Ini adalah sebuah kisah tentang perampokan. Atau lebih tepatnya, kisah tentang sekelompok orang yang merencanakan sebuah perampokan. Lebih tepatnya lagi, tentang sekelompok orang yang berpikir kalau mereka bakal merampok sebuah toko emas dalam tempo 24 jam ke depan. Asal kamu tahu saja, sampai buku ini selesai tidak ada perampokan yang terjadi.
Sama anehnya dengan subjudul “Sebuah Cerita Detektif” yang tertera di sampul buku ini. Tidak ada kisah detektif yang dijalankan para karakternya─bukan tipikal plot murder mystery, hard-boiled, apalagi Nordic noir. Satu-satunya yang memerankan tugas detektif adalah polisi yang menginterogasi seorang saksi uzur terkait perampokan, tapi itu pun tidak menghasilkan petunjuk berarti selain jadi bahan tertawaan. Atau barangkali, satu-satunya detektif, ya, para pembaca sekalian yang mau tidak mau harus menerka-nerka apa yang sedang terjadi, yang mungkin terjadi, dan yang bakal terjadi.
Tokoh utamanya adalah Gaspar, itu sudah jelas, seorang laki-laki 35 tahun yang karier dan visi hidupnya tidak jelas. Bahkan sebagai narator di novel ini pun ia tidak jelas. Ia yang punya ide merampok toko, lalu memilih berkomplot dengan seorang perempuan yang tiket konsernya dirampas, seorang nenek yang lupa kalau suaminya sudah meninggal, seorang karyawan toko yang diancam cerai istrinya, dan mantan pacar Gaspar yang sedang mengandung anaknya. Tidak hanya itu, Gaspar juga ditemani motor antiknya yang konon dirasuki jin citah dan punya free will dalam menentukan sendiri rute jalan yang dilewati.
Bayangkan Holden Caulfield bermain di film Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Wes Anderson yang jadi sutradaranya. Protagonis sarkas yang menyeret dirinya ke dalam plot kriminal yang konyol dengan latar situasi yang serbaabsurd. Sudah pasti limpahan dialog dan monolog cerdas jadi bumbu utamanya, terutama dalam menampilkan kebodohan dari para karakter yang terlibat.
Banyak referensi pop culture yang tersebar di sini. Nama seperti Gaspar, Cortazar, Pongo, Jethro terasa sangat terkoneksi dengan figur-figur pop. Bahkan nama yang seumum Agnes pun mengundang saya untuk mengaitkannya dengan sutradara Agnès Varda, karena saya yakin orang seperti Gaspar pasti menonton film-film karya beliau. Adegan-adegan di novel ini memang terasa sinematik, contoh paling utama terkandung dalam narasi-narasi flashback yang panjang, dalam beberapa adegan slapstick, serta penggunaan “properti ikonik” seperti topeng luchador dan pistol rakitan ala steampunk.
Saya memang belum banyak membaca novel detektif, tapi entah kenapa saya terdorong untuk menyatakan bahwa karya Sabda Armandio yang satu ini memberikan angin segar bagi genre ini, terlebih lagi dalam konteks sastra Indonesia. 24 Jam Bersama Gaspar adalah tentang gagasan yang mendobrak pakem-pakem klise perihal logika cerita. Tidak terjebak dalam kerangkeng kebaikan vs. kejahatan walaupun ini adalah kisah kriminal. Sekaligus juga tidak dapat ditebak ke mana kisahnya akan berjalan karena setiap karakter di sini memang tidak ada yang bisa dipercaya.
Inilah novel yang akan membuatmu mengakhiri buku seraya memikirkan ulang tentang apa yang baru saja kamu baca. Inilah novel yang akan membuatmu meragukan kebenaran dari setiap peristiwa yang telah diceritakan, karena bisa jadi semua itu hanyalah rekonstruksi imajinatif dari ingatan yang rusak. Inilah novel yang akan membuatmu percaya kalau novel Indonesia itu ternyata nggak gitu-gitu aja. Mungkin juga ini adalah novel yang akan membuatmu teringat kepada penulis-penulis absurd dari seberang samudra.
Apa pun itu, nikmati sajalah. Simpan pikiranmu di dalam kotak hitam lalu bacalah buku ini tanpa bersuara. Kalau sesekali meletuk sih, boleh.