Ida Fitri membangun dunia fiksinya berlandaskan latar Aceh yang kental—baik sejarah, mitos-mitosnya, maupun kehidupan masyarakat- nya dulu dan kini. Yang-khayali pun berbaur dengan yang-faktual, yang-historis dengan yang-imajinatif, yang-profan dengan yang-religius, menguak aneka segi kehidupan yang dijalani oleh tokoh-tokohnya— segi-segi yang dipenuhi dengan warisan kekerasan militerisme, kemunafikan, sekaligus juga ketakjuban dan ketegaran pasca-tsunami.
“Aku lahir di pedalaman Aceh. Kematian-kematian tanpa alasan di tempat asalku merupakan salah satu alasan untuk menjadi pengembara, meski tidak mudah untuk menjadi pengembara yang baik. Untuk bertahan hidup, aku harus menguasai ilmu berubah wujud, menjadi apa saja yang berada di sekitarku; misalnya: saat berada di sebuah kota yang dihuni oleh orang- orang kaya, aku harus hidup seperti orang kaya, atau paling tidak berpura-pura menjadi orang kaya dengan berpakaian seperti pakaian mereka.”
Ida Fitri seharusnya bertemu dengan yang berani menantang dia untuk "mengolah" dan mengobrak-abrik beberapa cerpen biar matang. Sebab ini kebanyakan cerpen media, akan "bagaimana" gitu kalau mau mengamati perkembangan karakter, konflik yang mendalam, dsb. Sekadar cuplikan adegan.
Tidak banyak cerpen yang membekas. Aku justru tertarik sama pemikul jamban; entah mengapa aku suka dengan metafora. Sisanya oke, tapi tidak menempel erat di kepala.
Meski ini adalah buku pertama karya Ida Fitri yang saya baca, tetapi sebelumnya saya sempat membaca salah satu cerpennya yang termuat di antologi “Berita Kehilangan”. Untuk seterusnya, demi menghormati Ida Fitri yang berumur lebih tua dari saya, maka saya akan menyebutnya dengan Kak Ida. Dalam buku itu, Kak Ida menyumbang satu cerpen berjudul “Perempuan Berlentera” yang mengisahkan tentang seorang dara muda yang diminta untuk memberi kesaksian pada seseorang peneliti dari luar terkait konflik di masa lalu yang sempat mendera Aceh. Dan meski cerita itu sudah cukup lama saya baca, tetapi saya masih ingat apa yang membuat sang dara membisu lama, sebelum akhirnya memberikan kesaksian pada sang peneliti. . Untuk racauan yang lebih lengkap bisa dibaca di link berikut. https://x.com/gugurboenga/status/1734...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca karya tentang Aceh yang ditulis oleh penulis Aceh tuh selalu terasa sangat orisinil. "Feel" ini gak akan kalian dapati pada karya tentang Aceh yang ditulis oleh penulis non Aceh. Percaya deh...
Entah mungkin karena kesusastraan Aceh yang telah ajeg sejak sekian abad sebelumnya yang pada akhirnya mewarisi warna khas pada karya generasi penulis modern, atau mungkin karena eratnya nilai budaya pada kehidupan sehari-hari mereka. Entahlah...
Gw gak bakal notice bahwa Kak Ida Fitri ini menyumbangkan salah satu cerpennya pada Antologi Berita Kehilangan terbitan Optimus kalau Gielang Gugurboenga gak ngasih tau di utasnya.
Kumcer Neraka yang Turun ke Kebun Kelapa ini berisi 18 cerpen yang hampir semuanya pernah diterbitkan di koran pada rentang 2017 sampai 2020. Sangat produktif.
Tentu saja tema dan narasi yang diusung oleh penulis tak lepas dari hal-hal historis tentang Aceh, yang antara lain: kejayaan kerajaan Aceh, operasi militer, peristiwa Tsunami 2004, korban pembantaian 1965 hingga menjamurnya ladang ganja pada suatu masa.
Di luar itu penulis seolah mencoba bereksperimen dengan menulis hal-hal magis yang berkelindan dengan aspek faktual sambil berusaha satir terhadap perilaku-perilaku buruk manusia.
Ada gaya narasi yang cukup unik pada beberapa cerpen, penulis mencoba menarasikan tokoh aku melalui tokoh aku yang lain (gimana ya nyebutnya, pokoknya begitulah). Narasi ini kalau tidak dibaca cepat mungkin pembacanya tiba-tiba kehilangan tokoh awalnya.
Salut untuk Marjin Kiri yang berani menerbitkan kumcer ini, gw meyakini Marjin Kiri punya standar kurasi yang baik, dan lalu menempatkan Ida Fitri pada standar itu, selamat!.
Terlepas dari beberapa cerita yang amat personal dan lokal (sehingga pembaca luar mesti mencari tahu lebih jauh tentang nama tokoh atau lokasi atau peristiwa), tapi beberapa yang lain benar-benar liar dan "enak" dibaca.
Buku cerita ini menarik buatku karena judulnya, aku langsung check out. Ternyata isinya sangat menyenangkan karena kumpulan cerita dengan latar etnis Aceh yang kuat serta pengalaman kedaerahan yang dalam. Namun tidak meninggalkan fenomena unik misalnya kisah soal queer atau hubungan dengan orang asing. Sungguh segar dan menyenangkan membacanya.
Meski beberapa cerita aku kesulitan menemukan konflik atau bahkan memaknai konflik. Jadi ya laju saja biar lanjut tanpa kesan berarti.
Secara keseluruhan buku ini menghibur, #IdaFitri begitu kuat memberikan tekanan kepada kita untuk terus melihat kembali dimana akar kita.
Baru kali ini aku membaca satu buku yang memang full berlatar Aceh. Beberapa cerita kurasa sangat personal, ada yang terkesan liar, ada yang kurasa cukup mistis dan misterius, ada yang sulit betul kumengerti makna disebalik ceritanya, dan ada juga yang betul-betul menancap kuat di kepala.
Buku ini adalah sekumpulan cerita pendek Ida Fitri yang pernah diterbitkan, favoritku : 1. Pemikul Jamban (Berkesan sekali, walau agak sulit menerka maknanya, sukses bikin menganga) 2. Bayangan Bahtera Nuh (Jujur sedih banget baca cerita ini) 3. Ratu Laron (Liar bangetttt ahahahaha) 4. Kesaksian Seorang Bocah (plot twist!!!) 5. Perihal Lukmanul Hakim dan Kisah dalam Kitab Suci (tak bisa berkata-kata 😭)
Senang sekali berkesempatan baca buku ini. Dan ini buku Marjin Kiri pertamaku, bersemangat untuk baca buku-buku lainnya juga! :)
Sejujurnya, agak mixed feelings dengan cerpen-cerpen di buku ini. Ada yang abstrak banget sampai susah dipahami, ada yang bahkan nggak meninggalkan cukup kesan untuk kuingat. Tapi cerpen-cerpen yg idenya sinting dan di luar nalar justru jadi favoritku.
Membaca kumpulan cerpen ini membuatku sedikit banyak bersentuhan dengan sosial-budaya Aceh. Walau tampaknya aku masih harus mencari tahu sendiri untuk lebih "menangkap" peristiwa-peristiwa yang disinggung di sini.
Cerita-cerita yang jadi favoritku: 1. Ratu Laron: Ini cerita paling aneh dan edan, tapi jadi favoritku. Tentang pacarnya si tokoh utama yg tiba berubah jadi laron raksasa. Intinya, pagi hariku berubah jadi histeris setelah baca ini.
2. Panggung Terhukum: Cerita yang menggambarkan realita masyarakat kita dalam memandang partai palu arit & komun*s (?)
3. Perilaku Penyembah Pohon: Tentang orang-orang yang bikin aturan, tapi malah mereka sendiri yang melanggar. Hmmm kayak gak asing.
Sudah lama sekali tidak membaca karya-karya penulis dari Aceh. Dan entah kenapa penulis dari Aceh selalu memiliki ciri khas mereka sendiri, kita akan langsung tahu sebuah tulisan bahwa tulisan tersebut dari penulis Aceh. Dan buku ini juga membawa ciri khas itu. Walaupun cerita-ceritanya belum ada yang membekas di saya. Tapi “feel” Aceh muda didapatkan dari buku ini.
Buku berisi 18 cerpen yang sebelumnya terbit di koran antara 2017–2020. Meskipun ceritanya lahir dari waktu yang berbeda-beda, rasanya seperti berjalan melewati satu lanskap yang sama: Aceh, dengan lapisan ingatan, luka, dan kehidupan sehari-hari yang nggak pernah benar-benar muncul di buku pelajaran sekolah dulu.
Cerpen yang paling lama tinggal di kepalaku: Bayangan Bahtera Nuh. Tentang tsunami 2004, peristiwa yang selama ini cuma aku kenal dari dokumenter, foto, dan potongan berita.
Cara Kak Ida menuliskannya membuat hari itu terasa lebih dekat, tapi tidak pernah memaksa pembaca untuk “mengerti” hal-hal yang memang hanya bisa dipahami dia yang mengalaminya. Mungkin cerpen ini terasa makin membekas untukku karena Aceh baru saja mengalami banjir besar dan proses penanganan pemulihannya, ah, kita sama-sama tau.
Perilaku Penyembah Pohon, tentang kemunafikan yang berlindung di balik status sosial dan agama. Aku membacanya saat berita tentang polisi syariat yang dihukum cambuk sedang ramai. Di berita, katanya itu untuk pertama kali. Tapi setelah baca cerpen ini, aku merasa perlu meralat sedikit: mungkin itu yang pertama kali ketahuan.
Lalu Ratu Laron, alegori yang… AH. Singkat, tapi nancep.
Yang paling membekas buatku mungkin Kesaksian Seorang Bocah. Setelah membaca itu, aku kebetulan ngobrol dengan seorang teman dari Aceh yang juga aktivis. Dari dia, aku mendengar konteks dan lapisan-lapisan cerita yang nggak aku temukan di buku.
Rasanya membuatku sadar bahwa membaca cerita tentang konflik itu satu hal, tapi mendengar pengalaman langsung dari seseorang yang tumbuh di sana adalah hal yang lain sama sekali.
Pada akhirnya, buku ini tidak membuatku tiba-tiba memahami Aceh karena aku tahu aku berada di luar lingkaran pengalaman itu. Ada wilayah-wilayah pengalaman yang hanya bisa kita dekati sambil menjaga jarak yang sopan. Kumpulan cerpen ini mengingatkanku soal itu.
Menamatkan kumcer tipis terbitan Marjin Kiri ini di hari kedua lebaran. Membaca sekian cerita di dalamnya bagiku adalah membuka ingatan akan masa-masa suram operasi militer di Aceh sekira dua dekade silam; sebuah tindakan negara yang kemudian menghadirkan banyak peristiwa buruk bagi penduduk di sana. Dan hal ini yang dalam penilaianku menjadi tulang punggung bagi sebagian besar cerita di dalamnya. Hanya memang, di beberapa cerita, tegangan maupun ujung dari cerita nampak masih menggantung, dan rasanya akan menarik kalau bisa dipanjangkan lagi.
Yang jelas, membaca serangkaian kisah pendek dari buku ini menjadikanku berpikir terus menerus: betapa suram, ruwet, dan peningnya hidup di bawah kuasa militerisme. Mau dalam bentuk apapun, kehidupan yang berada di bawah tekanan dan aturan moncong senjata menjadikan individu manusia menjadi dianggap tidak lebih dari sekadar benda atau robot semata. Membaca kumcer ini memantikku untuk melanjutkan menyelami kisah-kisah dari Ida Fitri di buku-bukunya yang lain.
“Neraka yang Turun ke Kebun Kelapa” diambil dari salah satu judul dalam delapan belas cerpen karya Ida Fitri yang sebelumnya pernah terbit di sejumlah media besar Indonesia dalam rentang 2017–2022.
Dalam kumcer ini, Ida tidak sekadar menyajikan cerpen-cerpen yang menyenangkan, tetapi juga terasa autentik dan personal. Ida mampu merefleksikan realitas seputar Aceh maupun mengekspresikan sindirannya terhadap isu sejarah-sosial-politik-dan-budaya setempat dalam suara beragam: beberapa mengandung ironi mendalam; mengusung masa-masa suram konflik 1965 hingga operasi militer serta luka dan duka bencana tsunami; pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari; menyibak kehidupan manusia yang penuh pencitraan dan kemunafikan; sampai makmurnya kehidupan petani berkat ladang ganja.
Sekumpulan cerpen dengan tingkat kekuatan yang beragam; dengan tingkat khayal yang bervariasi.
Beberapa mampu meninggalkan jejak kehadiran dalam waktu yang lama, sedangkan beberapa yang lain menguap begitu saja.
Beberapa sangat gamblang, beberapa kelewat sureal.
Dua hal yang pasti: Latar Acehnya kental tapi tidak cukup mudah untuk ditangkap oleh orang asing, dan—mungkin juga jadi penyebab hal sebelumnya—penulisannya sering gagal menyampaikan maksud.
keren asli, kenal Kak Ida karena tulisannya di Berita Kehilangan. kemudian, melihat buku ini di Togamas, tanpa ragu, langsung sikat. aku amazed dengan latar Acehnya yang ngena banget meski aku sendiri pun belum pernah ke sana. langsung punya keinginan konkret: mengunjungi Aceh!