Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Rate this book
Ketika menyambut pasien yang sedang berduka, seorang psikiater akan menggali keilmuan yang dimiliki. Dia akan mengulik semua teori duka yang pernah dipelajari di masa kuliah dulu dan mengingat pengalaman dari pasien-pasien sebelumnya. Kemudian, dia menyintesis itu untuk membantu si pasien yang sedang berduka di hadapannya.

Tapi, ketika Andreas—seorang psikiater—kehilangan anaknya, dia melakukan hal yang berbeda. Dia melemparkan semua teori tersebut ke luar jendela dan memutuskan untuk mencari makna tentang mengapa ini semua terjadi. Dalam pengalamannya, dia menemukan bahwa duka bisa dilalui dengan mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.

Buku ini adalah proses Andreas memaknai kehilangan besar dalam hidupnya. Diceritakan santai dengan tambahan sedikit bumbu humor gelap, buku ini memuat panduan bermanfaat yang langsung bisa diaplikasikan dalam hidup, seperti “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle”, dan tentunya “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak”.

“Hampir semua orang mempertanyakan: apa hubungannya antara duka dan mencuci piring? Jawaban saya adalah duka itu seperti mencuci piring, tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya seseorang perlu melakukannya.”

210 pages, Paperback

Published December 13, 2023

399 people are currently reading
2422 people want to read

About the author

Andreas Kurniawan

5 books81 followers
A psychiatrist with a sense of humor

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
965 (55%)
4 stars
643 (36%)
3 stars
131 (7%)
2 stars
5 (<1%)
1 star
4 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 452 reviews
Profile Image for h.
375 reviews148 followers
February 6, 2024
What a beautiful book to learn and unlearn tentang proses berduka.

Mungkin banyak dari kita yang masih mendengar celetukan seperti di bawah ini ketika sedang berduka:

“Berduka jangan kelamaan,”
“Gak boleh loh nangis segitunya,”
“Sabar ya nanti diganti dengan yang lebih baik,”
“Jangan nangis, ntar dia gak tenang di sana,”
Atau malah dibandingkan duka kita dengan duka yang ia alami.

Dari buku ini, aku disadarkan bahwa ada dua hal paling mandatory tentang berduka.

1. Jangan membandingkan satu duka dengan orang lain
2. Jangan ajari orang cara berduka

Proses berduka adalah proses panjang dan biarkan setiap orang memiliki momennya sendiri dalam menerima dan menikmati hal itu.

Jadi sampai kapan mau berduka? Selama yang aku bisa.

P.S poin plus lain, buku ini dituturkan dengan bahasa yang mudah sekali dipahami dan tidak banyak orang yang bisa menulis nonfiksi dengan seluwes ini. Terlebih penulis merecall kembali ingatannya tentang kehilangan! I was crying ugly over and over. SO THIS IS DEFINITELY MY 5 STARS BOOK!
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
899 reviews30 followers
June 8, 2024
tidak seperti yg saya ekspektasi kan tapi bukan berarti tidak bagus. isinya tentang bagaimana penulis melewati masa duka terberat dalam hidupnya, bahasanya tidak menggurui tapi saya merasa terlalu sentris ((ga salah, sih, emang sejak awal kan udah jelas isi bukunya apa)).

baca buku ini akan membuat orang yg sedang berduka punya "teman", punya seseorang yg tau gimana rasa sakitnya kehilangan. hanya saja setelah pembahasan "cuci piring" nya selesai saya agak kurang klik. but it's a good book still, bisa jadi bacaan untuk yg masih belum merelakan sesuatu, dan ngasih pandangan bagaimana kamu bisa mengatasinya.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
December 10, 2023
Banyak orang pinter, banyak orang ahli dalam hal psikologi-psikiater. Tetapi, saya harus mengakui tidak banyak yang mampu menulis dengan enak, menurungkan teori-teori dengan ramah penduduk bumi, dan orang awam macam saya bisa menerima dengan baik. Dan buku ini adalah bukti bagaimana si penulis, Dokter Andreas memang memiliki kemampuan bahasa dalam menulis dan berkisah dengan baik.

Cuci piring itu seperti berduka. Tidak ada orang yang suka melakukannya, tapi pada akhirnya, seorang harus melakukannya.(hal.32)


Buku ini dimulakan dengan pengakuan bahwa penulis mengalami duka beruntun, yakni kehilangan ayah dan anak tersayang. Lantas bagaimana si penulis melewati dan "berdamai" dengan duka itu.
Analaogi-analoginya menyenangkan, dan menggembirakan. Tidak susah.

Dan bab 10 adalah bab yang harus kalian siapkan tisu. Menyaksikan counting down kepergian anak tersayang itu mengharu biru.

Ingatlah bahwa apa yang hilang bisa diganti, tapi tidak sellau harus diganti. Kehilangan seorang pasangan bukan berarti kamu harus menggantinya dengan pasangan baru. Kehilangan seorang anak bukan berarti sepasang orangtua perlu segera merencanakan program hamil lagi. Tapi, rasa sepi, rasa sendiri, rasa tidka berdaya, rutinitas, itu yang bisa---dan perlu---diganti.(hal.124)


Kamu kalau merasa "harus bersedih sebab kematian orang terkasih" dulu baru membaca buku ini, tidak. Percayalah kehilangan di buku ini bisa saya maknai luas sekali: baru patah hati, putus sama pacar, kucing anjing kita mati, atau yang lain. Duka dan suka itu dua sisi koin yang sayangnya hadir bersamaan, dan impermanence.
Profile Image for Caca.
199 reviews8 followers
May 27, 2024
Baru baca buku ini setelah kena reading slump yang berkepanjangan, bukunya sangat amat bagus.🥺
Banyak banget pelajaran yang bisa di ambil, belajar tentang duka seseorang.

Bahwa setiap orang mempunyai duka nya masing-masing, dan proses yang berbeda-beda untuk menghadapi duka. Serta membaca Buku ini ada sebuah jawaban, yang memang aku cari-cari.

Kenapa manusia di dunia ini gabisa senang terus?
dr. Andreas jelasin bahwa manusia itu, bukan gamau senang setiap saat. Tapi, memang ga mampu. Ini tuh berhubungan sama biologi otak manusia.

Cara sederhana dr. Andreas jelasinnya tuh dengan paparan berulang, dopamin berkurang. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang berulang tuh, membuat dopamin berkurang.

Jadi intinya Manusia itu butuh yang namanya variasi.

Baca buku ini buat kita jadi tahu, bahwa duka setiap orang itu beda-beda. Aku sendiri pernah kehilangan sosok Ayah, tetapi gaada sedikitpun aku ngerasa sedih..
Sorry karena memang ini yang aku rasakan, karna sedari kecil sudah terbiasa tanpa sosok ayah. Waktu di kabari ayah udah gaada itu, aku cuman kaget saja dan ga nyangka ternyata ayah dipanggil duluan sama yang kuasa.
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
February 4, 2024
Aku suka analogi people come and go dan puzzle. Dan yah, berduka itu akan selalu menyertai cinta.
Profile Image for wulan.
247 reviews7 followers
February 20, 2025
baru kali ini aku berani ngasih bintang 5 buat buku non fiksi. mungkin karena aku secara gak langsung jadi punya ikatan emosional dengan penulis.

menurut aku duka itu suatu hal yang gak lumrah dibicarakan, dalam artian ditelusuri secara mendalam. aku pun gak paham apa yang harus kulakukan jika orang terdekatku sedang berduka.

aku hanya bisa diam di sampingnya, mungkin sembari mengelus punggungnya saat dia menangis. aku rasa gak akan ada kata kata yang bisa aku ucapkan karena aku takut salah bicara dan membuat orang itu terluka.

saat melayat, seringnya kita mendengar kalimat kalimat seperti,
"meninggalnya kenapa?"
"yang sabar ya"
"jangan menangis, nanti dia nggak tenang di alam sana"

kadang yang sebenarnya diperlukan hanyalah keberadaan kita saat orang tersebut sedang berduka. bukan "aku mengerti perasaanmu" tapi "aku ingin mengerti yang kamu rasakan. ceritakanlah, kamu tidak sendiri."

"bagi dunia, kehilangan satu orang hanyalah satu angka. bagi orang yang ditinggalkan, kehilangan satu orang bisa jadi berarti kehilangan satu dunia."

kalimat di atas tuh beneran ngebawa aku ke kembali ke saat terjadinya pandemi covid. tiap portal berita pastilah mengabarkan "jumlah orang" entah itu yang meninggal atau yang berhasil sembuh.

cara penulis bercerita di buku ini tuh beneran gak berasa seperti digurui. banyak analogi analogi yang kalau dipikir, oh iya ya, bener juga.

di mana tiap orang punya caranya masing masing untuk berduka. dan siapa kita untuk menghakimi? kita bisa saja sudah atau belum merasakan apa yang dirasakan oleh seseorang yang berduka. kalaupun sudah, tetap saja kita tidak berhak untuk menghakimi.

aku ingat ketika penulis mengambil contoh tentang bungee jumping. misal si pemula dengan bersemangat bercerita tentang pengalaman pertamanya bungee jumping kepada orang yang sudah berkali kali bungee jumping.

orang yang sudah berpengalaman itu merespons dengan meremehkan, "ah baru segitu, yang kamu lakukan belum ada apa apanya." sebagai orang yang bersemangat bercerita, pastilah kita menjadi kecewa, seolah perasaan kita gak valid.

bahkan seseorang yang pernah berduka pun belum tentu bisa berempati dengan apa yang kita alami. belum tentu orang tersebut bisa menghargai perasaan kita.

baca buku ini bikin aku paham, sama apa yang dirasain oleh orang yang tengah berduka. dan sebenernya apa respons yang sebaiknya kita berikan kepada orang yang tengah berduka.

narasinya nyaman banget dibaca, karena kayak lagi ngobrol aja gitu sama teman. betul betul gak terasa digurui (hal yang biasanya aku rasakan saat membaca buku nonfiksi) next pengen punya buku wanita yang ingin jadi pohon semangka 😗
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
March 3, 2025
Awalnya saya pikir sebagian besar tulisan dalam buku ini berangkat dari ide utama tentang analogi proses berduka dengan aktivitas mencuci piring—sebuah tugas yang tidak disukai, tetapi tetap harus dilakukan. Ternyata benar, tapi tidak sepenuhnya benar, sebab hanya ada satu bab yang secara khusus berkaitan dengan premis itu.

Meskipun dr. Andreas memilih kegiatan “mencuci piring” sebagai koping melalui duka, tapi di sisi lain ia juga menekankan bahwa tidak ada cara yang mutlak benar dalam berduka, karena setiap individu jelas memiliki caranya masing-masing. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menerima duka tanpa terburu-buru, sebab dalam prosesnya butuh waktu yang berbeda bagi setiap orang.

“Aku pernah membaca tulisan yang membahas perbedaan antara sekolah dan hidup. Di sekolah, kita diberikan pelajaran terlebih dahulu dan kemudian diberikan ujian. Di hidup, kita diberikan ujian terlebih dahulu dan kemudian diminta mencari pelajarannya.”

Setelah beres membacanya, saya mulai paham kenapa buku ini bisa begitu populer, terutama di kalangan pembaca muda. Selain isu kesehatan mental yang saat ini memang kian diminati, buku ini pun ditulis dengan gaya bahasa yang sangat sederhana—bahkan mungkin kelewat sederhana karena tak perlu mengutip banyak konten dan materi dari buku-buku tentang psikologi. Mungkin itulah yang membuat tulisan dari pengalaman personal dr. Andreas di sini terasa dekat bagi banyak pembaca, atau mungkin juga terasa jauh bagi yang mengharapkan lebih seperti saya.
Profile Image for Nabilah S.
174 reviews1 follower
December 31, 2023
Buku terakhir di tahun 2023. Ceritanya tentang duka dan karena ditulis oleh psikiater, jadinya banyak hal dan pengetahuan tentang kesehatan mental yang baru kudapatkan. Tata bahasanya bagus dan cara penyampaiannya menarik sehingga teori yang awalnya mungkin sulit untuk diterima jadi mudah dipahami. Cuman aku expectnya bakal bahas hal lain selain duka karena meninggalnya orang tercinta, ternyata cuman ngebahas itu, jadi yaudahlah.
Profile Image for ileftmybookshere.
226 reviews82 followers
March 2, 2025
Ini sih worth the hype, menurutku layak banget dikasih label "National Best Seller" karena isinya emang se-best itu 🤩👌🏻

Dari judulnya aja kalian udah bisa nebak topik bahasan buku ini. Yup, duka dan ngomongin soal duka itu gak ada habisnya terus duka itu hal yang pasti ada dalam hidup kita, gak bisa dipisahin atau di-skip dari hidup kita. Kak @dr.ndreamon ngajakin kita melihat duka sebagai bagian hidup yang mau gak mau harus kita jalani, entah saat ini ataupun di hari-hari depan yang belum kita ketahui🙂‍↕️

Lewat pengalamannya, kak Andreas menceritakan perjalanannya dalam proses berduka yang aku tau hal itu bukan hal yang mudah karena duka itu diibaratkan seperti suatu lari maraton yang panjang. Hanya karena satu tahun berlalu dan kita sudah merasa baik-baik saja, bukan berarti perjalanan maraton kita selesai and I feel that too soalnya hari ini kita bisa aja fine kalo mengingat orang yang sudah meninggalkan kita tapi pasti ada di beberapa momen, we wish they're here with us dan sedih akan kehilangan mereka. Tenang aja, hal ini hal yang wajar kok karena kita ngelewatin masa berduka dengan durasi yang berbeda-beda, satu sama lain itu pasti beda jadi jangan sampai saling membandingkan 🫵🏻

Aku suka sama pembahasan dalam buku ini yang gak menggurui sama sekali, malahan rasanya kayak ngobrol bareng a close friend karena kata-kata yang digunain kak Andreas dalam buku ini tuh simple dan lugas, aku selama bacanya ini tuh gampang banget nangkep topik-topik pembahasannya karena related juga terus banyak banget dipaparin perumpaan jadi gampang buat paham maksud yang ingin disampaikan kak Andreas soal berduka dan teman-temannya. Apalagi ya, dalam buku ini, kak Andreas berbagi pengalamannya kehilangan orang-orang yang dikasihinya dan jujur, bab 10 bener-bener bikin aku nangis jelek sampai ingusan🤧 pls, i know rasanya ada di posisi itu dan itu gak mudah tapi mau gak mau harus dilalui dan itu adalah titik awal dari "new normal" di hidup kita, hah rasanya tuh campur aduk banget pas baca bab 10. Cuma bisa bilang kak Andreas dan istrinya keren banget, kuat banget!! 😭🫶🏻 semangat terus buat kakak-kakak, pengalaman kalian ini memberkati banyak orang terutama para pembaca buku ini!

Mungkin ini bukan ulasan kayak biasanya tapi lebih soal reading experience-ku ehehe soalnya aku takjub sama buku ini karena pembahasannya bagus dan ngena banget, buku yang bakalan aku re-read karena setiap halamannya itu penuh pelajaran dan reminders✨️ Buku yang menurutku cocok untuk semua orang karena kita gak bisa menghindari duka karena duka itu berdampingan dengan rasa suka jadi ada waktunya untuk bersuka dan pastinya, ada waktu untuk berduka juga. That's life!

Pokoknya, aku belajar banyak soal duka dan cara menjalani proses berduka dari buku ini. Selain duka, ada banyak hal-hal seputaran kehidupan yang dibahas di sini dan kalian harus baca sih biar kalian paham apa maksud dari judulnya, yep...apa hubungan cuci piring dan duka 🤫 Overall, it's a great self help book! Gak buat bosen sama sekali dan worth to read banget, pokoknya semua harus baca buku keren ini at least once in your lifetime! 😉
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,402 followers
January 11, 2025
Saya orang yang sangat cengeng perihal bicara kedukaan apalagi berhubungan dengan topik ditinggalkan anak, jadi butuh berbulan-bulan untuk memutuskan membelinya, berbulan-bulan dari mulai membaca sampai menyelesaikannya 🥲 Untuk buku yang tidak sampai 200 halaman ini, butuh beberapa ronde menangis.

Buku ini berisi pengalaman pribadi dr. Andreas dalam menghadapi dan memproses dukanya ditinggal oleh ayahnya dan kemudian, anaknya, Hiro. Walau beliau adalah seorang ahli psikiatri, tapi buku ini berisi tulisan personal yang begitu hangat dan menyentuh hati. dr. Andreas menganalogikan berduka seperti mencuci piring, sesuatu yang tidak disukai tapi harus dijalani. Ada tahap-tahap memproses duka yang serupa dengan tahap-tahap mencuci piring, misalnya mendahulukan piring yang nodanya lebih sedikit, ataupun merendam dahulu selama beberapa lama cucian piring yang kotorannya sulit dihilangkan.

Terima kasih dr. Andreas sudah menulis dan berbagi cucian piring melalui buku ini 😊
Profile Image for Riona Primavera.
79 reviews6 followers
February 10, 2025
Rating: 4,5 bintang.

Aku suka bukunya. Ngalir dan ngademin banget. Sejuk. Kayak baca tulisan seorang teman yg ditulis dengan indah. Bertemakan duka dan diselingi banyak perumpamaan yang ngena banget.

Kayaknya bakal kuulas dengan lebih panjang di IG-ku dan ketika aku udah lebih baik keadaannya. Sekarang jam 22.31 dan aku sudah lelah, ingin tidur. Buku ini jadi pengantar tidur yang manis karena tulisannya menyejukkan dan menghangatkan di saat yg bersamaan.
Profile Image for shalv.
39 reviews4 followers
February 1, 2025
Wow.

Jujur saja, aku menghindari membaca buku ini karena aku pasti menangis. Dan aku sedang tidak punya energi untuk menangis. Tapi membaca halaman-halaman awal buku ini, aku tidak mungkin tidak melanjutkannya. Meskipun polanya, aku baca-aku menangis-aku istirahat-aku baca-aku menangis lagi-dan seterusnya.

Sebagai yang selalu berduka karena ditinggal oleh orang terdekat, buku tentang duka cenderung kuhindari. Kebanyakan karena buku ditulis dari pihak ketiga serba tahu--dimana hal-hal didalamnya aku sudah tidak perlu diberitahu lagi.

Tapi buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Membacanya, seolah sedang mendengarkan teman bercerita satu sama lain. Aku tidak akan mengecilkan duka, dia juga tidak akan mengecilkan dukaku. Kami duduk bersama dengan duka dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimat-kalimat didalamnya adalah hal yang aku ingin dengar dari orang lain. Persis seperti itu. Barangkali sudut pandang penulisnya juga sama: sebagai orang yang juga berduka.

Terima kasih karena telah menulis buku sebagai seorang teman yang hangat. Aku akan melanjutkan mencuci piringku, seperti penulis akan terus melanjutkan cuci piringnya.
Profile Image for Sheira Sharma.
134 reviews4 followers
January 5, 2025
buku pertama yang gue baca di tahun 2025.

bukunya tipis tapi sangat berkesan, bercerita tentang bagaimana seorang ayah mengelola duka setelah kematian anaknya. karena beliau adalah seorang psikolog, jadi di jelaskan juga dalam ilmu psikologi setiap fase itu namanya apa, dan gimana cara kita mengelolanya. meski endingnya di tekankan lagi, kalau cara apapun itu nggak ada salah, karena setiap orang punya cara sendiri untuk mengelola duka dan nggak bisa di pukul rata. mungkin karena itu juga, jadi buku ini nggak berkesan menggurui, tapi menemani.

filosofi tentang mengelola duka dan mencuci piring cukup menarik sih, padahal gue pikir awalnya cuma judul doang aja. duh intinya buku ini sangat-sangat hangat, gue beberapa nangis selama proses bacanya :(
Profile Image for Gia⁷.
34 reviews2 followers
July 10, 2025
Terima kasih sudah menulis buku ini. Rasanya hangat sekaligus menyesakkan, seperti yang sering ditulis di buku, dua perasaan yang berbanding terbalik memang seperti dua sisi koin yang harus selalu hadir berdampingan. Ini memang buku tentang duka, tapi aku lebih memilih menyebutnya sebagai buku tentang kehidupan. Banyak sisi kehidupan yang bisa didapat dari masa berduka. Worth the hype, buku ini tidak sulit dibaca dan gaya penulisannya terasa seperti ngobrol dengan teman dekat. Terima kasih, Hiro.
Profile Image for Grace.
35 reviews
May 14, 2025
Berdukalah, tidak ada yg salah dengan duka
Tidak ada emotional yg negative atau positive..
Profile Image for Irma Setiani.
82 reviews10 followers
April 6, 2025
Selama baca buku ini banyak memikirkan dan menyusun ulang cara pandangku tentang banyak hal.
Profile Image for Nike Andaru.
1,646 reviews112 followers
December 24, 2023
103-2023

Nama psikiater ini sering banget saya dengar, pas tau dia ngeluarin buku, dan judulnya sangat bikin kepo, maka langsung baca deh ebook di Gramedia Digital begitu muncul.

Ini soal kepergian, kedukaan, dan bagaimana prosea duka itu ada, disembuhkan, dinikmati dan dirawat.

Membaca buku ini dari sisi ayah yang kehilangan putranya, pasti akan berbeda lagi jika mungkin ini diceritakan juga dari sisi si ibu. Hanya saja yang membuat ini sangat menarik, adalah bagaimana seorang psikiater melihat dan mengalami kedukaan atas kehilangan putra dan kehilangan ayah.

Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,430 reviews293 followers
August 17, 2024
Buku self help ini berdasarkan pengalaman pribadi author stl kehilangan ayah dan anaknya yg masih batita.

Berduka ...

Mnrt kebanyakan orang ini adalah emosi negatif yg harus dihilangkan/dihindari. Tapi tidak bisa dipungkiri setiap orang pasti pernah merasakan duka. Entah kehilangan orang terdekat atau sahabat bahkan anabul.

Author juga seorang psikiater jadi dia paham ttg istilah² medis spt ACT - Acceptance and Commitment Therapy, dan lebih bisa menjelaskan asal muasal duka dan bagaimana caranya utk "memudarkan"nya. Saya setuju dgn pendapat beliau, duka itu ibarat bola basket, yg gak bakal mengecil - bahkan mungkin membesar, tapi wadah utk menaruh bola tsb yg hrs diperbesar/diperluas. Nah beliau mengutarakan bbrp ide membesarkan wadah tsb. Kebetulan beliau juga punya cara unik yaitu mencuci piring.

Buku ini cocok untuk yg berduka dan memiliki empati. Tapi saya gak yakin bisa diterapkan pd orang yg problematik yg pemikirannya hanyalah dirinya sendiri. Just my two cents opinion.

Saya pikir buku ini masih banyak faedahnya, gak rumit dan mudah dipahami walaupun saya bukan tipe penyuka buku ttg mental health. Tapi intinya kedukaan memang harus dibagi kpd orang yang tepat supaya bisa melihat aspek lain dari duka tsb.
Profile Image for Dyah Mile.
33 reviews1 follower
September 27, 2024
Berduka itu wajar. Tetapi ketika kita melekat dengan pikiran berduka, maka itu akan berkembang jadi penolakan akan realitas dan ketidakberdayaan. Berdukalah sewajarnya. (hlm. 123)

Maka, bila hidup terus berlanjut, rayakanlah hidupmu dengan orang yang masih ada. Sediakan waktu, tenaga, dan mungkin sedikit dana, untuk menemui mereka. Bertukar cerita dengan mereka. Kamu tidak perlu menceritakan tentang kesedihanmu. Berceritalah tentang film superhero yang baru kamu tonton.... (hlm. 140)

akhirnya selesai.
agak lelah dan cukup lama untuk meyelesaikan buku ini karena saya merasakan emosional saya terkuras terutama di awal buku hingga saya memutuskan untuk menunda untuk lanjut membacanya.

pada awal hingga pertengahan buku dijelaskan perjalanan duka yang dialami oleh penulis, begitu dalam duka yang dialaminya, dan bagaimana cara penulis memulai menyembuhkan luka dengan menganalogikannya dengan tahapan mencuci piring.
pada akhir buku dijelaskan proses penyembuhan diri dari rasa duka, menerima rasa dan berduka dengan sejawarnya, dan melanjutkan hidup.
Profile Image for avi.
1 review
January 31, 2026
surprisingly, after reading this book, i felt soothed.

another way to describe the experience of reading this book is: it feels like being accompanied. like someone is there, gently describing what i feel while going through grief.

there are many parts of this book that finally answered why i did certain things. and i’m very glad i finally read this book.

after my mother passed away, i never feel happy about meeting people during lebaran, even my closest family. with so many people around, the loneliness actually feels stronger.

the night before lebaran, i always feel low and don’t want to wake up the next day. and yes, it has probably been five years now that i wake up late on lebaran and end up not meeting many people. and i’ve learned that this, too, is part of grief.

i have always felt that my grief over losing my mother will never really go away — and this book validates that.

grief exists because we love the person. trying to get rid of grief is the same as trying to get rid of love — and that is impossible.

so if you ask me, until when will i grieve?
“as long as i can.” maybe without sadness, maybe without crying — just grief, as written in this book.

worth a read.
Profile Image for ndin.
41 reviews1 follower
November 17, 2024
Kayanya emang deskripsinya Ninik buat buku ini udah paling bener:

Sederhana, tapi ngena.

Bakal merekomendasikan buku ini untuk beberapa orang yang kukenal baik✨️
Profile Image for Hadissa Primanda.
252 reviews3 followers
January 8, 2026
membahas kedukaan dari cerita dokter jiwa yang kehilangan ayah dan anak membuat semua cerita terasa dekat dan kayak ngobrol sama orang yang sama-sama berduka. dokter andreas juga jago nulis jadi meski ada teori-teori tapi gak berat, dan beliau juga bisa memainkan ritme pembaca jadi gak kaku.

aku nangis di bab yang detik-detik terakhir anaknya pergi.

buku ini akan jadi teman cerita bagi mereka yang berdua, juga jadi panduan untuk menemani orang yang berduka, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dibanding sekadar kata-kata pelipur lara.
Profile Image for Dita Anggita.
59 reviews
February 9, 2024
4.5/5

Pertama, aku suka judulnya. Kedua, aku suka kovernya. Ketiga, aku suka isi bukunya.

“Cuci piring itu seperti berduka. Tidak ada orang yang suka melakukannya, tapi pada akhirnya, seseorang harus melakukannya.”— hlm. 32

Buku ini wajib dibaca oleh orang-orang yang pernah mengalami duka; entah itu kehilangan orang terkasih karena meninggal, dikecewakan, atau ditinggalkan. Melalui buku ini kita akan diajarkan untuk berdamai dengan duka. Sebagaimana cinta, duka adalah sesuatu yang pasti dan melekat dalam diri manusia. Yang membedakan adalah bagaimana cara menyikapi duka itu sendiri.

“Berduka itu wajar. Tapi, ketika kita melekat dengan pikiran berduka, maka itu akan berkembang jadi penolakan akan realitas dan ketidakberdayaan. Berdukalah sewajarnya.”—hlm. 123

Dr. Andreas seorang psikiater, membagikan pengalaman hidupnya ketika berduka; kehilangan ayah dan putranya. Beliau menceritakan bagaimana duka juga sempat menghancurkan mentalnya, tetapi kemudian dia berusaha bangkit, salah satunya melalui mindfulness; mencuci piring.

Kenapa harus mencuci piring? Kamu bisa menemukan jawabannya di buku ini. Namun, tentu setiap orang memiliki caranya sendiri, tidak harus mencuci piring. Tidak harus mengikuti step yang diberikan dr. Andreas, tapi yang pasti kita harus menyadari dan menerima duka tersebut dan menempatkannya di tempat yang tepat.

“Penerimaan itu bukan sesuatu yang pasif dan kita membiarkan dunia menghantam kita dengan segala rasa sakitnya. Penerimaan adalah perilaku aktif dan kita diminta merespons serta memilih apa yang perlu diterima dan apa yang tidak.”—hlm. 90

Banyak sekali catatan yang aku highlight dan tandai dari buku ini. Aku juga ikut larut dengan duka yang dialami Penulis ketika kehilangan Hiro. Seperti namanya, Hiro seperti pahlawan, bukan hanya untuk orangtua dan keluarganya, tetapi untuk kami para pembaca yang sedang berjuang melalui duka.

“Aku percaya bahwa selama kita bisa menyeimbangkan hidup, maka kita akan baik-baik saja. Bekerja dan hiduplah secara seimbang dalam judul work-life balance.”—hlm. 174
Profile Image for Muchi.
70 reviews1 follower
January 4, 2024
Ngga semua duka bisa kita selesaikan dalam satu waktu yang cepat. Ada kalanya kita harus bisa mengikhlaskan satu persatu, ada juga perasaan yang harus kita bangun lagi satu satu.
Di buku ini dijelaskan bagaimana berduka itu bukan suatu hal negatif yang tidak boleh kita lakukan..
Karena semua orang punya waktu untuk menyelesaikannya sesuai porsinya masing2 🤗
Profile Image for Hana Ramli.
33 reviews
January 5, 2026
Sebelum aku tahu buku ini,aku sudah cukup lama tahu dr.andreas dari X (twitter) dengan cuitan-cuitan humoris dan edukatifnya😜. Dan pas tahu dia rilis buku tentang berduka,rasanya penasaran banget untuk melihat perspektifnya bagaimana. Aku juga ikutin cerita yang saat itu beliau bagikan via twitter tentang anak istimewanya ketika lahir hingga setahun kemudian berpulang.

Basically,buku ini menurutku cukup unik. Buku nonfiksi yang ringan tapi berisi banget ilmunya🤩. Buku nonfiksi yang berasa kaya baca novel yang ringan aja gitu. Yaaa walaupun dipertengahannya,kita menguras air mata ya sayyy🥹. Beliau cerita tentang how he dealt with grieving when his dad, friend, and his son passed away. Dia cerita tentang bagaimana caranya berduka ketika ayahnya,temen dekatnya,dan anaknya berpulang. Hal ini terjadi diwaktu yang berbeda. Walau dalam buku ini dia cerita tentang cara yang dia lakukan untuk berduka,tapi dia selalu menekankan bahwa setiap orang punya cara yang berbeda untuk berduka. Dia hanya berbagi tentang sudut pandangnya dalam berduka, ya mungkin aja bisa dijadikan opsi untuk orang-orang yang sedang berduka. But if it doesn’t work out,that’s okay. Berarti kamu emang punya cara yang lain untuk berduka.

Tidak ada waktu yang pasti untuk seberapa lama kita seharusnya bisa melewati masa berduka. Satu hal yang pasti,walaupun kamu sudah melewati masa berduka itu,kamu tidak akan pernah dapat melupakan mereka. Mereka tetap akan menempati salah satu bagian dihatimu.
Profile Image for Kensan.
3 reviews
June 18, 2024
Sudah lama saya selesai membaca ini. Tapi perasaan ketika membaca buku ini untuk pertama kalinya masih terbesit sesaat. Sudah mau menginjak 3 bulan dan saya akan terus belajar menerima dan mengizinkan rasa sedih ini hadir hingga akhir. Terima kasih dr. Andreas sudah menciptakan kata-kata penenang di kala saya berduka. Anda sangat sukses memahami perasaan orang berduka dan membuat saya nyaman saat membaca. Bulan ini, bulan kelahiran mendiang Ibu saya. Jikalau saya bisa mendatangi tempat peristirahatan Ibu, mungkin saya akan menceritakan buku ini. Mamak jarang dengar saya bicara tentang buku apalagi lihat saya baca buku awokwowkwok 😂😂
Profile Image for gionica.
43 reviews1 follower
January 27, 2025
3.5

Aku ingin mengatakan, "Aku mengerti perasaanmu," tapi bisa jadi itu suatu kebohongan. Bisa jadi aku tidak mengerti perasaannya. Bisa jadi aku belum mengertui perasaannya. Bisa jadi, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merasakan yang mereka rasakan. Maka, dalam setiap kisah yang kude-ngarkan, aku berusaha untuk memberikan jawaban yang sama.
"Aku ingin mengerti yang kamu rasakan. Ceritakanlah, kamu tidak sendiri."
Profile Image for Sara Fiza.
39 reviews5 followers
June 15, 2024
Tutorial melalui duka dan menghadapi komentar-komentar yang tidak mengenakkan ketika berduka. Relatable😞
Profile Image for Mahfud Achyar.
Author 2 books8 followers
January 14, 2025
"Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" (2023) karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Tidak banyak buku yang mengangkat tema tentang berduka. Rasa-rasanya, duka menjadi topik yang ingin dihindari banyak orang atau mungkin enggan untuk dibahas. Duka menjadi perasaan yang sangat personal sehingga tidak perlu dibicarakan. Biarlah menjadi cerita yang disimpan rapat-rapat oleh setiap manusia.

Namun, dr. Andreas berani berbagi tentang duka yang ia alami, khususnya duka saat kehilangan putranya yang baru berusia 1,5 tahun bernama Hiro. Duka bukanlah hal yang baru dalam hidupnya. Ia juga pernah kehilangan sosok yang sangat ia hormati yakni ayahnya yang taksempat melihat dirinya lulus menjadi seorang dokter.

Menurut dr. Andreas, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam melalui duka. Ia sendiri menganalogikannya dengan pekerjaan domestik yaitu mencuci piring.

Mengapa demikian? Baginya, cuci piring itu seperti berduka. Tidak ada orang yang suka melakukannya, tapi pada akhirnya, seseorang harus melakukannya.

Di buku ini, dr. Andreas bercerita perjuangannya bersama istri dalam merawat Hiro hingga akhirnya melepaskan kepergian Hiro untuk selama-lamanya. Proses penerimaan yang mereka lalui tidaklah mudah dan tidak sebentar. Kehilangan seseorang yang dicintai seperti kehilangan salah satu puzzle yang menyusun bentuk hati. Terlihat tidak utuh dan sempurna. Namun di satu sisi, hidup harus terus berjalan.

Sejatinya, orang yang kita cintai tidak pernah pergi. Ia selalu menempati ruang-ruang dalam hati kita. Jangan pernah takut bahwa kita akan melupakan mereka. Kapan pun kita mau, kita dapat memanggil kembali memori kita bersama mereka.

Buku ini membantu saya memahami proses berduka yang tidak akan pernah sama dirasakan oleh setiap manusia. Jika dr. Andreas melalui duka dengan mencuci piring, saya ingin melalui duka dengan mengingat setiap kenangan baik bersama orang-orang yang saya cintai selama hidup. Dengan begitu, saya merasa mereka tidak benar-benar pergi. Mereka selalu ada di ingatan saya.

#SeorangPriaYangMelaluiDukaDenganMencuciPiring
#Goodreads
#AndreasKurniawan
#Bookstagram
Displaying 1 - 30 of 452 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.