Halo, Kerabat !
Buku ini memanglah buku yang reflektif, karena isinya akan membawa pada perenungan yang tidak hanya merenungkan tentang makanan cepat saji dan makanan yang diolah secara tradisional yang memang memerlukan waktu yang sangat lama.
Namu, membuka kembali tentang wawasan bahwa realita sudah sangat cepat sekali dan kebutuhan manusia untuk tahapan konsumsi belum terkejar dan sebanding dengan proses karena minimnya sumber daya, apakah teknologi canggih bisa menyeimbangkan kebutuhan tanpa merusak lingkungan ? Mari berkontemplasi sejenak.
Pada tahun 1986, Carlo Petrini (Presiden Gerakan Slow Food) mengorganisir protes melawan pembangunan McDonald's di Spanish Steps, Roma. Dengan mangkuk penne (pasta seperti tabung dan lancip), para pengunjuk rasa membela keragaman makanan dunia.
Tindakan simbolis ini menginspirasi gerakan Slow Food. Tiga tahun kemudian, delegasi dari 15 negara berkumpul di Paris untuk melindungi warisan makanan dunia. Slow Food tumbuh menjadi organisasi global yang merayakan tradisi makanan di 40+ negara, termasuk AS.
Di bawah kepemimpinan Carlo Petrini, Slow Food menentang nilai makanan cepat saji yang mengancam homogenisasi dan industrialisasi makanan. Mereka mengingatkan bahwa sumber daya terbatas dan kita harus menolak budaya pemakluman.
Slow Food mengajarkan bahwa makan membutuhkan waktu, dan penting untuk mengetahui asal-usul makanan kita. Makanan sehari-hari dapat menghubungkan kita dengan alam dan tempat tinggal kita.
Memasak di rumah membangkitkan imajinasi dan mendidik indera setiap manusia. Ritual memasak dan makan bersama-sama menjadi dasar kehidupan keluarga dan komunitas.
Slow Food mengajarkan nilai-nilai penting seperti : belas kasihan, keindahan, hubungan komunitas, dan sensualitas. Di Amerika, revolusi dalam cara bagaimana kita makan terjadi dengan adanya pasar petani dan ketersediaan makanan organik yang semakin luas.
Buku ini ditulis oleh Carlo Petrini dengan secara lantang mengartikulasikan misi dalam Revolusi Makanan Lezat namun tidak meninggalkan luka, seperti itu jika dimetaforkan.
Slow Food adalah gerakan yang melibatkan ribuan orang di Italia dan seluruh dunia dan meyakini makanan merupakan bagian esensial dari kehidupan dan kualitas hidup terkait dengan kenikmatan makan yang sehat, lezat, dan beragam.
Berbeda dengan makanan cepat saji yang terburu-buru dan standar, Slow Food memberikan pentingnya memberi makan dengan mempelajari dan menikmati keragaman resep dan rasa, menghormati tempat dan orang yang memproduksi makanan, serta menghormati ritme musim dan pertemuan manusia.
Slow Food menawarkan kesadaran, tanggung jawab, pengetahuan, dan kesempatan pembangunan bagi daerah yang kurang berkembang.
Slow Food juga mendorong pendidikan rasa dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Buku ini juga menceritakan berbagai inisiatif-inisiatif yang telah dilakukan untuk melindungi pertanian tradisional dan jenis makanan tertentu. Pada intinya, Slow Food menekankan tanggung jawab, pengetahuan, dan kenikmatan sebagai fondasi strategi mereka dalam pelestarian.
Gerakan Slow Food dimulai di Italia pada tahun 1980-an dengan tujuan mempertahankan kenikmatan makanan di tengah kehidupan yang semakin cepat dan makanan yang semakin terstandarisasi.
Gerakan ini tumbuh dan dibagikan di seluruh dunia, dengan perkembangan pesat di Amerika Serikat. Di tengah tantangan globalisasi dan kompleksitas, Slow Food menawarkan cara untuk meningkatkan kekayaan rasa dan kepuasan dalam hidup kita.
Ini juga merupakan cara untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan. Gerakan ini mengajarkan pentingnya memahami makanan dan menikmati keanekaragaman rasa, serta bertanggung jawab terhadap kesehatan dan lingkungan.
Beberapa kasus dalam buku ini :
Kasus pertama - Di Prancis, adanya kompleksitas teritorial di daerah Burgundy, Bordeaux, Alsace, dan Champagne. Sistem produksi dan komunikasi yang terorganisir dengan baik memungkinkan Prancis "menjual" citra yang kompleks melalui sejarah, anggur, masakan, dan gaya penerimaan. Sebagai orang Italia, hal ini memang mengesankan, dan harus siap menghadapi perkembangan industri anggur yang pesat seperti di California.
Kasus kedua - Inisiatif lainnya yang segera menyusul adalah "Agrarian Assemblies" dan "Wine Conventions". Agrarian Assemblies bertujuan menjaga petani tetap terhubung dengan perkembangan budaya, sementara Wine Conventions menciptakan hubungan baru antara : konsumen, produk, pembuat, dan wilayah tersebut. Pada awalnya, anggur menjadi barang mewah yang menarik perhatian banyak penggemar. Namun, skandal pemalsuan anggur pada tahun 1986 mengubah segalanya. Dengan kematian dan keracunan yang terjadi, perubahan radikal dalam industri anggur menjadi suatu keharusan, mengakhiri kebiasaan buruk dan menciptakan langkah baru dalam hubungan antara Arcigola Slow Food dan pembuatan anggur.
Intisari buku ini menyampaikan makna tentang pentingnya makanan yang berkualitas, kesadaran akan sumber makanan, dan menikmati makanan dengan penuh kesadaran, Gerakan Slow Food, yang menentang makanan cepat saji dan mempromosikan kesadaran, tanggung jawab, dan keberagaman dalam makanan. Ia juga mengilustrasikan bagaimana gerakan ini berkembang di Italia dan di seluruh dunia, dan betapa pentingnya menjaga keanekaragaman budaya dan alam dalam sistem pangan.
Sekilas tentang penulis yaitu Carlo Petrini merupakan Presiden gerakan Slow Food, seorang aktivis, penulis, dan ahli makanan yang mengadvokasi keberagaman budaya makanan, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Petrini memiliki pandangan bahwa makanan dan masyarakat bisa menginspirasi perubahan menuju pola makan yang lebih baik dan kesadaran akan nilai-nilai manusia yang penting.
Hatur nuhun.