Faust, seorang kimiawan muda berbakat, terobsesi menjadi alkemis untuk menemukan ramuan kehidupan yang bisa membuat orang awet muda, dan dia rela mengorbankan apa pun demi mewujudkan ambisinya itu. Tapi ramuan racikannya justru menimbulkan dampak yang tak terduga bagi dirinya sendiri sehingga dia harus kehilangan identitasnya. Dan ketika di tengah keputusasaan dia mendapat sentuhan cinta dari seorang wanita dan memutuskan untuk memulai kehidupan baru, seseorang misterius memaksanya untuk menjalani kehidupan lamanya sebagai alkemis, masuk ke dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan.
"Eksperimen Faust" adalah novel fiksi ilmiah yang bermain-main dengan dunia kemungkinan yang bisa atau mustahil bisa terjadi, dengan latar kehidupan mahasiswa perkuliahan. Tokoh utamanya seorang pemuda optimis, selalu punya pembenaran moral bahwa eksperimennya akan berguna bagi jutaan orang di masa mendatang, meski dia harus mengorbankan orang-orang yang menjadi subjek eksperimennya.
Seorang mahasiswa kimia yang berambisi menemukan ramuan kemudaan, mengorbankan manusia lainnya dan menganggap itu hal wajar demi kemanusiaan itu sendiri. Apa jadinya jika ego menutupi kemanusiaan kita dengan kemanusiaan palsu?
Banyak hal yang diselipkan penulis tentang realita kehidupan di Indonesia, dari birokrasi yang bobrok hingga berita yang hanya menyoroti kehebohannya saja. Bagiku Faust kurang dibentuk lagi sifat ilmuwannya, kenapa dia tidak merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Policarpus? Maksudku tidak ada kejelasan bagaimana Faust yang berpikiran ilmiah ini memandang Policarpus. Kemudian, pada kasus istrinya, kenapa Policarpus tidak terekam cctv atau paling tidak menjadi saksi dipersidangan, padahal dia lah yang mengantar minuman itu kepada korban yang meninggal.
Mungkin kekosongan tanpa cinta kadang membawa kita pada kondisi ego yang tinggi, kadang sepi dari cinta bisa membawa petaka