Sulung Landung, seorang manajer artis kawakan, telah menerbitkan tiga buku tentang pengalamannya terkait dengan pekerjaannya yang sangat menarik itu. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, buku ini adalah sekumpulan cerita tentang hari-hari kemarinnya di masa tumbuh dewasa. Tentang hari-harinya bersama Nyonya Ai, sang ibu. Tidak mudah, tidak manis, ada banyak luka di sana, hingga akhirnya dia menemukan titik terang yang membantunya menambal lubang-lubang di jalan, yang membuatnya melangkah lebih baik. Lewat cerita-cerita di buku ini, Sulung berbagi kisah perjalanannya—sejak terluka, mengenalinya, dan kemudian mencari jalan untuk berdamai dengan dirinya. Diperlukan waktu panjang dan keberanian untuk menyembuhkan tumpukan peristiwa traumatis, inner wounds yang selama bertahun-tahun terbungkus rapat dan rapi. Buku ini dipersembahkan untuk siapa pun yang merasa sendiri dalam perjalanannya menuju pulih, dan belajar menghargai hidup yang begitu berharga. Karena kita semua berharga.
Aku tertarik untuk baca buku ini karena covernya. Cakep banget! Judulnya juga menarik. Awalnya aku kira ini buku fiksi, ternyata ini perjalanan nyata yang dialami sang penulis.
Aku sendiri baru tahu kalau sang penulis ternyata seorang talent agent terkenal yang menaungi artis-artis terkenal Indonesia. Untuk ceritanya sendiri, aku cukup menikmati. Buku ini bercerita tentang perjalanan sang penulis dari waktu ke waktu menuju pulih. Iya, sesuai sama judulnya.
Di buku ini aku diajak untuk ikut melihat dan merasakan perjuangan sang penulis yang ingin menjadi lebih baik namun di saat yang sama juga mensyukuri dan mengikhlaskan semua yang terjadi di hidupnya dan sadar kalo beliau masih merasakan rasa takut dan cemas di beberapa kesempatan hidupnya walaupun dia sudah berdamai dengan inner child nya.
Buku ini juga ikut menjelaskan tipis-tipis tentang perjuangan seorang ibu, yang walaupun jauh dari sempurna, tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik meski gak punya "pedoman" apa-apa. Aku menikmati penggambaran hubungan Sulung dan Nyonya Ai yang naik-turun.
Oh ya, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu.
Sesuai judulnya, buku ini menggambarkan perjalanan sang penulis menuju pulih. Buatku itu semacam reminder untuk semua pembacanya, dan siapapun yang mungkin punya struggle yang sama—atau yang jauh berbeda—bahwa mereka gak sendiri.
bintang dua untuk setiap opening quotes dan ending pertanyaan reflektifnya di setiap bab dan bintang satu untuk kisah2nya dan cara berceritanya yang dekat persis kayak lagi baca buku harian orang lain. hal yg bikin aku gak ngasih rating diatas 3 tuh karenaa ceritanya yg kurang runut, kayak ditarik ke masa dewasa terus masa kecil terus masa dewasa lagi. menurutku akan lebih bagus kalau runut krn kita jadi tau perjalanan pulih sebenernya, apa aja sih hal hal traumatis yg dia pulihkan?, gimana beliau pas kecil menghadapi itu?, gimana cara bangkitnya?, gimana cara berdamainya?. terus bbrp cerita kayak agak nanggung gitu kyk stengah2 antara mau diceritain atau gak diceritain....
"Tidak ada lagi saling menyalahkan satu sama lain. Yang ada cuma menerima, memahami, mengerti dan mengingat peristiwa tersebut sebagai bagian dari proses perjalanan hidup masing- masing untuk tidak menjadi manusia yang pahit." - p.135
Tertarik baca buku ini karena covernya bagus dan judulnya unik. Kupikir dia buku fiksi, ternyata berisi cuplikan-cuplikan pengalaman hidup penulis tentang perjuangan hidup dia dan keluarganya. Gaya penulisannya santai dan mengalir. Bukunya juga ringan banget, sangat bisa diselesaikan dalam sekali duduk.
Buku ini banyak bercerita tentang bagaimana penulis berjuang mengarungi kehidupan, bagaimana orang tua beliau bertransformasi dari seseorang yang belum cukup siap menjadi orang tua hingga menjadi seseorang yang selalu mendukung penulis, serta bagaimana penulis dan orang tuanya saling memaafkan dan memahami terhadap masa lalu mereka.
Baca buku ini membuatku merenungi bagaimana kisahku sendiri. Apa saja yang sudah aku perjuangkan hingga bisa berada di titik ini dalam hidupku, serta bagaimana kehadiran dan dukungan kedua orang tuaku sangat berpengaruh dalam hidupku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tidak ada pengetahuan awal tentang buku ini. Sebuah hal yang sangat jarang saya lakukan sebelum membaca buku. Namun, terdapat rasa tertarik yang besar saat saya mulai membaca halaman pertama. Terkejut karena sama-sama besar dari lokasi yang sama (Pematangsiantar) membuatku sedikit banyak memahami penggambaran yang disampaikan Sulung. Pajak Horas dengan berbagai kesibukannya, lapangan dengan teduh dan ramainya, jalanan dan bangunan kota yang (meski sudah tua, tetapi kokoh) dan abadi.
Buku ini menjadi sebuah bukti bahwa bertumbuh perlu dilakukan dengan terlebih dahulu menjadi sembuh. Sembuh akan luka lama, sembuh akan orang-orang yang menyakiti, serta sembuh akan luka yang ditorehkan kepada diri sendiri. Tone yang disampaikan ringan, dapat dimengerti dan dekat dengan hal-hal yang sering kita rasakan.
Buku ini berisi pengalaman penulis, Sulung Landung, waktu ia kecil hingga dewasa. Lebih banyak menceritakan soal perjuangan Sulung jadi anak yang lahir dari keluarga biasa dan kerap diolok-olok. Dan ternyata masa kecil yang tidak bahagia tadi jadi luka batin yang dibawa sampai dewasa. Sulung pun mencari-cari pemulihan.
Dari pengalaman Sulung, banyak sekali hikmah yang bisa dipetik.
Sebelum membaca, aku gak cek dulu atau baca sinopsis. Ternyata ini buku self improvement?! Aku pikir selama ini buku fiksi gitu.
Tapi bukunya sangat amat mudah dipahami dan gaya bahasanya modern. Menceritakan tentang lika liku kehidupan penulis yang merupakan seorang manajer artis dan juga keluarganya, khususnya ibunya.
Buku ini juga memiliki ilustrasi-ilustrasi yang lucu dan sesuai dengan bab yang dibahas. Ilustrasi ini membuatku semangat buat cepat-cepat menyelesaikan buku ini.
buku yg simpel, bisa dihabiskan dalam sekali duduk, tapi kok bisa tetap menyentuh sedemikian rupa bahkan aku bingung ini basah di pipi dari mana? gak sadar sampe nangis, karena cerita sederhana yang ditulis dengan ringkas ini memiliki makna mendalam hingga menyentuh hati yang membacanya.
Dengan ilustrasi cover yang menarik membuat saya tertarik membacanya di ipusnas.
Aku suka buku ini yang terdiri dari 38 bagian yang penuh makna tersendiri tentang perjalanan hidup sulung dan nyonya ai memberikan gambaran baru buatku dan membawa pesan-pesan bijaksana. Overall, it's so good, enjoyable, and easy to understand.
I read this book since I also sought help to be healed. I also saw myself in the writer’s story. But… I didn't find the message or steps on how to be healed. He just delivered his process
Also, since the writer divided the story into chapters, it is rather hard for me to imagine the timeline, which one is the earlier which one is the later, it happened before that or after that. Yeah, like that.
But overall it is like assuring and convincing me that everyone (including me) can be healed!🫶🏻