Waktu lulus sma, orangtua bertanya, saya akan kuliah mengambil jurusan apa? dengan mantap saya bilang akan kuliah jurusan sastra atau psikologi. Dalam benak saya itulah jurusan yang saya idam-idamkan sedari dulu. Tanggapan ortu saat itu sangatlah simpel "mau jadi apa kamu kuliah bidang sastra dan psikologi itu " ?
Nyeeeesssssss... hati saya mencelos. Sudah dapat dibayangkan impian sedari kecil dulu pupus sudah. Dan saya sudah tau jurusan apa yg akan disarankan oleh mereka ....: EKONOMI.
Dengan petuah dari mereka yang luar biasa, dan hasil serta kerja yang akan didapatkan dengan titel SE itu, Saya tahu mereka ingin yang terbaik untuk saya. Dan penolakan itu membuat saya nanar, tidak dapat berkata apa2, meskipun berusaha untuk mengungkapan pendapat pribadi, sepertinya itu hanyalah angin lalu buat mereka sehingga pada akhirnya saya bertekad dan berusaha menjalani semuanya dengan sebaik mungkin demi mereka.
Bukannya tidak mensyukuri apa yang telah di dapat, meskipun sekarang saya sudah medapatkan gelar S2 bidang ekonomi pun, nyata sudah saya tidak bangga oleh hal tersebut, karena ibarat tubuh tanpa nyawa, karena nyawanya melayang2 ditempat lain. Tapi sekali lagi, saya hanya berusaha untuk menyenangkan mereka, dan bertanggung jawab dengan apa yang mereka inginkan.
Saya tetap percaya, secara tidak langsung baik fisik dan pikiran kita akan membawa arah yang kita inginkan, baik itu disadari maupun tidak disadari. Meskipun saya lulusan ekonomi, bidang kerjaan saya pun masih wira wiri diseputar dunia jurnalistik. Apalagi saat saya bergabung dalam suatu majalah, terlihat jelas wajah orangtua yang sepertinya tidak ikhlas menerima seperti itu. Memang secara gaji tidaklah sebesar yg mereka harapkan, tapi batin dan pikiran saya menjadi puas dan senang. saya mencintai pekerjaan itu.
Ahhh kenapa jadi curcol disini.... ahhh sudahlah. Tapi berikut ini ada kaliamt yang saya suka dari buku ini :
"Kita hidup dalam sangkar yang terbuat
dari tuntutan, rutinitas, dan kebiasaan, dan setelah begitu lama
hidup dalam batas-batas ini, kita lupa bahwa kita sesungguhnya terperangkap".
"Kalau kita buang semua bagian diri kita yang merupakan hasil dikte orang lain, apa yang tersisa " (hal. 83)