Saras tidak pernah berpikir kalau kisah cintanya akan jadi begini. Dulu, hanya ada dua pria di dunia ini yang Saras inginkan untuk jadi pendampingnya: dokter Riza si mahasempurna atau Jerro Atma, fotografer terkenal.
Siapa sangka, kini Saras malah sibuk menunggu ‘mantan musuh’ kembali pulang ke Indonesia. Pria yang meminta hatinya dua jam sebelum berangkat ke Amerika, dan membuat Saras merasakan hubungan yang terpisah benua. Tak apa, Saras yakin mereka bisa melaluinya, karena apa susahnya menunggu dan mempertahankan perasaan asalkan dia benar-benar cinta?
Ternyata, menunggu dan bertahan tidak semudah yang Saras pikirkan. Masalah dan kesalahpahaman terus-terusan datang dan membuat Saras mempertanyakan masa depan hubungan. Akankah Saras bersikeras bertahan saat seseorang yang lain hadir dan memberikan jawaban yang lebih masuk akal?
Saya sudah lama nggak baca karya Kak Pradnya Paramitha dan ternyata tulisannya masih seru banget untuk dibaca sekali duduk. Terus saya baru tau kalau ini lanjutan dari Better Than This yang saya baca 6 tahun lalu mungkin?
Saya kagum gimana karakter di buku ini masih konsisten seperti buku pertama padahal jarak antara penerbitan buku pertama dan kedua lumayan jauh. Saras dengan sifatnya yang masih kekanakan dan Leo yang masih aja lempeng dan tenang. Konfliknya nggak gimana-gimana karna hanya seputar dua orang yang kurang komunikasi aja tapi masalahnya jadi merembet kemana-mana. Tipikal konflik yang disuguhin penulis seperti novel-novelnya yang lain tapi itu malah yang saya suka.
Yah walaupun masih ada yang kesannya bolong terutama pada permasalahan Mahesa sama Saras, tapi buku ini fresh buat saya baca di long weekend kayak gini.
Sebenarnya sampai 80% buku aku berniat kasih 3 bintang karena secapek itu woiiii. Baca ini nggak bikin bahagiaaa. Tapi epilog dan bonus chapter-nya mengubah pikiranku. Memang arti berjuang buat orang-orang itu beda, tapi buat Leo, apa yang dia lakuin termasuk luar biasa (menurutku). Saras ternyata masih sama menyebalkannya, kalau di dunia nyata aku pasti ikut jadi kroco Morrie. Musuhin bukan karena fafifu, melainkan nge-judge Saras sebagai pick me girl. Mengcapek sekali memang Mbak satu ini.
Aku suka banget pas mereka bahas tentang komunikasi. Dua-duanya jelas salah, jadi makin suka pas nggak maksa balikan dengan cepat. Tapi asli, kalau bukan novel, pasti mereka bubarrr tanpa pernah ada sinyal balikan alias bablas aja udah langsung jadi stranger lagi.
Panji masih jadi favoritku, biarpun di depan agak sebal juga wkwkwkwk tapi yah kalau Panji nggak tiba-tiba menomorduakan Saras, Mahesa nggak bakal masuk kan?
Secara objektif pakai otak editor, aku menyadari apa-apa yang ada di buku ini pas. Tapi sebagai pembaca, apalagi penggemar berat Kak Pradnya, I knew she can do better than this.
Oh, sama teknisnya aduhai. Nggak parah sampai tabrak lari, tapi tetap banyak yang mesti diperbaiki. Belum lagi banyak kalimat yang nggak lengkap, kayak kurang “yang” atau malah kata kerjanya kehapus nggak sengaja soalnya jadi beneran bolong gitu. Tapi balik lagi, aku tahu ini naskah lama. Eh tapi Nico juga naskah lama, buktinya bisa bikin aku jatuh cinta… yah, sudahlah memang selalu ada saatnya untuk yang pertama. Jadi ingat Algoritme Rasa, itu juga novel yang bikin perasaanku ambigu, tapi nggak ngalahin After Wedding yang dengan lantang kuakui tidak kusukai wkwkwk.
Tebak sebahagia apa aku bisa selesaiin ini buku? Yang jelas sesenang dan selega ituuuuu. Gk tahu ya, kayaknya aku baca ini di waktu yang salah. Gak tahu kenapa juga aku bisa sekesel ini sama Saras. Tapi emang aku sekesel itu!!!
Tapi yang jelas, buku ini punya beberapa trope yang aku suka. Semua trope di buku ini nggak ada yang kusuka malah. Ditambah, penulisnya mengolah karakter Saras semenyebalkan ini, makinlah aku terbawa emosi. Tepuk tangan duku buat Kak Pradnya, karena jarang banget gagal bikin karakter cewek dari sisi gelap cewek-cewek yang ada di dunia. Kek ya, cewek tuh emang kebanyakan gitu sih. Tapi khusus untuk Saras, wah, another level diamah.
1,75 🌟 juga ya itu satu buat narasi dan sisanya buat karakternya yg banyak cacatnya sana sini.
Oke, jadi trope di cerita ini adalah:
1. Miscommunication ☑ 2. Love triangle ☑ 3. Cheating ☑
Gini ya. Aku tahu Leo juga salah. Dia terlalu pede kalau dia tahu kebahagiaan orang dengan cara egois. Kek misal, Leo tahu LDR itu menyiksa mereka, dan Saras sama Leo bkalan seneng kalau mereka deketan. Jadi dia ngebut thesis. Nah masalahnya, dia nebut, tapi mutusin kontak ama Saras tanpa bilang Saras dulu. Dan ya dia juga nggak pernah ngomong ama apa yang dia rasain.
Tapi Saras itu ada di level yang berbeda. Jujur ya, ini ada dri POV Saras, tapi dia berjuanh buat Leo tuh apa sih?????? Di buku 1 doang dia ngejar Leo, tapi skrang tuh dia effortless banget tapi nyalah2in Leo??? Pkis dooooong. Dia tuh ngerasa banget dia paling bener aja gitu. Diamah gk salah. Dia tuh nggak nyadar ya, kalau dia tuh ngelakuin hal, yang dia nggak suka kalau Leo ngelakuin itu. Tapi ya Saras mah boleh. Aneh banget nih cewek satu.
Aku malahan kek mending Leo tuh nggak usalah ama Saras, atau biarinlah kali ini Saras yang berjuang setelah dia selesai ama dirinya sendiri. Tapi ya, semua orang suka Happy Ending jadi ya udah. Aku juga ya oke oke aja sama ending di buku walaupun tetep rada gedeg ama si Tuan Putri satu ini.
Karakter yang banyak cacatnya bagus sih, tapi kalau nggak lovable ya susah juga untuk disimpatiin.
Mahesa juga. Diiiih dasar lu PHO! Nggak ngerti etika yah dia mah. Seenggaknya gk usahlah nyisir2 dulu kalau gebetanmu masih punya pacar. Suruh dulu dia putus baru main cium2. Kesel banget sama Mahesa ih. Kesel aku ke Saras sama ke Mahesa itu sama besarnya. Sayang aja dia mah nggak negitu ditunjukin POV nya, jadi ya cuman dari sana aja aku bisa marah-marah ke dia.
Tahulah. Yang penting aku lega udah beresin buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aaaaaahh….. ngikutin dari better than this, udah pasti agak kesel sm si Saras yaa yg masiiih hobi OVT. Tp jujur bang Leo tercinta si KUHP berjalan yang ekspresinya cem papan (dataaaaaar2 aja) pastilah bikin siapapun yg punya cowo macem dia bawaannya past OVT🤭. Ya gmn yaa dgn level genius kyk dia pastilah byk yg ngedeketin.
Jujur sempet ada kepikiran kl jd Saras buat tergoda knp sih gk sm Mahes aja, secara seumuran trs dukung apa yg di cita2in diajak ngobrol nyambung. Tapi spt yg Panji bilang mgkn Saras kangen sm Leo dan Mahes dtg ngisi kekosongan posisi Leo.
Duh baca ini bener2 bikin jedag jedug sendiri, takut ini dan itu, takut Saras bakal kehilangan semua. Tapiii kak Pradnya sungguh baik hati😍, aku sukaaaa bacanyaaa merinding woooooy, pengen nangiiiis liat perjuangannya Leo.
PARAAAAH! Saras ini apa ya, nggak tahu deh, kayaknya bakal jadi love-hate relationship chara-ku. Awalnya kayak okelah dia kesal begini dan begitu, tapi karena buku ini pakai sudut pandang orang pertama (dari sisi dia), rasanya kepengin marah pas tahu kelakuannya.
Oke, jadi buku ini lanjutannya Better Than This di mana Saras menjalani hubungan jarak jauh dengan Leo. Seperti pasangan LDR pada umumnya, komunikasi Saras-Leo buruk banget. Leo yang jarang kasih kabar, perbedaan waktu belasan jam, dan nggak kuatnya feeling mereka satu sama lain.
Yah, kalau bisa mengelak sih, hubungan mereka emang nggak sekuat itu, kan? Mengingat awalnya mereka musuhan, terus jarak beberapa bulan jadi pasangan, dan beberapa jam setelahnya langsung LDR. Wajar banget nggak ada yang bisa ngertiin cara komunikasi masing-masing.
Saras emang sengaja dibikin jadi karakter yang keras kepala, sih. Mengingat dia dari buku pertama kukuh banget sama mimpinya, dia bisa nentang masukan dari Leo yang kalau dicerna dengan baik tuh baik buat Saras sendiri. Pas di akhir Saras sadar semua kesalahpahaman berawal dari perilaku yang nggak dia sadari aku malah senang haha. Sori banget, Ras, tapi lu emang nyebelin abis :(((
Apakah Leo nggak punya porsi kesalahan? Oh, ya tentu tidak. Inget kan, kubilang komunikasi mereka ini jelek banget? Nah, Leo di sini kayak pegang prinsip "mending dijalani, nggak usah koar-koar duluan, nanti kalau hasilnya buruk malah jadi runyam dan bikin sedih". Alias kalau lagi ngerjain sesuatu yang nggak pasti tapi udah sesumbar ke mana-mana nanti pamali hasilnya malah jelek. Kesan yang aku tangkap begitulah. Kesel banget soalnya ini bukan project, Leo, ini hubungan. Sedih banget kamu mikir begitu :(
Tapi Leo ini bucin banget. He fell first, he feel harder. Agak sayang karena nggak tahu pemikiran Leo dan sudut pandang dia jadi nggak paham apa yang sebenernya dia rasain. Tapi, yang pasti waktu Saras bersikap (agak) brengski, aku ikut kasihan ke Leo. Doi ngalah demi bisa memahami Saras. Dan Saras pilih? Baca sendiri deh, biar bisa menyimpulkan sendiri wkwk.
agak lama bacanya, padahal ringan. mungkin karena ini pertama kali saya coba, dan blm nyicipin cerita sebelumnya... jadi masih roaming ketika ada ingatan2 yang berusaha digali penulis (yg kayaknya ada di buku sebelumnya)
Saras dan Leo sudah 2 tahun menjalani hubungan jarak jauh. Lelaki itu menyatakan perasaan sesaat sebelum terbang ke Amerika untuk studinya. Belakangan ini Saras semakin kesulitan menjalani kisah cintanya. Perbedaan waktu yang terlampau jauh membuat keduanya tidak hanya sulit bertemu secara maya, tetapi juga sekadar berkomunikasi via pesan percakapan. Ketidakberadaan Leo di saat Saras butuh dukungan membuatnya merasa kesepian. Terlebih lagi saat Leo sudah ada di dekatnya, Saras merasa tidak mampu menjangkau lelaki itu. Keadaan memburuk ketika Mahesa, lelaki yang senantiasa mendukung Saras mewujudkan mimpinya–tidak seperti Leo yang tidak paham dunia Seni–mengungkapkan perasaannya. Akankah Saras dan Leo berhasil mempertahankan hubungan mereka atau Mahesa berhasil menggapainhati Saras?
Wah, penulis berhasil menggambarkan betapa melelahkannya hubungan jarak jauh. Hi-hi-hi, aku sampai ikutan lelah mengikuti interaksi Saras dan Leo 🤣 Meskipun konflik cerita ini jelas, rasanya tidak salah kalau mengikuti ceritanya. Narasinya mengalir dengan mulus. Perkembangan karakter para tokohnya juga menarik. Sayangnya beberapa saltik mengurangi kenyamananku membaca. Oh, satu lagi yang menggangguku. Kenapa, sih, harus ada adegan merokok? Terlebih bukan hanya tokoh lelaki, perempuannya juga. Kok aku jadi menangkap seolah ini adalah upaya kampanye membuat orang tampak lebih keren dengan merokok–terlepas dilakukan oleh lelaki atau perempuan 😭
Buku ini mengingatkan pembaca bahwa komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Selain itu, sebuah hubungan perlu diupayakan oleh para pihak terkait, tidak bisa hanya salah seorang di antaranya. Lalu bagaimana dengan akhir cerita? Aku cukup puas bagaimana penulis mengeksekusi akhirnya. Bagaimana, penasaran?
Best of Us • Pradnya Paramitha • Elex Media Komputindo • 2023 • 344 hlm. • Gramdig
--
Masyarakat sibuk mencari kebutuhannya. Mencari kemewahannya. Mencari kekayaan-kekayaan duniawi. Mereka lupa pada yang spiritual. Pada yang prinsipil dan esensial. Warga negara lupa untuk mengawal pemerintahnya. Partisipan demokrasi lupa pada esensi demokrasi, hanya karena terbelit kebutuhan sehari-hari, sementara musuh demokrasi menawarkan solusi lewat sekarung sembako atau seamplop uang. Kita lupa, atau sengaja dikondisikan untuk lupa. Hlm. 85
Tapi mungkin lo nggak tahu, kalau sebenarnya untuk orang-orang tertentu, keberadaan lo aja udah sangat berarti. Hlm. 140
Intinya, kalau ada seseorang yang bikin lo ngerasa negatif begini, ngerasa nggak worth it begini, lo kudu ingat kalau ada orang lain yang bakal rela berjuang mati-matian buat lo. Hlm. 148
... maksud gue, perasaan manusia pun gitu. Kadang cuma butuh satu momen kecil yang bisa mengubah segalanya. Hlm. 167
Cinta sepemahamanku butuh perjuangan panjang sampai tahu kapan harus menyerah. Hlm. 280
Pradnya Paramitha books>>>>>>>>>>>>>>> SHE'S ONE OF MY TOP FAVORITE INDONESIAN WRITERRRR, bukunya ngga pernah gagallllll bikin aku larut kedalam tulisannya, bukunya ngga pernah gagal bikin aku baca in one sitting, AHAHAHAH SORRY, LET'S MOVE ON, AND TALK ABT THIS BOOK PROPERLY..
Ini salah satu buku yang aku antri lamaaaaaa bgttttt di ipusnas, but it's totally worthy!!! Cz, again, this is one of Pradnya Paramitha books guys.. her book never failed to amaze me.
HUFTFFTTFTF LAGI LAGI, topik utama di buku ini ya apalagi kalo bukan masalah KLASIK tapi bikin RUMIT selain K.O.M.U.N.I.K.A.S.I, HAHHHHH serius greget... masalah mereka beneran di tahap SERIUS bgt sih, parahnya, imo.
Ya kalo ngeliat posisi mereka yg mostly, menjalin LDR selama masa pacaran mereka, almost 9/10 malah kan.. udah gitu, LDRnya bukan cuman beda kelurahan, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi, tapi BENUA!! Perbedaan waktunya beneran nyaris setengah hari.
Waktu Saras beraktivitas, Leo istirahat, saat Leo beraktivitas, Saras istirahat.
Rumit? Ya pasti lah..!
Apalgi, Leo yang terlalu shining shimering itu, seringggggg bgt bikin Saras ngerasa insecure, dan rendah diri.
Bukan krna Leo yang sombong atau apasih, tapi ya krna Saras-nya aja, yang sering merasa terlalu insecure. I think this one of main reason kenapa hubungan mereka bisa sempat renggang. Ya krna, Saras selalu merasa dirinya not good enough, Saras selalu bandingin dirinya sama Leo, Saras selalu merasa ngga bisa sehebat Nanda—mantan Leo.
Makanya, dia selalu merasa kurang, kurang, kurang, krna dia cuma selalu melihat Leo. She didn't even realize kalo DIA JG SEKEREN ITU????
Well, i can say nothing abt her collage. Krna since beginning, Hukum emang bukan passion Saras. But at the end, she's finally can survive it! Dan nyelesain skripsi-nya hanya dengan hitungan kurang lebih 3 bulan malah.. dan di samping itu, kariernya sebagai asisten Jerro—fotografer terkenal itu juga jalan, karierna dibidang Jurnalis jg bisa dibilang lancar.. I mean Saras, KAMUUUUU JUGA SEKEREN ITUUUUU!!!!
Back to topic, kurangnya kadar komunikasi mereka, dan insecure berlebihnya Saras ke Leo, beserta asa lalunya, JUGA MEREKA YANG SAMA SAMA GENGSI SETENGAH MATI ITU, ya akhirnya, lambat laun, jadi tombak besar, yang menancap di kapal cinta mereka.
Apalagi semenjak datangnya tokoh Mahesa, sosok yang kalo kata Panji—Leo versi lebih santainya. Yang dengan frekuensi kehadirannya disamping Saras, cukup tinggi, apalgi saat Saras dan Panji lagi musuhan. Mahesa yang seolah jadi sosok pengganti Panji—teman satu-satunya Saras, yang juga orang yang seringkali, ngingetin Saras sama pasyalnya itu, ya perlahan, akhirnya bikin Saras goyah juga.
Apalgi ditengah gonjang-ganjing hubungannya sama Leo, si Mahesa malah confess tentang perasaannya ke Saras😬😬😬😬apa ngga makin makin.
SKIP!!!!!!
Well, at the end, they finally find their happiness. And ofc, in the right way.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Nggak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Kalau kayak gitu, hidup jadi nggak seru."
Setelah menunggu lama akhirnya sekuel Better Than This ini terbit juga. Nah Best of Us ini timelinenya dua tahun setelah Better Than This. Jadi Leo dan Saras sudah ldr-an selama dua tahun.
Selama dua tahun itu pula, Saras sudah menjadi asisten Jerro, fotografer idolanya, menjalani magang di majalah smArt. Tapi dia masih stuck dengan kuliah hukumnya yang begitu-begitu saja.
Sementara Leo yang berada jauh, dengan perbedaan waktu yang signifikan, terkadang membuat Saras merasa cemas dan ragu akan hubungan mereka. Terlebih ada Mahesa, adik tingkat Saras di fakultas hukum yang kerap membuat Saras merasa menemukan 'teman' yang mengerti mimpi dan keinginannya.
Kalau di novel BTT aku dibuat gemes sama hubungan love-hate Saras-Leo, nah dinovel BOU ini aku dibuat geregetan sama Saras yang terlalu overthinking dan Leo yang terlalu lempeng.
Walaupun ga diragukan kalau mereka saling cinta tapi karena jarak yang membentang, komunikasi yang kurang bahkan ada distraksi lain dari orang ketiga membuat hubungan Saras dan Leo menjadi terguncang.
Meskipun begitu aku masih dibuat kesengsem sama Leo, bagaimana dia menyikapi sikap Saras yang kadang ngeselin, yang kadang terlalu sibuk berasumsi sendiri. Selain itu aku juga suka banget sama Leo si KUHP berjalan yang ternyata udah bisa sedikit-sedikit ngegombal 😆.
Aku suka penyelesaian konfliknya, ga langsung selesai begitu aja, tapi juga nggak bertele-tele. Puas banget sih sama penyelesaiannya. Tapi, aku ngerasa masih kurang puas sama endingnya, pengen ada lanjutannya lagi, gimana dong 😆.
Overall aku menikmati banget baca novel ini, walaupun ga sekocak BTT tapi baca novel ini tuh bikin emosiku naik turun kayak naik roller coaster. Buat yang udah baca kisah Saras-Leo di BTT wajib banget baca novel ini, biar makin tau gimana perkembangan hubungan mereka, tapi awas hati-hati oleng sama Mahesa 😂. Walaupun aku tetap tim Leo 😆.
❝Ternyata aku terlalu percaya diri, jarak dan waktu ternyata lebih hebat dari yang kukira.❞
Best of Us - Pradnya Paramitha 📎 344 hlm. 🏠 Elex Media Komputindo 📍 RuangBuku Kominfo ★★★★★
Bagaimana rasanya jadian dengan seseorang dua jam sebelum ditinggal kuliah ke seberang dunia? Saras mempertanyakan keputusannya menjalin hubungan dengan Leo ketika kenyataan dan cobaan LDR menghantamnya, menghujaninya dengan rasa curiga dan keraguan. Di saat yang sama, datanglah seorang Mahesa bagai angin segar si musim kemarau, layaknya oasis tak terduga di tengah gurun. Ke mana akhirnya hati Saras berlabuh diungkap di sini.
11 Januari ditandai sebagai lahirnya buzzer Best of Us alias aku haha! Masih Januari tapi sudah menemukan lagi another 5 star read of the year! Gak menaruh ekspektasi terlalu banyak, namun belum sampai 50 halaman pun aku sudah jatuh cinta dengan gaya tulis cerita dan karakter-karakternya. Buku ini memberi perpaduan romance yang manis dan sukses bikin iri dengan bumbu komedi (apalagi Saras dan Panji udah digabung tuh duh) yang tiada habis.
Anehnya, aku suka dinamika baik antara Saras dan Leo juga Saras dan Mahesa. Dengan Leo, Saras seperti adik kecil karena selain dari usia yang terpaut dua tahun, Leo memang mempunyai aura seorang provider yang mengayomi dan soft-spoken. Beda lagi dengan Mahesa yang secara harfiah memang sepantaran dengan Saras, nuansa hubungan mereka lebih friendly dan easy-going. Tipikal cinta segitiga yang gak masalah tokoh utama akan berakhir dengan siapa, meski kalau berbicara preferensi aku tetap #TimLeo hihi.
Hubungan LDR dengan segala keragu-raguaan, cobaan, dan godaan di dalamnya digambarkan dengan sangat baik di sini. Buku ini mengajarkan kita bagaimana pentingnya komunikasi dalam menjalin hubungan, bagaimana menjalin kasih juga bisa mendewasakan selain dari membersamai. Fixed aku akan nabung untuk jajan buku fisik plus prekuelnya juga untuk dianotasi, semoga ada rezekinya hihi. Until next time—★
Gimana ya? Baca ini tuh bikin capek, bikin misuh, bikin "BISA GAK LU KOMUNIKASI YANG BENER????" Sebenernya emang dari awal (dari buku Better Than This) memang hubungan Leo dan Saras ini gak bagus– well, enemies, dan tiba-tiba jadi lovers.
Aku di chapter awal-awal paham banget sama POV-nya Saras, tapi begitu pertengahan ke belakang kayak, wow, tindakan lo tuh unacceptable sekali, Saras. Karena di sini cuman ada POV Saras dan gak ada POV Leo, jujur rasanya malah ... kurang??? Iya sih cinta nggak butuh alasan, tapi rasanya unreal aja plot 'he fell first, and he fell harder' ini. Tapi ya emang gak semuanya harus diceritakan, sih. Lagipula aku di sini ngeliat Leo sebagai Saras. Meskipun sebagai reader aku kepo banget sama jalan pikir Leo untuk masih tetap mencintai Saras.
Awalnya aku sempet ragu mau lanjutin karena dari blurb-nya kayak bakal ada plot love triangle gitu? Dan part inilah yang bikin aku agak ilfil sama Saras. Karakter Panji di sini ngebantu banget. Ngomongin Panji, sebenernya aku kalau jadi Morrie gak bakal tahan sih sama Saras 😭
Hubungan Panji dan Morrie di sini— ya memang unexpected tapi masuk akal. Cuman, Morrie deserve better please lolololol. Sayang Morrie.
Aku suka penyelesaian konflik di buku ini. Begitu mereka sadar permasalahannya di mana dan akhirnya komunikasi mereka jalan, aku langsung berasa lega. Solusi yang diambil juga menurutku oke. Emang harusnya dari awal mereka begitu dulu, hehe.
Apakah aku enjoy baca ini? ENJOY BANGETTTT. I'm so invested. Baik Best of Us maupun Better Than This bener-bener berhasil bikin aku merasa salting, marah, sedih, dan segala macamnya. Tulisannya ngalir, sangat page turner, sukaa! Mungkin next aku akan baca lagi tulisan Kak Pradnya karena seseru ituuu huhu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Judul: Best of us Penulis: Pradnya Paramitha Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 31 bab, cetakan pertama 2023, edisi digital RBK ISBN: 9786230050978
Tidak pernah ada yang memberitahu Saras bahwa LDRan akan dipenuhi overthinking yang membuat kepalanya mampu membuat ragam plot drama hanya karena hal sepele semisal: Leo tidak membalas chatnya. Ditambah perbedaan waktu mereka yang belasan jam sehingga saat Saras tidur, Leo baru bangun dan sebaliknya. Dua tahun yang tak mudah, hingga hadir sosok Leo dalam toleransi yang memahami dunia Saras: Mahesa. Ujian perasaan pun dimulai, di antara banyaknya prasangka yang tak dikomunikasikan dengan baik. Siapakah yang sebenarnya Saras inginkan dalam hidupnya? Dengan siapa ia bisa menjadi versi the best dan bahagia?
Kelanjutan cerita Saras dan Leo dengan hubungan dan usia lebih matang setelah novel Better than this makin menarik. Saras menyuarakan banyak isi hati wanita saat menjalani hubungan LDR, juga apa yang sebenarnya wanita inginkan dari prianya dalam menjalani hubungan. Tidak hanya menjadi bayang-bayang, tapi juga menjadi best of us yang saling nyaman. Untuk itu, keduanya harus berjuang saling memahami dan mendukung mimpi masing-masing meski tak mengerti dunianya. Saat orang ketiga hadir, adalah saat terbaik berdialog dengan diri dan menganalisis imunitas hubungan. Seringkali bukan karena hilang cinta, tapi hilang perjuangan menjaga api cinta dengan hal yang dianggap remeh dan receh.
Cocok dibaca bagi yang suka novel romance dan suka dengan tokoh/hubungan Leo-Saras.
Buku ini adalah kelanjutan buku Better Than This. Saras dan Leo harus menjalani hubungan jarak jauh alias LDR beda benua. Indonesia dan Amerika. Ternyata menunggu dan bertahan tidak semudah yang Saras pikirkan. Masalah dan kesalahpahaman terus-terusan datang dan membuat Saras mempertanyakan masa depan hubungannya dengan Leo.
Apalagi di saat itu juga datang Mahesa yang hadir tak kalah sempurna dari Leo. Kehadiran Mahesa yang membawa angin segar atas cita-cita Saras menggoyahkan rasa rindu Saras dengan Leo.
Buku ini mengajarkan kita untuk lebih baik lagi menjaga komunikasi dengan pasangan dalam jarak jauh. Sesuatu yang lain kadang menguji kesetiaan. Oleh karenanya kalau yakin, kalau percaya, kita harus bertahan.
Buku ini tidak banyak memberi lelucon seperti buku yang pertama, tapi tetap menggemaskan dan beberapa kali membuat tertawa. Buku ini lebih fokus kepada hubungan Saras dan Leo. Yang aku baru sadar, ternyata latar kampus Saras dan Leo adalah UI. Karena beberapa kali aku menemukan istilah nggak asing yang berkaitan dengan UI seperti Balairung, danau, dan Kansas. Haha. Terima kasih Kak @katapradnya sudah melahirkan buku segemas ini.
Perkembangan hubungan Saras dengan Leo masih di seputar itu saja, komunikasi yang macet. Saras yang sibuk dengan pikiran dan kekalutannya sendiri sementara Leo masih lempeng saja dalam memberi respons atau apresiasi.
Kemunculan orang ketiga yang tadinya saya kira akan ada konflik yang bikin pecah berantakan namun nyatanya justru bikin mereka berdua bisa saling terbuka mencurahkan rasa. Ah, saya suka ketika Leo mulai berani dan berjuang membuka himpitan perasaannya terhadap Saras. Begitu pula Saras yang mulai rajin menyiapkan skripsinya demi cita-cita. Dibanding 'Better than This', novel jilid dua ini terasa lebih serius, lebih fokus, lebih banyak monolog pikiran dari Saras hingga terkesan datar. Untung ada Extra Story-nya.
Ini lanjutan cerita "Better Than This", novel itu sukses bikin aku ketawa terpingkal pingkal karena si Saras kocak banget, apalagi kalau udah tandem sama Panji sebenarnya agak ragu juga mau beli novel lanjutan ini karena fokusnya kayaknya ke hubungan Saras dan Leo (aku gak suka karakter Leo by the way, menurutku karakter dia eksekusinya gak jelas) tapi karena aku kangen Saras - Panji jadi aku memutuskan membeli dan membaca..dan most of the time aku dibuat kesal sama sikap Saras dan Leo, komunikasi buruk dan gak jelas maunya apa..karakter Mahesa ini juga aneh, tiba2 nongol trus puff ilang aja begitu konflik utama kelar..endingnya okelah realistis tapi tetep aja ya..menurutku Saras dan Leo itu emang gak ada cocok cocok-nya sama sekali tapi dipaksa cocok..sekian dan terima kasih
after the ending kemarin, mereka long distance relationship! walaupun aku skeptis dengan ending buku kedua ini, takut sad ending seperti banyak nya orang hubungan jarak jauh, tapi ternyata bener aja, banyak banget mereka miscommunication :<. dari hal hal yang susah banget buat di ubah sampai dari hal sepele jadi hal yang besar, hampir ending malah break up.. karena banyak nya salah paham. tapi tapi tapi, lagi lagi leo, cowok KUHP keren itu malah ambil pendidikan yang sama kayak magang nya saras. keren banget deh baca dialog nya, suka banget banget banget, kerasa aura pengacara & cowok KUHP. lagi lagi super butterfly, banyak ketawa and haaapppy <3
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sepertiga buku nggak ada konflik yang bikin penasaran pengin lanjut. Karakternya kurang menarik dan nggak ada yang relate, jadi kurang bisa simpati sama karakternya.
Sisi positifnya dari novel ini, penulisannya cukup tapi dan narasinya oke. Cukup bisa menggambarkan suasana dan tempat-tempat yang jadi fokus cerita.
Dari saya yang nggak baca buku sebelumnya.
Semoga kakak penulis bisa lebih nyari konflik yang bikin penasaran pembaca dan tertarik baca sampai selesai 👍👍
Better than This dan Best Of Us sukses ngajak aku kembali mengingat masa kuliah yang gado gado rasanya. Kalo buku pertama lebih ke seruuuu banget karena ngomongin kegiatan mahasiswa, kuliah, taruhan tolol, sampai bumbu romens khas kuliahan. Kalo buku kedua lebih ke capek sedih nyelekit tapi nagih *eh. Tapi keduanya ga bisa dipisahkan. Wajib baca biar nggak penasaran. Yang mau nostalgia ama kisah seru para anak muda kuliahanaku amat merekomendasikan baca ini. Lumayan mengenang tipis masa idealis karena "urung kenal butuh" alias belum diterpa realita kehidupan. Hahaha.
Karena ini pake POV orang pertama (Saras), gue jadi lebih bisa merasakan emosi dan rasa lelahnya Saras dalam menjalin hubungan jarak jauh. Belum lagi ketambahan satu tokoh baru yang ternyata nggak kalah gemesin walaupun tetap gue tim Leo garis keras wkwkwk. Gue juga suka sama konfliknya. Walaupun rumit, tapi lebih realistis aja. Kalau tulisan mah, gak usah dibahas dah... karya Pradnya masih selalu jadi favorit gue.
Baru sadar di tengah cerita bahwa buku ini adalah buku kedua, awalnya udah agak curiga karena dari bahasannya tuh kayak seolah ada cerita sebelumnya, dan emang ada, dan ternyata aku juga udah baca, sayangnya lupa hahaha. Tapi tanpa ingat cerita sebelumnya pun, aku masih enjoy baca buku ini. Nggak membosankan, dan suka sekali cara Leo dan Saras menyelesaikan masalah di hubungan mereka, hiks menangis sedikit.
pradnya paramitha, kemana saja saya baru baca 2 buku karya Kak Pardnya sudah jatuh cinta. sebelumnya baca Better than this, lanjut Best of Us..dan skrg lagi PO buku lainnya dan nyari novel lamanya..
langsung jatuh cinta sama tulisannya.. kisahnya hari2..nyesek..sedih..bahagia..dan bsa senyum2 sendiri.. udah masuk banget dalam tulisannya. love it..
Bacanya terbalik, tapi it's okay lah ya.. Udah lama banget nggak baca romance young adult gini, jadi refreshing sekali rasanya. Walaupun ada kesel-kesel dikit sama ke-overthinking-an Saras, tapi untungnya ceritanya fast-paced dan gak dragging. So, now, God, where is my Leo?!
Ketemu Bang Leo lagi disini. Dan malah dibikin nangis. Nangis banget baca endingnya. Scene bandara nya bener-bener di luar ekspektasi. Pengen peluk Bang Leo.