Dua mayat dengan tubuh terkoyak ditemukan di tepi Jembatan Merah yang tak kunjung selesai dibangun. Darah mereka masih segar, tapi jasad keduanya tak lagi utuh.
Siapa pun yang melihat luka-luka itu akan langsung mengetahui sosok yang pantas dituduhkan sebagai pelaku, yaitu harimau.
Peristiwa itu rupanya adalah permulaan dari berakhirnya status quo yang telah lama menyengsarakan warga Pajang.
Desa Pajang pada 1920-an ditinggali oleh tuan tanah zalim mantan bandar narkoba; Schouten yang membiarkan bandit-bandit berkeliaran; hingga jawara yang parangnya sangat enteng menebas pribumi tak patuh demi sang tuan tanah.
3,5 bintang. Ending-nya keren! Kayak tendangan pamungkas yang mengakhiri pertempuran sengit di antara para karakter penggerak cerita—Meneer Dedrick, Darmo, dan van Barend.
Cuma 156 halaman aja. Tipis juga buat novel dengan bobot sejarah dan konflik imperialisme.
Latar ceritanya zaman belanda, desa di Jogja, perkebunan (tebu), dan hutan. Tokoh antagonisnya ada dua, orang belanda dan orang lokal.
Protagonisnya harimau itu sendiri sih!
Ceritanya tuan tanah Dedrick tinggal di Kasihan, Jogjakarta. Dia punya perkebunan di dekat hutan Pajang. Anak buahnya yang belagu dan jago silat namanya Darmo. Mereka berdua penjahat bangetlah.
Perkebunan mister dedrick dihebohkan dengan kasus warga yang meninggal dimangsa harimau. Diburulah harimaunya supaya tidak ganggu keamanan dan kelancaran bisnis dedrick.
Jalan ceritanya plot maju, ada sedikit cerita plot mundurnya. Konfliknya gak jauh-jauh dari penindasan kekuasaan wilayah dan lahan. Harimau hadir sebagai hakim sekaligus jagalnya.
Tapi kerasa ini novel kayak gak terlalu banyak risetnya dan gak ada konflik yang berkepanjangan karena penokohannya juga sedikit, jadi kayak cepat banget jalan ceritanya berjalan.
Endingnya cakep dan memuaskan, walau agak terkejut dengan plot twist pada tokoh bernama Darmo.
Ceritanya padat walau sejujurnya sangat tipikal. Fresh dengan karakter jahat sebagai pemeran utama ditambah latar belakangnya yang sangat menarik. Cerita ini agak terbaca plot dan endingnya menyebabkan saya pribadi jadi kurang deg-degan membacanya. Beberapa kali bosan karena seakan-akan berputar-putar di latar belakang karakter.