Terlahir dari sebuah kesalahan, dibenci tanpa alasan, dan dianggap tidak berharga oleh sang ibu membuat Karang Samudra Daneswara hidup dirundung duka. Ia tidak pernah menginginkan apa pun di hidupnya kecuali kasih sayang dari Andira Deepa-ibu kandungnya.
Berbagai penolakan dan perlakuan kasar sering Karang dapatkan, tetapi Karang masih tetap menjadi sosok yang menghangatkan jiwa. Tanpa disadari apa yang Karang alami ternyata menumbuhkan sosok lain dalam dirinya.
"Ma... Lihat Karang sekali saja. Karang ada disini. Karang juga ingin dipeluk Mama. Karang juga anak Mama, kan? Karang juga lahir dari rahim Mama, kan? Apa bedanya Karang dengan Biru? Kenapa kasih sayang Mama harus terbelah seperti ini?"
Lantas, setelah semua rasa sakit yang Karang alami, akankah Andira membuka hati untuk menerima Karang atau selamanya akan tetap jadi pembenci?
Aku Tak Membenci Hujan ceritain tentang Karang yang ngalamin penolakan dan perlakuan kasar dari ibunya karena Karang hadir karena sebuah kesalahan. Perlakuan dari ibunya mengakibatkan lahir sosok-sosok lain dalam diri Karang alias Karang kena DID (Dissociative Identity Disorder) atau kepribadian ganda. Jadi Karang bisa berubah-ubah menjadi sosok bernama Banu & Agha yang punya sifat berbeda-beda. Selain kisah sedih, ada kisah cinta juga karena kehidupan Karang di sekolah diwarnai dengan kehadiran Launa, seorang gadis yang bisa melelehkan sikap dingin dan cueknya Karang.
─── ゚ ⋆ ゚🌧 ゚ ⋆ ゚───
Dari segi narasi, ini rapi dan nyaman dibaca apalagi ditambah alurnya yang nggak bisa ditebak dan selalu penuh dengan kejutan, bikin aku gak bisa stop baca ini dan berakhir kelar dalam 1 hari 🤣 Untuk penokohannya, aku suka krn kisah Karang, baik kisah hidup dia yang miris sampai kisah cintanya sama Launa ditulis detail jd bisa bener-bener sampai feelnya. Jujur ini kali pertama aku baca buku yg tokohnya kena DID jadi krn ada pergantian kepribadian, beberapa dialognya sempat bikin aku bingung ketika aku-kamu jadi lo-gue sama aku awalnya ngira cuma ada 1 kepribadian lain di diri Karang eh tau-tau ada 2 ternyata.
Terus untuk konfliknya, ini apik sih!! Aku berhasil dia buat emosi sama kelakuan mamanya Karang, Andira. Jahat banget😭 kata-katanya gak difilter deh! Tapi untungnya di saat mamanya jahat, masih ada papanya Karang dan Biru, adik Karang yang masih sayang sama Karang! 🥹🫶🏻 setidaknya ada yang buat happy di tengah kekeruhan. Terus romance, aku rasa okay cuma aku gak fokus ke romance-nya karena lebih tertarik sama konflik keluarga Karang dibandingkan kisah cintanya sama Launa.
Overall, it's a good book! Suka banget sama alurnya yang gak bisa ditebak dan penuh kejutan! 🤩 keren kak Erry!! Aku gasabar baca sequelnya soalnya endingnya ini bikin penasaran!!
─── ゚ ⋆ ゚🌧 ゚ ⋆ ゚───
Aku saranin buku ini buat para penyuka angst dan romance, harus banget CO!! Karena angst di buku ini gokil bener 😭🙏🏻
your typical mediocre mr. perfect male character with his mommy issue met his ms. perfect female character. your typical wattpad and au's cringe, poorly written books. masa iya, udah tau kakaknya dipukulin sama omnya sendiri, adiknya karang ga bilang apa apa ke papanya? i'm not including their mother, you know why. masa iya, orang orang sekelilingnya gaada yang kepikiran untuk laporin ke pihak berwajib? rasanya ga realistis aja, walaupun ini memang buku fiksi. and i feel like the author was failed to potray karang with his mental illness, jatuhnya malah kayak authornya romanticize mental health. terus juga, banyak banget character antagonis dibuku ini, bacanya jadi nguras energi banget. terus konlik terakhir yang deket ending sebenernya bisa diakhiri dengan sad ending atau happy ending, tapi author nya maksa banget nge bikin plot nya jadi mengarah kesana biar ada buku lanjutan padahal that last plot was unnecessary. banyak yang mau aku point out, cuma kesimpulannya adalah buku ini lumayan, cuma ini bukan tipe buku yang aku bakal kasi rekomendasi buku ini ke orang orang. although, i have to say i did cry at some parts. dapet bintang 2 karena nama authornya ada "puji" nya, which is nama guru bahasa indonesia ku disekolah yang kalo kasi nilai ga pelit :DD
p.s: puisi di epilognya jadi ke inget "sebuah tanya" soe hok gie.
pernah denger cerita tentang orang yang punya kepribadian ganda? hm, kalau di sini malah pemeran utamanya punya 3 kepribadian. 😵 bingung ga? sama, aku juga bingung awalnya.
aku tak membenci hujan, tokoh utamanya bernama karang. nah, karang ini siswa yang pinter loh, ada banyak kelebihan yang dia punya, kekurangannya cuma suka tidur di kelas, haha 😂 dia cuek, tapi kalo udah nyaman sama orang bakal luluh sendiri. dibalik kehidupannya yang keliatan sempurna itu, ternyata berbeda dgn kenyataannya.
Karang itu lahir dari sebuah kesalahan gais! dari situ, ibunya benci banget sama dia. tapi, untungnya masih ada banyak org yang sayang sama dia, termasuk papa-nya dan adiknya. terus, bakal muncul cewek namanya launa yg bakal nemenin perjalanan cinta Karang. 💗🫶🏻
Ngomong2 soal kepribadian ganda, yap! jadi karang itu memang suka berubah2, dia bakal jadi Agha, dan di akhir cerita di bakal jadi Arutala. 😭 dicerita ini yang bikin aku harus bolak balik baca halamannya, buat memahami! wahh, seruu sihhh, apalagi 3 pribadi itu punya karakteristiknya sendiri.
konfliknya seruuuu, aku kira cuma stuck di masalah keluarga aja, eh ternyata gak sesimple itu, konflik romancenya juga aduhh, nyesek banget! apalagi di tambah karang yang punya 3 kepribadian, bikin makin runyam.
untuk narasinya asyik bangett sih, penjelasannya juga sederhana, jadi bacanya pun gak terlalu belibet. untuk interaksi karang sama temen2nya menarik, cuma sayang, dialog tokohnya agak kurang konsisten, soalnya kadang pake bahasa santai gt, kadang juga pake bahasa baku.
untuk endingnyaa, wahh 😭 Launa, semangaat berjuang buat karang yahh! 😂 harus banget baca sequelnya nih, “Rintik Terakhir” pasti bakal lebih seru.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dua bintang—satu untuk ide ceritanya, dan satu lagi untuk usaha penulis menyelesaikan novel ini.
Jujur, ide dasar novel ini sangat keren, tapi nggak dieksekusi dengan baik. Writing style penulisnya cukup baik, namun nggak didukung riset yang memadai. Padahal, menuliskan kisah yang melibatkan kondisi Dissociative Identity Disorder (dulu disebut Multiple Personality Disorder) bukan hal yang cocok untuk iseng-iseng atau seru-seruan belaka.
Aku pernah baca beberapa buku tentang DID, di antaranya The Minds of Billy Milligan (versi Indonesia: 24 Wajah Billy) karya Daniel Keyes, Sybil (versi Indonesia: Sybil, Kisah Nyata Seorang Gadis Dengan 16 Kepribadian) karya Flora Rheta Schreiber dan Tell Me Your Dreams (versi Indonesia: Ceritakan Mimpi-Mimpimu) karya Sydney Sheldon.
Yang aku amati, ketiga novel tersebut disusun dengan riset yang tidak main-main. Deskripsi sebab dan akibat yang menggerakkan karakternya jelas.
Sementara Aku Tak Membenci Hujan lebih ke arah meromantisasi. Kondisi terkait DID cuma digunakan untuk 'pemanis' cerita, bukannya mengedukasi pembaca dengan fakta yang benar tentang DID.
Tebakanku, kayaknya kisah ini terinspirasi dari buku bertema serupa, yang dikembangkan menjadi versi Karang oleh penulisnya. Nggak salah sih, tapi tolonglah lengkapi dengan riset yang mendalam. Jangan cuma menampilkan adegan-adegan kekerasan yang dialami Karang untuk meraup simpati pembaca. Perjelas unsur sebab-akibatnya, karena DID adalah kondisi psikologis yang serius. Bisa fatal kalau sampai pembaca salah memahami maksudnya.
Dari segi teknis penulisan, novel ini sebenernya nggak istimewa banget. Banyak typo, dialognya klise—nggak natural dan karakter serta plotnya sinetron banget. Adegannya banyak banget yang nggak logis, contoh:
- Halaman 41, pada salah satu paragraf menyebutkan bahwa Andira dan Biru sedang pergi ke Bandung menjenguk Nyonya Besar, tapi di paragraf berikutnya—tanpa penjelasan apa-apa—tiba-tiba Andira muncul di dapur marahin Karang. Duh.
- Halaman 126, saat Andira dilecehkan mantan kekasihnya, Pramana berlapang dada menerima segala konsekuensi kejadian itu dengan menerima Karang (bayi hasil perk***an itu) sebagai anaknya dan nggak melaporkan kejadian itu ke polisi. Halooo, aku mah ogah punya suami yang nggak bisa bela martabat istri macem Pramana ini. Bisa-bisanya istrinya dilecehin dia malah adem ayem.
Hadeeehh, menurutku, semua karakter di novel ini sakit jiwa dan Karang adalah korbannya. Launa? Bagiku, karakternya nggak penting sih. Maaf.
I don't remember the story very well, but I want to review this book. If I remember correctly, this book tells the story of a young man who has dissociative identity disorder. It is a sad and heartbreaking story when you find out what caused him to become like that. The female character who made him fall in love and made the man try hard not to show his other side deserves appreciation. The story is engaging, and I enjoyed it.