"Licht- en schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java" van Franz Wilhelm Junghuhn. Gepubliceerd door e-artnow. e-artnow publiceert een ruim aanbod aan titels in alle genres. Van bekende klassiekers & literaire fictie en non-fictie tot vergeten−of nog niet-ontdekte pronkstukken−van de wereldliteratuur, wij publiceren boeken die u beslist moet lezen. Iedere e-artnow editie is zorgvuldig aangepast en geformatteerd om de leesbaarheid voor alle e-lezers en apparaten te verbeteren. Ons doel is om e-books te maken die gebruiksvriendelijk en toegankelijk voor iedereen zijn in een digitaal formaat van een hoogwaardige kwaliteit.
Sebenarnya buku ini agak jauh dari ekspektasi saya. Saya kira buku ini adalah perjalanan Junghuhn ke seantero Jawa (yang ternyata hanya perjalanan dia di antara beberapa desa di Garut) dan deskripsi kekayaan alam Jawa dan juga corak sosial masyarakat lokal pada era kolonial. Ternyata buku ini lebih berisi diskusi dan pandangan filosofis saudara Siang dan Malam (yang sebenarnya pandangan Junghuhn sendiri) yang utamanya tentang agama dan kemanusiaan. Saya merasa deskripsi masyarakat Jawa dan pemandangan alam hanya sebagai selingan di sela-sela diskusi panjang antara Siang, Malam, Senja, dan Fajar, yang merupakan saudara kandung.
Pandangan-pandangan Junghuhn yang begitu kritis menentang institusi gereja dan kekristenan yang dianggapnya melenceng dari ajaran asli Yesus membuat buku ini kontroversial di Eropa. Junghuhn akhirnya mengadopsi pandangan panteistik, bahwa alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, dengan segala hukum-hukum yang mekanis dan tak terbantahkan, sehingga moralitas manusia yang paripurna hanya akan dicapai kalau orang belajar mengenai alam. Hal ini sesuai dengan background dia sebagai botanis dan naturalis. Memang diskusi filosofis ini mungkin mengisi sekitar 75%, sisanya adalah penggambaran alam, cerita perjalanan, dan observasi budaya dan cara hidup orang Jawa. Menarik bagaimana dalam diskusi antara saudara Siang dan Malam menunjukkan Junghuhn sebagai seorang pemikir yang mirip dengan dialog-dialog dalam bukunya Plato dan Aristoteles.
Tapi saya juga dapat kesan bahwa Junghuhn ini mirip polanya dengan abang-abangan STEM yang agak kagok soal ilmu sosial tapi ini mungkin disebabkan oleh pemikiran umum di Eropa yang pada saat itu meraup untung dari kolonialisme dan eksploitasi. Tulisan ini ditulis tahun 1866 pada periode cultuurstelsel atau tanam paksa. Saudara Siang dan Malam ini meyakini orang Jawa sebagai masyarakat yang belum siap untuk mendapatkan kebebasan dan harus dididik terlebih dahulu oleh orang Eropa. Selain itu, mereka menganut determinisme biologis dan geografis seperti orang Jawa yang santai dan malas karena tinggal di daerah iklim tropis dan hutan yang semuanya sudah tersedia atau suku aborigin merupakan suku yang paling primitif karena struktur tulang dan otak yang kuno. Mereka juga mendukung kolonialisme dan menyanjung Belanda yang dianggap telah memajukan masyarakat Jawa. Pemikiran yang cenderung usang dan rasis. Menurut saya hal ini bertentangan dengan anggapan humanisme yang ia pegang, tapi yang saya tangkap, Junghuhn memang benar-benar mengimani bahwa Belanda dan kolonialisme memang benar-benar akan memajukan orang Indonesia.
Hal yang membuat saya ingin membaca karya Junghuhn lainnya adalah deskripsi dia soal alam dan hewan yang detail dan menarik yang juga disertai gambar atau sketsa Junghuhn yang bagus. Seperti deskripsinya soal transisi antara daerah hutan hujan ke daerah pantai dengan segala perubahan flora dan fauna serta hubungan ketergantungan ekologis yang berbeda atau hubungan ekologis antara harimau dan merak antara keanggunan dan kegagahan menjadi satu.
Alam begitu sederhana dengan segala hukum yang ada, tapi hubungan antar manusia ini memang rumit penuh liku dan lika
Perhaps this is one of the best books I have read this year. Junghuhn employs theory‑fiction to discuss his concerns (or even suspicions) regarding religion and God, while simultaneously reflecting on his relationship with the captivating Javanese landscape. I greatly appreciated the intricate interactions and debates among the characters in this book. Their names are written as if they represent modes of thought based on the concept of time.
One aspect of Junghuhn’s reflections that I particularly admire is his reluctance to accept the existence of free will. For him, free will is not real; it is merely a manifestation of consciousness, rendered by natural or physical law. If free will were real, we could, in principle, manipulate matter down to its smallest constituents, such as the movement of atoms. This is an idea that was charmingly speculated upon in the nineteenth century, yet it leaves us with a question that continues to be asked in the twenty‑first century: what is the self?
In this work, Junghuhn emerges as a modest materialist and staunch determinist, as well as a monist who is openly devoted to the advancement of science and enlightenment. In several sections, he even embraces the concept of entropy, speculating that the number of atoms will never change and that an individual’s consciousness will merely transform into other forms of matter. Junghuhn appears hesitant to entirely discard the concept of God; he still perceives it through the lens of emanation theory, whereby there is an origin of God but everything thereafter is governed by natural law. The reflections he presents through his characters encapsulate his rather anomalous way of thinking for a scientist working in Java and Sumatra during that period.
Regrettably, Junghuhn is not sufficiently critical in his exploration of colonialism—a stance that was perhaps considered acceptable by the majority of European scientists at the time. They viewed the Javanese people as an entity that had not yet fully evolved, owing to a perceived lack of consistent rational thought. However, Junghuhn was not as extreme; he continued to show respect for labourers and his assistants, valued local beliefs, and even opposed the widespread dissemination of Christianity in Java, although his approach remained rooted in colonial logic.
This book is truly captivating. Junghuhn’s language in describing the natural environment of Java is both beautiful and lyrical, yet it remains firmly grounded in the perspective of a naturalist. I must express my utmost appreciation for the translator who rendered this fascinating theory‑fiction text into Indonesian. I eagerly await further works by Junghuhn to be translated into languages I can understand.
Membaca buku ini memberikan kita gambaran sudut pandang seorang Londo yang mencintai 'ilmu alam' saat beraksi di Tanah Jawa. Junghuhn secara menjemukan nan rinci menuangkan secara penuh pandangannya, atau kontradiksi internalnya, akan ilmu alam terhadap Kekristenan seperti kuah yang bertumpah-tumpah pada mangkuk yang tak kuat lagi menampung.
Tentu rasisme hadir juga dalam sudut pandangnya. Tidak bisa menyalahi perkembangan kondisi sosial yang sudah berkembang sampai hari ini, memang itulah sifat alamiah 'white devils' seperti Malcolm X pernah terangkan.
Karya fiksi ini menyajikan secara gamblang alam pikir Junghuhn yang secara bersamaan juga dipenuhi banyak referensi. Dalam buku ini, kisah perjalanan dari titik ke yang berikutnya berjalan cukup abstrak sehingga tidak dapat dijajaki secara kronologis.
Bersiaplah bagi para pembaca akan informasi yang 'terlalu' akan kontradiksi internal Junghuhn.