Nia, istri siriku, fotomodel terkenal di Jepang. Engkau itu cantik, galak, aku cinta mati sama kamu. Ayumi, sahabat wanita Jepangku yang paling baik. Walaupun dia rela mengikhlaskan seluruh hati, pikiran, dan tubuhnya pada diriku, tapi aku yakin bahwa dia bukanlah tulang rusukku yang hilang itu. Dan Nurma, wanita berjilbab, hafal Qur`an, seorang dokter di kampung, adalah jodoh dari ayahku.
Sekarang, aku bingung, Nia. Harus bagaimana? Perlahan panasku mulai tinggi. Gema takbir pada malam penuh kemenangan ini samar-samar mulai tak terdengar lagi. “Nia, bismillah. Dengan ini aku nyatakan kamu aku cerai, talak satu. Maafkan aku. Maaf,” ucapku sekuat tenaga. Napasku masih tersengal berat mengucapkannya.
Nia diam. Suaranya tak terdengar lagi kecuali air mata yang menderai membasahi tubuhku yang kurasa. Dia masih memelukku erat, menggoncang-goncang tubuhku. Kupejamkan mataku dan tidur lemas dipelukannya. Dia mencengkeram kuat tubuhku. Aku tidak bercanda, katanya. Kamu memang tidak boleh becanda....
Lana Azim, lahir dan tinggal di Mranggen, pinggiran kota Semarang yang terkenal dengan kota santrinya. Kecintaannya akan sastra dan novel dimulai ketika masa anak-anak. Hal ini tak lepas dari ibunya, seorang guru Bahasa Indonesia yang pernah mendirikan tempat penyewaan buku. Mulai dari sana, dia banyak membaca novel klasik dan modern hingga tahun 90-an. Background teknik kimianya tidak membuat dia berpaling dari hobi menulis. Dia sempat menjadi pemimpin redaksi Majalah Science Online saat aktif berorganisasi di kampus. Sebagian besar karya Lana Azim tentang seputar kehidupan orang pinggiran, keluarga, dan cinta yang dipadu dengan berbagai latar belakang berbeda dan unik. Beberapa novel sempat dia terbitkan seperti Jodoh Akan Bertemu, Sebelum Bicara Cinta, dan Masih Bisa Cinta.
Salah satu buku tercepat yang pernah saya baca. Kekonyolan Chabib untuk membuktikan diri pada teman-temannya malah membuat cerita baru yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Keseluruhan saya suka, karena ringan dibaca dan unik sudut pandangnya. Untuk ending kurang pas penyajiannya, terkesan buru-buru untuk mengakhiri cerita. Saya tunggu novel-novel berikutnya.
Cerita nya bagus.. Meski mba dwita sama mas lana blum pernah ketemu.. Tp hasil nya klop banget. Aku suka,kata'' nya puitis,apalagi ditambah lirik'' lagu sheila on7. Sukses terus buat novel selanjutnya mas lana dan mba dwita :)
Ceritanya bagus, tidak pasaran, tidak seperti cerita-cerita remaja FTV / sinetron remaja. (+) Novel ini mengangkat kearifan lokal Semarang dan Kyoto (+) Cerita unik, mengangkat karakter pemuda pesantren yang dihadapkan dengan karakter wanita modern (+) Konflik yang diangkat berbeda dengan kisah romance kabanyakan. Ada pertentangan keluarga, pertentangan hati, hingga kesetiaan, dan kekecewaan. (+) Tidak ada tokoh antagonis, justru yang jadi antagonis adalah dari diri sendiri, yang harus berperang dengan hati. (+) Ending cerita tidak mudah ditebak sehingga membuat pembaca penasaran untuk membaca keseluruhan isi novel. Kalau di Raksasa dari Jogja lebih mudah ditebak.
(-) Hanya kesalahan teknis, terdapat typo yang wajar. (-) Penulisan agak kaku, mungkin karena ditulis dua orang dalam satu novel.
Awalnya agak males baca, karena udah kecewa sama novel Raksasa dari Jogjanya Dwitasari. Tapi entah kenapa ada niat buat baca ini novel.
Setelah membaca sampai selesai, kurang lebih baca sampai 4 jam, (salah satu novel yang cepet yang pernah saya tamatkan), novel ini asik juga. Ceritanya ngga klise, ngga pasaran, pembaca benar benar dibuat penasaran dari bab per bab. Selebihnya tidak ada hal yang cukup mengganggu, kecuali typo -_- Untuk plotnya di awal mengambil plot mundur, di bab berikutnya langsung tancap gas sampai ending. At least, novel ini cocok sih buat menghabiskan waktu liburan di akhir tahun ini :)
Awalnya sih penasaran sama novel ini. Tapi begitu tau yang nulis Dwitasari jadi agak males -_- Tapi akhirnya baca juga sih, minjem punya temen.. Aku suka sama ide ceritanya, nggak mainstream. Tapi, banyak typonya. Aku juga agak bingung sama alurnya -.- Aku nggak suka sama Nia, jengkel banget! Endingnya juga kok menurutku agak maksa gitu, seakan pengen cepet diakhiri.. Entahlah...
Pros: + Alurnya menarik + penuturannya sederhana, mudah dipahami + caranya menggiring ke ending juga seru
Cons: - banyak kesalahan penulisan/typo - dari judulnya, endingnya ketebak banget - secara personal, nggak terlalu suka kalau cowok digambarkan secengeng ini
Novel yg ide ceritanya sudah difilmkan ini selalu menarik dan bikin penasaran tiap lembarnya. Saya baca novel ini 2 hari habis. Setting cerita agak mengada-ada. Misal kayak perjodohan, ada cewek Jepang yg suka sama cowok kampung. Begitu mudahnya hati orang berubah-ubah. Tapi justru ini yg bikin seru.
Nia, istri siriku fotomodel terkenal di Jepang. Engkau itu cantik, galak, aku cinta mati sama kamu. Ayumi, sahabat wanita Jepangku yang paling baik. Walaupun dia rela mengiklaskan seluruh hati, pikiran dan tubuhnya pada diriku, tapi aku yakin dia bukanlah tulang rusukku yang hilang itu. Dan Nurmam wanita berjilbab, hafal Qur’an, seorang dokter di kampung, adalah jodoh dari ayahku.
Sekarang, aku bingung, Nia. Harus bagaimana? Perlahan panasku mulai tinggi. Gema takbir pada malam penuh kemenangan ini samar-samar mulai tak terdengar lagi. “Nia, bismillah. Dengan ini aku nyatakan, kamu aku cerai, talak satu. Maafkan aku. Maaf,” ucapku sekuat tenaga. Nafasku masih tersengal berat mengucapkannya.
Nia diam. Suaranya tak terdengar lagi. kecuali air mata yang menderai membasahi tubuhku yang kurasa. Dia masih memelukku erat, menggoncang-goncang tubuhku. Kupejamkan mataku dan tidur lemas di pelukannya. Dia mencengkram kuat tubuhku. . .
Well, pertama kali saya berniat baca buku ini karena lagi ngikutin dwitasari banget dan pernah baca jatuh cinta diam-diam karya dwitasari yang sukses bikin terenyuh. Dan waktu liat-liat rating di goodreads dan reviewnya juga bagus-bagus jadi saya makin excited gitu buat baca 😅😄. Let's start it! Kesan pertama saat baca blurb di cover buku, bikin saya bener-bener penasaran sama ceritanya, apalagi beberapa bulan terakhir saya lebih suka baca cerita dengan genre romance dibanding biasanya 😅 ya begitulah. Jadi saya menaruh ekspektasi tinggi dengan buku ini, yang akhirnya ternyata bikin saya sekecewa itu. Rasanya penulis terlalu melankolis disini, rasa 'ceweknya' untuk ukuran buku yang ditulis dari sudut pandang cowok itu jadi nggak berasa aja gitu cowoknya. Dari segi karakter, bagaimana si Chabib dan Nia ini sebenernya udah pas banget, sayangnya eksekusi saat memasukkan mereka ke dalam percakapan itu berasa kurang aja. Plot yang mudah ketebak jadi bikin saya merasa biasa-biasa aja gitu kesannya. Yah karena dari awal ekspekstasi saya tinggi. Nah, kalau kalian gimana?
premisnya sangat menarik. Terus terang, chapter2 pertama bikin saya penasaran luar biasa. Soalnya ini novel pertama saya yang membahas pernikahan siri, dan menurut saya ini adalah salah satu novel islami yang tidak terlalu 'berat'.
Tapi sayang, sepanjang novel banyak sekali typo, juga ada paragraf yang kurang efektif karena mengulangi info yang sama beberapa kali (mungkin kesalahan dalam revisi). Typo2 ini banyak terjadi dalam kata2 bahasa inggris dan jepang sih. Saya pernah belajar bahasa jepang, jadi sedikit banyak tahu :D. Saking banyaknya typo, rasanya kayak lagi baca novel untuk melatih konsentrasi. Mungkin bisa rada dimaklumi kalau dialog, tapi kesalahan ini banyak terjadi pada narasi.
Yang paling inget itu : 'candlelight dinner' jadi 'candylight dinner', 'airport' jadi 'aiprort', 'shopping' jadi 'shoping' (ini Nia yang ngomong pulak, yang katanya lama tinggal di luar negeri), bahasa jepang 'hanami' (melihat bunga) jadi 'hamani', bahasa jepang 'onaka ga suita' (perut saya lapar) jadi 'onaka nggak suita'.
Tadinya mau kasih 3 bintang, tapi karena typo-nya agak parah, jadinya dikurangin 1 bintang. :D
Idenya sebenarnya waw tapi bahasa kaku. Masalah teknikal juga typo masih banyak. Trus.... gue malah ga ngerasain tulisan dwitasari seperti di buku RDJ. Apa.... Oke, ga menuduh hanya mengira... perkiraan saja. Hanya Yang DiAtas dan mereka yang tahu.
Sebuah perjuangan tentang cinta...yang karenanya seseorang dapat melakukan hal yang sulit dan penuh pengorbanan..atas nama cinta. Lautan dan Samudera kan di arungi, gunung didaki...untuk sebuah Cinta yang tulus