Sudah lama aku nggak merasa ‘sepenuh’ ini dalam membaca buku baru, lebih tepatnya tahun ini karena beberapa buku yang aku baca kurang memenuhi ekspektasi. Tapi kebalikannya, Motherhood juga tidak memenuhi ekspektasiku, dalam artian buku ini malah jauh melampauinya. Novel ini memberi kedalaman konflik internal dua karakter utamanya, sang ibu dan anak perempuan, dibanding menyajikan thriller yang mencekam seperti buku Minato Kanae yang lain. Bahkan bisa kubilang kesan yang kudapatkan dalam buku ini justru kelewat ‘dingin’. Jadi, untuk pembaca yang berharap akan plot yang sedemikian tidak tertebak dan sensasi berdebar-debar dari genre thriller, sepertinya akan kecewa, terlebih karena konfliknya lebih banyak bermain di ‘dalam’ yang mungkin akan terasa membosankan bagi sebagian pembaca.
Dan sepertinya akan banyak yang skeptis kenapa novel ini oleh sebagian orang dikategorikan sebagai novel feminisme. Bagi banyak orang, penindasan terhadap perempuan selalu dilakukan oleh laki-laki. Mereka lupa, bahwa para perempuan patriarkis bisa lebih sadis dalam menyiksa kaumnya sendiri. Bagi mereka, sudah sewajarnya tugas perempuan adalah melayani orang lain, bertutur yang lembut, penurut, dan menghindari konflik agar harmoni tetap terjaga. Tapi untuk apa menghamba penerimaan masyarakat jika bertumbuh membunuh diri dan melahirkan yang dibenci?
Perempuan saling menuding perempuan lain, perempuan saling memeringkat satu sama lain. Dan pembaca pun turut menuding sang perempuan. Mengapa tidak meminta pertanggungjawaban lelaki pengecut yang menjadi sumber konflik keluarga besar ini? Mengapa bisa mengasihani trauma sang laki-laki sehingga membiarkan diam dan kaburnya? Itulah keberhasilan misogini yang terinternalisasi, sehingga kita pun luput ada ketidakseimbangan kekuatan di antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, yang membuat pihak perempuan lebih rentan 'dikutuk' masyarakat.
Kita pun dibuat terlalu terfokus pada judul buku ini Motherhood. Sedikit dari kita yang menggugat Fatherhood, sosok orang tua yang dipersilakan absen dalam keluarga intinya. Semua sibuk mendefinisikan keibuan itu seperti apa, lagi ribut mengisi dan terus menambah checklist. Beban pengasuhan adalah kodrat perempuan, pengasih adalah perempuan, pekerja rumah tangga juga harus perempuan. Anak yang nakal pun salah ibunya (perempuan). Agaknya penamaaan khusus yang bergender ini memuluskan kelicikan laki-laki untuk merendahkan perempuan, karena apapun yang mereka lakukan tidak akan pernah cukup.
Sekarang, beralih ke feminitas beracun yang mengakar dari silsilah keluarga ini. Sang nenek, tidak juga bisa memberikan kasih sayang tulus tanpa mengharapkan kebaikan anak perempuannya. Sang nenek, juga yang menjerumuskan sang anak ke neraka barunya. Kepatuhan anak tentu mutlak, apalagi memaksa patuh perempuan, terlebih di kalangan masyarakat Asia yang menjunjung tinggi harmoni dalam hierarki dan komunalitas. Sang anak, walau tumbuh dengan sedikit keraguan akan penerimaan ibunya, tetap dilimpahi lebih banyak kasih sayang karena waktu luang ibunya. Tidak adanya sosok ayah dalam kasus ini bisa jadi membuatnya tidak bisa membandingkan peran keduanya, yang dalam masyarakat kebanyakan jelas berat sebelah. Absennya ayah membawa berkah karena merekatkan mereka.
Lalu sang anak melahirkan anak. Kini ia berstatus ibu. Kini ia juga harus mengalirkan darah dari ibunya, putrinya harus menjadi cerminnya. Semua akan baik ketika ibu dan ayah akur sehingga masing-masing pun dalam caranya sendiri bisa meluangkan momen kecil yang berharga bagi sang putri. Namun di sini pun sang ibu merasa kalah saingan dengan ‘ibunya’ karena sang anak lebih mencintai nenek, sosok yang dianggap memberi cinta tanpa syarat, yang tidak membebankan ekspektasi padanya dalam membahagiakan dan membanggakan dirinya sebagai representasi anak dari ibunya. Yang ia pahami, kasih akan terjalin ketika tak perlu terhubung langsung dan bertemu setiap hari, cinta dengan hormat otomatis bertumbuh ketika dua pihak hanya perlu hadir dan saling menemani.
Tapi tatkala keluarga kecil itu diseret masuk ke dalam keluarga yang lebih besar, ketentraman itu¬—kesetaraan dan waktu luang—binasa. Penguasa rumah ditentukan berdasarkan hierarki usia, status kepemilikan, dan darah pemilik rumah. Pada gilirannya, perempuan mendapat akses untuk ‘juga dilayani’ perempuan lain dengan berbayar hinaan sepanjang hari dan sandera yang lebih kecil. Akhirnya ada ‘samsak’ baru yang tidak akan memantulkan kemarahan yang sama. Itulah tugas perempuan dari keluarga yang lain, menjadi ‘pijakan’ keluarga laki-laki.
Ia sudah menetapkan diri melayani ‘yang di atas’. Sang perempuan bahkan tak lagi terhubung dengan dirinya sendiri, apalagi memberi perhatian sang anak. Tapi agaknya ia direndahkan karena anak perempuan bukan ‘karunianya’. Bahkan perempuan di atasnya pun lebih memilih laki-laki daripada perempuan yang sudah ada. Ironis bahwa perempuan ditumbuhkan untuk menolak sebisa mungkin eksistensi perempuan lain, tapi dengan tangan terbuka begitu bermurah hati pada laki-laki. Itulah tugas subtil perempuan sepanjang hidup, untuk saling berkompetisi memperebutkan afeksi pihak laki-laki dalam keluarga.
Lalu kepada siapa si anak bisa berharap? Yang terhubung dengannya sebelum kelahiran adalah sang ibu, yang melekat dengannya pada masa kecilnya. Di mata anak, ia merindukan sang ‘induk bebek’, subjek pertama yang dilihatnya, yang menjadi begitu berharga karenanya. Sang ibu gagal menjadi ibu karena ia lebih suka berstatus sebagai anak perempuan ibunya. Agaknya benar bahwa tidak semua perempuan pantas menjadi ibu. Ironis, karena bahkan perempuan sendiri lebih memilih sebagai pihak yang diberi kasih sayang, juga sebagai pihak yang harusnya paling dikasihani karena segala pengorbanannnya. Inilah sosok perempuan yang mengamini hierarki gender untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Memfasilitasi anak tidak cukup membuatnya bertumbuh, apalagi menjadi ‘ideal’. Dan aku rasa trope ‘pengabaian emosional’/emotional neglect ini cukup jarang diangkat dalam karya fiksi sebagai sumber trauma terbesar yang membentuk manusia, padahal dalam realitanya banyak anak yang menjadi korban. Hanya saja, masyarakat, atau pop culture secara general lebih menyukai trope ‘physical abuse’ sebagai alasan seorang anak layak dikasihani. Pengabaian emosi dianggap sebatas ‘alasan cengeng’ tanda tidak bersyukur karena sang anak setidaknya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka lupa bahwa kebutuhan anak juga untuk belajar sebagai manusia, belajar melihat cinta, belajar menerima cinta, dan lalu mempraktikan cinta pada manusia lainnya sepanjang hidup. Jika sedari kecil manusia dianggap tidak seberharga itu, lalu apa pentingnya memutuskan untuk tetap tumbuh ‘menjadi manusia’?