Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lelakon

Rate this book
Selalu ada siang-malam, terang-gelap, hitam-putih, tertawa-menangis, itulah yang dilihat, didengar dan dirasakan setiap saat.

Entahlah itu benar atau salah.


Ketika ada petang di antara siang dan malam.

Ketika ada remang di antara terang dan gelap.

Ketika ada abu-abu di antara hitam dan putih.

Ketika ada arti di antara tertawa dan menangis.


Apakah itu benar atau salah?


Entah!

Yang pasti, itulah lelakon.



Manusia adalah makhluk yang benar-benar buruk: saling mengkhianati, saling menipu, saling memperalat, semua untuk kepentingan diri sendiri, itulah manusia. Cinta dalam arti sebenarnya seolah tidak ada, karena yang ada adalah nafsu keduniawian, dan karena itu manusia tidak memerlukan martabat. Kalau manusia tidak mampu hidup bermewah-mewah, manusia memimpikan hidup bermewah-mewah, sebab hidup bermewah-mewah adalah tujuan utama hidup manusia, sementara penyesalan demi penyesalan pada akhir kisah lebih merupakan retorika daripada kata hati. Inilah gambaran manusia dalam Lelakon, sebuah novel yang dipenuhi oleh berbagai macam tokoh yang kadang-kadang terasa nyata tapi kadang-kadang pula terasa hanya ada dalam angan-angan, dengan alur yang tidak perlu diatur secara jelas. Tempo dalam novel ini bisa berjalan dengan cepat, bisa pula bergerak dengan lambat, dengan bahasa yang kadang diatur dengan rapi, dan kadang tidak diatur dengan rapi pula. (Budi Darma)

272 pages, Paperback

First published January 1, 2007

4 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Lan Fang

23 books28 followers
Lan Fang adalah seorang penulis kelahiran Banjarmasin. Alumni Fakultas Hukum Univ. Surabaya ini menulis sejak 1986. Karya-karyanya menjuarai lomba di tabloid Nyata dan novelette Femina 1998, 1999, 2003 dan 2005.

Lan Fang telah menerbitkan: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon, Ciuman di Bawah Hujan (2010). Di tahun 2009 ia juga menerbitkan buku cerita anak: Kisah-kisah si Kembar Tiga (2009). Dan akan menerbitkan kumpulan puisi Ghirah Gatha.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (13%)
4 stars
28 (28%)
3 stars
40 (41%)
2 stars
13 (13%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
January 21, 2010
Lelakon adalah karya ke delapan dari penulis produktif asal Surabaya – Lan Fang. Dari kedelapan karya-karyanya tersebut, saya sudah membaca 5 karyanya : Kembang Gunung Purei, 2005), Laki-Laki yang salah (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Dari kelima karya yang sudah saya baca tersebut, menurut saya, Lelakon-lah yang paling sulit saya cerna. Kisahnya sendiri masih bisa saya nikmati hingga lembar terakhir, namun yang sulit adalah menangkap makna dari apa yang ingin disampaikan Lan Fang dalam novel terbarunya ini. Sebuah ulasan yang dimuat di buku ini yang ditulis Audifax yang berjudul “Tentang Lelakon” tak juga membuat saya bisa memahaminya, malahan bahasan secara psikologis yang diurai oleh Audifax membuat saya semakin bingung.

Untunglah resensi buku ini yang dimuat di Jawa Pos yang ditulis oleh psikolog asal Surabaya, Maria Dian membuat saya terbantu dalam memahami makna dari novel ini. Resensi yang ditulis dari sudut pandang resensor sebagai seorang psikolog ini mengungkapkan bahwa lelakon adalah novel yang menceritakan pencarian jati diri para tokoh-tokohnya. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang perasaan (emosional) ''jati diri'' ketika diri yang sesungguhnya harus berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam-bengis-tiada ampun. Sebuah kisah yang apa adanya membuka-mengeksplorasi-mendudah isi hati yang terdalam, yang paling benar, yang paling jujur: hati nurani.

Novel ini diawali dengan kisah tokoh Mon, seorang wanita mantan penjaga meja kasino kini hidup terjerat oleh hutang. Mon kelak berkenalan dengan Buang. Awalnya Buang diajaknya bermain taruhan dengan kartu-kartu hingga mereka hidup bersama. Lambat laun Mon bosan bermain kartu dengan Buang namun Buang memaksanya untuk terus bermain. Mon menjadi muak dengan Buang hingga akhirnya mereka bertengkar dengan hebat. Mon harus kehilangan tiga buah ujung2 jarinya yang mrotol karena digigit oleh Buang. Buang sendiri harus kehilangan lidahnya yang ditarik putus oleh Mon, selain itu dua buah bola matanya juga menggelinding ke lantai karena dicongkel oleh Mon.

Gambaran pertengkaran antara Mon dan Buang benar-benar mengerikan, dan tampaknya sengaja dibuat dengan sedikit berlebihan oleh Lan Fang. Dari sini saya baru sadar kalau novel ini bukan novel yang realis melainkan semi surealis. Hal ini semakin yakin setelah masuk kedalam bab Bola Kristal yang mengisahkan seorang wanita kaya bernama Bulan yang bosan dengan hidupnya dan bertukar tempat dengan Fantasi, wanita yang terperangkap dalam bola kristal milik Bulan.

Lalu ada lagi tokoh Marbuat, lelaki yang memiliki istri yang bernama Ratu Demit yang seusai dengan namanya adalah istri yang mengerikan, berwajah genderuwo dengan rambut kusut masai, tak pernah mengurus suaminya dan selalu menguasai Marbuat sehingga Marbuat menjadi lelaki yang takluk dibawah ketiak istrinya.

Lalu ada tokoh Tongki, lelaki kaya yang memperkaya dirinya dengan menipu orang-orang disekitarnya.
Kelak tokoh-tokoh itu akan bertemu dan merangkai sebuah kisah dengan lakonnya masing-masing. Fantasi akan bertemu dengan Marbuat, dan Tongki akan bertemu dengan Mon.
Konflik demi konflik akan bergulir silih berganti, kemarahan tokoh-tokohnya terhadap pasangan-pasangannya dan kehidupannya terungkap dengan emosional dan meledak-ledak. Nyaris tak ada kebahagiaan dalam novel ini kecuali kepedihan hidup akibat kemiskinan, konflik antar pasangan, dll. Ada yang berambisi menjadi kaya, , ada yang bosan hidup dalam sebuah kehidupan yang tertata rapi, lalu ada pula yang puas puas menjadi parasit (pencuri/penipu) hidupnya.

Seperti yang sering terdapat dalam karya-karya Lan Fang, tokoh lelaki dalam karya-karyanya adalah lelaki brengsek dan pecundang. Tokoh Angin Puyuh adalah tipe lelaki yang maunya dilayani dan kerjanya hanya mononton TV, Tongki, laki-laki penipu yang bersembunyi di ketiak istrinya, Marbuat laki-laki yang tak berdaya melawan kebuasan dan ketidakpedulian istirnya, Ratu Demit. Pengetahuan Lan Fang terhadap kisah-kisah wayang seperti yang selalu ia selipkan di tiap karya-karyanya kini mendapat porsi yang cukup banyak. Kali ini Lan Fang memadukannya dengan imajinasi liarnya dan kemarahannya pada laki-laki. Dalam novel ini tokoh-tokoh perkasa dalam dunia wayang seperti Yudistira,, Bisma, Arjuna dipermalukan kehidupan seksnya dengan mengungkap bawa Yudistira ternyata impoten. Bima menderita ejakulasi dini, Arjuna menderita penyakit raja singa, sedangkan Nakula dan Sadewa adalah pasangan cinta sesama/gay. Entah apa yang ada dalam benak Lan Fang. Lan Fang seakan memendam kemarahan yang meledak-ledak terhadap lelaki (benarkah demikan Lan Fang ?)

Selain mengungkap konflik antar tokoh-tokohnya, ada satu bagian kisah yang menurut saya paling menarik dan memberi pelajaran berharga bagi pembacanya, yaitu kisah ketika tokoh Mon berguru kepada Tongki, seorang penipu yang menjadi parasit bagi orang lain dan memperkaya dirinya dengan cara meminta-minta tanpa malu-malu. Setelah berguru pada Tongki, Mon berniat mempraktekkan ilmu agar menjadi kaya yang telah diperolehnya Namun alih-alih sukses menerapkan ilmu Tongki, Mon menemui sejumlah pelajaran berharga bahwa cara-cara yang dilakukan Tonki ternyata tidaklah sesuai dengan hati nuraninya.

Tongki mengajarkan bahwa salah satu cara menjadi karya adalah dengan bersikap diam dan membiarkan orang lain yang membayar makan dan minumnya. Mon mencobanya ;
Setiap kali bila berkumpul dengan banyak orang, ia diam saja, tidak minum, tidak makan, juga tidak mengeluarkan uang. Maka orang lain akan membelikannya minuman dan menawari makan. Ketika semua selesai makan, dilihatnya orang-orang berebut mengeluarkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Mereka saling mendahului untuk membayar satu sama lain. Cuma ia yang berdiam diri. Setelah usai, ia melihat orang-orang itu bersalaman dengan enyum lebar. Mereka membuat jalinan persahabatan dengan ikhlas….

Maka di lain waktu ia juga bergantian membayar makanan dan minuman. Ternyata kegembiraan juga mengalir di hatinya ketika ia bisa ikut bercerta tertawa sambil menikmati kudapan bersama-sama. Kehangatan itu ada ketika bisa saling berbagi. (hal 179, 180)

Atau ketika Mon hendak menerapkan ajaran dari Tongki yang menyatakan bahwa jika hendak kaya maka ia harus belajar meminta, ternyata lidah dan mulutnya menyatakan bahwa “Kenapa harus meminta bila bisa memberi? Bukankah lebih terhormat memberi daripada meminta? Dan ketika ia memberi, matanya melihat bahwa orang-orang tersenyum kepadanya. Orang-orang yang menerima pemberian dengan mata sumringah dan mata berbinar. Selain itu ternyata dengan memberi ia tidak menjadi kekurangan malah manjadi kelimpahan. (hal 180-181)

Demikian salah satu hal menarik yang terdapat dalam novel ini. Terlepas dari kegagalan saya menangkap makna dari novel ini secara kekeseluruhan, saya rasa Lan Fang tampak semakin matang dalam merangkai kalimat menjadi sebuah kisah yang menarik. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, enak dibaca dan kerap dihiasi kalimat-kalimat yang puitis dengan metafora yang mengagetkan. Selain itu Lan Fang tak jarang juga menggunakan kalimat-kalimat yang meledak-ledak terlebih ketika mengungkapkan kemarahan dari tokoh-tokohnya hingga membuat emosi pembacanya naik turun bak menaiki sebuah roller coaster.

Hanya saja saya koq jadi mulai jenuh dengan tema kepedihan hidup karena kemiskinan dan kemarahan Lan Fang pada lelaki yang selalu terungkap dalam karya-karyanya belakangan ini. Seorang kawan yang juga kerap membaca karya-karya Lan Fang mengeluhkan pada saya bahwa ia ‘capek’ membaca karya-karya Lan Fang yang sarat dengan kemarahan. Saya khawatir Lan Fang akan terlena berkarya dalam tema-tema serupa. Bukan berarti tidak menarik, namun saya berharap di karya-karya berikutnya ada keragaman tema yang diangkat dengan tetap mempertahankan gaya dan kekhasan kalimat-kalimat Lan Fang yang selalu menarik dalam berkisah.


@h_tanzil
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
April 13, 2014
ini Masterpiece... tapi sengaja saya kurangi satu bintangnya karena di tengah jalan saya merasa jenuh dan capek pada kemarahan Lan Fang yang tak asyik bercerita lagi. saya tetap mempertahankan jadi bintang 4 sebab di ending sang pengarang pun muncul di dalam cerita dan dibunuh beramai-ramai oleh para tokoh ciptaannya. tepat setelah pementasan. di belakang layar
Profile Image for Raya.
222 reviews19 followers
November 6, 2021
ini asliny aku mau ngasih bintang 3 aja soalnya beneran deh bingung di tengah-tengah walau aku nangkap intinya, cuma kadang terlalu menjiwai tulisannya yang penuh majas, aku malah kesasar. Tapi pas di beberapa bab terakhir menurutku penyelesaiannya cukup rapi, jadi aku bulatkan ke 4 bintang :D
Profile Image for Aris Setyawan.
Author 4 books15 followers
January 17, 2019
Enak dibaca dan perlu. Lan Fang menulis novel dengan istimewa. Dengan tempo yang kadang cepat, kadang lambat. Dengan bahasa yang kadang diatur dengan rapi, kadang tidak diatur dengan rapi.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
July 7, 2014
Jalinan kata dan kalimat Lan Fang, saya suka. Selera tua, dalam arti bukan model bahasa teenlit yang berbunga-bunga.

Ceritanya lompat-lompat. Tokohnya banyak (banget). Awalnya cerita tentang Mon dan Untung, lalu Mon melihat pembantu tetangga dan cerita berpindah ke pembantu tetangga. Lalu Mon bertemu dengan tokoh-tokoh lain, dan cerita tentang Mon terpotong dulu. Barangkali yang ingin dimunculkan dalam Lelakon adalah beraneka ragamnya karakter manusia (sesuai judulnya: Lelakon).

Kalau iya, semua novel juga begitu. Tokohnya banyak. Otomatis, karakter juga banyak.

Absurd. Dengan perumpamaan yang belum bisa dipahami kepala saya. Rasanya lebih baik membaca novel surealis sekalian. Sudah jelas, surealis. Tidak perlu didebat. Barangkali buku ini hanya terlalu berat untuk selera bacaan (sastra) saya yang masih setengah-setengah.

Jadi, mari baca lagi buku ini beberapa waktu ke depan.
Profile Image for Windry.
Author 12 books824 followers
September 1, 2008
(2.8)

Kalau menulis diibaratkan bersepeda maka Lan Fang adalah pengendara sepeda yang mahir, namun lebih suka memutari senayan daripada naik gunung. Dengan bahasa yang sangat sederhana (hampir tidak ada kosa kata sulit dalam buku ini), Lan Fang mampu menyedot pembaca. Begitu juga gaya bahasa yang ia gunakan, alur, plot, bentuk kalimat, semua begitu sederhana. Tulisannya ringkas, efisien dan efektif! Dia tahu benar apa-apa saja yang 'perlu' diungkapkan dan apa yang tidak, sehingga buku ini terkesan ringkas. Kisah yang ditampilkan dalam Lelakon sesungguhnya sederhana, tidak luar biasa, dan juga tidak dramatis. Kemahiran penulislah yang membuat pembaca meneruskan sampai akhir.
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews29 followers
August 24, 2010
Selalu ada siang-malam, terang-gelap, hitam-putih, tertawa-menangis, itulah yang dilihat, didengar dan dirasakan setiap saat. Entahlah itu benar atau salah.

Lelakon adalah novel yang menceritakan pencarian jati diri para tokoh-tokohnya. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang perasaan (emosional) ''jati diri'' ketika diri yang sesungguhnya harus berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam-bengis-tiada ampun. Sebuah kisah yang apa adanya membuka-mengeksplorasi-mendudah isi hati yang terdalam, yang paling benar, yang paling jujur: hati nurani.
Profile Image for Ratri Dian.
28 reviews5 followers
August 25, 2011
Terkadang konsep yang sangat bagus membawa kita pada kebuntuan dalam menerjemahkannya secara sederhana dalam rangka menyajikan 'makanan' yang sedap sekaligus mudah dicerna, untuk kemudian mampu menghadirkan 'pencerahan' bagi siapapun yang menikmatinya.

Seperti itulah yang saya rasakan setelah membaca novel ini.

Tapi Anda tak perlu khawatir, karena toh mungkin saya yang tidak cukup cerdas untuk mencernanya..hehehe ^^

Tapi memang saya kagum dengan 'jiwa' dari karya Lan Fang ini.

Profile Image for Latree Manohara.
Author 5 books5 followers
June 22, 2012
awalnya aku tertarik dengan tanda tanya yang ada di sampul buku ini. mungkin ini yang diributkan telah diangkat tanpa ijin menjadi film oleh Hanung Bramantyo.
memulai membacanya aku cukup menikmati. bahasanya lugas. bukan jenis yang cantik memabukkan. tapi makin ke belakang makin keras, dan lama-lama kasar.

aku berhenti di halaman 36, belum tahu apa yang ingin disampaikan oleh Lan Fang. maaf. aku ga tahan.
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
May 2, 2012
Salah satu novel tertajam Lan Fang, selain Perempuan Kembang Jepun, menurut saya. Pada awalnya saya mungkin harus membaca bolak-balik cerita dalam Lelakon, memahami sambil berusaha menjaga jarak dengan para lakon di dalamnya. Tidak mudah memahami isi novel ini hanya dengan sekali membaca, atau dengan membaca skimming.
Profile Image for Ceisarpurba Purba.
36 reviews5 followers
June 22, 2011
Mengagetkan.
Semua bahasanya berada dalam range ekstrimis.
Mendobrak aturan, gak perduli kenajisan, (terlalu) blak-blakan...
Bener2 mempermainkan pikiran dan kebingungan.
Jadi penasaran isi novel Ciuman di Bawah Hujan-nya, apakah seekstrim ini?
Profile Image for Zulazula.
19 reviews2 followers
April 1, 2013
I really love this book! Sudah lama sekali aku membaca buku ini, tahun 2010. Aku mencintai cara bertutur cerita Alm.Lan Fang. Beliau sangat apik mengisahkan setiap kisah yang sambung-menyambung namun dengan banyak peristiwa. Fiksi dan nyata diajaknya bersahabat dalam kegilaan dunia.
Profile Image for Mardian Sagian.
90 reviews18 followers
October 29, 2014
bagus sih. tapi, entah kenapa, pada titik-titik tertentu saya lelah dengan semangat bertuturnya yang berapi-api.
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.