggunaan bahasa daerah, kepercayaan penduduk tentang inyiak), isu lingkungan (banjir bandang akibat pengalihan hutan untuk jadi kebun sawit), isu perampasan tanah adat, isu media yang ditutup-tutupi, bahkan ada romancenya juga walau tipis-tipis..ditunggu undangannya ya Timur dan Dima xixi. Buku ini juga bener-bener page turner, lumayan tebel >350 halaman tapi aku bisa selesaiin 2 hari aja (agak sakit mata dikit).
Ngga tau sih ini kekurangan atau bukan, tapi untuk orang yang sering baca novel detektif sih pelakunya mudah banget ketebak, soalnya udah dikasih hint terus. Tapi jd bikin puas juga sih, soalnya aku jarang banget bisa nebak pelaku di novel bener wkwk🤣👍
Untuk kelebihannya terutama aku langsung jatuh cinta sih sama pemilihan katanya bagus, terus juga penjelasan istilahnya nambah ilmu juga. Terus tidak lupa dengan kegemesan hubungan Timur dan Dima yang seperti Tom&Jerry bahkan dari awal mereka ketemu😆
Dima Sawitri dipindahtugaskan ke koran lokal akibat aksinya yang kelewat frontal. Meski gaji dipotong, di tempat baru dia mendapat mess karyawan. Tapi, ini nggak mengurangi kegundahan Dima, sampai akhirnya kasus penyerangan pertama muncul. Kasus yang menyeret kepercayaan setempat yang tidak bisa dibuktikan secara nyata, tetapi pantang diingkari. Dima dan rekan barunya, Timur, harus mencari kebenaran mengenai kematian para "pencuri" hutan yang diduga dibunuh oleh inyiak.
Ini local thriller pertama yang bagiku seru abis! Aku suka semua unsur di bukunya, terlebih cara penulis mengolah hasil riset. Karena dua karakter utamanya wartawan, adanya informasi yang terlontar jelas nggak bikin informasinya menggumpal terus jadi info dump.
Misterinya ditata rapi dari awal, nggak ada kesan terburu-buru. Memang, di awal sudah bisa ditebak siapa pelakunya, terus nanti pertengahan mulai bisa mengerucut. Tapi, ada satu hal yang bikin goyah dengan tebakan awal dan akhirnya ya udahlah ngikut arus aja.
Bagiku, bagian ending-nya pas. Memang terkesan panjang banget, tapi nggak mengurangi tensinya. Per adegan dipotong dengan adegan karakter lain di tempat berbeda. Alhasil ya jadi greget! Kayak adegan di film/serial waktu bagian klimaks, sih.
Kasus di sini rasanya membuka mata banget soal konflik agraria yang setiap tahun bukannya berkurang justru bertambah. Isu lingkungannya kompleks sekali. Sekali baca nggak bisa berhenti. Walaupun semua unsur di buku ini fiksi, tapi isunya ril. Yah, anggep aja lagi nyindir perusahaan kelapa sawit yang seenak jidat menguasai tanah adat, oknum pemuka adat yang rela mengkhianati golongannya, dan pemerintah yang iya-iya aja asal duit ngalir. Nyindirnya lewat buku biar nggak kena UU ITE.
page-turner. bab-babnya pendek, bikin aku sebagai pembaca penasaran sama apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. di awal, aku rada gak suka sama dima sebagai karakter utama perempuan di buku ini. tapi seiring berjalannya cerita, dia bisa kutolerir. ide cerita tentang urban legend yang meneror suatu daerah, yang kebetulan sedang di 'jajah' oleh sebuah perusahaan besar. sebuah issue yang masih sering kita jumpai di kehidupan sekitar kita.
ada beberapa hal yang mengganjal di buku ini. dari cara penulis menjabarkan detail-detail adegan. tapi masih bisa kumaafkan karena terbantu dengan premis ceritanya.
Tentang jurnalis yg mengungkap kasus pembunuhan berantai di wilayah terpencil. Aku paling suka cerita yg plot driven, jadi beneran excited banget bacanya.
Kita dibawa buat ikut mecahin misteri dari fakta fakta yg ditemukan sama karakternya. Mendekati ending, aku ikutan engap waktu Dima sama Timur dikejar sama pelakunya.
Menurutku, ini bisa aja sih kalo mau dibuat sekuel. Soalnya pelakunya kan masih DPO. Sekuelnya bisa tuh bahas lagi sampe pelakunya ketangkep
Jejak Balak, novel pemenang ke II lomba novel thriller GPU X GWP ini bercerita tentang Dima Sawitri dan Pijar Timur Mentari, dua orang jurnalis media lokal Pasaman Barat, Kaba Jorong, yang melakukan investigasi kasus yang diawali kematian 2 orang pembalak liar yang diduga dibunuh oleh Harimau. Warga sekitar curiga bahwa korban dibunuh oleh Inyiak atau Inyiak Balang, Harimau jadi-jadian dari arwah leluhur, karena merusak alam dan lingkungan. Korban-korban lain berjatuhan dengan cara yang hampir sama, seiring dengan dilakukannya pembukaan lahan sawit baru oleh PT Zamrud Bumi.
Novel ini punya premis yang cukup menarik, investigasi kasus kriminal yang dikaitkan dengan mitos lokal Sumatera Barat tentang Harimau Jadi-Jadian. Penulis membangun narasi cerita dengan sangat baik sehingga menjaga rasa penasaran dan ketegangan yang cukup intens bagi pembaca. Riset akan latar cerita di Pasaman Barat dan bahasa daerah yang digunakan dalam cerita juga akurat dan konsisten.
Tapi saya agak kesulitan menikmati cerita karena beberapa unsur yang saya rasa agak mengganggu dan dirasa kurang pas. Mungkin karena saya sudah terlanjur punya ekspektasi yang sangat tinggi akan novel ini jadi kekecewaan saya juga menjadi lebih terasa, walaupun saya tetap bisa menyelesaikan bukunya hingga selesai.
1. Pilihan nama tokoh utamanya, Pijar Timur Mentari, dengan identitas sebagai seorang laki-laki yang berasal dan lahir di mentawai menurut saya tidak masuk akal dan terlalu didramatisir. Tidak mungkin rasanya ada orang mentawai yang diberi nama demikian kecuali dia punya darah campuran suku lain atau tinggal di rantau. Dalam buku diceritakan kalau orangtua timur adalah suku asli Mentawai yang masih mempraktikkan adat dan kepercayaan leluhur termasuk menggunakan tato motif Sarepak Abak. Bapak Timur mati dibunuh di zaman Orde Baru karena setia dengan tradisi dan adat asli mentawai.
2. Penokohan dan romance tipis antara kedua tokoh utama, Dima dan Timur, terasa membingungkan bagi saya. Entah kenapa karakter mereka sulit saya pahami. Bagi saya karakter mereka kurang disampaikan secara terbuka sehingga sikap mereka terkadang terkesan aneh dan kontradiktif. Penulis seperti ragu-ragu ingin menampilkan sisi romantis tokoh utamanya, mungkin karena ini novel thriller misteri.
3. Pace cerita terlalu lambat bagi saya. Dengan inti-inti cerita yang ada, separuh pertama novel rasanya terlalu panjang dan banyak komponen cerita yang tidak begitu penting, sehingga membaca keseluruhan 371 halaman menjadi agak membosankan.
4. Beberapa logika investigasi agak tidak masuk akal. Diceritakan bahwa pada kasus pembunuhan pertama yang menewaskan 2 pembalak liar, laporan tim forensik menyebutkan bahwa waktu kematian mereka berselang 5 menit. Apakah memang mungkin investigasi forensik menyempitkan waktu kematian hingga menit seperti itu? Dari apa yang saya dengar dan tonton selama ini sepertinya belum memungkinkan sedetil itu. Tapi mungkin saja saya salah. Pada menjelang akhir cerita, saat Timur pergi menjemput Dima karena mau ada badai, disebutkan kalau timur berangkat dari kantor Kaba Jorong ke Kafe Rimbun menggunakan Motor. Tapi setelah tau kalau Dima pergi menuju Desa Durian Ateh lewat jalan belakang kafe yang jaraknya masih sekitar 30 menit berjalan kaki kenapa Timur malah ikutan berjalan kaki padahal dia punya motor? Apalagi mau ada badai dan dia juga sedang terdesak waktu.
Lebih dari itu mungkin saya sebagai orang yang sekali-sekali pulang kampung ke Sumatera Barat agak menyayangkan karena penulis menggambarkan Pasaman Barat begitu kelam dan mencekam, padahal tidak akan terlalu mengganggu ketegangan cerita juga kalau diceritakan apa adanya tentang keindahan alamnya. Sawah-sawah yang hijau, sungai yang mengalir jernih serta perbukitan dan lembah yang cantik memenuhi banyak sudut di Sumatera Barat 😊
Secara keseluruhan menurut saya novel thriller yang cukup tebal ini sangat bisa dinikmati, ceritanya menarik dengan unsur mitos lokal dan isu lingkungan yang segar.
First look. Novel ini menarik. Kita bisa melihat cara kerja wartawan di daerah yang memang perjuangannya nggak mudah. Lalu novel ini mengangkat elemen lokal Sumbar dengan cukup detail, mulai dari bahasa daerah, salah satu tokoh utamanya yang juga orang Mentawai, juga permasalahannya yang sering kali tidak mendapatkan sorotan. Apalagi kalau lagi ada isu gede di ibukota. Lalu penggunaan istilah2 di dalam novel ini pun melalui riset yang cukup ok (setidaknya untuk istilah2 kedokteran)
Untuk novelnya sendiri... Tokoh2nya nggak ada yang berkesan bagiku dari segi penokohan, kecuali tokoh yang punya titi. Jelas ini menarik perhatian banget. Kemudian dari plot. Cukup rapi dan menarik, narasi yang dipakai pun juga ringan jadi enak dibaca. Hanya saja, makin ke belakang, entah gimana jadi agak kecepetan sehingga kecium bau2 plot device. Baik dari plot maupun karakter. Lumayan soft sih, tapi buatku agak mengganggu. Ada adegan yang menurutku jika dihilangkan bisa meningkatkan eskalasi misteri dan membuat pembaca lebih sulit menebak pelakunya.
Solusinya pun sebenarnya bagus, tetapi membayangkan ini Indonesia dan daerah terpencil, aku lumayan takjub pasien dengan luka yang cukup parah bisa bangun selamat. Yah tapi pendapat ini memang debatable sih...
This entire review has been hidden because of spoilers.
I like the idea very much, combining murder mystery with environmental issues thriller. The setting is also interesting, for I’m not familiar with rural West Sumatra, so consider my curiosity peaked. The execution left a lot to be desired, though. Too many repetitive paragraph/ chapter, everything has to be spelled out, as if the writer think us readers cannot catch subtlety or even the information she’s already handed out in the previous chapter (she has to put it again everywhere it’s relevant). Characters voices are the same basically, everyone speaks good Indonesians, and all seem to love shouting and speaking loudly (I can only imagine me as a fly with sensory issue amongst them). Still some gripes but my fingers are tired. I think there’s a very good novel inside this book, just need to be handled by a very competent editor. And it doesn’t have to be 300+ pages.
"Kata orang sih, kalau sering cekcok artinya cocok." — p. 73
Bukan. Ini bukan novel romance. Ini novel horor-misteri-thriller lokal. Menceritakan dua wartawan lokal, Dima dan Timur—yang sering cekcok tapi ternyata cocok—yang sedang meliput peristiwa kematian pembalak liar di perkebunan kelapa sawit. Konon mereka "dibunuh" oleh Inyiak—roh harimau atau manusia setengah harimau yang marah karena hutannya dirusak.
Perpaduan investigasi kriminal, mistis, dan jurnalistik yang dikemas sangat baik.
-----
Actual rating: 4.5⭐️
Biasanya aku baca novel karya Ayu yang romance-romance dan saat baca ini, wow ... top notch! Nggak salah sih masuk ke jajaran juara novel thriller.
Tulisannya rapi. Diksinya baik. Plotnya juga menggiring membaca untuk menebak-nebak ini apakah ulah Inyiak atau malah ulah manusia. Interaksi Dima dan Timur yang gemes tipis romance-nya (ya, iya sih kan ini bukan novel romance, haha). Mereka itu udah duo combo banget.
Risetnya mendalam banget. Tambah pengetahuan tentang budaya dan folklore Minang, dunia jurnalistik, forensik, dan investigasi kriminal. Penulis serasa sedang "menampar" para perusak ekosistem—ya siapa lagi kalau bukan keserakahan manusia—yang berdampak pada bencana.
Menjelang akhir memang terasa sangat lama. Apalagi adegan pertarungan dan pencarian. Kayak duh ... deg-degan banget. Dan ending-nya pas. Ya, masih meninggalkan kisah misteri dibaliknya.
Sudah lama, sejak terakhir kali aku membaca novel misteri-thriller. Jejak Balak membuatku terpincut karena premisnya yang lokal, bukan hanya karena pengambilan latar Sumatra Barat dan mitos Inyiak Balang, namun juga isu ‘akrab’ menyangkut alih fungsi lahan; di mana kasus pembunuhan di sini menjadi pengantar untuk menyingkap selubung penjahat perusahaan korporat yang mengorbankan rakyat kecil.
Aku punya ketertarikan di bidang jurnalistik, dan rasanya menyenangkan menyimak penyelidikan kasus dari sudut pandang jurnalis investigasi yang berkelindan dengan lika-liku dunia media.
Yang agak disayangkan, belum ada 100 halaman, aku sudah bisa langsung menebak pelakunya. Haduh … apalah aku pembaca suudzon yang tidak bisa percaya pada tokoh baik ini. Bisa dibilang, membaca Jejak Balak tidak menghadirkan plot twist buatku, plus aku merasa alurnya menjelang akhir agak diulur-ulur, yang ada malah mengurangi ketegangan setelah identitas si pelaku terungkap.
Well, tapi beres membaca ini aku semakin berharap ada lebih banyak misteri thriller lokal seperti Jejak Balak yang bukan cuma memancing pembaca menebak-nebak, namun juga merasakan keintiman dengan isu-isu dan penggambaran sosial-budaya yang dihadirkan.
First impression setelah baca novel ini yaitu ceritanya sangat mengalir. Isu lingkungan & kebudayaan lokal diangkat disini. Saat baca ini juga merasa comfy meskipun bacanya agak terburu-buru (2 hari). Intinya page turner banger.
Hampir semua unsur yang ada di novel ini juga proporsinya pas, baik dari segi plot, penokohan, apalagi latar terutama latar tempat. romance tipis-tipisnya ga ganggu sama sekali, pelaku & motifnya yang meskipun di pertengahan buku udah ketebak pun tetep ga bikin ceritanya lantas jd bosenin.
Covernya bagus. Plotnya juga menarik. Sayangnya setengah buku pertama terasa flat, baru dapat feel thrillernya mulai chapter 23. Lalu, ajakan menikah Timur terlalu tiba-tiba. Plus aku nggak merasakan chemistry romansa antara Timur & Dima.
lumayan bagus, tetapi agak ngebosenin. sebenarnya bisa dipersingkat jadi 250an halaman saja karena banyak narasi yang bisa dihapus. tetap saja, aku beri apresiasi kepada penulis yang sudah mengangkat budaya lokal sumatra barat yang jarang dibahas.
Dari awal baca kamu bakal mikir, "Beneran nih sejelas ini penulis kasih petunjuk siapa pelakunya? Ah, jangan-jangan jebakan betmen." Jadi kamu terus membaca karena nggak mau ditipu dan nyari petunjuk lain untuk menyangkal hipotesismu sendiri.
siapa sangka cerita yang mengandung hukum adat ini bisa bikin aku susah buat berhenti baca? serius deh, meskipun ceritanya terkesan berat, tapi ternyata ringan banget pas dibaca, penggambaran karakternya gampang disukai. walaupun ada beberapa pake bahasa daerah, penulis selalu kasih catatan kaki buat terjemahannya jadi nggak lost banget. nggak kerasa sekali duduk udah dapet 100-an lembar. tiap ada adegan tegang ikut tegangnya juga. keren banget sih, selain itu dapet pelajaran baru juga, yang paling berkesan penulis kasih catatan kaki tentang perbedaan penyelidikan dan penyidikan.
Sukaaa bangettttt, novel misteri-thriller pertama yang aku baca dan bikin aku jadi suka genre ini. Novel ini tuh ceritanya penggabungan dari beberapa topik permasalahan gitu. Di awal topik kita tuh dikasih pengenalan mengenai kepercayaan masyarakat tentang adanya 𝑖𝑛𝑦𝑖𝑎𝑘 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔 yang dipercaya sebagai leluhur yang menjaga mereka. Dan si 𝑖𝑛𝑦𝑖𝑎𝑘 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔 juga terduga atas kematian para perusak lingkungan di daerah situ. Lalu ada pembahasan mengenai trauma di masa orde baru yang dialami sama Timur, dan dari sini kita bisa tahu kalau trauma masa kecil tuh emang sengaruh itu sama pertumbuhan kita ke masa dewasa. Ada juga masalah beda pemahaman dalam perteman yang kadang menjadi alasan untuk hilangnya hubungan itu. Ada juga dari sisi pemerintahan dan politik, disini kita juga bisa tahu kalau politik tuh emang kotor banget, mereka bisa seenaknya sogok media media supaya media itu memberitakan yang baik tentang mereka, bahkan polisi pun sudah tidak lagi dipercaya karena emang kebanyakan dari mereka lebih berpihak pada penguasa dibanding masyarakat. Ada juga sedikit bumbu romance didalem novel ini antara Dima dan Timur, dari yang awalnya rekan kerja lalu saling mengkhawatirkan satu sama lain (pliss mau beli yang kedua, mau liat mereka nikah). Tapi walaupun pembahasannya banyak, novel ini dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami.
Dari awal baca bener-bener suka sama sejarah dan mitos mitosnya. Ketakutan yang dirasain Dima bener bener kebawa ke rl sih. Terus waktu udah ketahuan kalau pelakunya itu si Mahzar dan Dima disekap bener bener memancing adrenalin, suasana mencekam, ketakutan bercampur dengan gelisah ditemani hujan dan petir yang makin ganas. Dan walaupun aku udah menduga duga kalau si Mahzar pelaku pembunuhan berantai itu juga pelaku pembunuhan ayahnya, tapi pas tahu itu emang bener kayak kok bisa sih, entah darimana pikiran dia sampai bisa melakukan hal sekeji itu? berulang ulang dan kerangkanya disimpen pula. Kalau aku jadi si Dima fiks sih bakal truma berat, orang yang ngasih kesan ramah, baik, bijak, ternyata aslinya pembunuh berdarah dingin yang hatinya diselimuti dendam akan tanah nagarinya yang dirampas oleh orang orang tak beradab.
Sebenernya menurut aku gak ada yang sebenar benarnya baik dan gak ada yang sebenar benarnya jahat. Di satu sisi Mahzar gak suka kalau alam dirusak karena dia amat cinta sama lingkungan, ada benarnya juga pamahaman dia, karena ketika alam rusak maka manusia juga yang akan menanggung resiko itu. Tetapi di sisi lain orang orang juga butuh makan, mereka butuh pekerjaan.
ceritanya bagus dan relevan dgn keadaan skrg. perkebunan sawit (yg kmrn rame krna jd program presiden lu pada), pembalak liar, konflik antara warga-perusahaan swasta-pemerintah, konflik tanah adat, dsb nya cukup merepresentasikan keadaan di indo, karakter villainnya yg sgt psiko (tp menggantung itu) jg cukup okelah.. plus, aku jadi tau tentang urban legend di sumatra. cuma mood ku agak down pas adegan di RS dan epilog:))
Saya memutuskan membaca Jejak Balak karena lagi kehabisan stok bacaan di Gramedia Digital. Ternyata, buku ini adalah juara II Gramedia Writing Project. Sepertinya, ini buku bergenre thriller pertama yang saya baca.
Ayu Welirang mengisahkan kisah Dima, seorang jurnalis di Kaba Jorong, bersama rekannya dalam mengungkap kasus kematian dua pembalak liar secara misterius. Ceritanya dituturkan dengan gaya yang cukup sederhana, tapi tetap berhasil membangun nuansa misteri dan ketegangan, khususnya di bagian akhir.
Isu yang diangkat penulis—kesadaran terkait lingkungan dan dampak eksploitasi alam— sangat menarik. Saya rasa buku ini cocok dan layak untuk dapat rating 3,5.
Reread! Ada dua adegan yg cukup menggangguku. Pertama: adegan satu kamar hotel. Jika memang Timur terlalu lelah & ingin tidur di kamar Dima, bukankah lebih elok jika Dima saja yg pindah ke kamar satunya? There's absolutely no reason untuk mereka jadi tidur sekamar. Apalagi adegan "menunjukkan tato" yg menurutku tidak perlu. Aku lebih suka reveal tato sebelumnya, saat di mes & Timur tidak sengaja menunjukkan tatonya karena ya memang dia biasa berkeliaran di mes tanpa memakai atasan. Lebih natural & tidak out of character.
Adegan kedua yg menurutku juga sangat out of character & irrelevant, lagi2 saat Dima & Timur sekamar, adalah saat Dima terbangun di ranjang Timur. Kenapa? Jika memang malamnya Dima ketiduran, bukan lebih wajar jika Timur membangunkan Dima dulu, "Pindah ke tempat tidurku aja!" daripada tiba2 menggendong? Dan Dima nggak membahas itu, seakan normal aja dia digendong cowok saat kondisi tidak sadar?
Lalu, kenapa fokusku malah di mereka berdua bukannya di kasus pembalakan & pembunuhan ini?
Yg bagus2 sudah aku ungkapkan sebelumnya, dan tambah poin plus Dima tidak banyak tingkah kali ini. Open ending juga membantu pembaca untuk tidak menghakimi, karena bagaimanapun yg dilakukan pelaku salah tp juga ada benarnya (tapi kan kita tidak mungkin tidak menghabisi kejahatan kan, apapun alasannya, jd endingnya adalah ending paling pas disini).
It's as if you are there in Pasaman Barat and that shows a very thorough research in terms of geography. Lokasi bukan hanya tempelan & that's great!
Aku juga akan setres, ngeluh & masuk angin mulu kalok dipindahtugaskan ke tempat yg kemana2 jauh, banyak hutan & tidak ada indomaret 😮💨