Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan Bernama Arjuna #1

Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat Dalam Fiksi

Rate this book
Apakah Anda termasuk orang yang menunggu karya fiksi bermutu? Jika itu pertanyaannya, maka yang ditunggu telah tiba.

Berkisah tentang seorang perempuan bernama Arjuna, keturunan Cina-Jawa, yang ngotot memilih belajar filsafat untuk memahami “perilaku” Tuhan ketuimbang ilmu psikologi – yang menyoroti perilaku manusia.

Terdapat ulasan lebih 150 sosok filsuf dunia, dan puluhan sosok di luar kategori filsuf. Jika target pembacaan literatur fiksi tujuannya untuk mendapatkan “kenikmatan”, maka yang paling terasa dari novel ini adalah “sensasi ilmiah” dari tiga hal, yakni, kisah-kisah kehidupan para filsuf, latarbelakang lahirnya metode pemikiran, dan makna dari substansi ajaran/paham/aliran pemikiran.

Sekalipun isinya berupa kajian filsafat, buku ini asyik dibaca karena di dalamnya juga memuat laku hidup keseharian, dan yang tak kalah menariknya ialah potret gaya hidup seksualitas kaum hawa dan adam dari sudut pandang biologi-evolusioner. Nilai-nilai falsafah dan kesusastraan di dalamnya patut diacungi jempol.

- Faiz Manshur : Redaktur Nuansa Cendekia

276 pages, Paperback

First published November 1, 2013

25 people are currently reading
328 people want to read

About the author

Remy Sylado

36 books144 followers
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (20%)
4 stars
44 (24%)
3 stars
72 (40%)
2 stars
19 (10%)
1 star
9 (5%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Septia K..
51 reviews13 followers
August 11, 2014
Dari sampulnya aja udah ada wanti-wanti "BUKAN BACAAN RINGAN" hahaha ampuunn.. Buku ini mirip Dunia Sophie, membahas berbagai macam tokoh beserta pahamnya berikut perkembangan filsafat dunia melalui sebentuk cerita. Tidak main-main, ada ratusan tokoh yang pemikirannya dibahas dalam buku ini, tapii tidak seperti Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder yang tebalnya melebihi kamus Inggris-Indonesia, karya Remy Sylado ini tergolong tipis banget, kecil pula. Jadi bisa dibayangkan, isinya ringkas dan padat. Karena isinya yang berat itulah, saya harus menarik jeda beberapa kali ketika membacanya, persis seperti ketika saya membaca buku-bukunya Stephen Hawking - yah, tidak lain karena keterbatasan kecepatan berpikir otak saya :p tapi overall, karena saya juga seneng dan tertarik sama topik-topik filsafat, membaca ini benar-benar memperkaya wawasan saya. Nice.
Profile Image for Ursula.
303 reviews19 followers
February 26, 2014
Label kecil di bagian kanan atas buku ini tidak berbohong. Tidak, yang saya maksud bukanlah label 'HALAL' seperti yang ada di bungkus makanan atau obat-obatan yang banyak ditemui, tetapi label 'bukan bacaan ringan'. Biarpun ditulis dengan bahasa main-main dan jenaka, yang memang merupakan gaya khas dari Remy Sylado, isi buku ini tidak main-main.

Perempuan ini bernama Arjuna, karena diperkirakan akan terlahir sebagai bayi laki-laki. Karena upacara untuk mengganti namanya akan terlalu repot (dengan bubur merah dan segala tetek bengek lainnya), maka ia tumbuh besar dengan menyandang nama tokoh masyur dari dunia perwayangan tersebut. Pada usia 25 tahun, wanita berdarah setengah Tionghoa setengah Jawa ini berangkat ke Belanda untuk menempuh studi filsafat.

Percakapan dan diskusi Arjuna selama ia belajar inilah yang membuat buku ini bukan novel ringan pengantar tidur. Diawali dari filsafat Yunani Kuno (generasi Socrates, Plato, Epicurus, dan lainnya) sampai filsuf modern dan eksistensialis (Nietzsche, Sartre, dan lainnya). Selanjutnya, Arjuna berbelok untuk mempelajari teologi, yang kemudian mempertemukannya dengan Van Damme, seorang pastor Jesuit, yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Pada bagian akhir, akan juga disinggung sedikit mengenai filsafat Timur.

Sampai saat ini, banyak orang menganggap bahwa filsafat adalah sesuatu yang rumit dan ribet, kalau dipelajar akan membuat kepala mumet. Karena itulah sedikit orang yang mau meluangkan waktu untuk memahami subjek ini, yang sebenarnya sangat membantu untuk melatih otak berpikir kritis dan juga membuka pikiran. Orang-orang yang menyadari tentang pentingnya filsafat bagi kehidupan manusia, mulai mencoba memperkenalkannya dengan berbagai cara yang menarik. Sebut saja seperti menggunakan Twitter (akun dari dosen-dosen filsafat seperti @tommyfawuy atau @sarasdewi), menyelenggarakan kelas-kelas serta diskusi terbuka, ataupun dengan media kreatif seperti sastra, teater, atau film. Gebrakan awal memperkenalkan filsafat lewat media sastra mulai signifikan ketika novel Jostein Gaarder, Dunia Sophie mulai dikenal luas. Gaarder memperkenalkan filsafat melalui kehidupan seorang anak bernama Sophie, yang menerima surat misterius yang berisi pelajaran filsafat. Remy Sylado dapat dikatakan melakukan hal yang sama dengan Gaarder, namun dengan cara yang lebih akrab dengan Indonesia.

Arjuna banyak menuangkan pikirannya dengan menggunakan istilah-istilah bahasa daerah , juga banyak mengaitkan peristiwa-peristiwa yang ia alami di Belanda sana dengan Indonesia tanah airnya. Banyak sarkasme mengenai keadaan Indonesia, seperti ketika Arjuna menyinggung JORR (Jakarta Outer Ring Road) yang kala itu belum rampung. Ia ingat ibunya mengatakan kepanjangan JORR itu adalah Jalanan Ora Rampung-Rampung. Satir humoris dari Remy Sylado semacam inilah yang membuat saya selalu jatuh cinta dengan buku-bukunya. Gaya penceritaan yang menggunakan bahasa sehari-hari serta berbagai istilah bahasa daerah sama sekali tidak mengurangi bobot buku ini, malah membuatnya semakin menarik. Harus diakui, Remy membuat filsafat menjadi sesuatu yang akrab dan menyenangkan melalui novel ini.

Bagi mereka yang ingin mengetahui apa itu filsafat serta pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh terkenal seara umum saja, buku ini adalah panduan yang sangat cocok dan menyenangkan.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
April 29, 2014
Nama Arjuna identik dengan nama seorang pria karena asal mula nama Arjuna berasal dari salah seorang ksatria Pandawa dalam kisah Mahabarata yang memiliki paras rupawan dan berhati lemah lembut. Karenanya sangatlah tidak lazim jika ada seorang wanita yang bernama Arjuna, namun ketidaklaziman itulah yang ditawarkan oleh Remy Sylado dalam novel filsafatnya yang berjudul "Perempuan itu Bernama Arjuna". Alih-alih menokohkan seorang pria tampan berhati lembut, dalam novelnya ini Arjuna adalah nama dari seorang gadis berusia 25 tahun dengan wajah yang tidak cantik.

"Saya Arjuna, Serius, ini nama perempuan, nama saya. Muasalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan saya lahir sebagai anak laki, dan untuk itu kepalang di usia 7 bulan dalam rahim Ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah putih bagi Arjuna disertai baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga dari masa awal syiar Islam di tanah Jawa. Jadi apa boleh buat, nama Arjuna adalah anugrah yang harus saya pakai sampai mati" (hlm 5)

Walau tidak cantik, namun Arjuna dalam novel ini digambarkan sebagai sosok perempuan pintar yang begitu percaya diri

"Saya tidak pernah merasa rendah diri atas keadaan tidak cantik dalam takdir saya ini. Dengan bahasa sederhana, ditambah perilaku optimis, saya ingin bilang, perempuan menjadi seratus persen wanita, semata-mata karena perempuan memiliki yoni, kiasan ajaib yang biasa membuat lakilaki mata ke ranjang. Itu rahasianya" (hlm.6 )

Dikisahkan Arjuna yang terlahir dari ibu berdarah Jawa dan ayah seorang Tionghoa ini adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah filsafat Barat di Amsterdam, Belanda. Ketika Arjuna mempelajari filsafat Decrates yang berselisih pandang tentang eksistensi Tuhan hal ini membuatnya tertarik untuk mengambil jurusan teologi apologetik. Sebuah pilihan yang 'aneh' karena Arjuna adalah seorang muslim, keanehan ini terungkap dalam dialognya dengan dosennya :

"Kenapa tertarik belajar apologetik? Apologetik itu pertanggungjawaban iman Kristen atas serangan filsafat yang dibilang sekular. Bidang itu lebih banyak digeluti pihak Protestan.." (hlm. 84)

"Ya, profesor, saya tahu," kata saya. "Saya cuman mau belajar ilmunya as sich. Menurut saya, sikap terhadap ilmu haruslah bebas, tidak diganggu oleh prasangka-prasangka rasial, tribal, etnis, dan religionitas" (hlm 85)

Akhirnya Arjuna memang mengambil jurusan apologetik, dosennya adalah seorang Pastor Jesuit bernama Jean-Calude van Damme yang telah berusia 62 tahun. Ketertarikan pada apologetika ditambah gaya mengajar sang Pastor membuat Arjuna lambat laun jatuh cinta pada dosennya itu demikian pula dengan sang Pastor yang ternyata menaruh perhatian lebih pada Arjuna. Diskusi filsafat antara Arjuna dengan dosen dan teman-teman kuliahnya diselingi kisah laku asmara antara Arjuna dan sang pastor inilah yang mewarnai novel filsafat ini.

Novel ini mengulas lebih dari 150 sosok filsuf, mulai dari filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles, Socrates, Plato, hingga filsuf modern seperti Nietze, Sartre, Focault, dll beserta pemikiran-pemikirannya sehingga pembaca diajak melihat bagaimana kehidupan dan lahirnya metode pemikiran-pemikiran filsafat dari para filsuf tersebut. Dengan luasnya penulis mengurai para filsuf dan pemikirannya ini maka pantaslah kalau novel ini dilabeli penerbitnya sebagai "bukan bacaan ringan". Tidak melulu tokoh-tokoh filsuf di novel ini juga kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh non filsuf mulai dari presiden, tokoh politik, sastrawan, seniman, artis/aktor, dll. Kesemua tokoh (213 nama) baik filsuf dan non filsuf diberi catatan pelengkap di akhir halaman sehingga membantu pembaca memahami sipa tokoh yang dimaksud.

Karena novel ini mengisahkan Arjuna yang akhirnya memilih mengambil jurusan Apologetika maka bahasan apologetik menjadi bahasan utama dalam novel ini. Yang menarik di sini Arjuna mendapat pengajaran dari dua dosen yang berbeda pandangan, yang pertama dari Prof. Van Dame, seorang pastor Jesuit, dan kemudian dari Prof Craig Cox.

Jika Prof Van Dame mengkaji apologetik terhadap serangan para filsuf antiteisme (ateisme teoritis ) seperti Facoult, Derrida, Jean Paul Sartre, Nietzhe, dll, maka Prof. Craig Cox mengkaji apologetik dari serangan para filsuf agnokitisme (agnostis, orang yang tidak punya gnosis, atau pengetahuan tentang Allah) yang dibahas secara cendekia oleh Auguste Comte, Herbert Spencer, Thoman Paine, dll. Jadi melalui novel ini pembaca mendapat gambaran yang utuh bagaimana apologetik dikaji dari dua sisi yang berbeda.

Walau sarat dengan dialog filsafat untungnya Remy Sylado menghadirkan dialog-dialog tersebut dengan kalimat-kalimat yang sederhana namun padat sehingga materi filsafat di novel ini menjadi lebih mudah dimengerti dibanding membaca buku literatur filsafat. Bagi pembaca yang 'melek' filsafat tentunya tidak sulit memahami novel ini, namun bagi mereka yang 'buta' filsafat saya rasa walau sudah disederhanakan oleh penulisnya namun tetap saja akan membuat pembaca mengerutkan kening atau mengalami kebosanan ketika membaca bagian dialog-dialog filsafat antara Arjuna dan dosen-dosennya yang bertebaran di novel ini.

Untungnya penulis menyelipkan celetukan-celetukan humor khas Remy Sylado yang diwakili oleh tokoh Arjuna terkait gaya hidup seksualitas, dan pandangan-pandangannya akan apa yang ia alami dan rasakan selama kuliah di Amsterdarm. Selain itu kisah bagiamana kisah cinta antara Prof. Van Dame dan Arjuna yang berbeda budaya, agama, dan rentang usia yang sangat lebar ( 40 tahunan) menjadi sebuah hal yang menarik dan penyegar saat suntuk membaca materi filsafat novel ini.

Yang menarik, dengan piawa penulis mengaitkan perbedaan agama antara Arjuna dan Van Dame dengan kehidupan beragama di Indonesia terkait dengan diperolehnya anugerah World Statsman Award dari Appeal or Conscience Foundation kepada Presiden SBY pada 20 Mei 2013. Anugerah itu diberikan karena SBY dianggap mampu mempromosikan kebebasan beragama dan menjaga toleransi antarumat di Indonesia. Penghargaan ini menulai kontroversi karena tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Indonesia. Tidak hanya dari dalam negeri, penghargaan ini juga dipertanyakan oleh Human Right Watch Asia karena SBY pada kenyataannya gagal meredam kekerasan terhadap kaum minoritas penganut Ahmadiyah, kaum Syiah, dan 50 gereja yang ditutup paksa pada 2012.

Dalam menanggapi hal ini, pemikiran penulis yang diwakili oleh tokoh Prof Van Dame memberikan pendapatnya sebagai berikut :

"Di Indonesia keyakinan yang bersifat individual - dan harusnya memang begitu sebab keyakinan tentang keselamatan adalah keputusan individual - diperkosa oleh lambang-lambang statistik dari golongan mayoritas. Ini masalah serius HAM" (hlm 199)

Selain hal di atas masih banyak hal-hal yang menarik dalam novel yang sebagian besar berisi ceramah dan diskusi tentang filsafat ini. Walau mungkin novel ini berpotensi menimbulkan kebosanan saat membacanya namun bagi pembaca yang tekun dan sabar untuk menyelesaikan novel ini hingga lembar terakhir maka niscaya akan menemukan nilai-nilai falsafah kehidupan, kesusasteraan, humor-humor satir, dan celotehan2 'nakal'dari Arjuna yang kadang terkesan vulgar yang membuat kita terseyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Akhir kata, bagi mereka yang ingin mengetahui filsafat secara umum novel ini bisa menjadi sebuah pengantar atau pintu masuk yang tepat untuk mempelajari filsafat lebih dalam lagi. Sedangkan bagi mereka yang telah menggeluti filsafat secara mendalam novel ini akan mereview apa yang telah dipelajarinya sekaligus memberi pengalaman baru dalam membaca filsafat yang dikemas menjadi sebuah novel. Filsafat dalam fiksi!

@htanzil
Profile Image for Salza Puspitasari.
75 reviews5 followers
August 25, 2015
Seorang individu menyadari identitas dirinya sebagai suatu masalah, dan dengannya berharap melalui penyelidikan yang asasi akan rahasia eksistensi dirinya, akan dapat membuka arti hidup dalam kehidupannya. -Soren Kierkegaard


"Bukan Bacaan Ringan"

Benar-benar buku filsafat dalam fiksi. Buku ini berhasil membuka wawasan saya mengenai filsafat. Meskipun tidak membaca semua index tentang tokoh-tokoh filsafat yang muncul dan menjadi referensi dalam buku ini, saya menggarisbawahi beberapa konsep yang cukup mengena di hati:

1. Karakter tokoh yang kuat

Menurut saya, background character kedua orang tua Arjuna sangat berperan penting terhadap pembentukan karakternya. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga minoritas (ibu seorang muslim Jawa, ayah seorang Kristen Tionghoa yang menggeluti dunia teater), Arjuna memiliki karakter individu yang kuat dengan pemikiran yang jauh lebih terbuka jika dibandingkan dengan kedua orang tuanya.

Ibu saya sendiri mengaku: orang Jawa itu mbulet, dan apa makna sejati mbulet, ternyata itu harus dikaji dengan hati di bawah latar budaya, pekerti, tamadun.


Selain itu, penamaan 'Arjuna' yang berasal dari tokoh pewayangan lelaki, digunakan oleh Remy Sylado untuk menamai karakter seorang wanita berusia 25 tahun yang merasa dirinya tidak cantik.

Saya sadar, saya tidak cantik. Tapi saya pun tidak mau seperti perempuan-perempuan lain yang mengira dirinya menjadi cantik jika bisa memupur wajahnya dengan bedak cair setebal sekian mili, dan memasang bulu mata palsu tiga susun, sehingga jika disoroti lampu jalan pas di atas kepalanya, tampak wajahnya seperti jerangkong. Amit-amit jabang bayi.


Karena kecantikan wanita tidak melulu karena nama dan penampilan. Kecantikan yang sempurna adalah ilmu pengetahuan. Mungkin itu poin yang ingin disampaikan oleh sang penulis dari penokohan 'Arjuna'.

Selain itu, Arjuna digambarkan sebagai tokoh yang ambisius, menguasai berbagai bahasa, menguasai dunia teater, telah membaca hampir seluruh buku penting dalam dunia per-filsafat-an, atau singkat kata: seorang wanita yang ambisius dalam menguasai seni bahasa.

"Tidak ada pertikaian yang abadi, tidak ada permusuhan yang abadi, tidak ada kebencian yang abadi, sekaligus tidak ada cinta yang abadi, yang ada hanya ambisi yang abadi."


2. Konsep Ketuhanan

Konsep ini sangat terasa di bab ketika Arjuna mengatakan kurang setuju dengan sila pertama Pancasila yang berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa" karena bentuk nomina "Ketuhanan" mengarah pada konklusi seakan banyak tuhan yang harus disatukan dalam persepsi tunggal.

"Saya kira sikap ibu saya tentang Tuhan dan agama adalah contoh paling elok. Saya belajar darinya. Bahwa, kata dia, dalam meyakini Tuhan yang esa, orang boleh berbeda-beda, sebab agama pun tidak satu."

Tuhan dan manusia terhubungkan secara individual dalam kewajiban yang tidak dipaksa. -Martin Luther


3. Tata bahasa yang indah

Oh how i love Indonesian literature! Selain karena tutur bahasa sang penulis sangat menarik, saya menganggap bahwa bahasa sastra Indonesia merupakan bahasa yang penuh perasaan.

"Perbedaan ontologis itu, menyangkut antara sein dan seinde, antara ada dan keberadaan, antara eksis dan eksistensi. Kita hidup dalam satu wilayah metafisika, di mana perbedaan eksis dan eksistensial diabaikan, tapi selanjutnya yang eksis ditempatkan sebagai yang eksistensial, dan manusia tidak sanggup menguasai keadaan yang paling laras sekalipun. Sebab, dasarnya adalah, dalam berpikir ontologis, terbentang kesulitan bagaimana mengatasi metafisika dengan bahasa metafisika. Mungkin yang paling kena adalah bahasa rasa, yaitu bahasa puisi."

Quote terakhir yang paling berkesan:

Bahayanya cinta adalah: terlalu cepat membayangkan keindahan dan terlalu telat membayangkan kesusahan. Ingat ini. Sukses itu bukan hanya dilandaskan oleh keinginan, tapi juga kemauan.
Profile Image for Olive Hateem.
Author 1 book258 followers
April 12, 2018
Saya sudah tertarik dengan buku ini sejak dicetak untuk kedua kalinya, pada tahun 2014. Embel-embel ‘filsafat dalam fiksi’ di bawahnya membuat saya—yang kala itu masih berada dalam fase kagum dengan segala hal yang berbau filsafat—langsung memasukkan buku pertama dari serial Perempuan Bernama Arjuna ini ke dalam daftar to-be read.

Sayangnya, impresi yang saya dapat dari beberapa bab pertama yang ada di buku ini: Remy Sylado mencoba untuk meringkas mata kuliah Filsafat Barat dengan menambah-nambahkan peristiwa agar ada fiksinya. Terlalu banyak poin-poin yang sangat textbook dan agak kurang masuk akal jika dibahas di dalam percakapan. Misalnya, ketika membahas nama tokoh yang kemudian dijelaskan nama lainnya dalam bahasa Arab. Apa hal-hal semacam itu benar-benar dibahas dalam suatu percakapan?

Lalu, sebelum Injil, kita baca Logos dalam filsafat Heraclitus—di dunia Arab dieja Iraqlitus dan filsafat Islam menaruhnya sebagai filsuf jempolan sebelum Socrates—disimpulkan bersifat Illahi, tapi tidak diberi jalan untuk menafsirkan Logos sebagai Allah. (hal. 23)

Dengan umur Arjuna yang sudah mencapai 25 tahun, saya asumsikan ia sedang menjalani master di Belanda. Lalu diceritakan dosennya mengadakan pengulangan materi di kelas. Apakah mereka benar-benar membahas kembali secara mendasar filsafat beserta tokoh-tokohnya? Review memang penting dalam jurusan filsafat, dengan berbagai nama dan pemikiran yang mirip dan mudah sekali tertukar, tetapi kuliah Arjuna dengan Profesor Bloembergen justru mirip sekali dengan pertemuan perdana saya dalam mata kuliah Filsafat Barat Pra-modern—yang saya dapat di semester satu dan seharusnya sudah menjadi pengetahuan dasar bagi mahasiswa filsafat.

Lantas dia melanjutkan ulangan pelajaran tentang tokoh-tokoh filsafat Yunani pra-Socrates. Disebutlah dua nama yang pertama kali menjadikan kota Athena sebagai pusat kegiatan filsafat. Dua nama yang dimaksud ini tak lain adalah Anaxagoras dan Protagoras. (hal. 35)

Teman-teman dari Arjuna juga seolah hanya ditempelkan ke dalam cerita, tanpa benar-benar diperlukan. Misalnya, saat Arjuna sedang berdiskusi dengan Amin al-Ma’luf—seorang Arab Kristen asal London yang memang sejak awal menjadi teman Arjuna dalam bertukar gagasan—disebutkan bahwa banyak ‘teman lain’ yang ikut menguping, meriung, dan merubung. Sayangnya, kehadiran ‘teman lain’ di sini terasa ditulis dengan sekenanya, guna menjadi alat untuk melengkapi cerita tentang tokoh penting lain yang sedang dibahas.

Seorang teman di antara yang meriung, segera mendukung dengan semangat. “Ya. Yang paling kaya William Shakespeare. Dalam dramaturgi, Shakespeare dipengaruhi oleh Seneca, lantas Shakespeare mempengaruhi Johann Wolfgang von Goethe, dan saya tetap menyukai Shakespeare." (hal. 26)

Entahlah, mungkin karena ekspektasi saya yang terlanjur tinggi, tapi buku ini tidak cukup serius untuk didalami sebagai buku filsafat dan tidak cukup menyenangkan untuk dibaca sebagai fiksi. Jika digarap sedikit lebih dalam mungkin buku ini cocok jadi pengantar bagi kalian yang ingin belajar dasar-dasar filsafat, dan akan saya rekomendasikan sebelum membaca Dunia Sophie milik Gaardner.
Profile Image for Bambang Rahmantyo.
30 reviews11 followers
February 23, 2016
buku bagus bagi yang ingin belajar sejarah filsafat dengan cepat dan menyenangkan. mirip dengan dunia sophie (sophie's world)-nya jostein gaarder, poin-poin sejarah filsafat disampaikan melalui fiksi yaitu perempuan bermama arjuna, blasteran jawa-cina yang kurang percaya diri dengan penampilannya.

arjuna diceritakan sebagai mahasiswi filsafat dan teologi di belanda yang polyglot dan sangat pintar (kadang terlalu pintar jadi sulit dipercaya). sejarah filsafat disajikan lewat dialog arjuna dan teman-temannya di kelas maupun di luar kelas yang sporadis dan melompat-lompat, jangan harap ada sejarah filsafat yang runut disini, bagi yang belum pernah baca dunia sophie, lebih baik baca dunia sophie dulu baru ini.

porsi fiksi buku ini bercerita tentang pergelutan arjuna dengan cinta dan seksualitasnya yang sayangnya terkesan tempelan dan seadanya.

pandangan penulis jelas sekali disini, karena porsi filsafat apologetik yang cukup besar paparannya, terasa bahwa penulis menolak konsep ateisme dan agnostisisme.

verdict:

buku bagus untuk penyuka petualangan pemikiran dan filsafat untuk menambah dan memperdalam wawasan atau setidaknya mengingatkan.
bagi pemula sejarah filsafat yang belum membaca dunia sophie, lebih baik baca itu dulu karena lebih runut, baru baca ini, karena di sini sejarah filsafat disampai secara melompat, padat, dan sporadis.
Profile Image for Tias.
130 reviews
April 2, 2014
Buku ini secara beruntun menjelaskan pemikiran para filsuf mengenai Tuhan, melalui kehidupan seorang perempuan bernama Arjuna, blasteran Cina-Jawa yang melanjutkan studi magisternya di Belanda. Mulanya, dia mendalami ilmunya di jurusan filsafat dengan Prof. Bloembergen, kemudian pindah ke spesialisasi teologi apologetika dengan Prof. Van Damme.

Pemikiran-pemikiran para filsuf yang dibahas di buku ini dijabarkan secara singkat namun padat, sehingga cukup mewakili keseluruhan pendapat mereka.

Saya sendiri cukup ngos-ngosan bacanya karena "serangan" yang bertubi-tubi dari halaman ke halaman, tapi saya menikmatinya, karena dengan begitu saya bisa tau, bahwa dramaturgi erat kaitannya dengan filsuf besar dunia.
Profile Image for Ayu Rienda.
19 reviews3 followers
July 5, 2014
Ya benar, ini seperti ringkasan buku Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder. Kisah fiksi berlatar dunia perkuliahan filsafat, dengan pengembaraan berbagai pertanyaan si cewek bernama Arjuna dan kawan-kawannya.
Berbagai fakta para filsuf hadir, disertai ulasan singkat mengenai beberapa tokoh-tokoh dunia.
Dari buku ini saya baru tahu, bahwa Socrates menikahi Xantippe yang terkenal galak dan keras, agar mengasah kesabarannya. Mungkin itu paket terbaik dari cinta ya, yang memberi kekuatan juga penerimaan apa adanya? :D
Buku ini bukan jenis buku yang ringan, sesuai labelnya. Namun Pak Remy lihai mengolahnya dengan sentuhan-sentuhan 'nakal' dan cerdas. Cukup nikmati saat pikiran benar-benar jernih.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
February 8, 2014
Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder versi Indonesia dengan ketebalan lebih tipis, tapi bikin lieur. Filsafat oh pilsapat.
Profile Image for Vianna Orchidia.
16 reviews
February 1, 2015
Remy Sylado nggak main-main ketika mencap bukunya "bukan bacaan ringan". Gila, otak saya nggak nyampe buat memahami kisah ini! Dengan latar belakang mempelajari filsafat hanya selama dua semester, saya harus terengah-engah membaca buku ini. Ada beberapa yang bisa saya tangkap dari debat mahasiswa-mahasiswa atau mahasiswa-dosen S2 fakultas filsafat di buku ini, tapi selebihnya, saya hanya bisa angguk-angguk kosong.

Berhubung kalau membahas aspek filsafatnya saya hanya akan menangis, mari membahas aspek lainnya saja.

Tokoh Arjuna digambarkan dengan unik. Perempuan (yang notabene minoritas di fakultasnya), cerdas dan tangguh menjurus keras kepala, sekaligus open-minded. Bisa dibilang ini karena dia dibesarkan di lingkungan penuh dualisme. Dengan karakternya ini, dia berhasil bertahan di fakultas filsafat di Amsterdam yang lebih menyoroti filsafat barat ketimbang filsafat timur. Dia juga sukses membawa pandangan khas orang timur di tengah-tengah ratusan aliran filsafat barat yang sedang dia pelajari.

Satu hal yang paling saya cermati, adalah Arjuna seorang poliglot. Dia bisa bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Arab, Belanda, Jepang, Mandarin. Belum lagi kalau menghitung bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan 3 tingkatannya. Di sepanjang novel, Remy juga menambahkan istilah-istilah Sunda, Jakarta, Minang, sampai Bugis di kosa kata Arjuna. Sebagai pecinta bahasa, tentunya ini jadi nilai plus tersendiri bagi saya.

Selain itu, buku ini jelas mengkritik kondisi Indonesia. Ada membahas hubungan Tuhan dan filsafat karena Arjuna masuk pendalaman apologetika (entahlah bener atau nggak, saya udah nggak sanggup). Di kelas ini, Arjuna membandingkan apa yang dia pelajari dengan kondisi di tanahairnya. Di bagian lain, masih ada lagi bahasan tentabg SBY. Ya, bagi saya ini kritik yang sangat keras terhadap negara dan pemerintah.

Sebagai penutup, biarlah saya mengutip satu baris dari novel ini.
"Jangan bilang 'saya rasa'. Itu ekspresi Timur. Ekspresi Barat dalam mana sekarang kita belajar filsafatnya, bukan 'saya rasa' tapi 'saya pikir'. Jadi kamu harus bilang begitu." (halaman 98)
Profile Image for Roswitha Muntiyarso.
118 reviews7 followers
November 11, 2015
Butuh berpikir. Satu hal yang langsung terbersit di pikiran ketika pertama kali membaca halaman2 awal buku ini. Sebagai seorang saintis ilmu eksakta, pendekatan ilmu sosial mengenai sebuah permasalahan memang masih asing dari kepala saya. Filsafat, sebuah ilmu yang kata orang adalah ilmunya segala ilmu ternyata sangat menarik karena dari pemahaman-pemahaman filsafat ini seluruh ilmu politik, sains, tata negara, ekonomi, sastra, berkiblat dan mendapatkan esensi pemahamannya. Membaca buku ini membuat saya tertarik membaca buku-buku filsafat lainnya. Buku ini seolah filsafat 101 yang dikemas secara fiksi. Berat namun sangat menarik.

Kekurangan yang saya rasa dari buku ini adalah terlalu banyaknya nama filsuf dan tokoh-tokoh yang terus menerus dibombardir hampir di tiap paragrafnya. Terkesan terburu-buru dan membuat kesenangan membaca tersendat karena bagi yang tidak mengetahui nama-nama tokoh tersebut, harus meluangkan waktu membuka bagian belakang buku terlebih dahulu.

Karena ini karya seorang sastrawan kenamaan Remy Silado yang juga sudah cukup berumur, bahasa Indonesianya baik, benar, baku, dan nyaman dibaca meskipun yang hendak disampaikannya amatlah rumit. Sangat baik untuk dijadikan materi untuk bedah buku dalam bahasan sastra Indonesia.

Sangat saya rekomendasikan, tapi sekali lagi, sama seperti yang tertera di sampulnya, Buku ini Bukan Bacaan Ringan.:)
Profile Image for Azhar Rijal Fadlillah.
35 reviews23 followers
November 26, 2014
ketika upaya membumikan filsafat dilakukan, seperti di kota saya (bandung) yang mulai banyak bermunculan komunitas studi filsafat, diskusi, bedah buku, novel seperti ini memang sudah seharusnya hadir ditengah keseharian kita. bagi mereka yang sudah lama ingin mencicipi filsafat tapi tak punya banyak nyali, waktu, dan kadung terperangkap pameo filsafat itu sulit dan mengerikan, buku ini cocok sebagai langkah awal. bagi mereka yang sudah mendalami filsafat, buku ini bisa jadi semacam "mengulas kembali" dan menyegarkan ingatan.

filsafat dalam fiksi. ah sepertinya filsafat kan memang hanya fiksi (?)
Profile Image for Mardian Sagian.
90 reviews18 followers
October 22, 2014
Mungkin tema ini bukan selera dan kelas saya. Banyak halaman yang saya lewatkan, karena saya sedang tidak ingin dikuliahi "tanggung" dengan ajaran filsafat. Membaca ini mengingatkan kerisauan saya membaca supernova #1, dewi lestari.
Profile Image for Deni Aria.
159 reviews4 followers
January 15, 2014
Buku ini menarik dan telah membawa saya mengembara ke alam pemikiran para filsuf ternama dengan nuansa fiksi yang khas dan hanya di miliki oleh penulis.
1 review
February 14, 2014
buku yang menarik. filsafat yang disampaikan dengan cukup mudah untuk dimengerti dan bubuhan fiksi yang bagus :D
Profile Image for Isti Bani.
27 reviews29 followers
December 28, 2014
hm. lumayan~ cerita hidupnya arjuna kurang seru, tapi ketika dia di kelas dan diskusi, seru.
Profile Image for Julius.
1 review
March 9, 2014
Seperti dunia sophie, novel yg filsafat seperti belajar filsafat tanpa teks kurikulum baku
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
November 5, 2018
Hmmm... sebuah karya fiksi dengan embel-embel filsafat dalam cover buku sepertinya masih begitu menjual. Karena saya membeli buku ini pada saat melihatnya di rak sebuah toko buku, dan membaca (selain nama Remy Sylado tentunya; ini adalah novel pertama Remy yang saya baca) ‘filsafat dalam fiksi’. Dorongan untuk mengambilnya lebih besar. Tambahan kata ‘bukan bacaan ringan’ pada sampul buku menurut saya itu juga mengganggu. Kesan yang sampai saya malah norak. Hehehe.

Arjuna adalah tokoh utama yang digambarkan Remy sebagai perempuan yang buruk rupa dan sedang kuliah magister di fakultas filsafat di Belanda. Kemudian menikah dengan dosennya. Remy merangkai cerita dengan diskusi-diskusi di kelas Arjuna. Dan menerangkan begitu banyak nama filsuf, seniman dan beberapa profesi lain. Sangat baik kiranya bagi yang ingin tahu siapa saja filsuf dengan perkenalan pemikirannya. Saya yang membaca novel ini saat semester 7 di fakultas filsafat saja ada beberapa poin yang baru tahu dari novel ini. Hmm mungkin karena saya kebanyakan baca chatt dari kekasih saya, atau mungkin karena saya yang kurang belajar & membaca filsafat.

Saya menemui 2 kejanggalan, yakni hanya ada tiga nama temannya yang disebut yang aktif pada setiap sesi diskusi, padahal diceritakan ada 16 mahasiswa. Seakan yang lain hanya tempelan. Dan itu terkesan memaksa. Kemudian hanya ada 3 nama lagi (selain Arjuna & dosennya tentunya) di kelas lain yang diikuti Arjuna, padahal ada 9 mahasiswa. Kedua, Remy hanya mengadakan diskusi SAJA pada kelas magister filsafat, diskusi untuk mengajak mahasiswanya membicarakan bacaannya masing-masing. Dan beberapa kali menekankan supaya tidak membaca risalah pemikiran para filsuf, tapi untuk membaca karya asli sang filsuf.

Banyaknya filsuf yang dibicarakan, membuat saya beranggapan Remy memaksakan sebuah karya fiksi yang ingin menggunakan filsafat sebagai gagasan utama. Apalagi beberapa kali Arjuna bersama tokoh lain di kelas yang pertama selalu membicarakan filsafat dengan bahasa Arabnya atau meninjaunya dengan filsafat Islam. Namun saya tak paham dengan akhir cerita ini, hanya dikisahkan Arjuna pulang ke Indonesia bersama kekasihnya lalu menikah dan selesai. Semoga ketidakpahaman saya terjawab di lanjutan seraial novel Arjuna berikutnya.

Tapi saya menyematkan beberapa tanda yang ingin Remy sampaikan; ayah Arjuna adalah orang cina, beragama Kristen, seorang pedagang mobil & seorang seniman teater. Ibunya orang Jawa, beragama muslim, latarbelakang pendidikannya psikologi. Arjuna sebagai muslim dan memilih kosentrasi studinya tentang Tuhan dalam wacana Kristen untuk mematahkan antiteisme. Dan menikah dengan mantan pastor Jesuit.

Hmmm... ini adalah novel dengan bentuk baru yang saya baca. 3/5, saya tertarik dengan gagasan filsafat yang digunakan Remy, tapi tidak memuaskan saya untuk membacanya sebagai sebuah novel.
Profile Image for Sabhrina Gita Aninta.
19 reviews
December 31, 2019
Saya suka bagaimana novel ini disajikan dalam hal seni rupa sampul dan pilihan diksi dalam bertutur, namun kurang nyaman dengan begitu banyak konten filsafat yang saya kurang familiar. Untuk mereka yang ingin belajar filsafat secara umum dan lebih serius, buku ini adalah introduksi pengenal yang cukup menyenangkan. Plot fiksi dari novel ini, sayangnya, tidak sekaya konten filsafat dalam dialog-dialognya.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
January 22, 2018
Ceritanya sendiri habis di halaman 206, sisanya adalah catatan pelengkap. Seandainya saya adalah mahasiswa baru jurusan filsafat, novel ini akan jadi ringkasan yang baik. Banyak filsuf yang jadi feature lengkap dengan aliran/inti ajarannya masing-masing. Bagus kalau cuma untuk sekadar tahu.
Profile Image for Rowena.
141 reviews12 followers
May 4, 2018
Buku ini hanya memberikan gambaran ringkas tentang tokoh-tokoh dalam sejarah filsafat tanpa memberikan terapan praktis di dalamnya. Mungkin buku ini hanya sebagai pengantar dari kelima buku lainnya di dalam seri ini.
Profile Image for Mochammad Syahdiladarama.
27 reviews
December 31, 2021
The first time I read this book was because my Indonesian Literature Teacher lent me... and ever since, i kept reading the sequels!!! I always buy one with specific region-themed when I go travelling!!! REMY SYLADO IS A GENIUS!
Profile Image for affn.
35 reviews
April 14, 2020
bacaan rumit tapi menarik, mengalir dari bab awal sampai akhir
Profile Image for mai.
13 reviews
June 2, 2025
MY FIRST PHILOSOPHY BOOK 🤩 i reading this book w/out decision 😗 rada berat buat mahamin ini jadi aku coba buat baca beberapa kali walopun harus ulang beberapa page 🙂‍↕️
Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
April 22, 2016
Sesuai dengan judulnya, buku ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Arjuna –keturunan Cina-Jawa, tidak cantik, namun memiliki rasa percaya diri yang tinggi– yang lebih memilih mempelajari filsafat dan “perilaku” Tuhan di Amsterdam daripada ilmu psikologi, yang kata ibunya, menyoroti perilaku manusia. Dipilihnya Amsterdam sebagai tempatnya menempuh ilmu pun bukannya tanpa alasan. Menurutnya, suasana di negeri itu sangat mendukung orang untuk berpikir tertib dan nalar. Kedua, banyak filsuf besar yang lahir di sana, seperti Descartes dan Baruch Spinoza. Ketiga, yang agak sedikit lucu, ia ingin mengambil alih otak Belanda untuk menjadi bagian kecerdasan dan kecendekiaannya –mengingat bahwa kata Bung Karno, Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dan selama itu raja-raja di Indonesia hanya menjadi kambing congek Belanda.

Dari segi tokoh, selain Arjuna, nama-nama lain yang mengisi buku ini di antaranya adalah Amin al-Ma’luf –si arab-kristen– dan Gerard Dijkhoff, keduanya adalah teman dikusinya di kelas filsafat. Adapula, Bloembergen (sang dosen filsafat), dan Prof. Dr. Jean-Claude van Damme (Pastor Jesuit yang menjadi dosen teologinya –dan kelak menjadi kekasihnya). Yang membuat berbeda, fokus cerita buku ini tidak pada suka-duka Arjuna selama berkuliah di negeri Belanda seperti kebanyakan novel pop saat ini –Negeri van Oranje, misalnya. Melainkan, “pemikiran-pemikiran” Arjuna –dan kawan-kawannya– atas aliran pemikiran para filsuf yang dapat dilihat dari argumen-argumen yang ia lontarkan saat diskusi.

Ulasan lebih lengkap dimuat di http://bacasaja.com/resensi-perempuan...
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
December 30, 2016
"Memangnya bagaimana nalar mendefinisikan Tuhan? Atau lebih ilmiah: bisakah eksistensi Tuhan dibuktikan? Ah, rasanya filsuf siapa pun akan mengaku tidak bisa membuktikan eksistensi Tuhan, tapi itu tidak pula berarti Tuhan tidak eksis." (Halaman 81)

Buku ini diberikan oleh seorang teman sekitar dua tahun lalu dengan pesan di sampul dalamnya: Kepada Kak Dhila, Seseorang yang terkasih. Teman perempuan. Ya, @mayang namanya. Mungkin kalau bukan mengikuti #ReadingChallenge dengan tema filsafat, buku ini masih belum terjamah. Bayangkan, selain informasi 'filsafat dalam fiksi', ada label bertuliskan 'bukan bacaan ringan' yang tersemat cantik di sampul depan. Belum dibaca saja sudah diteror begitu. Huh.

Buku ini menceritakan perjalanan Arjuna, seorang perempuan yang mencoba memahami eksistensi agama, tuhan, dan kepercayaan. Perempuan yang memilih Amsterdam untuk tempatnya belajar tentang filsafat barat sampai teologi apologetika.

Jangan tanya seberapa pening saya membaca buku ini. Banyak nama tokoh yang disebutkan dan dihitamtebalkan. Mulai dari Sunan Kalijaga, Nietzsche, Moammar Qadafy, Putu Wijaya, Sartre, Pythagoras, Xantippe, Kyai Mustofa Bisri, hingga Leonardo diCaprio yang kemudian diberi penjelasan tentang riwayat tokoh pada 'Catatan Pelengkap' di bagian belakang.

"Bilang pada suamimu: jangan hanya mengucapkan cinta di saat senggama akan mencapai puncak. Cinta yang seperti itu baru dalam taraf 'shen ti' artinya 'jasmani'. Padahal cinta yang langgeng harus mencapai taraf 'jing shen' artinya 'rohani'. Maka, dalam rangka menuju ke situ, biasakan suamimu menyatakan cintanya itu lima kali dalam sehari." (Halaman 205).

Aduh, ampun.
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
Banyak resensi yang menyebut setipikal "dunia shopie" jostein garder yang aku sendiri juga belum baca. Terletak pada penyebutan sekian puluh nama tokoh serta perkembangan filsafat. Namun berbeda signifikan pada ketebalan halaman buku.
____
Percintaan Arjuna pada mantan pastur jesuit itu layak diapresiasi bukan soal liberalnya cara bergaul. Aku juga nggak akan memihak pada itu.

Buat berpasangan, 25 vs 60 bukan perbedaan usia yang biasa diterima akal. Siapa akan bilang mustahil? Ia sama sekali tak mengerti perihal dimensi. Kerangka kebutuhan manusia hampir boleh dibilang senada. Jasad itu pakaian, karenanya kamu cukup menggunakan mata untuk memberikan kesan serasi. Namun, tunggu dulu. Jangan sekali kali menilai aspek ilahiah manusia. Sama sekali pengetahuanmu tak patut dikemukakan.

Siapa yang lebih untung pasangan yang lebih tuakah atau pasangan yang lebih muda? Siapa yang lebih untung pasangan yang penuh ubankah atau yang rupawan? Siapa yang lebih rugi pasangan yang pintarkah atau yang melarat?

~Untung rugi tempatnya di meja judi.

It,
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.