Batas akan tetap menjadi batas, saat tak ada yang benar-benar berani menyeberanginya. Seperti halnya kita menamai utara sebagai utara, karena tak ada yang pernah bertanya kenapa.
Jarak akan tetap menjadi jarak, saat tak ada yang memulai langkah untuk menyudahinya. Kita hanya menduga-duga, sebelah langit mana yang berwarna lebih merah.
Dan, perjalanan hanya akan menjadi perjalanan, saat tak ada yang sudi menceritakan kisah yang menyertanya. Maka, temuilah, lewati batas, tuntaskan jarak. Ceritakan—setidaknya kepada diri sendiri, tentang jawaban yang kita temui.
Inilah kisah perjalanan yang akan membuat kita kembali kepada sesuatu yang paling dekat, sejauh apa pun kita melangkah pergi.
Tema yang sangat bersesuaian. Hal-hal yang sebenarnya dicari apabila mengembara. Hal-hal yang menjentik emosi, yang memeras daya fikir dalam menilai kehidupan. Terutamanya diri sendiri.
Buku ketiga ini bagi saya lebih mengesankan. Tidak hanya fakta semata-mata. Iya, kerana fakta itu boleh saja diperolehi di mana-mana. Tetapi pengalaman? Itu hak milik peribadi yang sangat berharga, dan The Journeys 3 berkongsi pengalaman itu.
mendapatkan buku ini karena menang kuis di twitter di salah 1 penulisnya yaitu akang Valiant ( vabyo )
cukup lama memang baca nih buku, sampe lupa lagi kisah-kisah siapa aja yang udah gue baca dan belum.. ada beberapa cerita yang gue suka banget dan banget..
1. Dina DuaRansel - Don't You Miss Home, Though? Well, ini kisah kak Dina bener2 inspiratif banget ya, siapapun yang baca pasti akan bilang kalo ini cerita AMAZING bangettt... meninggalkan rumah, jual rumah, jual segala2 yang dia punya demi mengelilingi dunia bersama suaminya. bisa dibilang sebagian orang pasti akan mikir beribu-ribu kali lipat untuk ngelakuin apa yang kak Dina lakuin ini. bener2 salut banget kak ^^
2. Ariev Rahman - Kisah Sushi Nomor 1 di Dunia pergi ke Jepang karena ingin ke tempat2 yang dikunjungi almarhum ayahnya.. it's touching..
3. Alexander Thian - Pulang ke Pelukan Mama okeeyy siapa yang gk kenal sama selebtwit 1 ini si @aMrazing (ngetik M nya harus gede, kalo orangnya tau m nya kecil pasti diomelin) yang selalu punya cerita2 yang bisa dibilng agak sangklek? begitu juga disini, doi nyeritain dia ke Hongkong mau ngunjungin mamanya. dari yang ketawa karena ulah begonya, sampe dibikin nangis pas adegan ketemuan sama mamanya.. suka sama gaya cerita si koko mungil yang 1 ini, berharap doi ngeluarin buku barunya lagi..
4. Windy Ariestanty - Menerjemahkan Bahagia walau kisahnya hanya di Bali gk keluar2 negri segala, tapi gue suka banget sama ceritanya. mbak W pinter banget sih deskripsiin bahagia itu apa, bener2 banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari cerita mbak W ^^
5. Valiant Budi - Valiant ke Vatikan bukan karena gue dapet buku gratis dia makanya ceritanya jadi salah 1 favorit gue, bukaannnnn.. tapi gue suka sama ceritanya, caranya deskripsiin suatu tempat bener2 detail banget dan gk bikin otak belibet.. sukses trus kang ^^
Nah ada 5 cerita yang jadi favorit gue, untuk cerita yang lainnya pun gue suka.. tapi memang ada yang beberapa gue gk suka.. apa yaa? gk tau kenapa ada cerita yang gue rasa kya karangan sendiri, ada juga yang kesannya malah curhat gitu.. oke soory, gue jujur kan ya..
for all gue suka sama isi cerita ini, special banget memang isinya ^^
Cukup 2 hari, ya hanya dua hari untuk buku setebal 377 halaman ini. saya menemukan buku ini diantara tumpukan buku obral di salah satu toko buku terkenal itu. Seperti dua buku pendahulunya, buku ini merupakan kumpulan catatan perjalanan beberapa penulis yang kemudian dikumpulkan menjadi satu buku yang menarik. Ditulis dengan berbagai macam gaya, dengan tema dan setting lokasi yang berbeda-beda pula.
Membaca the journay 3 seperti menyesapi berbagai macam rasa. Seperti dua buku pendahulunya the journays 1 dan 2, buku ini pun ditulis keroyokan oleh beberapa penulis. Menyajikan macam-macam sensasi di setiap bagiannya. Beberapa bagian memang terasa membosankan, membuat kita ingin segera cepat-cepat berlalu dari halaman-halaman itu. Namun di beberapa bagian lain buku ini juga menghadirkan banyak kesan, membuatku banyak merenung. Membaca beberapa kata, berhenti, berdiam dan merenung. Membaca lagi, berhenti lagi, berdiam lagi dan kembali merenung. Begitu seterusnya, sampai tak sadar saya sudah pada lembaran-lembaran terakhir buku ini
Finished another journey. Still touching, as always. Honorary mentions for Don't You Miss Home, Though? (Dina DuaRansel), Berhenti Sejenak (Hanny Kusumawaty), Slow Travelling di Sidney (Ve Handojo) dan Pulang ke Pelukan Mama (Alex) :)
Kurang semangat membacanya karena gak ada travel writer idola seperti mbak Trinity dan mas Adhitya Mulya. Namun makna-makna dari sebuah perjalanan beberapa penulis mampu menggugah semangat untuk selalu jalan-jalan. What is important not the destination, but what and whom we find along the way.
"Perjalanan adalah sebuah bentuk ziarah yang hakiki kepada suatu rasa yang terletak jauh dalam diri kita dan sering terlupa: kebebasan" Hal.7.
Kutipan ini menjadi bagian dari cerita berjudul Berumahkan Kebebasan yang ditulis oleh Husni M.Zainal yang menceritakan tentang aktivitasnya sebagai dokter yang bertugas di beberapa negara di Afrika seperti Zambia dan Malawi.
"Wah cerita pertama aja udah bagus gini, gimana cerita-cerita selanjutnya ya?" pikir saya.
Bukannya apa-apa. Jika mengenang The Journeys 1, saya masih bisa menyebutkan beberapa cerita favorit (seperti yang ditulis oleh Raditya Dika atu Valiant Budi). Namun, di The Journeys 2 blas nggak ingat apa-apa saking nggak menikmati bukunya (belakangan baru aku cek lagi di goodreads, cerita yang ditulis oleh Bule Ngehe lumayan juga.)
Makanya, pas nemu obralan The Journeys 3 ini, aku gak espektasi banyak. Sekadar ingin melengkapi bukunya aja. Udah kepalang tanggung punya no.1 dan no.2-nya. Eh rupanya, buku ini meninggalkan banyak kejutan sebab cerita dengan tema besar: ziarah ini dapat disampaikan dengan baik oleh para penulisnya.
"Aku iri sekali kepada tempat ibadah yang bisa dimasuki siapa pun ini, walaupun memang ada beberapa ruang terlarang yang dapat kupahami.... Aku lantas teringat kota suciku sendiri. Andai Mekah memperbolehkan siapa pun masuk untuk bisa menikmati keindahan Masjidil Haram, atau setidaknya boleh meraba-raba dinding depan, atau sekadar memotret lantai halaman depan." Hal.196.
Kutipan itu ditulis oleh Valiant Budi di cerita "Valiant ke Vatikan". Yup, dia adalah salah satu penulis favoritku, terutama kalau nulis non fiksi kayak gini. Nah, di cerita itu, dan lewat kutipan itu, apa yang ada di benakku cukup terwakilkan.
Buku setebal 375 halaman ini terdiri dari 13 cerita yang hampir semuanya bagus. Saya sih "cuma" nggak sreg sama satu cerita yang ditulis berantakan dengan gaya semau-gue. Keliatan juga teknik berceritanya jadinya timpang dengan penulis-penulis lain. Andai satu tulisan ini dihapus/digantikan oleh penulis lain, maka penilaian buku ini secara utuh akan semakin bagus di mata saya.
Tulisan Ariev Rahman tentang perjalanannya ke Jepang kocak. Walaupun rasanya tulisan ini pengembangan dari cerita blognya yang saya pernah baca. Tulisan Hanny Kusumawari yang melakukan perjalanan ke Santorini, yang semula akan saya kira biasa saja, eh ternyata keren banget!
Ada juga JFlow, musisi asal Ambon yang melakukan perjalanan mencari akar hidupnya di Jawa Timur juga asoi, indah. Lalu, tulisan Lucia Nancy "Timur Nusantara: Perjalanan Pulang ke Rumah" jadi bikin kangen jalan-jalan ke Timur Indonesia.
Ah, pokoknya bukunya asyik dan apik! Jelas terlihat The Journeys 3 lebih bagus dalam penggarapan, penentuan siapa yang mau ditunjuk sebagai kontributor, dan benang merah ceritanya mau dibikin apa. Yang jelas, saya menikmati buku ini.
jikalau saja Farid Gaban jadi guru biologi SMA ku pasti akan sangat menyenangkan. dengan cerita-ceritanya tentang ekosistem bawah laut Indonesia yang menakjubkan dan kepandainya dalam bercerita, sungguh biologi SMA tidak akan membosankan. dan ceritanya adalah cerita paling favorit yang ada di buku ini. . cerita kedua yang menarik adalah perjalanan di Santorini. bagaimana dia bertemu orang-orang ramah yang menyenangkan dan bagaimana dia menikmati perjalanannya. well, akan menambahkan Santorini sebagai tempat yang akan aku kunjungi. tentu saja Zambia juga termasuk daftar tempat yang akan dikunjungi. bagaimana mereka menceritakan tempat-tempat itu membuat pembaca ingin sekali mengunjungi tempat-tempat itu. . dan tentu saja slow travelling yang Ve Handojo ceritakan membuat ingin melakukan solo dan slow travelling itu ke dua tempat yang telah ditambahkan ke daftar tempat yang akan dikunjungi. aku pikir slow travelling ini tidak akan cocok dilakukan berkelompok. . buku ini membuka reader's block ku hahahaha. padahal hanya alasan saja pada kemalasan yang muncul karena terlalu banyak pegang hp untuk main internet. memang ya teknologi itu kadang membantu tapi kadang juga membuat kita jadi lebih tidak menikmati moment!!
Berapa banyak dari kita yang melakukan perjalanan, saya kira banyak namun apakah dalam perjalanannya menemukan sesuatu yang berharga untuk dikenang, saya rasa tidak semuanya.
Ini kali kedua saya mengikuti kisah perjalanan para pencerita, meski di buku ini yang ikutan berkolaborasi sudah gantian tapi masih ada anggota yang konsisten seperti Mbak Windy yang kali ini berada di bagian penutup yang justru menurut saya adalah pengikat rangkaian cerita dan juga sebagai menu penutup yang hangat, manis, meski terkadang masih menyisakan sesuatu dalam hati.
Semua kisah ini berharga tak ada yang perlu difavoritkan menurut saya, biarpun ada sebetulnya beberapa yang berkesan. Satu-satunya hal yang saya sayangkan adalah kondisi buku yang sewaktu saya beli cover bagian belakangnya mulai terlepas, tapi itu tidak membuat kesenangan membaca dan ikut menjelajah ini ikut memudar. Bahkan catatan perjalanan terburuk pun bisa sampai menggelinting kertasnya atau bahkan basah berkali-kali karena hujan dalam perjalanan.
Jika dibandingkan buku pertama, saya rasa perjalanan untuk menemukan di buku ketiga ini adalah yang ingin saya baca berulang-ulang.
Buku ini, dibaca dari Pontian ke Shah Alam, diberi pinjam oleh Kak Nilam usai menziarah beliau dan keluarga. Tiga belas penulis, tiga belas cerita berbeza. Saya sangat suka apabila tema kembara itu tidakterhad semata kepada luar negarao bahkan juga dalam negara. Membca kisah kembara yang emnemukan penulisdangan ibu yang bermigrasi di luar negara, menimbulkan rasa rindu kepada ibu sendiri, yang sedang menjalani ibadah umrah. Buku ini, bahasanya santai. membaca kisah penegmabra lain, seakan membaca perasaan sendri saat kembara.
"Bahagia itu tentang berkenalan dengan kata cukup; Belajar merasa cukup"
Baca omnibook kaya gini selalu bikin terkesan sih soalnya kan ceritanya real pernah terjadi (sepemahaman saya sih) jadi berasanya kaya lg dengerin penulisnya cerita sm kita tentang satu pengalaman dia, dan itu yg selalu bikin terkesan, buku pertama malah blm saya baca, masi saya cari2 nih siapa tau ada yg jual preloved soalnya ditoko buku ud jarang yg jual 😁
isinya tentang tulisan para traveller di tempat yang pernah mereka kunjungi. Ada beberapa yang memang sudah jadi favoritku, ada juga siy yang biasa aja.
yang bikin kezel, halamannya ada yang hilang. huuuuhhh, lompat dari halaman 60 ke 71 ituu rasanya !@#$%^&(
Buku ke-3 dari seri The Journeys yang berhasil saya tamatkan ketiga serinya. Beragam penulis dalam buku ini menjadikan cerita lebih berwarna dari segi sudut pandang dan cara penuturan
Momen tidak hanya sekadar lewat, tetapi meninggalkan jejak. Wajah-wajah meninggalkan nama. Kata-kata meninggalkan makna. Dan kita, kita tersimpan dalam banyak ingatan. —Hanny Kusumawati, hal. 279-280
Mungkin penggalan kalimat itu adalah kutipan yang paling aku favoritkan dalam buku ini. Tersemat dalam cerita milik Hanny Kusumawati saat ia mengenang soal perjalanannya ke Santorini.
Buku ini berisi 13 catatan perjalanan dari 13 orang pejalan. Destinasinya pun macam-macam, dari Kediri hingga Santorini. Menyusuri modernnya jalanan Singapura, hingga menjejaki tanah-tanah paling asing di Zambia. Mencari cinta di India, juga menemukan tempat pulang di tangan-tangan terbuka orang-orang Timur Indonesia. Yang anehnya, semua terasa begitu familiar; seperti membaca ulang jurnal-jurnal perjalanan sendiri yg pernah ditulis sembarangan di buku catatan ala kadarnya.
Tajuk yang diusung dalam buku ini adalah 'Yang Melangkah dan Menemukan'. Maka benar saja—di setiap cerita—si empunya akan menemukan sesuatu yang lebih besar dari perjalanan itu sendiri: rumah, kebebasan, jati diri, orang-orang yang dirindukan, bahkan sebuah jeda. Bagiku, makna-makna di setiap perjalanan inilah yang paling juara! Bukan hanya perjalanan dengan runtutan itinerary lengkap untuk sepekan ke depan. Mereka yang mampu membumi, berhenti untuk sekedar bercakap dengan orang lokal, menyapa orang-orang asing, duduk menatap jalanan dari toko kopi kecil; adalah mereka yang beruntung bisa menemukan lebih dari sekedar megahnya landmark.
Hampir semua ceritanya menggugahku untuk pergi ke tempat-tempat baru. Namun, aku punya 3 cerita paling favorit dalam buku ini, diantaranya: 1. Berhenti Sejenak - Hanny Kusumawati 2. Timur Nusantara: Perjalanan Pulang ke Rumah - Lucia Nancy 3. Don't You Miss Home, Though? - Dina DuaRansel dan satu cerita lagi, tidak begitu favorit (karena aku lebih memilih cerita melow hahaha!) tapi mampu membuatku terperangah ketika pertama kali membaca buku ini: Berumahkan Kebebasan - Husni M. Zainal.
Satu-satunya hal yang tidak ku sukai dari buku ini adalah fisik bukunya, lem yang menahan punggung bukunya lepas begitu saja ketika aku baru mulai membaca. Menyebalkan. Tapi halaman demi halaman yang dilengkapi ilustrasi dan foto-foto perjalanan menjadi nilai tambah pada buku ini. Secara keseluruhan, aku merekomendasikan buku ini untuk orang-orang yang suka berpergian, yang gemar bertemu orang-orang asing, atau yang sedang mencari—apapun itu.
Sekali lagi, selamat menyelami cerita-cerita para pejalan!
Dari sebuku itu, hal yang paling meninggalkan kesan di kepala ku adalah cerita perjalanan dari @justhityou, Dina DuaRansel dan Hanny.. Cerita dari ke-3nya itu paling nempel di kepala karena aku seakan juga berada di tempat mereka ketika itu.. Bukan berarti yang lain ceritanya biasa, tapi ya mungkin aku pas ngantuk atau bagaimana..
Husni dan tulisan-tulisannya nya selalu sukses menghipnotisku.. Belom pernah dia gagal bikin aku baca trus ekspresiku biasa aja.. Kalo baca tulisannya selalu kayak kesedot gitu ke tempat kejadian perkara.. Isi kepala dan imajinasiku selalu ikut terbang ke tempat dia pelesir itu.. Afrika dan alamnya.. Ahhh, mengingatkanku pada Cecelia dan almarhum Craig, :') Tapi aku juga suka ma pribadi si Husni, nampaknya dia memang benar orang yang baik.. Sudut pandang dia dalam menilai kejadian dalam hidupnya itu yang bikin cocok untuk selalu membaca kisah perjalanannya..
Kalo cerita Mbak Dina, yang aku ingat paling jelas dari beberapa ceritanya malah bagian hantu-hantuan itu, ya meski itu (mungkin) hanya imajinasi suaminya.. Sama bagian ketakutan pas parkir dan mendengarkan betapa dekatnya suara ombak dari sisi tebing mereka parkir campervan nya.. Keren sekali itu New Zealand, aduh duhhh..
Dan tentang cerita Hanny.. Tentang slowtrip nya dia di Yunani itu, alamakkkkkk.. Aku membayangkan gambarannya semi-semi seperti di pilem sisterhood of traveling pants itu.. Aku jatuh cinta ma Yunani karena pilem itu, dan kemudian dari ceritanya aku jadi membayangkan lagi betapa agak terasa sepi di sana tetapi indah sekali pemandangannya.. Hanya tentang gambaran Yunani yang aku suka sejauh aku baca kisahnya..
Tentang kisah Bang Vabyo aku juga ingat.. Ketika dia dan isi kepalanya selama di gereja Vatikan.. Si aBang nyentrik itu semoga tidak lagi dizalimi ma orang yang pemikirannya cupet (kasih puk puk).. Stres pasti si aBang ngurusin orang yang dangkal mikirnya, mana sambil ngebully dan melakukan tindakan annoying pula, dihh..
Seperti The Journeys 1 dan The Journeys 2, The Journeys 3 masih mengusung konsep kisah traveling oleh penulis keroyokan. Kali ini 13 penulis. Nah, Slow Traveling in Sydney-nya Ve Handojo yang saya rasa paling menarik. Biasanya saya jatuh cinta pada apapun yang ditulis Windy Ariestanty. But not this time, Mbak W. Sorry to say, Menerjemahkan Bahagia kesannya agak.. basi. Tapi no matter what, I adore you, still. Oh, kalau tadi saya bilang tulisan Ve Handojo paling menarik, maka best of the bestnya adalah Berhenti Sejenak-nya Hanny Kusumawati. Penyajiannya paling unik dan paling mudah ‘melemparkan diri’ masuk ikut berpetualang ke dalam kisahnya. Tapi bisa jadi ini karena alasan lain. Lorong-lorong itu.. pintu kayu.. bukit.. kucing jinak di mana-mana, kotanya yang fotogenik, orang-orangnya yang ramah. Beberapa kali penah nonton/baca jadi setting film/buku, untuk kesekian kalinya saya ‘dipertemukan’ lagi dengan Santorini. Walau kali ini lebih banyak bersetting di kota Fira. Tapi setidaknya Oia disinggung sedikit di sini. Iya, Oia. I’ll go there someday. (^q^) A place I really want to visit before I die (selain Mekkah-Madinah pastinya :’p).
Kumpulan cerita yang bisa ditemui dari instalasi (ecieh) ketiga The Journeys ini mengangkat tema umum "menziarahi diri sendiri" - dan akan membawa kita ke macam-macam destinasi di dunia yang telah dikunjungi penulis-penulisnya dengan kisah-kisah bernafas reflektif pada pengalaman "batin" yang jadi lebih "kaya". "Menziarahi diri sendiri" - seperti menemukan "kesadaran" lain yang ditemukan dalam diri sendiri terlepas dari seberapa jauh kaki telah melangkah (asek), meskipun bisa juga karena perjalanan yang diceritakan didasari niat untuk "ziarah" ingatan dan kenangan dari orang terkasih.
Paling memfavoritkan cerita yang dikontribusikan Alfred Pasifico, Hanny Kusumawati, JFlow, and Ve Handojo. Cerita lainnya juga worth loved, review selengkapnya http://krprimawestri.blogspot.com/201... :D
Buku yang membuka cakrawala, rasanya turut menjelajah ke berbagai belahan dunia hanya melalui sebuah buku, tapi juga menemukan hal-hal baru untuk dipelajari dan ditemukan.. saya rasa tak ada yang perlu difavoritkan disini, masing2 penulis mempunyai kisahnya masing-masing, kita hanya diajak melihat dunia, melihat perjalanan melalui sudut pandang mereka.. semua indah, setiap kisah menyadarkan saya bahwa ada banyak hal di dunia ini yang layak disyukuri, ribuan hal baru yang menanti untuk ditemukan, semuanya merangkai menjadi satu kisah kehidupan kita masing-masing, toh, kita juga sekarang sementara melakukan perjalanan,, perjalanan kehidupan kita.. mengutip pernyataan Jeffri Fernando di bagian akhir novel ini, "what is important is not the destination, but what and whom we find along the way" it's true,, indeed!! :)
Suka dengan semua ceritanya, benar-benar perjalanan yang berkisah. Tiap perjalanan memiliki makna sendiri2 secara subjektif bagi ketiga belas penulisnya. Dan tidak melulu menceritakan deskripsi tempat secara fisik, melainkan ada pemaknaan budaya, sejarah, cecap rasa, dan kesan hati lainnya. Oh ya komentar untuk cerita terakhir milik Windy: sebenarnya sudah bisa ditebak sih dari cara bertuturnya dan memang tidak ada yang salah. Tulisan yang sarat makna dan dalam, tentang makna hidup (yang sebetulnya, menurutnya, tidak perlu dipertanyakan). Namun, membaca tulisannya bagaikan dalam gerak lambat dan jatuhnya juga seperti dikotbahi karena dia banyak bicara makna (yang sekali lagi, menurutnya, tak perlu dipertanyakan). Begitu sih. Tunggu resensi lengkapnya nanti yaah. ^^
Baca buku ini satu pekan setelah UTS adalah SEBUAH KESALAHAN BESAR!! Jadi bikin pengen nabung dan cepet-cepet kelar UAS! Buku ini ditulis sama penulis-penulis yang emang top, pengalaman travelling mereka entah ke dalam atau luar negeri emang keren parah. Terlebih lagi tulisannya Ariev Rahman sama Alexander Thian. Sampai sekarang gak pernah gak suka tulisan mereka kalau udah cerita soal pengalaman travelling.
Saran : Sebelum baca buku ini ada baiknya kalian siapkan duit yang banyak! Biar setelah selesai baca, bisa langsung mampir ke tempat2 yang ada di buku ini.
Buku ini jadi saksi first flightnya aku ke Makassar. Walaupun sampe di sana gak sempat di baca :| tapi pas mau pulang ke Manado sempat mewek di pesawat (secara rahasia) karena ngebaca page 231 :'( favorite story di buku ini sebenarnya banyak, tapi yg paling ngena tuh 'Berhenti Sejenak - Hanny Kusumawati'. terus cerita jepangnya Ariev Rahman, Slow Traveling in Sydney milik Ve Handojo, sama Menerjemahkan Bahagianya Windy Ariestanty.
I wish someday I can feel that 'Morning-After-Nyepi' experience in Bali =)
"Sebuah perjalanan 'ziarah'; mengunjungi diri sendiri. "
Rasanya pas sekali setelah saya membaca seluruh kisah perjalanan yg ada di dalam buku ini. Kisah yg paling membuat saya terenyuh ada kisah perjalanan yg di lalui Alex, Alitt, Jflow pastinya, Ariev Rahman dan Windy. Saya jadi berkeinginan untuk melakukan perjalanan lagi setelah membaca kisah mereka. Saya ingin menemukan diri saya lewat kepingan yang akan saya temukan selama perjalanan.
Good Job, kak Windy as the person who inisiates this book. Ditunggu the journeys 4 nya kak :)
Melanjutkan Journeys sebelumnya, setelah membaca The Journeys yang ini, rasanya buku ini naik tingkat jadi lebih serius, belajar utk menemukan tujuan dalam perjalanan yang lebih dalam. Bahkan disebut peziaran pada halaman sekian. Sharing dari para penulisnya bisa jadi bahan renungan buat kita, di samping pengalaman travellingnya yang gak kalah seru. :D
Akhirnya usai juga membaca buku ini, setelah sekian lama dibaca tiga perempatnya. Kisah kisahnya menyentuh, dengan sudut pandang yang beraneka ragam, jadi nggak bikin bosen.Mau baca ulang ah, untuk milih kisah yang paling meninggalkan jejak di hati.Oh ya, review lengkap ada di www.penyuntingaksara.blogspot.com
Buku ini saya "temukan" di Gramedia Pekanbaru waktu mudik akhir tahun 2013 kemaren. Hampir semua cerita di buku ini menurut saya bagus dan masing-masing punya makna tersendiri di balik ceritanya. Yang jelas setelah baca buku ini saya jadi pengen lebih menikmati jalan-jalan santai dan tidak terburu-buru penuh rencana seperti yang sering saya lakukan.
Seperti 2 buku sebelumnya, The Journeys 3 adalah kumpulan kisah perjalanan dari para penulisnya. Kisah perjalanan dengan hal-hal yang menyentuh sisi spiritual para penulis. The Jpurneys 3 ingin mengajak pembaca menghayati bahwa tiap perjalanan membawa kisah dan maknanya sendiri-sendiri.
orang2 yang menuliskan perjalanan mereka adalah orang2 hebat. berani mengambil keputusan, berani keluar dari zona nyaman, dan berani mengambil resiko untuk memiliki arti dan sebuah cerita ttg perjalanan. keren