Nusantara atau Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Mulai dari tambang dan mineral yang terdapat di dalam perutnya, permukaan tanah yang subur, hingga iklim tropis yang mendukung kegiatan bercocok tanam. Selain itu luas wilayah Indonesia yang didominasi oleh lautan juga terbentang dari Sabang sampai Merauke. Luas lautan Indonesia mencakup dua pertiga dari seluruh luas wilayah Indonesia. Lautan bukanlah pemisah, namun penghubung antar pulau Indonesia. Membahas tentang Indonesia pasti tidak akan jauh dari Pulau Jawa. Di mana hampir semua peristiwa dan sejarah penting terjadi di Pulau Jawa. Maka dari itu tidak heran jika Denys Lombard menulis dan menyusun mahakaryanya yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya.
Nusa Jawa: Silang Budaya dibagi menjadi tiga bagian yang membahas peradaban-peradaban asing yang memengaruhi budaya Indonesia hingga menjadi seperti sekarang. Peradaban-peradaban asing itu antara lain adalah Barat, Islam, Cina, dan India. Lewat buku pertamanya ini Lombard lebih fokus pada kajian tentang pengaruh westernisasi terhadap Pulau Jawa. Di sini Lombard ingin memberikan pandangan terhadap Indonesia lewat kacamata asing khususnya Bangsa Eropa. Tidak banyak analisis ilmiah mengenai sejarah terbentuknya budaya di Indonesia lewat sudut pandang asing. Pandangan asing ini sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk tahu akan pandangan serta tindakan 'orang barat' terhadap Indonesia.
Dalam buku ini Lombard memberikan gambaran tentang kondisi geografis, geologis, ekonomi, dan sejarah Pulau Jawa secara umum. Proses westernisasi di Pulau Jawa terjadi saat berlabuhnya para pelaut Belanda pimpinan Cornelis de Houtman di Banten. Lalu terbentuklah VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) pada tahun 1602. Masa kolonial Belanda membentuk empat golongan yang terpengaruh westernisasi. Empat golongan tersebut adalah orang-orang Kristen asli Indonesia, golongan priyai, tentara dan akdemis, dan kelas menengah. Lombard juga membahas warisan-warisan westernisasi yang ditinggalkan oleh Belanda. Mulai dari jalan raya, kereta api, obat-obatan, gestur, hingga bahasa. Gaya arsitektur di Indonesia pun tak luput dari proses westernisasi. Terlihat dari beberapa gedung yang terpengaruh dari gaya Eropa.
Westernisasi juga memiliki dampak buruk untuk Indonesia. Contohnya adalah mengikisnya kebudayaan-kebudayaan daerah di Indonesia. Kegiatan pariwisata yang semakin ramai pun membuat ritus-ritus yang keramat menjadi leper. Prasasti-prasasti dari masa kerjaan Hindu-Buddha pun diimtasi. Sehingga membuat Indonesia miskin akan kebudayaannya sendiri. Terakhir timbul respon dari proses westernisasi di Indonesia. Proses asimilasli terjadi dengan adanya kawin silang antara kolonial dengan pribumi yang menciptakan orang Indo. Orang-orang Indo inilah yang berperan besar dalam proses westernisasi di Indonesia. Di sini terlihat jika westernisasi di Indonesia menciptakan proses asimilasli budaya di dalamnya. Tak hanya sekadar memajukan Bangsa Indonesia, westernisasi juga memiliki kekurangannya tersendiri.
Secara keseluruhan Nusa Jawa: Silang Budaya 1 Batas-Batas Pembaratan adalah sebuah mahakarya komprehensif yang memperlihatkan proses westernisasi di Indonesia secara detail dan apa adanya. Jujur saja sebagai pembaca saya tidak seratus persen bisa memahami isi buku ini. Terdapat beberapa bahasa dan istilah-istilah yang masih asing di telinga saya. Namun gaya bahasa yang digunakan terbilang komunikatif dengan menyertakan beberapa gambar dan ilustrasi beserta penjelasannya. Setiap pembahasan pun dibahas secara mendetail dan lengkap, bahkan bisa dibilang ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu kepanjangan. Nusa Jawa: Silang Budaya 1 Batas-Batas Pembaratan merupakan sebuah karya yang perlu dibaca oleh masyarakat Indonesia. Meskipun isinya terbilang cukup berat, tapi buku ini masih bisa dinikmati orang awam seperti saya.