Metropolis: Sebuah Dendam dan Ambisi yang Diakibatkan Karena Kematian Seorang Ayah
Impression!!
Sudah memakan beberapa hari sejak aku memulai membaca novel Metropolis karangan Windry Ramadhina. Namun baru subuh tadi aku mampu menamatkanya dalam satu malam. Ya, sebagian besar bab kuhabiskan baru tadi malam dan itu menimbulkan rasa sesal mengapa tidak sedari dulu aku membaca novel ini. Padahal novel ini sudah berdiam lama di rak buku, tak tersentuh, kecuali saat aku melakukan bersih-bersih rak.
Aku terkejut mbak Windry bisa menulis novel thriller ini. Sangat. Pasalnya aku mengenal Mbak Windry lewat tulisannya yang bertemakan young adult jenis romance, dengan berbagai judul, misal: Memory, Montase, London, Last Forever, Orange, Interlude, Walking After You, dan Angel in The rain. Untuk Glaze aku belum sempat membaca, bukunya juga masih nangkring dengan rapi di rak, dapat hadiah dari salah satu teman. Thanks!
Kembali lagi, Metropolis ini menyuguhkan alur cerita yang berbeda dari keseluruhan cerita yang pernah mbak Windry tulis. Aku menemukan banyak ambisi pada setiap tokohnya, ketegangan di setiap babnya, dan rasa penasaran yang mampu bikin orang ketagihan.
Gila!
Metropolis ini bercerita tentang kisah seorang Inspektur Unit Satu Sat Reserse Narkotika yang bermarkas di Polda Metro Jaya, namanya Agusta Bram. Dia punya karakter yang menonjol dalam novel ini, menonjol juga di satuannya karena sikapnya yang ambisius dan tidak mau kalah. Dia memiliki seorang asisten, polwan berpangkat Bintara, Erik namanya. Dia perempuan yang memiliki nama laki-laki, perlu diingat. Mungkin orang tuanya lupa menulis huruf ‘a’ setelah huruf ‘k’, mungkin. Mereka berdua awalnya bekerja di bawah naungan Kasat Reserse Narkotika bernama Moris Greand yang berpangkat Ajun Komisaris. Dia lelaki yang mudah untuk diajak kompromi dan punya sejarah yang menyenangkan bagi Bram. Namun, setelah Moris pensiun hal itu membuat Bram punya mimpi buruk. Yakni, Burhan D. Saputra ditugaskan sebagai Kasat Reserse Narkotika yang baru. Mereka memang tidak memiliki riwayat hubungan yang baik, dan nantinya Burhan adalah salah seorang yang memang patut dicurigai dari sejak awal kemunculannya. Pendapatku, karena sikapnya yang bossy itu, aku selalu menaruh curiga padanya.
Berlanjut, cerita di awali dengan munculnya sebuah kasus pembunuhan berantai yang melibatkan para pemimpin sindikat 12, sebuah nama dari gembong narkotika yang berbasis di Jakarta dan sangat susah untuk meringkus mereka. Satu persatu para pemimpin sindikat 12 yang berjumlah 12 itu mati dengan berbagai penyebab. Dari overdosis, kecelakaan, sampai digorok leher sampai mati. Dari sana Bram dan Erik mencari bukti dari jejak-jejak tertinggal yang mereka harapkan mampu membawa mereka ke pelaku pembunuhan. Dan, Bram menemukan ia tidak sendiri. Miaa, yang merupakan mantan polisi juga memiliki tujuan yang sama, mengejar pelaku pembunuhan tersebut. Namun tampaknya Bram dan Miaa tidak pernah menjadi satu pihak. Lalu, muncul seseorang yang baru, dia tak tercium dan sangat hati-hati dalam pergerakanya. Memiliki ambisi yang sama besar dengan Bram dan Miaa. Tersebut adalah Johan, dia seorang pasien penyakit langka, Chronic Myelogenous Leukimia. Sebuah keadaan dimana sel darah putih memilki usia yang jauh lebih lama daripada sel darah merah, sehingga komposisi darah dalam tubuh tidak seimbang dan setelah beberapa lama, kondisi tersebut akan menyebabkan kematian. Dan meminum obat STI571 merupakan pengobatan yang cukup mahal dan hanya orang-orang berduit yang memilih pengobatan dilematik tersebut (hal: 181).
Saat Johan muncul, diikuti dengan kemunculan seorang perempuan cantik yang mengerti bahwa kopi harus diminum tanpa gula, Indira. Latar belakangnya memang dijelaskan sedemikian rupa, namun dia akhir cerita kita akan tahu siapa Indira sesungguhnya. Dan dia bukanlah orang yang salah di tempat yang salah. Indira seorang ketua yayasan bagi para penderita penyakit yang senasib dengan Johan. Ia mencari donatur, berbasa-basi singkat, menawarkan kerja sama sembari minum kopi atau makan makanan restoran, dan dari hasil itu semua ia memiliki donasi yang cukup untuk para pasien yang membutuhkan bantuannya.
Hubungan antar tokoh yang terjalin di antara mereka sangat dekat sekali, karena sebuah kasus yang akhirnya menarik mereka di titik yang sama. Dendam, ambisi, dan juga hasrat untuk hidup tenang menjadi penyebab besarnya gelombang yang terjadi selama alur cerita ini berjalan. Dalam sebuah novel thriller sekalipun, bumbu manis beraroma romansa cinta sedikit saja pasti dihadirkan, bukan jenis kisah cinta yang patut diperjuangan, namun melibatkan sedikit emosi tersbut dalam rencana-rencana yang sudah tersusun rapi tersebut, memang layak untuk dicoba.
Dan selama membaca novel ini, jujur aku tidak terlalu berharap akan terjadi sesuatu di antara mereka. Misal, Bram, aku tidak berkeyakinan dia akan tertarik dengan lawan jenisnya selama kasus yang ia pegang. Dan aku sependapat dengan Erik. Yah, Bram sendiri ymemang tidak terlibat urusan emosi dengan Erik, tetapi dengan Indira. Aku kira ia akan lebih tertarik pada Miaa, tapi salah, ia suka perempuan yang mengerti cara membuat kopi yang sempurna. Erik suka kopi manis, omong-omong dan Bram tampaknya tidak menganggap Erik sebagai perempuan. Kasihan Erik.
Tapi, Johan dan Miaa. Mereka sedikit melibatkan perasaan mereka. Hingga di ujung sisa nafas terakhirnya pun, mata mereka saling berbicara dan menyiratkan akan sebuah penyesalan dan perasaan yang diam-diam mulai menjangkit. Tapi, jelas ini bukan cerita yang akan mendetailkan kisah asmara mereka. Itu hanya bumbu-bumbu manis yang disuguhkan oleh mbak Windry agar tidak terlalu pahit, haha.
Di akhir kisah aku baru menyadari tagline dari novel ini adalah “Demi ayahku yang sudah mati” masing-masing tokoh memang memiliki sejarah hidup di masa lalu yang tidak bisa dikatakan mudah untuk diceritakan saat minum teh di sore hari. Pemicu dari masing-masing tokoh adalah kematian ayah mereka. Apa yang membuat Bram begitu ambisius menangkap para aktor dalam dunia narkotika, apa yang menyebabkan Johan memilih mempertaruhkan nyawanya, apa yang membuat Miaa hidup sebagai orang yang menyedihkan dan gelar mantan polisi yang ia sandang, dan apa yang menyebabkan Indira berusaha diam-diam saja dan memcoba yang terbaik merawat Johan. Semua dapat dijelaskan di akhir kisah, amarah, dendam, benci, cinta, dan perasaan puas.
Aku suka hasil riset mbak Windry dalam novel ini meski dibeberapa review dikatakan bahwa riset mbak Windry kurang menyeluruh. Pergerakan para narkotika itu masuk ke Indonesia dan keluar Indonesia. Basis mereka yang ada di luar negeri. Cara kerja kepolisian satuan narkotika saat melakukan olah TKP. Cara kerja tim foreksik, tim Cyber Crime, dan masih banyak lagi. Satu lagi yang membuatku ikut berpikir bersama Bram dan Erik, yakni pola pembunuhan. Bagaimana pelaku memilih dan menentukan siapa yang akan mati hari ini dan selanjutnya. Di dalam novel diberikan gambaran seputar pola-pola pembunuhan yang digambar oleh Bram dan Miaa. Terutama pola yang digambar oleh Miaa, cukup membuatku berdiam cukup lama memandangi gambar tersebut. Sempat menyimpulkan itu adalah sebuah deret aritmatika, atau angka kelipatan dan kemungkinan dari hasil penjumlahan tanggal pembunuhan. Tidak bisa dipercaya.
Mungkin reviewku ini sedikit banyak mengandung spoiler dari cerita, tapi aku santai sajalah. Karena sedang bersemangat ingin membagikan kisah Bram, Miaa, Johan, dan Indira. Sekali lagi aku cukup puas dengan hasil kerja mbak Windry. Meski novel ini rilis di tahun 2009 dan aku baru membacanya di pertengahan thaun 2017, tidak membuatku berpikir bahwa novel ini sudah lewat dari masanya.
Sugoi!