Sejak diketahui memiliki penyakit yang cukup parah, Sentana Aptodarmo selalu dijaga dan diperlakukan bak hiasan kaca yang mudah pecah oleh orang-orang di sekitarnya. Hidup Sentana selalu diatur oleh keluarganya, termasuk menjodohkannya dengan perempuan ayu nan anggun bernama Saraswati.
Setahun menjelang hari pernikahannya, Sentana meminta izin pergi ke luar kota untuk menemui penjual buku yang datang dari Netherlands. Karena rasa penasaran, Sentana sekaligus mengunjungi sebuah rumah bordil. Ia terpukau dengan alunan gending dan keramaian yang untuk pertama kalinya ia lihat, termasuk sesosok penari tercantik dan terkenal di rumah bordil itu. Tiba-tiba, penari yang bernama Lembah itu memohon kepada Sentana untuk menyelamatkannya. Untuk pertama kalinya, Sentana merasa dibutuhkan. Hatinya terketuk. Ia pun merelakan seluruh harta yang dibawanya saat itu untuk membebaskan Lembah.
Perlahan, hati Sentana pun bertaut pada Lembah hingga terucap janji bahwa ia akan melindungi dan menikahi Lembah. Namun, penolakan dari keluarganya sewajarnya terjadi, terlebih lagi Sentana juga sudah terikat perjodohan dengan Saraswati.
Meski sejak bertemu dengan Lembah, Sentana mulai berani mengambil keputusan demi keputusan untuk jalan hidupnya sendiri, tapi keputusan apa yang akan diambilnya ketika ia akhirnya berhadapan dengan Saraswati?
Frustasi sekali aku pas baca ini‼️ Bener-bener dibuat pusing sama ceritanya, gregetan poll!
Sang Maha Sentana ini ceritain tentang Sentana Aptodarmo yang selalu dijaga dikarenakan dia memiliki penyakit yang cukup parah. Sentana pun sudah dijodohkan dengan Saraswati namun pada suatu hari, ia bertemu dengan Lembah, seorang penari di rumah bordil yang membuat Sentana jatuh hati tapi Lembah bukanlah pasangan yang sepadan untuk Sentana maka penolakan pun didapatkan Lembah dari keluarga Sentana.
── .✦
Kedua kalinya baca karyanya kak Filiana dan aku cukup puas sama plot yang disuguhi di buku ini walaupun menurutku, konflik-konfliknya somehow agak terasa tumpang tindih gitu jadi di beberapa bagian, kerasa tergesa penyelesaiannya cuma untuk setiap konflik yang dihadirkan itu tension udah pas dan bener-bener bikin gregetan sekaligus frustasi😭🤏🏻 Aku kayak beneran dibikin pen misuh aja tiap kali liat tingkah Sentana yang ngang ngong banget tiap kali berhadapan dengan Lembah dan Saraswati kayak plin plan banget terus belum lagi konflik keluarga Sentana yang nambah migrain deh😤 Pokoknya plotnya kagak main dah, angst-nya kerasa banget! Aku sampai exhausted banget rasanya pas baca ini!
Alurnya gunain alur maju terus flow alurnya dari awal sampai akhir juga okay menurutku, termasuk ngalir terus pergantian scenes-nya juga okay walau memang masih ada beberapa yang jumpy😌 Untuk paced-nya, aku rasa agak mixed ya karena di beberapa parts paced-nya okay kayak pas aja kecepatannya tapi makin lama aku baca, aku rasa mulai slow paced dan somehow kerasa bosen aja apalagi mendekati endingnya kayak aku rasanya pengen cepet-cepet kelarin buku ini, saking udah gak tahan lagi sama konflik-konfliknya yang agak kerasa muter-muter yak🥲 cuma secara keseluruhan, still a good hisfic and worth to read kalo kalian doyan drama keluarga dan perbedaan kasta xixixi
Narasinya Kak Filiana okay menurutku tapi jujur di Sang Maha Sentana ini kerasa poetic banget dan ada beberapa penggunaan istilah yang sulit untuk ditangkap dalam sekali baca dan jujur, ini bikin aku jadi skip-skip bacanya dan fokus ke plot aja selama baca😅 I tried my best to enjoy this book tapi aku gak bisa terlalu klik sama narasinya ehehe cuma ya secara keseluruhan, narasinya okay dalam membangun atmosfer ceritanya jadi latar tempatnya bisa kubayangin dan suasananya juga bisa aku rasakan jadi perasaan-perasaan tokohnya ya tersampaikan dengan baik🫰🏻
Tokoh dan penokohannya tuh aku kinda love-hate ehehe tapi entah kenapa dari 3 tokoh utama di buku ini, aku kesel sama ke-plinplan-an mereka. Mulai dari Sentana sebagai laki-laki yang jauh dari kata tegas, PHP jatuhnya dan aku kesel sama perasaan dia yang temporary gitu. Hari ini bisa bilang sayang sama Lembah dan janjiin ini itu eh tapi beberapa hari lagi udah jatuh hati berat sama Saraswati dan berjanji ke Saraswati wkwkwk😭 kayak apaan sih jadi laki-laki, kok gak ada pendirian dan terlalu mudah buat umbar janji, ya tapi setelah dipikir-pikir kalo manusia dihadapin sama cinta kadang logikanya shut down so, Sentana dan sikapnya masih make sense apalagi dengan katar belakang dia yang dikekang jadi sekali bebas ya bablas dan kalo sikap ditujukan untuk membuat pembaca emosi, penokohannya berhasil xixixi🫶🏻 Selain Sentana, Lembah maupun Saraswati juga terlalu cepat ngambil suatu keputusan dan bikin keadaan makin kacau. Aku gak bisa membela salah satu dari mereka, mereka korban dari Sentana menurutku. Jadi selama baca ini, aku gak kepikiran buat milih salah satu dari mereka untuk bersanding sama Sentana karena ya mereka deserve someone better than Sentana ehehe🥲 but let’s say ending cerita ini make sense dan aku cukup suka walau aku berharap Lembah maupun Saraswati bisa jalan tanpa Sentana tapi ya udah deh, penutupnya gong dan heartwarming!
Aku ambil suatu pelajaran soal ketegasan dalam mengambil pilihan karena tanpa ada ketegasan di diri seseorang maka akan menimbulkan kekacauan😌✨Overall, it’s a good hisfic book dan aku rekomendasiin buat yang suka hisfic dan drama perbedaan kasta!✌🏻
Mereka yang terpandang, wajib bersanding dengan yang sejajar. (p.197)
Sentana Aptodarmo adalah anak bungsu dari seorang priayi yang karena sering sakit-sakitan, maka dia diperlakukan dengan sangat hati-hati. Suatu hari dia pergi ke luar kota untuk membeli buku, namun karena rasa penasaran yang tinggi, dia malah ke rumah bordir dan bertemu dengan Lembah, penari yang memohon kepada Sentana untuk diselamatkan. Sentana pun menebus Lembah dari sang pemilik rumah bordir. Sentana berjanji akan menikahi Lembah, namun dia dilema karena telah bertunangan dengan Saraswasti. Sentana pun di antara dua pilihan: yang sejajar dan sebanding dengannya atau kasta kelas bawah yang bahkan tak bernilai karena seorang wanita penghibur.
Ini adalah buku kedua karya penulis yang aku baca. Aku cukup menikmati dengan karya beliau yang Ndoro Dharmabumi, tapi kalau yang Sang Maha Sentana ini mix feeling banget.
1. Inkonsistensi karakter Di awal hingga pertengahan, aku suka banget karakter Saraswati. Di tahun 1800-an, pemikiran dan sikap Saraswati itu advanced banget pada masanya. Mana dia hatinya lapang dan sabar pula. Ya, perempuan mana yang rela laki-lakinya tinggal bersama perempuan lain yang disayanginya. Mana rela dimadu pula. Ini cuma Saraswati aja yang demikian. Tapi, dia memiliki alasan yang menurutku [memang bodoh] menunjukkan nilainya sebagai seorang perempuan yang tangguh.
Namun, saat menuju akhir, tetiba bermanuver. Aku suka twist-nya, yang disangka villain, nggak tahunya juru slamat, tapi hal itu bikin pengembangan karakter Saraswati jadi jatuh sejatuh-jatuhnya. Awalnya ku sebel banget sama Lembah yang agak tidak tahu diri, ternyata Saraswati di akhir memimpin klasemen.
2. Hadirnya karakter baru yang tiba-tiba Tidak ada bridging-nya pula. Tiba-tiba. Tiba-tiba ada yang sebenarnya udah niat mau nikahin, tapi kehalang restu bapak. Tiba-tiba ternyata pernah ada yang melamar, tapi ditolak, terus balik lagi meminang dan malah diterima padahal statusnya masih jadi istri orang, woy!! Masalahnya ini bukan subplot atau selingan, tapi membuat manuver yang tajam menukik padahal udah sisa kurang dari 20 halaman lagi lho. Kayak 280 halaman sekiannya tuh ngapain, tetiba escalated quickly ini.
Sementara yang aku suka dari buku ini adalah penulis selalu memakai diksi-diksi yang indah. Menambah kosakata Bahasa Indonesiaku. Ini kalau searching di google, keyword-nya, "kata-kata estetik Bahasa Indonesia."
Akhir kata, kalau suka genre hisfic-romance, monggo dibaca. Tapi, ya, mesti banyak berlapang dada seperti Saraswati di penghujung akhir cerita.
Beli buku ini setelah baca Tanah bangsawan. Mungkin ekspektasi aku yg ketinggian sih kyknya, tapi ngantuk pol baca buku ini. Sentana jg kayak cowok yg mencla-mencle sih